April 3, 2014

[ROUND 1 - I] NURIN - THE FLIES AND THE MOON

[Round 1-I] Nurin

"The Flies and The Moon"

Written by Fachrul R.U.N

---
1st Fight

Nurin diturunkan dengan kasar oleh Hvyt yang membawanya. Terdengar suara berdebuk saat bahu dan sisi kakinya menyentuh permukaan aspal. Kacamata berbingkai kotaknya terlepas. Gadis itu mengerang sambil berguling, mengutuki pelan pendaratannya yang sakit. Selama penerbangan, dapat ia rasakan makhluk itu membenci bau yang dipancarkan tubuhnya. Ia mengerti kenapa si merah tak menyukainya, tapi ia mengharapkan perlakuan yang lebih baik.

Terutama karena majikan mereka mengharapkannya untuk menyajikan penampilan menghibur.

Ia masih ingat pengarahan tadi, dari makhluk yang memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Ia dikelompokkan dalam satu grup yang terdiri dari lima orang, termasuk dirinya sendiri dan ia diharapkan untuk menghabisi mereka. Proses eliminasi sederhana agar ia maju ke ronde berikutnya, selangkah lebih dekat menuju tujuan puncak: kebangkitan kembali.

Sebenarnya ia masih belum mengerti apa ia akan bangkit kembali seperti dirinya yang sekarang atau kembali menjadi bayi. Ia masih harus menanyakan lagi detil itu nanti. Tapi untuk sekarang, ia akan menikmati menjadikan keempat musuhnya sebagai boneka daging baru. Jika itu yang dimaksud Sang Tuhan Merah sebagai hiburan, ia akan dengan senang hati memberikannya.

Ia tertawa, tak menyangka kalau dalam kematian pun ia bisa melakukan ini. Sepertinya Tuhan lebih keren dari perkiraannya. Sudah ia duga dari banyaknya penderitaan di semesta, juga banyaknya kejadian-kejadian mengerikan di kitab suci, kalau makhluk yang disebut sebagai Tuhan memang menyukai kehancuran.

Ia tetap bersyukur Tuhan yang harus ia hadapi bukan Tuhan yang ingin dihabisi oleh pemerintah Indonesia. Tuhan itu, makhluk menakutkan yang datang dari semesta lain, dan dikatakan telah ada sebelum dunia tercipta dan akan tetap ada setelah dunia berakhir, sempat menyebabkan rangkaian kehancuran di Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya tanpa bisa dihentikan. Ia yakin Tuhan seperti itu tidak akan memberinya kesempatan berharga seperti ini.

Sekarang, ia harus pergi. Dia meraba dulu kacamatanya. Dari lensanya yang retak, ia dapat melihat kalau dirinya berada di tengah-tengah sebuah kota. Ia tengah berlutut di sisi trotoar, dikelilingi ruko-ruko dan apartemen-apartemen. Tempat ini mengingatkannya akan berita tentang Detroit. Kebanyakan bangunan itu sudah dipapan dan ditutup karena pemiliknya bangkrut atau pergi.

Malam sudah menyelimuti tempat ini. Langit di atasnya berawan. Hanya ada satu obyek langit yang dapat terlihat: sebuah bulan purnama besar, yang mampu bersinar menembus kegelapan.

Setelah memicingkan mata, Nurin juga dapat melihat sebuah gedung di kejauhan. Dibanding bangunan-bangunan pendek di sisi jalan, gedung reot itu mencolok karena tingginya yang menjulang, antara lima belas hingga dua puluh lima lantai.

Ia memutuskan pergi ke sana. Persetan musuhnya di mana, akan lebih baik bila ia membangun pertahanan di situ dulu. Tempatnya menarik perhatian, jadi pasti ada yang mencari ke sana. Ia tidak suka saat gasnya menyebar di udara terbuka seperti ini, tak terbatasi oleh dinding, atap, dan pintu. Efeknya tidak akan bagus. Lagi pula, menjelajahi kota di tengah malam terkesan lebih bodoh ketimbang mendekam di area yang terlihat sangat jelas, seperti kastel itu.

Jadi ia mulai berjalan. Kedua lengannya tersilang di depan dada, masing-masing tangan dikepit ketiak. Cuaca malam ini begitu dingin, hingga jaket kampus yang ia kenakan tak mampu sepenuhnya melindunginya. Saat ia bernafas, muncul kabut di depan wajahnya. Dilihat dari cuaca dan bentuk bangunan, sepertinya ini memang terletak di Eropa atau Amerika. Ia tidak yakin yang mana.

Mata Nurin bergerak-gerak, mencoba mengawasi kanan dan kiri. Ia tahu efek samping kekuatannya membuatnya mudah dilacak. Bahkan sigung pun tidak akan sebau dia. Jadi ia harus siap untuk mengantisipasi serangan dari mana pun, agar ia tidak dipermalukan seperti saat pria bermasker gas itu menembakkan sinar hitamnya ke arahnya di padang merah. Selain itu...

Dengungan mereka datang dari belakang. Serentak mereka mengelilingi Nurin, seakan hendak mengucapkan kalau masing-masing siap melindunginya. Lalat. Hvyt yang membawa Nurin pergi tidak mengangkat satu pun lalatnya bersamanya, tapi mereka mampu mengejarnya. Sekarang, dengan bau dan dengung lalat, Nurin akan semakin mudah ditemukan. Tapi, dengan keberadaan mereka juga Nurin siap untuk bertempur.

***

Walau terlihat dekat, Nurin masih memerlukan setengah jam untuk mencapai gedung. Ia terengah. Peluh membasahi tubuhnya, memperkuat bau busuk yang memancar dari dirinya. Sejak awal, ia tidak suka berolahraga. Setiap ia mendapat inisiatif untuk kurus, ia memperolehnya dengan diet, bukan dengan fitnes. Kemalasannya semakin menjadi saat kekuatannya aktif dan ia bisa memperbudak mereka yang terjangkit penyakitnya. Karena itu stamina tak pernah menjadi kelebihannya.

Masih ada taksi yang beroperasi di jalan, tapi tak satu pun berhenti untuk memenuhi panggilannya. Kalaupun mereka berhenti, ia tidak tahu mata uang apa yang dipakai di wilayah ini.

Setidaknya dia sudah sampai. Dari depan sini, dia melihat seluruh lantai bangunan gelap gulita. Lampu jalanan di depannya juga. Tempat ini pun sama reotnya dengan seluruh bangunan di sekelilingnya.

Ketiadaan penerangan itu juga yang membuat Nurin tak menyadari keberadaan orang di depannya hingga orang itu, seorang gadis, terlebih dahulu menghardiknya dengan nada dingin, "Jangan dekat-dekat."

Sontak, Nurin mematung. Darah seakan turun dari wajahnya. Bulu kuduknya merinding. Apakah ini lawannya? Ia mengutuk di dalam hati, tak mengira ia akan bertemu musuh pertamanya di saat seperti ini.

Masih ada kesempatan. Ada banyak bangunan di sekelilingnya, termasuk gedung tujuannya. Kalau ia bisa memancing gadis itu masuk ke ruangan tertutup di dalam, ia bisa memperoleh boneka baru.

"Apa kamu nggak dengar? Jangan dekat-dekat," hardik orang itu lagi. Gadis itu terlihat masih muda, penampilannya memberi kesan dia sekitar 21-22 tahun, seumuran dengan Nurin. Rambutnya yang putih panjang dikuncirnya dengan rapi. Sebuah kotak kosmetik tergenggam di tangannya, digunakan untuk bercermin sementara tangan lainnya membantunya merias diri. Di pinggangnya, tergantung sepasang pedang pendek yang tersarung. Dari bentuknya, ia perkirakan itu adalah wakizashi. Ia cukup sering menonton anime untuk mengetahui jenis-jenis pedang Jepang macam itu.

Dia cantik. Amarah Nurin menggelegak, ia selalu benci melihat orang yang lebih cantik dari dirinya. Walau ia menyukai kekuatannya, ia sadar kalau ia tidak bisa terlihat cantik sementara seluruh tubuhnya telah menjadi sumber racun dan penyakit. Tapi, untuk sekarang, dia bisa menahan diri. Tak masalah. Ia hanya tinggal menunggu kesempatan yang lebih baik. Kemenangan terletak di tangan mereka yang sabar.

"Ah... eh... ada apa ya?" Nurin mencoba bertanya, sambil diam-diam mengambil dua-tiga langkah maju.

"Pakai tanya-tanya segala?" dia menutup kotak kosmetiknya. "Bau kamu itu nyebelin. Liat, lalat sampai ngelilingin kamu!"

Urat-urat Nurin menegang. Makhluk cantik ini mengejeknya. Mata abu-abunya menyorot dingin dan merendahkan. Tangannya sampai bergetar karena ia tak kuasa untuk membendung emosinya. Akal sehatnya masih mencoba membantunya mengendalikan diri, tapi usahanya perlahan-lahan tersisih.

"Saya nggak minat berantem sekarang. Ngerti? Saya tahu kalau si merah itu nyuruh kita saling menghabisi, biar kita dihidupkan kembali. Dan percayalah, saya memang menginginkan itu. Tapi untuk sekarang, saya kasih kamu kesempatan: pergi sejauh-jauhnya dari sini sebelum bau itu nular ke saya!"

"Saya nggak ngerti," kata Nurin sambil mendekati gadis itu lagi. Suaranya lirih, karena bila ia meninggikan nadanya lagi akan terasa sekali kalau ia marah. "Saya nggak maksud mengganggu Anda. Kalau Anda nggak ingin bertarung, saya juga nggak. Tapi tolong dengar, saya bingung sebenarnya ada apa di sini. Saya hanya butuh orang untuk ditanya..."

Tiba-tiba, si Rambut Putih melesat cepat. Tangannya sudah meraih dan mencabut kedua pedangnya. Satu bilah menempel di sisi leher Nurin, satu lagi di sisi perutnya. Dengan satu gerakan lagi, Rambut Putih bisa memburai perut Nurin sekaligus menggoroknya.

Rambut Putih memicingkan mata. Bibirnya mengerut, menunjukkan ketidaksukaannya berdiri sedekat ini dengan Nurin. "Kalau kamu nggak mau mati, ya cepat pergi. Sebelum saya berubah pikiran."

"Oke." Nurin mengangkat tangan dan mulai melangkah mundur pelan-pelan. "Anda ingin berdandan? Oke, saya ngerti. Biar saya pergi dengan damai..." ia menutup bibir, mengumpulkan ludah di mulut. Saat ia sudah jauh dari pedang Rambut Putih... Nurin melontarkannya.

Ludah manusia mengandung segudang bakteri di dalamnya. Jumlah dan tingkat berbahaya bakteri-bakteri itu melonjak drastis di tubuh seseorang seperti Nurin, yang dihantui oleh segudang penyakit. Nurin memang memiliki imunitas terhadap penyakit-penyakit itu, tapi tidak demikian dengan orang lain. Karenanya Nurin menyeringai puas saat ludahnya tepat mengenai mata Rambut Putih.

Rambut Putih mengerang kesakitan. Ia memegangi mata kanannya. Ludah Nurin membuat matanya terasa terbakar. Tak hanya itu, bakteri-bakteri di dalam cairan saliva itu mulai memasuki jaringan matanya dan menggerogotinya dengan cepat, perlahan tapi pasti mematikan permanen fungsi penglihatannya sekaligus membusukkannya.

"Tadi ngomong apa kamu, NENEK?!" jerit Nurin, memilih ledekan itu karena warna rambut lawannya, bukan karena ia memang mengetahui fakta akan usia lawan bicaranya. "Mentang-mentang kamu cantik kamu punya hak untuk ngejek aku? HA?!" masih teringat di kepalanya bagaimana si gadis bertopi hitam tidak mau mendekatinya, dan bagaimana si pria bermasker gas menembaknya. Seluruh kemarahan yang sudah ditahannya meluap. "Mari kita liat gimana kamu bisa tetap cantik saat mata kananmu mulai infeksi dan jadi bongkahan daging bengk-"

Rambut Putih melesat lagi. Kecantikannya dikoyak dengan cara seperti itu membuatnya murka. Lalat-lalat Nurin bergerak tanpa diperintah, mencoba melindungi majikan mereka. Wakizashi yang dipegang Rambut Putih menjatuhkan mereka satu demi satu tanpa kompromi. Mereka yang lolos dan mencoba menembus daging Rambut Putih menemui kejutan saat ternyata kulit dan daging gadis itu begitu keras, hingga mereka justru hancur.

Nurin pun sadar kalau ia dalam masalah besar. Jadi, sementara lalatnya menahan Rambut Putih ia melesat masuk ke dalam gedung.

Kini ia punya dinding. Kini ia punya atap untuk menaunginya. Akhirnya, ia berada di dalam tempat yang bagus untuk bertarung.

Namun ada masalah serius baginya: ia sudah kelelahan, dan kecepatan larinya sama sekali tak bisa dibanggakan. Tidak demikian halnya dengan Rambut Putih, yang dapat melesat mengejarnya. Gadis itu sudah berada di belakangnya. Bilahnya terayun, hendak menebas Nurin.

Nurin menoleh tepat waktu. Tangannya terangkat secara refleks. Tanpa kompromi, sepasang wakizashi tajam itu memotong tiga jarinya sekaligus.

"AAAAA!!!" Nurin menjerit kesakitan. Ia melangkah mundur, mencoba menjauhkan diri dari pukulan fatal.

Lalat-lalat Nurin mencoba melindungi majikan mereka dari Rambut Putih, namun pedang gadis itu menghabisi mereka seperti sebelumnya. "Biasanya saya tidak sekejam ini." Urat-uratnya dapat terlihat menegang, sementara matanya yang diludahi Nurin mulai menjadi merah dan menghitam. Itu sama sekali bukan iritasi ringan. "Jadi salahkan dirimu sendir-"

Nurin mengibaskan luka di tangannya, mencipratkan lagi darahnya ke lawannya. Karena bilah gandanya masih menahan para lalat, Rambut Putih tak sempat mencegah cipratan itu mengenai kedua matanya sekaligus. Ia mengerang lagi, memberi Nurin kesempatan lari. Dia masih bisa melihat ada ruangan di depannya. Ia mengerahkan setiap kekuatannya yang tersisa untuk berlari dan masuk ke sana.

Rambut Putih mengikutinya dari belakang. Cipratan darah itu tak seterkonsentrasi lontaran ludah. Ia masih bisa melihat, walau pandangannya kacau. Dalam hati, gadis itu berharap makhluk di padang merah yang mengaku sebagai Tuhan dapat menyembuhkannya karena cidera ini bisa merusak kecantikannya.

"Makhluk bau sialan!" umpat Rambut Putih murka. Kakinya menendang pintu ruangan yang dilewati Nurin hingga terbuka.

Seketika itu juga, dia disambut oleh hembusan gas berwarna hijau. Nurin memiliki dinding, langit-langit, dan jendela yang sempat ia tutup. Gas penyakit itu merebak keluar dari tubuhnya, merasuki paru-paru dan pori-pori kulit Rambut Putih. Seketika itu juga, gadis itu terbatuk. Tenaganya seperti diserap keluar dari tubuhnya. Kepalanya pening dan temperaturnya meningkat, membuatnya merasa seperti terkena demam mendadak.

Sementara gasnya bekerja, Nurin mendekam di sudut ruangan. Tak bersuara. Ia tahu lawannya kesulitan melihat, jadi ia tidak akan mengejeknya sekarang. Ia akan menunggu hingga penyakitnya bekerja, lalu ia baru mengatasinya.

Sepertinya ia tidak akan sempat melakukan itu. Rambut Putih menjerit, melepaskan kekuatannya. Dalam detik itu, segala makhluk hidup yang berada di dekatnya berubah menjadi patung batu. Nurin tak terkecuali. Dia dapat merasakan tubuhnya tiba-tiba tak dapat digerakkan. Pandangannya hilang, kemudian pendengarannya. Jantungnya berangsur-angsur berhenti berdetak. Dan pada akhirnya, ia hanya menjadi satu ornamen di kastel asing ini, tak mampu bergerak, bersuara, bahkan berpikir.

***

Rambut Putih, Cel, terjatuh. Seharusnya ia tak menggunakan sihir tadi. Mata, telinga, hidung, dan sisi bibirnya mulai mengeluarkan darah, efek samping dari tekanan yang teknik tadi timbulkan kepada tubuhnya. Seluruh saraf dan sendinya seakan menjerit. Walau ia ingin bergerak, sekujur tubuhnya lumpuh. Ia terbaring lunglai, tak dapat melakukan apa-apa. Setidaknya, ia berhasil mengatasi lawannya. Padahal ia sudah menahan diri untuk tidak menggunakannya secara penuh.

Meski pandangannya terbatas, Cel dapat melihat lawannya berdiri di sudut ruangan, mematung dengan menyedihkan. Cel bisa memulihkan lawannya kalau dia mau, tapi ia tak perlu melakukan itu. Malah, sebaiknya ia menghancurkan saja patung batu itu untuk memastikan kemenangannya. Gadis bau itu berhak menerima hukumannya.

Dengan lenyapnya kesadaran Nurin, kabut hijau berangsur-angsur menghilang, keluar lewat pintu ruangan. Cel hanya tinggal bertahan dari penderitaan ini, setelah itu ia bisa mulai memulihkan diri sebelum melanjutkan membunuh yang lain. Ia harus hidup, demi Ethan.

Mata Cel terpejam. Dalam sesaat itu ia dapat melihat dirinya berada di Taman Bulan, menerima hadiah dari kekasihnya... dan tewas mendadak seakan ia baru saja mengeluarkan teknik pamungkasnya dengan berlebihan. Ia harus hidup, menemui pria itu lagi, dan menanyainya. Ia hanya butuh jawaban.

Cel terbatuk. Setelah tiga batuk singkat, ia kembali terbatuk lagi, lagi, dan lagi... hingga darah pun keluar dari tubuhnya.

"Ha..." nafasnya terengah. Masih ada sedikit kabut tersisa di ruangan. Ia mencoba merangkak keluar, menyelamatkan diri dari gas berbahaya ini.

Luka yang dideritanya membuat penyakit ciptaan Nurin merasuki tubuhnya dengan cepat, memperparah rasa sakit dari tekniknya sendiri. Ia semakin tak bisa bergerak. Otaknya digerogoti dari dalam, membuatnya kesulitan berpikir.

"E...than..."

Ia melihat Taman Bulan. Ia melihat salju.

"Ethan..."

Ia kejang-kejang. Merasakan dorongan dari lambung, ia muntah, mengeluarkan cairan kehijauan. Gabungan penyakit dari gas, ludah, dan darah Nurin mendominasi tubuhnya. Tak ada gunanya ia bisa memperkeras fisiknya sementara yang terpengaruh adalah organ-organ dalamnya.

Ia bisa bertahan. Ia harus bertahan. Ia tak boleh mati di sini, dengan begitu konyol. Sudah 400 tahun ia hidup. Sudah tak terhitung lawan yang ia taklukkan. Ia tidak boleh mati di sini...

Cel tidak mati. Penyakit yang menggerogoti kepalanya membuatnya memikirkan Nurin. Ada gagasan muncul entah dari mana, mengatakan kalau gadis itu pasti bisa menyembuhkannya. Toh, ia unggul. Ia bisa mengancam atau membunuh Nurin bila gadis bau itu ingin macam-macam lagi. Otaknya hanya ingin rasa sakit tak terperi ini untuk berakhir.

Cel membaca mantera. Tubuh Nurin bersinar dan ia jatuh berlutut. Jantungnya kembali berdetak, organ-organnya kembali berfungsi, dan ia kembali bernafas. Ia jatuh berlutut sambil terengah-engah, menikmati kembali udara yang sempat meninggalkan tubuhnya. Ia sempat tak menyangka dirinya akan kembali menjadi manusia hingga ia melihat seperti apa lawannya sekarang.

"Tolong..." pintanya. Air mata darah mengalir dari sisi kedua matanya yang semakin membusuk. Tekadnya untuk tetap mengendalikan situasi sirna, sementara ia bahkan tak mampu merangkai pikiran apapun. Ia hanya merasakan dorongan untuk menghentikan permintaan.

Nurin mengerti. Dan ia pun tertawa. "Kamu tidak cantik, mbak. Sama sekali nggak." Dia berdiri, sementara Cel jatuh berlutut kesakitan di hadapannya. Ia menendang pelan Cel hingga wanita itu terjatuh. Lalu, ia menginjak pelan kepalanya. "Kamu akan menderita. Penyakitku akan menggerogoti tubuhmu selama sisa hidupmu. Seiring berjalannya waktu, kamu bahkan tak akan lagi mengingat kalau kamu pernah menjadi sedemikian cantik."

Injakan Nurin mengeras. "Sekarang, aku adalah dewamu. Aku bisa mengurangi rasa sakitmu... aku bisa menyembuhkanmu... tapi kamu harus melayaniku. Dengar?"

Cel tidak lagi merespons. Penyakit itu telah merusak otaknya dengan parah.

"Sekarang, berdiri!" mematuhi perintahnya, Cel bangkit. "Masih ada tiga orang lagi yang harus kuhadapi. Sebagai budakku, sebagai BONEKA DAGINGKU, kamu akan membantuku."

Lima lalat Nurin yang tersisa memasuki ruangan.

"Lepas dulu jaketmu." Cel mematuhi lagi. "Kamu sudah membunuh lalat-lalatku yang berharga. Kuharap kamu nggak keberatan menjadi induk mereka untuk membuat beberapa yang baru."

Sisa-sisa kesadaran Cel ingin menjerit, namun mulutnya terkatup. Ia hanya bisa membiarkan dua dari lima lalat itu menembus tubuhnya, menggali dagingnya dan... mulai bertelur di sana.


2nd Fight

"Adududuh..."

Luna terbangun dengan sakit kepala hebat. Kepala gadis berambut perak panjang itu terbentur saat pendaratan. Untung dia masih hidup, tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Saat pandangannya kembali menjadi jelas, Luna agak kaget dengan yang ia temukan. Begitu melihat bulan besar di langit, ia langsung tahu kalau ia berada di "kandangnya," tempat ia dididik dan dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran yang ahli dalam usianya yang bahkan belum menginjak lima belas. Ia tahu kalau Hvyt dikomando oleh pemimpin mereka untuk mengantar para peserta ke area yang familier; ia tidak menyangka mereka memilih tempatnya.

Bagus, pikirnya sambil tersenyum. Dengan begini setidaknya ia memiliki kesempatan lebih baik untuk bertahan hidup. Ia mengenal seluk beluk bangunan dua puluh lantai ini seperti rumahnya sendiri. Tempat ini tidak memiliki perangkap apapun, dan mungkin rekan-rekannya sesama pembunuh bayaran tidak ada di sini. Tapi ia bisa memanfaatkan familiaritas area untuk menyusun jebakan-jebakan baru. Sudah begitu, saat ini sedang bulan purnama pula, sehingga ia bisa menggunakan kekuatan sihirnya dengan maksimal.

Masalahnya, perlukah ia melakukan itu?

Selama ini, Luna membunuh dengan harapan akan tiba waktu di mana jasa orang-orang seperti dirinya tak diperlukan. Ia akan mengikuti perintah dari klien-kliennya setelah memastikan targetnya memang cecunguk yang patut dibersihkan, lalu ia akan mengatasi mereka dari kejauhan. Hingga ia mati, ia mendapati kalau orang-orang jahat baru selalu bermunculan untuk menggantikan mereka yang telah terkirim ke alam baka mendahuluinya.

Yang dijanjikan oleh Thurqk hanyalah kebangkitan kembali dari kematian, bukannya hal besar seperti perdamaian dunia. Haruskah ia membunuh lagi sesama penghuni akhirat ini demi tujuan itu? Bagaimana jika kematiannya terjadi karena ia pantas mendapatkannya?

Pertanyaan moralitas seperti ini membuat Luna pusing. Ia memutuskan untuk menyisihkannya dulu. Dalam hati ia membuat ketetapan: ia tidak akan menyerang pertama, tapi kalau ada yang kurang ajar menyakitinya duluan, maka ia akan ganti membalas.

Luna memulai aksinya dengan memeriksa senapannya, yang tertindih oleh bobotnya saat ia jatuh. Ia menghela nafas melihat senjata itu, Armalite AR-50, baik-baik saja. Walau ia sudah diajari sihir, ia masih tetap lebih yakin menggunakan senjata api dalam pertarungan. Menghancurkan musuh dengan rapalan mantera mungkin terkesan hebat, tapi sebagai pembunuh, tak ada yang lebih lega ketimbang melihat seorang pria dengan catatan kriminal panjang tersentak oleh kaliber .50.

Luna mengangkat senapan yang seharusnya berat sekali itu dengan tanpa masalah. Ia lalu berdiri di ujung atap dan mulai memeriksa sekeliling lewat teleskop. Fungsi khusus kacamatanya aktif, membantunya melihat menembus kegelapan yang tak disinari lampu jalan.

Ia melihat tempat-tempat yang sangat dikenalnya. Semuanya ditutup papan dan disegel, seperti yang ia ingat. Tempat ini begitu sunyi sejak resesi, dan itu membuatnya terasa menyenangkan untuk dijelajahi di malam hari.

Ia tak menemukan siapa pun. Ada taksi yang berlalu-lalang, tapi ia tak dapat melihat wujud supirnya. Ia tak dapat melihat gelandangan, warga, bahkan anjing. Muncul godaan untuk menghentikan dulu pengawasannya dan turun ke lantai dasar, memeriksa dulu apa jangan-jangan ada musuh yang akan datang dari sana. Ia baru bangun setelah sekian lama, jadi itu bukan kemungkinan mustahil. Ia juga penasaran apa masih ada rekan-rekannya yang mengawasi tempat ini. Memang kadang mereka semua pergi sekaligus, tapi kalau ada satu saja di sini, siapa tahu ia bisa meminta bantuan. Lagi pula, seorang sniper selalu butuh spotter.

Sebelum ia sempat menurunkan teleskopnya, mata Luna membelalak. Ia menangkap ada sosok humanoid bersayap yang terbang mendekat.

Steady...

Dia membidik. Sesuai rencana, ia tidak akan menembak duluan. Tapi ia harus siap kalau makhluk itu ingin menyerangnya.

Steady...

Makhluk itu semakin mendekat. Kedua sayap hitamnya membawa tubuh kurusnya melesat dengan kecepatan yang mengagumkan. Luna mengernyit. Tubuh pria itu lebih jangkung dibanding dengan orang-orang yang ia kenal. Dan sepasang mata cokelat yang pria itu miliki seperti menatap balik bidikannya dengan dingin.

Stea...

Eh?

Pada detik itu, insting Luna memerintahkannya untuk menghindar. Walau lawannya masih begitu jauh, dan ia terlindung oleh pagar pengaman atap, ia mematuhinya dan melompat ke samping. Reaksi tepat waktu itu menyelamatkannya dari tebasan sabit besar, yang nyaris saja mengenai sisi lehernya.

Luna berguling lincah. Moncong senapannya langsung terarah ke lawannya, yang kini mengambang di depannya. Wajah pria bersayap itu tetap kaku, tak menunjukkan ekspresi apapun, di hadapan senapan berkaliber besar itu.

"Menakjubkan. Seharusnya kau tidak bisa menghindari tebasanku tadi," ujar pria itu dingin. Satu-satunya petunjuk kalau ia jujur, dan bukan sekedar melemparkan pujian berselimut ejekan, hanyalah alis kanannya yang sedikit terangkat.

"Terima kasih, Tuan Sayap. Memang banyak yang bilang kemampuan bertarungku cukup istimewa," balas Luna santai, bidikannya tidak lepas dari tubuh lawannya.

"Sepertinya dewa itu, Thurqk, menghendaki kita saling membunuh."

"Sepertinya juga begitu. Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"

Si Sayap memejamkan mata. "Di dunia ini, keberadaan setiap nyawa sangatlah berharga. Baik tumbuhan hingga makhluk yang hidup di semesta jauh memiliki hak untuk hidup."

"Kalau begitu kita tidak akan bertarung?" Luna akan menghormati keputusan itu, jika memang Si Sayap menginginkan demikian.

"Tapi, kau sudah mati. Itu masalahnya. Sudah seharusnya kau melanjutkan perjalananmu ke akhirat, bukannya kembali ke alam manusia." Luna dapat menebak sendiri kata-kata itu akan berujung ke mana. "Dan kurasa Thurqk bisa memberiku jawaban yang kuharapkan, jadi..."

Sebagai balasan atas serangan yang ia derita, Luna menarik pelatuk. Satu peluru kaliber .50 melesat menembus udara, tapi lawannya sudah tidak ada lagi di tempatnya berdiri. Bukan hanya itu, lawannya juga tidak bisa ia temukan di manapun. Orang itu menghilang tanpa jejak...

Pria itu muncul lagi dari belakang Luna. Dia menebaskan sabitnya sambil melesat turun. Luna masih mampu menghindar, namun punggungnya tetap terkena sedikit sayatan. Luka yang tertoreh di sana terasa sakit dan terbakar. Ia sudah memperoleh cukup banyak pengetahuan soal racun untuk mengetahui kalau dirinya baru menderita serangan berbahaya.

Risiko dari senjata jarak jauh seperti AR-50 adalah... ketika target sudah terlalu dekat, senjata perkasa itu jadi terlalu sulit untuk digunakan. Luna tetap memaksa untuk menembak sekali, dengan harapan pelurunya minimal bisa mengenai sayap lawannya. Ia gagal. Pria bersayap tadi menghindarinya tanpa tersentuh.

Dengan mulus, pria bersayap tadi melesat di tanah. Ia lalu menebaskan sabit besarnya sebelum Luna sempat berdiri, dengan ayunan dari bawah ke atas. Luna dapat menghindarinya dengan berguling lagi.

Moon... grant me your strength...

Ini adalah situasi hidup-mati. Luna tidak bisa bersantai-santai sementara targetnya berdiri terlalu dekat darinya. Ia merasakan luapan energi mengisi tubuhnya, anugerah dari cahaya bulan yang kini meneranginya. Ia biarkan senapannya tertinggal di lantai atap, sementara ia mencabut magnumnya dari sarung dan membidik.

Peluru pertama meluncur. Lawannya dapat menebas laju timah panas itu sebelum mengenainya. Tahu kalau pistol dengan kaliber sebesar magnum membutuhkan jeda beberapa detik untuk ditembakkan kembali, si pria bersayap memutuskan untuk mengayunkan tebasan keduanya demi memenggal Luna...

Namun dia salah perhitungan. Magnum milik Luna adalah senjata khusus yang sudah dimodifikasi oleh sihir, dan dapat berfungsi di saat ia berada dalam limpahan cahaya bulan seperti ini. Jeda tembakannya pun sangat singkat, menyaingi pistol otomatis. Peluru kedua menyusul cepat, mencoba mengenai si pria bersayap.

Lajunya hampir mengenai sayap pria itu, tapi sebelum terkena, pria itu sudah terlebih dahulu melenyapkan sayapnya, membiarkan serangan Luna menembus udara kosong.

Saat tembakan ketiga datang, pria itu sudah lebih siap. Dia memotong peluru itu dengan tebasan lain, sebelum melanjutkan memotong peluru berikutnya dengan tebasan lanjutan. Bahkan peluru ketiga dan keempat pun tak bisa menembus pertahanannya. Yakin kalau ia telah menghabiskan seluruh peluru lawannya, segera saja pria itu melanjutkan serangannya dengan tebasan keempat, yang ia coba ayunkan untuk menyayat Luna...

Luna dapat menghindari tebasan itu lebih baik dari sebelumnya. Kemudian, sementara sabit lawannya masih terayun, ia acungkan kembali magnumnya. Masih ada peluru yang keluar dari senjata itu. Itu adalah energi sihir, yang tercipta dari bantuan bulan kepada dirinya. Efeknya pun masih sama seperti pistol seharusnya.

Tubuh pria itu terdorong satu langkah dan jatuh terjengkang. Lubang peluru yang tercetak di dadanya tidak terlalu besar, persis seperti bentuk peluru kaliber .44. Tidak demikian halnya dengan luka di punggungnya, yang tercipta saat peluru itu merobek jalan keluar dari sana. Luka itu besar dan menganga, seakan baru ada pria dewasa yang menancapkan tangan di situ. Jantungnya masih selamat, tapi paru-parunya berlubang. Saat ia datang dengan melesat ke sini, pria itu tak menyangka kematiannya akan datang seperti ini.

Luna terengah. Pandangannya berbayang dan tubuhnya mulai terasa panas akibat racun. Tetap ia masih bersiaga, mengacungkan revolvernya ke arah lawannya.

"Kau..." pria itu berusaha bangkit dan berbicara. Ia merasa belum menggunakan semua kekuatannya. Tapi tubuh manusianya tidak mendukungnya. Jangankan bergerak, bahkan berbicara pun nyaris mustahil. Ia menyadari dengan terlambat kalau ia terlalu meremehkan lawannya.

Tetap, mengandalkan kekuatan tekadnya, pria itu masih bisa memunculkan kembali sayapnya. Tiba-tiba saja sayap itu kembali terkepak, membuat Luna terlonjak. Gadis berambut perak itu kembali dibuat membelalak saat tubuh lawannya yang sudah berlubang kembali mengambang di atas permukaan tanah; mata cokelatnya bersirobok dengan Luna.

Dan tiba-tiba saja, pria itu sudah melesat lagi, secepat serangan pertamanya. Kalau saja Luna tidak menggunakan sihirnya, ia pasti sudah terpenggal. Bahkan hindaran darurat tadi saja tidak sepenuhnya berhasil, karena keningnya pun masih menerima torehan dalam.

Tenaga di luar nalar itu masih membantu si pria bersayap meluncurkan satu serangan lagi: ayunan vertikal dari bawah ke atas. Luna menghindarinya dengan lebih baik. Magnumnya lalu menyalak sekali, dua kali, tiga kali, menghajar bertubi-tubi tubuh pria itu dari samping. Saat pria itu akhirnya terjatuh, Luna masih memanfaatkan peluru senjatanya yang tak terbatas untuk mengoyaknya lebih jauh... hingga yang tergeletak di sana hanya tumpukan daging dan tulang.

"Ha! Seharusnya kau lebih serius dari awal, Tuan Sayap!" seru Luna. Dia terkekeh, girang karena baru saja berhasil lolos dari kematian. Tapi melihat kehancuran yang ia ciptakan membuat kesenangannya sirna beberapa saat kemudian, digantikan oleh kemurungan. Kembali ia memikirkan, apakah yang dilakukannya sejauh ini sudah benar? Apakah setiap target yang ia "lubangi" memang layak untuk ia habisi?

Ataukah ia telah menenggelamkan dirinya dalam dosa yang tak termaafkan, dan karenanya Tuhan memutuskan untuk memaksanya terus membunuh, bahkan setelah maut merengut jiwanya?


3rd Fight

Alunan musik dari suling bambu memenuhi koridor. Peniupnya adalah Salvatore, seorang pria dari ras Meteo. Seperti makhluk-makhluk lain dari kaumnya, Salvatore memiliki fisik yang merupakan perpaduan sempurna dari manusia dan hewan primata. Ia memiliki hidung menonjol berwarna kemerahan, seperti yang dimiliki oleh monyet dukun. Ada ekor panjang yang tumbuh di bagian bawah tubuhnya, membuat ia harus melubangi celana panjang hijaunya agar organnya itu bisa tetap bergerak leluasa.

Hvyt yang menerbangkannya ke sini memutuskan menjatuhkannya di jalanan kota. Ia sempat mencoba berkeliling, agar ia bisa menemukan orang-orang yang harus ia hadapi di ronde ini. Setelah lama berjalan ngalor-ngidul tanpa hasil, ia memasuki bangunan tinggi dan reot yang dilihatnya, pergi ke lantai sepuluh, lalu duduk dan memainkan suling untuk menghabiskan waktu.

Komplek ini terlalu sunyi. Kumis Salvatore malah sempat menjadi layu karena tak dapat menemukan sumber irama semesta. Tak ada yang mendengungkan nyanyian, tak ada yang bersenandung, tak ada yang memetik alat musik, bahkan tidak ada perpaduan harmoni dari hembusan angin. Ia dikelilingi oleh kesenyapan yang membuatnya bosan dan jengkel. Entah ke mana perginya para gadis yang bisa ia buai dengan alunan iramanya. Dari semua tempat yang bisa Hvyt pengantarnya pilih, ia merasa makhluk merah itu sengaja menjatuhkannya di posisi salah.

"Hmm?" Salvatore mengendus-endus. Tiupan serulingnya berhenti. Ia menangkap bau asing datang dari bawah. Aromanya begitu menusuk, hingga meski lokasinya berada sekitar sepuluh lantai di bawah lantainya, ia tetap merasa sedikit pusing merasakan efeknya. Apakah itu lawannya?

Tangan Meteo berambut afro itu mengusap dagunya. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menyelidiki sumber bau ini? Apa ia harus mulai bertarung untuk memastikan dirinya dapat bertahan hidup?

Sebenarnya, Salvatore malas untuk berkelahi. Ia musisi, bukan begundal. Ia memperoleh nafkah dengan seni tingkat tinggi, bukannya bertarung di ring seperti kumpulan orang idiot. Karenanya, meski ada kemungkinan lawannya sudah di lantai dasar, ia memutuskan untuk mengabaikannya. Bagaimanapun juga, aroma tidak sedap seperti ini hanya bisa dimiliki oleh pria kelebihan berat badan dengan belahan bokong yang terlihat jelas, karena tak dapat ditahan oleh celananya yang kesempitan. Bisa jadi pria itu pendek pula. Apa serunya menghadapi seseorang seperti itu?

Pada dasarnya, Salvatore juga tidak terlalu buru-buru ingin hidup kembali. Justru sejak hidup ia bercita-cita untuk menemui kembali seseorang, yang telah terlebih dahulu meninggalkannya, di alam kematian. Ia marah menyadari kalau dirinya justru harus terlibat dalam perkelahian dungu macam ini dulu, dan bukannya langsung lanjut ke akhirat yang sejati.

Itu bukan berarti ia akan membiarkan dirinya dibunuh tentu saja. Terpikir olehnya kalau ia mungkin bisa meminta Thurqk mempertemukannya dengan orang yang ia cari. Seharusnya, bila makhluk merah itu memang Tuhan, itu akan jauh lebih mudah ketimbang menghidupkannya kembali.

Salvatore melanjutkan memainkan seruling. Tiupannya tak berhenti meski aroma busuk di lantai dasar jadi semakin kuat. Tiupannya tak berhenti meski di atap mulai terdengar salakan-salakan senapan dan pistol. Ia menduga kalau penembak senjata tidak elegan seperti itu pastilah pria-pria brewokan dengan tampang suram tanpa masa depan. Apa serunya bertemu dengan orang-orang seperti itu?

Tiupan seruling Salvatore baru berhenti saat ia menyadari lift bangunan, yang terletak agak jauh di kirinya, mulai bergerak.

Saat ia menemukan bangunan ini, Salvatore kira tak mungkin masih ada listrik yang mengalirinya. Ia dapat mencapai lantai sepuluh ini dengan melompat-lompat lincah di tangga darurat. Tapi kini lampu indikator lift mulai menyala dan bergerak, dimulai dari lantai satu, dua, tiga, dan seterusnya. Ada jeda di antara pergerakan lift, membuat Salvatore menyimpulkan kalau ada perhentian di tiap lantai. Ia penasaran apakah sebenarnya gedung ini lebih ramai dari dugaannya.

Lift juga berhenti di lantai sepuluh.

"Bah, ayo sini deh!" seru Salvatore. Kalau pendatang dari lift ini ingin macam-macam, ia sudah mempersiapkan lagu sambutan. Setidaknya yang datang ini pasti bukan penyebab bau di bawah. Bila hidung Salvatore benar, orang itu masih belum bergerak dari lantai dasar.

Pintu lift berdenting terbuka. Dalam sesaat singkat itu cahayanya yang benderang memenuhi koridor. Salvatore memicingkan mata. Lift itu hanya diisi oleh satu orang. Lebih tepatnya, seorang gadis bertank-top putih. Pilihan pakaian itu, juga rok mini merah dan sepatu bot yang dia pakai sebagai bawahan, memamerkan bentuk tubuhnya yang bagus.

"Woohoo!" Salvatore langsung melonjak bangun. Ya, orang itu lebih pendek empat puluh sentimeter dari dirinya. Tapi untuk kali ini, ia tidak otomatis menganggap orang itu sebagai sosok inferior yang harus diremehkan. Ia perhatikan bentuk tubuh si pendatang, juga rambut putihnya yang berkilau dalam cahaya lift. Walau ia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, ia langsung tahu kalau dia berhadapan dengan gadis cantik. "Selamat malam, Non! Sudikah Anda mendengar lantunan seruling saya? Saya punya beberapa lagu spesial nih untuk Non!"

Gadis itu, Cel, melangkah keluar dari lift. Pintu lift tertutup, mengembalikan kegelapan yang hanya dirusak oleh cahaya bulan. Ingin memberi impresi bagus pada pendatang baru ini, Salvatore mulai memikirkan lagu apa yang ingin ia suguhkan. Balada, kah? Atau sekedar gubahan lagu-lagu pop top 20 di Galaksi?

Belum sempat ia menyanyikan apa-apa, Cel membungkuk dan memuntahkan cairan kental. Salvatore kaget. "Waduh, Non! Non nggak apa-apa?" tanyanya sambil mendekat. "Non sakit apa? Butuh bantuan? Saya punya lagu untuk nyembuhin penyakit!"

Salvatore menyentuh Cel, hendak memanfaatkan kesempatan untuk memulai pendekatan. Benaknya mulai menyusun skenario mengenai kemungkinan-kemungkinan perkembangan romansa dari satu pertemuan ini. Cel menanggapi dengan mencoba menggigit Salvatore.

Refleks Salvatore yang bagus menyelamatkannya dari gigitan itu. Dia melompat satu langkah. Saat benaknya kembali bekerja, ia melongo. "A-apa? Ngapain kamu, Non?!"

Cel meraung bak seekor binatang buas. Dalam sekejap itu, Salvatore sempat melihat jelas wajah gadis di hadapannya. Ia tertegun. Wajah itu tak dapat dikatakan cantik. Bahkan dalam sorot cahaya bulan, Salvatore masih dapat melihat kedua mata Cel sudah menghitam karena membusuk. Wajahnya sampai menghitam karena bekas darah. Masih ada bekas muntahan yang menempel di dagunya.

"Tolong..." bisik Cel pelan.

"Tolong?"

"Tolong..." ia mencabut kedua pedang pendeknya.

"Oy, oy, Non! Kamu nggak minta tolong supaya saya mati kan?"

"Bunuh aku."

"Hah?"

Cel melesat, menebaskan kedua pedangnya bergantian. Salvatore bersalto ke belakang, mendarat di atas telapak tangan kirinya, lalu bersalto lagi dan mendarat di lutut.

"Bunuh aku..." Cel memohon. "Bunuh aku. Bunuh aku. Bunuh aku."

Salvatore meringis miris. Mulai yakinlah dia kalau lawan bicaranya tidak menyerangnya atas keinginan sendiri. Melihat jejak air mata darah di pipi gadis itu, ia langsung menyimpulkan sendiri kalau sesuatu telah membajak si rambut putih bertubuh bagus ini. Salvatore sangat benci melihat seorang wanita menderita, baik yang cantik maupun yang tidak, karenanya ia terdorong untuk membantu.

Sambil menghindari tebasan-tebasan Cel, Meteo berambut afro itu menghela nafas. Ia rasakan pergerakan aliran Irama Jiwa yang masih dikandung tubuhnya. Kemudian, ia manipulasi energi yang tercipta dari lantunan melodi semesta itu untuk berbicara. Suaranya lembut dan menenangkan saat kata-katanya mulai meluncur, "Nona. Tolong... dengarkan saya."

Cel meluncurkan tebasan ganda lain. Salvatore mengelak dan terus berbicara. "Saya tahu Nona nggak ingin berantem dengan Meteo ganteng seperti saya. Saya bisa merasakan itu. Jadi tolong, demi kebaikan kita bersama, gimana kalau kita BERHENTI dulu dan bicarakan ini baik-baik!"

Seperti yang Salvatore harapkan, suara merdunya dapat meyakinkan lawannya untuk berhenti menyerang. Cel jatuh berlutut. Sambil meraung pilu, ia tancapkan kedua pedangnya ke lantai.

"Nah, begitu. Tenang dulu..." Salvatore mulai merasa lemas. Karena tidak ada melodi apapun dari kejauhan, dan ia baru saja mati, energi Irama Jiwa yang ia dapat hanya ia peroleh dari sedikit interaksi di padang merah dan permainan musiknya sendiri. Tetap, ia mencoba untuk mencari tahu dulu masalah yang mendera gadis berambut putih di hadapanya. "Sebenarnya ada apa? Kenapa Anda ingin mati?"

"Cewek bau itu..."

"Ya?" Salvatore merasa tidak mengenal cewek yang dimaksud Cel. Apakah ternyata penyebab aroma busuk di bawah sebenarnya perempuan? Perempuan sejorok apa yang bisa melakukan hal seperti itu?

"Cewek bau itu... tubuhnya... menyebar penyakit."

Jadi dia benar-benar sakit, pikir Salvatore. Ia mulai mengingat-ngingat irama resital untuk menyembuhkan penyakit.

"Sekarang ia... sekarang ia berbicara di dalam kepalaku. Dia... dia mengendalikan tubuhku. Karenanya..." Cel bersujud. "Karenanya bunuh aku, sebelum terlambat."

Jawaban Salvatore adalah gelengan. "Maaf, Non. Saya nggak bisa menyakiti perempuan. Tapi saya bisa menyembuhkan Anda."

"Bunuh aku."

Mengabaikan perintah itu, Salvatore mulai memainkan irama resital. Cel langsung mengerang kesakitan, membuat hati Salvatore seperti diremas. Tetap, ia tidak berhenti. Penderita flu galaksi atau diare mungkin hanya akan menikmati musiknya sebelum tubuh mereka mengatasi sendiri gejala penyakit itu. Tidak demikian halnya dengan penderita penyakit akut. Karena cidera organ mereka akut, maka mereka pasti akan menderita.

Cel kembali muntah darah. Salvatore semakin merasa miris. Baru saja ia menyatakan tidak akan menyakiti perempuan, namun dilihat dari manapun, sekarang ia sedang melakukan itu. Ia coba bayangkan wanita penyebar bau di bawah. Semengerikan apa kekuatannya? Bagaimana bisa ia menjangkiti penyakit segila ini kepada seseorang?

Tetap, Salvatore yakin ia bisa menyembuhkan Cel. Ia memainkan musiknya dengan irama lebih cepat, berharap itu juga mampu mengakhiri penderitaan gadis putih itu.

"Lalat..." tiba-tiba Cel bergumam.

Salvatore mengernyit, tidak paham lalat apa yang Cel maksud. Tetap saja ia memainkan musiknya.

"Pergi. Lalat-lalat itu... lalat-lalat itu... sudah... tumbuh."

Akhirnya, pahamlah Salvatore apa yang Cel maksud. Dua puluh lalat menyeruak keluar dari punggung gadis itu, telah berkembang dari telur di dalam dagingnya. Sebagian lalat itu langsung bergerak pergi, menuju sumber bau di lantai bawah. Namun sebagian lagi memutuskan untuk "melindungi" inang mereka. Sekitar delapan lalat melesat ke arah Salvatore. Sebelum Salvatore sempat bereaksi, empat lalat sudah menembus daging lengan kanan Meteo itu dan menancapkan diri mereka di sana, siap menggerogotinya. Empat lagi menembus bagian dada kemeja putihnya dan mulai membuat sarang di area sana.

Serangan mendadak itu membuat permainan resital Salvatore terhenti. Jari-jarinya lumpuh. Dadanya sakit. "Sialan!" umpatnya, sambil mencoba mencakar dan menggaruk lengan kanannya sendiri. "Sialan! Sialan! Sialan!"

Permainan musik Salvatore terhenti, Cel mencabut pedang pendeknya dan berdiri. Ia menubruk jatuh sang meteo, hingga Salvatore jatuh terlentang di lantai. Ia lalu menindih perut pria itu. "Maaf," desisnya pelan. Tetesan air mata darah membasahi kemeja putih Salvatore.

"Non... Non, tunggu!" Salvatore ingin menggunakan kemerduan suaranya untuk menghentikan serangan Cel, namun geliat lalat di dalam dagingnya membuatnya kesulitan untuk berkonsentrasi dan berbicara dengan lancar. Cel dapat dengan leluasa menggigit bahu pria itu. Ludahnya menularkan penyakit yang tubuhnya kandung.

"Maaf. Maaf." Sadar kalau ia baru saja menambahkan calon budak untuk gadis yang ia benci, Cel mencoba "menyelamatkan" Salvatore. Sayangnya, metode yang ia gunakan adalah dengan menikam perut dan dada pria Meteo itu, agar ia tidak menderita.

"Hei..." Salvatore mencoba berbicara, walau kekuatannya mulai meninggalkan dirinya. "Hei, Cantik. Ini... ini bukan salahmu."

Tetesan air mata darah semakin kental menggenangi kemeja Salvatore. Cel merasa sangat menderita atas apa yang ia lakukan. Namun, ia tidak bisa memikirkan hal lain. Karenanya, ia paksa kedua tangannya bergerak untuk menikam lagi. "Maaf," desisnya.

Salvatore tidak suka kalah. Ia tidak suka kalah dalam lomba musik, dalam kontes popularitas, hingga dalam duel, walau ia tidak suka bertarung. Tapi bukan itu yang membuatnya marah sekarang. Ia sadari kalau gadis yang hendak membunuhnya ini memang menginginkan pertolongannya, namun ia gagal memberikannya. Itu membuatnya meradang. Kalau saja ia bisa selamat dari kejadian ini, dan itu tidak mungkin, akan ia cekik dan banting siapa pun yang membuat gadis berambut putih ini menjadi seperti sekarang. Tak mungkin ada perempuan yang bisa sedemikian kejam.

Dua tusukan lagi mendarat di tubuh Salvatore. Kini, darah yang membasahi kemejanya benar-benar bukan hanya darah Cel. Cel lalu mengangkat pedangnya lagi. "Maaf," pintanya.

Tapi kali ini tusukannya gagal. Sebelum ia melakukan apa-apa, sebuah peluru berkaliber .50 menghantam kepalanya. Kekuatan luncuran proyektil itu begitu dahsyat, hingga ia sampai terdorong, terangkat dari tubuh Salvatore yang sekarat.

Perasaan Salvatore campur aduk. Melihat kepala Cel dikoyak oleh hantaman brutal itu membuat perutnya bergejolak. Tak seharusnya seorang perempuan dihabisi dengan cara seperti itu. Namun, apakah itu salah? Setelah seluruh penderitaan yang gadis berambut putih itu derita, bukankah layak baginya untuk akhirnya menemui kematian keduanya? Tetap saja, walau Cel sendiri mungkin menginginkannya, ia tidak suka melihat kematian seperti itu.

Menggunakan sisa kekuatannya, Salvatore berguling, ingin melihat siapa yang menyelamatkannya. Sosok yang ia temukan membuatnya terkekeh. "Ah. Rupanya hari ini memang hari keberuntunganku."


Interlude

Efek racun dari sabit si pria bersayap semakin terasa oleh Luna sejak ia beranjak meninggalkan atap. Pandangannya mulai kabur, ia merasa mual luar biasa, dan tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas. Untungnya, ia masih mengenal tempat ini dengan baik, jadi ia tahu ke mana ia harus mencari peralatan pertolongan pertama.

Organisasi yang menampung Luna sengaja ingin membangkitkan kesan gedung ini sebagai tempat kosong tak terawat, seperti bangunan di sekelilingnya. Tapi tempat ini tetap memiliki berbagai fasilitas penting. Air dan listrik di sini masih jalan. Di lantai bawah tanah, ada area pelatihan dan gudang senjata. Ruang medis sendiri terletak di lantai dasar.

Tak punya waktu dan tenaga untuk turun hingga ke dasar, Luna lebih memilih mengunjungi sebuah ruangan di lantai delapan belas. Tempat itu biasanya digunakan oleh manajer organisasi untuk mengatur pemberian tugas dan pelatihan. Saat Luna datang ke sana, ruangan itu kosong. Tapi ia masih bisa menemukan peralatan penyembuhan yang cukup. Ia membersihkan luka tebasannya dan membebatnya dengan perban dan plester. Kemudian, ia tengak pil pencegah racun dan penahan rasa sakit untuk menanggulangi efek serangan lawannya sebelumnya.

Luna menunggu kerja obat dengan duduk menggigil di sofa putar, sambil menggaruk pelan bagian lengan benda itu. Saat ia merasa dorongan untuk buang air kecil, ia pergi ke toilet sebentar, membuang cairan-cairan yang tidak diinginkan tubuhnya. Begitu lima menit berlalu dan kondisinya belum juga pulih total, sadarlah dia kalau racun yang meresap ke tubuhnya jenis yang lebih kuat dari perkiraannya.

Gadis berambut perak itu mencoba menghubungi rumah sakit. Namun, tak hanya rumah sakit, semua usahanya untuk memanggil keluar gagal. Teleponnya antara gagal terhubung atau suaranya seakan tak didengar saat akhirnya ada orang di ujung lain yang mengangkat. Sepertinya ia memang tidak diizinkan untuk seenaknya berinteraksi dengan manusia di luar zona ini.

Itu artinya jika dia ingin selamat, tindakan paling bijak adalah secepatnya mengeliminasi peserta lain.

Sebenarnya Luna berharap peserta lain sudah saling mengeliminasi, supaya dia tidak perlu menghabisi siapa-siapa lagi. Ia sedang tidak minat membunuh lagi setelah pencerahan yang ia terima sebelum dan sesudah pertarungan terakhirnya tadi. Tapi, setelah dipikirkan sejenak, kalaupun ia harus kalah, ia tidak ingin tersisih saat dirinya sudah diberi keunggulan kandang oleh Thurqkk. Apalagi oleh racun dari lawan yang sudah ia tumbangkan.

"Ah, males banget deh." Setidaknya, obat penawar yang ia minum berhasil meminimalisir efek racun. Meski badannya tetap lemas, dan pandangannya kadang berbayang, ia memaksa dirinya bangkit, menyeret AR-50, dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.

Minat Luna bangkit saat ia mendapati indikator lift menyala. Ya, listrik yang mengaliri tempat ini memang memasok kerja lift juga. Namun, setiap pembunuh bayaran yang menempati gedung ini lebih suka naik turun menggunakan sihir atau kekuatan fisik mereka. Bisa dibilang, lift malah merupakan perangkap yang sering kali menyatakan kalau ada penyusup masuk.

Luna menarik nafas, waspada melihat pergerakan lampu indikator. Lift mencapai lantai dua, tiga, empat... begitu seterusnya hingga ia akhirnya berhenti di angka sepuluh. Pilihan yang ganjil, mengingat di sana hanya ada kamar hunian dan ruangan-ruangan kosong. Tapi penyusup biasanya memang tidak tahu hal-hal seperti itu.

Daripada berkeliling kota dengan tubuh kacau, Luna lebih memilih mencoba peruntungannya dengan menyelidiki siapa penumpang lift ini. Sudah terbiasa, ia masih memutuskan turun lewat tangga darurat. Kecepatannya lebih lambat dari biasanya. Sesekali ia terhenti karena kakinya goyah dan matanya berbayang. Namun, ia tetap dapat mencapai lantai yang diinginkan tanpa tersandung maupun terperosok.

Di lantai sepuluh, suara keributan membantu Luna menemukan sasaran. Ia susuri koridor dengan hati-hati, tidak mau orang-orang ini mengetahui keberadaannya. Melalui teleskop AR-50, ia menemukan dua orang asing sedang bergumul. Salah satu dari mereka, seorang gadis berambut dikuncir, tengah menikam pria berambut afro. Akal sehat Luna memerintahkannya untuk diam, menunggu si afro mati sebelum menembak, agar pertempuran ini bisa cepat selesai.

Tapi ia masih punya hati nurani, dan ia memutuskan mendengarkannya. Ingin menolong si afro, ia memutuskan menarik pelatuk. Pelurunya melesat, menghantam si gadis berkuncir, dan melenyapkan seperempat bagian atas kepala orang itu. Mengingat ia menembak mendadak dalam kondisi tidak prima, Luna puas dengan hasil serangannya.

Ia tidak tahu kenapa si gadis berkuncir menyerang si afro. Mungkin sebenarnya si afro memang bersalah, dan si gadis berkuncir menghukumnya karena kesalahan itu. Tetap, Luna memutuskan mendekati orang yang ia selamatkan. "Kamu nggak apa-apa?"

"Tunggu!" Salvatore menghardik, menahan sakit. "Tunggu di situ, nona kecil yang manis. Jangan... bergerak. "Ada lalat-lalat jahat yang sedang... menggerogoti tubuhku. Sebaiknya kamu tidak... mendekatiku, walau aku ingin."

"Ooookeee..." lalat? Lalat macam apa yang memakan daging manusia? Mulut mereka seharusnya bahkan tak bisa menggigit!

"Kamu... peserta kontes... sialan ini juga, manis?"

"Pertama-tama, Pak, aku masih empat belas tahun, jadi tolong hati-hati, rayuanmu tadi bisa diganjar hukuman penjara," sahut Luna ketus. "Kemudian, ya, aku adalah salah satu orang yang sudah mati dan diperintahkan untuk saling membunuh lagi."

"Heh." Salvatore membiarkan dirinya tumbang dalam kondisi tengkurap. "Sepertinya Si Thurqkk itu memang pingin aku mati. Bisa-bisanya dia memaksaku... bertarung... dengan cewek melulu. Ada yang... di bawah umur pula."

"Nggak kok. Ada cowok juga."

"Aku?"

"Cowok rocker bersayap. Dia sudah mati."

"Yah, aku... juga... akan mati lagi kok. Ini benar-benar sialan, tapi yah... kayanya nggak apalah, dieliminasi cewek. Heh." Salvatore terkekeh pelan. "Bohong. Mau gimana juga, tersingkir dengan segini mudah itu nyakitin banget. Tapi, kalau aku dibolehin milih, mungkin... mungkin aku bisa bantu kamu menang."

"Oh ya? Gimana caranya?"

"Si... si cewek ini..." desis Salvatore sambil mencoba menunjuk Cel. "Dia... dikendalikan. Dia ngomong sesuatu soal penyakit, gas, gadis bau. Kurasa sih... kurasa sih yang dia maksud ini peserta kelima."

Luna mulai menghitung. Bila ia peserta pertama, kemudian si sayap adalah peserta kedua, si afro ketiga, dan cewek yang ia tembak adalah keempat, maka berarti benar, hanya tinggal satu tersisa. Tinggal sedikit lagi, ronde ini akan berakhir.

"Hati-hati, Non. Cari... cari penutup hidung atau semacamnya. Bau busuknya... kecium sampai sini. Hati-hati juga... hati-hati juga sama la... lat. Sepertinya dia bisa mengendalikan la... urgh..."

Sekumpulan lalat menyeruak dari lengan kanan dan dada Salvatore. Dengung mereka memenuhi koridor, sementara Luna yang menghadapi itu sampai terperanjat. Ia sudah melihat banyak kengerian sepanjang karirnya, dan ini tetap salah satu kejadian paling menjijikkan yang pernah ia saksikan. Makhluk seperti apa yang memiliki kekuatan seperti ini?

Sebagian lalat itu terbang menyebar, mencari jalan menuju lantai bawah. Seperti sebelumnya, ada juga segelintir yang melesat maju, mencoba menembus tubuh Luna. Luna lebih siap ketimbang Salvatore tadi. Gadis muda berambut perak itu berkelit lincah, menghindari upaya mereka untuk menubruknya. Senapan besarnya ia jatuhkan. Tangan kanannya mencabut magnum dari sarungnya, agar ia bisa menggunakan pegangannya untuk memukul serangan serangga-serangga menjijikkan ini.

Perlawanan Luna membunuh tiga ekor lalat. Sisanya menyadari kalau Luna terlalu berbahaya untuk dihadapi dan mulai terbang ke tangga darurat, menyusul saudara-saudara mereka menuju lantai dasar.

Luna memutuskan mendekati Salvatore, hendak memeriksa apakah pria berekor itu masih hidup. Ternyata tidak, lalat-lalat tadi meninggalkan lubang besar di lengan dan dadanya. Jantungnya telah berhenti berdetak, nadinya berhenti berdenyut, dan wajahnya terkunci dalam senyum tipis, seakan mencoba tertawa atas kematiannya sendiri.

Ia lalu memeriksa korban tembakannya. Masih ada bagian wajahnya yang tersisa, hingga Luna dapat mengamati satu mata Cel yang menghitam dan mengkerut, juga bekas daging di punggungnya yang digerogoti para lalat. Seharusnya tak ada manusia yang merasakan penderitaan menjijikkan seperti ini.

Luna mengambil senapan besarnya dan membuang selongsong kosongnya. Terkadang, ada target yang begitu kejinya hingga ia tak sedikit pun merasakan beban moral saat pelurunya mementalkan tubuh mereka. Sepertinya, kali ini ia berurusan dengan orang seperti itu. Pemikiran tersebut membuatnya kembali bersemangat.


Final Fight

Ternyata, ada orang di gedung ini. Sekumpulan pembunuh yang diam-diam bersembunyi di kegelapan, dan datang untuk memeriksa saat mendengar keributan di lantai dasar. Saat mereka datang, kabut Nurin sudah terlanjur menyebar. Pintu dan jendela telah ditutupnya, menghalangi gasnya untuk keluar. Saat Nurin mendapati orang-orang itu tetap terpengaruh oleh kemampuannya, walau mereka jelas-jelas tak dapat melihatnya maupun mendengar suaranya, Nurin pun girang luar biasa.

Saat ini, Nurin berada di ruangan luas yang disusun mirip ruang rapat. Ada podium di ujungnya, juga papan tulis kapur yang menempel di dinding belakangnya. Di depannya, ada kursi-kursi lipat reot. Sepertinya di sinilah para pembunuh merancang taktik pembunuhan mereka.

Kali ini, Nurin mengubah ruangan ini menjadi tempat pemujaan. Ia bersila di atas podium, sementara para boneka daging-nya mengerang dan terbatuk dalam posisi berlutut di hadapannya. Lalat-lalatnya berterbangan di sekelilingnya, dalam formasi padu. Disuguhi pemandangan seperti itu, ego gadis itu membumbung tinggi.

Ia bukan manusia biasa.

Ia bukan orang lemah yang ketakutan saat diancam oleh baton serta ditembak oleh selarik sinar hitam.

Ia adalah dewa, yang tengah berhadapan dengan kaumnya. Dalam rasa sakit, mereka memujanya. Dan dengan tulisan, ia akan memerintah mereka.

Ya, mereka memang tidak mendengar maupun melihatnya. Tapi mereka tetap bisa menerima instruksinya saat ia berinteraksi dengan obyek tempat ini: papan tulis. Ia tuliskan di sana komando-komandonya, seperti: kalian tidak boleh mencoba "kabur" dengan bunuh diri, kalian harus melindungiku dengan segenap kemampuan kalian, dan kalian wajib melayani segala kehendak yang kusampaikan.

Ia masih harus melihat dulu apa benar mereka akan sepenuhnya mematuhinya, sementara dirinya di sini hanya seperti poltergeist. Lagi pula, tulisannya pun berantakan karena ia harus menulis dengan tangan kiri setelah apa yang Cel lakukan terhadap dirinya.

Untuk sekarang sih, ia lebih bisa menikmati layanan dari boneka daging yang ia dapat dari lawannya dalam ronde ini. Ia sudah memerintahkan gadis berambut putih itu untuk naik, memeriksa sekilas setiap lantai untuk menemukan apa ada orang lain di dalam bangunan ini. Bagus kalau ia bisa menularkan penyakitnya ke peserta lain ini, hingga Nurin bisa memperoleh anak buah baru.

Nurin membayangkan kembali orang-orang yang memberinya kekuatan. Sebenarnya, ia sudah mewujudkan harapan mereka. Orang-orang itu mencoba menciptakan penyakit yang membuat penderitanya mematuhi segala yang mereka perintahkan. Penyakit Nurin memang berfungsi seperti itu, hingga Cel yang sempat membatukannya pun langsung memulihkannya kembali hanya karena gadis berambut putih itu merasakan semacam ketergantungan.

Ia penasaran apa di dunia manusia kemampuannya ini sudah disempurnakan, atau ulahnya menjangkiti pengunjung BEC dan membunuhi penjaga lab penelitian membuat seluruh proyek disisihkan. Mungkin ia akan melihat itu sendiri nanti, saat ia kembali dihidupkan. Ia yang sempat ketakutan kini mulai percaya kalau ia bisa memenangkan "turnamen neraka" ini dengan mudah...

Sebuah peluru berdesing melewati sisi kepala Nurin, hampir mengenai telinga kirinya. Peluru itu lalu mendarat di papan tulis, menimbulkan cekungan dalam dan mementalkan serpihan ke sekeliling. Gadis berkacamata retak itu langsung terperangah. Di depannya, para boneka daging menoleh ke belakang, keheranan dengan apa yang terjadi.

Nurin melompat turun. Ia ambil sebatang kapur, dan ia coba tuliskan satu perintah lagi, "Temukan penembak sialan itu!"

Ia baru menyelesaikan tulisannya saat satu lagi peluru berdesing menghantam punggung tangan kirinya. Ia langsung jatuh berlutut dan memekik kesakitan. Lengkap sudah, tangan kanannya kehilangan tiga jari, sedangkan tangan kirinya "disulap" menjadi kengerian menganga dari daging dan sisa tulang yang hanya terikat oleh untaian saraf.

"Bunuh bangsat yang menembakku! Kalian dengar?! Bunuh dia!"

Walau tak dapat mendengar perintah Nurin, para boneka daging di ruangan itu akhirnya bergerak. Mereka berdiri dan menjerit. Beriringan, kesepuluh orang itu berlari ke luar, mencoba menemukan siapa yang menembakkan senapan. Sebagian besar kawanan lalat Nurin mengikuti, lebih memahami apa yang diperintahkan oleh majikan mereka.

***

Sebelum menyongsong lawan terakhirnya, Luna terlebih dulu turun ke ruang penyimpanan senjata di lantai bawah tanah. Ia melengkapi dirinya dengan masker gas, yang hanya menutupi rahangnya agar ia tak perlu melepaskan kacamata khususnya. Ia juga mengambil kotak amunisi tambahan untuk AR-50nya, sekedar memastikan kalau ia tak akan kekurangan kesempatan untuk memusnahkan si gadis lalat.

Ia menemukan kejutan saat akhirnya ia sampai ke lantai satu. Baru keluar dari tangga darurat saja ia sudah disuguhi oleh orang-orang yang terbatuk, terengah, dan tercekik akibat gas penyakit yang memenuhi seluruh koridor. Jantungnya berdebar saat ia menyadari kemudian kalau ia mengenal orang-orang itu. Mereka adalah anggota organisasi pembunuh bayaran ini.

Setelah disuguhi kekosongan jalanan kota dan lantai atas, Luna sudah terlanjur yakin kalau tempat ini hanya simulasi dari gedung asli di dunia nyata. Yang ada di sini hanya peserta turnamen, tidak kurang, tidak lebih. Begitu melihat wajah-wajah familier itu menderita, kekhawatirannya pun memuncak. Ia mulai khawatir kalau dirinya dan para peserta diwajibkan bertempur di dunia nyata.

Ia membuka beberapa jendela, membiarkan tumbuhan-tumbuhan dan hewan di luar sakit dan layu untuk membantu mereka yang terjangkit penyakit untuk menghirup udara segar. Lalu ia aktifkan fungsi inframerah kacamatanya untuk memburu pelaku kejahatan ini. Ia ikuti bau busuk, yang begitu tak sedapnya hingga mampu menembus saringan maskernya.

Penelusuran jejak itu membawanya ke ruang pertemuan lantai dasar, di mana ada satu sosok yang terlihat tengah mengawasi belasan orang terbatuk dari puncak podium. Luna yakin kalau itulah targetnya. Saat orang itu mulai menulis di papan tulis, dia pun menembak.

Sayang, saat itu efek racun dari sabit si pria sayap justru membuat genggamannya kurang mantap. Tembakan pertamanya melenceng tipis dari sasaran. Tembakan keduanya memang berhasil mengenai tangan target, tapi yang ia incar justru punggung gadis itu. Ia mengucek matanya yang berair, sedikit menyesali kesalahannya tidak memakai masker penuh sekalian.

Pintu ruang rapat terbuka. Belasan orang melangkah keluar dari dalam, mulai bergerak liar, memburu penembak yang mengganggu "poltergeist" mereka sekaligus menghalangi tembakan lanjutan. Sejenak, Luna mematikan lagi fungsi inframerah kacamatanya agar ia dapat melihat lebih jelas kumpulan itu. Ia mengutuk pedih menyadari kalau wajah-wajah mereka juga familier baginya. Si pembawa penyakit ini telah bertindak keterlaluan.

Minimal ia sudah melukai parah targetnya. Setelah mengaktifkan lagi fungsi inframerah kacamatanya, ia dapati gadis itu masih meringkuk di balik podium, mencoba menangani lengan kirinya. Ia hanya tinggal mencoba mencari titik tembak yang lebih cocok, jauh dari mantan kolega, instruktur, serta yuniornya di tempat ini.

Luna bergerak perlahan, meninggalkan kotak amunisi yang dibawanya. Ia tahu kalau orang-orang itu tak dapat melihatnya. Ia pun tak terlihat oleh mereka yang ditolongnya sebelum ini. Dengan anggun ia bergerak melintasi mereka, mencoba mencari titik tembak yang lebih baik agar Thurqk bisa mengakhiri kegilaan ini sebelum ada yang menyusulnya ke alam baka.

Lalu datanglah kawanan yang tak diharapkan. Puluhan lalat berterbangan menyusuri koridor, mencari ancaman yang dapat menyingkirkan majikan mereka. Luna menahan nafas, berharap serangga-serangga itu melewatinya...

Serentak, lalat-lalat itu bergerak menyerang Luna. "Ampun deh!" menanggapi formasi makhluk-makhluk itu, Luna terpaksa menggunakan senjata yang telah digenggamnya untuk menyerang. Ia mengayunkan senapannya seperti tongkat bisbol, dengan jitu melumpuhkan sekaligus delapan lalat yang terlalu dekat dengannya.

Kumpulan lalat itu memutuskan menyebar, mencari cara lain untuk melumpuhkan target. Luna mengamati pergerakan mereka baik-baik. Terpaksa, ia mengabaikan dulu si gadis penyakit. Kalau ia tak menangani lalat-lalat ini, ia bisa bernasib sama seperti dua orang yang ia temui di lantai sepuluh.

Lima lalat meluncur dari belakang. Lagi, senapannya terayun kuat, menghancurkan tiga lalat dan membuat dua yang tersisa terbang menghindar. Enam datang dari depan, mendorongnya untuk menyerang ke arah sebaliknya. Gigi-gigi Luna saling beradu, sementara kelelahan mulai membuat efek racun sabit kembali mempengaruhi persepsi dan kekuatannya. Tetap, tak akan ia biarkan satu pun makhluk-makhluk menjijikkan itu memasuki tubuhnya.

Dalam upayanya inilah ia tak sengaja membentur punggung salah satu manusia penghuni gedung. Manusia itu bereaksi terhadap poltergeist yang mengenainya sesuai dengan refleksnya sebagai pembunuh profesional: ia mengayunkan sikunya.

Walau insting Luna dapat mengantisipasi serangan itu, tubuhnya yang masih terbawa momentum ayunan senapannya membuatnya tak dapat menghindari hantaman siku orang tadi. Ia terhuyung. Telinganya seperti mendengar bel berbunyi di kepalanya, dilanjutkan dengan denging panjang dari pendengaran kanannya.

Merasakan keberadaan "sesuatu," si penyikut tadi mencoba meraih Luna. Walau pusing, tubuh Luna masih dapat bereaksi dengan mengelak, menyepak rusuk pria itu, lalu melompat dan menanamkan permukaan kakinya ke wajah lawannya. Baru setelah serangan itu selesai, Luna merinding sendiri karena sudah menyakiti penghuni bangunan ini.

Rubuhnya pria itu membuat yang lain bereaksi. Mereka meraung dan mencoba menyerang serampangan, memukul dan mencakar udara. Luna mencoba menghindari mereka, namun para lalat membuatnya terpaksa berhenti sejenak. Saat ada satu orang yang cukup "beruntung" dapat menyerang tempatnya berdiri, Luna terpaksa merubuhkannya juga.

Ini akan berakhir, batin Luna jengkel. Aku hanya tinggal menghabisi target terakhirku, setelah itu semua ini akan berakhir. Aku akan kembali ke padang merah, dan bangunan ini akan kembali ke sedia kala.

***

Nurin meninggalkan ruang pengarahan dengan limbung. Darahnya sudah terserap banyak saat jarinya lepas. Sekarang, semakin banyak saja tetesan yang meninggalkan tubuhnya. Ia mulai panik, merasakan kembali sensasi yang didapatnya saat para prajurit tim gabungan TNI memberondongnya. Rasa dingin menguasai tubuhnya. Kandung kemihnya pun mendadak terasa penuh, walau ia sudah berjam-jam tidak memakan maupun meminum apa-apa.

Aku tidak akan mati di sini, pikirnya panik. Tidak akan kubiarkan orang keparat itu membunuhku di sini!

Ia mengikuti tuntunan lalat untuk menemukan orang yang ia cari. Pandangannya yang kabur melihat sosok pendek berseragam sailor mencoba mati-matian mengelak dari kerumunan boneka daging baru miliknya, sekaligus menghadapi pasukan lalatnya yang jumlahnya terus berkurang.

Dengan sisa tangannya, Nurin menutupi jendela-jendela yang dapat ia capai. Lalu, ia lepaskan seluruh kekuatan gasnya. Walau masih ada ruangan luas serta jendela dan ventilasi terbuka, kabut asap mendadak itu memenuhi koridor. Memanfaatkan sedikit waktu itu, Nurin melesat ke arah Luna.

Pergerakan semberono dari orang putus asa itu dapat terasa oleh Luna. Sontak gadis itu langsung membidikkan senapannya. Wajah Nurin langsung memucat, menyadari dirinya sudah berada dalam bidikan. Ia tidak punya kemampuan apapun untuk menghindari luncuran peluru.

Salah satu penghuni gedung menubruk Luna dari samping. Luncuran senapannya meleset, hingga hanya menembus dinding. Senapan besar itu sendiri terlepas dari genggaman gadis berambut perak itu.

Luna mencakar dan menggeliat, melepaskan dirinya dari bekapan penghuni gedung sebelum yang lain mulai meniban. Begitu melihat Nurin melompat ke arahnya, ia refleks merogoh magnumnya...

Enam ekor lalat merobek bagian lengan kain seragam Luna dan menancapkan diri mereka di dalam dagingnya. Gangguan tepat waktu ini membangkitkan sakit yang menghalangi Luna untuk langsung menarik pelatuk, memberi waktu sesaat bagi Nurin untuk melakukan sesuatu.

Sesaat itu sudah cukup.

Nurin menerjang dan menjatuhkan Luna. Tahu ia berada di ambang maut, ia melakukan aksi yang pertama terlintas olehnya: ia menancapkan giginya ke leher Luna seperti singa yang menerkam mangsa. Ia biarkan bakteri-bakteri di dalam mulutnya mengalir memasuki tubuh lawannya dari luka yang ia ciptakan sendiri.

Lalat-lalat bergerak di dalam daging lengan kanannya, sementara gigi beracun dari lawannya menancap di lehernya, mulai bergerak ke pembuluh darahnya. Tubuh Luna mengalami kejang minor akibat serangan buas yang dideritanya, membuatnya tidak bisa berkonsentrasi untuk mengaktifkan magnum khususnya. Terpaksa, ia melawan dengan sebisanya juga. Ia hujamkan kuku-kuku tangannya yang panjang ke perut Nurin, hingga jemarinya mulai menembus perut gadis pembawa wabah itu.

Kesakitan, Nurin yang awalnya masih ingin merekrut Luna sebagai boneka daging baru langsung menancapkan gigitannya lebih dalam. Di sisi lain, walau darah Nurin langsung menggerogoti jemarinya, Luna mencoba bertahan hidup dengan menancapkan lebih dalam tangannya, mencoba mengenai dan meraih pencernaan lawannya. Dalam satu momen itu, keduanya saling mencoba menahan sakit, berharap bisa bertahan dari siksaan satu sama lain.

Lalat-lalat yang tersisa kemudian menyusul menembus tubuh Luna dan mulai menggerogoti bagian tubuhnya yang lain juga. Ada yang mendarat di kepala, lengan kiri, pinggang. Luna dapat merasakan kekuatan tubuhnya kian hilang. Gigi-giginya bergemeletuk keras. Sepenuh hati ia memohon kepada dewa, tuhan, atau siapa pun makhluk tinggi yang mendengar agar lawan terakhirnya ini terseret ke api neraka bersamanya.

Lima detik kemudian, tubuh Luna menegang sesaat sebelum kemudian menjadi loyo. Akhirnya, perlawanannya berakhir. Kesadarannya lenyap seiring dengan matinya seluruh fungsi tubuhnya.

Saat akhirnya Nurin melepaskan gigitannya, masih ada beberapa giginya yang tertinggal dalam di sisi leher Luna. Ia dapati kemudian kalau tangan Luna telah menembus perutnya dengan lumayan dalam, hingga ia tak bisa begitu saja melepaskan diri. Terpaksa, ia merebahkan diri di atas tubuh lawannya. Dapat ia rasakan tangan-tangan maut kembali mencoba merangkulnya.

"D-dewa merah..." desis Nurin pelan. "T-Tuhan... Thurqkk... siapapun kau... ini cukup, bukan?" tanyanya, mengharapkan jawaban. "Pertarungan ini... pertarungan ini sudah berakhir, kan?" ia berharap. Walau itu benar, ia tidak tahu kalau Cel dan Salvatore memang sudah mati di lantai atas, menyisakan dirinya seorang. "Aku..." kesadarannya mulai ikut menghilang. "Aku menang... kan?"

Menanggapi pertanyaan tadi, satu Hvyt menampakkan diri di belakang Nurin. "Ronde pertama 1-I selesai. Pemenang: Nurin," ucapnya dingin. Nurin pun tertawa sebelum lelah memaksanya tidur.

51 comments:

  1. Uwooo.. Satu lagi pejuang Indonesia yang WOW.

    Nurin ini keren banget kekuatannya. Bikin sakit lawan. Ewww.. Busuk pula.
    .
    Poin plus :
    - Secara keseluruhan saya suka penulisannya ini. Rapi. Enak dibaca dan asik diikuti
    - Strategi battlenya teratur

    Poin minus :
    - Ini mungkin subjektif, dan mungkin cuma saya aja yang ngerasa, Tapi ini semacam ngga konsisten >> "Saya nggak minat berantem sekarang. Ngerti? Saya tahu kalau si merah itu nyuruh kita saling menghabisi, biar kita dihidupkan kembali. Dan percayalah, saya memang menginginkan itu. Tapi untuk sekarang, saya kasih kamu kesempatan: pergi sejauh-jauhnya dari sini sebelum bau itu nular ke saya!"

    terus

    Tiba-tiba, si Rambut Putih melesat cepat. Tangannya sudah meraih dan mencabut kedua pedangnya. Satu bilah menempel di sisi leher Nurin, satu lagi di sisi perutnya. Dengan satu gerakan lagi, Rambut Putih bisa memburai perut Nurin sekaligus menggoroknya.


    Dari dialog itu, keliatan jelas kan dia ngga mau deket-seket sama si Nurin, tapi kenapa malah dia yang maju buat ngancam Nurin? Meskipun Nurin maju mendekat, seenggaknya dia bisa ngelempar apa kek gitu, alih-alih melesat dan menghunuskan pedang ke perut dan leher Nurin.

    Mungkin itu aja, maaf kalau ada salah kata. Dan maaf kalau ternyata saya yang gagal paham.

    +9

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fachrul R.U.N3/4/14 12:52

      Lol, karena dia cuma pegang kotak kosmetik, dan senjata dia pedang jarak pendek, yang kepikiran buat ngusir Nurin cuma dia ngehunus pedang aja. (karena kayanya dia ngga akan ngelempar kotak kosmetiknya) X))))

      Delete
  2. Replies
    1. Saya anulir karena nggak memenuhi syarat penilaian.

      Delete
    2. Moi harus ngasih alasan? He's king, for dieu sake! :v
      Oh well, moi suka dengan narasi King yang well-written, plot yang lancar, dan karakter yang kuat. Sayang, untuk kaliber King, saya mengharapkan something awesome. So, moi kasih 8.

      Cukup? :3

      Delete
  3. Damn... Epic sungguh Epic

    kepiawaian memainkan OC lain, terus tulisannya yang Rapih, enak dibaca, walaupun jujur kekejamannya ga gitu aku suka (ini personal sih).

    +9 ...
    Walaupun saya yakin Lebih layak dapet lebih...
    Ngeri... beneran dah...

    ReplyDelete
  4. Anonymous3/4/14 16:33

    Si Nurin bisa menang mudah kalau dia enggak sembrono. Rasanya dia menang di ronde ini berkat unsur keberuntungan saja.

    Tapi dilihat dari sifat pemalasnya ... yah :p

    -Ivon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous3/4/14 16:50

      Maaf, saya lupa menambahkan skor:

      9/10

      -Ivon

      Delete
  5. well saya gak nemu kekurangan....

    dan saya juga gak nemu Awesome Moment.

    tapi saya akui Flow ceritanya super!

    9/10

    ReplyDelete
  6. battle nurinnya epic banget...
    saya kasih +9 ya.. (soalnya lihat lalat-lalat beterbangan itu rasanya.. hehehe). tapi saya mencoba kasih nilai seobyektif mungkin...

    ReplyDelete
  7. battle actionnya payah.
    dari awal digambarin itu-itu doang. 'lalat terbang, lalat hilang, lalat makan,...'

    udh berapa kali serangan lalat ini muncul. hampir tiap ketemu musuh.

    iya, iya, aku juga tahu. Tapi, penggunaan kalimatnya yang bilang lalat-lalat itu yg bikin bosan. kenapa nggak pake mekanisme lain untk ketiga lawannya yg berbeda-beda.

    trus selanjutnya, kebanyakan deskripsi perasaan chara lain cuman dideskripsikan doang oleh narrator. 'si ini dia nggak mau bertarung loh, tapi mau gimana lagi keadaan udh,' kyk gitu. padahal, klo chara sendiri digambarin emosionalnya pake dialog tokohnya.
    kan nggak cukup adil.

    trus terakhir, mgkin entahlah, aku bosan aja. pola pertarungan vs nya acak. si ini ketemu si ini. nggak ada intrik yg bermain dibelakangnya.



    7/10. maaf aku nggak ngerasain hal yg epic, awesome, flow, dan super disini.

    ReplyDelete
  8. Overlord HALL4/4/14 09:53

    Mantap nih! XD
    Battlenya keren, agak jijik ketika lalat-lalat Nurin menggerogiti dan bertelur dilawanya, tapi itu yang membuat suasana battlenya terasa lebih nyata. Ini bisa menjadi refrensiku. :)

    Tapi ada satu hal yang nggak aku tangkap.
    Kenapa semua lawan yang berhadapan dengan lalat Nurin, bisa menghancurkan lalat-lalat Nurin dengan mudah, maksudku lalat Nurin seukuran lalat biasakan? Semakin kecil sebuah target semakin sulit untuk mengenainya. Apalagi jika luas senjatanya kecil.

    Untuk sekarang aku beri +8, akan menjadi +10 jika aku mendapat penjelasan yang logis. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Well, ini ngga akan bikin lebih logis sih. Cuma...

      1. Ukuran lalat Nurin agak lebih besar dari lalat biasa. Kira-kira seujung kelingking orang dewasa lah.
      2. Cel itu ahli pakai pedang pendek, kaya Aoshi di Samurai X, jadi lalat juga bisa ketebas sama dia. (gw bayanginnya sih gitu). udah gitu, badannya juga bisa jadi sekeras batu, ngga bisa ketembus juga sama lalat-lalatnya Nurin. Kalo aja dia nggak kena ludahnya Nurin duluan, terus kesembur gas, seharusnya dia menang X)))
      3. Luna punya refleks dan speed bagus, jadi dia juga bisa ngimbangin speed lalat pakai rifle dia.

      Gitu sih

      Delete
    2. Penjelasanmu memang kurang logis tapi... okelah!
      karena aku adalah orang yang baik +10 untukmu!! :D

      Delete
  9. nah ini. Saya bisa masuk dan menikmati alur dan pertarungannya. unsur tak tertebak dari setiap pertarungan bikin saya makin menikmatinya. satu lagi, mungkin ini kebetulan, adegan paragraf pertama dengan adegan parafraf pertamaku sama. hehe,,


    poin dari saya 9/10

    ReplyDelete
  10. Yup, ini baru battle royal yang menggugah logika. Tiap peserta diberi peran yang "seimbang", dan Nurin sendiri dibuat benar-benar "parah" oleh serangan lawan. Kekuatan dan kelemahan tiap kontestan tersaji dengan gamblang dan logis, jadi saya sendiri sampai diyakinkan bahwa Nurin memang benar2 yang terkuat di antara para peseta Blok I.

    Mungkin para peserta lain yang membaca inipun bisa jadi mengangguk setuju, bila diadu kekuatan pamungkas. Saya tak perlu RPG Maker Engine untuk mensimulasikannya dalam game.

    Andai saya baca ini siang tadi, saya akan hati-hati dan langsung ambil tepukan, kali-kali saja lalat-lalat sialan itu lewat lagi.

    Poin dari saya: 9/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oya, dan nggak ketebak pula. Tadinya saya dibuat mengira Nurin bakal kalah telak. Ternyata... The God Emperor of Awesome Darkness strikes again! Ya, kira-kira mirip pedagang yang nggak hanya bilang "kecapku nomor satu", tapi benar2 membuktikannya dengan membuat si pembeli mencicipi kecapnya dan kecap2 semua pesaingnya juga.

      "Fly me to the moon, and ... awestruck me forevermore."

      Delete
  11. Sebuah battle royale mengerikan yang membuat saya terkesan, benar-benar OC yang mengagumkan.....
    Setiap karakter ada bagiannya, jadi terbawa sama ceritanya :3

    9/10

    ReplyDelete
  12. well, lumayan seru pas baca ini DARI sudut pandang Nurin.. kekuatannya lumayan serem kalau jadi lawan + merepotkan*ngebayangin kalau ketemu OC saya* walaupun kemampuannya terasa monoton pas ngelawan OC yg berbeda karena pake tipe serangan2 lalat aja (tapi saya suka bagian yang ada lalat bertelur dalam tubuh itu. serem)

    But... entah, ini menurut saya aja sih, kalau dilihat dari sudut pandang lawannya, ceritanya kurang "greget". saya merasa skill/jurus OC lain kurang "dikupas" secara tajam di sini.. jadinya saya merasa wajar aja melihat Nurin jadi super kuat di sini (kecuali pas ngelawan cewek berkomestik itu)... apa mungkin gara2 charasheet OC lain kurang lengkap atau gimana ya? :)

    so, kesimpulannya...
    --
    7/10
    --

    ReplyDelete
  13. Untuk ukuran OC yang sebenernya bisa menang dengan modal diem di tempat doang, lumayan juga ngupasnya sampe dia nemuin hardship dan susah payah buat menang di akhir.
    Saya juga suka karena cukup ngegali dari sudut pandang karakter lain. Kalau untuk porsi berdarah-darah dan menjijikkannya, mungkin tergantung reception yang baca ya

    8/10

    ReplyDelete
  14. Kali ini, Kaito benar-benar menjatuhkan cangkir tehnya. tak ada lagi nafsu meminum teh yang ia punya. di sebelahnya, Clive berwajah pucat dan memalingkan wajah dari layar.

    "Busuk," komentar Kaito.

    "Dan menyedihkan," sambung Clive.

    "Mungkin penulis memang ingin membuat kita membenci Nurin," sambung Kaito, "Dan harus dibilang, ia sukses."

    "Dan aku tak yakin akan mendekatinya jika harus berhadapan," Clive setuju, "Mari berharap Carol tak menghadapinya nanti."

    "Nilai?" Tanya Kaito.

    "Aku serahkan padamu, aku mau ke kamar mandi dulu," dan kemudian Clive keluar dari rumah kaca itu.

    Kaito menghela nafas dan mengangkat ke-delapan jarinya untuk selanjutnya jatuh pingsan di bawah kursinya.

    ReplyDelete
  15. Haiyhooo, master~
    (づ。◕‿‿◕。)づ

    wahaa~ lalatnya lebih k arah parasit pemakan daging yauw ketimbang racun, ,

    hunn narasinya master king baguuuss~
    lalu #ampoooniiii aku tidak bisa memberi komentar panjang lebar~ (>ʃƪ<)

    aku titip nilai 8/10 yauw d mari, ,

    ReplyDelete
  16. Ah, saya kecewa karena Nurin tidak bertemu dengan Enzeru yang sepertinya merupakan musuh alaminya (karena imunitas terhadap penyakit). Bahkan kesannya seolah-olah Enzeru sengaja disingkirkan cepat-cepat. Padahal mestinya bakal seru kalau Nurin mengetahui ada seseorang yang kebal kepada jurusnya dan memaksa dia harus memutar otak untuk mengalahkan si kebal itu. Mungkin dengan memanfaatkan peserta lain sebagai boneka?

    Terlepas itu, cerita ini memiliki narasi yang apik. Pertarungannya juga elok dan cantik. Plotnya logis. Bunuh-bunuhannya juga asik. Sekalipun sangat disayangkan kalau Sal dan Enzeru belum sempat mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

    Oh well, andai saja last battle dari Nurin adalah pertarungan epik dengan Enzeru, pasti akan saya beri nilai antara 9.0 s.d 10.0. Tapi untuk cerita yang ini, cukuplah saya beri 8.5.

    Nice work~

    ReplyDelete
  17. Aku suka sekaligus jijik dengan kemampuan Nurin. Sampe saat nulis ini, bulu kudukku masih merinding membayangkan lalat-lalat tersebut dan juga penyakit mematikan. Tapi itu adalah satu poin plus buat Nurin.

    Plot :
    Alur plotnya asik dan menyenangkan untuk diikuti. Author berhasil menggambarkan kepribadian para peserta dengan baik. Favoritku sudut pandangnya si Salvatore. Udah sekarat masih aja sempet ngerayu. Dasar

    Battle :
    Battlenya seru dan bikin merinding terutama di bagian Nurin. Namun sayang ada beberapa karakter yang bahkan ga sempet ngeluarin skill andalannya dan mati cepat. Namun kadang aku agak bingung dengan deskripsi rambut perak dan rambut putih.

    Sayang, final battlenya singkat banget. Andai bisa dibuat lebih panjang dan epik xD

    Narasi :
    Aku suka gaya penulisan Author, nggak terlalu berat untuk diikuti tapi masih lumayan berbobot untuk dibaca. Alur plot bagus, pembagian sudut pandang juga oke. Karakterisasinya dapet, meski beberapa karakter kurang dapat karakterisasinya karena mati terlalu cepat :(

    Overall :
    Sebenernya aku mau ngasi 9/10. Tapi sayang final battlenya terlalu singkat dan kurang memuaskan. Dan juga seharusnya para manusia ga bisa ngeliat para peserta.
    [5. Semua OC pada SETTING pertarungan tidak bisa dilihat oleh makhluk-makhluk lain non-peserta BOR. Seperti hantu. Walau begitu, tetap bisa menghancurkan sesuatu bila bertarungnya brutal.]
    Hal ini ditegaskan juga sama bang Glen saat aku nanya soal apa realm kali ini rekayasa Thurqk atau bukan.

    Tapi permainan psikologis yang melibatkan boneka daging itu menarik banget. Kebayang perasaan Luna yang sakit harus membunuh temen-temennya.
    Sayangnya, ini ga sesuai dengan rule :(

    Jadi aku kasi skor 8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, mereka emang ga keliatan. karena itu orang2nya pada stumbling untuk menemukan si Luna. Tapi meski ga keliatan, mereka masih bisa berinteraksi. Liat aja, itu temen2 Luna baru bergerak waktu ada di antara mereka yang nyenggol dia. habis itu sisanya ya cuma nyerang buta ke arah tempat si invisible Luna seharusnya berdiri X)))

      Delete
  18. Saya suka bagian awalnya, pas perkenalan, dialog antara Nurin ma Cel, trus kelicikannya Nurin... Narasinya bagus.

    Tapi makin ke belakang ga tahu kenapa saya makin skimming bacanya. Mungkin karena kebanyakan main lalat jadi kurang DAR DER DOR? >_<

    Memasuki ending sempet bangkitin semangat, tapi pas uda berantem jadi skimming lagi. Ini sangat subjektif si mungkin karena saya kurang suka pertarungan strategi yang kebanyakan cari-carian gitu. Oh ya, sama deskripsi awal tiap pengenalan OC itu, bukan kelewat detail sih... Cuman ya gitu deh...

    Nilai 7!

    ReplyDelete
  19. Pertama umi kasih 9,

    cerita Nurin berhasil membuat umi bergidik akan kekejamannya. Lalat-lalat yang makan daging itu. umi bacanya pas lagi makan cewreal dan jadi sukses ga minat untuk lanjut makan.

    Dari awal cerita sampe akhir, ga ada poin yang bikin umi kesel atau skip.

    jadi umi ga punya alasan buat minus-in nilai kecuali bagian dimana ini bikin umi ga selera makan >.<

    dan selamat kak King, tulisanmu superrrr~~~

    ReplyDelete
  20. Superb! Narasinya ngalir dengan baik dan enak dibaca, tanda baca oke, rapih juga, ga kerasa udah baca sekitar 26 halaman kertas A4 ini sih XD
    Pemanfaatan environment battle juga bagus, jadi tense dan rame pas pertarungan terakhirnya, cuma pace battle-nya jadi rada lama sih menurut saya.

    Yang paling menonjol menurut saya adalah narasinya yang bisa ngegambarin personal detail masing-masing OC di charsheet. Beberapa equipment juga ada penjelasan tipenya, jadi menarik, kayak tipe pedang Cel atau tipe senapan Luna.

    All in all, poin 9!

    ReplyDelete
  21. Awesome story and battle, tapi bukan Nurin. Bagiku di sini Nurin terlalu... meh... karakterisasinya bagus, tapi cara battlenya dia itu lho (meh). Instead of using bystanders, she could have used all the entrant as her puppet to kill Luna.

    Nurin is too darn human for someone who isn't anymore.

    Selain itu, yang mencegah saya kasih nilai sempurna adalah bagian battle dengan Cel. Dia udah bikin Nurin jadi batu, kurasa Cel ga akan lepasin dia dan mending ambil jalan go to hell together (just IMHO)~

    9/10

    ReplyDelete
  22. MAY THE LIGHT OF ZVEZDA SHINE THROUGHOUT THIS WORLD!27/4/14 16:06

    1. saya benar-benar.. truly... absolutely... ada lagi kata sifat sejenis? menikmati cerita ini... narasi yang mengalir, interaksi antar karakter, penggambaran emosi karakter dsb..
    2. saya mempelajari variasi penulisan narasi....

    sir... anda.. benar-benar membuat saya kagum..
    +9 for nurin

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -