December 10, 2014

[ROUND 7 - SEMIFINAL] END OF LIMIT

BATTLE OF REALMS 4: AFTERLIFE

[ROUND 7 - SEMIFINAL] END OF LIMIT
Written by Glen Tripollo

---



The Lament of a Bespectacled Man

Satu bulan? Satu tahun? Entah berapa lama waktu bergulir sejak aku terjebak di dunia antah-berantah yang mereka sebut Nanthara Island ini. Bahkan, aku tak yakin waktu masih berjalan sebagaimana mestinya. Terasa lambat dan menyengat. Seolah harapan yang kumiliki perlahan-lahan menguap, tergantikan oleh keraguan yang bertumbuh semakin kuat.

Makhluk merah itu, Thurqk—aku lebih suka menyebutnya psikopat berkostum norak—entah dari mana dia berasal. Muncul begitu saja di hadapanku dan mengaku sebagai dewa yang menciptakan alam semesta. Kupikir, untuk ukuran seorang pelawak dia cukup berbakat. Namun, itu baru pada awalnya. Semua berubah ketika aku melihat dengan mata kepala sendiri kemampuan aneh yang dia miliki. The power of will, that’s a real deal. Dia adalah makhluk brengsek dengan kekuatan mengerikan. Apapun yang dia kehendaki, maka terjadilah.

December 1, 2014

[ROUND 6] DEISMO - CONTINUE?

[Round 6] Deismo
"Continue?"

Written by Overlord Hall

---

I
Execution

Langit-langit, lantai dan dinding yang semuanya terbuat dari batu, itulah hal pertama yang dilihat oleh Deismo begitu ia mengalahkan kelima peserta itu, pemandangan kota malam yang ia lihat sebelumnya tiba-tiba saja lenyap begitu saja seperti debu yang ditiup angin. Tanpa pikir panjang, Deismo langsung duduk dan menyandarkan punggungnya pada dinding di dekatnya.

"A-Akhirnya selesai juga...," nafas Deismo terengah-engah setelah menguras begitu banyak energi kehidupan di ronde sebelumnya, dua kali penggunaan teknik pemberian kinnaras itu sudah mengurangi sebagian besar energi kehidupan Deismo, "Kalian berdua baik-baik saja?"

"Heismo, dalam keadaan bagus, Deismo!!" kata Heismo si klon hijau, kemudian ia menunjuk sesosok hantu merah mungil di atas kepala Deismo, "Tapi sepertinya Seismo tidak."

Seismo, si klon merah membalas tunjukan jari Heismo hanya dengan sebuah tatapan tajam. Muka Heismo langsung pucat karena melihat reaksi negatif Seismo, ia langsung bersembunyi dibalik jubah Deismo, berharap klon merah itu tidak melampiaskan kemarahannya dengan sebuah tamparan setan.

[ROUND 6] CLAUDE & CLAUDIA - AT LEAST, HERE'S AN ATTEMPT TO ACHIEVE EUDAIMONIA

[Round 6] Claude & Claudia
"At Least, Here's an Attempt to Achieve Eudaimonia"

Written by Sam Riilme

---

Behind The Curtain

Segala konsep yang bekerja di dunia ini selalu dapat diibaratkan dengan sebuah koin.

Mereka sebenarnya berada pada satu wadah yang sama, hanya saja terletak pada sisi yang berbeda.

Karena di dalam satu hari ada siang, maka ada malam. Kemudian dikenallah cahaya dan kegelapan.

Karena di dalam satu perbuatan ada kebaikan, maka ada kejahatan. Kemudian dikenallah pahala dan dosa.

Meski berada di posisi berbeda, pada dasarnya sesuatu yang berkebalikan ini saling melengkapi. Seperti dua sisi koin, yang satu tidak akan ada tanpa yang lainnya.

Begitu pula dengan manusia.

Selalu ada arti mengapa yang menciptakan mereka membagi kaum tersebut menjadi dua golongan, pria dan wanita.

Yaitu agar mereka saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangannya, meneruskan keberadaan manusia di dunia agar tak habis seiring zaman.

Saat mereka semua berhenti peduli dengan apa yang akan terjadi pada generasi di masa depan nanti, saat itulah mereka benar-benar mati.

Perlahan, tapi pasti.

*****

November 30, 2014

[ROUND 6] NURIN - DEMON WAR

[Round 6] Nurin
"Demon War"

Written by Fachrul R.U.N

--- 

1
Makhluk berkulit perak itu duduk di dalam ruangan selnya yang sempit dan seadanya. Selain kasur keras untuk satu orang, tempat itu hanya diisi oleh satu toilet, yang tidak akan ia gunakan. Mereka yang menempatkannya di sini tak menganggap ia akan berada di situ terlalu lama.
           
Di luar, di balik jeruji, ada dua Hvyt yang terus mengamati. Mata mereka terkunci ke makhluk itu, tak bergerak ke arah lain. Mereka begitu serius hingga sosok yang mereka jaga dapat mencium ketakutan di balik kewaspadaan berlebihan itu.
           
Terdengar suara pertarungan di luar ruangan. Dari yang ia dengar sebelumnya, para peserta turnamen yang tersisa kembali diadu dalam pertarungan satu lawan satu. Pertarungan-pertarungan itu sepertinya lebih dahsyat dari sebelumnya, sampai-sampai terdengar banyak suara ledakan. Tapi makhluk perak itu tak peduli. Ia duduk manis, mengamati tangan kanannya yang bergerak-gerak mengikuti kehendaknya.

November 21, 2014

[ROUND 6] URSARIO - BATTLEY OF THE GODSY

[Round 6] Ursario
"Battley of the Godsy"
Written by Heru S. Zainurma

---



-intermezo bagian I-
Kegagalan Nolan?


Dalam suatu ruangan di Devasche Vadhi ... tampaklah Nolan, si kacamata, tengah menggerakkan sepuluh jemarinya begitu cepat. Dia menekan-nekan papan ketik laptopnya, mencoba segala yang dia bisa.

Laptop itu tersambung pada jaringan di Devasche Vadhi. Yang hendak diretas Nolan adalah sistem pertahanan ruang rahasia Thurqk, alias Ruang Penjara Jiwa. Mulutnya tak henti-hentinya menggumamkan ...
                        
"Akulah sang tokoh utama. A-akulah sang pahlawan. Aku yang akan menyelamatkan s-semuanya! Rencanaku pasti akan berhasil, dan mereka semua akan bersujud memohon maaf karena sudah meragukanku. Lihat saja!"

Namun sepenggal suara mengagetkan dirinya—

"Ihihihi. Lucu sekali kau, Nolan, mengaku-ngaku sebagai pahlawan begitu."

—dan Nolan menyaksikan gadis hantu berpita biru telah berada tepat di belakangnya. Dia dikenal sebagai Abigail Grey, alias Abby, yang akhirnya dapat kesempatan muncul juga di kisah ini. Dan gadis hantu itu tampaknya turut membawa serta sesosok Hvyt bersayap kelabu.

"A-Abby??" Nolan menoleh panik, "Dan ... Über-Hvyt?!"

Pemuda kacamata itu lantas menelan ludah dan mulai berkeringat deras. Dia kepergok! Padahal proses peretasan baru berlangsung setengah jalan.

Sekarang apa?

November 11, 2014

[ROUND 6] SALVATORE - HOPELESS

[Round 6] Salvatore Jackson
"Hopeless"

Written by Dendi Lanjung

---


Thurqk hanya tersenyum, wajahnya menunjukkan seakan dia telah menemukan sebuah harta yang berharga. Sementara di sampingnya, Nolan yang sedang terikat tampak terkesima melihat kilatan cahaya kuning dan biru yang bergerak cepat di bawahnya. Kedua cahaya berbeda warna itu saling bertubrukan, saling menghancurkan, sesekali terdengar suara benturan keras ketika kedua cahaya itu saling bertemu.

"Mereka tidak bercanda sewaktu berkata pertarungan mereka akan berlangsung cepat!" ucap sang dewa merah dengan mata yang berbinar-binar. "Ini benar-benar di luar perkiraanku, padahal aku sempat mengira mereka akan memberikan pertarungan yang membosankan, sudah berkali-kali mereka berdua membuatku bosan!"

Senyum lebar mulai menghiasi wajah Thurqk. "Tapi mungkin ada untungnya mempertahankan mereka berdua, dengan begini seluruh rencanaku akan tercapai! TUHAHAHAHAHA!!"

Bunyi tawa Thurqk terdengar membahana sampai seluruh Nanthara, tak ada yang tak merasa gentar mendengarnya. Suara penuh keangkuhan dari seorang yang mengaku tuhan, bagaimanakah nasib para petarung yang tersisa selanjutnya?


•••

[ROUND 6] SJENA REINHILDE - NO HAPPY EVER AFTER, WELCOME TO REALITY

[Round 6] Sjena Reinhilde
"No Happy Ever After, Welcome to Reality"

Written by Bayee Azaeeb

---

[Sjena's POV]

Kalian mungkin pernah mendengar cerita seorang wanita yang begitu mencintai pasangannya, sampai-sampai ketika pasangannya mati, sang wanita membawa kepala pasangannya kemana-mana.

Sebuah konsep yang tak kumengerti, dan takkan pernah kumengerti.

Mencintai sampai mati, mencintai yang mati, mencintai kematian? Cinta itu sendiri adalah sebuah konsep yang tak pernah kutemukan di dalam dongengku. Sebuah kata yang tak bisa kutemukan di dalam kamusku. Oh, ceritaku hanyalah sebatas dendam dan kebencian.

Aku menghela nafas, beringsut di pojok ruang ini.

Tidak, terlalu luas untuk dikatakan sebuah ruang. Taman, bagaimana seharusnya ruangan ini disebut. Aku tak tahu ilusi macam apa lagi yang disajikan Thurqk, yang pasti aku sudah muak.

Haruskah aku maju?

Atau kembali? Tapi aku tak punya tempat untuk kembali.

Dia – Kilat, yang kuharap bisa menjadi tempat bersandar, hanyalah sekedar lalu di mata Thurqk. Tak lebih dari sekedar side dish, yang bahkan tak diperlukannya sama sekali.

Kuraba pipiku, mengingat bagaimana Kilat memukul wajahku. Tapi kenapa rasa sakit tak kurasakan di pipiku? Apa rasa sakit punya kemampuan untuk berteleportasi ke dada?

November 5, 2014

[ROUND 6] STALLZA - VENTINIS

[Round 6] Stallza
"Ventinis"

Written by Yafeth T. B.

---

Demi hidup
Harus ada yang mati…

I

Pertarungan melawan bayangan Collete telah lama usai. Kini Stallza kembali memasuki lorong gelap yang tampak tak berujung. Dia bisa saja memakai Neona untuk menerangi lorong itu—kalau saja energinya tidak terkuras habis dalam pertarungan sebelumnya. Stallza kini mengandalkan indera perabanya untuk mengetahui jalan yang dia lalui. Tangan kiri yang menempel ke tembok yang kasar memberikan informasi bahwa lorong ini tidak bercabang sama sekali. Atau setidaknya itulah yang bisa dipahami Stallza di tengah kegelapan lorong itu. Langkah kakinya bergema, memberikan Stallza informasi bahwa lorong itu cukup luas. Namun Stallza tidak tahu apakah di dalam luasnya lorong itu ada jebakan atau musuh yang menunggunya. Stallza hanya berharap si makhluk merah bernama Thurqk itu tidak menyerangnya tiba-tiba di sini.

"Meski aku tidak yakin itu terjadi," bisik Stallza pada dirinya sendiri. Suara bisikannya bergema. Stallza menduga akan ada suara lain menanggapi bisikannya—entah suara gemerisik kecil atau mungkin geraman atau bahkan suara seseorang yang berbicara balik padanya. Tapi itu semua tidak terjadi. Dia sendirian di dalam lorong gelap itu, ditemani dinding kasar dan suara kaki yang bergema.

November 1, 2014

[ROUND 6] LAZUARDI - PERTEMUAN, PERPISAHAN

[Round 6] Lazuardi
"Pertemuan, Perpisahan"

Written by Po

--- 

1
Pertemuan Kembali

Kegelapan itu menutup pandang dan kesadarannya. Namun bentuk dan warna muncul perlahan, saat Lazuardi merasakan dua lengan ramping sedang memapah tubuhnya. Dan hangat ini, disertai harum kasturi putih merebak dari figur yang menyentuhnya.

"Rem... " suara itu kering  saat pertama terdengar oleh telinga Safirem. Namun itu cukup untuk membuat sang bidadari menitikkan bening dari matanya yang indah. Si Matoi telah sadar.

"Jangan bicara...jangan bicara, Biru...biarkan aku memapahmu..."

Lazu menatap Safirem dalam, menelusuri helai demi helai bulu matanya yang setajam daun pinus dihinggapi bulir air mata, menyinggahi seutas senyum pada manis mulutnya, mengingat kembali semuanya.

Safirem, gadis dari alam asal Lazu, Aspemina. Wanita yang menderita sakit tak tersembuhkan, namun menerima donor energi mitos Khatea dari tubuh Lazu hingga menyelamatkan nyawanya. Gadis yang kemudian menjadi sirkuit superdimensi pengetahuan multiversal, yang mimpinya saja telah mencipta sejumlah semesta.

Hingga dia tak tega terbangun dari mimpi itu, karena akan hancurlah seluruh jagat yang telah tercipta olehnya. Meski dia ingin. Meski dia selalu ingin.

October 10, 2014

[ROUND 6] RESTRAINED

BATTLE OF REALMS 4 : AFTERLIFE
ROUND 6 - RESTRAINED

---

“Jangan sentuh aku, Hvyt!” bentak Nolan saat salah satu Hvyt mendorongnya dengan keras. Tatapannya tajam. “Apa sih yang kaulakukan? Seharusnya aku tetap berada di ruang kontrol dan mengatur pertarungannya agar menjadi lebih menarik!”

“Diamlah, Nolan! Setelah Abby menceritakan segala akal bulusmu dalam menyiapkan misi pemberontakan terhadap Thurqk, kami terpaksa berimprovisasi,” jawab Hvyt dengan ekspresi datar. Pandangan Nolan beralih kepada Abby yang melayang-layang dengan riang di sampingnya. “Kau suka atau tidak, kau ikut kami ke lokasi pertarungan yang telah kausiapkan sendiri. Selanjutnya, biar dewa kami yang memutuskan akan melakukan apa terhadap dirimu.”

“Sebagai boneka Thurqk, rasanya kini kau semakin banyak bicara, Hvyt,” ujar Nolan kesal. “Dan kenapa juga hantu nakal ini harus mengikutiku! Tidak puaskah kau sudah menghianatiku?”

September 8, 2014

[ROUND 5] SALVATORE JACKSON - WINTER SONG

[Round 5] Salvatore Jackson
"Winter Song"
Written by Dendi Lanjung
--- 

:: Catatan si Beleth

Namaku Beleth dan aku adalah bintang tamu di babak sebelumnya, walau sebenarnya tidak diundang sih.

Mungkin banyak yang merasa aneh, siapa aku? Dan kenapa aku tiba-tiba muncul di akhir pertarungan Sal dan membantunya mengalahkan Amdusias?

Biar kuberitahu satu hal, aku tidak tiba-tiba muncul begitu saja, aku sudah ada sejak dari awal. Jauh sebelum Salvatore Jackson lahir di planet Meteo, aku sudah ada di dekat si Musisi Patah Hati bahkan sebelum dia jadi Musisi Patah Hati, terperangkap dalam sebuah biji jambu mete sebesar buah mangga.

Perihal bagaimana caranya aku bisa berada di sana? Well, that is not your business!

Ketika seorang Meteo lahir, dia akan diberi sebuah biji jambu mete yang kemudian ditempelkan di atas kepalanya. Biji jambu mete itu berfungsi sebagai pelindung dan jimat keberuntungan bagi seluruh anak suku Meteo. Biji tersebut bisa dibilang menjadi anggota tubuh tambahan bagi suku Meteo dan akan terus menempel di kepala seorang Meteo sampai ajal menjemputnya.

Tapi seperti sudah ditakdirkan, Salvatore Jackson secara sembrono melakukan ritual berbahaya dan malah 'kehilangan' nyawanya. Tentu saja aku pun ikut terbawa sampai ke dunia Afterlife ini, dimensi yang tercipta atas kehendak Thurqk Iylich, di mana akhirnya aku terbebas dari kutukan biji jambu mete. Jadi terima kasih Iylich-chan, dan terima kasih Sal-chan.

Saat kubilang sembrono, maksudku adalah sembrono dalam skala demonsional. Ada skala regional, nasional, internasional, tata surya, galaksi dan antar dimensi, skala demonsional ada di posisi yang lebih absurb lagi. Mengerti maksudku? Ketika orang sepertiku menyebut tindakan Sal-chan itu sembrono, itu artinya sesuatu yang sangat buruk akan terjadi, karena Elder Scroll Kaditukadieu adalah artifak yang sangat berbahaya.

Ketika seseorang membaca lembaran kuno tersebut, tanpa dia sadari dia telah melubangi dinding pembatas antar dimensi, mengacaukan keseimbangan antar dunia, membuat seseorang dengan kemampuan merampas dan menduplikasi jiwa menjadi leluasa dalam bertindak.

Dan Salvatore Jackson mengaktifkan kekuatan terlarang tersebut hanya untuk menemui seorang perempuan yang dulu ditemuinya di masa lalu.

•••

September 7, 2014

[ROUND 5] DEISMO - THE REALM DESTROYING BATTLE!!

[Round 5] Deismo
"The Realm Destroying Battle!!"

Writtem by Overlord Hall

---

Walaupun Nolan telah memberikan sepercik harapan pada para peserta, suasana hati mereka masih tidak berubah, masih tenggelam dalam lautan kebingungan dan keputusasaan. Mereka semua terdiam hening sambil membuat keputusan dalam pikiran masing-masing, tidak ada yang berbicara, yang terdengar hanya langkah kaki mereka sendiri yang menggema dalam lorong.

Sementara Deismo, ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Nolan, tapi dia juga tidak mau memberikan kepercayaannya pada Thurqk. Deismo tidak yakin masalah yang ia hadapi akan berakhir hanya dengan memenangkan turnamen ini.

Meski begitu, Deismo tidak keberatan melakukan satu atau dua pertarungan lagi, kalah atau menang tidak masalah jika saja yang dikatakan Nolan benar. Apapun yang terjadi, Deismo hanya ingin harapannya terkabul, kembali ke realm asalnya, menghabisi Duster dan kembali pada teman-temannya.

[ROUND 5] SILENTSILIA - GOD IS NOT EXIST FOR ME

[Round 5] SilentSilia
"God Is Not Exist For Me"

Written by Hinata Ummi

---

“Do you believe in god? Trust me! I’m not.”
- SilentSilia – The Character –

Mungkin kau heran, mengapa akhirnya aku yang mengambil alih cerita ini. Kau mungkin juga heran mengapa cerita ini tidak dimulai oleh kutipan dari si bodoh Ummi. Ya.. aku yakin kau heran. Sama seperti ketika kau membaca kalimat ini, kau mengernyitkan pelipismu serta menatap heran pada layar komputer atau telepon pintarmu itu.

Ingin bertanya kenapa? Jangan. Aku tidak ingin kau bertanya sekarang, karena saat ini aku lebih ingin menceritakan apa yang terjadi padaku dan si bodoh lainnya. Sesosok Persona bodoh yang berkata bahwa ialah Dewa dari jagad Raya.

Omong-omong kau percaya tuhan? Kau percaya dewa? Kau ingin tahu sesuatu? Aku SilentSilia menyatakan bahwa aku TIDAK percaya pada tuhan. Bagiku, tuhan hanyalah konsep. Sesuatu yang diciptakan oleh Persona untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mampu mereka cerna. Sebuah label.

[ROUND 5] NIM IMANUEL - AKHIR

[Round 5] Nim Imanuel
"Akhir"

Written by Yuu

---

Langit gelap membentang
Bintang kecil mulai bersinar
Bulan pun benderang
Menerangi latar

Di laut pun ada bulan dan bintang
Namun itu hanya semu
Semu tetaplah semu
Semu itu kamu

***

"Aku berada di pihak kalian, walaupun keadaannya sangat berbahaya bagiku berbuat demikian. Thurqk mempercayaiku sebagai tangan kanannya. Bila kalian bertanya, kenapa kalian—"

Cerewet cerewet cereweeet!

Aku berguling-guling dengan malas sambil sesekali menggaruk bagian tubuh yang gatal. Aku tidak mengerti apa yang orang asing itu katakan. Aku bahkan tidak tahu dia siapa.

Saat ini aku dan beberapa peserta yang tersisa tengah dikumpulkan di dalam sebuah ruangan misterius, ujung dari labirin tempat bertarung sebelumnya.

[ROUND 5] MBA IRWIN - MOCK CONFESSION

[Round 5] Mba Irwin
"Mock Confession"

Written by [Re.]

---

Banyak yang mengatakan bahwa tragedi dapat disulap menjadi sebuah komedi -bila tragedi tersebut disuguhkan dalam nampan yang benar. Banyak yang mengatakan bahwa butuh sebuah sirkus agar manusia mau memperhatikan kehidupan orang lain. Maka tak jarang manusia menertawakan jatuh bangunnya seseorang –baik tawa senang maupun gelak canda. Hidup Peace Maker pun tak jauh berbeda.

Tidak ada yang lebih menarik dibanding menyaksikan kejatuhan seorang tokoh super. Manusia yang penasaran akan terus mengikuti kehidupannya. Tentu ada pula yang berharap cerita belum berakhir, ada yang berharap kejatuhan berarti selesainya hidup. Begitupun Peace Maker.


Saat ini Mba Irwin, sang Peace Maker, menatap tingginya lubang. Ia menghela napas dan hanya bisa mengangkat tangannya, berusaha menggapai angkasa yang terlihat jauh. Tak tergenggam, tak tergapai.

Mba Irwin. Perempuan pahlawan perang yang memiliki wajah tak tersembunyi di balik topeng. Rambut pelangi penghancur terror adalah nama yang sempat disematkan korban perang. Tapi Malaikat Penghancur berbaju hitam juga disematkan oleh para pengabdi perang. Ia memiliki wajah yang dinilai berbeda bagi tiap kubu.

September 6, 2014

[ROUND 5] LAZUARDI - NOL

[Round 5] Lazuardi
"Nol"

Written by Po

--- 


1 - Statik

Pria berkacamata itu mengumpulkan semua yang tersisa. Apa yang dikatakannya membuat bermacam-macam reaksi. Bahwa terdapat puluhan kristal jiwa dalam ruang rahasia milik Sang Dewa. Mendapatkan semua kristal mungkin saja adalah kesempatan hidup kembali untuk mereka semua.

Kilat bertatapan dengan sang pria, nyaris tak terlihat namun mereka membuat isyarat mata. Diam-diam sang gadis bermarga Altair sudah berjanji akan menumbangkan dominasi Thurqk terhadap Nanthara. Memang dalam prosesnya mereka harus bergumul dalam kegilaan yang dirancang Nolan demi mengalihkan perhatian Thurqk. Dan sepanjang perjalanan itu, nyawa dan kehormatan mungkin akan terbuang seperti pasir terbawa angin.

Namun bila ini semua berhasil, Baikai serta Elle tak harus musnah. Semua dapat kembali seperti sediakala. Kesempatan kedua akan datang. Dan Nolan dapat membuka jalan untuk mereka. Maka dari itu, si gadis pun mengatakan sesuatu pada tangan kanan Thurqk tersebut.

"Aku ingin bersama Lazu dalam babak ini."

[ROUND 5] NURIN - DEATH CLOUD RISING

[Round 5] Nurin
"Death Cloud Rising"

Written by Fachrul R.U.N
 
--- 

1
Sementara Nolan memberi pengarahan, Hvyt milik pria berkacamata itu menyembuhkan Nurin, memulihkan kondisinya kembali seperti sedia kala. Nurin mendudukkan diri, mengerjapkan mata, menggerak-gerakkan jemari tangan dan kaki untuk memastikan tubuhnya mampu bekerja dengan baik. Tenaganya telah kembali, muncul hasrat untuk segera mencoba kekuatan barunya, tapi ia menahan diri. Tidak perlu. Colette sudah menyingkap kekuatan utamanya, tidak perlu memperlihatkan kemampuan pengubah wujud sekarang.

"Ah, syukurlah..." Mba menghela nafas. "Syukurlah Anda bisa kembali pulih. A-apa Anda masih butuh bantuan? Mungkin saya bisa..."

"Tidak perlu..." Nurin buru-buru berdiri dan menjauhi wanita berambut pelangi itu. "Sekarang saya bisa jalan sendiri."

"Oh. Oh, oke. Baiklah."

September 5, 2014

[ROUND 5] SJENA REINHILDE - ALL YOU NEED IS CONTEMPLATE YOUR EXISTENCE

[Round 5] Sjena Reinhilde
"All You Need is Contemplate Your Existence"

Written by Bayee Azaeeb

---

Chp 1 : Killing for the greater good
"You pronounced 'killing is great' wrong"

"Selamat datang di desa Eonora, pengembara! Jarang-jarang kami didatangi pengembara dari negeri lain. Desa kami telah lama –"

Berisik.

Aku berjalan melewati kakek tua yang menyambutku di pintu masuk. Berjalan melewati rumah-rumah berbentuk kubah yang ditumbuhi sulur-sulur aneh. Kepalaku berdenyut, seperti habis dihantam dan dijadikan mash potato, lembek, dan mengulang kata "potato" berulang-ulang kali.

Aku yakin kepala kalian juga jadi mash potato apabila kalian mengalami kejadian ini berulang kali. Berada di sebuah desa asing, disambut seseorang yang tak kalian kenal, tanpa tahu apa yang harus kalian lakukan, apa tujuan kalian, dan sebagainya. Belum habis otak kalian mencerna, tiba-tiba semua telah diulang dari awal, menjalin sebuah loop.

Tak ada hal lain yang kuingat, selain potato dan namaku sendiri. Sjena Reinhilde. Satu-satunya hal yang bisa kujadikan pedoman, meski tak membantu sedikitpun. Tak ada satu bayangan yang terbersit saat aku menjelajahi desa ini selama hampir sejam.

[ROUND 5] MAYOR YVIKA GUNNHILDR - JUST ANOTHER NAMES ON THE DEATH LIST

[Round 5] Mayor Yvika Gunnhildr
"Just Another Names on The Death List"
Written by Herry P. Zulkarnaen

---

"Mama, apa Mama seorang pembunuh?"

Satu kalimat tanya dari putriku yang nyaris membuat jantungku berhenti berdetak. Entah siapa yang mengajarkannya untuk bertanya hal tersebut, tapi aku akan pastikan kalau orang itu tak akan lagi bernapas di alam semesta ini.

"Lana, sayang, pembunuh itu orang yang sangaaaat jahat," celetuk Alain sembari merangkul diriku yang masih terpaku dari belakang. "Nah, apakah Lana pernah melihat mama pernah berbuat jahat terhadap papa, kakek, nenek, atau kepada Lana sendiri?"

"Tidak, mama selalu baik sama Lana!" tegas putri kecilku sambil menggelengkan kepalanya. "Lana tahu kok, Lana tahu kalau Danny berkata bohong soal mama!"

"Nah, sekarang sebaiknya Lana siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi."

September 4, 2014

[ROUND 5] URSARIO – LORDY AND LORDESSY OF THE URSA-DEMONY

[Round 5] Ursario
"Lordy and Lordessy of the Ursa-demony"
Written by Heru S. Zainurma

---

-intermezzo-
Thurqk sang Pencuri Jiwa


Siapa tidak kenal Thurqk? Dia bukan sekedar Overlord kemarin sore. Sukses di bisnis hiburan, karir Thurqk segera melonjak drastis. Iylich Corporation miliknya kian terkenal. Thurqk semakin kaya. Kini dirinya sudah setanding dengan para Overlord lainnya.

Dan tentu, Thurqk punya rahasia kesuksesan.

Bagaimana Thurqk membangun Taman Kematian? Dengan cara apa Thurqk mengendalikan hidup dan matinya para petarung? Mengapa Thurqk bisa begitu ganteng?

Ah, mari kita buka sedikit saja, sekelumit "rahasia dapur" sang Dewa Merah.

September 3, 2014

[ROUND 5] CLAUDE & CLAUDIA - NO MATTER WHAT, OUR FATE IS FILIPENDULOUS

[Round 5] Claude & Claudia
"No Matter What, Our Fate is Filipendulous"
Written by Sam Riilme

--- 

Behind The Curtain

Pusat labirin Vishala Rashta adalah tempat di mana 13 orang peserta yang berhasil selamat hingga sejauh ini berkumpul.

Di sana, seorang lelaki berkacamata yang memperkenalkan dirinya dengan nama Nolan Collard Fambrough telah menunggu mereka.

Kepada para peserta ia mengaku bahwa ia berada di pihak mereka. Ia hendak meloloskan semua peserta dari kezaliman turnamen penuh adu domba ini, dengan syarat mereka mengikuti rencananya untuk mengalihkan perhatian Thurqk si dewa merah sementara ia melakukan apa yang ia perlukan.

Dan tidak ada pengalih perhatian yang lebih baik bagi Thurqk selain menyajikan hiburan – tentu saja, dalam bentuk pertarungan.

[ROUND 5] STALLZA - RENCANA PENYELAMATAN


[Round 5] Stallza
"Rencana Penyelamatan"
Written by Yafeth T.B.

---



I



Bagian tengah labirin yang dituju Stallza ternyata adalah sebuah ruangan berbentuk melingkar dengan banyak pintu. Saat Stallza tiba di sana, telah ada dua belas peserta lain yang tiba sebelum dirinya. Mereka tampak mengelilingi seseorang di tengah-tengah ruangan itu. Seorang pria berkacamata yang berdiri di depan sebuah meja tampak gugup dengan tatapan curiga dari para petarung yang mengelilinginya. Di atas meja terdapat sebuah kotak tipis dengan layar kaca. Lalu dari layar itu muncul gambar-gambar bergerak seperti yang pernah dilihat Stallza di pulau Ryax.



"Thurqk bukanlah dewa seperti yang selama ini kalian pikirkan," kata pria berkacamata, "dia hanyalah begundal busuk yang sedang berusaha menipu dan menjebak kita semua di dalam permainan berdarahnya."


September 1, 2014

[ROUND 5] PRIMO TROVARE - DIVINE LIGHT EXPLOSION

[Round 5] Primo Trovare
"Divine Light Explosion"
Written by Blackz

---

"Aku tak benar-benar mempercayai ini sebenarnya, tapi tak salah lagi itu adalah ekstrak dari jiwa-jiwa kalian," jelas Nolan.

Primo mendenguskan nafasnya, ia tahu bahwa kristal jiwanya masih ada di tubuhnya, dan juga ia mampu merasakan kristal jiwa kedua belas petarung yang ada di ruangan kecil ini masih ada di dalam tubuh mereka.

Tepat sebelum ia dipindahkan ke pulau bibit kemarahan Amon, Primo menyadari, bahwa pembantaian yang dilakukan Thurqk itu adalah salah satu cara mengekstrak Kristal Jiwa, dengan merusak tubuh fana yang terbentuk di neraka.

Tepat setelah Primo memasuki ruangan dengan sinar terterang tersebut, Primo mendapatkan dirinya diceramahi oleh pemuda yang bernama Nolan itu.

August 16, 2014

[ROUND 5] MOCK BATTLE

Battle of Realms 4 : Afterlife
Round 5 - Mock Battle

Written by Glen Tripollo (Field Cat)

---



Phase 1 - First Meeting
Nolan berdiri dengan canggung, ketika akhirnya para peserta yang telah ditunggu-tunggu, mulai bermunculan satu persatu di hadapannya. Wajah-wajah familiar yang sudah sering dia lihat lewat monitor raksasa di dalam ruang kendali, kini berdiri tak jauh dari posisinya di segala penjuru. Nolan menatap wajah mereka bergantian, sementara para peserta membalasnya dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan. Beberapa di antara mereka bahkan dalam kondisi siap menyerang kapan pun bila diperlukan.

“Te-tenanglah!” kata Nolan.

“Siapa kau?”

“Na-namaku Nolan, aku ke sini untuk menyampaikan sesuatu kepada kalian semua,” jawab Nolan dengan sopan. Dia melepaskan ranselnya perlahan-lahan, meletakkannya di atas meja batu besar di tengah-tengah ruangan dan mengangkat kedua tangannya. “Ka-kalau boleh ….”


July 30, 2014

[ROUND 4 - ABADDON] PRIMO TROVARE - WHEN FORMER MEET LATEST

[Round 4] Primo Trovare vs Abaddon
"When Former meet Latest"

Written by Blackz

--- 

Dahulu, dia dikenal dengan nama Primo, Kali ini Ia tahu dirinya bukan lagi pria yang sama, dia adalah Helel yang paling rupawan di antar makhluk surgawi, ciptaan terindah milik Bapa.

Saat ini Helel melayang tinggi di atas pulau-pulau Nanthara, lingkaran neraka kesembilan yang dahulu merupakan tempat tinggal dirinya setelah dibuang oleh Bapa.

Tempat dingin, kecil diselimuti oleh es abadi, tempat dimana jiwa-jiwa penuh keangkuhan dan para pengkhianat agama ataupun negara dilemparkan. Tempat ini telah berubah menjadi sebuah kepulauan tropis yang sangat luas.

Seaakan menentang segala yang dibuat oleh Lucifer Thurqk membalikan 180 derajat semua unsur neraka kesembilan begitu ia diserahkan kuasa atas para jiwa-jiwa angkuh.

"Akan kau tuntun ke arah manakah diriku ini, Terkutuk?" Tanya Helel kepada  terkutuk yang melayang di depannya.

"Kembali ke Jagatha Vadhi tuan Primo, menunggu titah selanjutnya  dari Dewa Thurqk." Jawab sang terkutuk dengan kalimat datar.

Helel kembali menyadari dimata semua orang ia masihlah Primo Trovare, seorang manusia yang sepenuh hati ingin mengabdi kepada Bapa.

[ROUND 4 - KINNARAS] DEISMO - DEISMO, SEISMO AND HEISMO.

[Round 4] Deismo vs Kinnaras
"Deismo, Seismo, and Heismo"

Written by Overlord Hall

---

Kegelapan Mutlak adalah sebutan yang cocok untuk kondisi Deismo saat ini. Ia telah sadarkan diri, tapi yang ia lihat hanya kegelapan. Deismo mencoba menggerakan tangannya, ia masih dapat merasakan pergerakan tangannya, jadi dia pasti masih hidup.

Namun, Ia tak dapat mendengar suara pergerakan tangannya. Sebenarnya bukan hanya itu, bahkan ia tak mendegar denyut organnya sendiri. Jika ia tak bisa mendengar denyut organ regulasinya, berarti dia telah mati.

Deismo menggelengkan kepalanya. Mungkin pikirannya sedang kacau karena keletihan dari penggunaan mode gilanya pada ronde ke tiga. Satu menit, dua menit, tiga menit.... sepuluh menit telah berlalu, tapi ia tetap tidak bisa menangkap apa yang sedang terjadi, bahkan ia tak tahu apakah ia telah mati atau belum.

Rasa kesal Deismo akan kehampaan yang ia rasakan memuncak, sampai-sampai ia hendak berteriak sekeras-kerasnya. Namun, suaranya tidak keluar. Ia mencoba berteriak  lagi, meski mimik mulutnya mengikuti, tapi suaranya tetap tidak keluar.

"Sebenarnya... apa yang terjadi?" tanya Deismo dalam pikirannya.

Tiba-tiba sekumpulan kabut tebal muncul di hadapannya, membuat Deismo kaget dan melompat mundur secara refleks. Kabut itu tidak bertahan lama, tapi begitu lenyap ia meninggalkan sebuah pintu misterius yang tingginya sama dengan Deismo.

July 29, 2014

[ROUNG 4 - AMDUSIAS] SALVATORE JACKSON - MUSIC IS NEVER DEAD

[Round 4] Salvatore Jackson vs Amdusias
"Music Is Never Dead"

Written by Dendi Lanjung

---

[Peringatan Penulis: di beberapa bagian ada tautan musik, yang disarankan untuk dimainkan selama membaca karya ini. Alasannya karena selain sebagian tidak ada liriknya, juga karena lebih cocok didengarkan daripada hanya dideskripsikan secara tulisan]

•••

Sejatinya, setajam-tajamnya ilalang takkan bisa menyakiti telapak kaki yang terbiasa berjalan tanpa alas. Tapi ilalang berwarna hitam kemerah-merahan ini berbeda, tingginya kira-kira tiga puluh sentimeter, daun-daunnya kasar, ujungnya runcing, seakan terbuat dari potongan plastik mika yang sengaja digunting menyerupai karpet alam. RACHTAFARI nama ilalang tersebut, masih sekeluarga dengan pohon Rachta dan tentu saja hanya tumbuh di Kepulauan Nanthara. Ilalang menyebalkan itulah yang membuat Salvatore Jackson, si musisi patah hati yang kemana-mana selalu nyeker, berjingkat kesakitan. Seumur hidup, mungkin baru kali ini Sal berharap dia memiliki sepasang terompah.

[ROUND 4 - DUKE ELIGOS] CLAUDE & CLAUDIA - ACTUALLY, WE ARE AWARE WITH THE LIMERENCE

[Round 4] Claude & Claudia vs Duke Eligos (Eligor)
"Actually, We Are Aware With The Limerence"

Written by Sam Riilme

---

Author's Note

Highly advised to read the previous round before proceeding to read this one. Otherwise the content wouldn't make a connection.

*****

Behind the Curtain

'Pergantian pemain'.

Di dalam sebuah pertunjukan - baik itu teater ataupun olahraga - di mana sekumpulan pemain berlaga di depan penonton, selalu terbuka kemungkinan bahwa tidak selamanya pemain yang tampil akan benar-benar tampil secara penuh dari awal hingga akhir.

Seperti halnya pakaian yang kita kenakan setiap hari, para pemain dalam sebuah cerita pun dapat berganti.

Mulai dari sekarang, kita tidak akan lagi menemui sepasang kekasih yang berbagi satu badan dengan dua kepala.

Keduanya telah tiada.

Dan kini yang tersisa hanyalah sang pemilik tubuh yang sebenarnya.

[ROUND 4 - ANTABOGA] MAYOR YVIKA GUNNHILDR - JUST ANOTHER BITTER END

[Round 4] Mayor Yvika Gunnhildr vs Antaboga
"Just Another Bitter End"

Written by Herry P. Zulkarnaen

---

Betapa kehidupan manusia akan jauh lebih mudah bila semuanya hanya terdiri dari hitam dan putih, hanya ada baik dan buruk tanpa ada yang bimbang berada di antara keduanya. Tetapi rupanya Tuhan, Dewata, atau siapapun yang berada di atas sana lebih tertarik untuk memberi sedikit tantangan pada kehidupan manusia, karena kemudahan tersebut tak pernah ada.

Juga betapa indahnya kehidupan ini bila semua orang baik akan selalu bertindak baik, apapun situasinya dan di manapun mereka berada. Namun rupanya kehidupan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, seringkali kita terjebak dalam situasi dan tempat yang mengharuskan untuk bertindak berlawanan dengan niat. Tak jarang kita dituntut untuk bertindak kejam demi untuk meraih tujuan akhir yang lebih baik.

Tak peduli sebaik apapun niatanku, itu tak akan pernah dapat menghapus dosa-dosaku atas semua nyawa yang telah kurenggut. Dan tak peduli sebaik apapun jasaku dalam membela negeriku, dari sudut pandang musuh aku hanyalah seorang keparat pembunuh yang telah membuat mereka kehilangan orang-orang terkasih. Yah, asalkan aku dapat bertindak demi kebaikan orang-orang yang kusayangi, tak mengapa walau tak segalanya tak selalu berakhir baik bagiku.

[ROUND 4 - RAKSHASA] MBA IRWIN - GOOD BYE PEACE MAKER

[Round 4] Mba Irwin vs Rakshasa
"Good Bye Peace Maker"

Written by [Re.]

---

 Good Bye Peace Maker

Peace Maker. Itulah julukan dari perempuan bernama Mba Irwin. Dahulu tak ada prajurit yang tak bergidik melihatnya. Kemampuan perempuan itu meredam konflik fisik tak jarang berbuah korban. Sekarang mungkin mereka akan tertawa atau miris melihat kondisi perempuan berambut pelangi itu.


Air mata yang mengering telah menjejak di pipi perempuan itu. Daging di pipinya menipis, membuat kulit wajahnya makin tirus-keriput. Rambut pelanginya kusut. Baju dan celana hitamnya sudah lusuh lagi bau. Wanita lain akan menganggap perempuan ini gagal mengurus diri. Berulang kali ia terisak menyebut lirih sebuah nama

"Elle… Elle…" nama itu terus diucap sembari menimang sebuah badan mungil yang sudah kaku. Badan gadis mungil itu sudah membiru dan tidak lagi mengucurkan darah dari loubang yang menganga di tengkuk. Ketiadaan panas membuat Mba menggigil lalu ganti menyebut nama lain.

"Antakaba… tolong aku… aku takut…"

Wajarlah bila ia takut. Mba saat ini berada di sebuah ruangan yang sangat gemerlap andai cahaya tersampir. Bayangkan saja, barang-barang emas mengelilingi perempuan ini. Sayangnya, saat ini sumber cahaya hanya berasal dari sebuah lampion kecil yang berada di sebuah kompartemen dari sebuah bor besar.


[ROUND 4 - ANTABOGA] SILENTSILIA - REMEMBER

[Round 4] SilentSilia vs Antaboga
"Remember"

Written by Hinata Ummi

--- 

“Don’t be too high, Human. You don’t know the God’s plan.”
-          Hinata Ummi – The Author -

Dimana aku?

Gelap.

Tanganku terikat?

Siapa?

Kenapa?

“Ha... Ha... Ha...”

Suara itu? Tawa itu... Dia... Sakit.. Ini... Ah...

Ya.. Akhirnya Sil mengingat semuanya. Ia... mengingat semuanya.

* * *

“Bagaimana kabarmu, Sil?”

Gadis itu terbangun ketika merasakan sentuhan di bahu kirinya. Matanya yang terpejam perlahan membuka, menatap lapangan luas yang kini ia dan seseorang lainnya tempati.

Terdengar olehnya suara berdesing dari dua buah benda tajam yang bersinggungan.

Suara ini...

“Kenapa? Kau takut?”

[Carl?]

July 28, 2014

[ROUND 4 - ASPATRA] NIM IMANUEL - MASA LALU, PENYESALAN, DAN JANJI

[Round 4] Nim Imanuel vs Aspatra
"Masa Lalu, Penyesalan, dan Janji"

Written by Yuu

---

Aku ... tidak pernah terlahir ke dunia ini.

Sejak awal, aku diciptakan atas dasar keegoisan dan keserakahan manusia.

Sejak pertama kali membuka mata, kegelapan adalah temanku.

Aku ada untuk melenyapkan yang lain.

Keberadaanku hanya untuk membinasakan yang lain.

Di sudut manapun di dunia ini, tidak ada yang benar-benar menginginkan kehidupanku.

Tidak ada ... yang benar-benar membutuhkanku.

***

"Kubawakan mainan baru untukmu."

Kusambut pemuda bermata indah itu dengan wajah ceria. Ia tersenyum geli melihat tingkahku yang melompat-lompat karena kegirangan. Diusap-usapnya kepalaku dengan pelan, membuatku merasa nyaman.

"Beberapa hari kedepan mungkin aku tidak akan menemuimu. Ada masalah dengan ... yah, kau tahu sendiri, lah."

[ROUND 4 - FORNEUS] STALLZA - MELINDUNGIMU DAN HANYA DIRIMU

[Round 4] Stallza vs Forneus
"Melindungimu dan Hanya Dirimu"
Written by Yafeth T. B.

---


I
Sudah terlalu lama Thurqk mendiamkan Stallza. Peserta yang seharusnya membuat dia terhibur kini membuat dirinya gusar setengah mati. Dengan nyata-nyata peserta itu menolak membunuh lawannya, dan dia juga telah menghancurkan salah satu pulau kesayangannya. Dan kali ini dia menghancurkan Menara Penyesalan, satu lagi simbol keagungannya.

Sudah puluhan Hvyt yang mati akibat kemarahan sang dewa merah, tetapi kemarahannya tak redup sekalipun. Matanya menatap nyalang pada sosok yang terbang menembus Menara Penyesalan itu.

"Apa harus aku sendiri yang turun tangan dan menghancurkan orang itu?" teriak Thurqk penuh kegeraman.

Tawa seorang gadis menjawab Thurqk. Jika saja sumber tawa itu adalah salah satu makhluk rendahan yang dipanggilnya untuk bertarung, makhluk itu pasti akan bernasib sama dengan bangkai Hvyt yang bergelimpangan di hadapannya. Tetapi gadis yang tertawa itu adalah Abby. Gadis itu adalah satu-satunya yang tidak akan disentuh Thurqk dengan kemarahannya.

"Apa yang kau kerjakan di sini, Abby? Apa sudah tidak ada mayat hidup atau Hvyt yang bisa kau permainkan?" tanya Thurqk tanpa menoleh pada gadis itu.

July 27, 2014

[ROUND 4 - LAMASHTU] LAZUARDI - KELAHIRAN

[Round 4] Lazuardi vs Lamashtu
"Kelahiran"

Written by Po
 
---

Sepanjang hidupnya, sepanjang ingatannya, Lazu selalu dihantui. Lazu selalu merasa tindakannya bukan murni berasal dari idenya sendiri.

Ada sebuah suara yang memberinya gagasan-gagasan.

Buat si wanita berpupur putih kasihan padamu. Keringkan si jubah dan si baton, minum cairan tubuh mereka.

Tidak hanya Lucia, Colette, Stallza. Semua yang ia lawan dan ia buat cacat atau bunuh. Semua adalah ide dari suara itu. Lazu ingin membungkamnya, tapi bagaimana cara membungkam suara dari dalam kepalanya?

Adu domba mereka. Pancing mereka saling bunuh bagaimana pun caranya. Atur arah serangan pengendali es itu agar membunuh wanita pengindera air.

Kadang ia bisa melawan. Kadang ia tidak. Ia pernah bertanya pada Ayah dan Ibu tentang suara ini. Mereka diam sejenak, lalu menceritakan sesuatu hal.

July 26, 2014

[ROUND 4 - ALKONOST] URSARIO - SEVENY JOLLY BEARY

[Round 4] Ursario vs Alkonost
"Seveny Jolly Beary"

Written by Heru S. Zainurma
 
---

-intermezzo-
Dia yang Berada di Belakang Layar


Apa kalian tahu mengapa Thurqk menyelenggarakan turnamen afterlife ini? Dia beralasan ini demi menangkal rasa bosan, alias mencari hiburan. Tapi benarkah itu? Setengahnya sih mungkin saja betul. Namun kita belum tahu apa yang selama ini disembunyikan oleh si Merah Thurqk dan Iylich Corporation miliknya.

Well, tak perlu penasaran. Sekarang juga, kita akan ungkap semua itu. Ini semua adalah tentang ....

Yah, mari kita simak saja.

Dialah Thurqk, yang baru saja turun dari mobil limosin mewah, dikendarai oleh sang supir, yang tak lain dan tak bukan, adalah salah satu Hvyt kepercayaannya. Si supir memakai seragam hitam-hitam yang ciamik, lengkap dengan topi supir yang elegan. Namun penampilannya itu kalah mentereng jika dibandingkan dengan sang majikan. Thurqk dengan agungnya mengenakan setelan tuksedo merah marun, berhiaskan setangkai mawar putih tersemat manis di saku.

July 23, 2014

[ROUND 4 - LAMASHTU] SJENA REINHILDE - TUTORIAL

[Round 4 - Lamashtu] Sjena Reinhilde
"Tutorial"

Written by Bayee Azaeeb

---
 
 1 : How to make this game more interesting
Kilat's POV
[09.20 AM]

Aku tak mengenal bagian dari maze ini. Aku tak ingat melewati tikungan ini. Sesaat lalu, aku tak berada disini. Apakah Thurqk memiliki sihir lagi untuk maze ini?
Akupun meragukan diriku sendiri. Ingatanku pun tidak bisa kuandalkan untuk saat ini. Yang bisa kuandalkan saat ini hanyalah insting dan Katana Putih yang tak pernah jauh dariku.

Sayup-sayup kudengar suara pekikan mengerikan dari kejauhan. Monster itu, Lamashtu. Apakah dia yang melakukan semua ini?
Apakah ada hal yang lebih buruk daripada cyborg? Tentunya itu adalah Lamashtu.
Di masa depan kami telah mempelajari bagaimana menggabungkan manusia dengan teknologi nanotech untuk meningkatkan kemampuan. Tapi penggabungan manusia dengan hewan? Beberapa jenis hewan? Kepala singa, gigi dan telinga keledai, badan manusia, kaki burung.  Aku yakin Thurqk tidak punya jiwa seni. Atau mungkin ia hanyalah seorang psikopat.

Aku mulai mengerti kenapa orang menjadi Demon Hunter. 

"Sshhhhh...."

July 20, 2014

[ROUND 4 - RAKSHASA] NURIN - THE THOUSAND MASKS

[Round 4] Nurin vs Rakshasa
"The Thousand Masks

Written by Fachrul R.U.N

--- 

#1

Manusia itu istimewa. Nurin sering mendengar sentimen seperti itu saat ia masih hidup, dan ia memahami kenapa banyak yang mencetuskannya. Biar bagaimanapun, manusia adalah satu-satunya makhluk berakal budi yang hidup di bumi. Kaumnya adalah khalifah yang ditunjuk oleh Tuhan untuk memimpin seisi alam. Bila kaumnya menitahkan satu spesies hewan untuk punah, maka punahlah dia. Bila kaumnya menitahkan areal tetumbuhan untuk sirna, maka surutlah mereka. 

Dalam setiap kisah fiksi yang Nurin baca, para penulis pun hampir selalu menyajikan gagasan itu, baik secara eksplisit maupun hanya tersirat. Walau iblis yang hendak menginvasi dunia memiliki senjata mengerikan, keteguhan tekad manusia selalu mampu menumpas mereka. Di opera galaksi, meski manusia tak sekuat, secantik, dan sepintar ras alien, kaumnya mampu beradaptasi hingga menjadi disegani dalam waktu singkat.