April 21, 2014

[ROUND 1 - I] ENZERU SCHWARZ - MERENGGUT NYAWA YANG TELAH TIADA

[Round 1-I] Enzeru Schwarz 
"Merenggut Nyawa yang Telah Tiada"
Written by Wildan Hariz

---

Sore hari. Sebuah bangunan tinggi yang terlihat kurang terawat berdiri
dengan tidak kokoh. Banyak retakan kecil yang menjadi "tato" di
dinding gedung itu. Mengkhawatirkan. Adalah kemungkinan yang tinggi
bahwa benda besar ini dapat runtuh kapan saja.

Angin kering datang dan pergi, menerpa gedung beserta halamannya.
Tidak ketinggalan beberapa menara dan pos keamanan yang berjarak
beberapa kaki dari depan gedung itu pun ikut diterpa. Bunyi gesekan
angin dengan segala sesuatu yang diterpanya senakin memantapkan
kesunyian tempat itu. Sebuah tulisan "No Trespassing" tertera pada
bagian luar gerbang halaman gedung. Makna tulisan peringatan itu tentu
memberikan kontribusi pada kesunyian ini. Makna yang berarti dilarang
ada seorangpun yang boleh menyusup masuk ke dalam tempat itu.

ZUUUUNG.

Tidak ada hujan, namun memang ada angin, lima lingkaran berwarna merah
darah dengan diameter sekitar 1 meter muncul serempak di atas tanah.
Letaknya persis di tengah-tengah halaman gedung. Kelimanya melingkar
dan memancarkan cahaya merah ke langit.

Dari lingkaran pertama, muncul seorang gadis berpenampilan cuek
memakai kaos dan jaket yang agak lusuh. Sepatu kets yang dikenakannya
kotor. Rambutnya hitam sebahu. Kacamata berbentuk persegi menghiasi
matanya. Yang tidak biasa adalah pemandangan sejumlah kecil lalat yang
terlihat asyik mengerubungi dirinya.

Dari lingkaran kedua, muncul gadis lain berpenampilan lebih rapi. Dia
memakai seragam dan sama-sama memakai kacamata persegi seperti gadis
sebelumnya, hanya berbeda model dan berwarna merah. Rambut perak gadis
ini terlihat berkilau di bawah sinar matahari sore.

Dari lingkaran ketiga, lagi-lagi seorang gadis muncul. Kali ini tidak
berkacamata. Rambutnya yang diikat dengan gaya ponytail berwarna lebih
terang dari perak: putih. Sepasang anting berbentuk salib menggantung
pada telinganya. Dia memakai tanktop putih ditambah balutan jaket
kulit berwarna hitam layaknya gadis model motor sport. Pinggangnya
dihiasi dua bilah pedang yang menggantung secara elok.

Dari lingkaran keempat, bukanlah gadis yang muncul. Makhluk ini bahkan
tidak bisa dibilang manusia. Tingginya sekitar 2,5 meter. Badannya
menyerupai monyet. Tapi, dengan ukuran setinggi itu, sepertinya dia
tidak termasuk monyet yang biasa kau jumpai di bumi. Ditambah lagi,
rambutnya bermodel afro. Penampilannya sangat eksentrik dengan kerah
kemeja yang tidak kancingkan dan mengarah ke atas, serta bentuk
celananya yang semakin ke bawah semakin melebar.

Terakhir, dari lingkaran kelima, muncul sesosok laki-laki berambut
panjang. Tidak seperti makhluk-makhluk lain yang matanya tertutup saat
muncul dari lingkaran. Laki-laki ini menatap tegas apapun yang ada di
hadapannya. Rambutnya berwarna hitam tajam. Dia memakai kaos lengan
panjang, celana jeans hitam panjang, dan sepatu hitam dengan sedikit
ornamen perak. Sebuah sabit besar dipanggulnya seolah itu adalah hal
yang wajar.

Setelah sinar-sinar merah dari setiap lingkaran itu puas memancar
lurus ke langit sore, masing-masing dari mereka menghempaskan
makhluk-makhluk yang dibawanya ke berbagai arah secara acak, sampai
akhirnya halaman gedung itu menjadi sepi seperti sedia kala.

***

Seorang anak gadis berumur sekitar 14 tahun membuka matanya di dalam
sebuah ruangan.

"…"

Seakan tersentak dan merasakan ada sesuatu yang hilang, dengan
perasaan tidak nyaman, anak itu meraba sisi kanan tempat tidur dimana
dia terbaring. Dia pun tersenyum tipis.

Ada. Senjata-senjata yang telah biasa gadis itu gunakan tertata rapi,
bersandar pada dinding kamar. Anak itu bangkit dari tempat tidur dan
memandangi senjata-senjatanya: sebuah sniper rifle, dua buah pistol
magnum, dan sebuah tongkat kayu dengan aksesoris bermotif bulan sabit
di atasnya.

Seperti senjata-senjatanya, kamar ini juga bukanlah tempat yang asing
bagi anak itu. Dia mungkin telah ratusan kali membuka mata dan melihat
langit-langit yang sama seperti langit-langit yang dilihatnya
sekarang. Ruangan ini menarik pelatuk ingatan saat dia mulai
mendapatkan kekuatannya, dan pada saat yang bersamaan, sebagaimana
yang telah dia sadari sejak lama, mulai menjadi seorang pembunuh.

Ada sebuah lemari pakaian yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur.
Anak itu membukanya. Dilihatnya beberapa pakaian yang ada di dalamnya.
Kebanyakan pakaian itu hanyalah kemeja putih polos. Adapun beberapa
jaket dan rok hitam terlipat rapi di rak paling bawah.

Seiring dengan datangnya senja, anak itu mengganti pakaiannya. Jika
gadis lain mengganti pakaian dengan piyama saat senja, maka gadis ini
menggantinya dengan setelan kemeja putih, rok hitam, dan jaket casual
hitam. Entah karena memang sudah kebiasaannya begitu atau memang dia
merasakan adanya bahaya. Dia pun mengikat senapan dan tongkat kayu
yang dia miliki di punggungnya dengan tali hitam dan sarung
masing-masing. Pistolnya disimpan pada tempat pistol di kedua sisi
ikat pinggangnya. Dia benar-benar dalam kondisi siaga.

Dalam kesiagaan, anak itu pun bertanya-tanya dalam hati.

"Apakah semua yang kualami tadi hanyalah mimpi? Sosok merah yang
kulihat mengatakan kalau aku sudah mati. Aku pun ingat betul bagaimana
kematianku. Truk itu… benar-benar tak ada yang istimewa."

Memakai pakaian hitam, anak itu berjalan menyusuri tangga gedung yang
mengarah ke lantai atas. "Setidaknya, tempat tinggi mungkin dapat
membuat perasaanku lebih nyaman," pikirnya.

***

"Huaaaaah…" seorang gadis berpenampilan cuek menguap. "gue dimana,
nih?" dia menoleh ke kiri dan kanan bergantian.

"Ini sih jelas bukan BEC, kan? BEC nggak sebobrok ini," ujarnya saat
melihat retakan di dinding gedung. "Lagian, masa' nggak ada satu pun
pengunjung selain gue di sini?"

NGUUUUNG. NGUUNG.

Dengungan lalat-lalat yang sejak tadi mengerubungi gadis itu terdengar
semakin keras. Bunyinya terdengar lain dari biasanya. Sepertinya
lalat-lalat itu mencoba menyampaikan sesuatu pada gadis itu lewat
dengungannya. Mereka memberi tahu semua yang dialaminya sejak tadi,
termasuk kemunculan beberapa sosok lainnya yang diselimuti cahaya
merah sebelum akhirnya dia tersadar di tempat itu. "Ada. Ada
pengunjung lain di sini selain gue rupanya," dia tersenyum tipis.

***

Deru angin atap gedung menghempaskan beberapa helai rambut putih milik
seorang gadis.

"Ah~ damai sekali di sini," ujar gadis itu.

Namanya adalah Celestia Hang. Dia mengeluarkan sebuah kotak rias.
Kemudian dia menarik sebuah bantalan bedak dan menepuk-nepukkannya
pada wajahnya. Cel, sebagaimana orang-orang menyebutnya, menyadari
betul bahwa dia mungkin akan segera berhadapan dengan pertarungan.
Namun, sifatnya membuatnya selalu ingin mempunyai penampilan yang baik
dalam situasi seperti ini sekalipun.

CKLEK.

Terbukalah pintu atap yang menghubungkan atap gedung dengan lantai
teratas gedung itu. Atap gedung ini berupa sebuah dataran kosong yang
lumayan luas dengan pintu atap berada di tengahnya. Dari balik pintu
keluar anak gadis berpakaian hitam-putih. Di punggungnya terlihat
beberapa peralatan.

"Apa kau tersesat, Nak?" sapa Cel singkat sambil meneruskan berdandan.

"Ng… tidak juga, Kak," jawab gadis itu sopan, "aku cuma ingin
menghirup udara segar dan mencari kenyamanan."

"Begitu, ya," Cel merespon seadanya.

"Kalau boleh tahu," lanjut gadis itu, "kenapa Kakak berdandan di atas
atap gedung seperti ini? Aku baru melihat Kakak di sekitar sini. Aku
tinggal di sekitar sini sebenarnya, hehe."

Cel tersenyum, "Yah, mungkin mirip seperti alasanmu. Aku di sini
karena tempat ini damai."

Gadis berpakaian hitam-putih itu mendekat ke arah Cel, "Cantik…"
gumamnya dalam hati saat melihat wajah Cel dari dekat. Dia sempat
melamun terkesima dengan hal itu, sebelum Cel melanjutkan berbicara,
"Oh ya, jika kau berasal dari sekitar sini, apa kau tahu bagaimana aku
bisa pergi ke Southern Island dari tempat ini? Aku sepertinya
ketiduran dan mengalami mimpi aneh. Ketika sadar, aku sudah ada di
atap gedung ini."

"Jadi, sebenarnya kau yang tersesat, ya, Kak," pikir gadis itu dalam
hati sambil melontarkan senyum, "Southern Island? Aku belum pernah
mendengarnya. Jika itu sebuah pulau, mungkin Kakak bisa coba kunjungi
dermaga."

Tunggu. Mimpi aneh, kakak ini bilang? Mungkin ini ada hubungannya
dengan apakah kematian yang diingat oleh gadis itu hanya mimpi atau
memang kenyataan. Jika itu benar, mungkin kakak ini juga sudah mati.

"Oh ya, nama Kakak siapa?" lanjut gadis itu.

"Namaku Celestia Hang. Panggil saja Cel. Kau?" jawab Cel.

"Namaku Luna Aracellia. Panggil saja Luna," jawab gadis itu.

BRAK!

Pintu atap kali ini terbuka dengan kasar. Seorang gadis berpenampilan
lusuh muncul. Dia berjalan mendekati kedua gadis yang sedang
berkenalan itu.

Cel reflek agak mendorong Luna ke belakang, dia mencium bau yang tak
sedap dari arah gadis yang baru datang itu.

"Hah, ternyata emang bener ada orang lain selain gue. Perkenalkan
juga, nama gue---"

***

Beberapa menit sebelumnya, Nurin, gadis yang berpenampilan cuek itu,
berjalan malas mendekati sebuah pos keamanan. Dia melihat seorang
penjaga yang sedang tidur ditemani secangkir kopi yang telah dingin
dimakan waktu di atas sebuah meja kecil.

"Hei, Pak Satpam. Hei! HEEEEI!" Nurin berteriak pada penjaga pos
keamanan itu. Namun tidak ada jawaban.

Penjaga itu memang terlihat sedang tidur dengan topinya yang menutupi
wajahnya. Akal jahil Nurin menggodanya untuk sedikit menjahili sang
penjaga. Beberapa lalat dia kerahkan untuk menggangu sang penjaga.
Anehnya, tak satu pun lalat yang dapat mengenai penjaga tersebut.

"Hah?" Nurin melongo.

Penasaran, Nurin pun mencoba menyentuh penjaga itu. Benar saja, tangan
Nurin hanya menembus tubuh penjaga itu. Penjaga itu tak dapat
tersentuh. Bahkan pakaian penjaga itu pun tak dapat Nurin sentuh.
Padahal, Nurin dapat dengan leluasa menyentuh benda-benda yang ada di
sekitar tempat itu.

"Hm? Jadi, sekarang gue ini semacam hantu, ya? Gue emang beneran udah
mati ternyata."

Merasa tidak puas dengan keadaan itu, Nurin berpaling untuk memandangi
gedung bobrok yang ada di hadapannya saat ini.

"Dari sini gedung ini lebih keliatan kayak latar film berantem yang
gue tonton dulu sama temen-temen gue. Ah, sial. Padahal katanya
sekuelnya mau keluar, tapi gue keburu mati."

Mata Nurin terarah pada dua sosok yang terlihat di atap gedung, "Eh?
Ada orang kayaknya di sana. Gue samperin, ah~ Ini mungkin bisa jadi
menarik."

***

"Jadi…" Cel melipat tangannya di depan, "kita ini sudah mati? Dan
namamu tadi siapa, sih? Nurin?"

"Yup, Nurin," jawab Nurin mantap, "kalian denger sendiri dari sosok
merah yang ngaku-ngaku nyiptain kita, 'kan? Itu bukan mimpi. Gue udah
ngebuktiin tadi. Waktu gue mau nyentuh orang di pos keamanan itu,
tangan gue nembus. Udah kayak hantu aja gitu."

Cel dan Luna mencerna kata-kata Nurin. Walaupun Luna tidak ingat
apakah memang ada orang di pos keamanan itu, sekarang sudah jelas
bahwa yang dilihat mereka berdua memang bukan mimpi. Mereka mencoba
mengingat-ngingatnya lagi.

"Oh ya," Luna menempelkan bagian bawah kepalan tangan kanannya di atas
telapak tangan satunya, "sosok merah itu juga bilang kalau kita yang
terpilih akan dikirim berlima ke suatu tempat."

"Dan tempat kita dikirim ini mungkin akan tidak asing bagi salah satu
dari kita," timpal Cel, "dalam hal ini, mungkin kau orangnya, Luna.
Ini tempat asalmu, 'kan?" Luna mengangguk.

"Tapi apa kita emang harus bertarung? Ngapain coba?" komentar Nurin.

"Ssst. Kak Nurin, apa kau mendengarnya?" tanya Luna.

"Apa?"

"Ada musik aneh dari menara itu."

Alunan musik itu berasal dari seekor makhluk menyerupai monyet yang
sedang asyik meniup suling. Memang terdengar aneh, tapi itu musik yang
indah. Berhenti meniup, makhluk itu menyapa dengan nada bicara santai,
"Hohoho~ Selamat pagi, Ladies! Aku Salvatore Jackson, musisi keliling
antarplanet. Kau bisa memanggilku Sal."

"Wah, beruntung sekali diriku, pagi-pagi sudah mendapati pemandangan
gadis-gadis. Mau request lagu apa, Ladies?" lanjutnya.

"Jackson? Hm, gue nggak tau kalian berasal dari mana, tapi di tempat
gue juga ada seorang musisi yang namanya Jackson, dan dia juga udah
mati," komentar Nurin.

"Daripada itu, ini 'kan bukan pagi. Ini sore! Lagipula siapa yang mau
mendengarkan lagu di saat seperti ini. Luna, ini tempat apa, sih?
Kenapa ada monyet aneh yang bisa bicara?" Cel sepertinya dibuat agak
gila dengan kemunculan Sal.

"Ckckckck, jangan meremehkan kekuatan Irama Jiwa, Nona. Aku ini Meteo,
ras yang terkenal dengan kemampuan melarikandiri-nya. Kau pernah
mendengar Mustachio? Itu grup musikku, lho," jawab Sal.

"Hm, aku tidak pernah mendengarnya. Tapi, musik sepertinya boleh juga.
Coba mainkan musik yang indah, dong. Paman Monyet," pinta Luna dengan
wajah berseri-seri.

"Kau ini…" Cel melirik Luna tidak percaya.

"Nah! Seleramu sepertinya boleh juga, Nona Muda. Baiklah, ini spesial untukmu…"

"Hei, Cel," Nurin menyenggol Cel dengan sikutnya. "Jangan-jangan
monyet ini yang terpilih yang keempat," Cel yang menyadari Nurin dekat
dengannya dan mencium bau tidak sedap, langsung menutup hidungnya
dengan tangan. "E-Entahlah, Nurin," jawabnya sambil agak menjauh.

Di tengah permainan sulingnya, mendengar hal itu, Sal tiba-tiba
berkata, "Heheheh, mungkin saja. Kalian sedang membicarakan yang apa
yang dikatakan sosok merah itu, 'kan? Nona Cel dan Nona Nurin?"

Ketiga gadis itu agak kaget dengan pernyataan barusan. Ini terdengar
seperti Salvatore sudah memahami semuanya.

"Ada satu lagi yang terakhir, lho. Kenapa kau tidak keluar saja
sekarang, Lelaki Bersayap Hitam?" lanjut Sal sambil memanggil ke arah
menara pengawas.

Muncul sesosok laki-laki bersayap hitam yang terbang dari balik menara
itu. Sayapnya perlahan memudar dan menghilang dari punggungnya. Sebuah
sabit besar dibawanya dengan mantap. Anehnya, laki-laki itu
menyerahkan sabitnya begitu saja pada Salvatore tanpa mengatakan
apapun.

"Ha! Aku sebenarnya telah menduga kau ada di sana sejak tadi, fufufufu."

"…" ketiga gadis itu terdiam.

"Dari mana lu bisa tahu, Sun Go Kong bergaya disko!?" tanya Nurin tiba-tiba.

"Kau tahu, penciumanku ini spesial, lho. Sepertinya aku bisa mencium
lebih baik dari kalian, bahkan lebih baik kawan-kawanku yang sesama
ras Meteo.

"Meteo? Bukannya nama itu kedengaran terlalu keren untuk monyet
seperti ini?" ejek Cel.

"Oi! Ayolah, jangan menyelaku terus, Nona-nona. Biarkan aku
menjelaskan kemampuanku."

"Ng… Paman Monyet… memangnya kami terlihat peduli?" ujar Luna sambil
menampilkan senyum polos.

"…"

Salvatore terdiam. Detik berikutnya dia sudah berjongkok di dekat
bagian sudut atap gedung. Menyendiri. Yang menemaninya hanyalah aura
suram dan sebuah sabit yang tergeletak.

"… Oke, sekarang mari kita kesampingkan dulu monyet jerapah itu. Jadi
kau yang kelima, ya. Siapa namamu? Asal kau tahu, kami berempat di
sini sudah berkenalan terlebih dahulu. Yah, sekedar untuk kenyamanan
saja," kata Cel dengan tenang.

"…" laki-laki itu diam tak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan
dengan ekspresi datar.

"Hei! Lu bisa ngomong nggak, sih?" hardik Nurin.

"…"

"Cih," Cel berdecak kesal, "membosakan. Berada dalam satu ruangan
hanya denganmu mungkin bisa membuatku mati bosan, tahu!"

"Eeee… sebenarnya ini kemampuan Way of the Bacot milikku!" tiba-tiba
Salvatore sudah menjadi ceria dan mendekati mereka lagi, "Musik dari
Way of the Bacot yang tadi kuperdengarkan berjudul 'Rapopo', itu
membuat laki-laki ini menyerahkan sesuatu yang berharga baginya
kepadaku. Keren, 'kan?"

"Serem," komentar Nurin.

"Hee~ hebat~" Luna terkagum.

"Sesuatu yang berharga…" Cel tertegun. Sebagian kecil ingatan semasa
hidupnya mulai muncul di kepalanya, "sesuatu… atau seseorang yang
berharga… apa aku juga memilikinya?" pikirnya bingung.

"Pokoknya," lanjut Sal, "aku menyita sabitnya ini karena aku merasakan
hal berbahaya dari dirinya. Aku ini musisi cinta damai. Jadi, kita
jangan bertarung, ya?"

"Kami juga tidak ingin bertarung, kok. Kami tidak ingin begitu saja
menuruti si merah itu. Jadi, bagaimana kalau kita menunggu apa yang
terjadi jika kita tidak bertarung?" saran Cel.

"Setuju," jawab Nurin dan Luna hampir bersamaan.

***

Sudah setengah jam mereka berada di sana. Si Meteo tetap asyik
memainkan suling bambunya. Entah dia sedang menggunakan musik dari Way
of the Bacot lagi atau bukan. Luna dengan cekatan membersihkan laras
senapannya dengan sebuah lap. Cel tentu asyik berdandan dengan kotak
riasnya. Sedangkan, Nurin berada agak jauh dari yang lain. Dia hanya
berbaring memandangi langit malam.

Tiba-tiba, tangan Luna bergerak mengatur senapan yang sejak tadi
dibersihkannya. Kini senapan itu terbidik ke arah Cel. Sebuah peluru
mendarat pada tangan kiri Cel, membuatnya menjatuhkan kotak riasnya.

"Aaarrghh!"

Semua yang ada di situ menoleh ke arah Cel. Padahal, arah tembakan
Luna tepat mengarah ke jantung Cel. Namun karena reflek Cel yang
bagus, hanya tangan kirinya yang kena.

"A-Aku tidak melakukannya, Kak. Sungguh! Tanganku bergerak sendiri!"
seru Luna sambil memandang Cel ngeri.

"Kau…" Cel mencabut dua pedang yang menggantung di pinggangnya. Dia
menerjang Luna. Bahkan dengan lengan kiri terluka pun Cel masih bisa
mengayunkan pedang-pedang itu dengan baik ke arah Luna

Dengan sigap Luna menghindari serangan itu. Luka yang diterimanya
hanya sebuah goresan agak panjang pada pipi kanannya.

"Uhk…" ringis Luna kesakitan.

Baru saja Luna berhasil mengambil nafas, Cel sudah hampir merobek
pelipis Luna dengan tebasan pedangnya. Jika Sal tidak bergerak dengan
cepat menyelamatkan Luna saat itu, mungkin kepala Luna sudah
tercincang.

"Ng? Kau bisa membelah diri? Bagaimana bisa?" tanya Sal.

Luna pun berkomentar, "Ada dua Kak Cel? Dan mereka berdua sama-sama
menyerangku. Ini aneh--- ukh…"

Tanpa disadari, tangan Sal mencekik leher Luna. Wajah Sal terlihat
benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan sekarang.

"Hei, ayolah! Ini benar-benar tidak keren. Kenapa aku malah mencekik
Nona Kecil ini?

Sementara itu, muncul satu Cel lagi di sana. Kini jumlah Cel menjadi
tiga. Cel sepetinya menyadari apa yang terjadi saat itu.

"Aku memang marah saat kotak riasku terjatuh. Tapi hal berlebihan
seperti ini juga bukan hobiku. Sial! Sampai membuatku menggunakan
Amethys-Amethys-ku, sepertinya ada yang sedang mengendalikan kita."

Di tempat lain, ludah dan lalat-lalat Nurin berhasil membuat laki-laki
bersayap hitam sibuk menghindar.

"Cih, ini emang bukan kehendak gue. Tapi, kebetulan gue juga nggak
suka sama lo. Hahaha! Makan tuh! Ayo ngamuk sepuasnya!" seru Nurin.

"…"

Selain sibuk menghindar, laki-laki itu juga sibuk menahan dirinya
untuk menyerang Nurin secara langsung dari depan. Siapa tahu apa yang
bisa dilakukan gadis itu jika kau menyerangnya dengan gegabah.
Bagaimanapun, sesuatu dalam diri laki-laki itu memaksanya terus
berkehendak untuk menyerang.

Dilihatnya sabitnya yang tergeletak ditinggalkan Sal, maka laki-laki
itu mengambilnya. Nurin tidak serta merta diam. Dia dan lalat-lalatnya
mengejar laki-laki itu.

"Akh, lepaskan!" Luna berontak dari cekikan Sal. Namun cekikannya terlalu kuat.

"Awas!" Cel memperingati Sal. Tebasan Cel membuat Sal terpaksa
melepaskan Luna. Dia menghindar dengan kecepatan tinggi menggunakan
kemampuan kakinya yang luar biasa, Thousand Steps.

Salah satu Amethys, sosok yang menyerupai Cel, muncul dari belakang
Sal. Namun Luna berhasil meledakkan kepalanya menggunakan tembakan
senapannya. Sebuah headshot sukses.

"Kita impas, Paman," kata Luna.

"Hehehe. Ngomong-ngomong, gawat, nih. Ssepertinya aku akan menggunakan
Way of the Bacot: Rock. Mungkin kalian akan merasa sedikit
bersemangat."

Lagu yang dinyanyikan Sal melalui serulingnya membuat adrenalin
makhluk-makhluk di sekitarnya naik.

Lalat-lalat Nurin semakin menggila, mereka terbang tidak beraturan,
mencoba meyerang laki-laki bersayap, sekalian dengan Sal, Luna, dan
Cel yang ada di dekatnya. Mereka susah payah menghindar. Beberapa
ludah Nurin yang beracun berhasil mengenai laki-laki bersayap, namun
sepertinya dia kebal terhadap racun, tak terjadi apa-apa. Mungkin
efeknya akan berbeda jika mengenai Sal, Luna atau Cel.

Apapun yang mengendalikan mereka semua, keadaan semakin rumit. Musik
rock yang dibawakan seruling Sal mengiring siapapun yang mendengarnya
untuk mendekat secara brutal ke arah Sal. Setelah mereka cukup dekat,
Sal berteriak.

"Keparatt!" Sal menendang semua yang didekatnya, dengan putaran
tendangan yang unik sekaligus keras. Tercipta semacam hembusan angin
menyerupai tornado kecil. Luna, Cel, Nurin, dan laki-laki yang
memegang sabit itu terpelanting.

Luna dan Nurin hampir saja terjatuh dari atap gedung itu, namun segera
setelah Sal menendang, Sal kembali memainkan musik rock-nya.

Laki-laki bersabit dan Cel yang tergeletak pun langsung bangkit. Sama
halnya dengan Luna dan Nurin hampir terjatuh, mereka segera bangkit.
Di masing-masing tubuh mereka terdapat sesuatu yang memaksa mereka
bangkit. Ditambah lagi, adrenalin mereka terus meningkat karena musik
dari seruling Sal.

Saat Cel, Nurin, dan Luna dipaksa mendekati Sal lagi, laki-laki
bersabit itu tiba-tiba menghilang.

"Keparatt!" saat Sal akan melakukan kemampuan tendangannya yang mirip
capoeira itu lagi, tepat saat kepalanya dimiringkan demi mengambil
ancang-ancang, hal itu terjadi.

ZRAAASH.

Sebuah tebasan yang langsung membuat leher Sal putus datang dari arah
belakangnya. Ternyata laki-laki itu menggunakan kekuatannya untuk
menghilang, Hallowed Wings. Kekuatan ini memungkinkannya menjadi tak
terlihat dan terbang menggunakan sayap hitamnya.

"Schwarz."

Kata itulah yang pertama laki-laki itu ucapkan. Mereka yang ada di
sana akhirnya mendengar laki-laki itu bicara.

Sambil memenggal kepala seekor monyet. Ini mungkin cara memperkenalkan
diri yang cukup aneh, terutama jika tujuanmu memang bukan berniat
menjadi cassanova yang ingin membuat gadis-gadis di hadapanmu
terkesan.

Cairan merah yang segar masih mengalir dari leher mayat monyet itu.
Lalat-lalat Nurin dengan cepat mengerubunginya. Sesosok bayangan
makhluk merah berambut mohawk dan bersayap hitam terlihat memudar saat
Sal mati. Namun, dari tubuhnya muncul juga seberkas cahaya yang
langsung diserap oleh sabit laki-laki itu.

"Enzeru Schwarz," dia mengulangnya, kali ini dengan nafas yang
terengah, "mereka memanggilku begitu. Kalian juga bisa memanggilku
begitu kalau mau."

"Seperti yang kalian mungkin ketahui, makhluk tadi mengalami
kerasukan. Dan entah sejak kapan, kita juga. Aku adalah pencabut
nyawa. Mungkin hanya ini yang bisa menghentikannya," lanjut laki-laki
bernama Enzeru itu.

"Cih, berlagak jadi pahlawan!? Jadi lo yang ngendaliin kita, ya!?"
sentak Nurin. Dia menatap puas apa yang baru saja dibangkitkannya,
"bukan cuma lo yang punya kemampuan ngendaliin!"

Sal yang tadi mati kini bangkit. Gigitan lalat-lalat Nurin ternyata
membuat Sal dapat dikendalikan oleh Nurin.

"Bukan," jelas Enzeru, "sepertinya ini ulah makhluk-makhluk merah itu
agar kita bertarung. Meskipun aku juga bersayap hitam, tapi aku tidak
ada hubungannya dengan---"

BUAAKK!

Masih tanpa kepala, Sal yang telah mati melayangkan pukulan ke arah
Enzeru. Pukulan itu ditangkis oleh sebuah tendangan. Namun, pukulan
itu ternyata lebih kuat. Enzeru pun terjatuh.

"Arrrgh, sialan!" Nurin pun mendekati Enzeru yang terjatuh, dia
mengeluarkan gas berwarna hijau pekat. Seperti Salvatore, dia pun
mulai tak terkendali.

Melihat hal gila itu, Cel berseru, "Kalian berdua, hentikan! Coba
tahan kekuatan kalian!"

Walaupun Cel berkata begitu, satu Amethys Cel yang tak terkendali
mencoba menyerang Luna. Senapan Luna berhasil patah ditebas, sebagai
ganti nyawa Luna yang berhasil menggunakan senapannya sebagai penahan.

Luna dengan terseok-seok menghindar. Dia menyiapkan pistol magnumnya,
kemudian berusahan berlari mencari cahaya bulan. Dia menemukannya,
hanya saja cahayanya tidak begitu terang. Hari memang belum terlalu
malam.

Amethys Cel yang terbuat dari batu sudah cukup rusak oleh serangan
tendangan Sal. Dia mulai mendekati Luna. Sebuah tebasan dilepaskannya.

SRING!

Namun, di luar dugaan, Cel yang asli muncul di hadapannya. Tebasan
tadi mengenai kulit bahu Cel yang sudah mengeras menjadi batu. Tidak
terlalu mempan.

"Hah… hah… kau tidak apa-apa, Luna?" tanya Cel terengah-engah. Dia
berusaha melawan kehendak makhluk yang merasukinya.

"Kak Cel…" terbersit rasa kagum di benak Luna. Dia mengagumi kekuatan
dan kegigihan Cel. Kalau saja dia lebih dewasa dan lebih kuat, mungkin
dia bisa lebih sedikit bergantung pada senjata atau kekuatan bulan.

Sementara itu, di dalam gas hijau pekat yang dikeluarkan Nurin, Enzeru
sedang beradu kekuatan dengan mayat Sal yang tanpa kepala. Meskipun
gas hijau itu beracun, tapi itu bukan masalah bagi Enzeru yang kebal
racun. Berarti masalahnya sekarang hanya bagaimana cara mengatasi
mayat Sal yang kuat itu.

Enzeru menggunakan Deathscythe-nya untuk menahan dorongan tangan mayat
Sal. Walaupun Enzeru mempunyai kekuatan fisik yang cukup baik karena
telah melewati berbagai pertarungan, tapi dia tetap berada di tubuh
manusia biasa. Kekuatan fisik ras Meteo memang bukan tandingannya.

Yang perlu Enzeru lakukan hanya sedikit menjauh, dan melakukan
serangan jarak menengah. Saat tekanan mayat Sal semakin kuat, Enzeru
mengeluarkan kekuatannya.

Dengan kemampuan Black Light-nya, Enzeru dapat memperlebar jarak
dengan cara berpindah tempat ke tempat yang terdapat bayangan.

BRUAKK.

Dengan menghilangnya Enzeru, dorongan mayat Sal pun akhirnya hanya
dapat merusak lantai atap gedung.

Memang hanya sedikit bayangan yang bisa dia gunakan di malam hari.
Terutama, jika bulan hanya memberikan sedikit cahayanya. Jadi, dia
memutuskan untuk memilih bayangan di balik pintu atap gedung sebagai
tempat tujuannya.

Nurin belum menyadari hal ini. Dia juga tidak dapat melihat dengan
baik karena gas yang dikeluarkannya. Namun, mayat Sal tiba-tiba keluar
dari kepulan gas hijau itu. Mayat itu dibimbing oleh lalat-lalat yang
sepertinya sudah terlatih untuk menemukan mangsanya.

Apa boleh buat. Enzeru menyerangnya langsung dari depan. Hanya saja,
kali ini dari jarak menengah. Dia melemparkan sabitnya ke arah mayat
Sal sebagai bumerang.

CRASSH.

Paha kanan mayat Sal berhasil ditebas. Mayat itu terjatuh karena
kehilangan keseimbangan.

Para lalat mengabari Nurin tentang ditebasnya mayat Sal, "Hahaha,
hebat juga, bisa ngalahin boneka gue. Tapi ini masih belum selesai.
Lalat-lalat gue masih di sini."

---On those days the sun shall be darkened
And the moon shall not give her light
And the stars will fall from heaven
And the earth shall be shaken---

Penggalan lirik dari sebuah nyanyian terdengar dari arah Luna. Kini
Luna menggunakan tongkat kayu yang sedari tadi dibawa di punggunya.
Dia sedang bernyanyi.

"Moonlight Shadow! Song of the Moonlight!" Luna mengakhiri nyanyiannya.

Cel ternyata berhasil memberinya waktu cukup lama untuk bernyanyi.
Amethys-nya telah hancur ditebas oleh Cel sendiri. Dia telah menguasai
tubuhnya dengan lebih baik.

Setelah nyanyian itu, intensitas cahaya bulan menjadi semakin tinggi.
Sampai-sampai atap gedung itu terlihat terang seperti disorot lampu.

Cukup terang, Nurin dapat melihat Enzeru dengan jelas, "Di sana
rupanya kau, Sayap Sialan!"

Nurin mengumpulkan gas hijau tadi menjadi sebuah bola gas dan
menyatukannya dengan puluhan lalat yang siap menggigit mangsanya.
Meskipun dia tahu lawannya kebal racun, dia mempertaruhkan segalanya
pada serangan terakhirnya ini.

Racun dibalas dengan racun. Enzeru mengambil ancang-ancang untuk
mengayunkan Deathscythe-nya yang beracun sejak awal. Dia pun tahu
kalau pengguna racun biasanya kebal terhadap racun. Ini semata-mata
dia lakukan untuk menjawab tantangan Nurin.

Sementara itu, Luna yang melihat Enzeru dan Nurin siap melancarkan
srangan masing-masing, berusaha menghentikan mereka dengan kedua
pistol magnumnya yang telah ditambah peluru sihir.

DOR! DOR!

"Heaaa!" Nurin menghempaskan bola gas berisi lalat-lalatnya.

"Toxic Sludgethe," Enzeru mengayunkan sabitnya.

Bola gas berisi lalat-lalat Nurin melaju. Kemudian disambut oleh
gelombang tebasan beracun yang dilepaskan oleh sabit Enzeru.
Tabrakannya mengakibatkan ledakkan racun yang cukup besar.


Cel dan Luna melindungi diri hanya dengan menutup hidung dan mulut
mereka. Sementara itu, dua peluru yang ditembakkan Luna tepat mengenai
tangan kanan Enzeru dan tangan kiri Nurin. Luna memang hanya berniat
melerai agar mereka berhenti bertarung.

Setelah ledakkan itu, Enzeru hanya terlihat menderita luka-luka kecil
karena serangan Nurin. Namun, Nurin menderita sebuah bekas tebasan
yang panjangnya dari leher ke perutnya. Tidak heran, serangan Enzeru
bukan hanya racun, tapi juga gelombang tebasan benda tajam.

"Terlambat. Nyawa gadis itu telah kucabut," ujar Enzeru dingin. Sebuah
cahaya dari tubuh Nurin diserap oleh sabitnya. Bayangan makhluk merah
mohawk itu pun perlahan menghilang dari tubuh Nurin.

Tinggal bertiga. Bila dibandingkan dengan Enzeru atau Cel, Luna jelas
memiliki kondisi yang lebih prima.

"Hei, Kakak Bersabit. Kemungkinan besar pertarungan ini kami yang
menang, 'kan? Apa kau ingin menyerah?" Luna menodongkan pistolnya ke
arah Enzeru.

"Kami? Kau bercanda. Hanya ada satu pemenangnya," jawab Enzeru.

"Terserah. Pokoknya ini giliranku melindungi Kak Cel. Setelah kami
mengalahkanmu, barulah masalah siapa yang menang menjadi masalah kami
berdua."

ZLEB!

Cel yang masih berusaha menguasai dirinya terkejut melihat sabit
Enzeru sudah menancap di sekitar tulang kerahnya. Rupanya Enzeru masih
punya tenaga yang cukup untuk melempar sabitnya untuk menusuk Cel.

Mata Luna terbelalak, "Kau… beraninya kau!"

Kali ini Luna bertekad menggunakan Moonlight Dance-nya dengan lebih
serius. Dia sontak melepaskan beberapa tembakan ke arah Enzeru.

Tujuan Enzeru kini adalah untuk mengambil sabitnya yang tertancap pada
Cel. Kekuatan spiritualnya sudah cukup banyak terkuras untuk
mengaktifkan kemampuan berpindah tempatnya. Jadi, dengan pertaruhan,
Enzeru hanya mengandalkan kecepatan kakinya untuk menghindari peluru.

Manuver-manuver cantik dilakukan oleh Luna layaknya seorang penari
dalam memburu Enzeru. Beberapa pelurunya sempat menyerempet kaki,
dagu, dan pipi Enzeru. Akhirnya dia berhasil memegang gagang sabit
yang menancap pada Cel.

Luna ragu untuk menembak karena bisa saja pelurunya mengenai Cel.
Keraguan itu membuat Luna kalap dan berlari mendekati Cel dan Enzeru.
Karena sabitnya sulit dicabut dari tubuh Cel, maka Enzeru mengambil
salah satu pedang Cel dan menusukannya ke tubuh Luna saat dia
mendekat.

ZLEB!

"Ugh… " Luna mengalami pendarahan hebat. Pistol magnumnya pun terjatuh
dari kedua tangannya, "setidaknya Kak Cel tidak mati lebih dulu…" dia
tersenyum lalu jatuh berlutut.

"…"

"S… Stone," ucap Cel dengan susah payah. Dia memutuskan untuk
mengerahkan kemampuan terakhirnya. Kemampuan untuk membuat segala
sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi batu. Yang jadi masalah adalah
jangkauan kemampuan ini. Jangkauannya sangat luas. Dengan begini, Cel
layaknya sebuah bom yang hanya akan menyisakan lingkungan batu seluas
1 km dengan dirinya, seorang diri berada di tengah-tengahnya.

Enzeru menyadari sesuatu yang tidak beres dari arah Cel. Tubuh Cel
diselimuti cahaya putih. Dia menggertakkan giginya sambil menyeringai,
"Mati kau, Sayap Bodoh!"

Dengan sekuat tenaga Enzeru mencabut Deathscythe-nya dari tubuh Cel.
Cel pun terjatuh ke pinggir dari gedung lima lantai itu. Sementara
itu, Enzeru menggunakan kemampuannya, Black Light, untuk menjauh
dengan berpindah ke tempat terjauh yang dapat dia pikirkan. Ajaibnya,
benturan dengan dataran tidak membuat jantung Cel serta merta
berhenti. Jantungnya masih berdetak lemas. Alas, sial bagi Enzeru.
Jeda waktu yang sedikit itu masih sempat membuat kemampuan Cel
terlepaskan.

Enzeru melesat cepat dari bayangan satu ke bayangan lainnya. Dia
melewati gang sempit, bawah pohon, bawah tiang listrik, halaman rumah,
sekolah, bangunan lembaga pemerintah, apapun yang dia bisa. Jika
melihat ke belakang, mungkin hanya batu yang semakin meluas yang dapat
dia lihat.

Beberapa menit pun berlalu. Beberapa kali pula Enzeru telah
menggunakan Black Light. Tubuh manusianya mulai terasa lebih lelah.
Menggunakan Black Light lebih dari ini akan mengakibatkan tubuhnya
tidak bisa bergerak saking lelahnya. Enzeru tahu betul akan hal itu.
Yang tidak dia ketahui adalah apa yang akan terjadi jika dia menjadi
batu di sini, dan bagaimana nasib teman-teman manusianya yang telah
mati. Itulah yang menjaganya tetap maju hingga saat ini.

Saat dia merasa kemampuannya telah mencapai batasnya, dia mengatasi
situasi ini dengan cara manual, yaitu berlari. Derap langkahnya
bertautan dengan nafasnya yang mulai memburu.

Tanpa dia sadari, kakinya telah berubah menjadi batu, sampai mata
kaki. Enzeru terjatuh, sedangkan perubahan menjadi batu semakin
meluas. Kali ini yang menjadi penentuan adalah apakah jantungnya akan
berhenti jika perubahan menjadi batu meluas pada bagian dadanya.

Perut Enzeru telah berubah menjadi batu. Sebelum sempat meluas ke
dadanya, cahaya merah menyelimuti tubuh Enzeru. Seiring dengan
memancarnya cahaya merah itu ke langit, tubuh Enzeru pun menghilang
tanpa jejak. Setelah itu, dua berkas cahaya terlihat keluar dari tubuh
Cel dan Luna. Kedua cahaya itu memudar kemudian menghilang ke udara.

23 comments:

  1. Ini kok lucu ya... Kayanya baru kali ini di grup I pada temenan semua dulu sebelum berantem (terutama Nurin, bikin imagenya jadi beda di mata saya)

    Kecelakaan yang micu pertarungannya kurang ngena buat saya. Kalau Luna emang pro, masa ga tau trigger discipline sampe bisa ga sengaja nembakin peluru nyasar? Battlenya lumayan, tapi Enzeru yang kurang ekspresif entah kenapa bikin feelnya rada datar

    6/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luna yang nembak Cel itu karena dirasuki Hvyt, bukan kecelakaan. Jadi itu murni niat Hvyt yang nembak Cel pake tangan Luna secara paksa. Sebenernya semua OC dirasukin sama Hvyt (di akhir saya lupa ngedeskripsiin keluarnya Hvyt dari tubuh Cel & Luna, btw), cuma takaran "possession"-nya beda, dengan Sal & Nurin yg paling tinggi, makanya mereka paling keliatan ga terkendali.

      Untuk Nurin, kepikirannya dia pake bahasa gaul biasa kayak mahasiswi pd umumnya sih, makanya jadi rada aneh gitu XD

      Setuju, pas nulis ini saya juga ngerasa Enzeru kurang dieksplor, kayaknya saya terlalu terpaku buat maparin dan nyorot OC lainnya dulu. Semacam ada hal yang saya pengen Enzeru yg jelasin, tp akhirnya saya malah pake OC lain buat ngejelasinnya. ._.

      Btw thanks reviewnya, masih banyak cela nih XD

      Delete
  2. Hahaha! Pasti si Thurqk bosan dan mencelos sewaktu lihat mereka berteman seperti itu, makanya dia mengutus ayam-ayam merah itu buat bikin kekacauan (dan saya suka ide kayak gini :D )

    Tapi memang agak konyol kelihatannya kalau tidak ada yang berniat menyerang dan menang, hahaha

    Battle-nya seru. Karena bahasanya lancar dan enak, saya jadi gampang buat membayangkan gambaran tiap adegannya :)

    8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, iya ya. Kepikirannya gitu sih XD
      Mungkin mereka juga malahan punya keinginan buat nyari cara kabur bareng-bareng terus malah nantang Thurqk. Tapi Thurqk emang nggak bodoh. :D

      Makasih banyak review & poinnya~ ntar sayah mampir ke Zany juga XD/

      Delete
  3. Oke, part pertama masih termaafkan walaupun berteman dulu.
    Yang saya agak bingung, gak ada indikasi kalo Hvyt bikin kekacauan (Atau emang saya yang nggak baca?)
    Last but not least, battlenya bagus tapi saya kurang puas sama endingnya.

    7.5/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, thanks! =D

      Btw bang rayan riad ini OC-nya yg mana, yak? mau bales komen juga, hehe.

      Indikasinya ada pas Cel bilang, "ada yang sedang mengendalikan kita", OC-OC lain juga secara nggak langsung nyadar ada yang ngendaliin. Selain itu, di sana juga deskripsiin kok kemunculan sosok merah berambut mohawk dan bersayap hitam waktu Sal & Nurin mati.

      Mungkin ga keliatan karena saya gak tulis nama 'Hvyt' secara langsung, ya. --a

      Delete
    2. Eh, Ravelt ya. Oke saya baca dulu~

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Ini agak Too telling di saya, dan sesuatu yang baru mereka semua berteman walaupun musuh. Well, semua mau temenan sama nurin?
    .
    Pertarungannya agak fast-paced ga sih ya? Atau cuma saya yang ngerasa kayak gitu?

    well

    7/10

    ReplyDelete
  6. Thanks review & poinnya, hehe. Nurin... gitu juga tetep aja dijauhin sih dia ._.

    ReplyDelete
  7. Adegan awalnya lumayan. Pas kelima entrant nongol kebayang adegannya. Narasinya juga lumayan. Ketauan banget deh penulis yang comic/manga oriented ama penulis yang novel oriented. Narasi penulis pertama lebih lebih banyak tell. Well, author moi juga comic/movie oriented sih. O ho ho ho hon. So, yah, narasinya emang kayak narasi komik. The plus side is, battle-nya jadi lumayan seru. Moi nitip nilai 7.

    ReplyDelete
  8. Eh, ada Nona Colette mampir rupanya. Merci review & poinnya, Nona. Bisa ketauan juga ya? XD hehe, saya jarang nulis cerita juga lagian, tp input emang banyak dari sana sih.

    Nanti sayah baca juga kisah sepak terjangmu, Nona. Ah tapi udah dini hari. Sepertinya sayah minta bantuan aja sama Enzeru yang ga butuh tidur buat nyeritain kisahnya esok hari, hahahaha~

    ReplyDelete
  9. Awalnya unik, mereka berteman. Ternyata Thurqk akan marah kalau petarungnya cuma diam-diam saja. Idenya bagus, tapi pas masuk battle jadi ga ada ceritanya, full aksi, ane jadi rada bingung ngikutinnya. Ane kasih nilai 7 ya gan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, bener juga ya, plot di battlenya jadi kacau .-. thanks bang epicu =]

      Delete
  10. Weh, si bleki sekarang storynya makin mantap waktu dibaca nih.
    :D
    maaf ya baru sempet mampir.

    Ahem, dah lama sejak terakhir ane baca story buatanmu, dan kalo dibandingin dengan yang ini. Jelas banget kerasa kalo nte udah ada banyak peningkatan.
    :D
    Narasinya rada puitis, pembawaan deskripsinya juga dah bagus.

    Cuma-- aku rada kurang sreg sama penggambaran suasana yang masih terkesan komikal (halah, padahal story bikinan w juga gitu). Terutama di bagian senyum kecil, "Fufufufufu.."
    I know, itu bertujuan buat menggambarkan kalo char itu sedang tertawa kecil. Tapi nggak semua orang baca komik one piece lho, jadi nggak semua orang bisa ngerti apa itu maksud, "Fufufufufu~.."

    And beberapa komedi yang penulis coba sampaikan namun kurang kena bagi pembaca.
    contohnya : bagian pengenalan "way of bacod" masih kerasa garing brader.
    :D

    Ada beberapa typo sih, tapi ane gak terlalu pusing sama typo tentang EYD. :p



    oh iya, ini alurnya kocak!
    Gegara pada entrant males buat bertarung, jadi ada Hvt ada yang bertindak sebagai provokator.
    XD

    Point : 7/10
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Be-benar juga, yg fufufu kalo yg cuma apal meme juga mungkin bakalan nyangka itu semacam FUUUUUUU ya. Nuhun udah mampir, san =]

      Delete
  11. Oke, Umi kasih saran aja karena Umi beneran enggak ngerasa cerita ini seru.

    Mungkin ada baiknya ada intro atau cerita extra, misalnya dialog Hvyt dengan Hvyt,atau dialog Hvyt dengan Thurqk, di bagian triger kekacauannya. Trus berasa enggak masuk akal aja, Cel yang begitu dan sangat memperhatikan kebersihan bisa segitu nyamannya sama Nurin yang notabenenya bau banget.

    Tapi plot ceritanya Oke banget. :D Umi suka idenya. membuat Hvyt bekerja ekstra itu keren :D

    7/10 dari Umi :D

    ReplyDelete
  12. hehehe... karena bikin penilaian pake narasi itu butuh waktu lama, jadi saya langsung to the point aja ya kak...

    1. battle royale tetapi ada adegan ketemuan di awal2 itu rasanya agak aneh kak. mungkin sih gpp kalau sebentar sebagai adegan pembuka dan terus dilanjutkan dengan konfliknya. tapi, kok saya baca adegan itu panjangnya sampai 1/2 cerita?
    2. untuk battlenya lumayan mengalir, tetapi masih pake teknik tell, bukan show. saya sebenarnya juga lagi belajar soal ini sih...

    selain itu sudah diambil ama kakak2 di atas. poin dari saya: 7.0

    hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah iya, kebanyakan tell nih, thanks Lazu :D

      Delete
  13. belum ahli mengkritik, ngasih nilai aja ya

    7.5/10

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -