April 11, 2014

[ROUND 1 - B] FLAGER IVLIN - KEMBALI BERTEMPUR

[Round 1-B] Flager Ivlin
"Kembali Bertempur"
Written by Hikaru Xifos

---

            Flager mengangkat wajahnya lalu memandangi apapun yang bisa dilihatnya di atas. Banyak. Banyak yang bisa dilihat. Jika dulu ia memandang ke atas, hanya bisa ditemukan awan yang berarak pelan di langit atau dedaunan jika di dalam hutan, kini ia bisa melihat bangunan-bangunan tinggi dan matahari yang bersinar cerah.
            Bukan, bukannya ia tidak pernah melihat bangunan yang tinggi. Di Kerajaan Glidkaze—yang mana merupakan kerajaan dengan teknologi paling maju dari tujuh kerajaan yang ada—juga memiliki bangunan-bangunan, terutama kincir angin, yang sangat tinggi. Hanya saja apa yang dilihatnya sekarang sedikit aneh. Bangunan-bangunan di sini memiliki bentuk yang jarang dilihatnya bahkan di kerajaan lain.
            “Hei hei, kenapa semuanya berbentuk aneh seperti ini? Bagaimana jika ada yang jatuh dari langit lalu menancap di ujung bangunan itu?” gumam Flager dengan wajah polos.
            Bangunan-bangunan di tempat ia berada sekarang memiliki bentuk prisma segi empat, pada beberapa bagian terdapat bentuk atau motif yang mirip dengan yang ada di kerajaannya, begitu sederhana. Sementara pada bagian lain sangat mirip dengan yang ada di laboratorium Kerajaan Glidkaze, bahkan lebih maju.
            Setelah puas melihat bangunan-bangunan, pandangannya kini ia edarkan pada pemandangan di sekelilingnya yang tadi sempat mengganjal di pikirannya. Ia tengah berdiri di antara kerumuman orang yang berlalu-lalang tapi orang-orang itu seolah-olah mengabaikannya, ia seperti tak terlihat!
            “Baiklah, makhluk bersayap itu membawaku ke tempat yang misterius dengan penduduk yang misterius juga.”
            Flager mulai mencerna dari awal dan mengingat-ingat kejadian sebelum ia sampai di sini. Semuanya terasa berlalu terlalu cepat dan yang paling aneh, ingatannya sebagian besar telah kembali!
            “Mulai dari awal,” ucap Flager memulai kebiasaannya berbicara sendiri dengan gerakan tangan yang mengikuti tempo ucapannya, sementara kakinya mulai melangkah pelan ke sembarang arah.
            “Aku mati. Ya, aku mati. Hei, aku jamin, aku benar-benar menusuk jantungku sendiri saat itu,” ucapnya yakin dengan wajah serius. “Lalu aku membuka mata dan mendadak berada di tempat aneh bersama puluhan orang lain dengan penampilan yang........bagiku aneh,” kali ini ia melipat kedua tangannya di depan dada sementara kakinya tetap melangkah dengan kecepatan tetap. “Lalu orang bersayap itu memaksa kami berbaris hingga datang seseorang yang seolah-olah raja dunia berbicara kepada kami.
            Jadi, saat itu aku ada di De...Dhe? De-Defasc? Defas? Defase Adhi? Eh, tapi rasanya dia bilang di Nan....Nanthara Island? Defase Adhi atau Nantara Island?” jujur, Flager benar-benar tidak terlalu mendengarkan apa yang diucapkan oleh, yang baginya, raja dunia itu, karena saat orang itu berbicara, Flager sibuk melihat ke sekelilingnya hingga akhirnya ia menyadari semua kepala memandang ke atas. Flager pun saat itu akhirnya ikut memandang ke atas.
            Ia cukup terkejut saat namanya muncul menjadi salah satu dari puluhan nama yang ada di langit. Nama-nama itu kemudian diatur sedemikian rupa sehingga menjadi kelompok-kelompok kecil berisi lima nama pada setiap kelompok.
            Hanya beberapa kata yang ia ingat dari raja dunia itu sebelum makhluk bersayap itu membawanya ke tempat aneh ini,
            “...jangan membuatku merasa bosan....
            Flager sama sekali tidak menikmati pengalaman terbang pertamanya itu saat diangkut makhluk bersayap tersebut sebelum akhinya makhluk bersayap itu menjatuhkannya dari ketinggian dua puluh meter dan membuatnya terguling-guling di jalanan selama beberapa saat.
            “Ya, aku harus bertarung melawan pemilik nama-nama itu,” ucapnya mengambil kesimpulan dengan senyum lebar sambil menjentikkan jarinya. “Mau bagaimana lagi? Jika tak bertarung, raja itu sepertinya akan memanggang kami,” lanjutnya dengan wajah datar sambil menggaruk-garuk kepalanya, mengingat salah satu momen saat sang raja mengeluarkan api di tangan kirinya, yang membuat semua orang di situ merinding, termasuk seekor beruang mungil yang berdiri di sebelah kanan Flager.
            Flager kemudian berbalik dan memandang jauh ke ujung jalanan. Ia tidak ambil pusing, dirinya sudah mati dan raja dunia itu menawarkan sesuatu yang menarik jika ia memenangkan pertarungan ini, sementara jika kalah berarti hukuman. Sesuatu yang menarik? Kehidupan kembali? Siapa yang sanggup menolak tawaran bagus seperti ini?
            “Ingatanku sebagian besar sudah kembali, aku sudah mati, tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan kekuatan kain ini secara maksimal mulai saat ini,” pikirnya sambil mengusap-usap kain yang melilit di lehernya hingga menutupi setengah tubuh bagian atasnya.
            “Pertama-tama, harus mulai mencari pemilik-pemilik nama itu. Bagaimana caranya, ya?” Flager berpikir serius sejenak hingga akhirnya ia mendapatkan sebuah kesimpulan sederhana, “ah, ikuti saja alunan suara kehancuran.”
            Mendadak, jauh di sana, dari arah depan Flager tampak salah satu bangunan langsung hancur setengah seperti dihantam sesuatu. Berselang beberapa detik suara gemuruh menyusul terdengar di telinga Flager. Tampak orang-orang yang berada tak jauh dari tempat bangunan hancur tersebut lari pontang-panting dan berteriak ketakutan.
            “Apa kubilang,” ucap Flager enteng sambil memandang ke arah asal suara itu.
            Flager menajamkan penglihatannya, tampak dari kejauhan ada air yang mengalir begitu deras bagaikan sungai ke arahnya. Sepertinya ada yang baru saja menghancurkan bendungan. Sesekali tampak dua orang yang muncul dari dalam air lalu saling serang di udara beberapa kali sebelum salah satunya berubah jadi air dan yang satunya menceburkan diri kembali ke dalam air.
            “Astaga, kota ini begitu bersih tanpa sampah di sekitarnya tapi tetap saja dilanda banjir besar seperti ini!” keluh Flager.
            Ia langsung berkonsentrasi sesaat sebelum akhirnya mengalirkan lalu mereaksikan energi Ghranz ke kakinya kemudian melompat tinggi ke salah satu bangunan untuk mendarat ke dekat ujung bangunan itu.
            Aliran air yang sangat deras itu sudah melewati tempat di mana ia berada barusan dan menghanyutkan beberapa orang di tempat itu. Flager sadar, baginya dunia ini bukan dunia yang sesungguhnya dan orang-orang itu bagaikan pemeran figuran yang bisa diabaikan.
            Mendadak dari dalam air itu muncul seorang perempuan yang langsung melesat tinggi ke udara sambil memegang sebuah tongkat berwarna merah di tangan kirinya. Saat di udara, perempuan itu mengarahkan tangan kanannya ke air di bawahnya. Air itu langsung membeku seketika dimulai dari yang paling dasar. Sebelum air itu membeku menjadi bentuk kristal padat sampai ke permukaannya, dari dalam air itu langsung keluar seseorang yang bertubuh pendek dengan kulit yang berwarna hijau dan baju putih berlengan panjang sambil menaiki sebuah...
            “Lentera? Dia meluncur menggunakan lentera??” Flager tak percaya dengan mulut sedikit melongo.
            Orang bertubuh pendek itu benar-benar meluncur menggunakan lentera yang ada pada kakinya di atas sebuah jalur es yang tercipta dari air yang mengalir itu. Jalur tersebut mengarah ke perempuan barusan yang kini melayang jatuh ke atas kristal es yang ia buat barusan.
            Orang bertubuh pendek itu melompat dari atas lenteranya sementara lentera itu terus melesat cepat ke arah si perempuan. Dengan satu gerakan cepat dari tangan kanannya, si perempuan menepis lentera itu sambil bergerak ke samping.
            Mendadak tubuh perempuan itu, dimulai dari tangan kanannya, langsung diselimuti es. Tidak, es itu bukan dibuat oleh si perempuan tapi terbentuk karena bersentuhan dengan lentera barusan. Sadar es ini akan membekukan dirinya, saat sudah mendarat di atas kristal es yang ia buat, perempuan itu dengan cepat menancapkan tongkat yang ada di tangan kirinya ke atas kristal es lalu menyentuh es yang sudah hampir menyelimuti seluruh tubuhnya itu menggunakan tangan kirinya. Es itu langsung meleleh bahkan terbakar!
            “Apa-apaan...? Reaksi api yang mengerikan. Air dalam wujud es pun sampai terbakar seperti itu!” pikir Flager dengan wajah tak percaya. Ia sejak tadi fokus memerhatikan setiap gerakan dari kedua orang itu, terutama si perempuan. Flager sadar, energi dalam tubuh perempuan itu tidak main-main dan berbahaya.
            Sementara orang yang bertubuh pendek itu memiliki suatu sensasi energi aneh yang tersimpan di dalam ranselnya. Lentera itupun memiliki semacam sensasi energi yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Yang lebih aneh, lentera itu melayang-layang di dekat tubuhnya dan terhubung dengan semacam tali transparan ke kedua telinganya yang ditutupi sebuah kacamata besar.
            Sejenak kedua orang itu terdiam sambil mengambil jarak beberapa meter. Mereka masih berdiri di atas kristal es yang dibuat oleh si perempuan.
            “Oh, rupanya kau bisa mengendalikan elemen air rupanya,” ucap perempuan itu dengan nada santai kepada orang bertubuh pendek itu. “Melawanmu di dalam air sungguh merepotkan. Ingin mencoba di daratan?” lanjutnya dengan nada lembut namun penuh intimidasi.
            “......,” orang bertubuh pendek di depannya hanya diam dengan wajah serius tanpa memedulikan ucapan perempuan itu. Sejenak sang perempuan terdiam, layaknya sedang merasakan sensasi yang muncul di sekitarnya.
            “Hmm, sepertinya kita kedatangan tamu,” ucap perempuan itu sambil melirik ke sekelilingnya.
            Flager tersentak, ia merasakan ada dua sensasi energi yang berbeda dari dua arah di sekitarnya. Ia menoleh ke asal sensasi energi itu. Tampak di bangunan seberangnya berdiri seorang gadis kecil yang memiliki sayap sambil memegang sebuah kuas raksasa dengan panjang sekitar dua meter.
            Tubuh gadis itu pendek, tapi tidak sependek orang yang di bawah sana. Pakaian yang ia gunakan terbilang aneh bagi Flager. Pakaiannya  terkesan begitu longgar dan boros kain, sampai-sampai panjangnya nyaris menyentuh tanah. Mirip dengan baju putri kerajaan dari tempat Flager berasal. Ikat pinggang yang dipakainya pun cukup besar.
            Gadis itu sedang menulis sesuatu di bangunan yang ia pijak menggunakan kuas raksasa yang ia pegang. Setelah selesai, gadis itu diam memandangi perempuan yang ada di bawah, yang sedang berdiri di atas kristal es, dengan tatapan datar dengan bibir yang bergerak mengucapkan sesuatu.
            “Baiklah, gadis kecil itu tidak berdiri tapi melayang,” gumam Flager saat menyadari sepatu gadis itu tidak menyentuh bangunan tempat ia berada.
            Flager kemudian menoleh ke arah kanan, di bangunan sebelahnya, tampak seorang laki-laki tengah berdiri sambil membaca sebuah buku kecil. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna abu-abu tua dengan kaos putih di baliknya. Celananya yang berwarna hitam pekat tampak begitu kaku dan tidak fleksibel bila dibandingkan dengan yang dipakai Flager. Sementara itu pada bagian kaki terdapat sepatu hitam. Wajahnya bulat, dengan kacamata dan rambut hitam pekat yang begitu berantakan, mata sipit yang seperti kehilangan semangat hidup, dan memakai kacamata bening.
            “Kesan pertama yang luar biasa. Kutu buku,” pikir Flager.
            “Hooo... sepertinya sudah lengkap. Tidak perlu repot-repot mencari kalian semua, cukup kuselesaikan di sini,” ucap perempuan itu akhirnya, dengan nada sinis.
            Flager kembali menoleh ke arah perempuan itu sementara laki-laki yang membaca buku itu menutup buku yang ia baca lalu ikut memandang ke arah si perempuan.
            “Sepertinya Nona sudah membuat keributan yang... cukup besar di tempat ini,” ucap laki-laki itu sambil sambil tersenyum ramah dan menambah penekanan pada kata-kata terakhirnya barusan.
            Perempuan itu berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mencibir pelan. Laki-laki itu hanya tersenyum.
            “Maafkan aku jika aku tidak tampan seperti yang Anda harapkan, Nona... Stella,” ucapnya kemudian.
            Perempuan itu, yang bernama Stella, tampak sedikit terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. Sementara itu Flager tetap diam mengamati mereka berdua, ia masih menyusun informasi dan langkah selanjutnya.
            “Kau...,” Stella memasang wajah serius sambil menatap tajam ke arah si laki-laki.
            Laki-laki itu hanya tersenyum tipis lalu mulai memandang ke arah orang bertubuh pendek yang berdiri beberapa meter dari Stella.
            “Bara?” ucapnya kemudian. Orang bertubuh pendek yang bernama Bara itu memiringkan kepalanya saat mendengar laki-laki itu menyebut namanya.
            Ia lanjut  menoleh ke arah Flager dengan tatapan datar. “Flager?” ucapnya agak nyaring karena jarak mereka cukup berjauhan. Flager tertegun sesaat saat namanya disebut.
            “Lalu..,” laki-laki itu melihat ke arah gadis kecil di seberang Flager. “Kau... oi oi, Li atau Ai atau Lin?”
            “Ai Lin,” gadis itu cepat-cepat mengkoreksi ucapan laki-laki itu meskipun ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dari mana laki-laki itu mengetahui dengan tepat nama mereka? Apa hanya kebetulan ia mencocokkan nama-nama itu dengan benar dari daftar yang dimunculkan raja dunia barusan?
            “Oh, Ai Lin, rupanya,” komentar laki-laki itu. “Hahaha, maaf, tidak perlu menganggapku sampah,” tambahnya sambil tertawa kecil.
            Ai Lin tertegun sambil membelalakkan matanya, lebih tepatnya terkejut saat mendengar kata-kata itu.
            “Perkenalkan, aku Eisted Fodd. Kalian bisa memanggilku Eisted,” ucap laki-laki itu kemudian, memperkenalkan namanya sambil sedikit membungkuk.
            Stella tidak memedulikan Eisted, ia langsung mengambil tongkatnya yang ia tancapkan lalu berkonsentrasi sesaat.
            Bara yang berada di depannya mulai bersiaga, berjaga-jaga terhadap gerakan dari Stella. Dua lentera yang digunakan Bara untuk meluncur barusan tampak melayang-layang pelan di dekat kepalanya.
            Tiba-tiba Stella melompat lalu muncul di depan Flager. Semua berlangsung begitu cepat, Flager sedang berpikir serius sampai-sampai tak menyadari gerakan dari Stella.
            Stella langsung menyentuh Flager dengan tangan kanannya yang ditutupi sarung tangan berwarna biru yang memanjang hingga ke siku, sama seperti yang ada di tangan kirinya, dan seketika itu juga tubuh Flager membeku.
            “Kemampuanmu sepertinya menarik,” bisik Stella pelan ke telinga Flager.
            Flager berusaha bersikap tenang, ia sudah memikirkan rencana selanjutnya. Jika sampai mentalnya turun di saat seperti ini, maka pengendalian energi Ghranz miliknya akan kacau. Di jarak sedekat ini, ia bisa dengan jelas melihat penampilan Stella.
            Matanya Stella sipit tapi memiliki tatapan yang tajam, hidung agak mancung, kedua daun telinganya memanjang ke atas, memiliki rambut yang panjangnya sampai pundak dengan warna biru dan merah yang berselang-seling dan poninya yang menutupi mata kirinya. Yang membuat Flager sempat tertegun beberapa saat adalah saat menyadari bahwa mata Stella memiliki sepasang mata yang berbeda warna. Mata yang kanan berwarna biru dan mata yang kiri berwarna merah. Ia sempat melihat mata yang kiri saat Stella bergerak ke arahnya barusan dan rambutnya tersibak ke samping.
            Di kepalanya terdapat kristal yang melingkari rambut bagian atasnya.  Stella juga memakai masker berwarna biru yang menutupi hidung dan bibir tipisnya, dengan gambar tanda plus di tengah masker. Di lehernya menggantung sebuah kalung kristal es berwarna putih bening. Dari balik poni rambut Stella, Flager bisa melihat ada ikat kepala berwarna berwarna kuning keemasan yang terpasang.
            Tinggi tubuhnya sama dengan tinggi tubuh Flager. Hal yang membuat Flager nyaris meneguk ludah adalah masalah pakaian yang dipakai Stella begitu...
            “Serba minim. Orang ini pasti selalu merasa gerah kepanasan, mungkin,” batin Flager sambil berusaha meloloskan dari es yang membekukan tubuhnya, kecuali kepalanya.
            Perlahan kemudian Stella mengarahkan pandangannya ke mata Flager sambil menggerakkan tangan kanannya, mengarahkan jari-jarinya yang begitu lentik mendekati wajah Flager.
            “Satu sudah gugur,” ucap Stella pelan, nyaris tak terdengar.
            Tepat saat jari-jari itu hampir menyentuh wajahnya, Flager langsung berkonsentrasi dan mereaksikan energi Ghranz pada kainnya. Tiba-tiba es yang menyelimuti tubuh bagian atas Flager hancur dan dari kain itu langsung keluar duri-duri tajam yang mengarah ke segala arah termasuk ke Stella.
            Stella tidak memperkirakan hal ini, ia lambat mengambil tindakan sehingga salah satu duri itu menusuk beberapa sentimeter ke dalam lengan atas tangan kirinya. Ia melompat mundur dengan wajah terkejut, terlebih saat melihat luka di tangan kirinya. Sementara itu duri-duri dari kain milik Flager langsung tertarik mundur dan melebur kembali menjadi kain.
            Flager bergegas bergerak mencari cara untuk menghancurkan es yang menyelimuti pinggang hingga kakinya.
            “Kau... senjata itu bisa melukaiku?” ucap Stella dengan nada kesal dan rasa tidak percaya. Ia memegangi lukanya dengan tangan kirinya sementara matanya memandang tajam ke arah Flager.
            “Konyol, siapa saja bisa terluka dengan benda tajam seperti barusan,” komentar Flager enteng.
            Flager kemudian memegangi kainnya pada bagian dada menggunakan tangan kanannya lalu menarik kain itu. Perlahan kain itu berubah menjadi pedang.
            “Menarik sekali,” ucap Stella.
            Belum sempat Flager menyelesaikan proses “penciptaan” pedangnya, Stella sudah maju lalu mencengkeram baju Flager dengan tangan kirinya yang masih memegang tongkat sementara tangan kanannya memegang maskernya.
            Flager tidak merasakan ada sensasi energi negatif dari gerakan Stella barusan sehingga ia tidak bisa merespon cepat. Yang ia tahu, beberapa saat kemudian Stella membuka maskernya, menunjukkan bibir seksinya yang begitu tipis. Baiklah, Flager merasakan pengalaman yang menarik di sini saat bibir tipis itu sudah bersentuhan dengan bibirnya. Semua terjadi begitu cepat sampai-sampai membuat alam pikirannya begitu kosong.
            Dark Kisses...
            Stella menarik wajahnya, melepaskan bibirnya yang barusan bersentuhan dengan bibir Flager. Saat melihat wajah Flager, pemuda itu baru saja membuka matanya. Stella sempat tersenyum manis sebelum akhirnya menutup kembali maskernya. Ia berbisik kepada Flager, memberi semacam kata-kata—lebih tepatnya sebuah perintah. Flager hanya mengangguk dengan wajah datar.
            “Sesuai keinginanmu, Nona Stella,” ucap Flager.
            Dari tempatnya berada, Eisted dapat melihat dengan jelas kejadian itu. Ia kemudian merapikan kacamata miliknya lalu menunduk sedikit.
            “Wah wah, ciuman yang berbahaya. Dalam sekejap, bocah itu langsung terlena dan melakukan apapun yang diminta wanita itu,” ucap Eisted pelan sambil tersenyum tipis.
            Stella kemudian menyentuh sisa es yang masih menyelimuti bagian bawah tubuh Flager menggunakan tangan kirinya. Dalam sekejap, es itu langsung mencair. Flager segera menyelesaikan proses “penciptaan” pedangnya lalu menariknya lepas dari kain.
            Kini Flager sudah menggenggam pedang di tangan kanannya, sebuah pedang tipis yang sangat ringan tapi memiliki kepadatan dan ketajaman yang sangat tinggi. Terlihat ukuran kain yang ia gunakan telah mengecil dari ukuran semula.
            Flager dan Stella berdiri bersebelahan sambil menatap ke arah tiga orang lainnya. Eisted, Bara, dan Ai Lin saling berpandangan bergantian selama beberapa saat.
            Ai Lin memutuskan untuk terbang dengan cepat ke arah Flager dan Stella sambil membawa kuas raksasa miliknya di tangan kanan.
            “Bergerak sendiri seperti itu. Berani sekali dia,” komentar Stella sambil bersiaga.
            “Tidak, dia tidak sendiri,” ucap Flager kemudian. Ia merasakan ada sensasi energi yang muncul di belakang gadis itu.
            Benar saja, dari tempat Ai Lin menulis tadi muncul sesuatu yang langsung melesat beberapa meter ke atas lalu kembali jatuh dan mendarat di bangunan itu. Tampak seseorang tengah berdiri dengan pakaian serba hitam yang bahkan sampai menutupi seluruh tubuhnya kecuali matanya. Di tangan kanannya ia memegang sebuah pedang besar.
            “Itu... manusia. Muncul dari mana? Musuh?” Flager bertanya-tanya dalam hatinya dengan wajah sedikit bingung. Ia tidak ambil pusing lalu bersiaga untuk menghadapi Ai Lin yang sedang terbang ke arahnya dan Stella.
            Stella segera menjulurkan tangan kanannya ke arah Ai Lin sambil berkonsetrasi. Pada salah satu bagian kristal es yang berada di jalanan di bawah mereka semua berubah menjadi air lalu bergerak seperti tombak ke arah Ai Lin. Saat air itu melesat ke arah Ai Lin yang sedang terbang, air itu berubah menjadi kristal berbentuk tombak dan siap menusuk Ai Lin.
            Ai Lin menjulurkan tangan kirinya, membuka lebar telapak tangannya seolah-olah sedang menangkis tombak kristal itu. Agak samar-samar, tapi Flager bisa melihat ada seperti tameng raksasa tembus padang yang muncul di depan telapak tangan Ai Lin. Tameng itu membentuk suatu sudut.
            Jing... (Cermin)
            “Begitu rupanya!” ucap Flager agak nyaring. Ia langsung mengalirkan dan mereaksikan energi Ghranz di kedua kakinya untuk bersiap bergerak.
            Stella melihat tindakan Flager, ia yakin Flager memiliki kemampuan untuk memprediksi sesuatu sehingga ia ikut untuk bersiap bergerak.
            Saat kristal es itu menabrak tameng tembus pandang di depan telapak tangan Ai Lin, kristal es itu langsung memantul ke arah Flager dan Stella.
            Flager langsung melompat ke arah samping, ke arah di mana Eisted berada. Sementara Stella melompat mundur ke arah asal aliran air. Kristal es itu langsung menancap dan menembus atap bangunan tempat mereka berdua tadi berpijak. Terdengar suara barang hancur di dalam bangunan sana.
            Ai Lin langsung mendarat di dekat bekas kristal es itu menembus lalu mulai menulis sesuatu di atap bangunan itu. Flager sempat memerhatikan apa yang Ai Lin tulis tapi tulisannya tidak bisa ia mengerti.
            “Memerhatikan ke arah mana?”
            “EH!?” mendadak terdengar suara di sebelah Flager saat ia masih berada di udara. Flager menoleh. Itu adalah orang yang muncul barusan. Ia sedang bersiap menebaskan pedangnya ke arah Flager. “Bagaimana bisa dia bergerak mendekat secepat itu di udara menuju ke arahku..!?”
            Flager menangkis tebasan pedang orang itu lalu mendarat di salah satu bangunan yang ada di sebelahnya. Orang itu juga ikut mendarat beberapa meter di depan Flager. Tanpa memberikan kesempatan bagi Flager untuk menarik napas, orang yang berpakaian serba hitam itu langsung menyerang Flager. Pertarungan jarak dekat pun langsung terjadi dengan tempo yang sangat cepat.
            Sementara itu, Stella sendiri mendarat di atas kristal es yang ia buat begitu panjang sampai-sampai membekukan seluruh aliran air barusan. Kini jalanan paling lebar di kota tempat mereka bertarung sudah ditutupi oleh “sungai raksasa yang membeku”. Stella sempat memandang ke arah Bara selama beberapa saat sebelum akhirnya berlari menuju ke arah dari mana ia datang sebelumnya. Ia tahu, jika bertarung di sini, maka Bara dan Eisted bisa cukup merepotkannya. Bara memiliki keuntungan melawannya yang juga pengguna elemen air. Sementara Eisted, ada yang aneh dengan laki-laki itu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata oleh Stella.
            Melihat Stella yang sudah berlari menjauh, Ai Lin kembali terbang untuk mengejarnya.
            “Dasar sampah, mau ke mana kau?” ucapnya pelan sambil tetap terbang mengejar Stella.
            Eisted yang melihat hal itu segera memperbaiki posisi kacamatanya sambil memasukkan buku kecil yang ia pegang ke dalam saku celananya. Ia kemudian melirik ke arah Bara.
            Tampak Bara sedang memandang datar ke kristal es yang sedang ia pijak. Sesekali kakinya menendang-nendang kristal es itu lalu mengomel dengan nada pelan.
            “Percuma, itu sudah benar-benar membeku,” ucap Eisted pada Bara.
            Bara mengangkat wajahnya lalu memandang ke arah Eisted.
            “Tidak masalah, aku masih bisa melawanmu,” ucap Bara dengan nada percaya diri sambil menunjuk ke arah Eisted sambil tersenyum lebar. Eisted diam sesaat setelah mendengar ucapan Bara.
            “Kalau begitu, aku cukup menghindari lenteramu dan jangan sampai memicu benda di dalam tas milikmu,” ucap Eisted santai.
            Bara sempat membelalakkan matanya sebelum akhirnya memasang wajah serius sambil tersenyum tipis.
            “Begitu... jadi itu juga salah satu kemampuanmu rupanya,” ucap Bara. Ia mengambil ancang-ancang untuk melompat ke arah Eisted.
            “Hmm, jangan terlalu serius. Ingin mendengarkan puisiku?”
            Sementara itu tak jauh dari tempat Eisted dan Bara berada, Flager sedang sibuk melawan musuhnya yang mendadak muncul.
            “Hei hei, bukankah hanya ada lima yang yang bertarung termasuk aku? Siapa dia ini?” pikir Flager sambil tetap menangkis semua serang pedang lawannya itu.
            Flager melompat mundur beberapa langkah lalu turun ke jalanan. Ia cukup lelah bertarung di atas bangunan yang memiliki atap miring. Musuhnya juga mengikuti. Kini mereka bertarung di jalanan kecil yang berada di antara bangunan-bangunan besar.
            Musuhnya langsung bergerak maju dan mengarahkan tusukan pedang ke arah dada Flager. Mudah terbaca, Flager menggeser tubuhnya ke kanan lalu melesat maju setelah terlebih dahulu mereaksikan energi Ghranz pada kaki kanannya. Saat merasa musuhnya sudah berada di dalam jangkauannya, Flager menyabet pedangnya ke arah leher musuhnya itu.
            Flager sempat tersenyum tipis saat pedang itu nyaris memotong leher musuhnya, semua sudah sesuai rencananya. Hanya saja senyum itu dengan cepat menghilang saat apa yang tidak ia perkirakan sebelumnya mengganggu serangannya.
            Sebuah anak panah melesat begitu cepat dan nyaris mengenai dahi Flager. Beruntung ia menghentikan sabetan pedangnya dan langsung memilih bersalto ke belakang untuk menghindar.
            “Apalagi sekarang??”
            Di atap bangunan tempat ia dan Stella berada tadi sudah muncul seseorang yang berpakaian sama seperti yang digunakan oleh musuh Flager sekarang. Bedanya, orang yang di atap itu menggunakan senjata panah.
            “Kombinasi serangan jarak dekat dan jarak jauh, ya?” batin Flager sambil bergantian memerhatikan kedua musuhnya.
            Flager kemudian berkonsentrasi lalu mereaksikan energi Ghranz di kainnya untuk mengaktifkan kemampuan alarm kain miliknya. Setelah dirasa siap, ia kembali bertarung melawan musuh di hadapannya dengan tempo yang kembali cepat.
            Di tengah-tengah pertarungan, Flager merasakan ada tusukan jarum kecil yang berasal dari kain yang menutupi bahu kirinya. Ia segera menggeser posisi kepalanya dan sebuah anak panah langsung melewati kepalanya.  Dengan kemampuan alarm kain, ia bisa menciptakan semacam radar dengan jangkauan yang bisa ia atur. Untuk kali ini, berhubung si pemanah tidak terlalu jauh, ia mengatur jangkauan radarnya hingga ke tempat pemanah berada. Dengan begitu, saat sang pemanah baru saja melepaskan anak panahnya, Flager sudah mengetahui ke arah mana anak panah yang dilepaskan itu akan melesat.
            Begitulah seterusnya, pertarungan jarak dekat antara Flager dan musuhnya berlangsung beberapa menit sambil tetap menghindari anak panah. Sebenarnya, bagi Flager, musuhnya itu tidak terlalu berbahaya, hanya saja gerakannya cukup gesit dan memiliki pola yang aneh terutama saat menyerang menggunakan pedang.
            Lalu, di tengah-tengah pertarungan, musuh Flager yang menggunakan pedang itu tubuhnya mendadak berubah menjadi hitam lalu mulai meleleh seperti lilin dan jatuh ke tanah.
            “Tinta?” Flager menaikkan sebelah alisnya.
            Ia mengamati genangan cairan hitam di tanah itu. Flager tidak berani memastikannya dengan cara menyentuhnya, bisa saja cairan itu menyimpan kejutan yang berbahaya.
            Tusukan jarum kain terasa menusuk bahu kirinya. Flager mengambil satu langkah mundur, menghindari anak panah yang mengarah ke kepalanya. Sepertinya ia harus membereskan orang yang berada di atas bangunan sana dulu.
            Ia meraih kainnya lalu melepasnya sambil memastikan keberadaan si pemanah. Ia mengambil ancang-ancang  seperti hendak mencambuk menggunakan kainnya. Saat pemanah itu hendak melepaskan anak panahnya lagi, dengan cepat Flager mengibaskan kainnya ke arah si pemanah.
            Dari kain itu langsung melesat dua buah bumerang raksasa berbentuk bulan sabit menuju ke arah si pemanah. Pemanah itu tidak jadi melepaskan anak panahnya dan lebih memilih menghindar ke samping. Jarak yang cukup jauh, dan bumerang yang mudah terlihat membuat serangan Flager mudah dilihat dan diprediksi arahnya.
            “Orang-orang ini...sepertinya berhubungan dengan kemampuan anak yang bernama Ai Lin itu,” gumam Flager dengan wajah serius, “mereka diciptakan dengan satu kemampuan tempur khusus tapi kecerdasannya terbatas,” lanjutnya lagi. Flager tetap diam saat pemanah itu sudah siap melepaskan anak panah yang tertunda tadi.
            “Ya, kecerdasannya kurang,” ucap Flager lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Dia tidak tahu bahwa bumerang akan kembali,” tambahnya dengan nada polos.
            Di saat yang bersamaan, dua buah logam runcing berwarna abu-abu mengkilap menembus tubuh pemanah itu, dari punggung hingga menyeruak keluar dari dadanya. Ia langsung terdorong ke depan dan jatuh dari bangunan itu. Pemanah itu jatuh bebas dan mendarat dengan sukses tepat beberapa meter di depan Flager.
            Saat tubuh pemanah itu sukses menghantam tanah, tubuhnya hancur dan seolah pecah...
            “Menjadi tinta lagi?” ucap Flager saat memerhatikan cairan hitam yang terciprat ke sembarang arah lalu menempel di dinding bangunan sekitarnya.
            Flager mengingat kejadian beberapa saat lalu. Lokasi kemunculan kedua orang ini, tinta, Ai Lin yang memegang kuas raksasa, dan tulisan, semuanya berhubungan. Flager mereaksikan energi Ghranz pada kakinya lalu melompat ke tempat ia berada bersama Stella tadi. Saat sudah di atas bangunan, Ia mencari-cari sesuatu dan menyadari apa yang ditulis Ai Lin tadi sudah menghilang.
            “Jangan-jangan ia bisa mengubah tulisan menjadi benda nyata?” pikir Flager sambil kembali memasang kainnya menutupi tubuhnya.
            “ARGH!! AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!” sebuah teriakan nyaring terdengar dari arah belakang Flager.
            Flager memalingkan kepalanya, bola matanya sempat bergerak ke berbagai arah sebelumnya akhirnya terfokus pada satu titik, melihat Bara yang sedang berlutut di atas bangunan seperti menahan sakit sementara di depannya terlihat Eisted yang berdiri diam dengan mulut yang berkomat-kamit seperti mengucapkan sesuatu.
            “Bagaimana aku bisa menghadapi Motavatu jika aku saja kalah dengan kata-katamu?” ucap Bara sambil mati-matian mengangkat wajahnya lalu memandang tajam ke arah Eisted.
            “Sudahlah, tidur dengan abadi di penjara bola air itu, Nak,” ucap Eisted pelan dengan nada yang mengintimidasi sambil menyeringai. “Apa kau ingin mendengarkan karya baruku? Judulnya sederhana: Si Hijau yang Mati,” ucapnya lagi, kali ini dengan nada penuh nafsu untuk membunuh dan kacamata yang mendadak berkilau pada salah satu sudutnya.
            “Jangan panggil aku 'nak', dan hentikan nada sampahmu itu!” pekik Bara sambil menahan sakit yang luar biasa di tubuhnya. Setiap ia mendengar ucapan dari mulut Eisted, terlebih saat nada bicara Eisted naik-turun, ia harus menerima rasa sakit yang luar biasa seperti sekarang ini.
            “Aku tidak akan menyerah di sini. Aku harus menang! Menang agar kembali hidup. Harus! Kembali hidup! Hidup!”
            Flager yang melihat hal itu menundukkan sedikit wajahnya dengan mata yang memandang ke arah ransel yang dipakai Bara. Ada semacam energi kuat yang muncul dari dalam tas itu. Flager tertegun, ia merasa pernah merasakan sensasi energi ini sebelumnya, bahkan sering.
            “Reaksi...angin? Tapi ini dalam tingkatan yang berbeda!” pekik Flager dalam hati.
            Flager memang berasal dari kerajaan yang mayoritas adalah pengguna reaksi angin, jadi ia bisa peka terhadap sesuatu yang berhubungan dengan reaksi angin, tapi kali ini sensasi dari dalam ransel Bara agak berbeda. Tiba-tiba sensasi energi itu menghilang dari ransel dan malah muncul tidak jauh di atas Bara.
            Terlihat seperti ada benda berwarna hijau yang berkobar-kobar seperti nyala api lalu melesat ke arah Bara. Benda berwarna hijau kecil itu menabrak punggung Bara lalu terbagi menjadi dua dan masuk ke dalam lentera Bara. Dalam sekejap tubuh Bara dikelilingi aura berwarna hijau dan api lenteranya menjadi warna hijau. Bara kemudian berdiri tegap, dengan tatapan tajam ia memandang ke arah Eisted. Kini tenaganya langsung pulih total!
            Bara-Spinach...
            “Apa-apaan? Energi dalam tubuhnya langsung meningkat?” pikir Flager.

            Tidak hanya energi yang meningkat, lentera Bara juga berubah menjadi benda bulat pipih rumit dengan gerigi tajam di sisinya. Flager ingat, ilmuwan di kerajaannya pernah membuat benda bergerigi seperti itu agar bisa digunakan pekerja untuk memotong pohon.
            Bara mengambil ancang-ancang untuk menyerang Eisted, gerigi yang ada pada lenteranya mulai berputar seperti roda. Semakin lama semakin cepat dan sangat cepat!
            Eisted langsung mundur menjauh seolah-olah sudah tahu apa yang akan Bara lakukan berikutnya akan sangat berbahaya. Benar saja, Bara bersalto di udara untuk menggerakkan lenteranya seperti cambuk. Dari kedua lentera itu langsung melesat dua buah bumerang ke arah Eisted yang sudah melarikan diri ke bangunan di sebelah.
            Melihat Eisted yang sudah kabur menjauh, Bara segera berkonsentrasi untuk memanipulasi udara. Tak lama kemudian dalam radius hampir seratus meter, sebuah badai angin langsung tercipta. Angin mulai berhembus kencang tak beraturan di sekitarnya, memaksa Flager untuk menunduk pada atap bangunan yang miring agar tidak terseret angin. Merasakan hembusan angin seperti ini, mengingatkan Flager pada kampung halamannya.
            Dengan hembusan angin yang kuat seperti ini, memberikan kemampuan untuk Bara mengendalikan gerakan kedua bumerangnya di udara untuk mengejar Eisted.
            Eisted merasa sedang bermain kucing-kucingan. Kucing-kucingan? Lalu dia dan Bara adalah kucing dan kucing? Baiklah, Kucing-tikusan. Di mana saat ini Eisted merasa sedang menjadi tikus yang harus kabur dari si kucing hijau, Bara.
            Bentuk bangunan yang rumit dan miring luar biasa, angin yang mengganggu gerakan dan penglihatan, dan bumerang yang mengejar di belakangnya membuatnya sulit untuk berlari lurus. Ia melirik belakang, kedua bumerang sudah mendekat ke arahnya. Ia masih sempat merapikan letak kacamatanya sambil bergumam pelan.
            “Gawat juga, ya? Jika aku mendekat, gergaji mesin itu bisa memotongku. Sedangkan jika aku berlari seperti ini, aku tidak bisa melantunkan puisi indahku.”
            Eisted kembali melihat ke depan sambil tetap berlari memutari Bara yang sedang menatap tajam ke arahnya. Ia berkonsentrasi sesaat.
            “Oh, di situ kau rupanya,” ucap Eisted sambil melihat ke satu arah, memandangi Flager yang tengah berpegangan ke puncak bangunan.
            “Sial, anginnya semakin kencang!” ucap Flager sambil tetap berpegangan. Ia melihat ke arah langit. Begitu gelap, awan tebal ada di atasnya hingga radius dua ratus meter.
            Flager berpikir mati-matian dan menyusun strategi. Tingkat pertarungan ini, terutama saat ia melihat kemampuan Stella, sudah berada di tingkat yang sangat tinggi. Kemampuan semua lawannya sangat mematikan dan merepotkan. Beruntung saat ini keempat lawannya saling berhadapan dan meninggalkan dirinya sendirinya. Ia kemudian berbalik lalu membelakangi Bara yang berada beberapa puluh meter darinya, bersandar pada atap bangunan yang sangat miring itu—nyaris seperti posisi tidur—sambil tetap memegangi puncak bangunan.
            “Bagaimana ini? Apa kubiarkan mereka bertarung lalu saling membunuh sendirian dulu? Lalu, siapa yang tersisa pasti kelelahan dan aku bisa membunuhnya. Menang dengan cara seperti ini sepertinya tidak buruk. Yang penting hanya tersisa aku yang hidup di akhir pertarungan ini, kan? Begitu aturannya, kan?” ucap Flager sambil tersenyum lebar dan berusaha mengingat-ingat ucapan raja dunia beberapa saat yang lalu.
            “Memangnya kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi?” terdengar suara datar yang berasal dari sebelah kanan Flager.
            Flager terkejut setengah mati saat mendengar suara itu. Terlalu berpikir keras membuatnya lengah, ia tidak sadar Eisted kini sudah berjongkok di sebelahnya, lengkap dengan senyum tanpa dosanya. Tidak, yang lebih Flager khawatirkan saat ini adalah sesuatu yang mengikuti Eisted di belakang sejak tadi.
            Eisted kemudian melompat ke atas, kini Flager bisa melihat dengan jelas dua buah bumerang dengan sangat cepat melesat ke arahnya. Tidak ada waktu menghindar, Flager berkonsentrasi untuk mereaksikan energi Ghranz pada kainnya.
            Kedua bumerang itu tepat mengenai dada Flager hingga mendorongnya ke belakang, pedangnya terlepas dari tangannya lalu terlempar entah ke mana. Ia sempat menjerit kesakitan sebelum akhirnya terhempas di jalanan. Punggungnya terasa nyilu akibat membentur jalanan yang keras, membuatnya meringis kesakitan sambil menggeliat.
            Di tengah-tengah rasa sakit yang ia rasakan pada dada dan punggung, Flager mengangkat wajahnya sedikit untuk melihat dadanya. Sepertinya tameng kain cukup berhasil, tidak ada luka sayatan, bumerang sudah menghilang, hanya saja dadanya masih terasa sesak.
            Sambil mengusap dadanya, Flager perlahan berdiri dengan susah payah. Ia mengibaskan celana dan bajunya yang terkena debu jalanan lalu mengangkat wajahnya ke atas, memandang Bara yang sudah berdiri di tengah-tengah sisi miring atap bangunan dengan tatapan tajam ke arahnya.
            Flager berusaha mengatur napas untuk menurunkan adrenalinnya. Dengan mata terpejam, ia berkonsentrasi, memecah pedangnya yang sudah terlempar entah ke mana agar kembali menjadi partikel Ghranz. Tak lama kemudian ada semacam kabut yang mendekat ke arah Flager lalu seperti terhisap ke dalam kain. Tampak ukuran kain itu bertambah besar, kembali ke ukurannya yang semula seperti sebelum Flager menarik pedang.
            “Sepertinya lebih mudah melawan orang ini daripada orang yang tadi,” batin Bara sambil tetap melihat ke arah Flager. Ia segera mengambil ancang-ancang lalu melesat ke arah Flager.
            Melihat gerakan Bara, Flager segera memegang kainnya dengan kedua tangannya. Ia berkonsentrasi lalu menarik kain itu, mengubahnya menjadi senjata. Sementara Bara, saat di udara ia langsung bersalto untuk menggerakkan lentera bergeriginya ke arah Flager.
            “Hyaaahh!!” Flager menyelesaikan proses penciptaan senjatanya. Tonfa besi. Ia langsung menangkis lentera Bara dengan tonfa di tangan kirinya sementara tubuhnya bergerak maju sambil menundukkan tubuh untuk menyerang dengan tonfa yang ada di tangan kanan.
            Bara sudah terlebih dahulu mendarat lalu melompat mundur untuk menghindari jangkauan serangan tonfa Flager. Tubuhnya yang pendek—sepertiga dari tinggi tubuh Flager—memudahkannya untuk menghindari semua serangan jarak dekat dari Flager dan—tentu saja—ikut menyulitkannya melancarkan serangan kepada Flager.
            Dalam hati, Flager mengutuki tinggi badan Bara, tidak mungkin ia menyerang sambil menundukkan tubuh seperti ini terus-menerus. Di saat ada kesempatan, Flager menarik kainnya dengan tangan kiri untuk mengeluarkan beberapa pisau kemudian melemparkannya ke arah Bara.
            Cukup mudah bagi Bara untuk menghindari serangan pisau Flager selama matanya memerhatikan arah gerak pisau yang cukup kecil itu. Bahkan sangat mudah untuk menghindarinya. Bara melirik ke arah Flager.
            “Dia menghilang!?”
            Satu hantaman keras mengenai kepala Bara hingga membuatnya terpelanting dan terseret di jalanan lalu tersungkur. Kepalanya langsung pusing luar biasa sementara pandangannya langsung kabur sesaat.
            “Pisau itu...umpan?” pikirnya jengkel. Jengkel karena rasa sakit yang luar biasa, juga karena harus tersungkur di jalanan seperti ini. Ia merasa direndahkan. Saat pandanganya mulai membaik, ia bisa melihat Flager sedang menarik napas panjang di tempat ia terhantam barusan.
            “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama tidak terkena lentera itu,” gumam Flager sambil mengontrol napasnya. “Tubuhnya cukup rentan terhadap serangan langsung!”
            Flager tidak membuang-buang kesempatan. Ia segera melesat ke arah Bara dengan tonfa di tangan kanannya yang siap diayunkan.
            Melihat lawannya sudah maju untuk menyerang, Bara segera berdiri walau bersusah payah. Ia menarik napas lalu bersalto untuk menggerakkan lenteranya. Sekali lagi, dua bumerang kembali muncul lalu melesat ke arah Flager. Setelah Bara mendarat, ia mengendalikan angin di sekitarnya agar bisa dengan mudah mengatur gerakan bumerangnya.
            Tidak mau kalah, Flager melemparkan kedua tonfanya cukup tinggi ke depan atas lalu melepaskan kainnya dari tubuhnya. Ia mengibaskan kain itu sambil tetap berlari cepat ke arah Bara. Dua bumerang raksasa langsung muncul dari kain itu dan melesat ke arah bumerang Bara.
            Bumerang saling menghantam lalu menghilang. Bumerang milik Flager berubah menjadi partikel Ghranz dan kembali ke kain yang langsung dipakai Flager untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Saat jaraknya dengan Bara dirasa sudah dekat, Flager melompat lalu melepaskan sebuah tendangan kanan.
            Bara bersalto lalu menggerakkan lenteranya ke jalur tendangan Flager, berusaha menangkis tendangan Flager sekalian memotong kaki Flager.
            “Sudah kuduga, benar-benar sulit jika targetnya sekecil ini,” keluh Flager sambil setengah bersalto ke belakang di udara, membatalkan tendangannya. Ia menangkap dua tonfa yang tadi dilemparkannya ke udara lalu menyabetnya ke lentera Bara.
            Mereka kembali bertarung dalam jarak yang dekat dan sangat cepat. Flager sadar, jika sampai ia mengambil jarak agak jauh dari Bara, lawannya itu pasti akan menyerang dengan bumerang, sedangkan dirinya tidak mungkin selamanya melawan menggunakan bumerang atau tameng kain karena itu sangat boros energi. Tidak ada jalan lain, harus dikalahkan dengan pertarungan jarak dekat. Ini taruhan yang menentukan.
            Tanpa mereka berdua sadari, dengan jarak sekitar dua bangunan, Eisted melihat pertarungan mereka berdua dengan serius sambil bersembunyi di balik bangunan. Matanya yang sipit di balik kacamata beningnya dengan teliti mengamati setiap gerakan dan tindakan Flager maupun Bara walaupun sekecil apapun itu. Ia menarik tubuhnya ke belakang bangunan lalu bersandar, menarik napas beberapa kali.
            “Strategi yang dipikirkan Flager cukup bagus,” batin eisted, “hanya saja itu berlaku bagi mereka. Jika itu kulakukan, pada akhirnya aku harus melawan mereka satu lawan satu. Sedangkan mereka itu...” Eisted menggeser kepalanya sedikit dari balik bangunan untuk melihat, mengintip Flager dan Bara yang masih bertarung habis-habisan, “...adalah lawan yang terbiasa dengan rasa sakit dan penderitaan,” lanjutnya. “Jadi, memang harus diserang habis-habisan di saat mereka berdua sama-sama sekarat dan belum sempat memulihkan tenaga, ya?” Eisted menyeringai lalu bergerak menjauh dari tempat itu ke arah belakang bangunan, mengambil jalan memutar ke tempat Flager dan Bara berada.

***
            Jauh dari tempat ketiga laki-laki itu berada, nyaris berada di pinggiran kota dekat hutan kecil yang dipenuhi pepohonan, dua perempuan baru saja menurunkan tempo kecepatan serangan mereka untuk menarik napas sejenak.
            Lokasi tempat pertarungan Stella dan Ai Lin cukup berantakan. Beberapa menit setelah mereka menjauh dari Flager, mereka sudah mengeluarkan kemampuan tingkat tinggi mereka. Lokasi tempat mereka bertarung penuh bekas ledakan dan goresan besar, beberapa bangunan kecil sudah hancur setengah dan terbakar. Pepohonan di sekitar situ juga terbakar dan roboh.
            Kini Stella berdiri sambil memegangi pangkal tangan kirinya yang terluka dan mengucurkan darah. Napasnya terengah-engah sementara tangan kirinya yang terluka terlihat bergetar sambil tetap memegangi tongkat merahnya. Pakaiannya memang terdapat sobekan kecil dan bekas terbakar di sana-sini tapi tubuhnya, kecuali tangan kirinya, tidak didapati luka yang serius.
            Stella memandang kepada Ai Lin yang melayang di udara sekitar dua puluh meter di depannya sambil memegang kuas raksasa di tangan kanannya. Ai Lin memang terlihat tetap tenang, walaupun beberapa bagian tubuhnya dipenuhi luka  bakar serius dan pakaiannya sudah sobek serta hangus terbakar di beberapa bagian.
            “Cih, sebagian besar seranganku dikembalikan olehnya,” pikir Stella dengan ekspresi wajahnya yang sangat kesal. Ia melirik ke arah luka di tangan kirinya sambil menggeser telapak tangan kanannya. Oh, ada sesuatu yang menancap di situ.
            Stella menggigit bibir bawahnya lalu mencabut sesuatu yang menancap itu sambil meringis kesakitan. Rupanya bagian batang kayu yang menancap, cukup besar, sebesar jari kelingkingnya. Sepertinya menancap saat sebuah pohon hancur terkena ledakan serangan mereka berdua barusan. Stella langsung mengumpat sambil membuangnya. Ia kembali mengarahkan pandangannya kepada Ai Lin yang kini menyeringai.
            “Jadi, memang yang seperti itu baru bisa menyingkirkan sampah sepertimu, ya?” ucap Ai Lin dingin sambil mulai menulis sesuatu di udara menggunakan kuas raksasanya.
            “Tutup mulutmu!” ucap Stella tajam sambil menunjuk ke arah Ai Lin dengan tongkat di tangan kirinya. “Kau yang akan kuubah menjadi sampah!”
            Ai Lin hanya tersenyum mendengar ucapan Stella.
            “Hei, apa kau tahu? Aku pecinta alam,” ucap Ai Lin datar sambil mulai terbang agak tinggi.
            “Sial, dia mulai menjauh lagi,” pikir Stella. Kini ia mulai merasakan ada sesuatu yang sangat besar akan muncul. Ya, ia tahu jika gadis kecil itu selesai menulis sesuatu, maka akan muncul hal yang merepotkan dan kali ini hal itu muncul lebih cepat.
            Lin... (Hutan)
            Mendadak tanah tempat Stella bergetar hebat, seolah sedang terjadi gempa. Stella menoleh ke segala arah untuk melihat apa yang akan muncul. Ini... ini sangat besar. Stella berkonsentrasi untuk mengeluarkan salah satu kemampuannya.
            Heavy Fog...
            Dalam waktu yang singkat, di sekitar tubuh Stella langsung muncul kabut tebal.
            “Kita lihat, tenaga siapa yang masih cukup bertahan?” gumam Stella.
           
***

            Satu tendangan keras kaki kanan yang sudah direaksikan dengan energi Ghranz milik Flager dengan telak mengenai perut Bara, membuat anak bertubuh pendek hijau nan ringan itu terpelanting sangat tinggi ke udara. Bara langsung memekik kesakitan sambil memejamkan mata.
            Saat Bara kembali membuka mata dan menoleh ke sekililingnya, pandangannya terfokus pada satu arah. Jauh di sana, di dekat pinggiran kota, di tempat awal ia bertemu lalu bertarung dengan Stella, terlihat hutan raksasa yang sangat luas muncul dengan kabut tebal di sekitarnya yang keluar dari dalam hutan. Ia berani jamin, hutan itu tidak ada sebelumnya!
            Sementara di bawah Bara, terlihat Flager cukup puas dengan serangan telak yang berhasil ia daratkan pada Bara, meskipun ia sempat terkena serangan gerigi pada tangan bahu kirinya karena sempat melepaskan kain itu dari tubuhnya untuk melemparkan senjata.  Ia menjatuhkan tonfanya untuk sementara lalu dengan cepat mengubah kain itu menjadi panah kemudian membidiknya ke arah Bara. Dengan menahan rasa sakit pada tangan kirinya yang menahan panah, Flager membidikkan anak panah itu pada dada Bara.
            Flager melepaskan tiga anak panah sekaligus dengan jarak masing-masing anak panah sekitar tiga puluh sentimeter. Bara yang menyadari bahaya sedang mendekat menuju jantung serta paru-parunya segera bersalto dengan susah payah di udara untuk menangkis anak panah Flager. Dua berhasil ditangkis, tapi satu menancap tepat di bagian perutnya, agak ke kanan sedikit, membuat Bara sekali lagi memekik kesakitan dan memejamkan mata.
            Melihat satu anak panah sudah melakukan pendaratan yang sukses, Flager agak merasa lega meskipun ia berharap agar anak panah itu sekalian saja mengenai jantung Bara. Mendadak ia merasa ada sesuatu yang menghilang lalu memegangi kepalanya.
            “Cih, meskipun aku sudah mati, kain ini tetap memakan ingatanku,” pikir Flager sambil meringis. Ia menarik panahnya kembali menjadi kain lalu memasang kain itu di tubuhnya kemudian menunduk lalu mengambil tonfanya sambil menunggu Bara jatuh ke tanah.
            Sadar dirinya akan melakukan pendaratan darurat yang menyakitkan di jalanan dengan anak panah yang masih menancap dan posisi yang menghadap tanah, Bara segera berbalik agar telentang lalu mencabut anak panah di perutnya sambil menahan sakit. Tubuh kecilnya menghantam jalanan, didahului oleh punggung. Terdengar suara gedebuk yang tidak terlalu nyaring saat tubuhnya merasakan betapa kerasnya jalanan itu.
            Perlahan Flager mendekati tubuh Bara sambil tetap waspada, berjaga-jaga seandainya Bara masih memiliki kejutan lain. Ah, akan itu nyaris tak bergerak. Hanya dadanya saja yang naik-turun untuk menarik napas dan pandangannya yang sayu. Dilema. Flager tidak tega saat melihat tatapan mata itu.
            “Kau...apa kau ingin menyerah?” tanya Flager ragu-ragu, meskipun ia tahu kemungkinan jawaban apa yang akan keluar dari mulut Bara.
            “Candaan yang...sama sekali...tidak lucu,” ucap Bara terputus-putus. “Aku...masih memiliki alasan untuk...tidak kalah di sini,” tambah Bara.
            Flager tertegun. Jika ia dihadapkan dengan pertanyaan yang sama, ia pasti mati-matian untuk memilih tidak menyerah atau mundur. Semua orang ini ingin kembali hidup, benar-benar hidup. Raja dunia itu menawarkan sesuatu yang diinginkan oleh semua yang bertarung di sini.
            “Baiklah,” ucap Flager. Ia segera melesat ke arah Bara untuk melakukan serangan penghabisan.
            Mendadak Flager berhenti saat sebuah suara terdengar dari puncak salah satu bangunan. Ia menjatuhkan tonfanya lalu jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit luar biasa. Tidak hanya dirinya, Bara juga terlihat kesakitan sambil meringkuk memegangi kepalanya.
            Di tengah-tengah rasa sakit yang melanda, Flager menoleh ke semua puncak bangunan dan mendapati Eisted tengah berdiri di puncak bangunan yang ada di kirinya. Laki-laki berkacamata itu terlihat berbicara dengan gerak tubuh yang cukup gemulai dan nada suara yang bagi Flager agak menjengkelkan.
            Flager ingat, saat Eisted berbicara ketika melawan Bara sebelumnya, Bara juga terlihat kesakitan.
            “Jadi, ini juga salah satu kemampuannya!?” pikir Flager sambil tetap memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. “ARGH!!!” Flager sudah tidak tahan, ia menjerit histeris. Ingin rasanya ia menusuk jantungnya sekali lagi lalu mati dan masuk ke dalam alam lain lagi. Seingatnya, rasa sakit saat jantung tertusuk tak sesakit seperti sekarang. Otaknya serasa dicongkel pelan-pelan.
            Bara sendiri tidak mau kalah, teriakannya juga lebih histeris daripada Flager, lengkap dengan tubuh yang berguling-guling di jalanan. Rasa sakit yang ia derita juga ditambah dengan luka pada perutnya.
            “Sialan! Sakit sekali!” umpat Bara. “Sakit!” ucapnya sambil meremas kepalanya. “SANGAT SAKIT!!!”
            Flager merasakan sensasi energi lagi dari Bara. Ini semacam...
            “Petir...? Tidak, lebih kompleks. Listrik?” Flager ingat, ilmuwan di kerajaannya mampu menciptakan sesuatu yang mirip reaksi petir untuk menyalakan sebuah lampu dan itu bisa dikendalikan lalu disimpan di dalam sesuatu yang disebut baterai.
            Sebuah batu kuning muncul di atas Bara. Dalam sekejap batu itu meluncur ke tubuh Bara lalu terbagi menjadi dua dan masuk ke dalam lentera. Kedua lentera itu berubah kembali menjadi lentera biasa dengan nyala api yang berwarna kuning terang. Tubuh Bara sempat diselubungi aura berwarna kuning dan energinya meningkat drastis.
            Bara berdiri, tenaganya kembali pulih meskipun masih menderita luka parah pada perut dan nyilu pada punggungnya. Tampak kedua lentera itu seperti mengeluarkan debu bercahaya kuning cerah.
            Bara-Onion...
            Flager tersadar dari rasa sakit, tidak terdengar suara Eisted lagi. Ia mengangkat pandangannya ke arah Eisted berada. Orang itu rupanya agak terbatuk-batuk, mungkin karena terlalu banyak berbicara dengan nada suara yang rumit.
            “Ahh, sepertinya...aku tidak sengaja mengaktifkan pemicunya, ya?” ucap Eisted kemudian, dengan nada polos sambil menjitak pelan kepalanya sendiri menggunakan tangan kanannya. Ia kemudian tersenyum tanpa dosa sambil memiringkan kepala.
            “Aku benci saat kau mengucapkan sesuatu dengan ekspresi wajah seperti itu!!” teriak Flager kesal sambil menunjuk ke arah Eisted.
            Eisted menoleh ke arah Flager dan melihat ekspresi kejengkelan pada wajah Flager.
            “Sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri,” ucap Eisted pelan sambil menunjuk ke arah Bara.
            Flager menoleh saat menyadari sensasi energi Bara yang mendekat ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Agak terlambat, Flager mengangkat kedua tonfa miliknya untuk bertahan saat melihat satu lentera Bara terayun ke arah kepalanya.
            Sempat ditangkis, tapi mendadak ia melihat ada serpihan debu kuning di sekitarnya sebelum akhirnya ia terhempas seperti terkena ledakan besar sehingga tubuhnya terpelanting, terlempar sangat jauh ke belakang. Punggung Flager menghantam keras dinding bangunan lalu menghancurkan dinding itu. Sekarang dirinya berada di dalam bangunan itu dengan rasa sakit dan perih pada kedua tangannya serta nyilu pada punggungnya. Tonfanya hancur dan berubah menjadi partikel Ghranz lalu kembali ke kainnya. Seandainya saja ia tidak mengaktifkan tameng kain, mungkin dadanya akan terkena dampak serius.
            “Ugh, kupikir akan terkena sengatan listrik, tapi ini terasa seperti ledakan dahsyat!” batin Flager sambil berusaha bangkit berdiri. Dalam hati ia mengutuki tindakan Eisted yang mengganggunya saat hampir menghabisi Bara.
            Baru saja Flager berdiri, Bara dengan kecepatan tinggi sudah melesat ke arahnya sambil bersalto. Flager langsung melompat ke samping untuk menghindar, sambil bergerak ia juga menarik kainnya dengan tangan kanannya untuk membentuk sebuah tombak panjang. Tepat saat Bara melewatinya, Flager menusukkan tombak itu ke arah Bara dengan gerakan cepat.
            Tidak disangka, tombak itu berhasil menembus punggung Bara dan membuat anak itu sampai muntah darah.
            “Berhasil?” gumam Flager penuh tanda tanya.
            Di luar perkiraan, tubuh Bara langsung pecah menjadi partikel-partikel kecil berwarna kuning lalu terbang mengikuti hembusan angin. Partikel-partikel itu mulai berkumpul dengan cepat lalu memadat di belakang Flager, membentuk kembali tubuh Bara. Melihat Flager yang masih lengah, Bara bersalto menggerakkan kedua lenteranya ke tubuh lawannya itu.
            Flager sadar, ini juga salah satu kemampuan Bara. Ia berbalik lalu menangkis lentera Bara. Tidak terlalu efektif, ledakan langsung terjadi, membuat tombak milik Flager terlepas dari tangannya lalu terpelanting ke atas. Tombak itu pecah kembali menjadi partikel Ghranz.
             Flager segera melompat mundur untuk mengambil jarak. Pandangannya menyapu ke segala arah, sekarang mereka bertarung di dalam ruang tertutup, hal ini tentu saja merugikan Flager yang tidak terbiasa bertarung dengan medan yang sempit. Ia segera berpikir keras sebelum Bara kembali menyerangnya, memikirkan segala kemungkinan yang ada, strategi, menyusun lalu mengolah informasi berdasarkan data-data kemampuan semua lawannya yang sudah ia miliki sejauh ini, memperhitungkan kemungkinan terburuk, risiko, dan rencana cadangan. Aha! Ia sampai pada satu kesimpulan.
            “TUNGGU!” teriak Flager dengan wajah serius sambil menjulurkan telapak tangan kirinya yang terbuka lebar ke arah Bara yang hampir saja melesat maju, menyuruh anak itu untuk berhenti. Lumayan sukses, anak itu berhenti sambil tetap waspada. “Hei, dengarkan aku sebentar,” ucap Flager pada Bara sambil tersenyum penuh arti.
            Sementara di luar bangunan itu Eisted tengah mengawasi keadaan di dalam dari lubang yang terbenuk akibat hantaman Flager pada dinding tadi. Eisted terlihat seperti berpikir dengan tatapan kosong ke dalam ruangan meskipun dia hanya bisa melihat Flager dan Bara yang terlihat seperti saling berbicara. Tiba-tiba Eisted membelalakkan matanya sambil perlahan mundur dan bersiaga.
            “Dasar, orang-orang ini benar-benar merepotkan,” gumam Eisted sambil mengepalkan kedua tangannya, kesal. Ia sedikit menekuk kedua lututnya sebelum akhirnya melompat mundur, menghindari serangan cepat dari Bara yang tiba-tiba melesat ke arahnya sambil mengayunkan lentera.
            Eisted terus menghindar dengan berjalan mundur untuk menjaga jarak dari ayunan lentera Bara. Kekuatannya yang hanya bergantung pada kemampuannya berbicara membuatnya tidak tahu cara melawan orang sedekat ini melalui pertarungan fisik. Ia harus mengambil jarak sejauh mungkin untuk menyerang. Di tengah-tengah pertarungan, Eisted menyadari ia melewatkan sesuatu, ia langsung berpikir sekeras mungkin.
            “Cih, tidak buruk juga,” batin Eisted sambil melirik ke belakang lalu menundukkan kepalanya.
            Sebilah pedang panjang dan tipis nyaris memotong lehernya jika ia terlambat menunduk. Setelah kejadian yang nyaris membuat kepalanya terlepas itu, ia berguling ke samping untuk menjauhi Bara dan juga Flager yang muncul di belakangnya. Tampak Flager agak kesal karena sabetan pedangnya masih bisa dihindari meskipun terlihat ada senyum tipis di bibirnya.
            “Jadi, benar-benar bisa membaca pikiran orang lain, ya?” pikir Flager sambil bersiaga dengan pedang di tangan kanan. “Tapi, hanya bisa membaca pikiran satu orang dalam satu waktu.”
            Eisted tersenyum sambil tetap waspada.
            “Kemampuan analisa yang lumayan,” ucap Eisted, “kau bisa mengambil kesimpulan hanya dengan melihatku yang terlambat menyadari posisimu di belakang barusan, ya?”
            “Tidak perlu basa-basi!” Bara sudah bosan mendengar pembicaraan kedua orang itu, ia langsung melesat ke arah sisi kiri Eisted.
            Melihat Bara yang sudah mencuri start duluan, Flager buru-buru melesat ke arah sisi kanan Eisted sambil merentangkan tangan kanannya yang memegang pedang.
            Dua orang itu sudah berkoalisi, ini benar-benar merepotkan bagi Eisted. Ia bergantian mengarahkan pandangannya pada mereka berdua sebelum akhirnya memilih maju ke arah Flager.
            Flager langsung berhenti lalu menyabet pedangnya ke dada Eisted, meskipun terlihat mudah dihindari oleh laki-laki berkacamata itu.
            Sebenarnya Eisted berniat mengambil jarak untuk menjauh setelah berhasil menghindar sekali dari serangan Flager, tetapi Bara sudah muncul di depannya untuk menghalangi jalannya pergi.
            “Jangan biarkan dia mengambil jarak yang jauh atau kita akan merasakan sakit yang luar biasa itu lagi.
            Masih terngiang jelas ucapan Flager saat di dalam bangunan tadi di benak Bara. Sebenarnya ia jengkel juga harus bekerja sama dengan orang yang seharusnya menjadi lawannya, tapi mau bagaimana lagi? Flager benar, Eisted harus dihabisi terlebih dahulu. Flager bisa ia bereskan nanti, batinnya.
            Saat melawan Eisted, Bara seperti sedang melawan dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Laki-laki berkacamata itu bisa membaca pikiran, ia tahu apa yang akan dilakukan Bara selanjutnya, Eisted benar-benar satu langkah bahkan mungkin berpuluh-puluh langkah ada di depannya. Setiap serangannya bisa diprediksi dengan mudah. Mungkin untuk bisa menang, ia harus berhenti berpikir sejenak dan menyerang secara brutal. Ayolah, bagaimana cara melakukannya?
            Tepat saat Bara sedang berurusan dengan Eisted, Flager dengan cepat melepaskan kain miliknya lalu bersiap mengibaskannya ke suatu arah.
            “Ini taruhan,” ucap Flager dengan penuh harap, berharap kelengahan dari Eisted.
            Eisted sendiri bisa dengan mudahnya menghindari setiap serangan Bara, bahkan lebih mudah daripada menghindari serangan Flager, karena jangkauan serangan Bara sangat pendek. Di tengah-tengah pertarungan Eisted mewaspadai pikiran Flager.
            Flager baru saja selesai merapikan kain di tubuhnya lalu bergerak maju dan mengambil tempat untuk ikut menyerang Eisted.
            Menghadapi kedua lawan seperti ini membuat Eisted harus bersusah payah bergantian membaca pikiran mereka masing-masing, tentu saja hasilnya tidak memuaskan. Beberapa kali ia nyaris terkena lentera Bara dan sempat tersayat pedang Flager pada bagian dadanya.
            Pertarungan jarak dekat yang hanya menyerang-menghindar itu akhirnya harus terhenti kala Flager tiba-tiba melompat mundur diikuti dengan Bara. Eisted bingung melihat mereka tiba-tiba menjauh dan langsung membaca pikiran mereka berdua bergantian dengan cepat. Ia langsung  mengepalkan kedua tangannya dengan wajah penuh amarah.
            “BRENGS.......!!”
            Belum sempat Eisted menyelesaikan kata-katanya, beberapa jarum besi runcing raksasa berdiameter sekitar dua sentimeter dengan panjang tiga puluh sentimeter menembus punggungnya lalu masuk ke dalam tubuhnya, menghancurkan jantung, hati, paru-paru, lambung, dan ususnya dalam satu garis lurus. Eisted langsung terhempas seketika, jatuh tengkurap ke atas jalanan sambil memuntahkan darah dari mulutnya.
            Belum selesai, beberapa jarum kembali muncul dari atas dan menancap di hampir semua bagian tubuhnya, bahkan ikut menancap di jalanan. Eisted hendak berteriak, tapi suaranya seperti tertahan di kerongkongan, hanya terdengar suara udara berat dari mulutnya karena kerongkongannya sudah dipenuhi darah dari paru-paru dan jantungnya.
            Pandangan Eisted mulai kabur, napasnya terlihat mulai teratur, pikirannya jauh menerawang ke masa lalu. Ia hampir mati.
            “Ayah...Ibu...,” gumamnya sambil sesekali berusaha menarik napas. “Sepertinya aku...belum bisa...mengungkapkan kebenaran...itu......maaf....” napasnya berhenti, matanya menutup perlahan. Hanya ada darah mengalir dari luka tempat jarum menancap dan dari mulutnya.
            Flager menundukkan kepalanya. Bahkan di alam kematian seperti ini kedamaian tetap sulit tercipta, tidak jauh berbeda dengan tempat dari mana dirinya berasal. Ia tahu, ini tetap harus dilakukan. Setiap orang saat ini sudah saling bunuh, lima puluh orang lain yang ikut bersamanya pasti sedang bertempur habis-habisan saat ini.
            Ia segera mengalihkan pandangannya kepada Bara. Anak itu juga rupanya sedang melihat ke arah dirinya. Agak canggung, baru beberapa menit barusan mereka berkerja sama dengan baik dan kini mereka sadar bahwa mereka harus saling membunuh. Sempat ada keraguan di ekspresi wajah keduanya tapi keraguan itu berubah menjadi keyakinan teguh kala mengingat apa yang ditawarkan raja dunia itu. Kehidupan kembali.
            Seperti sudah bisa membaca dari hati ke hati, mereka bergerak bersamaan, saling maju menyerang.
            Flager mereaksikan energi Ghranz miliknya ke seluruh tubuhnya tapi lebih memusatkannya pada kakinya. Mendadak tubuhnya melesat sangat cepat dan seolah-olah menghilang lalu muncul di belakang Bara, bersiap menusuk anak itu.
            Bara sempat terkejut dengan gerakan Flager yang bertambah cepat, tapi ia berusaha bersikap tenang lalu memutar tubuhnya di udara mengarahkan lenteranya untuk menangkis serangan pedang Flager. Saat pedang itu beradu dengan lentera, ledakan kembali terjadi dan membuat pedang Flager terpental jauh.
            Tanpa membuang banyak waktu, Flager kembali menarik senjata dari kainnya. Kali ini bumerang bintang berbentuk segitiga. Saat Flager selesai menarik senjata itu, ia merasa energi Ghranz dalam tubuhnya sudah berkurang sangat banyak dan beberapa ingatannya sudah terhapus.
            Dengan sekali ayunan tangan yang sudah direaksikan energi Ghranz, Flager melemparkan bumerang itu ke arah Bara. Dengan sigap bara bersalto untuk mengayunkan lenteranya, menangkis bumerang Flager. Saat Bara bersalto, pandangannya teralihkan, membuat Flager sempat melesat sangat cepat ke belakang Bara sambil menarik pisau dengan kedua tangannya.
            Tepat saat Bara menangkis bumerang dan mementalkannya dengan ledakan dari lentera, Flager langsung menusukkan kedua pisau itu ke punggung Bara yang lengah. Sukses menancap, dan tubuh Bara juga sukses pecah menjadi partikel-partikel kecil berwarna kuning lagi seperti sebelumnya.
            “Uhh, seperti sebelumnya lagi, ya?” gumam Flager sambil memerhatikan ke arah mana partikel-partikel itu terbang.
            Partikel-partikel itu rupanya berkumpul dan mulai bersatu tepat dua meter di depan Flager. Kedua tangannya segera menancapkan kedua pisau itu pada kainnya, meleburnya kembali menjadi kain. Ia melepaskan kain itu dari tubuhnya lalu mengibaskannya ke arah partikel-partikel itu sebelum bersatu. Dua buah bumerang melesat sangat cepat melewati partikel-partikel itu, hanya lewat saja dengan mulus. Melihat hal itu, Flager memasang kembali kainnya ke tubuhnya, melilitnya dengan erat pada leher dan dadanya lalu bergerak maju ke arah Bara yang sudah “terbentuk” kembali.
            “Usaha yang bagus, walaupun kau tidak akan bisa menyerangku yang masih dalam bentuk seperti itu,” ucap Bara sambil tersenyum. Ia segera bersalto untuk mengarahkan lenteranya menyerang tubuh Flager yang tanpa senjata. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya, mengapa Flager bergerak maju langsung seperti itu tanpa memegang senjata? Ah, peduli monster!
            Lentera itu telak mengenai dada Flager yang dilindungi oleh tameng kain. Ledakan langsung terjadi, membuat tubuh Flager terpental sangat kuat ke belakang, dadanya terasa sangat sesak dan nyilu. Yah, tameng kain hanya melindungi dari tusukan dan sayatan tapi tidak menahan benturan.
            Mendadak Bara merasakan ada sesuatu yang menyayat kedua lengannya bagian luarnya. Ia menajamkan pandangan matanya. Itu kawat, dan kawat itu tersambung pada kain yang dipakai oleh Flager yang masih terseret mundur di jalanan. Kawat itu terhubung ke sesuatu di belakang Bara.
            Bara segera berbalik dan mendapati tubuhnya langsung ditancapi dua bumerang runcing yang barusan dilemparkan oleh Flager. Ledakan lentera barusan membuat Flager terpental, secara langsung ikut menarik dua bumerang yang terhubung dengan kawat itu agar kembali dengan cepat ke arah Bara. Anak itu langsung terdorong ke belakang lalu jatuh terlentang di jalanan dengan bumerang yang masih menancap.
            Melihat hal itu, Flager berdiri sambil menahan sakit pada bagian dadanya. Ia mengamati tubuh Bara yang bercucuran darah dan gerak dadanya yang tidak teratur, berusaha menarik napas. Baiklah, kali ini anak itu banar-benar terkena serangan dan tidak berubah menjadi partikel-partikel lagi. Anak itu nyaris mati bersimbah darah.
            “Ugh, berarti tersisa gadis kecil itu lagi, ya?” ucap Flager sambil bersiap pergi dari situ.
            Saat hendak melompat, ia merasakan ada sensasi energi lagi yang muncul, berasal dari ransel Bara lalu berpindah ke atas tubuhnya, berwarna merah. Flager tertegun sesaat sambil menampar seluruh wajahnya menggunakan tangan kanannya.
            “Astaga, anak ini memiliki berapa nyawa!!??” pekik Flager kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia hampir kehabisan energi Ghranz, mentalnya sedang kacau saat ini, dan Bara terlihat akan bangkit lagi.
            Tampak sebuah batu yang terlihat mirip bintang berwarna merah langsung melesat ke tubuh Bara lalu masuk ke dalam kedua lenteranya, membuat api lentera itu menjadi berwarna merah dan berubah menjadi bentuk bintang tumpul. Bara kembali bangkit, meskipun harus tertatih-tatih. Aura berwarna merah langsung melingkupi tubuhnya yang kecil.
            Bara-Longan...
            Flager sadar, setiap bangkit kembali dengan proses munculnya sebuah batu warna-warni itu, hanya membuat tenaganya kembali pulih, bukan fisiknya. Tubuh anak itu masih rentan dengan luka parah di tubuhnya! Melihat hal itu, Flager sengaja tidak menarik kembali senjata bumerangnya dan membiarkannya menancap pada tubuh Bara, termasuk kawat yang terhubung pada kainnya. Flager yakin, ia masih memiliki peluang untuk menang di sini selama ia bisa mengetahui apa kemampuan dari lentera itu.
            Mendadak Bara bersalto di udara. Saat selesai bersalto, di belakang tubuhnya muncul benda bulat putih besar yang bersentuhan dengan kaki Bara. Bagaikan pegas, benda itu langsung melontarkan tubuh bara dengan kecepatan tinggi ke arah Flager. Setelah melontarkan, benda itu langsung menghilang begitu saja dengan cepat.
            “Apa-apaan...!??”
            Flager menghindar dengan menggeser tubuh bagian atasnya ke kiri. Di luar dugaan, tali khusus yang menghubungkan lentera itu dengan telinga Bara terlihat bertambah panjang. Jangkauan serangan Bara sudah bertambah! Lentera itu sempat menyentuh dadanya.
            Flager segera mengaktifkan tameng kain untuk berjaga-jaga dan dalam sekejap benda yang tadi melontarkan Bara sudah muncul di depan lalu melontarkan tubuh Flager ke belakang dengan sangat kuat. Efeknya lebih dahsyat daripada kemampuan lentera yang sebelumnya, kali ini Flager sampai terpelanting hingga menghancurkan dinding tebal bangunan di belakangnya bahkan hingga pondasi utama di tengah bangunan itu. Belum selesai, ia masih terlempar hingga keluar lagi dari bangunan itu lalu terseret beberapa meter di jalanan.
            Flager terbatuk-batuk lalu memuntahkan sedikit darah dari mulutnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama pada bagian punggung. Ia mengusap-usap dadanya dengan tangan kanannya untuk memeriksa apakah ada tulang iga yang patah. Beruntung, masih utuh, hanya saja tulang belakangnya terasa seperti sedang dipelintir.
            Ia mengangkat wajahnya saat merasa bangunan yang barusan ia “terobos” mengeluarkan suara aneh.
            “Sial, aku bisa tertindih!”
            Flager berusaha mati-matian untuk menyeret tubuhnya menjauh dari situ. Perlahan namun pasti, bangunan itu hancur lalu runtuh dengan cepat, menerbangkan debu yang sangat banyak ke segala arah. Flager langsung menutup hidungnya dan memejamkan mata.
            Beberapa saat kemudian, saat debu sudah habis terhembus angin, Flager membuka matanya lalu mengamati ke sekelilingnya sambil tetap dalam posisi terlentang di tanah. Dari balik debu dan puing-puing bangunan runtuh itu Flager bisa melihat Bara berjalan tertatih-tatih mendekat. Mulut anak itu terus-menerus mengeluarkan darah dengan jumlah yang tidak sedikit. Tidak ada lagi bumerang yang menancap pada dadanya, sepertinya tertarik dan terlepas saat Flager terpental akibat kemampuan lentera itu. Akibatnya, luka pada dada Bara semakin bertambah parah dan mengeluarkan darah yang banyak. Flager yakin, darah anak itu sudah hampir habis, terlihat dari tatapan mata Bara yang kian sayu dan tubuhnya yang sempoyongan nyaris terjatuh.
            Flager berusaha bangkit, ia menopang tubuh bagian atasnya menggunakan tangan yang bertumpu pada kedua lututnya. Ia terkejut, ada sensasi lagi yang muncul dari dekat Bara, kali ini lebih banyak. Flager mengalihkan pandangannya kepada Bara.
            Tubuh Bara diselimuti aura berwarna putih cerah, bagaikan matahari. Terlihat ada empat buah batu yang berwarna putih terang saling bergerak mengelilingi tubuhnya. Bara tampak berkonsentrasi serius sambil memegangi dadanya yang terus-menerus mengeluarkan darah.
            “Rice..., Spinaaach..., Oniooon..., Loooongan...!” ucap Bara terputus-putus. Aura di tubuhnya semakin kuat, dan keempat batu tadi semakin cepat berputar mengelilingi tubuhnya, mengaktifkan kemampuan lain dari lenteranya.
            Bara-Risol...
            Flager bisa merasakan energi pada tubuh Bara meningkat berkali-kali lipat!
            “Anak ini...memang penuh kejutan,” ucap Flager sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak percaya Bara masih menyimpan kekuatan sebesar itu. Ia belum siap untuk menerima serangan dari Bara sekarang, ia perlu waktu untuk memperbaiki mentalnya dan mengembalikan energi Ghranz di dalam tubuhnya. Jika tidak, ia akan kesulitan untuk mereaksikan energi Ghranz yang tersisa saat ini.
            Di saat Flager sudah hampir pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya, mendadak aura di tubuh Bara mulai meredup lalu menghilang, batu yang mengelilinginya juga langsung berhenti berputar. Anak itu muntah darah sebelum akhirnya jatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Tubuhnya sudah mencapai batasnya, ia tidak bisa bertahan. Jantungnya sudah rusak oleh serangan bumerang Flager sebelumnya.
            Tidak membuang-buang kesempatan, Flager langsung menarik sebuah pisau dari kainnya, lalu mereaksikan energi Ghranz pada tangan kanannya. Ia mulai membidik, kemudian melemparkan pisau itu dengan susah payah.
            Pisau itu tepat menancap di dada Bara, di sela-sela tangan yang memegang dadanya, membuat anak itu terdorong pelan ke belakang lalu terlentang di jalanan. Pandangannya benar-benar sudah sangat sayu dan mulai buram.
            Bara mengangkat tangan kanannya, memandangi langit yang cerah, seolah-olah ingin menggapainya.
            “Skyemaira,” ucapnya lirih, membayangkan planet penuh air tempat ia berasal, “aku merindukan airmu,” tambahnya, sebelum akhirnya kedua matanya terpejam lalu tangan kanannya terhempas ke jalanan. Detak jantungnya berhenti. Ia mati.
            Flager melihat hal itu, ia tertegun beberapa saat sebelum akhirnya bisa memastikan bahwa Bara benar-benar sudah mati dan tidak memberikan kejutan lain lagi. Ia berkonsentrasi untuk menarik kembali pisau yang ia lemparkan menjadi partikel Ghranz.
            Saat partikel Ghranz itu sudah kembali melebur menjadi kain, mendadak Flager memegangi kepalanya. Ia menyadari ada yang hilang. Ia menarik undur kejadian sebelum ia mulai bertarung.
            Stella mendekat ke dirinya yang sedang membeku lalu melakukan sesuatu kepadanya sebelum akhirnya ia berdiri berdampingan bersama perempuan itu. Aneh, mengapa ia bisa berdiri berdampingan? Mengapa ia tidak bertarung dengan perempuan itu dan lebih memilih melawan Bara serta Eisted? Flager berusaha mengingat-ingat salah satu potongan ingatan yang menghubungkan kejadian itu. Percuma, ingatan itu benar-benar sudah terhapus sebagai “bayaran” atas penggunaan kekuatan kain.

***

            Sementara itu, pertarungan sengit antara Stella dan Ai Lin hampir menemukan titik terang. Hutan yang diciptakan oleh Ai Lin sudah hampir terbakar seluruhnya oleh kekuatan Stella, sedangkan kabut tebal yang diciptakan oleh Stella perlahan-lahan sudah mulai menghilang.
            Tampak, Stella tengah berdiri agak sedikit membungkuk sambil memegangi tangan kanannya yang terluka parah. Sekujur tangan kanannya dipenuhi oleh serpihan-serpihan batang pohon yang menancap begitu dalam di tangannya, membuat tangan kanannya mengalami pendarahan yang begitu serius. Napasnya tersenggal-senggal karena menahan sakit yang teramat sangat pada tangan kanannya.
            Keadaan Stella lebih baik, Ai Lin sendiri harus rela tertancap di sebuah pohon dengan tongkat milik Stella menembus dadanya lalu menancap pada pohon di belakangnya, membuat tubuh kecilnya tergantung tidak berdaya di pohon itu. Kuas raksasa miliknya entah sudah terlempar ke arah mana.
            “Cih, sampah sepertimu...lumayan juga rupanya,” ucap Ai Lin sambil tersenyum sinis, seakan-akan tidak menerima dengan kondisinya saat ini. Matanya memandang Stella dengan penuh amarah.
            “Jangan banyak bicara di saat hampir mati,” ucap Stella enteng dengan senyum puas sambil melangkah maju perlahan. Ia tahu, Ai Lin bukan ancaman tanpa kuas raksasanya itu.
            Saat ia berada sangat dekat dengan Ai Lin, ia menyentuh kepala gadis itu menggunakan telapak tangan kirinya. Ai Lin berusaha memberontak, tapi ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kematian sudah mendekat.
            “Waktunya membakar sampah yang sesungguhnya,” ucap Stella dengan suara merdu dan seringai mengerikan di bibirnya.
            Dari dalam hutan itu langsung terdengar jeritan yang amat sangat nyaring dari Ai Lin, jeritaan penderitaan yang sangat menusuk hati siapapun yang mendengarnya, hingga akhirnya jeritan itu mulai terdengar pelan lalu menghilang.

***

            Stella bergegas kembali ke tempat di mana ia meninggalkan Flager setelah selesai membereskan Ai Lin. Saat ia tiba, dirinya cukup terkejut melihat beberapa bangunan sudah ada yang rusak parah.
            “Hooo, sepertinya pertarungan di sini lumayan seru juga,” gumam Stella sambil tersenyum tipis.
            Ia melihat kristal air yang ia ciptakan masih berada di tempat sebelumnya. Percuma, sekarang ia tidak bisa menggunakan kekuatan elemen airnya karena tangan kanannya benar-benar sedang terluka. Masih ada serpihan kayu tertancap di sana, Stella sengaja tidak mencabutnya karena itu sungguh menyakitkan dan bisa menyebabkan pendarahan yang lebih hebat.
            Stella mulai memerhatikan ke semua arah dari puncak salah satu bangunan. Di salah satu sudut, ia bisa melihat Eisted yang sudah tengkurap bersimbah darah di jalanan dengan punggungnya yang dipenuhi lubang. Melihat hal itu, Stella cukup puas. Artinya Flager sudah berhasil ia manfaatkan. Ia kemudian melesat ke dekat bangunan yang paling hancur untuk mengamati apa yang sedang terjadi.
            Stella berdiri pada puncak bangunan yang ada di sebelah bangunan yang hancur itu. Di sebelah kanan, dengan jelas ia bisa melihat Bara yang sudah tidur terlentang bersimbah darah pula, mati.
            “Satu..dua..tiga,” Stella menghitung korban yang gugur. “Aha, tinggal membereskan Flager,” ucapnya sambil tersenyum senang, menyadari kemenangan sudah di depan mata. Ia kemudian melihat ke sebelah kiri, di seberang mayat Bara, tampak Flager sedang berdiri sambil terengah-engah mengatur napasnya.
            “Dua sudah beres, tinggal menunggu hasil dari dua perempuan itu saja,” gumam Flager seraya menarik napas panjang sebelum akhirnya berdiri tegak dan mengamati sekelilingnya. “Ng..?” ia cukup terkejut saat melihat Stella yang tengah berjalan pelan ke arahnya sambil tersenyum manis. Sekilas Flager bisa melihat tangan kanan Stella yang terluka parah.
            Flager langsung  bersiaga dengan kedua tangan yang mengepal di depan dadanya. Melihat tindakan Flager, Stella merasa heran lalu berhenti berjalan mendekat. Matanya melihat tangan Flager yang mengepal dan pandangan matanya yang penuh kewaspadaan.
            “Apa yang terjadi? Seharusnya Dark Kisses bisa bertahan hingga tiga hari, tapi...” pikir Stella heran.
            “Kemampuan orang ini berhubungan dengan reaksi api dan air di kedua tangannya, tapi...,” Flager berpikir lalu melirik pada tangan kanan Stella yang terluka, “...tangan kanannya terluka. Itu tangan yang mengendalikan reaksi air,” lanjutnya. “Artinya sekarang aku harus mewaspadai reaksi api.”
            Flager tidak akan lupa saat tangan kanan itu menyentuhnya dan membuat dirinya langsung membeku. Tidak hanya tangan kanannya, tangan kirinya juga sanggup membakar es yang tercipta dari lentera Bara, jauh lebih berbahaya daripada sekadar hanya membeku.
            “Dilihat dari sikapmu, kita harus bertarung, ya?” ucap Stella akhirnya, mencairkan suasana yang agak menegang barusan. Flager sedikit mengendurkan kepalan tangannya saat mendengar ucapan Stella.
            “Tidak, jika kau menyerah,” ucap Flager polos.
            “Oh, baiklah. Kita memang harus bertarung,” balas Stella.
            Sebenarnya ia sudah hampir kehabisan tenaga karena melawan Ai Lin tadi, ditambah sekarang dirinya tidak bisa menggunakan kekuatan elemen airnya karena tangan kanannya terluka. 
            Stella menggenggam erat tongkat miliknya yang ada di tangan kiri lalu menjulurkan ke depan sambil berkonsentrasi. Melihat hal itu, Flager mundur perlahan sambil bersiaga. Stella sendiri memejamkan kedua matanya selama sepuluh detik sebelum akhirnya membuka matanya lagi dengan tatapan tajam kepada Flager.
            “Mengubahnya menjadi batu atau menyentuhnya tidak akan berhasil,” pikir Stella. “Gerakan orang ini sangat cepat! Lagipula...,” Stella mengamati kain yang melilit di tubuh Flager, “...kain itu bukan buatan manusia biasa, senjata dari kain itu bisa melukaiku,” lanjutnya.
            Dengan tongkat sihir Alexis miliknya itu, Stella bisa mengetahui kemampuan lawannya serta bisa melihat masa depan selama beberapa waktu ke depan dengan memanfaatkan pikiran lawan dan dirinya yang digabung jadi satu lalu diolah seperti sebuah jalan cerita, bagaikan sebuah peluang. Saat melawan Ai Lin, kemampuannya ini sangat berguna tapi saat melawan Flager seperti sekarang, ia tidak bisa melihat ke masa depan karena isi pikiran Flager terus berubah-ubah! Flager selalu berpikir dengan cepat dan memperhitungkan puluhan hingga ratusan strategi langkah berikutnya. Jika isi pikiran lawan berubah-ubah terus-menerus dan begitu cepat, masa depan juga tidak bisa diprediksi.
            Tidak ada jalan lain, Stella harus menggunakan kekuatan apinya.
            “Hei, ingin sesuatu yang besar?” tanya Stella dengan nada menggoda. Matanya memandang Flager dengan penuh arti.
            “Besar? Apa yang kau maksud?” tanya Flager ragu, sambil melirik ke arah dada Stella.
            “Kejutan.”
            Mendadak tongkat di tangan kiri Stella memancarkan cahaya warna merah yang terang lalu terbakar. Api dari tongkatnya menjalar ke tangan kirinya dan semakin membesar sementara Stella hanya berdiri tegap seolah-olah tidak merasa kepanasan atau terbakar.
            Api dari tangan Stella itu kemudian mulai terlepas dari tangannya lalu membentuk bola api berdiameter sekitar satu meter di depan Stella sebelum akhirnya melesat dengan sangat cepat ke atas, seolah-olah ingin menembus langit.
            Flager tidak melepaskan pandangannya dari api itu, ia mengikuti gerakan bola api hingga ke langit, melewati awan, bahkan sampai bola api itu tidak terlihat lagi karena terhalang awan. Ini seperti pertanda buruk, Flager merasakan ada energi yang melesat begitu cepat dari atas. Sepertinya bola api itu kembali, tapi...
            “Ukurannya semakin besar...!!??” pekik Flager dalam hati sambil membelalakkan kedua matanya saat melihat bola api yang semakin membesar dan melesat ke arah dirinya dan Stella dengan kecepatan tinggi bagaikan meteor.
            Tidak hanya besar, bola api itu membuat suhu di sekitarnya menjadi panas luar biasa. Flager segera melepaskan kainnya untuk menutupi seluruh tubuhnya sebelum akhirnya bola api raksasa dengan diameter sekitar tiga puluh meter itu menghantam tanah, bahkan ikut melelehkan kristal es milik Stella yang berada di dekat situ. Ledakan dahsyat langsung terjadi, api langsung menyambar ke segala arah dari sumber ledakan. Flager langsung terlempar cukup jauh akibat efek ledakan itu.
            Bola api itu sukses menghancurkan apapun dalam radius lima puluh meter di sekitarnya, membuat bangunan yang berada dalam radius tersebut rata dengan tanah. Bangunan-bangunan yang berada di luar radius ledakan ikut terbakar karena terkena percikan lidah api yang menyambar.
            Sementara itu, Flager yang jatuh terlentang dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya mulai bergerak perlahan. Ia membuka kain yang menutupi wajahnya untuk melihat apa yang  barusan terjadi. Tidak ada bangunan lagi di sekitarnya, yang ada hanyalah debu tebal dari tenah yang menutupi jarak pandangnya.
            “Astaga, semuanya rata dengan tanah,” batin Flager terkejut. Jika saja kainnya tidak anti api dan menolak panas, ia pasti sudah mati terpanggang.
            Flager kemudian bangkit berdiri. Tameng kain barusan benar-benar sudah menghabiskan banyak energi Ghranz miliknya. Belum sempat ia menyusun strategi, mendadak tanah tempat ia berpijak bergetar singkat. Flager langsung waspada dan memerhatikan sekelilingnya untuk mewaspadai serangan dadakan. Hening sesaat, sebelum akhirnya tanah bergetar kembali. Sepertinya ada sesuatu yang besar sedang mendekati dirinya.
            Ia mendongakkan kepalanya ke satu arah, yang diyakini Flager asal penyebab tanah bergetar, berusaha melihat sesuatu yang berada di balik debu tebal ini. Flager mulai waspada saat keadaan mulai kembali hening, ia memasang ekspresi yang sangat serius sebelum akhirnya membelalakkan kedua matanya.
            “OH, SIAL!!” ucap Flager nyaring sambil melompat ke samping.
            Tepat saat Flager melompat, sebuah semburan api muncul secara diagonal dari atas, menembus tebalnya debu, mengarah ke arah Flager berdiri barusan.
            Flager mendarat sambil berguling-guling di tanah sebelum akhirnya berjongkok untuk melihat asal api itu.
            Semburan api barusan membuat debu tebal di sekitarnya mulai terbang menjauh dan menipis, membuat jarak pandanga semakin membaik. Kini tampaklah sesosok makhluk raksasa tengah berdiri sekitar dua puluh meter di depan Flager. Makhluk itu memiliki tubuh dan leher yang panjang seperti ular dengan dua sayap besar di punggungnya, dua kaki belakangnya terlihat lebih besar dan panjang daripada dua kaki depannya, dan ekor bagai cambuk sepanjang lebar rentang sayapnya. Tubuh makhluk itu berwarna merah menyala karena diselubungi oleh lidah api dengan, terlihat dua tanduk tajam di kepalanya dan gigi-gigi runcing di mulutnya yang sedang menggeram. Matanya memiliki tatapan tajam yang sanggup menurunkan mental siapapun yang melihatnya, termasuk Flager.
            Fire Dragon...
            “Apa kau senang dengan tungganganku ini, Flager?” terdengar suara khas milik Stella. Perempuan itu rupanya sedang duduk di atas leher makhluk itu sambil memandang remeh ke arah Flager.
            Ini sudah di luar perhitungan. Seumur hidupnya, Flager belum pernah melihat makhluk seperti ini! Ia perlu lebih dari sekadar strategi untuk mengalahkan yang satu ini!
            “Bagus, mengapa bulan tidak sekalian saja jatuh ke tempat ini?” batin Flager.
            Stella tertegun sejenak sambil memandangi Flager yang tengah waspada. Ini adalah kekuatan terakhirnya. Ia sudah tidak memiliki cukup tenaga lagi untuk melawan Flager yang gesit. Sisanya harus ia serahkan kepada makhluk yang sedang ia tunggangi ini.
            Flager sendiri langsung berpikir keras, menyusun setiap informasi dan kemungkinan yang ada. Mempertimbangkan peluang dan risiko yang harus diterima, memerhatikan medan pertarungan, menyeleksi setiap strategi dengan peluang keberhasilan yang paling tinggi. 30%.. 40%.. tidak, dengan semua informasi yang ada sekarang pun, peluang untuk menang hanya ada sekitar 45%.
            “Yah, tidak ada salahnya dicoba. Lagipula aku sudah mati,” ucap Flager pasrah. Ia nyaris sudah tidak peduli lagi dengan tawaran yang diberikan oleh raja dunia itu tentang kebangkitan.
            Flager bergerak maju ke arah makhluk di depannya untuk menyerang, entah menyerang bagian yang mana. Yang ia tahu, setiap makhluk tidak bisa hidup tanpa jantung atau kepala. Jadi, dada dan leher adalah sasaran utama Flager!
            Makhluk itu mulai mengamuk saat Flager mendekat ke arahnya. Ia langsung berbalik lalu menggerakkan ekornya bagaikan cambuk kepada Flager.
            Dengan cepat Flager mereaksikan energi Ghranz pada kedua kakinya untuk melompat menghindar. Energi Ghranz miliknya benar-benar menipis, ia hanya bisa menggunakan kekuatan kain pada satu kesempatan.
            Stella yang melihat hal itu mulai mengagumi Flager di dalam hatinya. Laki-laki itu benar-benar pantang menyerah. Tapi, ia juga memiliki alasan untuk tidak kalah di sini, ia juga menginginkan apa yang ditawarkan raja dunia.
            “Kita tentukan di serangan terakhir ini!” pekik Stella saat menyadari sihir Alexis miliknya sudah hampir habis untuk mengendalikan makhluk yang sedang ditungganginya ini. Ia tidak memiliki kekuatan untuk bisa membuat makhluk ini bisa terbang, terpaksa ia harus meladeni Flager di pertarungan darat.
            Flager berlari mengelilingi makhluk itu sambil mencari celah untuk menyerang. Ia tidak ingin mengambil risiko untuk menyerang dalam jarak dekat mengingat makhluk itu diselubungi oleh lidah api di seluruh tubuhnya yang mungkin bisa membakar apapun yang menyentuhnya kecuali Stella.
            “Ayo, kau memiliki sayap, kan? Mengapa tidak terbang?” batin Flager sambil melihat makhluk itu yang mulai berbalik, berusaha menghadapkan kepalanya ke arah Flager yang masih berlari. “Atau...memang ada alasan tertentu sehingga tidak bisa terbang?” batin Flager lagi.
            Makhluk itu mendengus lalu mengibaskan ekornya secara horizontal ke arah Flager.
            “Saatnya melakukan apa yang mereka sebut dengan 'Rencana B'!”
            Flager melompat sedikit lebih cepat lalu bersalto di udara untuk menghindari kibasan horizontal ekor makhluk raksasa itu. Tepat saat ekor makhluk itu hampir melewatinya, Flager mereaksikan energi Ghranz ke kakinya lalu melompat sangat tinggi ke udara dengan memanfaatkan ekor itu sebagai pijakannya.
            Stella mendongakkan kepalanya memandang Flager yang kini berada di atasnya, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan orang itu dari atas sana. Tampak Flager yang sedang melepaskan kainnya itu dari tubuhnya lalu memegangnya di tangan kanannya.
            Sadar bahwa Flager berniat melakukan sesuatu yang sepertinya membahayakan, Stella segera mengangkat tongkatnya lalu mengarahkan kepada Flager yang sdang ada di udara. Tongkat tersebut pada ujungnya terdapat bola kristal dan di ujung satunya memiliki bentuk lancip yang dapat menjadi tombak atau pedang untuk bertarung dalam jarak yang sangat dekat. Kini ia sedang mengarahkan bagian yang lancip itu ke arah Flager.
            Saat di udara, Flager sudah bersiap untuk melakukan serangan sebelum akhirnya ia menyadari bahwa tongkat milik Stella ternyata sudah memanjang dan melesat ke arahnya! Flager bingung untuk bertindak. Ia memang sudah memperhitungkan hal-hal tak terduga seperti ini, tapi ia tidak menyangka ada kekuatan yang bisa membuat tongkat bertambah panjang seperti itu dan bisa melancarkan serangan jarak jauh.
            “Sial, di saat seperti ini...,” keluh Flager panik. Ia tahu, jika menggunakan tameng kain sekarang maka ia tidak akan memiliki energi lagi untuk menyerang.
            Tidak ada cara lain, saat bagian lancip tongkat itu nyaris mengenai dadanya, Flager menggeser tubuh bagian atasnya sehingga tongkat itu hanya mengenai bahu kirinya.
            “Ugh!!” Flager memejamkan matanya menahan sakit yang teramat sangat ketika tongkat itu menembus bahu kirinya, memuntahkan darah segar ke belakang tubuhnya. Sebelumnya, bahu itu juga sudah terkena serangan dari Bara.
            Hal itu hanya berlangsung singkat, sekali lagi Flager menahan sakit saat tongkat itu kembali memendek, tertarik keluar dari bahunya.
            “Cih, meleset!” gumam Stella dengan wajahh kesal. Ia sudah membuang tenaganya untuk serangan tongkat barusan. Kini ia hanya bisa mengandalkan makhluk yang ia ciptakan untuk melawan Flager.
            Sambil menahan sakit, Flager sendiri berusaha untuk fokus. Ia melihat ke arah Stella, memastikan lokasinya sebelum akhirnya mengibaskan kainnya secara diagonal ke arah Stella. Dalam sekejap dari kain itu langsung melesat bumerang raksasa berwarna hitam pekat dengan jalur yang melengkung ke arah Stella.
            “Serangan balasan dimulai,” ucap Flager sambil terengah-engah dengan wajah yang hampir pucat.
            Stella berkonsentrasi melihat gerakan bumerang itu. Warnanya yang hitam membuat bumerang itu mudah dilihat. Karena sekarang posisinya sedang menunggangi makhluk yang ia ciptakan, maka ia tidak bisa bergerak bebas kecuali menggerakkan tubuh bagian atasnya untuk menghindar.
            Ini mudah, cukup perhatikan arahnya maka ia bisa dengan mudah menghindar. Tepat saat bumerang itu nyaris mengenai kepalanya dari arah kiri, Stella segera menarik mundur tubuh bagian atasnya untuk menghindar. Dari balik maskernya, ia tersenyum tipis.
            “Ng...? Apa ini?” dalam sepersekian detik setelah bumerang itu lewat di depan wajahnya, Stella melihat ada sesuatu di depan wajahnya yang begitu tipis dan membentang horizontal, melekat pada bumerang yang barusan. “Benang? Kawat?”
            Stella segera menoleh ke arah kirinya, hanya untuk menemukan sabit kecil yang terhubung pada bumerang barusan melalui kawat baja tipis berwarna abu-abu. Sabit itu melesat begitu cepat melewati leher Stella lalu pecah bersama bumerang barusan menjadi partikel Ghranz.
            Sabit itu berwarna abu-abu mengkilap, membuatnya nyaris tidak terlihat apalagi ditambah dengan bumerang barusan sebagai penarik dan umpan.
            Perempuan itu diam sambil tetap menoleh ke arah kiri. Pandangannya begitu kosong. Di dalam pikirannya, melintas begitu cepat kenangan masa lalunya, sebuah sungai yang begitu indah dan bayangan sebuah keluarga.
            Dari atasnya, Flager bisa melihat kejadian yang berlangsung cepat selama beberapa detik itu, termasuk saat di mana kepala Stella akhirnya lepas dari tubuhnya lalu jatuh ke leher makhluk yang ditungganginya sebelum akhirnya memantul jatuh ke tanah dan menggelinding beberapa meter di jalanan. Flager meneguk ludahnya melihat hal itu, sedikit merinding.
            Makhluk yang ditunggangi Stella langsung mengamuk tak terkendali. Kini Flager harus membereskan makhluk itu juga. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang kain lurus ke atas. Secara otomatis, kain itu langsung melilit seluruh bagian tangan kanan Flager.
            Dengan konsentrasi yang tinggi, Flager langsung mengubah kain itu menjadi pedang. Dengan cepat, kain itu mulai berubah menjadi pedang yang sangat panjang, sekitar tiga meter. Memiliki kepadatan yang sangat tinggi dan sangat ringan. Pedang itu begitu tipis, bahkan jika dilihat dari depan, hampir setebal kertas, nyaris tidak terlihat kecuali gagangnya.
            Dengan memanfaatkan gravitasi, Flager melesat turun sambil bersiap menyabet pedang. Tepat saat ia sudah berada di jarak jangkauan padang, Flager mengayunkan tangan kanannya, menebas leher makhluk itu hingga putus. Saat kepala makhluk itu ikut terlepas menyusul nasib tuannya barusan, tubuhnya langsung pecah menjadi bola api dan langsung meledak.
            Ledakan yang terjadi tidak terlalu besar tapi cukup untuk melemparkan tubuh tuannya yang sudah tanpa kepala sejauh beberapa meter hingga terseret di jalanan.
            Flager sendiri mendarat dengan tidak terlalu mulus. Punggungnya yang barusan sudah mencium dinding bangunan kini harus merasakan kerasnya jalanan. Ia terbanting dengan sukses, mengerang kesakitan sambil menggeliat di jalanan. Darahnya kembali mengucur dari bahu kirinya akibat benturan barusan, membuatnya harus menarik napas menenangkan mentalnya dan adrenalin yang meningkat.
            Pandangan Flager mulai buram, wajahnya sudah sangat pucat, tapi ia bisa melihat jelas ada seseorang yang mendekatinya dan memerhatikan wajahnya. Tidak terlalu jelas, tapi Flager yakin orang itu memiliki sayap.
            Ah, itu makhluk yang membawanya ke tempat ini. Ia tampak menoleh ke segala arah, memerhatikan kerusakan yang terjadi akibat pertarungan.
            “Termasuk pertarungan yang cukup lama,” ucapnya berkomentar, “yah, pertarungan ronde 1-B selesai, pemenangnya Flager Ivlin!” lanjutnya lagi dengan nada yang lebih nyaring.
            Flager tersenyum tipis, kini ia bisa pingsan dengan tenang.

***

22 comments:

  1. Narasi bagus....
    tapi spasi kurang, font kecil, dan saya masih bingung kenapa Flager bisa lepas dari Dark Kisses -_-

    6/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu..... karena "ingatan" Flager tentang perintah dari Dark Kisses milik Stella sudah terhapus akibat penggunaan kekuatan dari kain.. :3

      Delete
  2. Saya ga suka kalo harus komentar teknis, tapi rasanya di sini emang harus
    Pertama spasi antar paragraf, kedua pembagian part dalem cerita. Dua"nya rasanya beneran perlu karena cerita ini super panjang dan jadi berat bacanya karena dua hal itu. Kasihan pembaca yang lain nanti

    Tapi saya salut bikin battle sepanjang ini, dan ceritanya sendiri sebenernya lumayan

    7/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. uff... kesalahan saya kayaknya kalau masalah font yang kecil (dan menjadikan paragrafnya sempit).. perasaan udah diedit pas sebelum ngirim email tapi apa ter-undo kali ya? T.T aih......

      Delete
  3. Haiyhoo~ master xifos
    (づ。◕‿‿◕。)づ

    wah iya , , di blog font dan spasinya runyam~ iiyahahha (σ`▽´)-σ
    apakah penyebabnya?
    untung aku baca d kekom~ (≧◡≦)


    hawwaaa~ rupanya skill Bara keluar semua , , pantas saaja sampai panjang begini battlenya ~ (≧◡≦) (≧◡≦) (≧◡≦)
    dan finishingnya tidak segereget battlenya, , dan ada kesamaan dengan finishing menggunakan boomerang+kawat~, ,
    entry ikky cukup nice~

    ookay , , sebelumnya, , #ampoooooni saia masteeerr~ (>ʃƪ<)
    aku mau titip 6/10 dulu yauuw~
    #haiyhooo~ (づ。◕‿‿◕。)づ

    ReplyDelete
    Replies
    1. kekuatan OC saya gak ada yg nge"BOOM" kayak OC lain di grup B ini (cuma modal kain yg bsia ngeluarkan senjata doang).. T_T jadi, si Flager memang harus mati2an pake strategi..

      saya sendiri mikir, kekuatan apa yg bisa mengalahkan Bara dan Stella (di mana kekuatan mereka begitu ngeri).. ah, ternyata memang harus pake strategi, umpan, dan pengecoh.. :3

      dan masalah bumerang + kawat itu, sejauh ini itu strategi greget yg bisa mengecoh~ :v

      BTW, thanks udah baca cerita absurd nan panjang ini.. :D

      Delete
  4. Ceritanya lumayan.
    Narasi sudah oke.
    Berhubung saya bacanya di word, tulisan calibri 12 pt ternyata, jadi saya nggak masalah.
    Cuma lain kali mesti dirapiin pas mau ke blog

    Oh ya:
    - Flager sama sekali tidak menikmati pengalaman terbang pertamanya itu saat diangkut makhluk bersayap tersebut sebelum akhinya makhluk bersayap itu >> 'itu' dan 'tersebut' bukannya maknanya sama? Jadi kayak penguangan


    Sama ini...Baca ini kayak ngga ada jeda. 51 halaman bener-bener something,

    +7.5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh? 51 halaman ya? o_O saya gak nyadar.. (nulisnya pake OpenOffice sih, bukan Microsoft Office)

      ahhh. terima kasih atas koreksi di bagian "itu"... hufft, sebenarnya adegan itu malah saya tulis pas saya menyelesaikan ending cerita ini.. jadi pas nulisnya, masih terbawa2 suasana pas waktu masih nulis ending.. ^_^

      Delete
  5. Ini cerita pertarungan yang cukup seru. Saya suka dengan karakterisasi Eisted Fodd dan Bara Tumpara yang begitu terolah di sini. Tentang bagaimana Eisted memanfaatkan teknik membaca pikiran dan bermain syair, juga tentang Bara yang endurance-nya begitu memukau ... walaupun tidak sempat mencapai perubahan final—Bara Risol.

    Barangkali karakter Eisted justru lebih muncul di cerita ini daripada dalam versi aslinya. Begitu pula dengan Stella Sword yang tampil memukau jika dibandingkan dengan Stella dalam versi pengarangnya sendiri. (Entah dengan karakter Bara—karena saya belum membaca versi pengarangnya)

    Meskipun sampai sekarang saya belum mengerti kriteria seperti apa yang mampu melukai Stella. Di charsheet-nya, Stella tidak dapat disakiti dengan benda tajam atau senjata yang dibuat manusia ... tetapi tangannya dia bisa terluka oleh serpihan/duri pohon? Juga oleh senjata Ghranz milik Flager?

    Di tengah cerita, entah kenapa efek Dark Kiss tidak terlalu tampak. Saya sempat berpikir, “Ini si Flager bertarung dengan kehendaknya sendiri atau dikendalikan Stella?” Setelah panjang lebar bertarung dengan Eisted dan Bara, baru setelah Stella muncul ketahuanlah kalau efek Dark Kiss-nya sudah hilang. Karena pengaruh ingatan Flager yang hilang sewaktu menggunakan kain? Well, setidaknya singgunglah perihal Dark Kiss itu sedikit di narasi sewaktu bertempur dengan Eisted dan Bara—yang mana si Flager banyak sekali menggunakan kainnya. Soalnya serius, saya betul-betul tidak tahu apakah pertarungan itu murni tindakan Flager atau masih dalam pengaruh Dark Kiss.

    Oh iya, untuk adegan Eisted tertusuk jarum tajam itu ... jumlah jarumnya dideskripsikan dengan beberapa. Itu adalah nominal yang sulit terbayangkan. Menurut saya lebih enak dijelaskan dalam kisaran angka saja, misal “sekitar belasan jarum tajam meluncur turun”.

    Overall, saya menikmati cerita ini.

    Poin 8.5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya banyak yang mempermasalahan kendala teknis? Well, karena saya bacanya dengan dikopas ke Word dan disesuaikan di sana, jadinya itu nggak terlalu ngaruh.

      Delete
    2. Terima kasih atas komentarnya, terutama pada bagian pertarungan menggunakan Dark Kisses (DK) dan jarum...

      untuk jarum, yups, kesalahan saya gak mendeskripsikan dengan baik. ini jadi masukan buat R2 kalau saya bisa lolos dari R1 ini.. :)

      Sebenarnya, belum terlalu dijelaskan tentang DK ini di CS milik Stella. hanya tertulis:

      Dark Kisses = Ciuman kegelapan yang bisa membuat orang/lawan menjadi terlena dan menurut kata-kata Stella.

      jadi, di pikiran saya, Flager menuruti "kata2/perintah" Stella untuk menghadapi Eisted dan Bara.. (yg mana akhirnya ingatan Flager tentang perintah itu dihapus dan akhirnya dia bingung sendiri kok bisa dia berdiri bareng Stella? Kok bisa dia malah memilih melawan Eisted dan Bara? ini kayak clue buat pembaca tentang apa itu DK.. dan kayaknya saya kurang bagus ngasih clue.. XD )

      masalah Stella dan senjata yang bisa melukai itu, di CS tertulis:

      TIDAK dapat disakiti dengan benda tajam atau senjata YANG DIBUAT MANUSIA karena Stella adalah pemilik kekuatan Logia (Alam)...

      well, kain milik Flager bukan buatan manusia, begitu juga dengan senjatanya yang masih memiliki energi yg bukan buatan manusia..

      Hutan yg dibuat Ai Lin adalah hutan "buatan", terbuat dari sesuatu yg gak dijelaskan di CS (jadi saya ambil kesimpulan itu bukan buatan manusia, jadi bisa melukai Stella)..

      faktor tempat pertarungan pun agak kurang jelas. Pemilik Realm tempat OC kami bertarung gak mendeskripsikan dengan sangat jelas suasanya. bahkan saya agak terkejut karena ternyata Realm itu udah memiliki hutan yg penuh pepohonan dan binatang buas (ini bisa menjadi nilai tambah untuk melawan Stella padahal).. ^_^ tapi gak apa2, ini saya bisa maklumi...

      dan, saya beruntung membuat OC yg bisa kehilangan ingatan. kalau nggak, bakal runyam kalau itu DK gak hilang2 dari Flager.. :D

      Delete
  6. "Just give your kiss for someone you really love." - Umi - #plak

    Halo kak Xifos(?)~~

    Percayalah kak, Umi tak berniat jahat, serius. Jadi jangan berprasangka ya kak. Umi akan coba mereview teknisnya dulu. Kakak~ tulisan yang bagus akan membuat pembaca mengerti apa yang kau pikirkan. Sayangnya, tulisan itu harus dilengkapi dengan kemampuan si penulis memecah kalimat dan menggabung kalimat.

    Jujur saja, terlalu banyak kalimat panjang yang kakak cantumkan di dalam cerita ini. Membuat Umi mau tak mau harus mendesah pelan setiap kali Umi selesai membaca satu kalimat. Umi punya ide, bagaimana kalau kalimatnya dipecah saja? Mungkin akan lebih baik? Mungkin akan lebi berasa berperasaaan? Entahlah~ ini mungkin murni ketidaknyamanan Umi, :D

    Wahai kakak, Umi merasa bahagia sekali, serasa bertemu dengan flagger yang (maaf) sedikit vulgar disini. Umi juga harus mengakui, kepiawaianmu membuat Umi merasa bahwa Flager adalah sesosok pria yang sangat pintar. Terbukti dengan cermatnya ia memperhatikan pertarungan yang terjadi :D

    Aduhai kakak, Umi titipkan nilaai 7/10 agar bisa kau jadikan modal untuk kehidupan menulismu yang lebih baik.

    Salam,
    adikmu, Umi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. woahh.. terima kasih atas komentar dan sarannya.. :3 akan jadi masukan untuk penulisan cerita di R2 nanti supaya lebih baik..

      padahal adegan Flager cuma dicium dan melirik dada doang karena telmi dikit, tapi langsung kelihatan vulgar yah~ XD

      Delete
    2. wakakakak >.< Umi kayaknya udah terkontaminasi yang agak gaje-gaje gak, Jadinya otaknya kayak punya switch kalo lagi baca yang nyenggol-nyenggol kayak gitu >.<

      Delete
  7. Anonymous27/4/14 15:27

    utk battlenya cukup enak dan menggali skill para karakter dgn baik, narasinya jg cukup. paling pemikiran para OC aja kurang digali sehingga kesannya kepanjangan krn porsi tarung fisiknya kbnykn dibanding perang prinsip atau pemikirannya. dan masih bnyk kalimat yg nggak variatif sehingga bbrp adegan kurang bisa dicari beda suasananya dari adegan sblmnya.

    7/10 - Po

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -