September 7, 2014

[ROUND 5] SILENTSILIA - GOD IS NOT EXIST FOR ME

[Round 5] SilentSilia
"God Is Not Exist For Me"

Written by Hinata Ummi

---

“Do you believe in god? Trust me! I’m not.”
- SilentSilia – The Character –

Mungkin kau heran, mengapa akhirnya aku yang mengambil alih cerita ini. Kau mungkin juga heran mengapa cerita ini tidak dimulai oleh kutipan dari si bodoh Ummi. Ya.. aku yakin kau heran. Sama seperti ketika kau membaca kalimat ini, kau mengernyitkan pelipismu serta menatap heran pada layar komputer atau telepon pintarmu itu.

Ingin bertanya kenapa? Jangan. Aku tidak ingin kau bertanya sekarang, karena saat ini aku lebih ingin menceritakan apa yang terjadi padaku dan si bodoh lainnya. Sesosok Persona bodoh yang berkata bahwa ialah Dewa dari jagad Raya.

Omong-omong kau percaya tuhan? Kau percaya dewa? Kau ingin tahu sesuatu? Aku SilentSilia menyatakan bahwa aku TIDAK percaya pada tuhan. Bagiku, tuhan hanyalah konsep. Sesuatu yang diciptakan oleh Persona untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mampu mereka cerna. Sebuah label.


Oke, akan kubuat ini lebih simpel. Kau sebut apa dirimu? Persona? Manusia? Makhluk? Sosok? Yang mana? Kenapa kau menyebut dirimu begitu? Apakah ada bukti pendukung bahwa kau adalah sebutan itu?

Apakah kau tahu bahwa semua itu adalah kesepakatan? Kesepakatan yang diciptakan jauh sebelum kau lahir ke dunia. Bagaimana jika, label itu tak ada? Dengan apa kau menyebut dirimu? Bisakah kau menjawabnya? Ha ha ha.

Tapi kali ini aku tidak akan membahas itu. Itu terlalu berat dan terlalu filosofis untuk kalian. Otak kalian yang masih primitif itu, tidak akan dapat mencernanya dengan mudah.

Apa? Kalian tersinggung? Ha ha ha. Ya.. begitulah kalian. Tersinggung adalah bukti nyata bahwa otak kalian masih primitif. Kalian masih saja mengambil sisi, mengambil tempat. Mencari tempat aman. Seperti di dalam perdebatan, kalian selalu mencari sisi yang paling menguntungkan.

Oh tunggu dulu, ini sudah bertele-tele. Kali ini, aku akan membuktikan pada kalian bahwa, Tuhan itu tidak ADA. Yang ada hanyalah kau memberikan label pada kekuatan besar pencipta alam semesta dengan nama TUHAN. Bagaimana cara membuktikannya? Oh itu sungguh mudah! Kalian hanya butuh membaca. Maka, kalian akan paham.

* * *

Awalnya, aku terkejut dengan jemariku yang dapat mengeluarkan darah. Namun, sungguh, itu tak lama. Bertemu dengan kacamata berjenggot menyadarkanku bahwa darah itu adalah kesalahannya.

Oke akan aku jelaskan semuanya di sini. Aku tak lagi ingin mengandalkan si Ummi untuk menceritakannya. Ia terlalu subjektif dan primitif.

Tadi aku bertemu dengan si kacamata berjenggot tebal yang berwajah mirip primata berbulu lebat yang kami (warga kerajaan Lait) sebut sebagai Hominoidea. Tapi aku lebih yakin dia merupakan hasil persilangan antara Homo Sapiens dengan Homo Pongo, mengingat bulu di tubuhnya yang bertumbuh di luar kendali seperti itu. Yah, tidak berbeda jauh dengan peserta lain yang melabeli dirinya sebagai Salvatore.

Si pria berbulu itu menjelaskan bahwa ia telah melakukan sesuatu pada sistem yang diciptakan oleh Thurqk. Di kerajaan Lait kami menyebut si berbulu, yang menyebut dirinya sebagai Nolan ini, sebagai Cracker. Persona yang bertanggung jawab atas kerusakan atau pencurian informasi dan ilmu pengetahuan.

Biar kusederhanakan untukmu. Intinya dia ini parasit di dalam sistem yang dibuat oleh Thurqk. Keberadaannya menyebabkan ketidakseimbangan di dalam sistem. Jika kau punya komputer, maka parasit seperti Nolan ini, akan segera kau hapus dengan antivirus. Namun bagaimana caranya kau menghapus parasit yang notabenenya adalah bakteri dengan antvirus? Sampai matipun kau tak akan bisa.

Seperti halnya kau yang sudah sangat percaya pada antivirusmu, Thurqk juga seperti itu. Ia terlalu sombong pada dirinya sendiri. Ia terlalu yakin bahwa sistem yang ia ciptakan serta antivirusnya tidak dapat dihancurkan atau dikalahkan. Hingga ia menciptakan Nolan. Si parasit yang tidak ia ketahui.

Di awal, si Parasit tidak melakukan apapun. Ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Karena itu, ia hanya mengikuti keinginan penciptanya. Takut dibumihanguskan. Sayangnya, ada yang dilupakan oleh sang Pencipta. Ia memberikan kekuatan untuk si Parasit mengembangbiakkan protein di otaknya. Sebuah kesalahan besar untuk si Tuhan Bodoh.

Kini si Parasit sedang mengumpulkan kekuatan menggunakan otak pemberian sang Tuhan. Menghasut. Mendikte. Memberikan harapan pada entitas-entitas yang putus asa. Persuasif.

Seperti dirimu, mereka yang mendengar juga sama. Otak mereka masih primitif. Sebagian memilih setuju. Sebagian lagi tidak. Ada juga yang mencari jalan tengah. Setiap mereka memilih berdasarkan keuntungan yang kelak akan mereka terima. Tidak terkecuali... aku.

* * *

Tepi Danau Toba, pukul 12.00 wib

“Adong dang hepengmu, abang?” ucap seorang nenek berbaju kumal yang berjongkok di tepi jalan lintas Sumatera itu. Di kepalanya terlilit sehelai kain panjang sementara giginya tak henti mengunyah sirih.

“Dang hadong lai kepengku, opung! Au dang karejo dope!” ucapnya sambil mengharap mendapatkan roti yang sedang digenggamnya. Perutnya lapar. Ia sudah susah payah mewujudkan diri sebagai manusia untuk menghilangkan laparnya.

“BAH, kau mangido roti, tapi dang hadongna hepengmu?” si nenek menatap heran pada sang pemuda.

“Iya, opung.” Ia kembali mengelus perutnya yang lapar. Tak ia sangka, ia, si pangeran dari tanah Batak, akhirnya harus meminta-minta seperti ini. Padahal, ayahnya mengajarkan untuk selalu  memegang prinsip “ Humarajor mabola hudonna, humalaput tata indahanna”. Tak boleh ada satupun dalam hidupnya yang instan.

“Ambillah. Manoring buatmu!” ucap si Opung tetap sambil mengunyah sirih. Iya tak tahu bahwa yang baru saja bercakap-cakap dengannya adalah hantu dari pangeran terkenal, Manggale.

* * *

“Ih, ini bau apa?” ucapnya sambil mengibas-ngibas tangannya ke udara. Bau jengkol menguar dan membahana di sekelilingnya.

Ialah Carol Lidell, si gadis imut pecinta buku yang terjebak di sebuah kota yang hanya ia kenali dari buku yang ia baca. Danau Toba. Sebuah danau yang menjadi legenda atas kedahsyatan letusannya. Danau yang terbentuk akibat letusan yang terjadi lebih dari 73.000 tahun yang lalu.

Di tangannya tergenggam sebuah buku. Buku yang menandai sejarah dari terbentuknya danau ini. Dan betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan pada dunia. Toba Mengubah Dunia.

“Buku yang bagus.” Komentarnya sambil memakan jengkol sambel yang di ambilnya dari salah satu warung sebagai cemilan. Ia tak tahu betapa beracunnya jengkol yang tidak dimakan dengan nasi.

* * *

“TIDAAAKKKKK... jauhi aku!! Jauhi akuuu!!!”

Tak ada satupun orang yang menanggapinya.

“Jangan!! Jangan Dekat-dekat! Kalau tidak! Kalian akan... akan...”

Belum selesai kalimat itu ia ucapkan, satu sentuhan. Hanya dengan satu sentuhan, satu orang menghilang (lagi) dari hadapannya. Seperti Haruna.

“Tidak... ja-jangan dekati aku... Jangan...” ia menangis. Berteriak. Meminta. Putus asa. Tapi tetap tak ada yang memberikan balasan. Tak ada yang mendengar. Tak ada. Tidak pernah ada. Tidak seperti void yang tak pernah diharapkannya ada. Ia, Noumi Shu, bahkan tak pernah mengharapkan lahir di dunia. Tidak sebelum...

“Aku ada di sini bersamamu, Noumi.” Ucap gadis itu padanya. Suara yang ia kenali. Ia bahkan rela memberikan apapun yang ia miliki demi gadis ini. Haruna.

* * *

“Nenekku pernah berkata...” teriaknya, “sebelum buang air kecil..” kakinya sudah meliuk-liuk menahan keinginannya untuk,

“Ahhh... persetan dengan nenek! Aku ingin buang air kecil!”

Rex, ksatria berpedang tak terlihat yang... err.. mari kita abaikan dia.

* * *

“Eza... kita ada di mana, menurutmu?”

“Di kampung halamanaku, Tuan Kara!” ucap harimau itu dengan wajah yang sangat bahagia.

“Apa maksudmu?”

“Kita sedang berada di Sumatera. Kampung halaman dari Harimau.”

Begitulah. Eza membawa tuannya berkeliling melalui udara melintasi danau toba. Mengenang kembali kehidupannya di kota ini sebelum diburu dan dibunuh. Ya... begitulah ia diciptakan akhirnya oleh Eza. Begitulah latar belakangnya. Apa lagi yang dapat dilakukan seekor hewan khayalan sepertinya?

* * *

Begitulah mereka kini terjebak di sebuah daerah bernama Toba. Daerah yang terkenal di seluruh alam semesta akan kedahsyatannya dalam mengubah iklim dunia. Tujuan mereka hanya satu. Membunuh satu target peserta. SilentSilia. Si Gadis Tanpa Mulut.

Demi kembali ke dunia asal yang dijanjikan oleh Thurqk. Dewa (yang katanya memimpin) seluruh alam.

* * *

“Ahh.... Lega!”

Ia keluar dari dalam salah satu kamar mandi. Dengan segera ia memasang kembali baju zirah bagian bawahnya. Menutup setiap kemungkinan titik lemah yang ada di sana. Ia harus bergegas. Ia harus membunuh gadis itu.

Si gadis cantik tanpa mulut.

Ia harus hidup. Hanya dengan cara itu ia dapat menyelamatkan kerajaannya dari kekejaman tangan Thurqk.

“Mau kemana kau tuan?” Sayangnya, tak semudah itu. Seorang pemuda dengan kemeja putih polos menghadangnya.

“Hei anak muda! Aku tak punya urusan denganmu. Jadi enyahlah kau dari hadapanku!”

“Ha ha ha. Kau sudah menyiksa Haruna! Maka dari itu kau yang harus kuenyahkan!” Pemuda itu menggerakkan satu tangannya ke arah bahu Pria berzirah. Meleset.

“KAU APAKAN ZIRAHKU, SIALAN!!” Tangannya mengepal. Dengan emosi yang membuncah ia layangkan satu tinjunya pada si Pemuda.

Ia tersenyum pada Si Pria Berzirah sebelum menangkap lengannya.

“Kau tidak membutuhkannya tuan!”

Dengan gerakan cepat ia putar tangannya memilintir tangan yang ia genggam.

“Arrggghhhh....” teriak si baju zirah.

“Nothing can’t be turned to nothingness.” Rapalnya.

Wussshhhhh.... pria berzirah pun menghilang seketika.

“Ini semua untukmu, Haruna!” bisiknya sebelum meninggalkan kamar mandi itu dalam kehampaan.

[Lihat! Tuhan tak menolong hambanya yang baik. Bukankah si Zirah berniat baik? Mengapa ia dihilangkan?]

* * *
“Ise goarmu, nona?” Manggale menatap terpesona pada seorang pemudi yang tengah menatapnya.

[A-ahu... butet, abang.]

“Butet? Ise?” Ia mendekati gadis itu dengan perlahan. Belum pernah ia menjumpai gadis secantik ini. Baik di Jagatha Vadhi, maupun di sini, di Danau Toba.

Wajah gadis itu tampak memerah. Rambutnya hitam legam berkilau. Matanya bulat. Dan rambutnya yang panjang sungguh mempesona matanya.

[A-hu paribanmu Abang. Ahu oroanmu, bang Gale.]

Ia makin terpesona. Calon istri. Butet. Sudah lama sekali ia tak melihat wajah gadis yang disiapkan ayah untuknya itu. Sejak penyakit itu merenggut hidupnya, ia tak lagi pernah mencari tahu tentang Butet. Bertemu saja tak pernah.

Kini di alam kematian. Ia bertemu. Bertemu dengan gadis yang seharusnya ia nikahi. Yang seharusnya menjadi permaisuri kerajaan Batak. Yang seharusnya memimpin dan menemaninya. Layaknya bulan yang memeluk matahari. Seimbang dan selaras.

“Adong hapa ahu menemui abang, dik?”

Ia sudah terlupa. Ia lupa ciri utama dari gadis yang hendak ia bunuh. Padahal janji Thurqk padanya sangat indah, menghidupkannya kembali. Mempertemukannya dengan ayahnya. Membiarkan ia membahagiakan ayahnya yang selalu bersedih kala mengingatnya.

[Ahu sombu tu ho, abang.]

Sombu. Rindu. Kata itu membuat Gale tak memperhatikan rambut yang bergerak-gerak menulis kalimat demi kalimat di atas kepala gadis itu. Pelukan dari gadis itu membuatnya lupa. Lupa pada segala hal. Gale melepas boneka kayu dari genggamannya. Ingin memeluk balik gadisnya yang menangis itu.

“Ahu ndang lao, dape! Pos rohami tu ho, holongku!” ucapnya mesra sebelum sebuah tangan menyentuh punggungnya. Dalam hitungan detik, ia menghilang.

“Kau tak berhak memeluk, Harunaku! Apalagi membuatnya menangis seperti ini!” ucap sang pemilik tangan yang menyentuh punggung Gale sebelum meninggalkan boneka kayu bersama sang Haruna.

Tinggalah si boneka yang tak tahu apa-apa itu, sendiri. Tanpa penghuninya.

[Lihat. Jika Tuhan ada. Tak seharusnya Ia bodoh. Satu pelukan saja sudah membuat ciptaannya terlena. Mengapa ia menciptakan kebodohan pada makhluknya?]

* * *

“Tuan, kita harus kemana lagi? Aku tak menemukan gadis itu dimanapun!”

“Gunakan otakmu, Eza!”

Mereka memang selalu seperti itu. Bertengkar. Sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Persahabatan yang aneh memang. Tapi begitulah mereka. Menikmatinya.
[Kalian mencariku?]

Mereka terkejut menatap gadis itu. Ciri-cirinya tepat. Berbaju hitam. Berambut panjang. Tak memiliki mulut. Berbando Lotus. Bisa terbang.

“Itu dia, Za!! Itu dia!!”

“Yaelah, tuan! Gue Juga Tahu itu Sil! Sekarang kita harus ngapain??” ucap sang Harimau malas-malasan. Tuannya ini memang agak lambat dalam berpikir.

“Bom! Kita butuh Bazooka!!” Teriaknya sambil meraba bajunya dan mengeluarkan Bazooka dari sana. Dengan satu tekan tombol. Duarrrr.... Bazooka itupun melesat menuju si Gadis Tanpa Mulut.

“Kita berhasil Zaaa... kita berhasil!! Thurqk pasti akan menjadikan dunia mimpi kita NYATA. Hanya ada kita! Kau, aku dan Redina. Hanya KITA!”

[Anak muda yang malang! Ia mengiginkan perhatian, ia mengiginkan kasih sayang. Ia menginginkan cinta. Tapi yang ia dapat hanya penolakan!]

Tanpa mereka sadari gadis itu sudah terbang ke belakangnya. Mencekik leher yang terbuka lebar. Menggunakan Silianya yang panjang. Menghisap cairan yang ada di dalam tubuh kedua makhluk itu. Seolah ia sedang makan buah Rachta.

Seperti buah Rachta pula, ketika sarinya sudah hilang, Ia tinggal membuangnya. Mudah. Sederhana.

[Lihat! Di mana Tuhan? Jika Dia ada, Ia tak mungkin mengabaikan makhluknya. Kasihan kau terabaikan seperti ini!]

* * *


“Ahh siall.... Kenapa bau mulutku seperti ini?!”

Gadis itu berulang kali menyikat giginya. Efek jengkol yang ia makan begitu kuat. Sangat kuat hingga ia sendiri tak tahan dengan baunya.

“Padahal rasanya sangat enak. Kenapa harus bau?! Kalau seperti ini bagaimana aku akan membunuh gadis itu?!”

“Cantik-cantik, tapi punya mulut bau! Kau sangat menjijikkan!” Entah darimana asalnya, seorang pemuda muncul dibelakangnya.

“Tutup mulutmu! Kau tak tahu rasa makanan itu sangat enak. Lagipula kau tidak tahukan bahwa Jengkol itu memiliki protein yang sangat tinggi. Itu akan membantuku untuk menjadi tinggi!” Carol, si gadis dengan bau mulut itu akan kembali melanjutkan kegiatannya menggosok gigi sebelum akhirnya ia berbalik, “Siapa kau?”

“Noumi Shu.”

“Sedang apa kau di sini?” matanya menatap heran. Tubuhnya langsung siaga dan memegang erat bukunya. Berjaga jika terjadi sesuatu yang berbahaya, ia bisa langsung membela diri.

“Daripada itu, kau mau kubantu menyikat gigi?” dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi ia mendekati Carol. Gadis itu panik, perlahan ia mundur. Dengan satu tangan Carol mencoba memindahkan tubuh pemuda itu ke samping dan berhasil!

Pemuda itu terlempar ke belakang dan membentur dinding. Carol baru akan senang ketika dilihatnya ada sejumput rambut yang bergerak ke arahnya. Apa itu?

Dengan sekali gerak, rambut itu membungkus tubuhnya dan mengentaknya ke dinding dua kali.

“Aarrrgghhhh....” Hentakan itu begitu kuat hingga rasa sakitnya sangat terasa.  Rambut itu melepas jeratannya. “ugh... kau.. uhuk... kau... SilentSilia.”

“Bukan!! Dia Haruna! Dia bukan gadis yang harus kubunuh!” ucap Noumi. Menatap pada Carol yang terkapar di lantai.

“Shu!! Dia.. ugh.. Sil! Dia.. ugh... tak punya.. ugh.. mulut! Dia punya ... uhuk..rambut yang dapat memanjang! Dia berbaju hitam dan berbando Lotus! Dia Sil!” ucapnya sambil memegangi dinding di sampingnya. Mencoba berdiri.

“Tidak! Dia Haruna! Tadi dia berbicara! Dia punya mulut! Dia Ha...” Noumi terdiam ketika menatap ke arah gadis yang tadinya ia sangka Haruna.

[ups... ketahuan!]

..adalah kalimat yang ia baca pertama kali.

“Tidak!! Tidak... Tidak Mungkin! Dia Harusnya Haruna!! Dia Haruna!! Harusnya dia Harunaa!!!! Kau!! KEPARATTT!!!!”

Noumi berlari ke arah si Gadis Tanpa Mulut. Rasa marah, emosi, kesal dan frustasi karena merasa dibodohi membuatnya menyerang tanpa pikir panjang.

“KAU HARUS MATI!!!! KAU MEMBUATKU MEMBUNUH ORANG TAK BERSALAH!!”

* * *


Noumi terhenti ketika jemari Sil menempelkan sesuatu pada pelipisnya. Lotus. Kuning. Cukup untuk mengulur waktu. Setidaknya sampai si kecil ini terbunuh. Carol Lidell.

[Jadi, kau Carol Lidell, anak kecil yang jenius.]
[Yang bisa memunculkan sesuatu dari dalam buku.]
[Lucu sekali.]
[Wajahmu imut begitu.]

“Aku bukan anak kecil!”

[Dengan tinggimu, siapa yang percaya kau bukan anak kecil?]
[Ah, Aku tahu, pasti Thurqk.]
[Malang sekali nasibmu, nona manis!]

<Kenapa dia bisa tahu! Tidak pasti ada orang lain yang mengakui bahwa aku bukan anak kecil!>

“Tinggimu juga tak beda denganku, pendek!”
[Aku tak merasa sedih tuh!]
[Aku memang dibuat dengan tubuh pendek.]
[Agar aku bisa terbang!]
[Lihat!]

Sil melayangkan tubuhnya. Dengan ringan ia melayang.

“HARUNAAA.... Tidakkk.. kau.. kau tak boleh menghilang!! Jangan!!!”

Teriakan tiba-tiba itu mengalihkan perhatian Sil dan Carol.

[Kau berisik sekali Noumi!]
[Sepertinya lebih baik jika kau yang duluan.]

Silianya bergerak cepat ke arah Shu. Menghisap sarinya. Seperti saat ia menghisap buah Rachta, Kara dan Erza.

“AARHGGHH tidakkk!! Jangan!! Jangan lakukan itu!” Dengan sisa tenaganya Carol membanting tubuh Sil dengan telekinesisnya. “Jangan lakukan itu di depanku!”

[Ternyata kau masih punya tenaga!]

Dengan Silianya, Sil mengangkat Noumi dan Carol. Carol berusaha melawan dengan telekinesisnya. Menghalangi silia-silia yang mendekat. Tanpa ia sadari, Shu tinggal tulang berbalut kulit.

Sil menarik kembali Silianya dan melempar Shu ke arah Carol.

“Ahhhh...” teriakan Carol melengking menatap tubuh Shu yang sudah tak bernyawa.

[Tinggal satu.]
[Setelah ini, aku akan bermain-main dengan Informasi yang dimiliki Nolan.]

“Kau... Ja-jangan mendekat!” Carol menatap ngeri pada Sil yang bergerak mendekatinya. “Tetap di situ!! Jangan mendekat!”

Sil, melilitkan Silianya pada leher Carol. Carol tak dapat fokus pada telekinesisnya. Ia meraba kantongnya, melempari Sil dengan berbagai buku.

“Arrgghhh.....” teriaknya ketika lilitan itu semakin keras di lehernya. Dan dengans atu sentakan dari Silia, Carol menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah membiru.

* * *

Oh... Tak kusangka Aji kawastram dari Tuan Anataboga cukup sempurna. Perubahan wujud yang bagus dan sempurna. Setidaknya untuk mengelabui si Shu.

Sebbenarnya aku tak ingin membunuh Carol. Ah Tapi apa daya. Bahkan dia yang mencintai ilmu pengetahuan dan jenius saja, bisa dicuci otaknya oleh Thurqk. Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan dahulu kepada Carl. Sebelum dia berbuat lebih jauh, lebih baik aku membunuhnya, bukan?

Lihat betapa bodohnya dia? Tuhan macam apa yang memberikan makhluknya kemampuan mengerikan seperti itu tanpa memberi tahu cara menggunakannya? Shu yang malang. Ia harus merasa kehilangan orang terkasihnya.

Oh iya.. sampai di mana tadi? Tentang Dewa. Bagaimana? Kau masih percaya pada Dewa? Masih butuh penjelasan?

Aku? Sudah jelas tidak. Ingatanku sudah kembali. Aku sudah ingat bagaimana kejamnya Dewa Konyol itu membuat Carl membunuh keluargaku hanya karena kemampuan kami. Kemampuan yang tak ia ciptakan. Kemampuan yang ia sebut anomali.

Kau merasa aku berbeda? Ya.. aku bukan lagi Sil yang polos. Setelah ini, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak memilih Nolan, tak pula memilih Thurqk. Aku hanya akan mengambil keuntungan dari mereka. Toh, kemenangan akan berpihak pada yang punya ilmu pengetahuan yang berlebih bukan.

Kita lihat, siapa yang akan tertawa pada akhirnya, Nolan, Thurqk, atau..... AKU!

* * *

- End -


Karakter yang terlibat :
1.       Rex
2.       Carol Lidell
3.       Noumi Shu
4.       Andhika Karang
5.       Manggale (Setting tempat ada di dunia Manggale)

13 comments:

  1. Saya agak nggak sreg sama masukin komedi di narasi serius. padahal ide karakter ngambil total narasi ini udah keren, sayang kok rusak gegara Rex dan Carol..


    6/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maafkan daku ilya..

      Rex sama Carol itu... *orz

      Delete
  2. [ups... ketahuan!]
    ^ best line dari Sil sampe saat ini :))
    .
    terasa buru-buru banget. dialognya jadi kerasa agak ga masuk ke ceritanya IMO dan parahnya lagi, kadang gw ga tahu ini sapa yang ngomong (dan ada momen bahkan gw ga tau apa yang terjadi orz).
    .
    karakterisasi: hummm, AFAIK sih Noumi ga begitu sifatnya. dia lebih pemalu dan penakut. tapi OOC IMO sangat diampuni di R5 ini karena gw bisa asumsi: mereka cuma AI yang diberi memori karakter. Memori ga selalu menjadi karakter dan karenanya it's ok to make them like this.
    .
    Albeit, ini dikerjain mepet deadline banget kan? kalo ga salah denger 6 jam sebelum deadline. gw apresiasi itu, karenanya, inilah skor gw buat Sil R5

    well: nilai 8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. orz....

      emang umi harus nulis dari jauh-jauh hari. X( wkwkwk kayaknya bukan ga salah denger kak, itu yang emang terjadi XD *btw, plotnya pun bergeser kok XD

      berarti dari lima, yang terasa benar-benar OOC si noumi ya *noted

      Delete
  3. Saya ngebaca ini serasa baca entri r3 Sil lagi - singkat dan tiba" aja udah selesai. Bagusnya, di sini ada momen eksperimen buat bikin pov1 sil (meski ternyata ga penuh karena balik ke pov3 lagi for the convenience of moving the story) dan beberapa momen komedik waktu ngehadepin lawan. Sayangnya saya jadi ngerasa ada yang hilang, mungkin sebuah kesinambungan, yang rasanya bikin canon Sil ini kurang kuat di mata saya.

    ReplyDelete
  4. Manggale : Mamak! Aku pulang!
    Cheril : Wogh! Ini di Indonesia! :D
    Leon : Indonesia yang masih asri. Aku jadi rindu. Saking bahagianya, boleh Neng Cheril Om peluk?
    Cheril : Nooo----!!
    ..
    Leon : Kalau gitu aku coba gombalin Neng Sil aja. *nyamperin SilentSilia*
    Sil : [Apa?]
    Leon : Baguslah si eneng punya ajian Kawastram. Soalnya kalo tanpa mulut begini, gimana Om bisa kasih kissu-kissu ke si Neng? <3
    *lalu Leon dijerat dengan silia dan diceburkan ke danau Toba*
    ...
    Rex : Neneeek! Mengapa aku di sini ... tampak memalukan?
    Nema : Ih, jangan dekat-dekat kita. Jorok.
    Zany : Udah cebok dan cuci tangan, belum? XD
    ...
    Ursario : Narasinya ini ... menghinaku, bura?! *ngokang senapan*
    Reeh : Sabar, Tuan. *meniupkan angin penyejuk* Ini istilahnya adalah--
    Elle : Troll, nom. Troll itu besar dan kuat, bikin kesel nom~
    ...
    Yvika : Next!

    ReplyDelete
  5. Lol... Ada dialog bataknya... Narasinya nikmat, pertarungannya cepet. Hmm, nilai berapa ya... Kayaknya harus ngeluarin desimal.

    7,5

    ReplyDelete
  6. kenapa lawannya satu-satu.
    kenapa begitu cepat.
    kenapa translator universalnya mati? PASTI ULAH BAHASA PRANCIS COLLETE!

    tapi semua diatas ketolong sama pov sil kali ini, karena berasa ada keinginan dan motivasi... mungkin kalau pakai PoV 3 pengamat, ini Entry ada dibawah Deismo.

    Catatan: saya ngasih nilainya berdasarkan urutan Favor
    Nilai Anda
    ursario - 9
    claudia - 8.7
    Nurin - 8.4
    Yvika - 8.1
    Sjena - 7.8
    Sil - 7.5
    Stalza - 7.2
    Lazu - 6.9
    Salvatore - 6.6
    deismo - 6.3

    ReplyDelete
  7. Hm, mulai dari judul dan kutipannya dulu ya, Mi. Sekedar masukan, di keduanya ada sedikit grammatical error. Suka di bagian awal tentang bagaimana narasi Sil yang menyampaikan paparan filosofis terkait dengan judulnya. Di sini Sil jadi berasa lebih slengean, dan jaded alias udah kapok sama yang namanya tuhan-tuhanan. Sampe narasi Sil yangmenanggapi dan menjelaskan kata-kata Nolan itu udah enak bacanya.

    Tapi semuanya berubah saat kemunculan para karakter dan "hilang'-nya para karakter yang - seperti yang lain bilang - cepat banget. Terutama di battle dengan Carol yang dihabisin dengan cekikan.Sayah kira Carol bakalan lebih cerewet membicarakan tentang buku Eibon atau semacamnya sambil berusaha melakukan perlawanan dengan kemampuannya yang macam2. Sisi plusnya, secara keseluruhan perkembangan Sil ke arah watak yang lebih tak acuh jadi cukup menarik, terutama di narasi awal dan akhirnya.

    Verdict: 7

    ReplyDelete
  8. uwaa, sil jd tlalu imba, dan kejam juga x3
    lbh suka sama pov3 sih krn kejamnya sil jd g kliatan #plok
    g ngerti jg sama bahasa bataknya
    tp penggambaran emosi sil d akhir lumayan bagus kak, jd kyk plot twist :)
    nilai 8

    ReplyDelete
  9. "Kau boleh juga, gadis tak bermulut. Sebaiknya kau bunuh saja si Ummi, dia juga makhluk primitif yang bodoh bukan?"

    Ssst, Zany. Jangan memprovokasi!

    Oke, hebat ya kak Ummi, dalam sisa waktu 6 jam bisa ngebut seperti ini. Tapi karena pace-nya cepet banget, jadi ada beberapa yang lost deh, terutama dari karakteristik dan battle-nya. Untung ketutup sama pov1 si Sil yang keren, Zany juga suka.

    8/10

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -