April 3, 2014

[ROUND 1 - A] LAZUARDI - TITIK AWAL

[Round 1 - A] Lazuardi
"Titik Awal"
Written by Po

---

Pelita itu kian meredup. Inci demi inci, batang lilin yang menyokongnya, yang menjadi jiwanya, leleh sudah. Sebatang lilin bernama usia.


Jauh di kedalaman laut yang menua, sesosok humanoid baru saja usai melepas nyawa. Tubuh kurusnya yang translusen membiaskan biru seperti hendak padu dengan selisik gelombang. Pembuluh internal tubuh itu tak lagi mengantarkan nutrisi serta sediaan energi genomik menuju organ.


Ia terbaring mati di atas koral raflesia ungu yang mengembang pelan. Kepalanya bulat berkesan kenyal seperti seluruh tubuhnya. Wajah birunya imut melankolis, kendati ia jelas adalah jantan.

Sekawanan kerapu bertanduk datang berkerumun di sekeliling tubuh translusen yang tergeletak mati itu. Diikuti suami-istri belut moa yang bersuara deguk-degik serak.


"Jadi ini dia. Lazuardi, satu-satunya ras Matoi yang pernah ada. Anak tunggal perkawinan durjana Mii dengan Vokt."


"Mii? Mii Si Fitoplankton?"


"Kau tak salah dengar. Tumbuhan mikro penghasil oksigen itu malah saling jatuh cinta dengan seekor imunovirus."


"Dua makhluk uniseluler yang berbeda spesies menikah? Dan dari perkawinan itu, lahir organisme humanoid sebesar ini? Sayang, kamu pasti sedang tak enak badan."


"Jangan menyindirku, LeBrant. Urusi saja taringmu yang sudah tonggos."


Seketika itu pula terdengar bentakan keras.


"Diam!!"


Para ikan badut kaburlah ketakutan melihat siapa yang datang. Seekor ubur-ubur raksasa dengan ratusan tendril, kubahnya hampir sebesar paus.


"Beraninya kalian membicarakan yang buruk-buruk tentang makhluk yang baru saja berangkat ke dunia sana!" Ujar si ubur-ubur penuh amarah menggema, "Apa kalian tak memikirkan jasa-jasa mendiang Mii dan Vokt?"


Suami belut moa membuka mulut.


"Ada jenazah yang terbaring di depan kalian! Apa kalian tak memikirkan untuk menguburkannya? Atau hal itu terlalu jauh untuk otak kalian yang seperti sampah itu?!"


Sebuah tendril dipentang lurus oleh sang ubur-ubur, di ujungnya muncul sebuah pijaran listrik mengancam. Sang suami kecut dan menutup lagi moncongnya.


"Bagus. Tanggung jawab kalian selanjutnya adalah, cari Tilapia, Si Juru Makam, di kedalaman meditera. Kabarkan bahwa si Matoi, Si Anak Hibrida, telah meninggal."


"Ke, kenapa tidak kau saja yang..."


"Dan membiarkan jenazah ini dijaga oleh makhluk-makhluk picik seperti kalian? Dengan moncong kelaparan tak tahu malu itu, kalian mungkin akan menggerogoti jenazah anak ini untuk makan malam, bukan begitu?" ujar si ubur-ubur raksasa dengan nada menusuk.


"LeBrant, tak ada gunanya mendebat dia," Kata sang istri, "Kita pergi saja, toh kita bisa kabur tanpa perlu menuruti-"


"Cepat enyah dari sini!!" 


Sebuah kibasan sepuluh tendril bermuatan listrik dari si ubur-ubur raksasa tak ayal membuat suami-istri belut moa kabur terbirit-birit. Buih-buih berlarian di kedalaman lautan, sekawanan penyu bersirip rumbai melintas di sekitar koral raflesia tanpa berani mendekat karena melihat seekor ubur-ubur raksasa sedang mengamuk garang.


Namun seiring riak yang berangsur tenang, sang gumpalan besar pun memompa tubuhnya maju perlahan. Ia berdiam di sisi koral raflesia yang menjadi dipan bagi jasad sang humanoid translusen.


"Lazu...kenapa kau sembarangan begini, Nak...aku tahu yang mereka katakan....kau depresi karena kalah dalam kontes Mojang Jajaka Aspemina."


Wajah biru bulat itu kaku dan dingin, mulai kehilangan sifat kenyalnya. Pori permukaan kulitnya kehabisan energi hingga bocor mengeluarkan cairan tubuh biru bening, tercampur dengan air laut di sekitar.


"Kontes itu memang tersohor..pemenangnya akan mendapat popularitas luar biasa...tapi hanya memandang keelokan tubuh. Seputus asa itukah dirimu karena ingin menghilangkan cemoohan rasis seantero lautan, Nak..?"


Mengamati lebih dekat, si ubur-ubur raksasa melihat dua buah jejak di bawah mata Lazuardi yang terpejam diam. Jejak yang semakin samar karena tersapu gelombang laut dalam yang terus berlari. Tapi si ubur-ubur yakin, itulah jejak airmata penyesalan Si Matoi Kecil.


"Apa yang kau tangisi, Nak...?" pertanyaan itu terucap, tapi tanpa ada yang menjawab. Hanya ada gelembung udara dari sekawanan capung air, dengus panjang dugong batu besar di kejauhan, dan..dan sesosok makhluk kekar berkulit merah berdiri di atas koral ungu.


Di atas koral ungu? Tempat yang sama di mana Lazuardi terbaring kering? Sejak kapan makhluk itu ada tepat di depannya tanpa ia sadari?


Tingginya hanya dua meter, tak seberapa dibanding sang ubur-ubur. Tapi ada sensasi misterius dari kehadirannya. Sensasi yang...gaib?


"Umogrim, ubur-ubur besar. Salah satu dari empat belas ahli biologi paling brilian di lautan Aspemina. Tutor dari Matoi Kecil: Lazuardi." Kata si makhluk merah. "Dengan titah Dewa Thurqk, kau dan seluruh penghuni lautan akan melupakan semua hal tentang makhluk hibrida biru yang mati di depanmu, termasuk keberadaannya serta identitasnya."


Seiring cahaya merah terpancar dari sebilah trisula dalam genggaman makhluk merah, tubuh mati Lazu pun terhisap ke dalam sebuah lubang tak terlihat. 


Umogrim seperti tersadar dari tenung. Tendril-tendrilnya mengejang kaget. 


Apa yang ia lakukan di tempat ini? Kenapa ia bisa sampai ke wilayah Koloni Koral?


Ada secuil rasa aneh di benaknya. Seperti remah roti yang hilang karena jatuh entah ke mana.

---

Mungkin seharusnya....


Aku mati...


Atau lebih baik lagi...


Jika aku tak pernah lahir...


Ibu dan Ayah...dipertemukan oleh kasih sayang...


Bukan sebuah reaksi kimia yang melibatkan sistem limbik...karena mereka tak punya sirkuit kompleks itu....seperti juga aku...


Namun meyakini Tuhan yang sama...sudah cukup bagi mereka untuk menyatukan garis hidup...


"Apa kau menerima diriku?"


"Jangan mengharapkan hidup yang mudah. Karena mulai hari ini, kita bersama."


Karena perbedaan spesies yang terlalu jauh...seisi samudera melancarkan hinaan pada mereka...


Ibu dan Ayah punya keteguhan menepis semua cemoohan yang datang...


Tapi saat aku lahir...teguh itu diuji...


Terkikis..sejengkal demi sejengkal...seperti tebing tua yang merapuh dihantam ombak dari hari ke hari...


"Bibit Terlarang! Bayi Kutukan!"


"Sudah untung kota ini tak mengusir kalian. Tapi kalian membalasnya dengan melahirkan Anak Iblis ini?!"


"Anak...Anak Iblis?! Kalianlah yang iblis! Ini adalah anak kami satu-satunya! Anak yang telah kami tunggu-tunggu selama empat belas tahun! Apa kesalahan anak ini, hei ikan-ikan dungu!? Apa kesalahan bayi yang baru lahir ini!?"


"Kesalahannya adalah...bahwa dia lahir dari perkawinan dua makhluk berbeda ras yang tak direstui nasib..!"


"Dan kalian pikir siapakah kalian, hingga pantas menentukan siapa dan bagaimanakah itu, yang direstui nasib?! Kelahirannya saja sudah menjadi penegas! Bahwa keluarga ini direstui!! Bahwa anak ini berhak hidup!!"


Hingga tak terhindarkan lagi...mereka dihakimi oleh tangan-tangan gelap...berbalurkan kenistaan...


"Hukum mereka dalam kurungan seumur hidup tanpa cahaya, penjara isolat non-nutritif! Biarkan kondisi kelaparan dan sekarat memaksa suami istri yang penuh cinta ini....untuk saling memakan!!"


"Be...bedebah...."


"Kami takkan biarkan kau..."


"Dengan ini, Dewan Hukum Barakuda telah memutuskan!!"


Untuk apa berkeras jika seisi samudera mengasingkan..?


Bila aku tak diterima oleh bumi itu sendiri...


Lebih baik melepas semuanya,


Karena titik inilah saat untuk berpisah...


Tapi, di balik langit hitam bernama kematian...mungkin ada sejuk yang tenang...mungkin ada semua yang berkilauan...


Di ujung sana...

---

Seperti naik membumbung dari kedalaman laut menuju sebuah permukaan. Matanya tak melihat apa pun selain warna merah berlipat-lipat yang melewati dirinya, entah fluida macam apa. 


Lazu bisa merasakan desir-desir di kulit kenyalnya, menandakan tubuhnya sedang bergerak terbawa sebuah arus besar, atau gaya magnetis sebuah planet, atau entahlah.


Lingkupan merah di sekeliling tubuhnya terus melaju, berujung pada struktur seperti mulut gua yang terbuka. Semakin dekat tubuhnya dengan mulut gua itu, Si Matoi Kecil kini mendengar suara-suara riuh yang makin dekat dan makin kencang. Campuran suara berpuluh makhluk yang sedang berbicara, suara piring dan sendok beradu, debuman berat dari peralatan berat dioperasikan, dan suara tawa penuh kelaliman yang memenuhi bumi, bagai mencengkeram jantung Si Jeli Biru.


Ditimpa ketakutan, Lazu memejamkan mata erat-erat.


Semua suara hilang seperti dirampas. Digantikan oleh sensasi gerah di permukaan kulit dan bunyi keritik-keratak kobaran api.


Lazu membuka mata pelan-pelan. Dia memandang lugu ke sekeliling.


Yang diucapkannya pertama kali adalah...


"Aku tidak jadi mati...hore?"

---

Lazu melihat lokasi ia berada - terkirim? - saat ini. Ia tengah menijak sebuah pelataran raksasa. Lantai batu berpori mengendapkan panas di telapak kaki birunya yang telanjang. Langit gelap namun gerah dipenuhi ratusan makhluk melayang berkulit merah, membuat suasana semakin kelam.


Di dataran merah itu ada puluhan makhluk dari berbagai spesies asing, berdiri di berbagai zona tempat itu. 


"Ma-makhluk apa kamu?" sebuah suara terdengar di sampingnya. Suara itu berasal dari seorang anak berbaju lusuh kira-kira sama tinggi dengannya. Di punggungnya terikat sebuah gitar lapuk. Wajahnya grogi melihat tubuh Lazu yang biru muda.


"Aku?" Lazu menunjuk hidungnya sendiri, "Aku berspesies Matoi. Namaku.. .Lazuardi?"


Kedua mata Si Biru begitu bulat dan menatap polos. Anak kecil penyandang gitar tak lagi gugup saat melihat mata bulat itu. Bahkan ada rasa ingin tertawa.


Alhasil, sang anak tersenyum pada makhluk yang juga kecil. "Saya Ucup. Ini tempat apa ya?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi," Lazu melirik,


"Dari kata-katamu yang menunjukkan kau juga tak tahu mengapa kau bisa sampai ke tempat ini, dari lipatan-lipatan di pakaianmu yang sudah lama dan tidak adanya memar, lecet atau pola bekas tekanan di kulitmu atau bajumu bahkan dalam pengukuran duadesimaldibelakangkoma bersatuan milimeter, berarti kau sama sepertiku yaitu tak mungkin mengalami metode transportasi dengan satwa atau pun kendaraan yang menempuh jarak ke tempat ini, karena tempat ini dari pertanyaanmu berarti bukan daerah tempat tinggalku atau tempat tinggalmu dan perjalanan jauh akan menimbulkan tanda baik itu perubahan suhu permukaan luar tubuh, pola tekanan pada kulit atau pembungkus tubuh di fragmen anatomi yang bersandar pada permukaan alas duduk, endapan atau jejak debu atau tanah pada tapak atau alas kaki, dan empat puluh kategori tanda lain. Premis menunjukkan bahwa untuk tempat seasing ini yang berjarak sangat jauh dari tempat tinggal masing-masing terlebih dari makhluk merah melayang asing yang tak pernah kulihat di media informasi ilmiah mana pun di planetku, maka kita telah menempuh metode perpindahan fisik yang sama sekali tak menimbulkan bekas anatomis yang berarti metode transportasinya sangat mutakhir dengan kecepatan melebihi suara bahkan mungkin cahaya dan bukan tidak mungkin punya elemen transportasi dimensional namun dengan tingkat kenyamanan maksimal sehingga kita bahkan tak sempat merasakan proses perjalanan dan untuk menyingkirkan kemungkinan pemberian agen pembius atau supresi sistem saraf, tak ada tanda intoksikasi atau sisa pengaruh farmakodinamik pada satu pun di antara kita seperti kelemahan otot-rasa mengantuk-kelemahan pandangan terhadap cahaya-sakit kepala atau sensasi perubahan arah atau pada kasusku sensasi perubahan distribusi berat badan dan volume cairan ke arah satu anggota gerak atas dan satu anggota gerak bawah terlepas dari gravitasi atau posisi tubuh yang mana tak ada satu pun tanda tersebut pada aku atau kau. Jadi kesimpulannya...teleport?"


Ucup terbengong-bengong.


Lazu bertanya lagi, "Menurutmu, apa kita memang mengalami teleportasi?"


"Tele...tele apa?"


"Mnmm."


Lazu spontan menoleh ke arah lain tanpa menjelaskan, hanya terdengar gumaman singkat dari mulut Si Matoi Kecil saat mata bulatnya menatap jenaka ke berbagai jenis makhluk di sekeliling dataran merah. Dia berjalan pelan meninggalkan Ucup yang masih kebingungan.


Melintasi permukaan tanah merah yang gembur di beberapa tempat, pepohonan berbatang tipis namun berdaun lebat seperti kerumunan brokoli merah besar tertanam di seantero dataran. Suara berbagai percakapan terdengar jelas dari kiri-kanannya. Hampir setiap makhluk di tempat ini bertanya dan berdiskusi satu sama lain, tentang "apa yang terjadi", "mengapa mendadak ada di tempat ini", "di manakah ini" , dan seterusnya.


Melirik langit yang berwarna cabai matang, Lazu mengamati para makhluk merah melayang yang jumlahnya nyaris memenuhi latar angkasa. Masing-masing memegang senjata. Tubuh-tubuh mereka dipenuhi otot keras nyaris persegi. Sorot mata mereka sekeruh bangkai. Wajah, perawakan tubuh, bahkan taksiran usia mereka nyaris identik satu sama lainnya. 


"Pasukan. Monoklonal." bisik Lazu memastikan kesimpulan pada dirinya sendiri. Makhluk kecil itu mulai panik seiring napasnya yang menjadi tak teratur. Jelas sekali pasukan ganas itu melayang membentuk formasi melingkar di perimeter dataran merah. Masing-masing mereka menghadap sisi dalam dari barikade yang mereka susun. Yang berarti, mereka sedang menjaga dan memantau sisi dalam perimeter. Yaitu dataran merah yang dihuni oleh berbagai spesies ini. Mereka berjaga-jaga agar tak ada yang keluar.


Yang berarti, Lazu dan semua makhluk selain pasukan merah melayang itu, sedang ada dalam... 


"...Sebuah penjara." 


Semakin gugup saat kenyataan tersebut dipahaminya, tubuh kecil biru itu gemetar. Ada deru deras aliran sungai di kejauhan, seperti hendak menelannya bulat-bulat.

----

Jajaran pohon Rachta tegak menantang udara, bentuk masing-masingnya mirip brokoli merah seukuran sebuah pondok. Pohon-pohon besar itu saling merunduk dan bergerak samar menutupi jarak pandangan Lazu yang bertubuh mungil. Terlalu lama mendongak untuk melihat objek yang tinggi besar, membuat lehernya pegal. Maka berkelilinglah Si Biru Langit dengan mata larak-lirik celingukan, agar tak perlu menengok ke sana-sini.


Ia lewati dataran mengundak landai yang tak memiliki apa pun selain sesemakan cikal bakal pohon Rachta. Namun ternyata ada pula makhluk asing di sini. Seekor...bukan...sebuah? Sebuah boneka beruang tengah berteriak-teriak pada seorang wanita tentang "Burraaa", "Luxy Demony", "Bukan boneka", dan beberapa hal lagi yang Lazu tak sempat pikirkan, 


"...Boneka beruangnya bicara?"


Ah, itu karena ia terlalu kagum melihat sebuah boneka yang hidup. Lihat, matanya sampai berkilau seperti bintang aneka warna.


Tapi Lazu menyadari, tadi pun mata dan komponen akustiknya sempat menangkap sebagian detil makhluk berbagai spesies di dunia merah ini. Makhluk lendir biru gelap yang punya beberapa kesamaan dengannya. Manusia perempuan yang hanya dengan berdiri saja sudah membuat pohon Rachta di belakangnya menjadi layu dan mati membusuk. Makhluk dengan kain penutup mata yang berjalan bagaikan melihat.


Itu saja sudah cukup menjelaskan bahwa tiap makhluk di tempat ini memiliki keunggulan tertentu. Lazu melirik gugup. Pandangnya terbentur pada seorang manusia perempuan bertopi, jauh lebih tinggi darinya. Satu detik. Dua detik. 


Manusia perempuan itu mendelik balik pada Lazu. Ada sesuatu yang seram dan sinis di sorot matanya. Lazu menunduk jerih, nyalinya jadi ciut. Meski tetap memaksakan diri berjalan berkeliling, keringat dingin tak urung muncul di dahi.


Si Matoi Kecil semakin grogi. Bahkan sekedar melirik pun dia jadi ragu. Manusia memang terkenal pemarah, dan kejadian barusan saja sudah mengkonfirmasi: tatapan balik tadi terlihat sangat galak.


Sebatang Pohon Rachta berdiri tegak dengan daunnya yang lebat kriwil. Lazu dekati pohon itu, menyentuhkan tangannya ke pola serabut di batang itu. Berpikir sejenak. Menarik napas. Matoi Kecil lalu pejamkan mata, berusaha abaikan kesuraman yang ada. Berkonsentrasi. 


Sebuah sayatan mendadak muncul pada pergelangan tangan biru Lazu. Semakin dalam, seolah pergelangan itu sedang dipotong oleh bilah pisau tak terlihat. Cairan biru bening merembes keluar dari pergelangan itu, makin lama makin deras. Wajah Si Matoi kecil menunjukkan perih yang luar biasa.


"Aaaaa!!"

---

Sebuah bunyi genta menggaungi dataran Jagatha Vadhi. Para Hvyt seakan menerima perintah dan serentak menukik turun. 


Semua yang di darat sontak terkaget.


"Hah!? Apa yang..."


"Mau apa mereka?!"


"Membunuh kita!"


"Tidak!! Kalau memang begitu, kenapa tidak sejak awal..."


"Aku tak sudi mati tanpa melawan!"


Dari tanah merah tempat Lazu dan makhluk-makhluk lain berdiri, kejadian itu begitu mendadak dan menyeramkan: serbuan sepasukan raksasa merah menghampiri mereka dari langit, bunyi kepakan sayap mereka bersatu menimbulkan buncah besar seperti badai. 


Salah satu makhluk bengis itu mengacungkan sebuah hiasan berbentuk tulang bergerigi. 


"Titah Dewa Thurqk telah turun! Tunduklah!!"


Hiasan tulang itu mengeluarkan kabut hitam, 


dan mendadak turut berkabut hitamlah mata, telinga, hidung, mulut, setiap lubang yang ada di permukaan tubuh setiap makhluk di dataran itu. 


Termasuk Lazu yang malang, yang tiba-tiba tak melihat apa pun selain kegelapan total, dan indera akustiknya tuli, dan seluruh tubuhnya mati rasa. Ternyata semua makhluk mengalami kematian indera yang sama.


Para Hvyt meringkus tanpa penjelasan, tanpa kesulitan. Kemudian pasukan merah itu kembali lepas landas, membawa lima puluh lima makhluk di punggung besar mereka. Terbang makin jauh lintasi barisan awan, sampai sebuah gerbang kuno raksasa melayang menyambut mereka.

---

"Selamat datang di Devasche Vadhi."


Suara tersebut begitu dahsyat, bahkan dengan suara itulah setiap indera Lazu pulih seperti awal dan pemandangan baru terbentang di hadapan.


Sebuah kastil megah dipenuhi ornamen kuno dari susunan skeleton berbagai makhluk penjuru alam. Obor-obor menyala di sana-sini, panas yang konstan membuat kulit Lazu serasa melembek. Lazu tengah berdempetan dengan lima puluh empat makhluk lainnya dalam barisan yang sudah dipaksa rapi, hampir semuanya lebih tinggi dari Si Biru itu. Tapi semuanya mendongakkan kepala.


Di atas balkon tengah istana yang ada jauh di atas kepala Lazu dan semua makhluk lain, sesosok figur berdiri tegak dengan wibawa tak terkatakan.


Thurqk. Ia menyatakan diri sebagai dewa. Ia menyatakan bahwa Lazu dan semua yang dibawa ke sini... sudah mati.


"Kalian adalah jiwa yang dipadatkan. Kalian akan merasa seolah masih hidup, dan memang tidak ada bedanya bagi kalian. Kalian tetap membutuhkan makan, minum dan bernapas. Tentu kalian juga bisa terluka. Ah, beberapa dari kalian sudah membuktikannya sendiri."


Lazu membuka mulut hendak bertanya. Ia sangat gugup namun ada beberapa hal yang ingin ia pastikan. Namun Thurqk segera mengayunkan tangannya, dan seluruh komponen kontraktil vokalisasi Lazu mendadak meredup kehilangan fungsinya. Si Matoi Kecil tak mampu berbicara. Lima hitungan. Setelahnya, Lazu merasakan bagian sekitar mulutnya kembali bisa digerakkan.


Jelaslah bahwa figur di balkon itu memiliki kekuasaan di luar nalar yang bahkan mampu mengatur hal detil seperti kemampuan berbicara. Lazu semakin lemas. Inikah...figur Tuhan, yang sering dikatakan oleh Ayah Ibunya? Namun mengapa ada Tuhan yang sorot matanya memancarkan kehampaan dan kebosanan? Mengapa ada Tuhan yang dari tubuhnya menguar api kebencian?


“Aku yakin kalian akan menghiburku. Sebagai gantinya, tak peduli seberapa banyak dosa yang telah kalian lakukan di dunia, hukuman atas itu ditunda hingga rencanaku selesai.”


Sebuah layar hologram raksasa menyala terang di langit, menampilkan deretan nama. Ada namanya di sana. Lazuardi.


“Lima puluh lima. Hanya akan tersisa satu pada akhirnya, yang akan mendapatkan penghapusan dosa dan kelahiran kembali ke dunia tempat asal kalian. Tak ada yang lebih berharga daripada kesempatan kedua untuk memperbaiki takdir kalian.”


Thurqk mengeluarkan kobaran api ganas dari tangan kirinya. “Kalian tak akan bisa mundur. Mundur artinya lenyap. Aku sendiri yang akan membakar kalian. Tentu saja perlahan-lahan dan sangat menyiksa.”


“Kini kalian sudah mengerti. Untuk dapat bertahan hingga akhir, tak ada cara lain selain mengalahkan siapa pun yang menghalangi kalian. Dari lima puluh lima yang ada di sini, akan kuperkecil jumlahnya menjadi empat puluh empat. Ya, sebelas di antara kalian akan merasakan siksaan yang pedih dariku.”


Layar hologram menampilkan nama-nama lagi, namun kali ini dengan susunan yang berbeda di dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Si Matoi Kecil lagi-lagi melihat namanya dalam salah satu kotak, bersama empat nama lainnya. Lazuardi. Volatile. Colette Reves. Stallza. Lucia Chelios. Hanya nama Lucia yang tertera dengan huruf-huruf tebal di antara kelima nama.


“Setiap kelompok akan kukirimkan ke tempat yang berbeda-beda. Tempat yang tidak akan asing bagi salah satu dari mereka, namun akan terasa sangat asing bagi yang lainnya. Namun, jangan anggap hal itu sebagai keuntungan. Lengah berarti kalah. Kalah berarti lenyap. Siksaanku akan sangat pedih.”


Thurqk menjentikkan jarinya ke arah salah satu Hvyt. Hvyt segera terbang dan berdiri di belakang Thurqk dengan gagahnya.


“Satu hal, jangan membuatku merasa bosan,” kata Thurqk lagi dengan nada yang amat mengancam. “Aku tidak menciptakan makhluk hanya untuk menjadikan mereka seorang pengecut.”


Thurqk beranjak pergi dari balkon. Sedetik kemudian, para Hvyt mulai bergerak dari posisinya, membawa paksa “mereka yang terpilih” ke suatu tempat yang belum mereka ketahui. Suara-suara kepanikan mulai terdengar. Suara-suara ketakutan dari mereka yang meragu. Tapi saat Hvyt kembali mengangkat tubuh Lazu yang kecil, ia hanya diam saja sambil menunduk, suara-suara lainnya tak sampai ke inderanya.


Di sinilah Lazuardi, terkumpul bersama puluhan makhluk yang telah melewati kematian. Dengan sosok Dewa yang dilanda kebosanan dan membutuhkan hiburan sehingga mengadakan sebuah koloseum bagi para gladiator pilihannya. Koloseum yang di mana setiap mereka akan dipertarungkan.


Begitu banyak kemungkinan dan premis berseliweran di benaknya. Ada pula kemungkinan bahwa Thurqk hanya maniak atau Tetua Setan yang mengaku-ngaku sebagai dewa, namun semua logika itu tenggelam oleh pergolakan emosi yang mulai menggemuruh. 


Perasaan bingung, terkejut, takut yang membuat tubuh gemetar, bahkan rasa marah kepada sang Dewa karena tak mempedulikan perasaan makhluknya dan hanya memikirkan penghiburan untuk diri sendiri..semua bercampur menjadi jejak-jejak pahit di hati yang sulit Lazu ungkapkan.


“Kenapa...aku...?”


Jejak-jejak di hati itu terasa pedih.

---

Asap wangi mengepul. Semangkuk mie baru saja diangkat dari panci rebusan sebelum ditaburi dengan suwiran daging kambing, daun bawang, dan saus wijen berminyak. Tapi sesaat sebelum perempuan tambun itu membawakan mangkuk berisi hidangan ke pelanggan, 


“Uwaaa!!”


“Apa-apaan!?”


Rentetan tembakan menghancurkan warung mie kambing itu menjadi potongan-potongan kursi dan meja kayu berpentalan ke berbagai arah. Seorang wanita berkacamata dengan jas panjang putih kepayahan berlari sambil menghindar. Anehnya, baik penjual mie atau pun pelanggannya sama-sama tak melihat si gadis berkacamata yang lewat di depan mereka. 


“Konsep Temperatur!” sang wanita mengeluarkan sebilah pedang berat dari daerah punggungnya dan mengacungkannya ke belakang sambil terus berlari. “Layeri Frosti!”


Mendadak udara semakin dingin. Dengan acungan pedang itu, dinding-dinding es berdiri membentuk benteng berlapis. 


Peluru-peluru timah yang tak terlihat sumbernya melesat menembus empat lapis dinding pertama, namun setelah itu kehilangan arah dan justru berjatuhan ke tanah dengan lapisan es dingin melekat di butir-butirnya. Si gadis melewati sebuah toko dan menendang panci-panci eceran untuk memudahkan pelariannya.


Di genteng sebuah rumah susun yang retak-retak, seorang bertudung putih berdiri. Di sebelahnya ada pria dengan dua tangan terbuat dari sejenis logam, dan di udara sekitar pria itulah puluhan peluru melayang statis siap ditembakkan.


“Stanner, tahan tembakanmu. Dia bisa membuat dinding es yang membekukan peluru timahmu. Aku akan menyusulnya langsung, kau intai dari samping, bersiagalah!”


Pria bertangan logam mengkilat itu mengangguk dan mulai turun dari gedung dengan arah yang berbeda dari si tudung putih yang merupakan pemanggilnya. 


Peluru-peluru pun bergerak mengikuti mereka berdua tanpa melukai, karena justru Stanner, Spiritia Stannum, Elemen Timah, dialah yang mengendalikan laju peluru-peluru yang termaterialisasi tersebut.


Dan si tudung putih, Stallza, Master Spiritia, berlari terlebih menyusuri gang kumuh, melewati tali-tali jemuran baju untuk mengejar lawan. Wajah tegasnya yang berkulit kecoklatan itu mulai dirundung kekhawatiran.


“Semuanya mirip dengan prediksi makhluk itu...berarti aliansi tiga petarung sudah terbentuk...ini merepotkan...”

---

“...Permisi?”


Stallza kebingungan. Siapa yang mengajaknya bicara?


“Aku memang...pendek?”


Stallza menunduk. Sesosok makhluk aneh bertubuh biru sedang menatapnya. Kepalanya bulat tanpa rambut dan matanya besar berkilau. Makhluk itu berkata gugup,


“Aku...tak ingin bertarung.”


Stallza mengernyit, “Kau juga salah satu makhluk terpilih yang dipaksa bertarung?”


“I...iya...tapi tadi...”


“Kenapa? Bicaralah yang jelas. Tidak apa-apa. Aku tidak akan menyerangmu.” Stallza menjadi iba melihatnya. Makhluk apa pun ini, pasti ia menderita sekali dijerumuskan dalam pertarungan total begini. Untuk Stallza yang memiliki puluhan Spiritia yang bisa dikomandonya untuk berbagai fungsi, keadaan perang sekalipun siap dilaluinya. Tapi untuk apa Thurqk memilih Si Kecil Biru ini?


“Saat aku sembunyi aku melihatmu di atap gedung sendirian lalu entah dari mana muncul manusia bertangan logam menemanimu yang mengeluarkan peluru-peluru melayang dan lalu manusia bertangan logam menghilang lagi seperti masuk ke dalam tubuhmu...senjata?”


Stallza mengernyit untuk kedua kali. Sebuah kalimat yang panjang, dan menandakan makhluk biru ini mungkin mampu memanfaatkan tubuh kecilnya untuk sembunyi. Dan penglihatannya sepertinya lebih baik dari manusia. Tapi tetap saja, apa gunanya mengamati dan mengamati di tengah situasi harus saling bunuh seperti ini?


“Iya. Stanner. Spiritia Elemen Timah, satu dari Spiritia yang dapat kupanggil untuk berbagai kerja. Dan ya, Spiritia bisa dibilang sebagai senjataku. Kau takut?”


“...Ya...aku tidak suka senjata, pertarungan...” lanjut makhluk kecil itu, “Tapi..yang melihatmu bukan hanya aku...ada manusia lain. Perempuan...berkacamata. Dari gang kecil samping toko bertulis ‘Terima Cuci Baju Kiloan’.”


“Perempuan berkacamata? Aku harus melawan wanita?”


“Manusia perempuan berkacamata memegang senjata. Empat pedang di punggungnya. Ia mencabut pedangnya satu-satu, memeriksa fungsionalitas pedangnya. Satu pedang mendinginkan daerah sekeliling tubuhnya dan satu pedang mampu memanjang dan membesar karena menyerap elemen sekitarnya dan satu pedang dapat berubah bentuk menjadi dua belas variasi benda dalam durasi kurang dari tiga menit dan lima variasinya adalah senjata proyektil namun dia memeriksa pedangnya satu-persatu tidak ada yang diperiksa bersamaan hingga aku berasumsi bahwa dia tak bisa menggunakan lebih dari satu senjata dalam waktu yang sama karena harus bergantian karena mungkin ada batasan energi yang ia gunakan. Tidak pasti namun kemungkinannya lebih dari tujuhpuluhpersen.”


Mendengarnya, Stallza mengepalkan tangan. Dia menyadari bahwa kemampuan pengamatan makhluk akan lingkungan ini melebihi dirinya. Tapi makhluk biru ini jelas tak bisa apalagi berniat bertarung. Tapi gadis berkacamata itu, Ternyata gadis itu sedang memastikan kompatibilitas senjata dan berniat menghancurkan Spiritianya? 


“Dia melihatmu tidak sendirian. Ia ditemani manusia perempuan bertopi yang menggenggam tongkat logam pendek dan jari-jarinya kapalan dan genggamannya kuat namun fleksibel menandakan ia terbiasa memukul dan bertarung menggunakan benda tersebut.”


“Lucia?!” wajah Stallza berubah, “Dia...aku sempat menemuinya di Ruang Antar Dunia, Jagatha Vadhi. Dia garang tapi sepertinya tak jahat. Tapi...dia melihatku sebagai ancamankah?”


“Kemampuanmu memanggil senjata hidup...sangat fungsional secara militeristik. Semua petarung di tempat ini akan melihatmu sebagai ancaman bahkan sejak mereka baru saja melihat bahwa kau memiliki sekian makhluk yang bersedia menemanimu ke mana pun dan dapat kau instruksikan untuk berbagai kegiatan.”


Lazu sedikit memberi jeda pada rentetan kalimatnya. Ia melihat bahwa manusia ini agak kesulitan bila harus mencerna berbagai macam informasi dalam satu kalimat. Dan Lazu ingin Stallza mengerti apa uang hendak ia sampaikan.


"Dugaanku dari dua belas kemungkinan yang ada, gadis itu yang memiliki kemampuan proyektil pula akan menginisiasi kontak pertarungan denganmu. Bukan untuk mengalahkanmu, tapi untuk menyibukkanmu. Salah satu cara pemastian kemenangan adalah menyingkirkan lawan yang diasumsikan terkuat terlebih dulu. Atau membuat lawan terkuat itu tak memiliki kawan. Kau memiliki pengawal pribadi berupa Spiritia maka naluri alami untuk mengatasinya adalah kuantitas yang dapat diperoleh dari aliansi. Aliansi dari dua tidaklah cukup karena pertarungan ini antar lima orang, maka langkah selanjutnya bagi aliansi tersebut adalah memastikan dirimu tak mendapatkan aliansi tandingan."


"Aku sudah punya dirimu sebagai aliansi." Stallza mulai panas mendengar paparan Lazu yang objektif namun semakin menyudutkan posisinya.


"Aku...tak berguna selain mengamati dan memberimu informasi...bila bertarung...tubuhku pun kecil..dan..."


"Sudah, sudah. Kira-kira menurutmu bagaimana cara mereka memastikan aku tak mendapat aliansi lagi?"


"Menyibukkan dirimu. Manusia perempuan berkacamata akan melakukan kontak tarung seperti yang kukatakan sebelumnya, karena rentang kemampuan pedangnya luas dan bisa menjaga jarak darimu. Manusia perempuan dengan tongkat logam mungkin akan mencari aliansi tambahan selagi kau disibukkan."


"Dan setelah mendapatkan aliansi tambahan?"


Si Matoi Kecil berkedip-kedip gugup sebelum menjawab.


"Kemungkinan besar...kau akan dibunuh...barulah mereka menentukan kemenangan berikutnya di antara mereka..."


Sang Spiritia Master mengetatkan gigi.


"Maukah kau...membantuku, Makhluk Biru Kecil?"


"Diburu hanya karena memiliki kekuatan... aku tidak suka cara seperti itu..." 


"Namaku Stallza. Aku belum tahu namamu."


"Namaku...Lazuardi?"


Stallza mengangguk. Semua informasi dari Lazu sudah membuktikan bahwa ia memang ingin membantu. Sang Spiritia Master tak mau bertarung demi menghibur figur dewa maniak, tapi bila ada sejumlah orang yang ingin mengeroyoknya, membunuhnya dan menyangka kelicikan mereka akan berjalan lancar, mereka salah besar!

---

Ini adalah planet Earnut. Planet asal petarung bernama Lucia, yang kebanyakan terdiri dari distrik-distrik kumuh berpenduduk padat. 


Stallza mengeluarkan salah satu Spiritia yang terbang mengintai petarung lain. 


Lazu mengatakan bahwa kemungkinan besar, semua petarung pilihan Thurqk dikirim sedemikian rupa ke lokasi pertarungan ini hingga tubuh mereka tak terlihat. Ini terbukti dari kejadian selanjutnya yang mereka temui. Keberadaan Lazu yang biru terang pun diabaikan oleh kerumunan warga bahkan ketika mereka berdua melintas di jalan besar yang berisi pasar harian. Memegang lengan siapa saja, penduduk yang dipegang pun hanya menolehkan kepala namun kebingungan seolah tak melihat siapa-siapa. 


Baik Stallza atau pun Lazu memang tak terlihat oleh siapa pun yang merupakan penghuni kota ini. Tapi Lazu menyimpulkan karena mereka berdua bisa saling melihat, dan karena ia mampu melihat gadis berkacamata dan gadis tongkat logam dari balik bak sampah di gang kecil tadi, berarti para peserta pertarungan memang bisa saling melihat.


Dari langit yang penuh asap dari pembakaran sampah beberapa rumah warga, sesosok Spiritia melayang turun memberi laporan pada Stallza, "Master! Gadis dengan jas putih dan menggenggam pedang, terlihat dua blok dari sini. Mari kuantar!"


Stallza menoleh pada Lazu. "Kau sembunyi saja, Lazu. Sepertinya aku memang harus membunuh gadis itu sebelum prediksimu jadi kenyataan."


"Dua orang bergabung hendak melawanmu...." Lazu bergumam kemudian mengusulkan, "...apa aku boleh mencari yang seorang lagi? Mungkin dia masih bisa diajak bicara..."


"Ya. Mudah-mudahan..." Stallza mengingat kelima nama yang tertera di pengelompokan yang melibatkan namanya dan nama Lazuardi. "Colette namanya. Mudah-mudahan Colette bisa berdiskusi baik-baik. Tapi hati-hatilah, Lazu! Bila tak mendesak, tetaplah sembunyi agar aman. Karena Spiritia-ku tak menemukan Lucia. Dia mungkin sedang mengincarmu jika dia sudah melihat kita jalan berdampingan begini!"


"Ya...aku akan hati-hati...tapi...bukankah kita harus menentukan lokasi untuk titik pertemuan kita selanjutnya?" Lazu menunjuk pasar yang tadi mereka lewati, "Bertemu di depan pangkalan kendaraan mekanik roda tiga itu bagaimana?"


"Baik. Bila gadis itu cukup kuat, akan kupancing dia ke sana. Pangkalan becak. Bila dia sudah terlanjur kubunuh, yah mayatnya pun akan kubaw-"


"Bila kau sanggup...tolong bekuk manusia perempuan itu..namun jangan dibunuh..."


"Mungkin akan tetap kubunuh."


".. dan bawa dia ke sana...umumkan hal itu terang-terangan agar menarik perhatian petarung lain..."


"Untuk apa diumumkan?"


Agar gadis kacamata tahu bahwa ada sandera dari aliansinya...sandera yang hidup, agar dia tak menyerang sembarangan...kita bisa berunding..."


Stallza menimbang-nimbang. Tapi perkataan Lazu berikutnya entah kenapa terdengar miris. 


Makhluk biru itu seperti meredup saat menatap Stallza seraya berujar,


"Kita bukan binatang buas, Stallza...jangan kehilangan arah. Memelihara kehidupan, itu adalah kekuatan..." 


Menghela napas, Stallza pada akhirnya mengangguk. Lazu begitu baik. Sama sekali tak cocok dengan sebuah arena tarung.


"Ya ya ya. Baiklah. Sudah kau pergilah cari aliansi kita. Jangan sampai terluka.masuk ke sebuah gang gelap yang bercabang dan sosok birunya hilang dari pandangan. Stallza mengangguk kepada Spiritia, dan makhluk itu pun kembali melesat di udara sebagai penunjuk arah bagi sang master.

---

Asap wangi mengepul. Semangkuk mie baru saja diangkat dari panci rebusan sebelum ditaburi dengan suwiran daging kambing, daun bawang, dan saus wijen berminyak. Tapi sesaat sebelum perempuan tambun itu membawakan mangkuk berisi hidangan ke pelanggan, 


“Uwaaa!!”


“Apa-apaan!?”


Rentetan tembakan menghancurkan warung mie kambing itu menjadi potongan-potongan kursi dan meja kayu berpentalan ke berbagai arah. Seorang wanita berkacamata dengan jas panjang putih kepayahan berlari sambil menghindar. Anehnya, baik penjual mie atau pun pelanggannya sama-sama tak melihat si gadis berkacamata yang lewat di depan mereka.


“Konsep Temperatur!” sang wanita mengeluarkan sebilah pedang berat dari daerah punggungnya dan mengacungkannya ke belakang sambil terus berlari. “Layeri Frosti!”


Mendadak udara semakin dingin. Dengan acungan pedang itu, dinding-dinding es berdiri membentuk benteng berlapis. Peluru-peluru timah yang tak terlihat sumbernya melesat menembus empat lapis dinding pertama, namun setelah itu kehilangan arah dan justru berjatuhan ke tanah dengan lapisan es dingin melekat di butir-butirnya. 


Si gadis melewati sebuah toko dan menendang panci-panci eceran untuk memudahkan pelariannya.Di genteng sebuah rumah susun yang retak-retak, seorang bertudung putih berdiri. Di sebelahnya ada pria dengan dua tangan terbuat dari sejenis logam, dan di udara sekitar pria itulah puluhan peluru melayang statis siap ditembakkan.


“Stanner, tahan tembakanmu. Dia bisa membuat dinding es yang membekukan peluru timahmu. Aku akan menyusulnya langsung, kau intai dari samping, bersiagalah!”


Pria bertangan logam mengkilat itu mengangguk dan mulai turun dari gedung dengan arah yang berbeda dari si tudung putih yang merupakan pemanggilnya. Peluru-peluru pun bergerak mengikuti mereka berdua tanpa melukai, karena justru Stanner, Spiritia Stannum, Elemen Timah, dialah yang mengendalikan laju peluru-peluru yang termaterialisasi tersebut.


Dan si tudung putih, Stallza, Master Spiritia, berlari terlebih menyusuri gang kumuh, melewati tali-tali jemuran baju untuk mengejar lawan. Wajah tegasnya yang berkulit kecoklatan itu mulai dirundung kekhawatiran.


“Semuanya mirip dengan prediksi makhluk itu...berarti aliansi tiga petarung sudah terbentuk...ini merepotkan...Stanner!!" Stallza berseru. Abdi setianya itu langsung mengarahkan telunjuknya lurus-lurus dari balik intaian. Puluhan peluru timah tercipta dari udara kosong dan melaju menyayat udara dengan kecepatan tinggi. 


Di jalan masuk sebuah gang sempit, Volatile sang gadis berkacamata menghindar susah payah. Kali ini pedangnya memancarkan gelombang api yang menghanguskan beberapa peluru liar. Tapi saat itu Stallza telah mencapai jarak yang cukup untuk menyergapnya.


"Kau salah pilih lawan!"


Ding! Perut Stallza tertohok oleh sebuah baton logam. Sang Spiritia Master memuntahkan isi perutnya. Belum cukup, satu lagi terjangan lutut menghantam paru-parunya, dan terakhir adalah pukulan menotok di tengkuk yang sukses menjatuhkan Stallza ke tanah.


Lucia ternyata bersembunyi sejak tadi dan muncul dari balik gerobak nasi uduk untuk balik menyergap Stallza.


Volatile mengipas-ngipas tangan di depan wajah dan lehernya akibat kegerahan. Kacamatanya tak nyaman. Lucia melirik, "Jangan kendor dulu. Si pengawal yang tukang peluru itu masih ada di gang seberang."


"Sial...sial...!!"


Lucia melirik sumber suara dari sosok yang tergeletak. Ternyata Stallza belum pingsan. Tapi mengangkat kepala pun susah payah. Pandangannya bergoyang.


Gadis baton pun merunduk.


"Dengar, Kopi Susu. Aku sih nggak ada dendam ke kamu. Tapi apa boleh buat, ini supaya adil aja. Kau satu tim dengan pengawal Spiritmu, aku satu tim dengan Volatile."


Stanner berlari marah menyusuri gang sambil mematerialisir sepuluh peluru siap tembak. Namun ia terhenti ketika Lucia mulai mencekik masternya dengan baton logam sambil berseru, "Kau jangan macam-macam!"

---

Lucia dan Volatile memanggul tubuh Stallza bersamaan melalui pertigaan restoran Tom Yam. Samar-samar Stallza mampu melirik ke sisi jalan. Ia pernah lihat toko Tom Yam itu. Itu kan adalah tepat di sebelah...di sebelah...


Lucia dan Volatile menggeletakkan Sang Master Spiritia setengah duduk, bersandar pada roda sebuah becak yang kosong. Ya, becak yang kosong itu tengah diparkir di sisi depan pangkalan becak.


Diam-diam Stallza berpikir, dari semua tempat di lokasi, kenapa harus tempat ini? Meski kepalanya nyeri luar biasa dan dia sudah hampir pingsan, dipaksanya otaknya mengingat dan memikirkan sesuatu yang janggal. 


Terdengar gema suara Lucia, "Mana Colette? Kenapa dia belum di sini? Bukankah permintaan dari..."


"Ssssh...Stallza masih sadar. Tak usah bicara yang tak perlu sebelum semua datang. Kita harus berunding, kan?"


"Yah okelah."


"Ah, itu Lazu. Lazu! Di sini!"


Jantung Stallza berdegup kencang. Lazu? Apa yang terjadi? Makhluk biru itu? Lazuardi!?


Tunggu. Ada yang aneh. Stallza paksakan matanya setengah terbuka. Melihat lurus ke depan di mana Lucia dan Volatile melambaikan tangan ke sebuah arah di belakang punggungnya.


Tapi di belakang mereka, di belakang Lucia dan Volatile, tampak sesosok makhluk biru kecil berjalan. Meski pandangannya berbayang, Stallza yakin itu bukan ilusi. Lazuardi tengah mengendap-endap ke belakang punggung dua wanita itu. Kedua tangan Si Matoi Kecil terulur. Yang kanan menyentuh punggung baju Volatile, yang kiri menyentuh punggung baju Lucia. Mereka berdua masih tak sadar karena ringannya sentuhan itu.


Lazu! Stallza ingin berseru. Namun kesadarannya tak memungkinkan. Dan raut wajah Lazu begitu sedih. Makhluk biru itu menatap Stallza dari belakang punggung Lucia dan Volatile. Mulutnya bergerak tanpa suara, namun Stallza masih mampu membaca gerak mulut itu:


"Maafkan."


Stallza membelalak. Bukan karena ucapan Lazu itu.


Tapi karena Volatile dan Lucia masih saja memanggil nama "Lazu" sambil menatap ke balik punggungnya. Padahal Lazu justru ada di balik punggung mereka berdua, bukan di balik punggungnya.


Stallza bergidik ngeri. Dan tangan biru translusen milik siapa ini, yang muncul dari belakang dan menyentuh bahunya?

---

Lima puluh lima peserta turnamen milik Thurqk telah ditransport ke arena pertarungan masing-masing. Namun satu hal yang luput dari pengamatan para Hvyt merah adalah, bahwa sesaat sebelum para petarung diangkut ke Devasche Vadhi untuk menerima perintah Thurqk, jumlah peserta sudah bertambah menjadi lima puluh enam.


Ya, karena saat itu Lazu sudah selesai menjadikan salah satu pohon Rachta sebagai inang. Dari potongan sebelah tangannya yang ia amputasi sendiri, fase parasit Lazu menginfeksi tubuh pohon Rachta hingga memakannya dari dalam. Setelah itu terjadi, lahirlah Lazu yang kedua: Lazu Rachta. Lazu Rachta berwujud persis dengan Lazu Kausa, yaitu Lazu yang pertama. Saat Lazu Rachta lahir, luka amputasi Lazu Kausa menutup sampai membentuk tangan baru.


Lazu Rachta yang tertinggal sendirian hanya bisa memanggil-manggil Hvyt yang sedang berjaga. Para Hvyt agak bingung karena seingat mereka, salah satu Entitas Terpilih bernama Lazu sudah ditransport ke Planet Earnut, lokasi pertarungan dengan empat petarung lain. Namun muncullah Thurqk yang memerintahkan para Hvyt untuk tak bertanya atau menginterogasi Lazu (Rachta) lebih lanjut.


Thurqk yang tentu saja mengetahui semuanya, hanya tersenyum jumawa pada Lazu Rachta yang menunduk ketar-ketir. Sang Dewa kemudian mengibaskan tangan, dan dalam sekejap Lazu Rachta sudah ada di lokasi pertarungan yang sama dengan Lazu Kausa dan empat petarung lain.


Sejak awal pertarungan, Lazuardi ada dua.

---

Kedua Lazu berbagi penglihatan, akustik, pengecap, peraba, pengaroma, pemikiran, kesadaran, keputusan, dan semua kemampuan Lazu Kausa.


Apa yang diindera oleh satu Lazu, terindera pula oleh Lazu yang lain. Dengan ini, mereka saling menjaga dan mengawasi untuk memenuhi beberapa kondisi:


Pertama, memastikan bahwa semua petarung lain mengira bahwa Lazu hanya ada satu. Saat satu Lazu terlihat oleh lebih dari satu petarung lain, Lazu yang lain tak boleh ada di lokasi yang sama.


Kedua, masing-masing Lazu membagi kubu pertarungan menjadi dua dengan mensugesti pembentukan aliansi ke setiap orang.


Ketiga, mengadu domba kedua kubu untuk bertarung satu sama lain hingga saling melemahkan.


Keempat dan terakhir, adalah...

---

"...Permisi?"


"Moi? Makhluk apa kamu? Biru sekali, imut sekalii."


"Namaku...Lazuardi?"


"Ah! Nama itu. Kamu juga termasuk petarung kan?"


"Aku...tak ingin bertarung..."


"...Anak malang. Kamu sama seperti pengamen cilik itu, diseret ke tempat yang kamu tak ingin berada di dalamnya."


" ...Boleh aku ikut denganmu? Sama-sama?"


"Tentu. Moi Colette."


"...B-boleh aku...menggandeng tanganmu?"


"Kau ketakutan ya. Sini Kakak gandeng, supaya tanganmu lebih hangat. Supaya kita tidak terpisah. Wii! Tanganmu terasa seperti agar-agar!"


"...Maafkan."


"??? ..... ...... ..... !!!!"

----

Lazu memiliki kemampuan aneh yaitu mampu menyerap sejumlah besar air dalam waktu singkat, dari apa-apa yang ia sentuh. Meski Colette memakai sarung tangan, daya serap air dari sentuhan Lazu terlalu kuat tak terhalang.


Tak sampai dua detik, Colette merasakan setiap tetes cairan dalam tubuhnya dibetot keluar. Bibirnya mengering. Matanya mengeriput kehilangan air mata. 


Aliran darah dalam tubuhnya langsung mengental karena kehilangan air dalam sirkulasi meletihkan tubuhnya secara mendadak. Ambruk ke tanah penuh sampah plastik dan sisa makanan, Colette yang kemudian tergolek masih melihat wajah dan ekspresi pada mata Lazu yang diselimuti perih.


"Kau yang pertama...maafkan...."


Kemudian bola mata Colette terangkat lemas. Ia jatuh dalam kondisi koma.


Namun ia tak mati. Lazu tidak merampas seluruh tetes air dari tubuh gadis itu. Ia menyisakan cukup air dalam sirkulasi darah Colette untuk menjaga agar meski kesadaran gadis itu telah hilang, namun ia masihlah hidup.

---

Kedua tangan Lazu Rachta menyentuh punggung Lucia dan Volatile. Tangan Lazu Kausa menyentuh bahu Stallza.


"Pongio." gumam kedua Lazu bersamaan dari posisi yang berseberangan. Lucia adalah yang pertama tersentak dan menoleh. Lazu ada belasan meter di depannya, sangat dekat dengan Stallza. Siapa di belakangnya?


"Laz-"


Terlambat. Tangan Lazu telah menyentuh. Pembuluh interior telapak tangan Si Matoi Kecil bersinar biru sejuk, dan menghisap air dengan prinsip tekanan vakum.


"Urrgghhhaaaa!!!"


Kemampuan penyerapan milik Lazu dengan sangat cepat merampas berliter-liter air dari tubuh ketiga targetnya.


"Khhaaaaahhhh...!!"


Tak ubahnya jalinan akar pohon raksasa menyerap air dari tanah, terhisaplah cairan tubuh mereka. 


"Aaaannnjjjjj---"


Ketika Lazu melepaskan sentuhannya, dehidrasi kritis sistem organ telah menggersangkan tubuh ketiga petarung bahkan sampai ke pori-pori kulit.


Lucia, Volatile, Stallza. Rubuh perlahan ke tanah dengan kegagalan sirkulasi cairan dan darah. Dengan kondisi koma dan tubuh-tubuh mengering serentak!

---

Kedua Lazu berbagi penglihatan, akustik, pengecap, peraba, pengaroma, pemikiran, kesadaran, keputusan, dan semua kemampuan Lazu Kausa.


Apa yang diindera oleh satu Lazu, terindera pula oleh Lazu yang lain. Dengan ini, mereka saling menjaga dan mengawasi untuk memenuhi beberapa kondisi:


Pertama, memastikan bahwa semua petarung lain mengira bahwa Lazu hanya ada satu. Saat satu Lazu terlihat oleh lebih dari satu petarung lain, Lazu yang lain tak boleh ada di lokasi yang sama.


Kedua, masing-masing Lazu membagi kubu pertarungan menjadi dua dengan mensugesti pembentukan aliansi ke setiap orang.


Ketiga, mengadu domba kedua kubu untuk bertarung satu sama lain hingga saling melemahkan.


Keempat dan terakhir, adalah...menjaga kehidupan. Lazu harus melindungi semua petarung. Namun tak ada yang dapat dipercaya dalam situasi di ujung tanduk. Tak ada yang dapat Lazu andalkan untuk menyelesaikan pertarungan lima arah ini dengan berembuk. Semua makhluk kuat ini sibuk saling mengalahkan. Semua saling mencurigai. Semua tak ragu untuk saling membunuh. 


"Kenapa...aku..."


Lazu tak tahu apa yang harus ia lakukan. Maka ia menyusun sebuah gagasan. Dibuatnya sebuah kondisi pertarungan di mana tak harus ada yang mati. Namun itu mengharuskannya melakukan sesuatu yang sungguh menjijikkan. Telah dibimbingnya opini masing-masing petarung bahwa seakan-akan semua prediksinya akan pihak lawan adalah benar. Karena memang adalah Lazu sejak awal akan menjajarkan skenario dan mensugesti respon tarung kedua kubu: Kubu Stallza dan juga kubu Lucia-Volatile-Colette. 


Dan Lazu telah menyerap cairan tubuh mereka semua sampai hampir mati hingga tak lagi sanggup bertarung. Dengan inilah, tak harus ada yang mati. 


Mata Si Matoi berkedip-kedip ketakutan. Bukan terhadap petarung lain. Tapi sebuah ketakutan terhadap kemunafikannya sendiri, yang tak menemukan jalan selain membekukan nuraninya dan menempuh cara kotor seperti ini untuk mencapai maksudnya.


Sudah diaturnya agar cairan tubuh semua petarung diserapnya dalam jumlah tertentu yang menjatuhkan mereka dalam koma namun juga memberi waktu mereka lima jam sebelum kematian seluruh organ. 


Lazu Kausa dan Lazu Rachta melakukan unifikasi, sebuah penyatuan jasad fisik antar kedua Lazu yang membuat diri Lazu kembali berjumlah satu. 


Ia mengestimasi bahwa semestinya bahkan tak perlu waktu sampai lima jam bagi Dewa Thurqk untuk menyatakan bahwa....


"Kelompok Satu A. Pertarungan selesai. Kemenangan untuk Lazuardi, Sakrifar." Sesosok Hvyt mendadak telah muncul di samping Lazu dan mengucapkan hal tersebut.


Lazu menarik napas dalam-dalam dan menengadah pada sosok merah yang begitu besar, dan di tengah keramaian kota kumuh di bawah barisan awan-awan kotor, Si Matoi Kecil berteriak pada Hvyt, walau sejatinya berteriak pada Thurqk yang memerintah mereka semua, 


"Tolong...tolonglah mereka!! Selamatkan mereka!!"


Teriakan makhluk kecil itu menyusuri udara, putus asa, seakan tak berjawab. Sampai sebuah suara kelam menggema di seluruh dataran.


"Apa kau baru saja meminta tolong padaku untuk menyelamatkan mereka yang takkan ragu membunuhmu?"


Lazu menatap langit, matanya memancarkan cahaya multiwarna, pembuluh internalnya bersinar ungu kemilau dari dalam tubuh birunya atas tetes dilema, atas tetes kesedihan yang sangat dari hatinya. Dan ia menjerit sekuat yang ia bisa,


"Inilah perasaanku! Inilah...pertarunganku!!"

-------

56 comments:

  1. Uwooo Pak Po... Liat judulnya, saya teingat Altem, tapi jelas ini makhluk unyu beda sama Altem... Gemes sama Lazu *A*
    .
    Ngakak pas disini >> "Dari kata-katamu yang menunjukkan kau juga tak tahu mengapa kau bisa sampai ke tempat ini, dari lipatan-lipatan di pakaianmu yang sudah lama dan tidak adanya memar, lecet atau pola bekas tekanan di kulitmu atau bajumu bahkan dalam pengukuran duadesimaldibelakangkoma bersatuan milimeter, berarti kau sama sepertiku yaitu tak mungkin mengalami metode transportasi dengan satwa atau pun kendaraan yang menempuh jarak ke tempat ini, karena tempat ini dari pertanyaanmu berarti bukan daerah tempat tinggalku atau tempat tinggalmu dan perjalanan jauh akan menimbulkan tanda baik itu perubahan suhu permukaan luar tubuh, pola tekanan pada kulit atau pembungkus tubuh di fragmen anatomi yang bersandar pada permukaan alas duduk, endapan atau jejak debu atau tanah pada tapak atau alas kaki, dan empat puluh kategori tanda lain. Premis menunjukkan bahwa untuk tempat seasing ini yang berjarak sangat jauh dari tempat tinggal masing-masing terlebih dari makhluk merah melayang asing yang tak pernah kulihat di media informasi ilmiah mana pun di planetku, maka kita telah menempuh metode perpindahan fisik yang sama sekali tak menimbulkan bekas anatomis yang berarti metode transportasinya sangat mutakhir dengan kecepatan melebihi suara bahkan mungkin cahaya dan bukan tidak mungkin punya elemen transportasi dimensional namun dengan tingkat kenyamanan maksimal sehingga kita bahkan tak sempat merasakan proses perjalanan dan untuk menyingkirkan kemungkinan pemberian agen pembius atau supresi sistem saraf, tak ada tanda intoksikasi atau sisa pengaruh farmakodinamik pada satu pun di antara kita seperti kelemahan otot-rasa mengantuk-kelemahan pandangan terhadap cahaya-sakit kepala atau sensasi perubahan arah atau pada kasusku sensasi perubahan distribusi berat badan dan volume cairan ke arah satu anggota gerak atas dan satu anggota gerak bawah terlepas dari gravitasi atau posisi tubuh yang mana tak ada satu pun tanda tersebut pada aku atau kau. Jadi kesimpulannya...teleport?"

    Sumpah! Hahahahah
    .
    Wew, kekuatannya Lazu ini unik ya? Dan baiknya dia bikin saya ingat sama Hilya. #eh
    Meminimalisir dirinya membunuh yang lain.
    .
    Anyway, saya suka sama kekuatannya dan cara dia berpikir.
    .
    Btw, itu ada scene yang diulang macam kejadian di warung mie kambing itu... Emang sengaja diulang ya?
    .
    Suka sumpahan terakhirnya >> Si Matoi Kecil bersinar biru sejuk, dan menghisap air dengan prinsip tekanan vakum.
    "Urrgghhhaaaa!!!"
    Kemampuan penyerapan milik Lazu dengan sangat cepat merampas berliter-liter air dari tubuh ketiga targetnya.
    "Khhaaaaahhhh...!!"
    Tak ubahnya jalinan akar pohon raksasa menyerap air dari tanah, terhisaplah cairan tubuh mereka.
    "Aaaannnjjjjj---"

    wkwkwkwk
    .
    Semoga selamat di R1, Lazu.
    .
    +8 dulu ya...
    .
    D

    ReplyDelete
  2. Maaf moi kejam. Awal ceritanya nggak nge-hook dan ceritanya agak bertele-tele, jadi bikin moi bosen. Untung Lazoo lucu dan cukup seneng ama adegan bawah lautnya. Sebenarnya moi mau kasih 6,5 aja tapi moi beri 7 sebagai penghargaan karena vous jadi submitter pertama.

    7 for doctor Po

    ReplyDelete
  3. pertama, paragrafnya mgkin ya, nggak ada jedanya. kerasa ngos-ngosan bacanya. tapi, enthkenapa jadi lebih efisien buat dibaca skimming. atau mgkin ceritanya yg bagus ya? enthlah.

    kedua, mgkin battlenya ya. ya, namanya juga battle of realms. paling nggak aku mengekspektasikan porsi pertarungan yg banyak. (jadi kerasa kyk truk blg tah). enthkenapa, aku cuman ngeimajinnya keren pas pertarungan gunfight itu doang. dan emang itu doang kan event battlenya?

    setelah lewat bagian itu, cuman diisi dengan kejeniusan lazuardi yang saking jeniusnya nggak ada satu orang pun yg menyadari niat jahatnya.

    yap, memang klo di situasi dan kondisi normal mah, orang bakalan percaya. tapi, ini bukan di kondisi yg normal. aku rasa, pereduksian karakternya disini terlalu banyak. bikin ceritanya jadi berat sebelah.


    terakhir mgkin, yg bagian si badut (maaf, lupa namanya). ya, itu. itu kerasa convenient banget akhirnya. kerasa nggak mau abis aja. nggak ada impact, nggak ada feel, nggak ada rasanya.

    aku rasa, itu agak fatal. karena efeknya, pembaca bakalan mikir si badut adalah chara yg lebih, lebih, lebih rendah daripada side chara.

    coba aja, baru awal muncul aja langsung mati. itupun cuman satu paragraf diceritain.

    ya, ya, aku juga nggak bilang, pendek dan singkat itu jelek. tapi pace plot dan pembagian tiap charanya jadi berat sebelah.


    itu aja kyknya. 7/10 karena tipe prota-kun naive kyk gini, enthlah, aku nggak terlalu suka.

    ReplyDelete
  4. Anonymous3/4/14 16:58

    Setuju dengan yang lain, terutama pada ketiadaan jeda antar paragraf, dan narasi yang unik namun kurang ramah di mata pembaca (saya).

    5/10

    -Ivon

    ReplyDelete
  5. Hal yg gwa gak suka:
    1. Spasinya (tapi ini salah panitia yang gak lupa bilang kalau Blog harus pakai double enter :p )

    2. kalau itu Flashback sepanjang itu, yg stalza x Lazu, tapi non Flashbacknya gak panjang...
    kenapa gak ditukar? gwa puyeng lihat italic + Wall of Text.

    3. mungkin salah gwa karena kebanyakan skip (mata lelah karena wall of text) jadi gak bisa baca siapa ngomong siapa saat rentetan dialog tanpa tag keluar.

    4. TUH KAN, yang non-flashback malah diulang 2x antara gak pakai proofread (spoofing), atau emang pengen bikin capek pembaca?

    5. setelah baca sampai habis beneran; mas Po itu boros katanya berlebihan. adegan yg diulang-ulang.

    6. Ok, Stalza jatuh, dan Collete emang gak bisa bertahan. tapi kalau Lucia dan Volatile begitu saja mati... saya ngerasa ini balik ke OHKO sesuatu yang merupakan monotonus dari mas Po.
    Referensi OHKO:
    - http://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/CurbStompBattle
    - http://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/OneHitKill

    Hal yang saya suka:

    Actually 2 Lazu di awal itu Jenius! dan pengenalan siapa itu Lazu sangat menarik di (bagian latar belakang)

    Action Stalza vs duo battler juga bagus.

    Spotlight ke Lazuardinya di awal dan pertengahan bagus!

    FINAL VERDICT: 5.5

    ReplyDelete
  6. Anonymous3/4/14 21:04

    akhirnya baca :D
    gaya penulisan ala mas try XD
    puitis dan pake istilah2 yang jarang dipake (y)
    Lazu kereen (y) :D
    cara menyerap cairannya ekstrim, lebih dari crocodile XD
    lazu bisa tau semua keadaan tiap orang itu karena dia ada dua kan? dan saling berbagi informasi antara dia dan dirinya (?) XD
    dan pengulangan cerita itu mengingatkanku sama baccano XD
    keren-keren :D tp entah knp sy merasa agak bosan di tengah cerita gak tau knp XD
    kukasih nilai 8/10 deh~

    -Yayat Bunny4

    ReplyDelete
  7. waduh, ceritanya bagus kak...
    tapi karena susunan paragraf di blognya rada kurang enak dibaca, saya kasih +8 boleh kan kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak dihitung ya. Soalnya nggak ada review yang mumpuni yang menandakan kamu udah bener-bener baca. Minus poin masalah susunan paragraf bukan salah penulis melainkan kesalahan saya. LOL

      Delete
  8. I'm a big baby :"(

    Duh padahal cuma baca cerita, tapi agak berkaca-kaca bagian di bawah laut yang lagi ngerubungi Lazu. Sama

    " Mungkin seharusnya....
    Aku mati...
    Atau lebih baik lagi...
    Jika aku tak pernah lahir...
    ...
    ...

    Karena titik inilah saat untuk berpisah...
    Tapi, di balik langit hitam bernama kematian...mungkin ada sejuk yang tenang...mungkin ada semua yang berkilauan...
    Di ujung sana..."

    Sampai situ rasanya cekit-cekit-cekit ini dada #lebey tapi beneran hahaha...

    Terus narasi di Jagatha dan Devasche Vadhi enak banget :3 saya sukaaaa sukaaa narasi yang kayak gini. Saya nggak ngerasa bosen (walaupun pengulangan paragraf yang diitalic itu agak mengganggu, tapi gapapa saya selalu skip kalau misalnya ada paragraf dobel).

    Nah, tapi saya kurang menikmati pas bagian battle-nya >_< selain paragraf dobel makin banyak, kayaknya temponya terlalu cepat dan (maaf) agak maksa. Narasinya mulai agak kacau, nggak ngalir pas kayak awal-awal sebelum battle. Mungkin untuk menggambarkan kekacauan kali ya, tapi terlihat dipaksakan >_<

    Tapi, ide Lazu jadi dua dan strateginya yang membuat saya tertohok (Lazu yang imut, Lazu yang polos, ternyata licik juga) :p walaupun One Hit Kill itu agak... kurang greget >_< Ah mungkn cuma masalah selera saja ya hehehe...

    Oke, btw saya kasih nilai : 7 :D

    Naer~

    ReplyDelete
  9. sebenernya tulisan ini punya potensi yg sangat bagus
    aku suka kata2 yg digunakan di narasi, cukup unik dan berbobot

    namun ada beberapa kekurangan yg sayangnya harus aku sampaikan

    1. ketiadaan jeda antar paragraf
    ini sudah dibahas oleh teman2 di atas, rasanya kayak baca wall of sentences
    brick, another brick, so on
    seharusnya bisa diberi spasi ekstra setelah satu paragraf agar mata pembaca tidak lelah

    lalu banyaknya kalimat yang super panjang, titik(.)nya jauh banget, bener ngos2an ngejar kalimatnya
    ibaratkan kayak nyanyi 2-3 bait panjang sekali tarik nafas
    #kokoroinilelah

    2. plot yg tidak perlu
    bagian awal, cerita kematian itu mungkin lebih baik tidak disertakan (ditulis terpisah) krn menurut saya, cerita kematian dan sambutan Thurqk itu membuat pembaca bertanya2 "mana nih battlenya?"

    namun sayangnya saat battlenya dimulai, pembaca keburu kelelahan krn plot yg tidak perlu, panjangnya kalimat dan tidak adanya jeda antar paragraf
    saya sendiri memutuskan utk berhenti di saat battle dimulai, krn keburu lelah
    mungkin saya akan lanjutkan lagi nanti

    3. plot jump yang kurang lembut membuat pembaca semakin kebingungan
    plot jump sebenarnya menarik, tapi plot jumpnya terasa kurang lembut
    saat dari jagatha vadhi menuju ke lokasi battle itu cukup membingungkan buat saya

    overall ok, namun sayang, personally saya hanya bisa memberikan skor 6/10
    semoga kritik ini bisa membuatmu lebih baik lagi ^_^
    mari kita berjuang bersama2 >.<

    -bayee-

    ReplyDelete
  10. Paragrafnya susah dibaca, jadi kurang enak.....pusing saya liat Italicnya. Soal yang lain (One Hit Kill, bahasa yang puitis, etc) saya pikir cukup bagus karena menarik, jadi ini cuman masalah reader enjoyment aja :D

    6/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini gak dihitung ya... sekali lagi masalah tampilan bukan kesalahan penulis melainkan kesalahan saya sebagai admin blog ini. Jadi, penilaian yang mendasar pada poin tersebut saya anulir.

      Delete
    2. anulir??
      berarti saya kasih......

      9/10

      Delete
    3. Karena penilaian sebelumnya karena kesalahan saya, so, perbaikan nilai ini saya terima.

      Tercated~

      Delete
  11. Hmm.. Gimana bilangnya ya...
    Meski keliatannya pak Po pengen nekenin si Lazuardi in tipe pengguna strategi yang train of thought-nya well-structured, tapi entah kenapa saya kurang suka sama penyajian narasinya. Saya udah netapin di turnamen ini saya bakal ngenilai pure dari enjoyment saya. Kalau diibaratin, saya ga dibawa arus, tapi harus ngedayung untuk sampai akhir.

    6/10

    ReplyDelete
  12. Kaito mengelap celananya yang basah akibat keterkejutannya. ampak teh yang ia minum kini telah habis karena ia tumpahkan saat menonton pertarungan tadi. di sebelahnya, Clive tertawa kecil.

    "Kau terkejut hanya karena hal itu?" tanya Clive sambil meletakkan cangkir tehnya.

    "Tentu saja!" balas Kaito, "Ia bisa berakting semenakjubkan itu? bahkan merencanakan pembantaian itu sejak sebelum pertarungan. bagaimana tidak kaget?"

    "Sayangnya, kurangnya foreshadowing membuat kejutan ini terasa hambar," balas Clive.

    "Dan cara narasi yang menjelaskan apa yang terjadi, aku sedikit tidak menikmatinya," Kaito kali ini setuju dengan sang tuan rumah.

    "Baiklah, nilai yang kau berikan?"

    "Tiga," jawab Kaito, "Paling tidak karakter Lazu benar-benar terlihat."

    "Satu," sambung Clive, "Untuk penjelasan yang menghancurkan keseluruhan narasi."

    **

    Total Nilai +4

    ReplyDelete
  13. Uwaaaah, om PO seperti biasa kalo bikin story pasti ada wall of text-nya.
    XD

    Asli ngakak waktu baca bagian si Lazu jelasin soal teleportasi. Juga mengerukan lidah karena harus membaca ulang sampe tiga kali, demi memahami satu paragraf panjang tersebut.
    XD

    .

    Tapi baca story yang ini bikin mata capek om... narasinya ane suka, style narasimu yang puitis itu banyak influence-nya lho sama tulisanku. Tapi entah kenapa, kalo porsinya overkill kayak gini jadi bikin mata lelah.
    Mungkin karena ada beberapa flashback yang diceritakan full secara komplit, ampe lebih dari tiga paragraf panjangnya.
    D:

    Impresi saia terhadap Lazu kembali berubah, dia ternyata cerdik ya...
    XD

    +7 ya om...

    ReplyDelete
  14. Haiyhoo~

    wuaaah submiter pertama yaa~ master Po, hebat!

    ookay, , preview dulu yauw , , hunn~


    - background story nya cukup panjang, yapz, aku ndak bisa merasakan aura BoR setelah membaca belasan paragraf awal.

    - Adegannya diulang-ulang, , sepertinya memang disengaja mau panjang yaa, , terlihat dari dialog awal sii Lazu yg super ndak ada titiknya, hhahaha

    - tidak dibunuh..? padahal master Thruqk bilang "mengalahkan" dan "tersisa satu"... biasanya akan dikira untuk "membunuh".

    - one hit kill setelah sekian banyak narasi, , #kuhuk

    #ampooooni saia master! (>ʃƪ<)

    battle nya berupa permainan taktik, , hebat!
    kosa katanya amat kaya, , #sungkem!
    beberapa dialognya jugak puitis ,, yeay~

    aaku titip nilai 6 yaa, master Po~

    ReplyDelete
  15. Waduh, ceritanya bagus. Narasinya kepanjangan. Bikin mata perih dan agak ngantuk.

    Sebaiknya, narasinya tak perlu sepanjang begitu karena benar-benar kayak baca artikel gitu. Maaf, ini sekadar komentar saya.

    Ucup terbengong-bengong. Apalagi aku :)

    Ngga dibunuh? Waduhh, aku pikir harus dibunuh.

    Sebenarnya, deksripsinya itu sudah sangat bagus. Kalau baca, nice. Tapi, itu saja terlalu WOW.

    Well, aku titip 7/10 aja, ya.

    ReplyDelete
  16. Ergh ... ini prolognya menurut saya kepanjangan. Sekalipun dimaksudkan untuk gambaran bagaimana Lazu bisa sampai ke pertarungan ini, ataupun tentang kehidupan masa lalu Lazu yang tragis karena diskriminasi bawah laut, tetapi semuanya malah terasa seperti pemborosan narasi. Urgensinya apa sampai-sampai harus memakan ½ dari keseluruhan cerita?

    Imbasnya, porsi pertarungannya jadi terasa sangat sedikit. Karakter-karakter lain seolah tidak tergarap. Bagaimana cara mereka bertarung, apa jurus andalan mereka, kemudian karakterisasi mereka seperti apa, semuanya tak terlihat. Lazu menang mudah di sini. Yah, memang sih tak ada aturan kalau di BOR itu tidak boleh menang mudah atau semacamnya. Tapi tetap saja bagi saya kesannya seperti menyia-nyiakan potensi menariknya lima karakter yang berbeda, bagaimana mereka berinteraksi, sampai pada bagaimana mereka bertarung mati-matian. Hanya Stallza dan Volatile yang berkesempatan menunjukkan sedikit skill mereka, itu pun bukan jurus-jurus terbaik yang mereka miliki.

    Ditinjau dari strategi bertempur si Lazu, mungkin tampak bagus dan masuk akal. Tetapi kesan yang saya dapat bahwa si Lazu hanya melawan (atau istilah dia “menyelamatkan”) empat karakter random saja.

    Dari narasi pertarungan yang sedikit itu, bahkan sempat ada yang diulang-ulang (kopas murni malahan). Mungkin maksudnya ingin memperjelas adegan dengan repetisi. Tapi yah ... entahlah.

    Poin saya, secara jujur 4.0

    Ini mungkin cerita yang bagus, tetapi pengolahannya belum bisa saya nikmati.

    ReplyDelete
  17. hola pak Po.
    strategi si Lazu bagus. kemunculan dua Lazu ini bikin kaget. sayang eksekusinya terlalu banyak yang di 'tell' << dan sekarang gw ngeuh napa full tell itu ga enak. bahkan... ada yang diulang. gw kurang bisa komprehen napa harus diulang? apakah ada pesan yang ingin dikuatkan atau ada kesan yang harus dipertebal? apapun itu, somehow bikin gw ga nyaman. maaf .___.

    feel sebagai Lazu dapet. tapi gw ngerasa minim gestur dan mungkin ini juga yang ngebuat berasa jadi banyak tell.

    nuansa-nya berat. tapi gw suka ini. however, somehow gw agak susah bedain ini dengan Altem ya?

    poin yang bener2 ga gw suka adalah prolog yang kepanjangan. antara kepengen dibaca sebagai sebuah canon atau diabaikan sebagai penikmat BOR. sebagai canon, gw memposisikan diri sebagai pembaca non BOR. berarti Prolog IMO cukup penting untuk momen revelation. sayangnya, gw ga merasa karakterisasi Lazu kok cukup ngegiring ya untuk sampai ke konklusi akhir yang dia benci itu. pardon me untuk yang ini. dan akhirnya, sebagai pembaca biasa pun gw ngerasa males untuk baca ulang. sebagai pembaca BOR, seperti yang lain, gw lebih kepengen liat aksi pertarungan (tapi gw jujur bakal ngecewain pak Po juga dengan cerita Mba).

    tapi tapi tapi canon punya nilai khusus. pembaca setia karya pak Po mgkn akan lebih mudah merangkai jalinan plot besar bila dari awal cerita sudah divisikan untuk canon dan bukan satu cerpen belaka.

    nilai: 8/10

    ReplyDelete
  18. Alur : 2/3
    Sebenernya sy skip bgt nemu kata2 yg susah... Tp sy suka Lazu yg inosen n gak tau kalo sebenernya dialah yg kejam wkwkwk kadang2 lebih baik dimatikan ketimbang dibiarkan dlm keadaan yg nahas... Dan brkebalikan ma yg lain, sy suka cerita2 awalnya di dlm laut >__<
    Mgkin krg deskripsi kayak warna dsb., dan penggunaan bahasa yang.... Ah, tapi saya suka.
    Terus yg ditempat RP sama di kastil, kalo bisa dipersingkat aja...

    Karakterisasi : 1/3
    Stanner itu sapa ? wkwkw... Sy gak baca charsheet n berharap bisa mendapat cerita utuh ttg siapa dia n ini apa hanya dgn membaca cerita ini.... Yah, imo charsheet harusnya cma jadi kertas buram dr seorang penulis...

    Gaya bahasa : 1/2
    Biasanya sy seneng sma gaya bahasanya om Po, tp di sini byk istilah sains yg bkin mumet.... Mohon dibedakan penggunaan kata2 populer utk karangan fiksi, dan istilah-istilah ilmiah utk tulisan non-fiksi.... Ada beberapa kata yg sy cek gk ada di KBBI kayak translusen.... Mungkin bisa diakali dgn penambahan deskripsi, krn sy menganggap istilah2 ilmiah itu bahasa fantasi yg hanya ada di dunianya om Po wkwkw

    Typo n error : 1/1
    Ada bbrp eror, kayak penulisan dialog tag, tp gk masalah

    Hal-hal lain : 1/1
    Saya suka laut, n suka cara Lazu memenangkan ronde ini >__<

    Total : 6 dulu ya om Po, ampuniii >.<
    Stuju ma om Heru, ini mgkin crta yg bagua cma pengolahannya krg >.<

    ReplyDelete
  19. Hoalah keren kali si lazu ini, diam-diam punya strategi licik. Saya suka banget ma strategi dan twistnya. Cuman pembukaannya aja nih terasa agak kepanjangan, sama pembagian part nya kurang diperjelas.

    Nilai 8!

    ReplyDelete
  20. Anonymous9/4/14 17:51

    oke tudepoin.

    Karakter Lazu digambarkan dengan sangat baik, aku suka pengenalan sifat asli karakter dan pengembangan sifat karakternya sedari awal dan saat jalannya cerita. Untuk penggambaran karakter lain walaupun porsinya ga banyak (jelas ini Lazu version), tapi tetap menampilkan keaslian sifat dan deskripsi yang baik.

    Soal paragraf dan alur baca. Karena banyak komentar serupa, berarti aku ga salah bilang kalo paragraf awal yang berjalan ke tengah cerita tanpa jeda. Jadi keknya memang kurang nyaman dibaca karena pembaca pasti butuh ruang. Jujur aku baca ini dua kali, dengan berhenti sebelum battle dimulai.

    Selain itu, pengulangan paragrafnya kupikir sedikit...membingungkan? maksudku, tehnik penulisan seperti ini memang menarik, tapi, kalo lagi2 membuat pembaca mengernyit sampe harus baca berkali-kali supaya ngerti jadi agak kurang cocok untuk dipakai. Apalagi kalo yang diulang adalah hal serupa tanpa banyak tambahan poin penting di plot cerita, in my opinion.

    Adegan tarung, unik karena membawa Lazu ke dalam sebuah pertarungan yang tidak dikehendakinya. Aku suka twist-nya. Sayangnya, kemampuan karakter lain seperti lewat ala kadar begitu saja. Oke poin itu mungkin bisa dibalas dengan "this is Lazu's" tapi aku rasa hal itu tetap perlu. Kenapa? supaya pembaca lebih tau sebenarnya 'semengerikan' apa musuh-musuhnya Lazu ini XD

    Terus nilai-nilai plus lainnya di pembendaharaan kata Sir Po dan pemilihannya juga susunan yang puitis. Aku suka bagian gimana Lazu lahir dari kedua orangtuanya :) (mimin ngedit yah? padahal keren kemaren di-italic bagian itu hehe)

    overall: Tujuh koma Lima dari Sepuluh, deh.

    - Fata, the genius fart

    ReplyDelete
  21. Terlalu banyak kata-kata puisi jadi agak cape bacanya.

    Jadi aku kasih point 8/10

    ReplyDelete
  22. pertarungannya lumayan seru nih, hanya aja prolog di awal itu bagi saya agak kepanjangan.. sebenarnya itu menjadi poin minus, tapi mengingat si Lazu bertarung dengan strategi (yg begitu epic) hingga membagi badannya jadi dua di awal, saya jadi ingat si OC saya... :3 ini menutupi sedikit poin minus barusan..

    BTW, adegan:
    Tak ubahnya jalinan akar pohon raksasa menyerap air dari tanah, terhisaplah cairan tubuh mereka.
    "Aaaannnjjjjj---"
    Ketika Lazu melepaskan sentuhannya, dehidrasi kritis sistem organ telah menggersangkan tubuh ketiga petarung bahkan sampai ke pori-pori kulit.

    lumayan bikin saya ketawa geli.. XD anj************
    dan banyak juga memakai istilah2 yang jarang didengar/dibaca orang awam (bagi saya ini poin plus)..

    jadi,
    -----
    7,5/10
    -----

    ReplyDelete
  23. pertama +8 dari umi.

    komen umi terkait ceritanya :
    - narasinya panjang-panjang 0.0
    - typo : uang
    - ga ada dialog tag Stallza-Lazu bikin miss
    - umi bingung sama beberapa istilah. kayak jumawa itu apa?

    tapi nilai bagusnya adalah :
    - umi suka banget bagian dimana dirimu ngulang cerita untuk nutupin plot yang tadinya udah mau umi tanyain >.< waaaaaa
    - uwaaa umi suka banget sama politik adu dombanya Lazu~ lucuuuu dan menggemaskan
    - apalagi cara bicara lazu yang seperti seorang yang tahu segalanya yang memang dia adalah seorang yang tahu apa yang dia katakan sebagai umpan bagi para lawannya yang memang sudah ia rencanakan secara matang.. uwaaaa unyu banget rasanyaaa..

    btw, umi saran dong kak, kalo mau ngulang ceritanya, jangan copas narasinya, buat narasi ulang aja :/ bikin bingung sebenarnya ada narasi berulang gitu, kirain tadinya typo.

    nunggu Lazu lagi di R2 yang ngomong panjang sotoy ituuuu \ (^-^) /

    ReplyDelete
  24. padahal bagian awalnya udah lumayan asik kak, tp pas ktmu bagian walltext sama narasi yg diulang2 kenikmatan membacanya jd berkurang x3
    tapi suka bgt sama twistnya kak :)
    nilai 7/10

    ReplyDelete
  25. Makhluk unik bersifat unik dengan kekuatan unik disajikan dalam narasi ala Sir Po yang unik.. Aku ngenikmati banget di awal, bagian paling kuat menurutku di cerita ini, sama di akhir waktu Lazu mulai ngejelasin dua Lazu dan scheme nya plus pergolakan hatinya itu..

    Nilai minusnya ada di narasi pertarungan.. Gak selembut narasi awal yang ngalir asyik, terkesan loncat loncat jumpalitan dan perulangan adegan itu buatku justru pedang bermata dua yang malah ngelukain mulusnya jalan cerita.. Tujuannya mungkin emang biar pembaca bener bener ngerasa itu adegan yang persis sama sebelum dijelaskan kalau itu dilihat dari sudut pandang yang berbeda, tapi bakal jadi keren banget menurutku kalau adegan yang sama itu ditulis ulang dengan kata kata yang berbeda.. Kalo emang pengen ditulis sama persis cari kata kata yang berat atau puitis sekalian biar pembaca gak ngerasa dipaksa baca adegan dan kata kata yang biasa aja berulang kali..

    Sama aku ngerasa lawan main Lazu masih kurang di eksplor ini.. Tapi narasi Sir Po bagus emang sih ya, klop banget kata kata yang berat dan jarang dipakai itu buat nyeritain Lazu.. Penulis lain di 1-A gak ada yang bisa nyeritain Lazu mendekati asyiknya cerita Sir Po dan penulis lain di BoR rasanya juga gak bakal bisa dengan mudah nyeritain Lazu seasyik Sir Po.. Padahal charsheet Lazu gitu aja.. Ini aset utama Lazu di BoR menurutku.. Modal ini aja bikin beberapa kekurangannya bisa dimaklumi..

    Sir Po ini entry pertama tapi kok rasanya tulisannya agak buru buru gitu yah, banyak hal yang keknya kalo lebih dimatangin dikit lagi aja bisa bagus banget..

    7/10 >_<

    ReplyDelete
  26. Beberapa kata: KEMAMPUAN LAZU LEBIH SEREM DARI YANG KELIATAN DI CHARSHEET.

    Waktu liat charsheet sih biasa aja, tapi pas di sini langsung merinding. Breathtaking banget lah ini. Pemaparan twist di tengah2 penyerapan itu juga keren. Terus, bagian "Annnnnnjjjjj----" itu juga sangat nunjukkin luar biasa kagetnya karakter yang disedot itu.

    Waktu Lazu bilang "Maafkan." juga. Kalo "Maafkan?" mungkin bakalan kedengeran lebih komedik (biasanya sayah sih rada nyengir geli karena kebayang wajah ga yakin Lazu kalo pake tanda tanya di akhirnya XD), "Maafkan." yg pake titik ini menurut sayah scr ga langsung nge-shift pikiran pembaca buat jadi serius dan ngerasain ada yg ga beres.

    Secara penguasaan karakter, menurut saya Pak Po punya kontrol penuh sama Lazu. Pak Po bener-bener ngerti Lazu. Kalo diibaratin sama game Bloody Roar/Tekken/Mortal Kombat, Pak Po udah nguasain combo-combo fatality-nya buat maenin chara Lazu. Jadi muncullah strategi twist ini.

    Bacanya enak, ada beberapa kosakata unik yg berkesan, dan terdengar sangat sastra, kayak "jumawa" dan "ketar-ketir". Terus adanya beberapa istilah ilmiah juga emang ngedukung perkembangan chara Lazu di plotnya.

    Oh ya, waktu dia ngingetin kalo pra peserta bukan binatang buas, sayah ngerasa dia punya wibawa dan kebijaksanaan. Ini bikin saya mikir, "Bener juga, ya. Masuk akal." Mungkin karena waktu itu sayah baru baca setengah cerita ini pas nulis cerita sayah sendiri, "kedamaian sesaat" di cerita sayah juga kayaknya dpt influence dari sini.

    9/10

    ReplyDelete
  27. MAY THE LIGHT OF ZVEZDA SHINE THROUGHOUT THIS WORLD!27/4/14 15:56

    Tulisan pak po sama seperti biasa ya >.<
    berat, agak sulit dinikmati. tapi kalau dibaca terus lama-kelamaan malah jadi enjoy~ imho...

    overall untuk cerita jujur pak po.. bukan masuk favorit saya... tapi tetep enjoy dibaca sampai habis~
    dan gaya bahasa yang... errr... unik (?) #plak. menurut saya jadi poin plus karena itu tadi... berat, tapi bisa dinikmati~ <3

    dan wall of text ketika lazu ngejelasin teleport... saya kira lupa di enter pas di badan e-mail, atau memang kelupaan dan menjadi wall of text. hampir saya skip enggak dibaca dan pas dibaca ternyata kayak karakter yang lagi fokus ngejelasin suatu hal dan emang sengaja dibuat gitu ya >.<
    i had read something like that in some random mangas~

    and +8 buat pak po~

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -