November 30, 2014

[ROUND 6] NURIN - DEMON WAR

[Round 6] Nurin
"Demon War"

Written by Fachrul R.U.N

--- 

1
Makhluk berkulit perak itu duduk di dalam ruangan selnya yang sempit dan seadanya. Selain kasur keras untuk satu orang, tempat itu hanya diisi oleh satu toilet, yang tidak akan ia gunakan. Mereka yang menempatkannya di sini tak menganggap ia akan berada di situ terlalu lama.
           
Di luar, di balik jeruji, ada dua Hvyt yang terus mengamati. Mata mereka terkunci ke makhluk itu, tak bergerak ke arah lain. Mereka begitu serius hingga sosok yang mereka jaga dapat mencium ketakutan di balik kewaspadaan berlebihan itu.
           
Terdengar suara pertarungan di luar ruangan. Dari yang ia dengar sebelumnya, para peserta turnamen yang tersisa kembali diadu dalam pertarungan satu lawan satu. Pertarungan-pertarungan itu sepertinya lebih dahsyat dari sebelumnya, sampai-sampai terdengar banyak suara ledakan. Tapi makhluk perak itu tak peduli. Ia duduk manis, mengamati tangan kanannya yang bergerak-gerak mengikuti kehendaknya.

Ia adalah Colette Reves, pikirnya, sementara lengan kanannya berubah warna menjadi hitam dengan sarung tangan putih menutupi jemarinya yang lentik. Ia adalah Enzeru sang malaikat maut, pikirnya, sementara lengan kanannya berubah menjadi lebih panjang dan berotot. Lengan itu memanjang dan memendek sementara ia membayangkan sosok Zany, Zach, dan Luna.
           
Ia adalah mereka semua. Tubuhnya menyerap jasad orang-orang itu saat ia menjelma menjadi gumpalan daging mematikan. Tapi masih ada satu persona dominan di dalam dirinya, dan itu adalah persona sejatinya, Nurin. Saat ia membayangkan dirinya sendiri, ia berubah wujud sepenuhnya menjadi gadis itu, lengkap dengan pakaian dan kacamata.
           
Nurin ingin menganggap kalau personanya dapat bertahan di antara semua itu karena ia memiliki kekuatan tekad besar. Ia sendiri yakin itu tidak benar. Setelah memangsa sekaligus tubuh lawan-lawannya di ronde sebelumnya, juga orang-orang sial yang terlambat evakuasi dari lantai tempatnya bertarung, ia dapati kalau ya, seluruh lawannya itu hanya tiruan. Mereka memiliki wujud sempurna, bahkan kemampuan khusus yang nyaris sempurna, tapi mereka tak benar-benar memiliki kepribadian maupun kenangan. Tak sulit untuk tetap menjadi persona dominan bila lawannya hanya seperti itu.
Sayang Irwin tidak termasuk lawanku, pikirnya tenang. Kali ini, ia dapat memperhitungkan pertarungan dengan perempuan berambut pelangi itu tanpa takut. Ia bahkan tak merasa cemas sedikit pun meski ia akan ditandingkan dalam pertarungan frontal lagi. Kemampuan regeneratif dari tiruan Zach dan Zany mengalir di dalam tubuhnya, memastikan ia memiliki stamina untuk menjadi apapun.
Bahkan mungkin menjadi Nyarlathotep...
"Hentikan itu, arwah hina!" seru Hvyt penjaga sel saat ia menyadari apa yang hendak Nurin lakukan. "Kalau kau melanjutkan, maka Dewa Thurqk sudah memberi kami titah untuk menghabisimu!"
"Oh." Nurin bangkit. Mata lalatnya menatap balik sorot tajam kedua malaikat merah di hadapannya. Bibirnya memberikan seringai lebar. "Kira-kira seberapa besar kerusakan yang dapat kuciptakan hingga aku bisa tumbang?"
Sayap kedua Hvyt membentang. Mereka mulai mempersiapkan sihir untuk menghancurkan Nurin, siap mengorbankan nyawa bila dibutuhkan.
Nurin tertawa. Ya, mereka ketakutan. Betapa ia menikmati sensasi ini. Ia bukan lagi gadis lalat aneh yang dianggap remeh semua orang. Ia adalah ancaman nyata, yang bahkan mampu menarik perhatian dewa penguasa alam.
"Bercanda, boys. Santai saja," kata Nurin, masih menyeringai. Gaun peraknya berubah wujud menjadi kumpulan kepala Hvyt, yang bergerak-gerak liar sambil memperlihatkan ekspresi kesakitan tak terperi.
Provokasi tadi hampir membuat kedua Hvyt menyerang, tapi mereka memutuskan menahan diri dan melanjutkan menjaga saja, menanti datang alasan yang lebih bagus untuk membalas tantangan Nurin.
Sebenarnya, para Hvyt sudah memutuskan untuk menyerang Nurin sejak mereka melihat wujud transformasi gadis itu. Walau mereka hanya budak, boneka, atau entah apa dari Thurqk, mereka dapat merasakan potensi bahaya yang gadis itu miliki dan hendak berinisiatif menghabisi ancaman sebelum terlambat. Justru Thurqk yang muncul untuk mencegah mereka.
"Biarkan dia. Sepertinya kemampuannya sekarang sudah lebih layak untuk menghiburku," kata Thurqk saat itu. Begitu para Hvyt mencoba protes, ia menegaskan, "Aku tidak peduli apakah gadis ini adalah boneka para Outer Gods atau apa. Mereka mungkin berpengaruh di luar sana, tapi ini alamku, dan kekuasaanku absolut. Akan kutunjukkan kepada mereka kalau kaki tangan mereka pun tunduk di bawah diriku. Karena kau adalah pemujaku, bukan begitu manusia?"
Ada yang benar dan salah dari pernyataan sang dewa. Ya, sekarang Nurin memang dapat memberi performa yang lebih layak untuk bertarung, hingga ia sendiri tak sabar untuk mencobanya. Tapi, sekarang, ia masih harus memutuskan dulu apakah memang ia harus bertekuk lutut di hadapan Nyarlathotep, Thurqk, atau siapa pun. Seperti kebanyakan manusia, diberi kekuatan begitu besar, dengan sangat mendadak, Nurin merasa dirinya mampu menantang siapa pun.
Suara pertarungan di luar surut perlahan, sebelum berhenti sama sekali. Hening sejenak, menandakan jeda. Baru kemudian pintu sel Nurin terbuka. Para Hvyt, dengan tombak siaga, memasuki ruangan dan memerintahkan, "Sudah tiba saatnya untuk kamu bertanding."
Nurin menanggapi dengan tawa. Saat itu pula, punggungnya dirobek oleh puluhan lalat. Sejak awal, ia biarkan lalat-lalatnya yang tersisa untuk berkembang biak di dalam tubuhnya sendiri, untuk mengembalikan jumlah mereka yang telah berkurang drastis. Kali ini ia tak perlu menanti penyembuhan dari Hvyt, karena luka-lukanya menutup sendiri dan pulih dengan cepat.
Sekarang saatnya pertunjukan.  
2
Telah tiba saat untuk pertunjukan, Nurin mengubah tubuhnya hingga ia terlihat seperti mengenakan gaun perak. Ujung bawahnya terseret di atas lantai saat ia bergerak, menimbulkan bunyi gesekan. Selain itu, ia biarkan saja dirinya terlihat seperti tadi. Mudah saja baginya untuk kembali mewujud menjadi tubuh aslinya, tapi ia memilih untuk tak melakukannya. Ia cukup terpesona oleh wujud mengerikan yang otomatis diambil tubuhnya saat ia terlahir kembali ini.
Begitu keluar dari lorong depan sel, ia sampai di tempat yang strukturnya mengingatkannya akan aula utama penjara barat di film-film. Ia berada di lantai dasar, yang panjangnya mungkin lima ratus meter. Di atasnya ada tiga lantai lain, masing-masing diisi oleh deretan pintu berjeruji dengan jarak antar ruangan yang sama. Menapaki lantai ini membuatnya membayangkan ia sebagai pendatang baru sebuah rumah tahanan, dan masing-masing ruang berjeruji itu menyimpan narapidana di baliknya, menyambut kedatangannya dengan hinaan dan kata-kata menakutkan.
Fantasi itu sedikit terganggu oleh beberapa hal. Pertama, tempat ini sudah kacau balau. Lantainya dipenuhi lubang, ada beberapa dindingnya yang runtuh, ada pula bagian dari koridor lantai atas yang runtuh. Kedua, setiap ruang berjeruji itu kosong. Tak terasa ada tanda-tanda kehidupan selain dari atas… di mana ia dapat melihat Thurqk mengamati, ditemani oleh Nolan, Hvyt, dan satu sosok kecil asing.
Nurin tak perlu menunggu terlalu lama hingga ada sosok lain menemaninya di lantai dasar. Ada yang keluar dari lorong seberang. Ia sedikit terkejut menyadari itu adalah beruang yang dilihatnya sebelum memasuki labirin di ronde empat. Bukan hanya makhluk itu berhasil bertahan dari tiga ronde sebelumnya, dia juga mampu mencapai babak ini.
Dan dia tidak hanya sendiri. Ada Dua belas beruang teddy lagi yang mengikuti makhluk itu dari belakang. Apa itu kekuatannya? tanya Nurin dalam hati. Masing-masing beruang memiliki ciri tersendiri, mulai dari baret dan rompi tentara, ekor, surban. Mereka akan terlihat lebih lucu kalau saja masing-masing tak menggenggam senjata.
"Uff, bau sekali, bura!" keluh beruang berkacamata sambil "menutup" hidungnya. Beruang-beruang di belakangnya pun turut mengeluh dan melakukan hal yang sama, hidung sensitif mereka ditusuk oleh ciri khusus Nurin yang tak menghilang bahkan setelah transformasi total. "Apa-apaan ini, Thurqey?!" seru si beruang ke Thurqk. "Bukannya aku seharusnya menghadapi peserta lain? Monster apa lagi ini?!"
"Tapi dia peserta, Demon Lord Ursario. Bukan begitu, Nurin?" tanya Thurqk.
Nurin mengubah wujudnya menjadi dirinya yang asli lagi dan melambai, "Halo, beruang. Kita hanya bertemu sekali, sebelum memasuki labirin. Mungkin juga waktu dalam perjalanan ke sini."
"Ah ya. Gadis yang dibilang beracun itu…" desis Ursario.
"Kita tidak sempat bertarung lagi dengan wujud asliku, non…" si beruang berekor monyet menapak ke samping Ursario, tangannya terkepal. "Tapi setidaknya aku bisa menghadapimu lagi! Baguslah, Ursa, memang keputusan tepat untuk mengikutimu."
"Jangan bicara seolah aku ini hanya pembantumu, bura!"
Beruang dengan rambut perak panjang dan mata pelangi juga maju. "Aku masih mengingatmu dari pertempuran di pulau lapar, gadis bau! Kau akan mati di tanganku!"
"Sepertinya kalian familier…" kata Nurin, terhibur.
Sebelum Nurin dan Ursario sempat berbicara lebih banyak, Thurqk kembali bersabda. "Sekarang, kalian berdua telah menjadi sosok yang terlalu… mengancam di sini. Kau, Ursario, sejak awal kau telah mengacak-acak aturan permainan. Termasuk dengan menyelamatkan jiwa-jiwa yang seharusnya telah kuhancurkan."
Ursario menyeringai. "Kalau kau tidak suka, tak seharusnya ayam-ayam merahmu menarikku ke sini, Thurqkey. Aku adalah Demon Lord. Jangan kira aku akan main mengikuti aturanmu."
"Tapi pada akhirnya kau tetap mengikuti setiap pertandingan, tanpa bisa mengambil jalan keluar lain," komentar Thurqk. "Dan kali ini pun begitu. Sedangkan kau, Nurin. Tadinya kau adalah salah satu peserta teladan. Namun kekuatanmu lemah, dan pada akhirnya kau memanggil kekuatan dari para Tetua Semesta. Itu tak bisa dibiarkan. Jadi aku memutuskan…" dia duduk di singgasana besarnya. "Agar kalian saling bunuh saja di sini. Kurasa kalian berdua tak akan keberatan."
"Akan memalukan kalau sudah bertiga belas begini kita masih kalah juga," komentar beruang dengan ikat kepala.
"Tidak juga." Beruang berkacamata yang mengenakan blazer menampik. "Makhluk ini… dia berbahaya."
"Ya," beruang berikat kepala menanggapi. "Ia memiliki kekuatan salah satu demon paling berbahaya di semesta."
"Masa?" Ursario mengendus-ngendus, mencoba menembus bau pekat dari tubuh Nurin. "Sang Seribu Topeng dari Outer Demony sudah menyentuhmu," beruang berkacamata itu menyebut julukan Nyarlathotep. "Heh. Kurasa tidak ada salahnya mendapatkan tambahan anak buah dengan kekuatan iblis licin yang satu itu."
"Anak buah? Mana?" beruang berekor bertanya.
"Kita ini rekan sementara," kata beruang berbaret.
"Kumpulan orang yang terikat oleh situasi," sambung beruang bersurban.
"Kumpulan yang tidak akan tercipta kalau saja aku lebih hati-hati," sambung beruang berambut perak.
"Diam! Bisa serius sedikit tidak?" Ursario mengokang senapannya. "Makhluk bau ini bisa berubah wujud, jadi dia memiliki kemampuan Si Seribu Topeng. Hati-hati."
"Benar, Ursario. Sebenarnya akan berbahaya kalau kamu melanggar aturanku lagi dengan memperbudak jiwa Nurin, setelah semua kekuatan yang ia peroleh…" dengan santai, Thurqk menopang pipinya di atas tinju kanannya. "Jadi Nurin, habisi dia atas namaku. Bila kau bisa melakukannya, maka akan kuberikan yang selama ini kau harapkan. Akan kujadikan kau sebagai wanita utamaku di alam ini."
Apa aku masih menginginkan itu? Nurin mengulangi lagi pertanyaannya di ruang sel.
"Wanita utama apa? Di pulau lapar kau berlindung di balik si badut negro…" Zany memunculkan senapan laras panjang Steyr berkaliber 50. Senjata yang dirancang untuk menembus tubuh tank. "Kini kau tidak akan berlindung lagi!"
"Tunggu!" Ursario mencoba mencegah.
"Dia bagianku!" si beruang berekor juga, walau dengan alasan berbeda.
Lalat-lalat Nurin menyingkir, membiarkan tembakan itu lewat. Peluru besar itu menghancurkan kepala majikan mereka. Serpihan-serpihan tulang, darah, dan otak berceceran di lantai.
"Selesai!" seru beruang berambut perak. "Anti klimaks, tapi memang sebaiknya begitu…"
Ursario menembaki tubuh Nurin yang masih berdiri.
"Kamu ngapain?!" tanya Zany bingung.
Pecahan-pecahan peluru tabur mengoyak tubuh Nurin, melubanginya dengan tak beraturan. Namun Ursario juga tahu kalau tak seharusnya tubuh itu meleleh, menjadi cairan berwarna perak. Tak seharusnya pula lelehan itu kembali mewujud menjadi bentuk perak tubuh Nurin.
"Sepertinya aku mengingatmu, silvery beary…" kata Nurin. Kini peluru yang dimuntahkan Ursario hanya memantul dari tubuhnya, yang telah ia buat menjadi baja. "Ya. Ya, aku mengingatmu, walau tubuhmu berubah."
Saat Ursario harus mengisi dulu peluru senapannya, dan beruang berambut perak menciptakan senjata baru lagi, Nurin mengubah lengan kanannya menjadi Zany. Perubahan organnya itu begitu detil menampilkan tubuh sang gadis bermata pelangi, dari pinggang, lengan, hingga ke kepala, sampai-sampai ia terlihat tengah memegangi manusia sungguhan.
Tapi sosok ciptaan itu tak bisa bicara. Nurin harus menyuarakannya, seperti seorang ventriloquist, saat ia membuat mulut gadis di tangannya bergerak. "Halo semuanya, aku si rambut perak mata pelangi sialan yang harus ditikam jantungnya untuk mati. Orang keparat yang telah melukai Nurin agung di pulau lapar, dan nyaris membunuhnya di ujian tidak jelas sebelum ini. Aku gadis yang sangat, sangat, sangat, sangat, nakal…"
Zany tiruan di lengan Nurin itu perlahan-lahan rusak.
"Aku…."
Kulit putihnya membiru, matanya membesar dan memutih, perut dan pipinya menggembung, mulutnya terbuka lebar, membuat penampilannya terlihat seperti mayat.
"Sangat…"
Lalu perut dan pipi sosok itu mengempis dan mengempis. Kulitnya mengering hingga hanya tersisa tulang. Matanya tenggelam dan lenyap, menyisakan rongga kosong.
"Layak untuk dihukum." Dan dia tertawa keras, hingga Zany dengan marah menembaknya menggunakan peluncur roket.
Tubuh Nurin hancur, tapi itu tak masalah. Kesadarannya berada di seluruh potongannya. Ia dapat memerintahkan serpihan tubuhnya menyatu, dan membentuk wujudnya lagi. Dengan sengaja ia menciptakan bentuk tubuh Zany di gaunnya. Gadis itu terlihat kesakitan dan bergerak-gerak, seakan mencoba untuk keluar. Itu hanya membuat Zany semakin murka.
Tak hanya dia saja, para beruang lain langsung mengikuti Ursario dan Zany. Si beruang berekor memainkan seruling, membuat Nurin yakin kalau itu adalah si manusia monyet yang ia temui di lorong. Beruang berbaret menembakkan senjatanya, angin tajam berhembus, menyayat-nyayat tubuhnya. Bahkan walau ia bisa regenerasi sekalipun akan sulit untuk mengatasi semua ini.
Tiba-tiba sejumlah informasi mengalir di kepala Nurin. Ia melihat dirinya berada di Mesir Kuno, di bintang jauh, di alam mimpi. Tak membutuhkan waktu lama hingga ia menyadari siapa yang membantunya…
Nyarlathotep.
"Sekarang kau tidak lagi takut memanggil namaku," sahut makhluk itu, terhibur. "Kekuatan memang memabukkan, ya?"
Apa yang kau lakukan?
"Walau kau punya potensi besar, kau masih butuh dibimbing. Aku sebenarnya tidak peduli kalau kau kalah di sini. Malah sepertinya itu yang akan terjadi, karena kau menghadapi Demon Lord. Tapi… sayang kalau kau tak pernah menggunakan kemampuanmu secara maksimal."
Ya. Terutama aku menghadapi seorang Demon Lord yang ditemani DUA BELAS anak buah. Apa kau tak bisa memberi bantuan yang lebih berarti?
"Dia juga mengubah realita di sekelilingmu kalau kau tidak menyadarinya."
Maksudnya?
"Kau dengar Thurqk. Ursario mampu mengubah realita, sering kali tanpa ia sadari. Ada kekangan yang seharusnya ia patuhi sepanjang turnamen, namun ia menginjak-injaknya. Karena itu ia bisa memperoleh begitu banyak pasukan. Jujur, kau pun bisa kalah sekarang."
Bukan itu yang kubutuhkan.
"Ya, ya. Jadi, karena kau sudah memahami posisimu, aku akan membantumu, sekedar untuk memastikan pertarungan ini tak berujung membosankan. Kurasa tubuhmu pun lebih bisa menampung rahmatku kali ini."
Rahmat apa itu?
"Nurin of Jakarta. Akan kuanugerahi engkau sihir dan segala kekuatan dari sebagian Topeng Nyarlathotep. Tolong manfaatkan dengan sebaik mungkin."
Lebih banyak lagi informasi mengalir di kepala Nurin. Ia berada di alam mimpi, di waktu lain, di alam antah berantah, ia berada di Yuggoth, Carcossa, R'yleh…
Dan ia tertawa.
3
Lelehan tubuh Nurin bergerak ke lantai tiga. Di sana ia berkumpul kembali, membentuk wujud seorang firaun, lengkap dengan hiasan kepala Mesir Kuno dan tongkat kekuasaan dari emas.
"Nyarly Demony…" desis Ursario di lantai bawah.
"Wah, wah," beruang berblazer menggelengkan kepala. "Ini jadi gawat."
Bukan hanya mereka berdua saja yang terkejut. Dua Hvyt pengawas pertandingan pun menukik, mencoba menyerang Nurin, namun Thurqk mengibaskan tangan dan mereka memudar menjadi debu.
"A-ada apa paduka?!" tanya Hvyt yang berdiri di sisi Thurqk. "Bukankah itu tindakan yang tepat?! Gadis itu… gadis itu telah mengambil wujud Dark Pharaoh!"
"Terus kenapa? Dia toh masih di alamku. Kekuatannya tak menggangguku," kata Thurqk santai. "Lagi pula, melihat lawannya siapa…" ia menyorot Ursario dengan penuh kebencian. "Kurasa ini hanya menyeimbangkan pertarungan. Bukan begitu, Nurin?"
"Yah, mungkin saja." Tak suka dengan tubuh laki-laki yang diambilnya, Nurin mengubah lagi wujudnya hingga ia lebih menyerupai Cleopatra. "Mungkin saja begitu. " Dari posisinya, Nurin ditembaki senapan mesin, senapan laras panjang, sihir. Ia bisa menghindarinya kali ini, tapi tak akan lama, karena para beruang itu sudah mulai memperbaiki posisi. Beberapa yang tak dapat bertarung jarak jauh bahkan mulai mencoba naik ke lantai atas.
"Aturan Pharaoh!" seru Nurin. "Tidak ada serangan jarak jauh!"
Nyarlathotep juga memberi Nurin sihir, tapi, ia sadari sihir-sihir ini tak akan berguna bila ia tak memiliki kemampuan mengubah wujud. Ia harus terlebih dahulu mengubah bagian dalam tubuhnya menjadi partikel semesta, sesuatu yang menyusun para Tetua Semesta, agar ia dapat menggunakannya seperti Nyarlathotep. Baik proses mengubah wujud dan wujud saja sudah terasa melelahkan, belum lagi penggunaan sihir. Bahkan stamina gabungan dari tiruan Zany dan Zach pun tak banyak membantu.
Tapi ia mencoba untuk menutupinya dari lawannya.
"Berhenti menembak, buraaa!" seru Ursario, menyadari apa yang terjadi. "Berhenti menembak!"
"Semuanya, hentikan serangan! Dengarkan Ursario!" beruang berblazer putih menambahkan.
"Ada apa? Ada apa?" para beruang bertanya penasaran. "Kenapa harus berhenti?! Tadi kita sudah menghancurkan dia sekali!" seru beruang Zany.
"Dia menggunakan Titah Ahriman," yang menjawab justru beruang dengan ikat kepala metal. "Intinya… dia mengubah realita di sekelilingnya untuk mematuhi peraturannya. Kalau kita melanggar, sekuat apapun kita, akan terjadi sesuatu yang sangat buruk."
"Menakjubkan juga kau bisa tahu soal sihir itu, Son Goku," puji beruang berblazer tadi.
"Jika Anda sudah berkecimpung lama dalam urusan demonologi seperti saya, pengetahuan seperti ini sudah lumrah, Nona Ursula," jawab beruang tadi. "Dan tolong jangan panggil saya Son Goku. Nama saya Baikai."
Nurin memberengut. Rupanya ada yang tahu. Itu menyebalkan. Seharusnya lucu kalau orang memuakkan seperti Zany tetap nekat, dan merasakan dampak sihir ini.
"Heh. Kurasa bermain musik tak dapat dibilang menyerang, kan?!" beruang berekor mencoba memainkan sulingnya.
"Bodoh, kubilang ja-"
Dinding atas arena ditembus oleh pilar energi besar. Pilar itu menghantam beruang berekor tadi sebelum ia sempat memainkan musik. Saat pilar itu kembali lenyap, yang tersisa di tempat beruang tadi hanya bercak hitam berasap. Bahkan jiwanya sekalipun musnah.
Sontak Nurin pun terbahak. Sudah pernah menggunakan kekuatan Azathoth, ia tahu kalau hukuman tadi, entah bagaimana, berasal langsung dari dewa mengerikan itu. Masih dendam karena diintimidasi sebelum ronde empat, dan setelahnya, sebenarnya ia ingin menyiksa pemusik menyebalkan itu lebih lama. Tapi kehancuran mendadaknya yang begitu menyeluruh itu terlihat begitu… jenaka.
"Makhluk keparat…" Zany refleks menciptakan sebuah railgun.
"Sudah dibilang, buraaa, jangan! Hukuman tadi bahkan bukan berasal dari makhluk Outer Demony itu!" seru Ursario. "Titah Ahriman. Nggak nyangka bakal lihat sihir seperti itu di sini."
"Tapi sihir itu punya batasan," beruang yang tadi dipanggil Ursula menambahkan. "Setiap aturan yang dia buat harus memiliki kekangan yang jelas. Bahkan para makhluk Outer Gods pun tak bisa mengubah itu, apa lagi monster biasa seperti dia."
"Dan dia juga hanya bisa melakukannya secara terbatas. Kalau hati-hati kita masih bisa memenangkan ini!" tambah beruang yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Baikai.
"Begitukah?" Nurin mengayunkan tongkat emasnya, yang sebenarnya bagian tangannya sendiri, dimanipulasi hingga berwujud seperti itu. "Kalau begitu, mari berdansa, beruang-beruang sekalian!"
Menurut informasi yang Nyarlathotep berikan, Nurin memang tidak bisa seenaknya memberi aturan. Jika dia mencetuskan titah yang bisa dengan mudah membunuh semua makhluk di arena, seperti misalnya, "Tidak boleh ada yang hidup," maka tekanan yang ia terima akan luar biasa besar, dan bisa menghancurkannya. Ia pun wajib memberi jeda antar perintah, kalau tidak ia tetap akan tewas dengan konyol.
Masalahnya, ia juga tak boleh mengubah wujud penuh, seperti misalnya menjadi Tindaloos untuk lari ke dimensi lain. Detik ia melakukannya, maka aturan yang ia tetapkan akan buyar dan ia harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menerapkannya lagi.
Saat ini, Ursario, Ursula, dan Baikai sudah mengetahui gambaran kekuatannya. Ia rasa mereka akan mulai mencoba mencari tahu batasannya, dan setelah menemukannya, akan mencoba menghancurkannya.
"Jadi, sekedar tidak boleh serangan jarak jauh? Bagus kalau begitu." Beruang bertopi melompat-lompat lincah, menaiki lantai satu persatu menuju tempat yang dipijak Nurin. Ursario menyusul dengan mengubah wujudnya menjadi beruang hitam dan bergerak naik. Ia diikuti pula oleh beruang pemegang pedang. Satu beruang menggunakan jerat tali untuk naik, yang lain menggunakan sulur, ada juga yang seperti menaiki angin. Masih ada dua belas beruang di sini, melawan satu orang.
Ya, Nurin tak merasa bersalah sedikitpun menggunakan kekuatan Nyarlathotep. Seperti kata Thurqk, ini hanya menyeimbangkan pertarungan. Kalau ia masih mengandalkan lalat saja, ia tak akan bisa menang. 
Nurin memanfaatkan juga kemampuan dari petarung tiruan yang ia serap. Lengan kirinya berubah menjadi sebuah senapan laras panjang berkaliber besar. Ia arahkan senjata itu ke Baikai dan menembak…
Beruang Baikai mampu menghindarinya dengan tepat waktu. Salah satu beruang protes, "Hei, kamu membongkar aturanmu sendiri!"
"Yah, aku ini kan Pharaoh. Aku yang menetapkan aturan. Kalau aku melanggar… tak ada hukum yang bisa menentangku," balas Nurin.
Masalahnya, para petarung jarak dekat sudah datang. Yang pertama mencoba memanfaatkan kesempatan ini adalah beruang bertopi. Tanpa rasa takut, dia datang dari kiri, hanya bersenjatakan baton.
"Kurasa aku pernah melihatmu juga sekali, dulu," komentar Nurin. Lagi-lagi ia melakukan perubahan satu orang, pada lengan kirinya saja. Alih-alih menciptakan senjata, ia justru memanfaatkan ingatannya untuk membentuk tubuh penuh satu orang, yakni Colette. Tak lagi sekedar boneka Ventrilloquist, seperti yang diperlihatkannya kepada Zany, tubuh Colette itu mampu ia gerakkan seperti tubuh sungguhan.
Tubuh Colette melesat cepat, satu-satunya penanda ia ciptaan Nurin hanyalah lengan kiri sang Dark Pharaoh, yang memanjang mengikuti pergerakan ciptaannya.
"Pilihan yang salah, makhluk bau!" seru boneka bertopi itu, menghindari tendangan  Colette. "Aku sudah pernah menghadapi cewek ini sebelumnya!"
"Oh? Silakan ceritakan, kalau kau tidak keberatan." Nurin juga masih punya banyak waktu sambil menanti tubuhnya siap untuk penggantian titah. Masalahnya, walaupun beruang yang satu itu mau bermonolog panjang pun masih ada sebelas beruang lain untuk dihadapi. Dan satu lagi sudah datang dari kanan, beruang berbaret yang secara taktis menanti distraksi agar ia bisa menyerang. Tangannya menggenggam pisau.
Tak terlalu membutuhkan tongkat kekuasaannya, Nurin mengubah juga lengan kanannya menjadi petarung lain. Kali ini yang dipilihnya adalah Zany, karena sudah saatnya si rambut perak itu ganti membantu Nurin, setelah semua kerepotan yang tiruannya lakukan di ronde sebelumnya. Agar dia lebih "berguna," Nurin mengubah kedua lengan gadis bermata pelangi itu menjadi sepasang chaingun. Dia memuntahkan pelurunya, yang terbuat dari darah dan daging Nurin, serentak.
Terkejut dengan reaksi Nurin tadi, beruang berbaret melompat ke samping, menabrak pintu kayu ruangan di sana hingga rubuh. Nurin menghentikan dulu tembakan chaingun dari tangan Zany, mengantisipasi kedatangan lawan dari arah lain. Tak boleh ada yang menggunakan serangan jarak jauh, jadi kalau mereka ingin datang, mereka akan datang ke sini.
"Kau…" Zany datang dengan jetpack. "Berhenti menggunakan tubuhku!" jeritnya marah, mencoba menyerang. Tapi jangkauan beruang kecil itu terlalu pendek. Pundak Nurin memanjang, menciptakan sosok Enzeru yang langsung menebas dengan sabitnya dan memastikan Zany tetap berada di jarak yang aman dengan Nurin.
Beruang Baikai melompat tepat dari depan Nurin, katananya terhunus. Bagus sekali, pikir Nurin sementara Zany ciptaannya mengubah lengannya menjadi sepasang katana untuk melindunginya. Aku memang ingin membunuhmu pertama.
Mulut Nurin membuka dengan lebar. Lidahnya menjulur panjang dan berubah menjadi Zach, lengkap dengan tombak berujung ametis, yang tidak memancarkan petir. Zach lidah itu mampu beradu senjata dengan Baikai, membuat beruang itu nyaris terjatuh, namun ia mulai mengeluarkan tabung berisi monster…
Di saat yang sama, Ursario dalam wujud beruang hitam sudah ada di samping Nurin. Ia dapat mengantisipasi serangan dari iblis yang dipanggil Baikai, tapi ia tak mampu mencegah Ursario menabraknya hingga terpental. Seketika itu pula organ-organnya kembali berubah wujud seperti semula, membuatnya dapat dengan mudah diincar oleh si beruang berbaret hitam yang telah melompat untuk menikamnya.
Nurin mengubah total wujudnya menjadi cairan, yang menghindar cepat, membiarkan pisau beruang berbaret tadi hanya menancap di lantai. Saat itu juga, efek titahnya sebelumnya hilang. Cepat-cepat dia menyusun lagi dirinya, kembali ke wujud Dark Pharaoh.
Saat itu juga Baikai dan si beruang berbaret telah menutup jarak. Yakin sekali mereka dengan kemampuan senjata mereka, hingga mereka masih ingin menyakiti Nurin dengan itu.
"Dilarang memegang senjata!" seru Nurin keras-keras.
Mendengar itu, Baikai menghentikan langkah dan menjatuhkan pedangnya. Tapi beruang berbaret, yang sudah berada begitu dekat dengan Nurin, tak sempat melakukan itu. Di bawah, ada juga beruang berpedang besar yang bahkan tak mendengar titah terbaru tadi…
Pilar energi Azathoth turun, menembus bagian lain dinding arena dan menghancurkan kedua beruang itu sekaligus, kembali hanya menyisakan bercak hitam di lantai.
Bersamaan, Nurin merasakan tubuhnya diremas dengan kuat. Tak seharusnya secepat ini ia mengeluarkan titah kedua. Darah hitam menetes turun dari mata dan bibirnya, tak dapat menutupi luka yang ia derita. Bila terus begini, ia bisa membunuh dirinya sendiri sebelum semua beruang habis.
Sembilan beruang lagi.
"Cukup, buraaa! Semuanya, kembali!" perintah Ursario.
"Apa?!" Zany, masih menggunakan jetpack, tadinya ingin menyerang Nurin tapi perintah itu membuatnya berhenti. "Kenapa?! Aku masih harus menghajarnya!"
"Lakukan itu dari sini saja!"
Ursario membuka dadanya. Beruang-beruang yang tersisa berubah wujud menjadi bola dan terserap masuk ke dalam tubuhnya. Nurin pun menyeringai senang, sekarang ia bisa menghadapi beruang utama ini dengan lebih tenang.
"Apa itu keputusan yang tepat, Tuan Beruang yang baik? Sekarang kau akan lebih repot untuk menghadapiku."
Ursario menjawab. "Kau baru saja melenyapkan dua jiwa yang telah susah-susah kukumpulkan, buraaa. Akan lebih mudah bagiku untuk mengatur mereka dengan begini." Tubuh Ursario kembali menjadi beruang cokelat. Ia lalu memancarkan cahaya hitam, pancaran kekuatannya meningkat tajam. "Dan lebih mudah memanfaatkan kekuatan mereka begini. Apa kau siap untuk pertarungan sesungguhnya, antek Outer Demony?!"
Nurin mengarahkan tongkat kebesarannya ke Ursario. "Kalau hanya itu yang bisa kau lakukan, aku tak terkesan, beruang. Sini!"
4
 Kalau dia menyerap kekuatanku, tiruanku, atau apalah itu, berarti dia hanya bisa dibunuh dengan menghancurkan jantungnya. Ursario mendengar Zany membisikinya, sementara ia menghimpun kekuatan.
           
Buraaa. Di mana aku bisa menemukan jantungnya sementara dia bisa meleleh sedemikian rupa?
Dia hanya monster, Ursula menambahkan. Dia memiliki kemampuan pengubah wujud Si Seribu Topeng, tapi dia hanya anteknya. Sekuat apapun dia, kekuatan dia pasti tanpa batas. Kalau kau tetap tak bisa mengalahkannya, bahkan setelah menyandang kekuatanku, kau tidak pantas lagi menjadi Overlord.
Untuk kali ini, Beruang, kami akan membantumu sebisanya dari sini. Tolong jangan mengecewakan, suara gabungan dari jiwa-jiwa petarung yang tersisa membahana.
Heh, jangan remehkan aku, bura.
Angin membawa tubuh Ursario melayang. Ia telah membuang waktu setengah menit, namun Nurin tak bergerak. Apa yang gadis itu tunggu?
Jawabannya adalah, tenaga untuk menerapkan aturan baru lain. Titah absolut Dark Pharaoh ini begitu menguntungkan, hingga Nurin dapat melenyapkan tiga jiwa dengan sangat mudah. Kini, setelah Ursario mengumpulkan kedelapan jiwa itu sekaligus di dalam tubuhnya, ia hanya perlu menitahkan satu aturan yang tepat, dan ronde ini pun berakhir. 
"Diam saja, buraaa?" masih mengingat titah Nurin sebelumnya, Ursario terpaksa tidak mengambil dulu senapan andalannya. Tak apa, ia masih punya cara lain untuk menyakiti gadis itu. Ia rasakan kekuatan angin berkumpul di kedua tangannya, siap mematuhi perintahnya. Lalu ia ayunkan sekaligus kedua tangannya, dan terciptalah enam gelombang energi tipis, masing-masing memiliki ketajaman yang melebihi pedang.
Serangan itu datang dengan cepat, tanpa terlihat. Nurin tak dapat menghentikan tubuhnya tercabik dan terpotong-potong. Kekuatan Zany masih mempertahankan hidupnya, tapi ia merasakan sakit. Dan ia masih merasa lelah karena harus menyusun fisiknya lagi.
Sialan.
Ursario mencakar udara. Angin membentuk guratan hitam, yang merobek tubuh Nurin sebelum sempat tersusun kembali.
"Aku tahu batasan kekuatan titahmu, buraaa. Kamu masih harus menyuarakannya. Sekarang mari kita lihat apa kamu masih bisa melakukan itu!"
Berkali-kali Ursario memanfaatkan kekuatannya untuk menyerang dari jauh, dengan berbagai variasi yang menghambat Nurin untuk dapat menyusun kembali tubuhnya dengan utuh. Semakin sulit pula Nurin menyatukan kembali tubuhnya. Lelah sudah menghantuinya akibat dua titah yang ia kumandangkan, proses regenerasi ini membuatnya semakin kesulitan untuk bertahan hidup. Ia bahkan menyadari kalau begini terus, Ursario akan dapat menyakiti jantungnya dan menamatkannya untuk selamanya.
Jadi dia melelehkan lagi tubuhnya, cairannya meresap melalui salah satu pintu di sisi ruangan dan keluar di baliknya. Ursario tahu kalau ini berarti Nurin membatalkan titah keduanya, jadi ia bergerak ke atas sebentar untuk mengambil lagi senapannya, memberi Nurin sedikit kesempatan untuk menarik nafas.
"Dilarang… memegang sen-" Nurin ingin mengulang lagi titahnya, tapi ia langsung dicengkeram nyeri. Staminanya sudah terkuras karena dua titah pertama, juga upayanya untuk memulihkan diri dari semua serangan yang ia derita. Sakit tadi adalah pertanda jika ia memaksakan diri, maka tubuhnya akan hancur sendiri.
Ia harus memikirkan sesuatu, dan cepat, karena Ursario sudah kembali. Peluru senapannya mencabik pintu hingga terbuka.
"Ada apa, Outer Demony?" Ursario menciptakan senapan lain di tangan kirinya. Senjata api ganda di kedua tangannya lalu menyalak. Ada sesuatu yang berbeda dari kedua senapan itu, sesuatu yang magis, hingga rasa sakitnya menjadi lebih buruk. "Kamu lebih payah dari antek Outer Demony lain yang kulawan, buraaa!" dan Ursario menembak lagi, semakin mengacaukan tubuh Nurin.
Ya, tubuh Dark Pharaoh sudah tak lagi berguna dalam situasi ini. Dark Pharaoh tanpa kemampuan mengeluarkan titah sama saja dengan musuh tak berdaya. Ia harus terlebih dulu memikirkan langkah berikutnya.
Wujud Dark Pharaoh lumer, berganti menjadi anjing Tindaloos. Tubuh Tindaloos bergetar cepat dan menghilang, berpindah ke dimensi lain. Dari sana, dia masih dapat melihat siluet tubuh Ursario, juga siluet Thurqk, Nolan, Hvyt, dan gadis dari balkon lantai puncak. Sejenak Nurin menghimpun nafas, memilih wujud apa lagi yang harus dipilihnya. Inilah risiko disodorkan begitu banyak kemungkinan tanpa terlebih dahulu diberi kesempatan mencobanya. Ia jadi bingung sendiri.
Tubuh Ursario melayang sejenak, lalu bergetar. Mata kanan Nurin memicing. Tidak mungkin, pikirnya. Tidak mungkin.
Beruang cokelat itu lenyap beberapa detik. Saat ia muncul lagi, wujudnya bukan lagi siluet. Ia kini melayang di dimensi yang seharusnya hanya bisa dikunjungi anjing Tindaloos.
"Buraaa, kau kira aku belum pernah melawan Doggy Demony ini sebelumnya?" tanya Ursario. Ia meluncur dengan begitu cepat, menghantam tubuh Nurin dengan serangan ganda senapan dari jarak dekat. Ada sayatan angin dan ledakan mesiu yang tercipta setiap kedua senjata itu mengenai tubuh Tindaloos Nurin, menandakan Ursario masih menggunakan sihir entah apa itu yang ia miliki.
Beruang ini... mulai membuatku kesal... keluh Nurin geram. Seharusnya ia memperoleh musuh yang lebih ringan, agar ia bisa lebih familiar dulu dengan kekuatannya. Kini ia semakin didesak hingga proses regenerasi yang seharusnya mudah mulai menjadi sakit.
Tak bisa membiarkan dirinya terus dihajar, namun tak berani berganti wujud di dimensi ini, Nurin mulai menyerang balik. Ia gunakan tubuh kecilnya untuk mengelak dari setiap ayunan senapan, lalu mencoba menggigit balik. Ia mampu memberikan beberapa cakaran ke tubuh beruang Ursario, namun serangannya tak terlihat membuat boneka itu ketakutan.
Ia bahkan mulai ragu Ursario dapat menderita cidera fisik permanen atau fatal. Apakah yang berada di balik bulu itu adalah daging dan tulang, atau betul hanya busa dan baterai?
Wajah raksasa Thurqk turut menampakkan diri di dimensi itu, menghentikan baku hantam antara Nurin dan Ursario. "Ada apa Thurqkey?!" tanya Ursario, tak suka dengan kemunculan yang ia nilai mengganggu dan sok spektakuler itu. Bukannya menjawab, Thurqk malah membuka mulut dan mengeluarkan kata-kata dalam bahasa terlupakan. Nurin menutupi telinganya, seluruh bagian tubuhnya dijalari rasa sakit luar biasa. Ursario pun dibuatnya mengerang, hingga harus berlutut. Senapan yang ia ciptakan dengan kekuatan Zany hilang.
Saat akhirnya Thurqk selesai bicara, Nurin dan Ursario sudah kembali berada di lantai utama arena. Masing-masing harus berlutut terengah, memulihkan diri dari serangan kejutan sang dewa penyelenggara turnamen.
"Tugas kalian itu menghiburku!" kata Thurqk di singgasananya. "Bagaimana kalian bisa menghiburku kalau kalian pergi ke dimensi lain? Sudah kubilang, aku masih memiliki kendali terhadap kalian." Ia menciptakan proyeksi Nurin dan Ursario di langit-langit. Tangannya membuat gerakan meremas, dan kedua proyeksi itu hancur. Turunlah hujan darah dan organ, membasahi lantai. "Satu kali lagi kalian ingin asyik sendiri, kalian akan mati."
"Cih, dasar Thurqkey..." desis Ursario. "Hei, antek Outer Demony."
"Apa?" jawab Nurin, tak mengira akan diajak bicara di tengah pertarungan.
"Berjanjilah. Siapa pun yang memenangkan pertandingan ini harus menendang bokong ayam merah itu, buraaaa."
Nurin menyeringai lebar. "Kalau memang aku menendang bokongnya, berarti kau tahu apa yang akan terjadi, kan?" bila Nurin memutuskan untuk membelot dari Thurqk, maka hanya ada satu makhluk yang bisa menjadi sponsornya agar ia tetap bertahan hidup, dan memiliki peluang menggulingkan dewa itu. Makhluk yang Ursario juga tidak sukai.
"Buraaa. Benar juga." Ursario memunculkan senapan kedua. Tubuhnya memancarkan energi hitam, dan kakinya kembali terangkat dari lantai. "Kalau begitu memang aku yang harus menang."
"Kuharap kau tidak menganggap itu akan mudah, Beruang."
5
Kekuatan Ursario dan Nurin kembali beradu. Nurin menggunakan semua wujud yang sudah ia keluarkan sejauh ini untuk menyakiti sang boneka beruang, mulai dari Tindaloos, Gug, hingga Dark Pharaoh, sementara Ursario menembaki atau memukulinya, sesuai dengan jarak Nurin terhadap dirinya. Setelah berjibaku, Nurin menyadari satu hal: lawannya ini memiliki pertahanan sempurna.
Dari jauh, Ursario dapat menembakkan senapan ganda dan sihirnya. Dari dekat, Ursario bukan hanya dapat memukulkan kedua senjatanya sekaligus, ia juga mampu menciptakan semacam baton dan memukulinya dengan itu. Ia semakin dipersulit dengan kenyataan kalau Ursario sudah mengetahui semua trik monster "Outer Demony," hingga segala kejutan yang ingin ia keluarkan telah terlebih dahulu diantisipasi oleh monster itu.
Ia harus memikirkan sesuatu yang baru, dengan cepat, karena kemampuan regenerasinya sudah memasuki tahap gawat. Tubuhnya telah terasa panas lagi. Jika dibiarkan, insiden yang terjadi di Paris dapat terulang, dan bahkan Nurin sekalipun tak tahu apa ia dapat menyusun dirinya lagi setelah itu.
Ah keparat!
Tapi, jika ia membiarkan dirinya dipukuli, ia pun akan turut mencair tanpa ada harapan untuk dapat pulih. Sama saja. Jadi, jika memang kunci untuk memenangkan pertarungan ini adalah mengubah wujudnya ke tahap berbahaya, maka ia akan melakukannya.
Tubuh Nurin memancarkan gelombang energi besar, yang keluar dalam wujud terpaan angin kuat. Ursario seharusnya bisa mengantisipasi dan menahan serangan itu, terutama dengan jiwa seorang pengendali angin di dalam tubuhnya. Hanya saja ia terlalu dekat dengan Nurin, dan tak menduganya, hingga ia terlontar jauh dan nyaris menghantam dinding.
Walau terlihat spektakuler, wujud Nurin justru memendek, bahkan lebih pendek dari tinggi asli tubuhnya. Kini ia kira-kira setinggi anak SD, dengan tubuh keseluruhan kurus. Kulitnya berwarna hitam pekat seperti tinta. Walau ia bisa melihat, tak ada bola mata di kepalanya. Bahkan wajahnya menjadi rata, hanya menyisakan mulut yang memperlihatkan deretan gigi. Ia terlihat mengenakan gaun, namun tak ada lekukan, kerutan, dan bekas jahitan di pakaiannya. Malah, gaun itu terlihat melebur dengan tubuhnya.
"Tuan Thurqk, ini-" Hvyt mencoba memperingatkan majikannya lagi.
"Biarkan. Kalau hanya segini saja, ia tak membahayakanku," jawab Thurqk, tersenyum.
Ini adalah wujud yang pertama dikenakan oleh Nyarlathotep saat mengunjungi Nurin. Bukan hanya proses transformasinya saja yang melelahkan, tapi juga mempertahankan wujudnya. Nurin memprediksi ia tak akan bisa bertahan lama dalam topeng Nyarlathotep yang ini.
"Huh, sekarang kau memakai wujud itu, dasar antek Outer Demony…" Ursario sudah kembali bangkit, mempersiapkan senjatanya untuk melanjutkan pertarungan. "Ugh!"
Beruang Teddy itu merasakan sakit dari badannya. Jiwa-jiwa di dalam tubuhnya bergejolak. Ia menyadari kalau mereka melakukan itu bukan karena ingin keluar, tapi karena mereka panik dan takut. Mereka melihat dan mendengar melalui mata Ursario. Walau Ursario, dan Ursula, sudah terbiasa dengan imaji yang menyambut mereka kini, jiwa-jiwa yang lain masih belum. Dan itu berakibat gawat.
 Alasan kenapa Nurin harus bersusah payah mempertahankan wujudnya yang sekarang? Sama seperti monster-monster asli yang dilihatnya di dunianya, wujudnya kini memiliki bentuk berlapis. Bentuk terluarnya adalah gadis kecil berkulit pekat. Tapi bila dilihat lebih seksama, terutama oleh iblis seperti Ursario yang sering berurusan dengan antek-antek Nyarlathotep, maka yang mengamati akan menyadari bentuk yang disembunyikannya. 
Nurin sendiri tidak bisa menjelaskan rinci bentuk apa sebenarnya yang ia sembunyikan di balik siluet tiga dimensi gadis aneh ini. Bentuk yang ia ciptakan hanya dapat dikatakan sebagai "perwujudan sejati mimpi buruk." Hanya Nyarlathotep yang tahu wujud sejatinya. Sementara itu, yang dilihat korbannya hanyalah wujud kengerian terbesar mereka yang telah terdistorsi sedemikian rupa, dan semakin memburuk semakin lama diamati.
"Buraaaa, boleh juga…" Ursario terpaksa harus memejamkan matanya. "Tapi…" ia memasang kuda-kuda. "Aku tahu tak mungkin antek-antek rendahan sepertimu dapat menahan wujud itu terlalu lama."
"Oh?" Nurin pura-pura bodoh, ingin membangkitkan ilusi kalau ia lebih jago menggunakan wujud ini ketimbang yang Ursario perkirakan. Tapi ia memang harus bertindak cepat.
Senapan sihir Ursario kembali menyalak. Tubuh Nurin dapat langsung pulih, tapi ia masih dapat merasakan tekanan dari serangan tadi. Ia harus bertindak cepat.
Gadis itu menemukan beberapa hal abnormal di sekelilingnya. Bentuk mereka terlihat seperti benang, begitu tipis hingga awalnya nyaris tak terlihat olehnya. Sebagian benang itu terhubung dari langit ke tubuh Ursario…
Ingin tahu apa yang terjadi jika ia menariknya, Nurin melesat, mencoba meraih benang-benang itu.
Ursario mengayunkan senapan di tangan kanannya, mengenai sisi kanan kepala Nurin. Ia melanjutkan dengan ayunan senapan kiri, semakin menyakiti Nurin. Atas kehendaknya, angin lalu berhembus, menyayat dan mendorong Nurin mundur. Terakhir, ia menembakkan sekaligus kedua senjatanya, mengoyak wujud siluet bayangan Nurin.
Dia tahu. Mungkin ia tak bisa melihatnya, namun Ursario tahu apa yang Nurin incar. Padahal Nurin sendiri tidak diberi informasi tentang apa sebenarnya benang-benang itu.
Jadi mari kita cari tahu sendiri, pikirnya sambil menyeringai. Mau bagaimana lagi? Belum dua menit berlalu, ia sudah melihat tubuhnya meleleh sendiri. Waktunya tidak banyak.
Nurin melakukan perubahan parsial, menyelimuti tubuhnya dengan lapisan baja keperakan seperti wujud pertamanya. Tubuhnya melayang, mencoba mendekati Ursario lagi. Ursario membalasnya dengan tembakan senapan ganda, masing-masing peluru mampu mengoyak perlindungan yang sudah susah payah ia ciptakan. Kekuatan pasangan senjata itu mementalkannya lagi.
Dia…
Ursario melanjutkan menembak dan menembak, tak ingin memberi Nurin kesempatan. Sesekali ia melempar sihir untuk memperburuk cidera yang Nurin derita.
Tangguh.
Tubuh Nurin memanas. Proses regenerasinya menyebabkan rasa sakit luar biasa. Waktunya pun kian melambat, karena sebenarnya ia menyusun kembali molekul-molekul yang baru ia pahami keberadaan dan wujudnya tak lama lalu. Sekali lagi, ia dihadapkan pada kenyataan kalau dalam wujud ini pun ia tak mampu bertarung dengan seorang Demon Lord. Bahkan saat sang Lord mengenakan tubuh beruang Teddy sekalipun.
Itu bukan berarti ia akan membiarkan dirinya dihabisi begitu saja.
Puluhan tentakel panjang menyeruak keluar dari tubuh Nurin, semuanya bergerak bersamaan mencoba meraih Ursario.
Tubuh ringan Ursario bermanuver dibantu oleh angin, menghindari lima tentakel pertama yang mencoba meraihnya. Senapannya menghancurkan tiga tentakel yang sudah terlalu dekat.
Di bawahnya, tubuh sejati Nurin meleleh lagi. Tapi ia masih mampu mempertahankan kesadarannya untuk menciptakan lebih banyak tentakel. Mereka bergerak serentak, membentuk formasi kepungan…
"Kamu merepotkan sekali buraaaa!"
Tebasan angin meluncur. Ursario mengubah senapan di tangan kirinya menjadi pistol mesin, untuk membantunya mengatasi serbuan ini. Sadar kalau tidak bijaksana bila dia membiarkan dirinya dikurung, ia mencoba bergerak keluar…
Tahan. Setiap tentakel yang hancur mendatangkan rasa sakit bagi Nurin. Ini bukan apa-apa. Tapi ia menahannya. Sedikit lagi ia bisa meraih benang-benang Ursario. Sedikit lagi.
Nurin mengubah kelima tentakelnya, hingga mereka memiliki pelindung baja. Kumpulan metal cair itu bergerak menembus koyakan angin, meliuk menghindari tembakan, dan membekap tubuh Ursario.
"Urgh… kau kira kau bisa menghentikanku hanya dengan ini Outer Demony?!" seru Ursario. Ia mengubah wujudnya menjadi beruang hitam, dan tentakel-tentakel tadi pun terkoyak. "Yang seperti itu tidak cukup!"
Nurin juga tahu itu tidak cukup. Ia hanya membutuhkan distraksi, sesuatu yang bisa membantunya menahan Ursario untuk tetap diam beberapa detik saja. Ia berhasil.
Dengan cepat satu tentakelnya membekap benang-benang tak terlihat di atas Ursario. Ursario membelalak. "Ternyata benar, kau ingin menyentuh-"
Rasanya panas. Menyentuh benang itu saja mengakibatkan penderitaan yang tak bisa dilukiskan. Tapi, Nurin masih bisa melihat gerakan Ursario terhenti. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan sebelum sempat diselesaikan. Tubuh beruang teddy itu kejang di udara. Sebuah kekuatan besar di dalam tubuhnya memberontak, menimbulkan guncangan-guncangan hebat…
Kalau ia masih memiliki wajah, Nurin sudah menyeringai. Penderitaan Ursario, yang telah begitu merepotkannya selama pertandingan ini, membuatnya merasakan kenikmatan luar biasa. Begitu luar biasa malah, sampai ia memperoleh kekuatan untuk meraih benang-benang itu dan menariknya…
KRAK
Muncul retakan di realita.
Benang realita. Itulah yang Nurin tarik tadi. Ada beberapa makhluk di semesta yang memiliki benang-benang seperti itu. Alasannya, biasanya, adalah karena mereka mampu mencurangi takdir. Entah karena keberuntungan, intervensi dewata, atau memang mereka mampu, individu-individu ini dapat menggeser skenario yang telah ditetapkan realita untuk bertahan hidup atau mendapatkan keinginan mereka.
Apa yang terjadi bila benang itu ditarik?
Sejak awal, melihatnya saja membutuhkan kekuatan setingkat salah satu topeng Nyarlathotep. Menyentuhnya dapat membuat tubuh manusia terbakar hingga menjadi arang. Menariknya… bahkan dalam wujud barunya pun lelehan Nurin semakin cepat akibat perbuatan itu. Kesadarannya mulai lenyap, dan ajalnya mendekat.
Di sisi lain, Ursario pun mengalami hal yang sama buruknya. Dengan ditariknya benangnya, jalur takdirnya diarahkan mendekati realita yang dikehendaki penguasa alam ini. Ia tak pernah memiliki jiwa Zany, karena Zany dibunuh oleh Colette di pulau lapar dan dieksekusi Thurqk. Ia tak pernah memiliki jiwa Ursula, karena tak seharusnya Ursula bisa memasuki alam ini. Setiap peningkatan kekuatan yang telah ia dapatkan satu persatu dihapus, hingga ia kembali ke tingkat kekuatannya yang sejati, saat ia pertama datang ke sini…
 "Ha…"
Ursario jatuh berlutut. Kacamatanya retak. Topinya terbelah. Tubuh bonekanya robek dengan sendirinya. Senapannya meleleh. Ia tahu apa yang terjadi, tubuhnya mengalami tekanan akibat perubahan realita. Tubuh sejatinya mampu menghadapi hal remeh seperti ini, tapi tubuh beruang ini tidak.
Ia mengangkat kepalanya. Setidaknya, karena tindakan bodohnya, yang tersisa dari Nurin kini hanya genangan hitam mendidih. "Dasar antek Outer Demony!" keluh Ursario. "Apa Nyarly tidak mengajarimu?! Bahkan dia sendiri bisa hancur karena seenaknya menarik benang takdir!"
Ursario berdiri dan menendang genangan Nurin, merasa kesal luar biasa. Ia masih memiliki sedikit pendukung di luar sana, tapi ini adalah saat yang terburuk untuk kehilangan jiwa-jiwa jawara yang telah ia kumpulkan hingga sejauh ini.
Tetap, ia tidak takut. Ia tatap Thurqk, yang masih saja menonton dengan kepala tertumpu tangan. "Aku tetap menang, Thurqkey. Selanjutnya giliranmu!"
"Oh?" Thurqk menahan tawa. "Aku tidak keberatan menghadapimu, Demon Lord Ursario. Terutama kamu dalam wujudmu yang sekarang…"
"Aku tidak butuh jiwa beary-beary itu untuk melawanmu. Aku saja sudah cukup!"
"Hmm?" Thurqk tampak mempertimbangkan serius tantangan tadi. "Bisa saja, bisa saja. Tapi pertama kau harus membuktikan dulu."
"Kau mau memaksaku bertarung dengan kontestan lain lagi? Kenapa kita harus buang-buang waktu? Apa kau setakut itu, buraaa?!"  
"Bukan. Hanya saja, pertarungan ini belum selesai."
"Apa-"
Hanya membutuhkan satu detik hingga Ursario memahami maksud Thurqk. Kesadaran Nurin baru mulai lenyap, belum lenyap sepenuhnya. Dia masih bisa memaksakan diri, menyatukan sebagian genangan tubuhnya menjadi semacam paus tinta. Mulutnya memangsa Ursario dalam satu gigitan. Kemudian, ia bawa tubuh beruang teddy itu bersamanya, memasuki tanah di bawah arena.
"Lepaskan, buraaa!" seru Ursario. Akan lebih mudah baginya melakukan itu bila ia memegang senapannya, walau senjatanya itu meleleh. Tapi serangan Nurin ini datang begitu mendadak hingga ia belum sempat mengambilnya lagi.
"Lepaskan?" Nurin memunculkan wajahnya di dalam tubuhnya sendiri, sehingga ia bisa bertatapan dengan Ursario sekali lagi. Seperti wujud pausnya, wajahnya ini pun terlihat seperti tinta yang tengah mencair. "Kenapa?"
Cairan hitam yang menyelimuti Ursario berubah wujud menjadi duri-duri kecil dan tajam.
"Itu tadi pertarungan yang bagus, Demon Lord Ursario. Kau begitu merepotkanku…" wajah ciptaan Nurin menyeringai. "Karena itu kurasa kamu harus dihukum. Aku tahu kalau sekedar memukulimu saja tidak akan berdampak apa-apa. Tapi bagaimana bila begini?"
Gigi-gigi hitam di sekeliling Ursario bergerak serentak. Rongga yang menyelimutinya pun kian menyempit. Tahulah Ursario apa yang akan terjadi kepadanya. "Dengar, antek Nyarly Demony! Aku adalah Ursario! Jangan kira dengan ini kamu mampu menyingkirkanku!"
"Makannya, mari kita lihat, Demon Lord. Mari kita lihat."
***
Para Hvyt selesai menggali tanah arena. Mereka membawa keluar satu genangan hitam besar yang sempat mengendap di dalam dan memperlihatkannya kepada Thurqk. Terhibur, Thurqk meninggalkan sejenak singgasananya untuk melihat cairan ganjil itu.
"Jadi, dia mati," komentar Thurqk.
"Benar, Tuan…" jawab para Hvyt. "Tak ada lagi kesadaran di dalam genangan ini. Nurin telah menggunakan sisa kekuatannya untuk meleburkan Ursario di dalam tubuhnya."
"Ini adalah hasil terbaik bagi kita. Dengan begini, kedua ancaman terbesar bagi tuan sudah teratasi."
"Hoo?" Thurqk menyentuh genangan itu. "Benar. Kecuali aku memutuskan untuk membangkitkannya sekali lagi."
Para Hvyt terkejut. "Tuan, itu-"
"Itu tidak sebaiknya dilakukan. Tadi saja makhluk ini mampu menyentuh benang realita!"
"Dan dia meleleh karenanya." Thurqk meraih benang realita di atas tubuh Hvyt yang berkomentar tadi. Ia menariknya dengan seenaknya, dan seketika itu pula Hvyt-nya menjerit dan meleleh. "Kekuatannya masih terlalu jauh di bawahku. Bahkan walau Nyarlathotep berada di belakangnya sekali pun ia tak ada apa-apanya di hadapan Tuhan sejati."
"T-tapi apa Tuan memang akan-"
"Untuk sekarang tidak…" komentar Thurqk. Sayapnya mulai terkepak, membawa kakinya meninggalkan lantai. "Tapi untuk sekarang, simpan saja genangan itu. Kurasa aku akan membutuhkannya lagi nanti."

5 comments:

  1. Entah kenapa saya seneng banget sama variasi powerup Nurin. Di bagian awal rame banget ya, satu lawan keroyokan gitu. Tapi yang bagus meski Nurin udah dapet macem" kekuatan dewa, dia masih vulnerable banget sampe akhir. Satu poin lagi : karakterisasi Nurin kuat banget di sini. Dan karena bawa" dewa, saya jadi penasaran sekuat apa si Thurqk ini di versi Nurin sebenernya

    ReplyDelete
  2. Anonymous2/12/14 10:07

    Po

    - karakter Nurin masih kerasa, meski udah berkurang gejolaknya dibanding R5 lalu

    - deskripsi seperti biasa mantap, apalagi pas bikin replika zany dsb yg jadi mayat utk ngetaunt dan bikin lidah jadi zach

    - Ursa digambarin mirip dgn konsep originalnya. agak sayang sih, aku sempet berharap ada versi lain dari Ursa, yg lebih gelap, kalo penulisnya adalah Mas Fachrul

    - pertarungannya entah kenapa kurasa jadi kurang intens. mungkin krn lawannya banyak ngocol. Kedemonannya Nurin sama Nyarlathotep juga agak ilang wibawa.

    Nilai dariku 8.5

    ReplyDelete
  3. suka gaya bahasanya...
    Dengan ilustrasi ringan, mungkin akan membuat kita pembaca makin masuk ke dalam cerita

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -