April 4, 2014

[ROUND 1 - G] URSARIO - TALEY OF THE NOTTEDDY BEARY

[Round 1-G] Ursario
"Taley of the Notteddy Beary"
Written by Heru Setiawan

---

Dunia kembali berganti, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Kini Ursario berada di hutan yang tidak dikenalinya. Dia tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan sosok bernama Thurqkey itu, ceramah barusan begitu membosankannya. Tapi intinya, sekarang si boneka beruang kecil ini harus bertarung mengalahkan empat pesaing lain. Dan hutan ini sepertinya adalah rumah salah satu dari empat peserta itu.

"Cih! Goddy Thurqkey itu bilang dia bisa menghidupkanku? Nggak bisa dipercaya! Gayanya sudah seperti Overlordy saja! Pasti dia sekutu si Jelek Mag-Lumina! T-tapi sialnya, aku sudah terlanjur terjebak di permainan ini," Ursario terus mengoceh sendiri sambil bergerak perlahan-lahan, bersembunyi memanfaatkan lebatnya pepohonan.

Ursario menemukan banyak sekali hewan langka dari kalangan burung, mamalia, dan lain-lain, yang setidaknya sudah punah di Nedagaia. Di antara hewan-hewan itu, tampak juga sejumlah sosok manusia-tumbuhan, atau ... mungkin mereka adalah Planty Demony? Tapi ada yang aneh dari mereka semua, hewan-hewan dan para Planty Demony itu. Mereka tampak begitu ketakutan dan bergerak menjauhi suatu tempat.

"Hei, Planty Demony! Apa nama hutan ini?!" seru Ursario sambil menodongkan rifle-nya ke salah satu manusia-tumbuhan itu.

Tidak ada jawaban apa-apa. Ursario dilewatinya begitu saja. Dan begitu Ursario bertanya pada yang lain pun, tetap tak ada reaksi apa-apa. Saking kesalnya, si boneka pun menyabetkan rifle-nya ke kaki dari salah satu wanita-tumbuhan, menyebabkannya terjatuh hilang keseimbangan. Wanita-tumbuhan itu bingung sendiri, menengok kiri-kanan, mencari apa yang membuatnya tersandung tadi. Tapi tidak ada apa-apa. Lelaki-tumbuhan lain menghampirinya, membantunya bangun.

"Hei, ayo! Ada aura mencekam dari wilayah danau! Ini pertanda bahaya!"

"Ya, aku tahu. Entah apa yang terjadi. Seolah-olah gerbang neraka telah terbuka dan bencana akan segera meliputi Hutan Varidios ini!"

"Sudahlah! Lebih baik kita percaya pada insting kita. Untuk sementara, kita menyingkir ke sisi lain hutan yang jauh dari wilayah danau."

"Benar. Viridian lain pun sudah pergi. Ayo!"

Mereka pun berlari. Dan terus diikuti oleh hewan-hewan lain dan manusia-tumbuhan lain, sampai akhirnya semua menjadi begitu sepi.

"Hutan Varidios? Viridian? Dan ... ndus ndus ... di sana adalah—" Ursario menoleh ke kiri, membau dengan hidung beruangnya, "—danau?"

***

Sekarang Ursario telah berada di wilayah danau, dengan padang rumput yang tidak begitu luas yang langsung menyatu dengan lebatnya hutan. Tadinya Ursario bermaksud bersembunyi di dahan suatu pohon sambil mencoba mendeteksi lawan dengan memanfaatkan indera penciuman dan pendengaran beruangnya. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatian boneka beruang itu. Di kejauhan, di sisi danau, tampaklah sesuatu ... mirip manusia dan berpakaian hitam-hitam dengan aksesori adat—entah adat mana. Tapi dari baunya, Ursario bisa menduga kalau itu hanyalah boneka kayu. Boneka kayu yang besar!

Pose boneka kayu itu, bagaimanapun, sungguh tak wajar. Dia terduduk sambil memangku dagu, dengan pandangan kosong menatap sunyinya danau. Tampak begitu sedih, seperti anak-anak muda zaman sekarang yang sedang ... apa istilahnya itu ... galau?

Ursario terus mengendus-endus, memastikan kalau benda itu benarlah hanya boneka kayu. Setelah kecurigaannya sirna, akhirnya Ursario turun dan berlari mendekati boneka kayu besar tadi. Dua boneka berkumpul, berbeda ukuran, berbeda bentuk, berbeda segala-galanya.

"Oi, halo-halo? Notteddy Beary kepada Blacky Woody Dolly! Kamu nggak hidup, 'kan?" Ursario menyodok-nyodokkan rifle, meraba badan boneka kayu yang ukurannya enam kali lebih besar dari tubuh Ursario sendiri. Si beruang kembali mengendus dan langsung mencium bau menyengat. "Urrghhh! W-wewangian aneh apa ini? Sesajian? J-jadi ini boneka mistik??"

Seketika, Ursario menutup hidungnya, tidak tahan dengan bau itu. Refleks, kakinya pun melangkah mundur satu-dua langkah, sembari kedua matanya terus menyelidik. "Entah boneka apa ini. Pakaiannya sudah begitu usang. Kayunya tampak sudah tua. Usianya pasti sudah ratusan tahun. Kenapa boneka ini ditinggalkan di tepi danau begini?"

Kemudian Ursario menghela nafas dalam, menundukkan kepala dengan lemas. Dan saat itu juga dia merasakan sesuatu. Sewaktu boneka beruang itu kembali menegakkan kepalanya, dia menyadari kalau sosok boneka kayu besar itu sudah tidak ada di hadapannya!

Di mana?

Seketika bulu-bulu coklat Ursario berdiri. Merindinglah dia begitu dirasanya ada sesuatu di belakang. Pelan-pelan Ursario menoleh dan ternyata—

"BAHAHAHA! AKU, BEGU GANJANG, AKAN SANTAP JIWA KAU!!"

"Buraaaaaaaaaaaaa!!!!"

Boneka kayu itu bisa bergerak! Suaranya menggema seperti hantu! Sungguh, Ursario begitu terkaget hingga topinya terlepas begitu tinggi sedangkan dia sendiri terjungkal ke belakang. Kacamata gelap dan rifle-nya pun ikut terjatuh.

Saat itu terdengarlah suara tawa lain dari boneka kayu itu, dengan nada yang jauh berbeda.

"Bahaha! Aku hanya bercanda! Aku bukan Begu Ganjang! Tak sangka aku kalau kau begitu ketakutan, hai boneka beruang! Bahahaha!"

Dengan gerak gesit, Ursario segera bangkit. Serunya, "Blacky Woody Holly Dolly!! A-aku nggak percaya ternyata ada boneka yang bisa bergerak dan bicara!!"

"Err ... apa kau pernah berkaca??" balas si boneka kayu sambil memiringkan kepalanya.

"D-diam!!" Ursario langsung memungut rifle-nya dan menodongkan itu ke lawan bicaranya. "Si-siapa sebenarnya kau, Woody Dolly! Jangan-jangan kau budak dari Luxa Demony?? Aku nggak menyangka kalau selera boneka mereka sungguh buruk!"

"Heh? Wudi doli? Luksa Demoni? Macam apa pula kata kau itu, hah? Aku ini boneka sigale-gale yang dibuat dari kayu pokki terbaik. Nama aku Manggale! Pasti kau belum pernah mampir-mampir ke Tanah Batak, kupikir?" balas Manggale dengan logat Bataknya. "Dan kenapa kau juga todong-todong aku, bah?"

Mendapat jawaban dengan logat kasar begitu, Ursario pun hendak mencak-mencak. Tetapi pada saat itu juga hidungnya bereaksi. Matanya langsung melirik ke belakang. "Urrgh, bau ini ... sial! Ada Humany lain yang bergerak mendekat!!"

"Ho? Ada lagi yang datang? Tajam juga hidung kau itu hah, beruang? Tapi tunggu! Aku dapat ide!"

"Bura?"

"Ayo kita pura-pura jadi boneka lalu kageti dia! Bahahaha!!" saran boneka sigale-gale.

"Urrgh ... maksudmu, Woody Dolly, seperti tadi?" Ursario memastikan, tentunya dengan nada agak tersinggung mengingat tadi dialah yang menjadi korban Manggale.

"Ayo, kita main-main dikitlah! Jangan terlalu sirius begitu!"

"Aku nggak suka ini ...."

Terlepas apapun perkataan Ursario, ternyata dia mengikuti juga apa mau dari Manggale. Mungkin karena mereka sesama boneka sehingga ada semacam ikatan tertentu? Ursario pun memungut topi dan kacamata gelapnya yang tadi terjatuh. Rifle-nya tak lupa diamankan kembali di belakang punggung. Setelah itu, tiba-tiba dia merasakan tubuh kecilnya sudah tidak menjejak tanah lagi.

"Hei ... hei!! Apa-apaan ini, Woody Dolly?!" seru Ursario panik setelah mengetahui boneka sigale-gale itu dengan enteng mengangkatnya.

"Tenang saja! Aku kepikiran pose keren, nih!"

Dan waktu pun berlalu.

Tak lama, berselang sepuluh menit, benarlah datang seorang manusia. Wanita muda, tepatnya. Rambut pirangnya yang panjang tampak mencolok, kontras dengan kemeja biru kotak-kotak yang dikenakannya berdampingan dengan celana jins berwarna senada. Tapi yang menunjukkan kalau itu bukanlah gadis biasa-biasa saja adalah tersematnya busur panah aneh di punggungnya. Dan di mana dia menyembunyikan anak panahnya? Tidak tampak di mana pun. Yang ada malah semacam kamera DSLR yang tergantung melingkari lehernya.

"Oh! Boneka apa itu di pinggir danau? Seperti boneka sigale-gale alias 'boneka penari' dari suku Batak? Aku pernah lihat di museum purbakala, kalau nggak salah sih. Tapi kenapa ada di sini? Jadi hutan ini adalah di Sumatra Utara?" seru si gadis. Kemudian dia langsung berlari mendekat. "Dan oh apa ini? Ada boneka lain di pundaknya? Teddy bear? Lucunya!"

Gadis itu langsung menyiapkan kameranya. "Tapi tunggu, kok posenya aneh begini??"

Seperti kata si gadis, boneka sigale-gale di depannya sedang berlagak gagah menunjuk ke arah danau dalam posisi badan yang tegap. Boneka teddy bear di pundaknya juga bergaya serupa.

"Ah, tapi ini terlalu ke pinggir ... sudut pandangnya kurang bagus, jadinya!"

Belum sempat Manggale dan Ursario melancarkan terapi kejut mereka, justru mereka sendirilah yang akhirnya terkaget sendiri. Tiba-tiba keduanya merasakan tubuh mereka seperti lumpuh. Mereka tak bisa bergerak sama sekali! Dan yang lebih aneh lagi, boneka sigale-gale itu (bersama boneka beruang di pundaknya) perlahan-lahan melayang di atas permukaan tanah untuk kemudian mulai berpindah mendekati pepohonan. Keduanya bisa melihat kalau gadis itu sedang mengendalikan mereka dengan salah satu tangannya yang bergerak perlahan. Inikah yang disebut sebagai telekinesis?

Akhirnya, gadis itu menurunkan objek fotografinya di tempat yang diinginkannya. Yaitu dengan latar pepohonan di samping kanan dan danau jernih berkilau di sisi kiri. Sewaktu Manggale dan Ursario masih kebingungan dengan semua itu, si gadis tampak sudah mengeker dengan kameranya.

"Haha! Aneh juga. Biasanya aku pendiam, tapi kalau sudah urusan memotret ... bisa repot sendiri begini. Oke, sekarang rana-nya sudah pas. Senyum ... satu ... dua ...."

Tapi apa yang terjadi, saudara-saudara?

Bukan suara shutter kamera yang terdengar. Yang ada malah dentum ledakan yang begitu membahana. Kamera itu tak ubahnya seperti laras meriam yang menembakkan semburan api dahsyat. Yang ada di depan gadis itu, mulai dari rerumputan, boneka sigale-gale, sampai beberapa pohon yang ada di belakangnya, semua berkobar membara.

Gadis itu melongo dengan rahang yang hampir copot. "Ups, aku lupa! Kamera ini masih dalam mode tempur," celetuknya tanpa berdosa.

Dari balik kobaran api dan kepulan asap yang membumbung, dua sosok terbirit-birit berlarian.

"BWUAAAAAAA!!!!!!" teriak Manggale. Badan boneka sigale-gale itu, setengahnya sudah dalam kondisi membara. "DANAU!! MANA DANAU??!"

"Buraaaaagyaaaa!! Buluku!! Bulukuuu!!!" Ursario ikut menjerit histeris, langsung berguling-guling di rumput mencoba memadamkan kobaran api di tubuhnya.

Barulah si gadis menyadari kalau boneka yang hendak dipotretnya tadi ternyata bukan boneka biasa. "A-apa-apaan ini?! Boneka-bonekanya bisa bergerak dan berteriak? Dan ternyata kalian adalah ... peserta yang lain?" tanya si gadis dengan suara yang masih terdengar tak yakin.

Manggale tidak mendengar itu. Dia terus berlari menuju danau. Seketika boneka sigale-gale itu menyeburkan diri ke danau. Namun anehnya, dari badan boneka itu keluarlah semacam roh berbentuk pemuda berbaju hitam-hitam. Jadi diakah sosok sebenarnya dari Manggale?

"G-gawat, gawat! Gimana kalau tali-talinya putus karena terbakar?!" gumam roh itu.

Sementara itu, Ursario masih sibuk berguling-guling. Perlahan-lahan api di badannya padam, berganti kepulan asap. Rifle-nya entah ada di mana, mungkin terlempar? Topi dan jaketnya sudah berubah bentuk.

"Urrgggrrr ... Stupidy Blondy Girly!!" geram Ursario dalam posisi tengkurap.

"Maaf, hahaha. Aku yang ceroboh," si gadis tampak kikuk mau menjawab apa, akhirnya malah tertawa panik.

Bagaimanapun, kebakaran di depannya belumlah reda. Terutama api di pepohonan yang terus menyambar dari pohon satu ke pohon lainnya, semakin membesar.

"Hei kalian! Boleh kutanya apa yang telah kalian lakukan pada hutanku?!" tiba-tiba muncul sosok lain dari sisi hutan yang berbeda. Dia sejenis wanita-tumbuhan, atau Viridian, seperti yang Ursario lihat tadi. Bedanya, Viridian yang ini bisa melihat semuanya. Dia menunjuk gadis pemotret yang tadi. "Hei, gadis manusia! Siapa kamu? Memangnya apa yang telah alam perbuat padamu hingga beraninya kamu merusak ... uhuk uhuk ... hutan ini? Aku, Nema, memutuskan kalau dirimu tidak layak untuk dimaafkan ... uhuk uhuk!" Viridian yang menyebut dirinya Nema itu tak bisa menutupi kemarahannya sekalipun kata-kata yang dilontarkannya masih terdengar halus. Tampak dia juga terganggu dengan tebalnya asap di sana.

"Err ... itu semua nggak sengaja, kok. Sungguh. Dan namaku Cherilya Janette, tapi kamu bisa memanggilku Cheril."

"Sudahlah! Namamu tidak berarti apa-apa bagiku," balas Nema, rambut sulurnya terus bergejolak layaknya rambut medusa.

"Ha? Tapi tadi kamu yang nanya-nanya siapa aku!!"

"Tak bisakah mulut manismu itu menutup, sebentar saja? Sudah tidak sabar menjemput kematian, rupanya?!"

Kini rambut sulur Nema mulai bergejolak, sekilas mirip dengan rambut medusa, hanya saja dalam versi yang jauh lebih panjang. Bentuknya juga bukan ular, melainkan sulur keunguan yang tertutupi oleh lebatnya biji-bijian hijau.

"Ho? Kupikir ada apa," tiba-tiba terdengar suara wanita lain, "ternyata semua peserta telah berkumpul di danau? Dan ledakan tadi ... hehehe ... bisa-bisanya kalian memulai pertempuran tanpa diriku?"

Suara itu berasal dari balik suatu pohon. Sosoknya tak begitu terlihat jelas karena tertutup bayangan pohon. Yang pasti, dia juga wanita, meskipun tubuhnya tidak setinggi Nema maupun Cheril.

"Andai kalian tidak memperhatikan daftar peserta yang tadi muncul di layar holografis Dewa Thurqk, kuberi tahu saja kalau aku adalah Zany dari keluarga Skylark. Untuk informasi tambahan, aku adalah seorang Imagyn." Kemudian Zany mengamati satu demi satu sosok yang menjadi lawannya. "Kau, Viridian penghuni hutan ini, aku yakin namamu adalah Nemaphilia. Lalu gadis dengan panah dan kamera, Cherilya Janette. Dan ... err ... roh yang melayang di danau itu adalah Manggale, bukan?" Mata Zany memandang jauh ke arah danau. "Tapi ini, jika dihitung dengan diriku sendiri, baru ada empat peserta. Mana Ursario? Dari namanya, mungkin dia lelaki."

Cheril langsung menunjuk ke arah boneka teddy bear yang masih terlungkup mengepulkan asap. "Kurasa boneka itulah si Ursa yang kamu maksud," ujar Cheril ringan.

"Apaa?? Mustahil! Boneka teddy bear? Kau pasti bercanda!" bantah Zany.

Cheril hanya membalas dengan menaikkan kedua bahunya.

"Ah, lupakan!" seru Zany. "Ini! Anggap saja salam perkenalan dariku."

Tanpa diduga yang lain, sudah tampak sepucuk senapan mesin di tangan Zany. Senjata itu seperti muncul begitu saja dari ketiadaan. Bagaimana bisa? Inikah kekuatan dari Imagyn?

Langsung saja Cheril mengambil busur panahnya, kemudian dengan cepat diarahkannya ke Zany. Sama seperti munculnya senjata Zany, di tangan Cheril pun tiba-tiba sudah mewujud anak panah ajaib yang tampak seperti pemadatan energi.

"Mati kalian!" seru Zany, bersamaan dengan ditekannya pelatuk senapan mesinnya.

Rentetan peluru pun mulai berhamburan. Yang diincar pertama adalah Cheril. Tapi Cheril juga sudah bersiap. Sewaktu dia melepaskan panah ke permukaan tanah tak jauh di depannya, meledaklah tempat itu. Muncul tabir asap dari kobaran api ledakan barusan, membuat akurasi senapan Zany berkurang drastis. Sosok Cheril sudah tak terlihat, tersembunyi oleh kebulan asap.

Sebelum laras senapan Zany mengarah ke target selanjutnya, yaitu Nema, gadis Viridian itu telah lebih dulu bertindak. Kepalanya menyemburkan benih-benih tumbuhan ke segala arah, jumlahnya seperti tak terhingga. Seketika, benih-benih itu langsung berkecambah dan tumbu menjadi dandelion. Dan Nema pun melesat masuk ke hutan, sesaat sebelum peluru-peluru itu menyambar posisinya tadi.

"Sekarang, mata, telinga, dan mulutku sudah meliputi semuanya," suara Nema terdengar menggema, seolah muncul dari mana-mana. "Tapi aku tidak akan lupa. Kehormatan kematian pertama akan kuberikan padamu, gadis manusia yang bernama Cherilya Janette."

"Cih! Ternyata memang tak bisa menang semudah itu!" maki Zany. Senapan mesin di tangannya pun menghilang begitu saja. "Oke, untuk sementara aku mundur. Tapi, apa kusisakan saja boneka beruang lucu itu untuk yang terakhir, ya? Hehehe."

Sosok Zany pun tak terlihat lagi.

Adapun Ursario, dia merangkak-rangkak panik menghindari rentetan peluru. "Di mana? Rifle-ku di mana?" Kemudian Ursario pun menemukan yang dicarinya, tak jauh dari tempat dia berpose untuk sesi pemotretan yang berakhir kacau tadi. Topi dan jaket kerennya kini sudah berbau hangus, bolong di sana-sini. Boneka beruang itu pun marah-marah sendiri, sembari kakinya sesekali menginjak-injak tanah.

Di sisi lain, roh Manggale pun sama paniknya. Pertempuran telah dimulai sebelum dirinya siap. Buru-buru dia merasuk ke dalam boneka sigale-gale miliknya, sebelum boneka itu hanyut terlalu jauh. Setelah sukses masuk ke sigale-gale, Manggale langsung berenang kembali ke tepian.

Dan sekarang di sisi danau hanya tampak dua peserta saja, yakni Ursario dan Manggale. Api di rerumputan sudah padam, tetapi hutan masih terbakar. Sementara itu, dandelion bertebaran di mana-mana, yang entah mengapa, malah tampak mengintimidasi. Sewaktu Ursario ataupun Manggale menyentuh dandelion itu, mereka langsung merasakan keanehan.

"Wawawa! Dandelion ini serap-serap tenaga aku, hah?!"

"Buraaaaaa!!! Energi jiwaku!! Dandy Liony ini ... Planty Girly tadi ... arghhh!! Semuanya mengesalkan!!"

Manggale menendangi dandelion di sekelilingnya. Beberapa langsung hancur, sementara sisanya berterbangan menjauh. Ursario pun melakukan hal yang sama. Dia mengayun-ayunkan rifle-nya mengusir dandelion pengganggu itu.

Sewaktu sibuk mengusir bebungaan itu, tanpa sadar keduanya sudah mendekat satu sama lain. Kini mereka hanya terpaut dua meter. Manggale dan Ursario sama-sama menoleh.

"Ah, halo?" sapa Manggale agak ragu. "Kupanggil Ursa saja, hah? Tapi aku kepikiran juga nih. Jangan-jangan kau juga bisa mengeluar roh seperti ak—"

Senapan meletus!

Belum sempat Manggale berbasa-basi, kepala boneka sigale-gale itu telah diterjang peluru dari rifle Ursario. Berdebam dia jatuh terjungkal. Andai itu manusia biasa pasti sudah mati seketika.

"Waaa!! Macam mana pula ini, bah?!" Manggale mencoba bangkit, tapi ...

Lagi-lagi rifle Ursario menyapa.

Terus saja si boneka beruang menembaki lawannya sesama boneka. Muncul sejumlah lubang udara di badan sigale-gale itu. Manggale pun marah. Rohnya keluar dari boneka.

"Ursa! Apa kau tidak diajar mamakmu sopan-santun, bah?!"

Roh Manggale lalu mengerahkan teknik pengendalian jarak jauhnya (ya, telekinesis sedang populer belakangan ini) untuk melempar si boneka beruang.

"Buraaa!!!" Ursario terpental ke belakang, memantul beberapa kali di permukaan tanah sebelum akhirnya membentur batang suatu pohon. Badan boneka beruang itu perlahan-lahan merosot turun hingga mencapai tanah. "Aw! Aw! Aw!!" Sambil bertumpu pada rifle-nya, Ursario mulai berdiri.

Sementara itu, roh Manggale kembali masuk ke bonekanya.

"Kalau berani ayo sini, tinju lawan tinju! Akan aku kasih kau lihat, jurus-jurus Mossak Batak dari Toba! Begini-begini, aku bisa marah juga, tahu kau?!"

Kemudian boneka sigale-gale itu mulai memasang kuda-kuda yang tampak seperti dari suatu aliran bela diri. Pencak silat, mungkin? Tapi dalam versi Batak.

Bagaimanapun, Ursario tidak terpancing. Kembali dia mengarahkan rifle dan menembakkannya. "Diam kau, Woody Dolly! Bataky apa? Nggak pernah dengar!"

Sayangnya, bentang jarak seperti ini membuat Manggale leluasa menghindar. Tapi bukan sembarang menghindar, sebab Manggale juga melesat maju dan kian mendekat. Suatu ketika Ursario berhenti menembak, mungkin amunisinya habis. Saat itulah, boneka sigale-gale melompat maju sehingga kini dia sudah ada tepat di hadapan Ursario.

Pertempuran jarak dekat pun dimulai.

Manggale membuka serangan dengan rangkaian tendangan yang cepat. Ursario menangkis satu-dua tendangan dengan rifle, kemudian melompat ke samping menghindari tendangan ketiga.

Ursario balas menusukkan rifle-nya ke atas, tapi Manggale menepis serangan itu dengan kakinya. Di sini, tampak bahwa perbedaan ukuran yang terlalu jauh—30 cm melawan 180 cm—tak menguntungkan Ursario.

Si beruang kecil hanya bisa menyerang kedua kaki Manggale. Namun rupanya kaki boneka sigale-gale itu sangat kokoh, baik itu dalam menangkis ataupun menepis hantaman rifle Ursario. Sebaliknya, serangan balasan dari Manggale membuat Ursario jungkir balik menghindarinya.

"Woody Dolly Bataky sialan!"

Merasa bosan meladeni kaki Manggale, Ursario melompat. Setelah memantul sekali di pohon, kini boneka mungil itu sudah melayang tepat di depan muka Manggale, bersiap mengayunkan rifle-nya sekuat tenaga. Dan si beruang pun melakukannya.

Tapi ternyata oh ternyata, Manggale telah menunggu itu. Dengan mudah ditangkapnya ujung rifle lawannya. Dan tangkapan ini tidak akan semudah itu dilepaskannya.

"O-ow!" seru Ursario spontan.

Dan benar saja, seperti kerasukan setan, Manggale pun membentur-benturkan tubuh lawannya ke tanah. Bertubi-tubi, tanpa ampun. Makinya, "Beruang tak tahu diri! Kau kira gampang hah, membuat boneka sigale-gale ini? Kau malah merusaknya! Dan apa salah aku sampai kau kata-katai aku 'Bataki sialan', hah?"

Sekarang jelaslah sumber dari kemarahan Manggale. Rupanya dia bukan penggemar diskriminasi SARA, ya?

Setelah merasa puas melihat lawannya tak lagi bergerak, Manggale pun berhenti. Tapi lawannya itu adalah boneka sehingga Manggale belum tahu apakah Ursario telah mati atau masih hidup. Yang terlihat hanyalah teddy bear yang bulu-bulunya sudah begiu berantakan, sedangkan topi dan jaket yang dikenakannya pun semakin compang-camping. Kacamata gelap Ursario tampak retak, tapi masih mampu menutupi tatapan mata si beruang. Dan itulah yang menguntungkan si beruang.

Tanpa disangka-sangka Manggale, meletup kembalilah rifle Ursario. Rupanya amunisi di rifle itu belum habis tadi. Dan tembakan itu tepat mengena bahu boneka sigale-gale.

Manggale langsung panik.

"Waaa!! Gila kau! Gimana kalau tali sendinya put—" Manggale menghentikan perkataannya di tengah jalan, menyadari kalau tanpa sengaja dia malah membeberkan kelemahannya sendiri.

Ursario tersenyum. "Ada apa dengan tali sendi kau, hah?" ledek Ursario sambil meniru logat Batak Manggale.

"Remuklah kau!"

Dengan cepat, Manggale menjejakkan kaki kanannya, bermaksud melumat si boneka kecil. Tapi Ursario sudah berguling ke samping, membiarkan injakan tadi hanya mengena tanah.

Dan Ursario kembali menembaki Manggale dari jarak yang cukup dekat. Kini sasarannya adalah setiap persendian dari boneka sigale-gale itu. Manggale pun kewalahan. Yang bisa dilakukannya kini hanyalah berusaha menghindari luka fatal. Biarlah ada lubang-lubang baru di tubuhnya, asalkan tali pengekang jiwa itu tetap utuh.

Akhirnya amunisi Ursario habis juga. Sementara itu, Manggale masih berdiri tegak di depan Ursario, meskipun badan boneka sigale-gale itu kini sudah seperti sarang lebah, penuh lubang.

"Urrrgggh!! Woody Dolly Bataky yang tangguh!" umpat Ursario. Perlahan-lahan, boneka beruang ini melangkah mundur. Sebab, dia tahu kalau lawannya tidak akan memberikan kesempatan baginya untuk mengisi ulang amunisi rifle itu.

Namun Manggale masih berdiri mematung saja, bengong, dan tampak galau.

Boneka sigale-gale itu terdiam, dan terus terdiam. Butuh perenungan selama lebih dari semenit, sebelum akhirnya Manggale membuka mulutnya. "Aku," katanya, "masih suka bergentayangan kemana-mana. Belum mau aku cicip-cicip api neraka!"

Perlahan-lahan Manggale menggerakkan kedua tangannya, tangan boneka sigale-gale, di depan badannya. Dari ujung jemari tangan boneka itu, muncul tali-tali mistis yang menjulur panjang dan kian memanjang hingga menyentuh tanah. Sewaktu temali itu menyeret tanah, seketika permukaan tanah terkoyak sementara rumput-rumputnya terpotong. Tali mistis itu sungguh tajam.

Insting Ursario menjerit. Kalau dia terjerat tali itu, tubuh boneka beruangnya akan terbelah-belah dalam sekejab.

Ketika tali-tali jari sigale-gale mencapai panjang tertentu, tali-tali itu tak memanjang lagi. Dan itu adalah tanda kalau Manggale sudah siap menggila.

Benar saja, dalam satu ayunan tangan kanan saja, lima tali langsung menyergap Ursario yang untungnya dapat dihindari boneka beruang itu dengan bertiarap. Yang terjerat adalah batang pohon. Temali itu tersangkut di sana. Sewaktu Manggale menarik kembali tangannya, pohon itu dengan mudahnya terpotong-potong, lalu rubuh tanpa ampun.

Pelan-pelan Manggale pun menyeret tali tangan kanannya mengoyak permukaan tanah dengan bunyi memilukan, seperti sengaja untuk memberikan kesan ngeri.

"Buraaaaaaaa!" jerit Ursario sepanik-paniknya. "Bahaya, bahaya, BAHAYA!!"

Harapan hidup Ursario seolah sirna seketika. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Manggale menggerakkan kesepuluh jemarinya, yang juga berarti ada sepuluh tali-pisau-super-tajam yang rasa-rasanya tak mungkin dielakkan Ursario. Terutama dari jarak dekat seperti ini. Boneka beruang itu harus menjauh, menjaga jarak. Tapi bagaimana? Apakah dia harus melepas sihir Ursa Demon-nya saat ini juga untuk berubah wujud, sementara masih ada tiga lawan lain?

Di saat itulah, tiba-tiba angin keberuntungan berhembus.

Angin ini mengarah ke Manggale sambil membawa sekitar seratus dandelion penyedot energi yang tadi dilepaskan Nema. Seketika, sekujur tubuh Manggale tertutup bebungaan itu.

"Waaa!! Dandelion ini lagi!!"

Sewaktu boneka sigale-gale itu panik mengusir dandelion-dandelion terkutuk itu, saat itu juga Ursario melihat kesempatan untuk kabur. Manggale menyadari itu.

"Hei! Jangan kabur kau, beruang! Kupotong-potong badan kau!"

Ursario tak mau ambil pusing mendengarkan ancaman bodoh itu. Terbirit-birit dia berlari memasuki hutan. "Urgghhh!! Hutan ini ... kekuasaannya si Planty Girly itu! Tapi tak ada tempat lain!"

"Tunggu!" cegah Manggale. Tapi dia sadar kalau tenaganya sudah kian tersedot. Prioritasnya sekarang adalah mengusir dandelion-dandelion yang menempel di badannya. Kembali roh Manggale mencuat keluar agar dia bisa menggunakan telekinesisnya. Beres. Dalam sekejab, semua dandelion itu diterbangkannya sejauh-jauhnya. Setelah itu kembali dia masuk ke boneka.

Sekarang, Manggale langsung mengejar Ursario ke dalam hutan.


***

Di suatu bagian hutan Varidios, pertempuran sengit antar peserta lain masih berlangsung. Asap mengepul dari kobaran-kobaran api yang tampak telah menelan sejumlah pepohonan.

"Bisakah kamu berhenti membakar hutanku, Cherilya Janette?!" gema suara Nema terdengar dari segala arah.

"Urgh! Bawel!" balas Cheril judes. "Makanya, keluar dari persembunyianmu! Jangan seperti pengecut begini, bisanya hanya melemparkan benih-benih busukmu dari jauh!"

Cheril terus menarik tali busur panahnya, yang anehnya, terus saja memunculkan anak panah yang seolah tak terhingga. Begitu anak panah itu dilepaskan dan mengenai pepohonan, timbul ledakan dahsyat yang langsung membakar semuanya.

Kini, seluruh tempat itu dipenuhi api dan asap tebal.

Cheril pun semakin kesal.

"KELUAR KAUUUU!!!!!"

Suara teriakan gadis pirang itu melengking begitu tinggi, seperti penyanyi seriosa. Sepertinya mudah saja baginya kalau mau memecahkan kaca ataupun gendang telinga seseorang dengan teriakan berfrekuensi super itu.

Di kejauhan, Nema menutup telinga runcingnya. Untung jaraknya begitu jauh sehingga efek suara Cheril tidak berpengaruh padanya. Selain itu, Nema juga terus menghindari kepulan asap yang semakin lama semakin tak terbendung. Jika dia terus terpapar asap seperti ini, lama-lama tubuhnya akan mengering dan mati. Ditambah, suhu panas dari pembakaran hutan ini sungguh melemahkan dirinya dan benih-benihnya. Dan sekarang, emosinya benar-benar sedang diuji. Begitu kesalnya dia ketika hutan Varidios yang menjadi rumahnya kini telah menjadi lautan api. Dan penyebabnya adalah gadis manusia itu, Cherilya Janette.

Sambil bertengger di suatu pohon, kembali Nema melontarkan ratusan benihnya ke arah Cheril. Namun gadis manusia itu ternyata masih saja waspada.

"Benih bunga biru ini lagi!" seru Cheril. "Nggak bakal mempan padaku!"

Untuk kesekian kalinya, Cheril menghadang benih-benih Nema dengan kekuatan telekinesis. Benih-benih itu terpental balik tanpa ada satu pun yang mengenai Cheril. Benih-benih itu terjatuh mengenai bebatuan dan semak-semak, yang langsung saja mengurai bebatuan dan semak-semak itu menjadi butiran tanah gembur.

Dan untuk kesekian kalinya pula, Nema hanya bisa mengumpat dalam hati. Ini sungguh mengesalkan. Dia bisa mengawasi semua pergerakan Cheril dan menyerang gadis itu dari jauh. Tetapi semua sia-sia saja dengan teknik telekinesis Cheril yang menyebalkan itu. Terlebih, panah apinya sungguh berbahaya. Apa yang bisa dilakukannya sekarang?

Nema terlalu memusatkan perhatiannya untuk melawan Cheril sehingga gadis Viridian itu tidak menyadari pergerakan peserta lain yang diam-diam datang mendekat.

"Hai, Nona Nemaphilia! Mudah untuk mendekatimu dari belakang, asalkan tidak terlihat adanya dandelion," sapa suara seorang wanita, tepat dari belakang Nema.

Nema menoleh dengan jantung berdegup kencang. Tampak sesosok wanita yang sudah berdiri terpaut berapa meter saja di belakang gadis Viridian itu. Sepucuk pistol telah mengarah pada Nema, dan laras pistol itu pun meletup berkali-kali. Zany telah menembak Nema dari sudut mati! Nema lengah. Akibatnya, tubuh gadis Viridian itu pun diberondong sejumlah peluru.

Satu yang bisa dilakukan Nema adalah menghindari luka fatal—tembakan di kepala. Selanjutnya, sambil berharap tubuhnya yang tak merasakan sakit itu dapat bertahan dari rentetan peluru panas, Nema pun balas menyerang. Dia melontarkan seluruh benih bunga biru—baby blue—miliknya ke arah Zany, yang untungnya dalam posisi yang cukup dekat.

Satu keuntungan lagi bagi Nema adalah kelengahan Zany yang tak memperhitungkan sifat tubuh Nema. Zany pun terlalu membanggakan kemampuan regenerasi tubuh Imagyn miliknya sendiri, sehingga dia malah menantang benih bunga biru Nema dan menerima semua itu secara langsung.

Nema terjatuh dari dahan pohon, menghujam bumi, dan ambruk dengan tubuh penuh lubang. Sementara itu, Zany menerima seluruh benih bunga biru Nema yang dengan cepat sudah berkecambah, berakar, dan bertumbuh di permukaan kulitnya. Baby blue, bunga yang mengurai segalanya menjadi butiran tanah, melawan tubuh seorang Imagyn yang terkenal dengan kemampuan regenerasi ajaibnya yang seolah tak bisa mati. Entah mana yang akan menang?

"A-apa ini? Tubuhku ....!"

Zany merasakan permukaan kulitnya yang mulai terurai menjadi butiran tanah. Saat itu juga Zany sadar kalau dia telah terlalu pongah. Pistolnya langsung hilang karena konsentrasi pikirannya sekarang tertuju pada pemulihan diri. Zany hilang akal. Di satu sisi dia harus melepaskan puluhan bunga biru yang berakar kuat di tubuhnya. Sementara itu di sisi lain, ketika dia berusaha mencabuti bunga biru itu, konsentrasinya dalam pemulihan diri malah terpecah, terutama jika di hadapannya sekarang masih ada musuh yang belum mati. Mana bisa dia menjaga konsentrasi kalau di sini? Tanpa regenerasi, Zany bisa menjadi gundukan tanah hanya dalam hitungan detik, mengingat kini seluruh tubuhnya telah menjadi ladang bunga biru.

"Sialan kau, Nemaphilia!!" maki Zany.

Sekarang gadis Imagyn mencoba untuk kabur dengan perlahan-lahan, berjalan pelan saja, sambil menjaga konsentrasi untuk regenerasi tubuh.

Sementara itu, Nema sudah mulai bangkit. Dengan tangannya, Nema mulai mencabuti setiap peluru yang bersarang di badannya.

***

Kembali ke hutan berapi. Tampak Cheril semakin frustasi. Entah sudah seluas apa kebakaran hutan yang ditimbulkannya, tapi tetap tak ada tanda-tanda kehadiran Nema.

"Mungkin dia sudah mati?" gumam Cheril, yang langsung disanggahnya dengan menggelengkan kepala. "Mustahil. Pasti dia menunggu aku lengah!"

Urat di dahi Cheril kembali mencuat, menandakan kesabarannya telah benar-benar habis. Sekarang dia langsung memunculkan lima anak panah sekaligus. Diarahkannya busur panahnya ke tempat yang belum terbakar.

"Bodo amat soal kejahatan pembakaran hutan. Toh, ini bukanlah duniaku. Bahkan mungkin ini semua sebenarnya hanya dunia fana hasil kamuflase Dewa Thurqk sombong itu."

"Baaaahhh!! Semua penuh dengan api! Kemana boneka beruang itu? Aku yakin dia tadi ke sini ...."

Tanpa diduga Cheril, di tempat dia mengarahkan panahnya malah muncul boneka sigale-gale tadi, yang dari gesturnya (menoleh kiri-kanan) tampak sedang mencari sesuatu. Padahal, jemari Anett sudah melepaskan kelima anak panahnya. Panah sudah terlanjut dilontarkan.

"Hei, Nona Pirang! Apa kau lihat ada boneka beru—"

Tak sempat Manggale meneruskan kalimatnya. Tak sempat pula dia bereaksi. Kelima anak panah itu sudah menancap di tubuh boneka sigale-gale itu. Seketika, pilar api dahsyat pun membumbung tinggi bersamaan dengan gelegar ledakan yang memekakkan telinga.

Boneka sigale-gale itu ambruk dilahap kobaran api. Bahkan kayu pokki spesial yang menjadi kulit boneka itu tak mampu membendung musuh alaminya, yaitu api, terutama dalam nyala yang terlampau dahsyat seperti ini.

Tali-tali vital yang menjadi penyambung jiwa Manggale terbakar semuanya, kemudian perlahan-lahan menjadi abu. Badan kayunya gosong menjadi arang, sementara kobaran api itu belum juga reda.

Sial! Ini sama kali tidak lucu, bah! Aku kalah dimakan api ... hanya untuk menemui api yang lebih gila di neraka si Thurqk itu?

Yang terdengar di saat-saat terakhir adalah rintihan kematian roh Manggale.

Cheril hanya terpaku menatapi semua itu. "Duh, maaf! Serius, aku nggak ngincar kamu kok, boneka sigale-gale." Cheril tertunduk, tapi hanya sebentar saja. "Ah, tunggu! Kenapa aku harus minta maaf? Bukankah pada akhirnya aku harus melawan juga semua peserta yang lain, termasuk boneka sigale-gale itu? Haha. Anggap saja ini keberuntungan."

***

Tak jauh dari lokasi Cheril, Ursario mengamati kematian Manggale yang tadi berhasil dikecohnya sehingga boneka sigale-gale itu malah berlari ke arah meluncurnya anak panah.

Ursario telah melilitkan jaketnya untuk menutupi hidungnya. Asap yang terlalu tebal ini sungguh bencana buruk bagi indera penciumannya yang tajam. Tapi ada yang harus dilakukannya meskipun harus berjibaku dengan kepulan asap. Ini adalah tentang penyerapan jiwa petarung.

Pelan-pelan, Ursario membuka suatu retsleting yang tersembunyi di balik bulu lebatnya di suatu tempat paling rahasia di tubuhnya. Boneka beruang itu harus berhati-hati. Sebab, jika retsleting itu membuka terlalu lebar, justru jiwanya sendirilah yang akan keluar dan musnah.

"Oke, Woody Dolly Bataky! Aku, inkarnasi dari Demonlord penguasa Ursa-Regalheim, mengakui jiwa petarungmu!"

Kemudian Ursario merapal mantra-mantra dalam bahasa Ursa Demon. Tubuh boneka beruang itu langsung diselimuti cahaya gelap, tanda dia sedang menggunakan sihir Ursa Demon. Kemudian secara ajaib, sekumpulan energi jiwa Manggale yang tadinya hendak menghilang malah tersedot ke arah Ursario. Energi itu kemudian masuk melalui celah retsleting tadi. Dan setelah memastikan semua energi jiwa itu terhisap sempurna, Ursario langsung menutup celah itu. Tubuhnya berhenti bercahaya.

"Oh yeaaaah!! Terima kasih, Woody Dolly Bataky! Sekarang aku merasa kekuatanku semakin bertambah!"

Setelah puas dengan proses penyerapan energi jiwa itu, Ursario langsung melesat dari dahan pohon satu ke dahan pohon yang lain. Kebetulan tadi hidungnya sudah mengendus calon korban selanjutnya.

***

Zany berjalan semakin cepat, menghindari lokasi-lokasi di mana dia bisa melihat dandelion. Hingga pada suatu ketika, Zany merasa sudah berada di tempat yang aman, tersembunyi di celah akar pohon raksasa. Gadis itu duduk sambil menjaga konsentrasinya. Sekarang dia harus mengurus bunga biru yang menyebalkan ini. Setidaknya kalau dia sudah jauh dari jangkauan Nema, Zany merasa bisa tetap fokus memulihkan diri sambil mencabuti bunga sial ini secara perlahan.

"Oke, aku pasti bi—"

Dan betapa terkejutnya Zany sewaktu menyadari kalau di hadapannya sudah berdiri seekor beruang, boneka beruang kecil. Dan boneka itu telah mengarahkan moncong rifle-nya, mengincar dahi sang Imagyn.

"Imaginey Girly. Kalau kulubangi kepalamu apa kau bisa mati?"

"Hahaha! Ini sama sekali tidak lucu, teddy bear! Masa sih boneka seimut dirimu mau membunuhku?"

"I-imut?! J-jangan bercanda! Aku ini Ursario, inkarnasi dari Demonlord! A-aku tidak akan tertipu perkataanmu!"

"Hei, ayolah! Bantu aku cabuti bunga biru in—"

Tapi bunyi letusan rifle memadamkan segala harapan hidup Zany. Peluru panas bersarang di otaknya. Dalam kondisi normal, seharusnya luka separah itu pun masih mampu dipulihkan dengan kemampuan regenerasi Imagyn. Tapi tidak dengan sekarang, di saat seluruh tubuh Imagyn itu telah terlebih dahulu dijangkiti baby blue yang mematikan.

Hanya dalam hitungan detik, seluruh tubuh Zany terurai menjadi tumpukan tanah.

"Whuaat?! Apa ini?" Ursario tersentak, tak menduga ini. "Pengaruh dari bunga biru Planty Girly itukah?? Ah, tapi ada hal yang lebih penting!"

Si boneka beruang titisan Demonlord itu melakukan hal yang sama dengan yang barusan dilakukannya terhadap jiwa Manggale. Dalam hitungan menit, energi jiwa Zany Skylark telah ikut menjadi penambah kekuatan bagi Ursario.

Boneka beruang itu melompat pergi dari lokasi yang menjadi kuburan Zany. Sekarang, siapa yang harus dihadapinya terlebih dulu? Si Planty Demony Girly (Nemaphilia)? Ataukah si Stupidy Blondy Girly (Cherilya Janette)?

***

Ursario kembali melompat dari pohon satu ke pohon lain. Dia merasakan gerakannya semakin lincah. Ini pasti berkat penyantapan dua jiwa petarung yang tangguh itu. Masih ada dua jiwa lagi yang menunggu untuk diserap.

Namun Ursario agaknya terlalu lengah. Tanpa disangkanya, dia malah berpapasan langsung dengan Nema. Tapi ternyata, Nema pun sama terkejutnya.

"Urrghh! Sial! Aku lupa kalau bau Planty Girly ini mirip sekali dengan bau pohon!"

Segera Ursario menembakkan rifle mengincar kepala Nema, tapi tampaknya Viridian itu masih mampu mengelak. Bahkan dia langsung melompat tinggi, bersembunyi di lebatnya dedaunan sambil menunggu kesempatan untuk melontarkan benih-benih.

Di sisi lain, Ursario terus menajamkan indera penciumannya. Sekalipun bau tubuh Nema sangat mirip dengan pohon di sekitarnya, tetap saja ada sedikit perbedaan. Dan perbedaan yang sedikit itu saja sudah sangat membantu pengendusan si boneka beruang.

Nema terus bergumam sendiri, memikirkan strategi.

"Boneka beruang itu ... permukaan tubuhnya terlalu kecil sehingga benih dandelionku tak akan terlalu efektif menyerap energinya, hanya sedikit sekali benih yang akan menempel. Sementara itu, benih baby blue sudah kuhabiskan tadi. Berarti sisanya ...."

"Ketemu kau, Planty Demony! Aku sudah hafal dengan baumu, kau nggak bakalan bisa lari!"

Ursario sudah melompat di depan muka Nema, bersiap menembak. Namun Viridian itu malah tersenyum.

"Tak ada jalan lain, boneka beruang. Kurasa orange sun dan wangi racunnya akan sangat cocok dengan hidungmu yang tajam itu. Dan dari ketinggian seperti ini, aromanya pun akan tersebar ke gadis manusia itu, yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari sini."

Dari pusat kepalanya, Nema melontarkan satu benih pemungkas. Tidak mengenai Ursario, melainkan tertanam di batang pohon sebagai benih parasit. Dengan kecepatan tumbuh yang mengagumkan, benih itu langsung berkecambah.

"....???! Baunya???!!"

Insting Ursario langsung mencium aroma kematian. Hanya sepersekian detik waktu yang dimilikinya untuk berpikir. Tanpa tersisa pilihan lain, Ursario hanya bisa mengerahkan teknik pemungkasnya.

"Buraaaa!!!"

Seketika tubuh Ursario diselimuti cahaya gelap yang mana cahaya itu langsung menghilang lagi dengan cepat. Kemudian bulu-bulu boneka beruang itu memutih seluruhnya. Badannya pun sedikit bertambah besar. Ini adalah perubahan wujudnya sebagai boneka beruang kutub!

Si boneka beruang kutub langsung menghembuskan nafas dinginnya, membekukan orange sun yang baru setengah tumbuh. Bunga matahari berkelopak lembayung itu tak lagi menyebarkan bau busuk beracunnya dalam kondisi mati beku seperti sekarang.


"M-mustahil!"

Nema tak percaya kalau senjata pemungkasnya telah dipatahkan dengan begitu cepat. Terlebih, imbasnya sekarang dia menjadi sangat lelah. Matanya menjadi berat. Hal terakhir yang diingatnya adalah boneka beruang itu menubruknya.

***

Ursario hanya bisa mempertahankan wujud beruang kutubnya dalam waktu singkat saja sebelum akhirnya dia kehabisan energi jiwa dan kembali ke wujud semula dalam kondisi kepayahan. Ini semua adalah pertaruhan. Maka dari itu, boneka beruang kutub mungil itu langsung menerjang Nema dan membawanya menuju lokasi lain, yaitu bagian hutan yang masih membara.

Sembari berpindah, Ursario langsung mengerahkan keahlian khususnya sebagai boneka beruang kutub. Dipanggilnya badai salju yang langsung berputar dahsyat mengelilinginya, sekaligus memadamkan kobaran api yang melanda setiap pohon yang dilewati Ursario.

Sekejab, Ursario telah tiba di tempat Cheril.

Gadis itu sungguh terkejut dan hampir kehilangan akal untuk menalar apa yang tengah terjadi. Pertama, tiba-tiba ada badai salju yang pergerakan anginnya memutar-muetar menyerupai tornado atau semacamnya. Begitu badai itu muncul di hutan ini, kebakaran pun sirna seketika. Lalu tampaklah sesosok beruang kutub mini di dalam badai itu. Apakah teddy bear yang tadi itu telah berevolusi? Kemudian ada juga gadis Viridian, Nema, yang tubuhnya tampak pingsan tak berdaya di dekat beruang kutub mini itu. Dan yang paling aneh, badai salju ini menyedot Cheril masuk!

"Apa-apaan ini?!!" seru Cheril. "A-aku masih harus membahagiakan Thomas! Aku masih harus mencari ayah dan ibu! Aku nggak akan mati di sini, boneka beruang!!!"

Dengan semangat tinggi, Cheril pun bersiap menghadapi pertempuran maut yang menantinya. Ketika seluruh badan gadis itu telah masuk ke area badai, angin-angin dingin itu berputar semakin kuat membentuk tabir yang tak mungkin ditembus keluar.

Tak ada jalan lain, Anetta hanya bisa bertarung hidup atau mati.

Langsung ditembakkannya panah-panah peledaknya, yang meskipun arahnya jadi tak karuan karena angin badai, tapi ledakannya cukup lumayan untuk melukai si beruang kutub, atau kalau sial akan mengenai tubuh gadis itu sendiri. Terlebih dalam jarak dekat seperti ini.

Ursario pun sadar dengan resiko yang ditempuhnya. Perubahan wujudnya yang sekarang ini sangat rentan terhadap serangan berelemen api, sementara lawannya adalah pemanah yang mampu meledakkan dan membakar segalanya. Tapi Ursario melihat sedikit peluang karena efek api itu adalah akibat penggunaan senjata saja, bukan sihir api alami yang bisa dimantra setiap saat dengan akurasi tinggi.

Dan badai salju itu semakin kencang bertiup, salju-saljunya pun terus menebal. Dari luar sama sekali tidak terlihat apa yang terjadi di dalam badai itu. Sesekali terdengar suara ledakan dahsyat. Sesekali terdengar jeritan Anetta, berpadu dengan raungan beruang yang mencekam.

Yang malang adalah nasib Nema. Tanpa daya, dia pun terombang-ambing diterbangkan badai salju. Sesekali gadis Viridian itu harus menerima panah nyasar Anetta yang langsung meledak seketika. Di lain kesempatan, tubuh Nema pun ikut terkoyak oleh cakar tajam Ursario. Dengan cepat, badannya hancur dan terus hancur. Kematian untuknya hanya masalah waktu saja—yaitu saat tubuhnya musnah menjadi serpihan debu atau ketika kepalanya (yang menjadi sumber benih) telah hancur.


Lima anak panah melesat dari busur Anetta, namun kelimanya diterbangkan angin badai ke segala arah. Semua meledak bersamaan, menggelegar. Dan untung bagi Anetta, salah satu ledakan itu mengenai Ursario, melemahkannya.

Tapi beruang kutub mungil itu tidak mau menyerah semudah itu. Lagipula ledakan panah itu sudah sangat jauh berkurang kekuatannya akibat pengaruh dekatnya jarak ataupun dahsyatnya angin badai salju. Ursario terus menerkam dan mencakar-cakar Anetta secara membabi buta, sementara semakin banyaklah ledakan api yang menghantam beruang itu. Sisi baiknya, api dari ledakan panah Anetta hanya mampu menyala sekejab saja sebelum akhirnya dipadamkan oleh angin dingin maupun salju.

Anetta kini sudah seperti kesurupan. Gadis itu seolah sudah tidak ingat lagi dengan teknik telekinesis ataupun teriakan supernya. Dia juga seperti melupakan rasa sakit ketika bagian-bagian tubuhnya terkoyak-koyak cakar dan taring tajam Ursario. Anetta hanya memanah dan terus saja memanah tanpa henti. Hanya satu yang kerap diwaspadai gadis itu, yaitu nafas beku yang sesekali dihembuskan si boneka.

Anetta pun menyadari kalau badai salju seaneh ini pasti hanya bisa dilakukan oleh suatu sihir, sementara sihir dengan tingkat tinggi seperti ini tentu membutuhkan energi yang begitu besar. Kelihatan pula kalau si beruang kutub mini sudah mulai kepayahan.

"Badai salju ini nggak akan bertahan lama!!" seru Anetta, menyemangati dirinya sendiri.

Satu keuntungan lagi untuk Anetta adalah soal ukuran tubuh. Sekalipun sekarang Ursario telah berganti wujud, tinggi boneka itu masih sekitar 30-40 cm saja dengan bobot yang sangat ringan pula. Dia masih boneka kecil, sekalipun keganasannya mungkin setara dengan beruang kutub yang asli. Dengan mempertimbangkan ukuran itu, sulit bagi si boneka untuk mengincar titik-titik vital Anetta.

Di sisi lain, Ursario sudah semakin kelelahan. Badai saljunya bisa saja lenyap seketika, bersamaan dengan habisnya energi jiwa untuk perubahan wujudnya. Tapi dia hanya bisa menyerang dan terus menyerang, sambil berharap kalau tembakan panah Anetta akan terus meleset.

Dan benar saja, kesempatan itu datang juga.

Satu anak panah liar malah diterbangkan kembali mengarah ke belakang Anetta. Ledakan itu cukup dekat untuk menghempaskan Anetta. Gadis pirang itu terjatuh ke depan. Dan kini salah satu titik vitalnya, yakni leher, berada di jangkauan Ursario.

"Ada kata-kata penutup, Blondy Girly?"

"...??!!!"

Anetta hanya bisa melihat taring-taring gigi yang tajam ... sebelum semuanya menjadi gelap.


Badai salju itu sudah hilang. Hanya tersisa tumpukan-tumpukan salju yang menutup tanah, pepohonan, bebatuan, semak-semak, sementara semua api dan asap telah menghilang.

Di tempat yang tadi merupakan pusat badai salju, terbaringlah dua sosok. Satu adalah Ursario yang telah kembali ke rupa asalnya sebagai boneka beruang coklat. Dia terbaring kepayahan, hampir tak bisa bergerak lagi. Di sampingnya, terbaring sosok si gadis pirang, Cheril. Tak ada nafas. Tampak begitu banyak luka goresan dan gigitan di sekujur tubuhnya, yang anehnya, darah-darahnya malah membeku sehingga tak mengucur. Satu bekas luka gigitan menganga lebar di leher si gadis malang.

Agak jauh dari tubuh kosong Cheril si gadis pirang, tampak juga seonggok daging yang dulunya merupakan tubuh gadis Viridian yang dikenal sebagai Nemaphilia. Yang tersisa darinya hanyalah torso dengan sebelah tangan saja.

"Urrrrggghhh.....! Gawat! Jiwa mereka hampir lenyap ... rrggh ...," erang si boneka beruang. Dengan sisa energi jiwanya, dia pun menggerakkan tangan untuk sedikit membuka retsleting rahasianya. "Stupidy Blondy Girly dan Planty Demony Girly! Aku, inkarnasi Demonlord Ursario, mengakui ketangguhan jiwa tempur kalian!!"

Seperti tadi, jiwa-jiwa petarung yang ditaklukkan oleh Ursario akan diserapnya untuk menambah kekuatan si boneka beruang.

Ketika pertarungan telah berakhir, Ursario menghela nafas panjang.

"Hhhh .... saatnya hibernasi."

Sewaktu sesosok Hvyt menampakkan diri untuk mengumumkan kemenangan Ursario, boneka beruang itu sudah asik terlelap.

ROUND 1-G, versi Ursario—SELESAI

61 comments:

  1. Wuah.. teddy >.<

    Narasinya lucu... ehehe
    .
    Btw, ini dialog ya? Ndus-ndusnya >> "Hutan Varidios? Viridian? Dan ... ndus ndus ... di sana adalah—"

    Di saat itulah, tiba-tiba angin keberuntungan berhembus. >> my feeling goes off

    After all, battlenya lucu. Bak bik buk imo
    Dan si teddy aw... jadi Pollar bear :3
    #gatahanbendaunyu

    Tapi saya nikmatin bacanya karena bahasanya santai.

    +8



    ReplyDelete
  2. Overlord HALL4/4/14 11:08

    Menurutku cerita ini masih jelek dan terasa paling lebih jelek dari semua cerita yang kubaca, jauh berbeda dari yang aku harapkan, aku beri nilai +0,1 dengan terpaksa.

    TAPI BOHONG!!! Cuma bercanda, maaf, kalau kata kata tadi menyakitkan, jangan terburu kecewa atau marah ya! :D
    Aku suka ketika Ursa dan Meggale dibakar oleh cheril, jokenya masuk, oke.
    Aku juga suka dengan cara bicara Ursa yang unik, ini bisa menjadi refrensiku. :)
    Menurutku cerita ini sudah sempurna, aku beri nilai sempurna +10 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo bohong mah, jangan bilang maaf.

      munafik itu namanya. klo bohong bohong aja.

      Delete
    2. Aduh, maksudku disini cuma ingin bercanda sedikit, jangan salah tanggap ya.
      Lagian apa salahnya meminta maaf? aku cuma minta maaf kalau bercandaku kelewatan.

      Aku beneran suka dengan cerita ini dan memberinya nilai +10

      Delete
    3. wkwk. dan aku juga bercanda.

      aduh, kenapa dibalas dengan serius sih. aku kan jadi salah tingka nih. :swt:

      Delete
    4. BAKAKAKAKAKAK~! Koplak! :D

      Tercatat!

      Delete
    5. Kenapa dua orang ini malah pacaran di sini? :v

      Delete
  3. sasuga bang heru...

    antar kalimatnya mengalir, ringan dan temponya juga cukup bagus.

    apalagi ursario disini nggak terlalu menonjol dibandingin chara yg lain, meskipun dia menang juga akhirnya.

    8/10...

    ReplyDelete
  4. kebetulan saya suka dengan figure beruang. Jadi waktu menikmati Ursario rasa gemas lebih dominan disamping pertarungannya. Deskripsi atas apa yang dilakukan Ursario selalu ditafsirkan imajinasiku dengan lucu. Ursario si beruang yang menggemaskan dengan bulu coklat lembut. hehee,,, dari segi tutur kalimat, hm... masih dikit kaku. tpi dikit ya bang Heru. hehe

    aku kasih 7/10

    ReplyDelete
  5. ADUH URSA UNYUUUUUUU <3 <3
    jadi lovey dovey deh sama ursa /plak

    pembagian plotnya asik banget, semua karakter dapet 'feel'nya masing2 dan action masing2 terbagi dengan rata
    penggambaran actionnya juga ngalir, ringan dan enjoyable

    ditambah lagi karakter ursa yg lucu bikin baca ini jadi senyum2 sendiri bayangin ursa
    bikin fanartnya ah

    vote 9/10 deh karena ursa unyu <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dibuat fanart-nya! Saya menantikan itu >.<

      Delete
  6. wogh, saya kebawa sama cerita battlenya yang seru tapi lucu......
    dan aksi teddy bear yang mengagumkan!!

    8/10

    ReplyDelete
  7. Noty Teddy Bearrryyyyyy!! *hugsy tightly* (Bener gak nulisnya?) XDD

    Astaga, pembukannya kocak. Saya ngikik-ngikik bacanya, duh gak kuaddhhh itu Ursario tingkahnya ngegemesin abis hahahahah XDD apalagi pas duo boneka (Ursa + Menggale) tingkahnya hahaha kocak deh puolll :Dd

    Cara dia ngomong bahasa Inggirs yang ditambah -y dikahir kalimatnya bener-bener lucu ahhh lope lope lah pokoknya *alaynya keluar*

    Semua peserta dapat porsi cerita yang pas menurut saya. Narasinya mengalir dari awal sampai akhir, enak bacanya. Walaupun awal-awal battle kesannya kayak lagi guyon, tapi pas ke akhir-akhir makin serius dan bercampur dengan darah juga air mata #ealah. Pas tarung di badai salju itu yan paling oke menurutku.

    Hm... jadi, kukasih nilai 8 buat ceritanya + 1 karena Ursario unyu XD

    Nilai: 9/10

    Oh saya jadi ngebayangin Ursario manggil OC saya, Zach, pakai panggilan Horny Demony (Horned Demon) Gyahahahahaha #abaikan

    Naer~

    ReplyDelete
  8. O ho ho hon! Cute! Moi kasih 8.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aieeee... Moi lagi-lagi harus ngulang -_-
      Moi suka ama karakter Ursario yang well-develop termasuk dengan gaya bicaranya. Interaksi antara Ursario dan OC lain--terutama ama Manggale--is a joy to read! Has a lot funny moment, so moi kasih 8.

      Delete
  9. Anonymous5/4/14 15:55

    - Cara bang Hewan menghidupkan karakter si boneka batak benar-benar menarik. Ursario dan Manggale adalah dua karakter favoritku di cerita ini.

    - Banyak deskripsi yang infodump. Menurutku pembaca akan cepat bosan kalau dijejaji informasi yang sama berulang-ulang. Misalnya:

    "Boneka beruang itu melompat pergi dari lokasi yang menjadi kuburan Zany. Sekarang, siapa yang harus dihadapinya terlebih dulu? Si Planty Demony Girly (Nemaphilia)? Ataukah si Stupidy Blondy Girly (Cherilya Janette)?"

    Bukankah dari dialog-dialog sebelumnya, si Ursario sudah menunjuk dengan jelas siapa yang Planty dan siapa yang Blondy? Karena itu, menurutku konfirmasi di paragraf ini tidak diperlukan. Lagipula ini masih sudut pandang si Ursario, maka cukup begini saja, "Si Planty Demony Girly? Ataukah si Stupidy Blondy Girly?"

    - Aku kurang suka dialog yang hanya berfungsi untuk menjelaskan plot seperti ini:

    "Hei, ayo! Ada aura mencekam dari wilayah danau! Ini pertanda bahaya!"
    "Ya, aku tahu. Entah apa yang terjadi. Seolah-olah gerbang neraka telah terbuka dan bencana akan segera meliputi Hutan Varidios ini!"
    "Sudahlah! Lebih baik kita percaya pada insting kita. Untuk sementara, kita menyingkir ke sisi lain hutan yang jauh dari wilayah danau."
    "Benar. Viridian lain pun sudah pergi. Ayo!"

    Pertama, membosankan, karena dialognya terlalu biasa.
    Kedua, too much telling.
    Menurutku dialog ini lebih baik dihapus saja, lalu selipkan informasi soal Varidios di narasi lain. Atau tidak usah menjelaskannya sama sekali. (Lagipula nanti muncul si Planty yang akan mengklaim hutan itu sebagai miliknya). Lagipula, ini ceritanya si Ursario kan? Ursario-lah yang harus menjadi fokus utama cerita ini, bukan para Viridian-nya.

    - Gaya narasinya kurang condong ke satu arah. Aku tidak bisa menentukan cerita ini nuansa cerita ini adalah cerita anak-anak yang "sakit" atau pure dark comedy. Keduanya terasa nanggung.

    7/10

    Karakterisasi menarik, dialog perlu diasah, dan perlu pengurangan infodump.

    -Ivon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh makasih banyak pembahasannya Ivon. Masukannya sangat berguna :D

      Delete
  10. karena si Beruang-nya unyuuuuuu dan ceritanya sempat membuat saya sempat tertawa geli... maka......

    ---
    8/10
    ---

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yang bikin kamu tertawa geli? ada bagian yang kamu sukai? well, nilainya saya anulir.

      Delete
  11. A berada ditempat X, B berada di tempat Y (manggale dan ursa)

    kalau dua-duanya dijelaskan secara bersamaan tentu saja fokusnya berasa dilempar-lempar.

    baru kepikiran pelor rifle mininya bisa abis yah?

    iya bener, entah kenapa saya bacanya jadi keskip. apa karena terlalu banyak perubahan fokus yah?

    TIBA-tiba Zany udah kabur dan ngumpat nema aja.

    kenapa bisa samaan gini sih? nyerap jiwa petarung?
    tapi cara nyerap dan penggunaannya beda!

    Ini scene lucunya banyal... tapi pada saat scene Awesome atau klimaks saya serius gak ngerti apa yangt terjadi di dalam badai salju. bahkan 2x saya baca.

    Final Verdict: 6.5 bisa delapan padahal kalau scene badai salju tidak terasa buru-buru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, mungkin memang benar kalau terasa klimaksnya terburu-buru. Soalnya saya belum pernah ikutan BOR. Jadinya sewaktu tulisan saya udah nembus angka 6000-an kata, jadinya panik juga. Karena selama ini, sepanjang pengalaman saya menulis di tempat lain, bahkan tulisan sepanjang 3000+ kata saja sudah langsung membuat pembaca malas berkomentar.

      Dan ketika saya menyadari kalau sebagian besar entri juga sekitar 6000-an kata (bahkan ada yang 9000+ dan 19000+), saya hanya bisa jedotin kepala ke meja.
      ---
      Ah, soal peluru ... tentu saja bisa habis. Kan saya tulis di char sheet-nya kalau ada amunisi di balik jaketnya. Kalau ada amunisi tentu ada batasan jumlah peluru, 'kan?

      Dan soal serap-serap jiwa, barangkali karena Ursa dan Primo memang nemesis :v

      Delete
  12. Karakter Ursario ini ternyata unik banget, ya. Terutama gaya ngomongnya.
    Battlenya menyenangkan buat dibaca. Keluhan saya cuma lompat-lompat adegan dari satu tempat ke tempat lain yang kurang diberi batas jelas, dan kadang semua karakter seneng banget ya teriak ke satu sama lain - bikin saya ngerasa sifatnya nyaris sama semua

    7/10

    ReplyDelete
  13. Anjrit! apa ini!?
    XD

    Akhirnya nemu story yang bisa ngocol di tengah-tengah entry yang super duper serius.
    :D

    "Woody Dolly Bataky sialan!"
    wakakakakakak. Si Manggale mulai menggila, jangan kau tipu-tipu, kalo aku marah aku bisa menggila.
    XD

    Akhirnya bisa baca karya lain dari bang Hewan~...
    Tiap char di story ini kebagiain porsi battle yang sama ya... gak melulu fokus pada pemeran utama (si beruang)


    Btw, Si Ursario ini lucu ya, bolehkah ane bawa pulang?
    ._.

    +8

    ReplyDelete
  14. Epic battlenya dan juga unsur komedinya sukses bikin aku tertawa :D

    +9

    -Muchy MM-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada pembahasan lebih lanjut mengenai kelebihan isi cerita? Sekedar epik dan lucu? saya anulir nilainya.

      Delete
  15. Haiyhooo, master! (づ。◕‿‿◕。)づ

    auuuw, , beruang tedy ursarioo~ unyuuw! (≧◡≦)

    waw, , plot awalnya jenaka yaa~ namun agak kurg greget penyebab suasana bisa damai setelah ada info tentang "mengalahkan seluruh entrant"
    lalu penyebab berubah menjadi suasana panas.

    perubahan point of view na banyaaps n lompat~ dan tidak berhubungan dgn plot yang membawa ursa, , kan tokoh utamanya di sini ursa >w<

    hebat! semua entrant dikalahkan ursa, , sasugoiy, teddy cily mily kitty!
    <【☯】‿【☯】>


    lalu , , #ampoooni saia master~ (>ʃƪ<)

    narasi n karakteristik nya Ursa, apiiiiik~
    dialognya ursa khas, ,

    yahooo~ aku titip nilai 7/10 yaa ke master Heru~
    (づ。◕‿‿◕。)づ

    ReplyDelete
  16. maafkan aku bang *orz... nilai

    7/10

    1. uaaaaaa umi dari daerah batak dan umi ga ngerasa logat bataknya dapet diceritanya Ursario >:( Itu lebih ke logatnya orang timur >.......< arrrggghhhhhhh

    2. di charsheet-nya Manggale, dikasih tahu kalo Manggale itu enggak bisa bahasa Indonesia. Disini Manggalenya ujug-ujug ga tahu alasannya apa tiba-tiba bisa bahasa Indonesia... Setidaknya, kasih tahu kek misal dia udah mempelajari beberapa kata...

    3. umi suka bagian Ursa ngomong pake embel-embel "y" di setiap katanya... lucu paraaaahhhhh >/////<

    4 dan setuju sama yang lain, ini ceritanya seruuuuuuuu

    done..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi bukannya bahasa di BOR itu universal :v

      Kalau tidak universal, bagaimana menjelaskan OC dari segala macam realms (dengan negara-negaranya masing-masing) bisa saling berkomunikasi?

      Kalau soal logat Timur, menurut saya sih komennya Bang Ichsan yang lebih bernuansa Timur "Kau tipu-tipu aku bisa menggila." :v
      Mungkin memang agak mirip antara logat Timur dan Batak?
      --
      Eniwei, trims sudah membaca.

      Sebenarnya saya ingin selipkan kosakata Batak di dialognya Manggale. Tetapi sewaktu saya menulis cerita ini sedang tidak ada koneksi internet.

      Delete
  17. lucu ih adegan Ursario sama Manggale nya, ga nahan pas baca Manggale ngomong pake irama Batak, wkwkwkwkwk
    ane suka ini
    berarti tiap ronde Ursario bakalan makin kuat yah, kan nyerep jiwa lawannya yang gugur terus?
    ane kasih nilai 10, perfecto!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap. Si Ursa akan tambah kuat. Mungkin kalau energi jiwanya sudah semakin banyak, dia bisa berubah wujud berkali-kali dalam satu kali pertempuran.

      Makasih poin dan review-nya :D

      Delete
  18. aduh sialan, saya lupa baca entry ini karena ketimbun entry lain.
    satu2nya entry yang bisa bikin saya ngakak, dan entah kenapa tiap kali baca dialog ursario saya ngebayangin dia ngomong pakai gaya bicara okama, wakakak.

    benar2 teddy bear paling badass yang pernah ada, sasuga om Hewan, benar2 living up to his name.

    Tanpa banyak basa-basi lagi langsung saja 10/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okama?? Whut? oTL

      Padahal Ursa adalah pejantan sejati, dulunya Maharaja dari semua Ursa-Demon. Tetapi semenjak roh-nya menempati boneka teddy bear, entah kenapa sifatnya jadi agak rempong dikit, bo~

      Eniwei, terima kasih sudah baca dan komen~

      Delete
  19. Dialog di adegan awalnya cukup menghibur, eh, bikin senyum-senyum sendiri malah, hehe, ,
    saya berharap di adegan battlenya pun ada adegan ngocol kaya di awal, tapi ekspetasi saya dikhianati #plakk!
    Bagian awal menghibur banget, cuma pas masuk bagian pertarungan malah jadi agak datar ya. Saya akui adegan battle nya heboh, kereen malah, tapi seperti tanpa drama. Emosi Nema yg rumahnya dihancurin terlalu minor, Mangale mati konyol padahal sebelumnya cukup wah, Zany bahkan lebih minor lagi, hmm, ya mungkin faktor buru-buru + takut kepanjangannya ya ^_^

    Tapi sy nilai 8 (bisa lebih baik lagi)

    ReplyDelete
  20. Akhirnya bisa juga sampe di sini.

    Wkkwwk banyak tektok dialog yg kocak terutama Manggale x Ursa. Mgkn mrk cocok jd duet lawak nih.

    Btw, napa si Zany pake njelasin/ngenalin entrant lain kalo ujung2nya dia bakal nembak juga. Gw td mikir dia bakal pergi dan plan something. Atau ya lgsg snip dr jauh (lbh possible sih). Atau kalo dia pnya kekuatan imajinasi dan regen, knapa ga bom aja satu tempat pake self nuke? *ga baca charsheet jd ga tau*

    Show offnya Ursa cukup bagus IMO. Dia bs kill semua, ada perubahan dan ada potensi upgrade :)
    Ditunggu R2nya :D
    Nilai: 8/10

    ReplyDelete
  21. Alur : 2/3
    Berasa baca cerita anak2 wkwkwk tapi kesuluruhan ceritanya saya suka walo si Ursa ini licik... Liciknya dimana? Mari kita ke bagian selanjutnya #halah

    Karakterisasi : 1,5/3
    Perasaan namanya Nemaphilla +_+
    Karakterisasi setiap tokoh udh asik, cuma interaksi antar karakternya berasa krg greget >.< gak ada yg nyuruh mereka temenan juga, tapi rasanya dari awal-akhir ttp bertarung sama org random.... Mungkin ya emg gpp si mereka ttp saling gk kenal, atau entah gimana di R2 nya, tapi berasa ndak menimbulkan kesan pd karakter kecuali penggunaan kekuatan yg uwoohh-uwaah-ternyatadiabisabeginibegitu!
    Dan Ursa ini licik, ia.. Dia jg tsundere... Galak pas bertarung, tp baru ngehormatin lawannya pas mereka udh mati.... Terus berasa dia kyk dinasbihkan dapet cahaya dr surga stlh dimasukin lawan2nya itu... Menjijikkan
    Oya saya jg gk suka dialognya yg mayoritas teriak2 n pakek tanda seru byk kyak alay marah2 (ini masalah selera aja, sbnernya skornya 2, cma ad bbrp hal yg sy krg suka)

    Gaya bahasa: 2/2
    Berhubung ini cerita anak2, sy gak akan bawel sama masalah deskripsi...

    Typo n Error : 1/1
    Memrhatikan, napas... Terus apa lagi tadi... Tp gk bgt ganggu

    Hal-hal lain : 0,5/1
    Sy suka beruang dan boneka, tapi kelakuan Ursa yg sok keren n sok imut bikn saya keki wkwk

    Total skor : 7
    Maaf kalo komen saya sotoy orz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, irony...
      *memperhatikan = memerhatikan
      Kata yg berawalan ktsp akan melebur jka bertemu imbuhan me- kecuali setelahnya juga huruf konsonan

      Delete
    2. Iya namanya Nemaphila. Tapi berhubung saya baca charsheet-nya mungkin kurang menyeluruh, jadinya salah nama. Dan entah kenapa kebayangnya malah Philia. Dan karena sudah diposting, jadi tidak bisa diedit.

      Lalu soal tanda seru, hmm ... itu muncul begitu saja secara autowrite, karena saya pikir pas untuk intonasinya. Mungkin terdengar seperti berteriak?

      Dan Ursario memang licik, kok. Dia kan demon. Kalau memaksa bertarung secara jantan dan sportif, dia sudah mati sewaktu pertama kali bertarung dengan Manggale :'(

      Eniwei, makasih komen dan poinnya ;)

      Delete
  22. itu kenapa viridianya malah pada kabur kak? pdhl tugas mereka kan buat neglindungin hutan xD
    logatnya manggale jd terkesan lbh kasar ya kak, lbh kyk logat timur :3
    tp keseluruhan battlenya seru bgt kak, walopun d endingnya agak kacau x3
    poin 8/10 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya tugas Viridian itu menjaga hutan dari manusia, bukan dari makhluk neraka.
      #ngeles

      Tapi setelah pertempuran selesai, mereka balik ke tengah hutan untuk beres-beres kok. Dan hutan Varidios pun kembali indah seperti sedia kala (~'.')~

      Trims komen dan poinnya~

      Delete
  23. Oke, bayangan boneka beruang kebakar lalu gegulingan di tanah itu terus nempel di kepala, epic!

    Battle akhir dengan Cheril agak kurang greget menurutku, terlalu brangasan. Tapi untuk keseluruhannya ini bagus, missfired bagian Manggale juga lumayan lucu~

    8,5/10

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -