April 7, 2014

[ROUND 1 - J] ANDHIKA KARANG -BUKAN MIMPI KAN

[Round 1-J] Andhika Karang
"Bukan Mimpi, Kan"
Written by Ihsan Abdul Aziz

---

Kara dan Eza tiba di realm yang asing bagi mereka. Lalu mereka terbang rendah untuk mulai mencari yang lain untuk bertarung sebagaimana yang Thurqk katakan di Devasche Vadhi. Di realm ini, banyak terdapat lubang-lubang dimensi. Ini bukan mimpi seperti dunia mimpi Kara. Ia telah lama mati. “Sialan..” ucapnya seperti nada datar walau pikirannya berkecamuk hingga kepalanya hampir saja berdetak seperti jantungnya, dan sampai-sampai matanya kedutan.. barangkali. Jelas ada yang meledak di dalam pikirannya, serpihan-serpihan teriakan yang lantang ada dalam benaknya.

“Gue benar-benar udah mati apa nggak, nggak yakin dah gue.  Apa benar ucapan Thurqk itu? Yang pasti gue jangan sampai tewas lagi!”

Amunisi yang ada padanya masih tersisa banyak. Kara tak khawatir akan hal itu untuk saat ini. Yang ia perlu perhatikan adalah lawan-lawannya dan realm ini yang menurutnya tak bersahabat. Untuk bisa bertahan hidup juga sudah bagus untuknya. Eza lalu terbang dengan kecepatan maksimum hingga terbentuk kepulan debu dari tanah gersang realm ini di sisi-sisi lintasan terbang harimau merah itu.

Tiap monster yang ditemui tak dihadapi tapi dihindari. Eza pun memilih untuk menyusuri jurang-jurang yang di seberangnya terdapat gunung-gunung menjulang tinggi. Lawannya kuat, tempat ini tak menguntungkan, jika saja ini memang mimpi buruk, mungkin lebih baik.

Sebuah jubah putih terbang melayang ke arah benteng berukuran 10 kilometer persegi yang tidak terpengaruh oleh lubang dimensi. Tak jauh di belakangnya, ia diikuti oleh monster-monster bersayap yang mengejar jubah tersebut. Ia memancing rombongan monster atau tidak, Kara tak berniat untuk memastikannya. Pemilik jubah itu pasti bernama Deismo, salah satu di antara mereka berlima yang harus saling bertarung.

Melihat hal tersebut, yang ada di pikirannya adalah menggunakan rudal miliknya untuk diledakkan di tengah-tengah benteng itu. Eza pun diperintahkan untuk berhenti, tuannya ingin mencoba menembaknya dengan rudal lubang hitam untuk menghancurkan benteng itu. Jika lubang-lubang dimensi di sekelilingnya tak menghisapnya, itu tak sama dengan lubang yang lebih besar dan berada di dalamnya.

Kara menggunakan pointing laser dengan tangan kanannya yang terlihat seperti senter mungil, sementara tangan kirinya menahan tangan yang satunya lagi untuk menjaga keakuratan. Lalu ia menekan tombol untuk selesai mengeker. Tinggal satu langkah lagi..

Kara lalu tersadar, dia mau apa menghancurkan benteng itu? Sayang rudalnya terbuang. Ini akibat dari ia suka menghancurkan sesuatu. “Eza! Kenapa nggak kasih komentar?? Bukannya masih ada cara lain untuk mengalahkan dia?”

Harimau itu lalu duduk setelah tuannya turun dan berdiri. “Kukira Kara tak suka diberi komentar?”

“Benar juga..” Pemuda yang tingginya hanya 160 cm itu mengangguk-angguk dan menempelkan tangannya ke dagunya. “Eza, menurutmu di benteng itu ada siapa?” Kara memasang pose sok berpikir.

“Kara ingin saya mengeceknya untukmu?” Eza menoleh ke benteng itu sebentar. “Bisa bertahan tidak tanpa bantuan saya?”

“Bisa!!” Kara emosi. “Ya sudah, coba cek ke sana ya?!” Ia menendang tanah karena kesal. Pasirnya tak mengarah ke Eza. “Dan satu lagi, jangan lupa balik lagi ke tempat yang saya tentukan.”

Kara lalu berjinjit-jinjit agar mendapat pemandangan yang pas. “Nah! Itu di tempat kita ketemuan. Di dalam bangunan besar itu. Miring begitu bangunannya.. ya yang penting kita bertemu lagi di sana. Kutunggu ya.”

Harimau itu lalu mengangguk dan dengan sigap langsung menjejakkan kaki untuk terbang menjauh menyebrangi jurang.

Maka mau tak mau, Kara berjalan kaki dengan perlahan menuju bangunan besar yang menjadi tempat berkumpulnya dengan Eza.

Ia pun dengan santai menuju ke tempat itu sembari sekali-sekali melihat lubang dimensi yang menghiasi tempat ini hingga Kara terlihat sering mendongak ke langit. Kara lalu berhenti begitu menyadari adanya pertarungan di dekatnya. Seketika suasana di dekatnya terasa berbeda. Kara tak tahu apa yang beda, tapi yang jelas udara menjadi terasa berat.

Ia lalu menarik busurnya, dan berlari pelan menuju pertarungan itu. Ada seorang pemuda berpakaian serba biru gelap. Ia menggunakan katana untuk bertarung. Tebasannya bagus pikir Kara karena ia sendiri tak menggunakan pedang.

Monster-monster yang dihadapinya ganas. Pemuda itu sendiri dengan wajah tenang menghadapi mereka. Kara segera merunduk dan mencari posisi dengan merayap. Ia kembali memperhatikan lawan yang dihadapi pemuda itu. Tampaknya mereka adalah demon. Kara sudah melihat pemuda itu sebelumnya.

Dengan penuh percaya diri, Baikai Kuzunoha, memperkenalkan dirinya ketika berada di Jagatha Vadhi. Dan kini, ia tengah melakukan manuver untuk menebaskan pedangnya. Cipratan darah terlihat jelas dari para demon yang tertebas. Baikai lalu mendarat dan menimbulkan bunyi debam. Ia lalu menutup serangan tanpa jedanya ke demon terakhir dengan satu tusukan ke titik vital yaitu tepat di tenggorokan demon itu.

Kara geleng-geleng dan berdecak. “Cari masalah sih itu kalau saya berhadapan dengan dia.”  Suara Kara di balik maskernya yang menyaring udara jadi terdengar seperti suara radio. Kalau dipikir-pikir, Kara kan berada di posisi yang tak menguntungkan?

Setelah selesai menghadapi para demon, Baikai mengecek keadaan pedangnya. Tangannya bergerak menyusuri panjangnya pedang seolah ia adalah satu dengan pedang itu. Saat tangan kirinya telah mencapai di ujung, Baikai pun berseru. “Kau yang bersembunyi di belakang sana. Mau sampai berapa lama kau di situ?”

Kara tanpa ragu-ragu lalu berdiri dan menepuk-nepuk badannya guna membersihkan debu yang menempel. “Iya, ini saya. Baru datang dari sana,” ucap Kara sembari menunjuk ke belakang ketika menghampiri Baikai.

“Kau tidak takut kutusuk?”

“Ah, nggak!” Kara terkekeh.

Baikai lalu memutar-mutar pedangnya. Ia pun membalikkan badan dan menyarungkan senjatanya. “Sudah kenal namaku ya?”

“Ah, iya.. Baikai kan? Saya Kara.”

“Bukankah kita harus bertarung untuk menjadi pertunjukkan?” Baikai menghampirinya dan memberikannya sekuntum bunga berwarna perak. Sungguhan mengkilau, seperti logam namun Kara bisa merasakan kelopaknya lembut dan mudah digerakkan. “Dan ada banyak demon di ini.”

“Kukira belum mulai.” Kara mencoba untuk bergurau setelah menyimpan bunga itu karena bentuknya bagus. “Kau sendiri? Kenapa tak menyerang duluan saja?”

Baikai menegapkan tubuhnya. Untuk meregangkan badan tampaknya. “Itu yang aku sukai. Bicara dengan siapa saja yang kutemui.”

“Jadi bisa kita mulai?” Kara mulai menyentuh sarung pistol plasma di ikatan kakinya sebelah kiri.

“Baiklah.” Lalu mereka berdua dengan cepat, saling menyerang menggunakan senjata pilihan masing-masing. Baikai tetap menggunakan pedangnya. Senjata miliknya adalah katana bernama Makado. Ia lalu berhasil menebas tangan kiri Kara yang menembak lebih dulu namun tidak mengenai sasaran. Tembakannya meleset karena Baikai menghindar dengan cepat.

Darah segar muncrat dari tangannya, Kara menggeram saat serangan beruntun mengenainya. Eksoskeleton di pergelangan tangan kirinya membuat tangan itu masih utuh walau sudah terputus. Tebasan-tebasan Baikai pun memercikkan api tiap kali menyentuh eksoskeleton yang berada di balik jubah Kara. Hingga akhirnya Kara pun tersungkur karena Baikai menendangnya di dada dengan keras.

Nasib pemegang pistol sering terputus tangannya ketika menghadapi pemegang senjata tajam. Ia memang sengaja meletakkannya di sebelah kiri. Eksoskeleton pun sudah sangat ampuh untuk membuatnya masih memiliki telapak tangan di ujung lengannya. Sementara itu, Baikai membelakanginya dan meninggalkannya tanpa satu ucapan pun.

“Kara..” Suara seorang gadis yang sangat akrab terngiang di telinganya. Ia bernama Redina. Kara akhirnya ingat bagaimana kematian menjemputnya. Walau ingatannya datang berangsur-angsur, ia melihat Redina untuk kali terakhir saat pandangannya mengabur. Terkapar akibat tertabrak, orang-orang pun berdatangan setelah Redina memanggil-manggil mereka. Lalu..

“Mananya yang sakit?” Redina sedang duduk di sampingnya yang tengah terkapar. Pertanyaannya dengan nada mesra terasa tak biasa. Kara lalu menggenggam tangan gadis berambut pendek itu. “Kenapa kamu, Kara?”

Wajah Redina tetap membayang. Kara mengedip-ngedipkan matanya hingga..

Sejam kemudian Kara bangkit dan memperban luka di tangan kirinya. Tampaknya ia akan menggunakan busur mekanis dengan menahan busur itu melalui logam titanium yang membentuk eksoskeleton miliknya. Kara masih bisa menempelkan tangan kiri dan menarik anak panah dengan tangan kanan. Untuk sementara tangan kirinya tak bisa digerakkan.

Ia segera pergi ke bangunan besar dengan berjalan kaki sesuai perjanjiannya dengan Eza. Dalam perjalanannya, Kara mengingat-ingat perkataan Thurqk saat di Devasche Vadhi. Dengan mulut dimanyun-manyunkan, ia meniru-niru gaya bicara Thurqk. “Mereka yang terpilih.” Jeda sebentar, Kara lalu menlanjutan tingkahnya walau sejujurnya dia sempat merasa panik saat ada di sana. “Selamat datang di Devasche Vadhi.”

Dewa Thurqk menampilkan lima puluh lima nama. Ada nama Andhika Karang. Berarti ia sudah bertemu dengan Baikai Kuzunoha tadi. Buruk sekali tadi pertarungannya dengan pemuda itu. Dia lebih besar dan lebih tua sepertinya.

Sesampainya di bangunan besar itu, Kara pun duduk-duduk menunggu kedatangan Eza. Ia ingin tahu hasil pengintaian harimau merah itu. Walau khawatir juga karena bisa jadi Eza terluka atau nasib yang lebih buruk tertimpa kepadanya. Namun untunglah, perasaan itu tertepis dengan kedatangan Eza.

“Kara, tanganmu terluka..”

“Iya, tahu!!” Kara jadi frustrasi sendiri. Lalu ia menghela napas untuk menghilangkan emosinya. “Maaf.”

Eza mendekat dan memberikan tunggangan. “Ya.”

“Jadi tadi bagaimana di sana? Di benteng itu?”

“Rupanya jubah melayang yang kita lihat itu bernama Deismo. Ia berhadapan dengan Duster. Penciptanya kurasa. ‘Hantu’ itu melawan sihir dengan sihir.”

“Duster itu..” Kara tak mengerti.

“Penyihir mungkin. Jadi begini, Deismo kemungkinan akan kalah dengan Duster.” Eza mengibas-ngibas ekornya saat membalikkan badannya untuk menghadapkan dirinya ke arah benteng karena mereka berdua sekarang berada di sebuah bangunan besar yang cukup jauh dari benteng. Mereka mungkin perlu naik ke tempat yang lebih tinggi lagi untuk mendapatkan pemandangan yang pas. “Masih ingin menggunakan rudal lubang hitam. Satu dari lawanmu masih ada di benteng itu. Bahkan kita bisa menang jika membiarkan yang bertarung hingga tersisa satu.”

“Hingga Duster yang tersisa kan ya?”

“Bukan, mereka yang terpilih. Lupa dengan tiga yang lainnya?”

“Kita keluar dari sini dulu.” Kara berpikir sejenak selagi Eza berjalan lambat keluar dari bangunan besar. Mereka akan siap-siap terbang. “Tadi benar yang kamu lihat itu Deismo?”

“Ya,” sahut Eza dengan posisi jongkok sebelum melompat melawan gravitasi. Mereka pun terbang, tapi kini melesat hingga ke ketinggian setinggi bangunan besar. “Kara, kita akan menembak lawan dari puncak bangunan ini ya?”

“Kurang tahu, kita coba dulu saja. Ngomongnya kelamaan tadi. Dan kurang tinggi, Eza.. Terbang lebih tinggi lagi. Semoga nggak ada monster yang melayang ke arah kita karena jadi terlihat mencolok.”

Setelah Tak jauh dari tempat mereka berada, Kara dan Eza melihat Ravelt dan Claude di sebuah desa dengan penduduknya yang berlarian menjauhi pertarung di antara keduanya. Ravelt, keberadaannya sempat sangat terasa oleh Kara dan Eza ketika mereka baru tiba di realm ini. Namun mereka tak merasakannya sama sekali dari tadi, sampai lupa dia ada di sana kalau saja tak melihat langsung pria itu.

Ravelt, pria berambut pirang itu berkali-kali kepalanya tertukar dengan kepala penduduk di desa itu. Sejatinya mereka yang ada di sana tak bisa menyadari keberadaan kelima yang terpilih untuk bertarung di realm ini. Jadi mereka secara naluriah menjauh tidak karuan. Claude memicing-micingkan matanya. Ia tetap berdiri di tempatnya selagi memanfaatkan kepala-kepala penduduk yang masih berada di dalam jarak pandangya. Kara melihat pola dalam pertukaran kepala itu.

Ada kesempatan untuk menyerang Ravelt walau badannya tetap fokus berlari untuk menyerang Claude yang berambut putih. Bukan main, memang kualitas seorang raja!

“Gunakan anak panah gravitasi atau granat lubang hitam mini,” gumam Kara. “Berhasil atau gagal, yang jelas segera lari dari sana. “Jadi bagaimana? Hah?”

“Tak usah khawatir Kara. Dua-duanya bagus. Ayo!” Eza langsung melesat cepat ke arah pertukaran kepala yang bertubi-tubi. Lalu Kara dengan sedikit kesulitan pun membidikkan anak panah gravitasi ke salah satu penduduk sebagai sasaran dengan harapan Ravelt tertukar kepadanya.

Anak panah itu lalu lepas dari busurnya. Benar saja, sang raja yang kian mendekati Claude terpindahkan kepalanya ke salah satu penduduk. Sayang, tembakannya meleset. “Siiiiiaaaaaaaal. Bodoh sekali!” Eza menggerutu.

“Berarti kulemparkan granat sekarang!” ucap Kara saat mereka berdua sudah di dekat yang lainnya, sangat dekat sekali hingga Claude bisa mengubah orientasi Kara dan Eza. Ibarat benda yang melesat cepat namun kehilangan kendali. Keduanya merasakan rasanya terpental oleh kekuatan mereka sendiri. Kara pun melemparkan granatnya tanpa arah, namun instingnya mengatakan granat itu harus meledak di sini! Ia lalu menembak satu anak panah lagi dengan sangat cepat.

Api hitam di ujung anak panah itu seolah padam tertiup oleh udara yang menabraknya karena kecepatan anak panah itu cepat sekali hampir sama cepatnya dengan gerakan tangan Kara ketika mengambilnya hingga menarik tali busur dan melepaskannya. Mungkin sebuah keberuntungan karena Kara bahkan tak mengekernya sama sekali ketika ia mampu meledakkan granat yang masih berada di udara. Itu pun jarak granat meledak itu hanya 5 m dari posisi mereka. Sungguh  jarak yang terlampau dekat sekali.

Lubang hitam berukuran sedang terbentuk dan menghisap semuanya. Kara dan Eza sudah tersungkur dan sama-sama mencium tanah hingga menerbangkan pasir-pasir di tempat mereka menabrak daratan. Dengan cepat Kara mengambil satu cuatan titanium di bahu kirinya dengan eksoskeleton di tangan kirinya yang mengandung daya magnet lalu menancapkannya ke tanah saat badan mereka berdua mulai terasa terhisap. Badan Eza lebih berat bahkan dengan panjang dari bagian paling depan ke bagian paling belakang tubuhnya, yaitu ekor harimau merah itu mencapai 2 m.

Kara langsung mengulurkan tangan kanannya. Eza pun mencengkram tuannya dengan cakarnya. “Arrrrrrggghhhhhhh!” Geraman Kara seperti tak terdengar akibat kalah berisik dengan suara bising dari lubang hitam. Kara sempat melihat kepala Ravelt yang tertukar dengan kepala penduduk desa, terlempar ke dalamnya. Tatapan sang raja terus tertuju kepadanya.

Kini kedua tangan Kara terluka. Jubahnya yang cukup tebal berwarna merah kehitaman itu digigit oleh Eza layaknya induk kucing yang membawa anaknya ke tempat lain ketika mereka melarikan diri. Butuh waktu untuk melawan yang lainnya. Mereka pun pergi menjauh saat Claude mendapatkan tubuh Ravelt. Kara lalu kehilangan kesadaran.

Ia melihat kobaran api. Merahnya cahaya dari api itu lalu membentuk seperti semacam binatang berkaki empat. Masih dalam samar-samar, Kara melihat api itu menggeliat-liat.  ‘Binatang’ itu terus menatap ke dalam mata pemuda itu dalam-dalam. Sampai Eza membangunkannya. Kara lalu bangkit dengan kepala terasa berat. “Redina..” gumam laki-laki itu. “Redina itu macan yang tadi dalam mimpi kan ya..” Sang harimau merah diam saja, ia duduk di dekat Kara yang masih beristirahat di bangunan besar. Tempat mereka bertemuan sebelumnya. “Ah!!!”

Mendengar hal itu, Eza menolehkan kepalanya dengan terlebih dahulu telinganya bergerak ke arah sumber suara. “Ada apa ‘tuanku’?”

“Heh, tumben sopan manggilnya.” Kara lalu melepas masker dengan helm tetap terpasang. Ia mencabutnya susah payah dengan kedua tangannya. Kemudian ia menghirup udara segar, mendapati dirinya baru saja menemukan ide bagus. Telunjuknya ingin menunjuk namun alih-alih mengarahkan salah satu jarinya, semua jari tangan kanannya seperti menusuk udara kosong. “Ya! Kita ke benteng, Kara! Gue rasa ada barang bagus di sana!”

“Kau sudah tahu kalau benteng itu sebenarnya lab raksasa ya?”

“Iyyyeess! Nah, itu tau.” Lalu dengan memegang-megangi dagunya ia berkata, “Bukannya penemu gila, Duster itu kok penyihir ya?”

“Sudah! Langsung naik saja, Kara!” Pemuda itu lalu langsung memasang kembali maskernya dan menaiki sang harimau merah. Ia memerintahnya untuk menempuh jarak terdekat dan kecepatan maksimal, maka ia pun langsung mendekap punggung binatang yang muncul dari dalam mimpinya itu agar tak terjatuh sebelum lepas landas. Eza pun melompat tinggi hingga terbang di udara.

Dunia mimpi siswa SMA Elan ini tak bisa dikontrol oleh pemimpinya sendiri, ia bahkan harus beradaptasi tiap kali bermimpi yang dari awalnya memimpikan hal abstrak dan tidak berlogika ketika masih anak-anak, hingga akhirnya dunia mimpi Kara terus berubah tanpa ia sadari mungkin sekarang pemuda tersebut untuk kali pertamanya, ia berada di dalam mimpi yang panjang.. sebuah mimpi dari seorang pemuda yang sekarat.. atau bukan. Namun yang jelas, Kara tak sadar ia bukan di dalam dunia mimpi ketika pertama kali berada di Jagatha Vadhi. Ia lupa. Ada yang hilang dan kurang. Benarkah ada malaikat Hvyt yang mengantarnya ke realm tempat Dewa Thurqk berada?

“Kita telah tiba..” Kara mendesis karena suaranya beda jika mengenakan masker. “Mari kita hancurkan atapnya.”

Sama seperti sebelumnya, ia lalu mengekerkan pointing laser yang ada diapit dengan kedua telapak tangannya. Sebelum dimasukkan ke dalam rompinya, ia menekannya sekali lagi. Seolah rudal itu bersiul saat oksigen cairnya terbakar, rudal lubang hitam meluncur dari sisi badan harimau tunggangannya. “Kara, ini akan berbahaya.”

Eza tak habis pikir, rudal yang mereka miliki hanya dua tiap kali bermimpi. Sebagai makhluk yang terbentuk dari alam bawah sadar, ia bagaikan serpihan ingatan manusia yang tergeser menjadi hal yang lain. Mungkin rudal itu awalnya adalah bom nuklir dengan radius satu kota dari perang dunia II yang menghancur Hiroshima dan Nagasaki. Tak ada tombol reset kali ini.. atau ada? Ini bukan mimpi kan? Terlebih lagi, mereka dengan nekat tetap memaksa untuk memasuki benteng untuk menjarah barang bagus. Jauh-jauh sebelumnya, Kara sudah membayangkan jika ia akan mendapatkan semacam penemuan Duster yang berbentuk granat yang saat meledak bisa membentuk portal untuk memanggil monster. “Moga-moga beneran ada! Hahahahaha!”

Lubang hitam besar kali ini tak menghisap sekuat lubang hitam dari granat, ia hanya sebuah lingkaran bola besar anomali yang kulitnya memantul seperti kaca, berdiameter 10 km, dan menghisap secara pasif dan lamban. Jika hingga masuk ke dalamnya, dipastikan sudah lenyap hilang tak berbekas. Di bawahnya penunggang gila harimau merah melesat mencari barang bagus dan melihat mutan eksperimen Duster melayang karena terhisap pelan-pelan. “Kara! Susah juga terbang dengan gravitasi ganda begini!” Eza kewalahan.

Kara pun mencuri alih-alih mengambil benda apapun yang terlihat seperti senjata menarik dan mudah dimasukkan ke dalam rompi miliknya. “Entah berunsur sihir atau teknologi, tapi condong ke arah magis sepertinya. Semacam okultisme ini sih.” Pemuda itu membolak-balik semacam telur yang keraknya diselimuti urat. “Cara menggunakannya bagaimana ya? Apa sama persis seperti dugaanku ya?”

Lalu ia melemparkan telur itu. Sudah tinggi-tinggi khayalannya, eh siapa sangka telur itu malah pecah dan mengeluarkan asap merah muda yang busuk. “Hah!” Pemuda itu sempat kalap karena tak menemui ekspetasinya. Tak sabar, Kara melemparkan semua yang dipungutinya satu persatu. Tak berhasil. Hampir semuanya berakhir gagal. Ada yang gagal karena tertimpuk ke mutan yang terhisap karena lemparannya pun meleset akibat hisapan lubang hitam juga. Ada juga yang gagal karena yang dilempar itu ternyata pistol, ia meletus saat menabrak.

“Hati-hati lemparnya! Hampir kena ke saya, Kara!!” Eza jadi mengamuk dan langsung melempar Kara. Pemuda itu buru-buru memeluk tiang di depannya. Posisi kakinya melayang ke atas. Dengan ‘menunduk’ melihat ke atas, Kara berharap ‘granat’ yang terakhir benar. Bodoh, masa semua yang diambil tadi digunakan sebagai alat untuk dilempar? Dilihat dari bentuknya, yang ini tidak begitu terlihat okultis-okultis amat. Tangkai ranting yang runcing di pangkalnya adalah jenis barang bagus temuan Kara yang terakhir.

“Kok pangkalnya kayak pemberat ya? Berat gini.” Kara menimang-nimang benda itu. Iseng, ia melemparkannya ke mutan terdekat yang melayang dan tinggal menerima nasib karena tak ada pegangan satupun. “Nih.”

Seperti melempar dart, ranting itu melesat dan membentuk portal dimensi, sementara mutan yang tertembak itu terpental karenanya. Lalu ada monster yang keluar dari portal itu, namun ikutan terhisap. Portal itu tak menutup-nutup hingga akhirnya menciut dan menghilang setelah 2 menit. Bersamaan dengan itu, lubang hitam telah menutup juga. Kara pun terjatuh dan tersungkur mencium lantai lab raksasa.

“Maaf karena tidak segera menolongmu.” Eza menggeleng-geleng seperti ingin mengeringkan badannya.

“Dasar kucing besar.” Kara bangun seperti orang push-up. Saat berdiri tegak, dia menemukan Deismo datang kepadanya. “Eza! Cepat kemari!”

“Terima kasih telah membantuku.”

“Oh?” Kara langsung mengendur. “Saya kira..”

Deismo melanjutkan ucapannya. Kara malas mendengarkannya, ia memilih pura-pura mengikuti perkataannya, dan berkata dalam hati untuk menimpali ucapan jubah putih yang melayang dan tak bisa terlihat itu. “Dasar, sumpah lama banget ngomong sendiriannya..” gumam Kara.

“.. karena itu sebagai ucapan terima kasih, saya bersedia membantumu.”

“Dia sudah mengatakan banyak hal dari tadi lho,” bisik Eza.

“Ah! Boleh saya meminta itu?” Kara menunjuk ranting portal seukuran genggaman tangan yang tak jauh dari Deismo. “Dan apa ada ranting-ranting lainnya?”

“Oh, umpan buatan penciptaku maksudmu. Silahkan, ambil saja. Mari, saya tunjukkan gudang yang masih menyimpan umpan monster. Umpan itu akan memancing monster untuk mendekatinya, dan yang kau tunjukkan itu yang baru. Ujungnya dilapisi mantra pembentuk portal dan aroma kayunya ‘memanggil’ atau memanipulasi monster apa saja untuk datang dari dimensi lain.”

Tersisa tiga umpan dan bentuknya mengingatkan Kara akan umpan ikan yang menjadi kail ketika memancing. Dengan yang ditemukan sebelumnya, sekarang jumlah umpan yang dimilikinya hanya 4, sama banyaknya dengan jumlah granat yang dimillikinya. Amunisi Kara kini tinggal 197 anak panah gravitasi, 4 granat lubang hitam mini, 4 ranting umpan monster, dan 1 rudal lubang hitam. “.. lalu 198 dikurang 1.”

“Deismo..” Eza mengajak bicara makhluk itu. “Kau yakin bersedia membantu kami? Kuingatkan saja, kita harus saling bertarung.”

Memalingkan wajah dari lawan bicaranya, ia hanya mengatakan ya. Lalu mereka bertiga meninggalkan benteng yang telah kehilangan atapnya itu. “Sebelum Deismo, tinggal Baikai dan si penukar kepala itu,” pikir Kara. “Kau dengar? Ada suara berisik di dekat kita. Pasti ada sedang pertarungan. Anehnya aura si pria berambut pirang masih ada. Mungkin dia belum tewas.”

Awan hitam di langit tidak enak dipandang. Danau Paralel di realm ini mengingatkan Kara akan setting sebuah novel yang mengisahkan aksi bunuh-bunuhan demi hiburan penontonnya semata karena ada pulau kecil di tengah-tengahnya yang khas. Eza dan Deismo terbang beriringan ke pulau itu.  Sudah ada Baikai di sana yang menghadapi Claude dan Claudia. “Rupanya karena tubuhnya digunakan oleh si penukar kepala..” desis Kara.

Belum lagi monster-monster berkecamuk di tengah sana. Kemungkinan besar Baikai sudah sangat lama menuju ke sana untuk menghadapi demon dan bertemu dengan Claude dan Claudia di tengah-tengah pertarungannya. “Mereka berdua memanfaatkan momen ini untuk mengalahkan Baikai,” ucap Eza mengomentari keadaan yang mendesak Baikai.

Claude dan Claudia bersama-sama mengubah orientasi objek hingga serangan mereka beruntun tanpa henti. Posisi keduanya saling mengapit Baikai, dan mereka berdua saling menjaga satu sama lain. Tinggal mereka yang di tengah menjadi kehilangan keseimbangan karena manipulasi ruang oleh mereka berdua. Baikai menebas kepala satu monster lalu melompat salto ke belakang walau akhirnya saat di udara yang diubah jadi mengarah kembali ke depan. Satu tusukan pisau jagal masuk telak mengenai perut Baikai ketika serangan monster yang berada di samping monster yang tertebas itu datang menyerang. Cakar monster itu diganti dengan pisau jagal. Serangan monster bertangan pisau jagal itu akan terus berlanjut untuk menghabisi Baikai, sedangkan dia sudah ambruk akibat tertusuk.

Lalu Deismo sudah melipatgandakan dirinya dengan menyobek bagian dari jubahnya lalu meniupnya dan menciptakan kembaran-kembaran guna mengantisipasi serangan monster yang hendak menghabisi Baikai dan monster-monster yang masih berkecamuk. Sementara itu, Kara dan Eza mengambil jarak dari pertarungan ini. Berbeda dengan monster lainnya, Deismo tak terpengaruh oleh perubahan orientasi. Dalam pandangan kasat mata, jubah-jubahnya terus melaju di atas pulau kecil Danau Paralel.

Baik Claude dan Claudia baru menyadari kemampuan mereka terkunci kepada jubah suci Deismo karena benda itu adalah magnet energi yang kuat. Ini menjadi celah untuk Baikai untuk menghindar dari keramaian. Namun hal itu tak bertahan lama, kembaran-kembaran Deismo musnah setelah menerima serangan manipulasi ruang beruntun dari Claude dan Claudia.

“Aku masih di sini,” ucap Deismo di belakang Kara dan Eza. “Senang bisa membantu pemuda itu melawan monster.”

“Dengan begini situasinya lebih kondusif. Tak begitu banyak gangguan dari monster.” Kara mengusap-usap pergelangan tangan kirinya yang diperban. Kara, Eza, dan Deismo, mereka bertiga masih melayang dan berada dalam jarak aman untuk mengamati pertarungan.  “Sekarang giliranku.”

Satu anak panah gravitasi yang menyulut api hitam diletakkan di busur mekanis. Kara berani bertaruh tembakannya bisa mengenai sasaran. Berbeda dengan tembakan beruntun, dalam 199 kali tembakan, tentu hanya 100 tembakan yang masuk. Kemungkinannya adalah 50.25% sekian-sekian. Kara menarik napas dalam-dalam, ia harus tenang selagi Baikai masih bertarung dengan Claude dan Claudia.

Ada pedang Ravelt yang digunakan Claude untuk saling beradu pedang dengan pedang Baikai. Claudia membantu kekasihnya dari belakang. Baikai dalam posisi tersudut, dan Claude lawan yang paling kuat saat ini menurut Kara. “Hadapi musuh terkuat dulu kalau begitu, padahal Baikai tentu mudah untuk dihabisi saat ini, dan bantuan Deismo akan jadi percuma.”

“Iya-iya. Keker saja, Kara. Nanti kau justru akan kelamaan menembaknya,” ucap Eza.

Anak panah itu pun meluncur dan mengenai kepala Claude. Ia tewas seketika itu juga. Baikai yang telah lama menyadari keberadaan yang lain tak begitu kaget akan hal ini. Lalu Claudia menjerit histeris namun tak lama setelah itu Baikai menghipnotis wanita itu. Claudia pun menjadi lebih tenang, dan terpengaruh oleh mata ketiga Baikai. Di saat wanita itu terdiam, dengan dingin Baikai menebasnya hingga kepala Claudia terbelah menjadi dua. Baikai pun menutup kembali mata ketiganya dengan pelindung dahi. “Tenagaku sudah terkuras banyak.” Baikai pun jatuh terduduk.

Tinggal mereka berempat. Baikai lalu menangkap ikan di Danau Paralel. Sambil menikmati teh hangat, mereka menyantap ikan bakar. Sungguh pemandangan yang tak biasa. Eza bahkan paling lahap dan merasa tak puas, dia mencari ikan sendiri agar menambah porsi makannya. “Jadi bagaimana kita menentukan pemenangnya,” tanya Kara dengan nada datar dan tanpa masker.

“Kita selesaikan dengan main catur Jepang saja. Kara kau lawanku, dan Eza kau lawan Deismo,” ucap Baikai dengan tersenyum. Dia lupa tampaknya, telah menebas tangan kiri Kara. Sebaliknya, Kara juga lupa sebenarnya.

 “Nggak, saya maunya lawan Eza.”

“Yang benar saja, ‘tuan’ Kara..” timpal Eza menggerutu. “Kita itu satu tim!”

“Berarti begini saja..” Deismo ikut menyumbangkan pendapat. “Kita bertiga saja, aku mengajukan diri untuk jadi lawan pertama Baikai.”

“Baiklah.” Baikai pun mengeluarkan catur Jepang dan menggunakan tanah di pulau kecil itu sebagai papannya. Acara berlangsung meriah. Eza tertidur pulas karena kekenyangan, sedangkan Kara ketar-ketir karena tidak mengerti catur Jepang, dan Baikai menikmati tehnya.  Ia menyeruputnya pelan-pelan. Di akhir pertandingan catur Jepang, kalah pun tak masalah bagi Baikai karena Deismo rupanya mengerti cara memainkannya. Bidak catur terbang melayang tiap kali Deismo mengambilnya dengan tangan yang transparan. Baikai kini bisa beristirahat sepenuhnya karena sudah kalah oleh Deismo dalam pertandingan catur Jepang yang jalannya permainan itu tidak diambil pusing sama sekali.

“Sekarang giliranmu,” ucap Deismo. “Hanya saja..”

“Apa?” Kara mengernyitkan dahinya.

“Aku sudah bosan. Jika kau ingin menjadi pemenang dari pertarungan ini, silahkan saja. Tak masalah bagimu kan, Baikai?”

“Ya,” sahut Baikai yang tengah bersandaran ke batu besar.

“Wah, bagus itu berarti!” Kara tersenyum lebar, dan para malaikat Hvyt datang untuk menjemput mereka. “Kalian tak ragu dengan keputusan ini kan? Ugh, kalian berdua itu saat ini adalah yang terkuat dari kita bertiga..” Kara meringis saat mengucapkannya. Ia merasa para malaikat Hvyt datang bukan untuk menjemputnya karena pertarungan telah selesai.

“Maaf, tapi kalian bertiga belum bertarung tanpa ampun. Segera laksanakan tugas kalian.”

“Jangan dimasukkan ke dalam hati. Kau demon yang berhati mulia, Deismo.” Baikai pun berdiri. Deismo berhadapan dengan pemuda itu. Keduanya seharusnya saling melancarkan serangan.  Baikai mengeluarkan kekuatan demon dalam dirinya dan berubah menjadi ganas. Semua digantungkannya pada naluri. Deismo, di lain pihak, ia diam saja. Menerima semua serangan Baikai selama 15 menit hingga tewas.

Antara Kara, Eza, dan Baikai, tinggal Baikai yang menjadi paling lemah. Hal itu terjadi terlalu cepat. Kara hanya merasakan 15 menit yang tadi itu seolah satu kedipan mata. Kini, Eza sendiri pun bisa menghadapi Baikai. “Eza,” panggil Kara.

Eza melangkah ke depan, ia sudah bersiap menyerang karena sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Kara. Kemudian harimau merah itu pun menyergap Baikai tanpa ampun. Pemuda itu tewas dicabik-cabik. Jadi dari tiap lawan-lawan yang telah mati dibunuh oleh mereka berdua, Kara merasa jiwanya lenyap perlahan-lahan. Ini bukan mimpi kan. Pertarungan telah selesai.

***

14 comments:

  1. Karena ini lawan segrup, saya jadi pengen komentar banyak
    1. Kara ini pas sama Eza bilangnya gue, tapi ketemu orang lain jadi pake saya ya?
    2. Kara habis lawan Baikai hilang kesadaran sejam, Baikainya ninggalin aja gitu?
    3. Saya kira di aturannya mahluk non-entrant ga bisa liat oc peserta, kok monsternya kayak tau Deismo sama Baikai?
    4. Saya kok jadi ke-skip belakangan, duo Eza-Kara ini sering banget tau" kabur atau pergi dari siapa yang tadinya saya kira lagi mereka lawan, kayak ga fokus mau ke mana duluan
    5. Akhirannya rada aneh buat saya - kok ya tau" duduk" santai, terus saling terima aja dikalahinnya itu berasa gitu aja, ga ada buildupnya kenapa

    Padahal imo narasinya udah lumayan, dan beberapa karakternya sesuai bayangan saya (CC dan Ravelt ga ada banyak spotlight sih, bahkan ga ada line dialognya ya)

    6 / 10

    ReplyDelete
  2. Sebenernya moi excited pas Monsieur Aziz akhirnya submit canonnya karena penasaran ama OC Monsieur, yang sudah early campaign bahkan sebelum BOR 4L mulai. Tapi sayang moi agak kecewa karena narasinya kurang rapi, ceritanya kurang nendang, dan banyak kejanggalan seperti yang sudah Monsieur Rillme sampaikan di atas. Uhuhuhu, pardon, moi kasih 6

    ReplyDelete
  3. Tadinya saya semangat nungguin aksi Kara, soalnya tampangnya badass....
    eh, ternyata malah mengecewakan gini.
    Kekurangannya udah disampaikan semua sama Rillme diatas, kalaupun ada yang perlu saya tambahkan, mungkin ceritanya yang nggak "greget"

    6/10 untuk usaha

    ReplyDelete
  4. Duh,,, Saya seriusan down tension baca punya Andhika.
    T_T

    Ekspetasi saya mungkin ketinggian :<
    Tapi yang saya dapat malah lagi-lagi ngingatkan saya sama novel si A yang bikin saya mencak-mencak

    Well, beberapa keluhan sudah disampaikan sama yang lain.
    Dan sedikit saya tambahkan, mungkin ini cuma saya aja, tapi saya nggak nyaman sama paragraf bentuk :

    [dialog][narasi][dialog][narasi]

    biasanya paragraf yang saya temuin dan enak saya baca itu [dialog][narasi][dialog]


    +6 dulu

    ReplyDelete
  5. Cuman mampir, sekalian rekam jejak komen saya...

    dan cuman minta maaf saya gak bisa membaca cerita ini sampai habis, mungkin nanti pas saya memang ketemu Kara...

    Sedikit saran saya, setelah bikin Dialog, coba kamu ucapkan sendiri dan lantang (kalau masih belajar) gimana pengucapannya... contoh kayak gini:

    “Cari masalah sih itu kalau saya berhadapan dengan dia.”

    Saya adalah orang yang biasa baca tulisan, tidak memperdulikan tanda baca....
    tapi dialog-dialogmu sama seperti di atas... tidak bisa dibacakan dengan "suara" di dalam otak saya.

    Cari masalah sih || itu kalau saya berhadapan dengan dia.

    Cari masalah sih itu || kalau saya berhadapan dengan dia.

    Cari masalah || sih itu kalau saya berhadapan dengan dia.

    gak bisa dibaca.

    ====
    sekali lagi maaf.

    ReplyDelete
  6. "People that doesn't know each other should be introduce theirself. This is the first rule of War!" - unknown -
    *berusaha keras untuk berasumsi bahwa Kara sudah diperkenalkan dengan ke empat musuhnya sama Thurkq*


    - wkwkwkwk - dialog ini kayak si Kara sama Eza teleponan >.< "Kara lalu berjinjit-jinjit agar mendapat pemandangan yang pas. “Nah! Itu di tempat kita ketemuan. Di dalam bangunan besar itu. Miring begitu bangunannya.. ya yang penting kita bertemu lagi di sana. Kutunggu ya.”"

    - ada baiknya cerita kematian kara, dikasih semacam intro. rasanya agak bingung ketika, baru aja scene batle sama zuzu, terus tiba-tiba langsung berubah jadi scene mellow antara Redina sama Kara.

    - umi kira si Duster harusnya ga bisa liat Deismo, apa umi salah ya? :/

    - ceritanya ga fokus banget kakak Ihsan. Si Kara lawan siapa, Si Kara sempet banget tidur di tengah pertarungan. Sempet banget lagi main catur tuh si Eza. Astaga... >.<

    Sedikit saran untuk kak Ihsan :D
    - coba belajar buat narasi kak, umi beneran bingung baca narasinya yang ga fokus.

    - perubahan POV-nya *orz. Umi jadi inget waktu umi dulu nulis Rieke juga begini. Kak Ihsan, I chalenge you!! Kalau lolos R2, umi nantangin kak Ihsan untuk nulis pake POV 3 yang fokus ceritanya dari satu OC aja. gimana cara dia ngeliat, cara dia mandang. Gimana?

    btw, nilai dari umi 5/10

    ReplyDelete
  7. ini...
    pengkarakterannnya makan mentah2 dari charsheet tanpa pengembangan yang kuat yak...

    dan...itu , kenapa pas bertarung sama baikai langsung flashback gitu aja..
    ga ada penanda pisah paragraf/chapter...
    jadi aneh...


    battlenya...
    :|

    semuanya mati begitu aja...

    5/10

    ReplyDelete
  8. Anonymous27/4/14 18:15

    suasana dialognya yg kadang becanda bikin gak jelas mau jadi komedi atau gmn. utk narasi kurang rapi tapi kadang cukup. utk cerita lumayan tentang lab raksasa dan urutan kalahnya, tp penggambaran sering terlalu singkat jadi kesannya tau2 mati aja.

    5,5/10 - Po

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -