April 29, 2014

[SIDESTORY] THE GOD'S WILL POWER

BATTLE OF REALMS 4: AFTERLIFE

“The God’s Will Power”
Written by Glen Tripollo (Field Cat)

---

Pintu raksasa di belakang Nolan kembali terbuka. Sesosok Hvyt dengan corak garis-garis hitam dengan pola berbeda dari yang biasa dilihat bersama dengan Thurqk pun masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang lebar-lebar.

“Ada apa?” tanya Nolan sebal. Hvyt memandang Nolan dengan ekspresi datar.

“Pesan dari Dewa. Kirimkan gambar langsung di halaman kastil Devasche Vadhi ke tempat penampungan Jagatha Vadhi dan Cachani Vadhi,” kata Hvyt kaku.

Nolan membetulkan posisi kacamatanya yang retak seraya menghela napas. “Apa lagi yang hendak orang gila itu lakukan.”

“Dewa melarangku untuk melukai Anda. Sekalipun aku ingin sekali melukaimu atas perkataan kasarmu kepadanya,” ujar Hvyt.

“Oh, ya? Kenapa tidak kaulanggar saja perintahnya dan bunuh aku sekarang?”

“Tidak bisa. Aku memang tidak boleh melakukannya. Tapi, Dewa juga berpesan bila Anda bersikeras, aku akan turun ke dunia dan membunuh sanak saudara Anda.”

“Sialan!” kata Nolan dalam hati, namun segera mengucapkan kata-kata sakti dalam bahasa Arab ketika menyadari perkataan kasarnya. Nolan menatap monitor raksasa di depannya, kemudian menekan salah satu tombol pada keyboard.

Sekejap monitor raksasa itu menampilkan keadaan di halaman Devasche Vadhi. “Kadang-kadang aku berpikir. Kalian itu terbuat dari apa. Tak kusangka aku bisa mengoneksikan jaringan ke masing-masing kalian dengan IP Address dan mengubah fungsi mata menjadi kamera.”

“Itu adalah kemampuan yang dimiliki Dewa Thurqk. Dia berkehendak dan bisa menciptakan apa pun yang dia inginkan,” jelas Hvyt.

“Kalau memang begitu. Kenapa dia membutuhkan aku untuk melakukan semua ini?” tanya Nolan lebih kepada pikirannya sendiri. Jemarinya dengan cekatan menekan-nekan tombol pada keyboard. Tampilan monitor terbelah oleh dua gambar digital yang lebih kecil dari gambar utama. Masing-masing menayangkan keadaan di Jagatha dan Cachani Vadhi.

“Dewa tidak mengerti teknologi,” kata Hvyt.

“Apa?” Nolan tersentak kaget. “Oh, kurasa masuk akal. Berhubung dia terus mengakui sebagai pencipta otak cerdas, tapi bukan dia yang menciptakan teknologi. Tipe pintar-pintar bodoh.”

Terdengar suara Hvyt yang menggeram seolah mulai kehabisan sabar.

“Katakan padanya, seluruh kejadian sudah berhasil ditayangkan ke tempat penampungan,” kata Nolan akhirnya. Hvyt menghela napas menahan emosi, mengangguk tegas, dan kemudian mundur perlahan meninggalkan ruangan.

Nolan menatap monitornya dan memandang lekat-lekat pada sosok Thurqk yang berjalan di halaman Devasche Vadhi. Suatu hal yang tak biasa melihatnya berjalan keluar kastil. Namun, kamera bergerak menyorot ke langit merah Nanthara. Kurang lebih sebelas Hvyt datang dengan cepat dan mendarat mulus di hadapan Thurqk. Masing-masing mereka membawa peserta pertarungan, para makhluk yang dulunya hidup di dunia dan kini hanya menjadi sekedar boneka bagi Thurqk.

Keringat mengalir dari pori-pori di kening Nolan. Tangannya mengepal kuat. “Sebelas orang … mereka sebelas orang yang dimaksud Thurqk telah membuatnya kecewa.”

Nolan memukul meja kerjanya sekuat tenaga dan kembali mengucapkan kata-kata saktinya. “Apa … apa yang akan dilakukan Thurqk kepada mereka?!”

Dilihatnya Thurqk menatap ke arah kamera, pandangannya tajam mengarah pada Nolan yang sedang menyaksikannya. Sesaat kemudian senyuman jahat tergambar jelas di wajahnya. Nolan membetulkan kacamatanya dengan gugup.

“Saksikanlah, wahai makhlukku!” suara Thurqk menggelegar. Rambut panjangnya berayun terkena hembusan angin, kedua tangannya membentang menunjukkan kebanggaan dirinya yang luar biasa. Kebanggaan dirinya sebagai sang pencipta, “di sini, Devasche Vadhi, aku akan memberikan peringatan nyata kepada kalian semua yang menyaksikannya.”

Nolan menelan ludah.

Dengan satu ayunan tangan Thurqk, para Hvyt mengangguk dan melepaskan para makhluk yang masing-masing mereka bawa. Sebelas orang yang telah dipilih oleh Thurqk untuk menghadap.

“Nah, sekarang, berlututlah kalian di hadapanku! Sembah aku! Buktikan loyalitasmu sebagai makhluk ciptaanku!”

Kulit merah Thurqk terlihat menyala. Menunjukkan emosi yang saat ini sedang dirasakannya terhadap kesebelas orang yang ada di hadapannya.

“Aku tidak akan pernah mau menyembahmu! Kau bukanlah dewaku!” bentak seorang pria muda yang memakai slayer hitam untuk menutupi setengah bagian wajahnya. Tato bergambar revolver terlihat jelas di dada kanannya.

“Alvin Dzekov …,” gumam Thurqk dengan nada lembut yang sangat dibuat-buat. “kemarilah, Nak!”

“Tidak mau!”

“Hoo, tak ada yang bisa menolak perintahku,” senyum Thurqk seraya menggerakan jari telunjuknya. Alvin pun melayang-layang di udara.

“Le-lepaskan aku, Keparat!”

“Berhentilah bicara kotor, anak muda!”

“Uaaaaaaarrrgghhh!!!!! Uummphh!!” terdengar bunyi-bunyian menjijikan seperti daging yang terlepas dari tulangnya. Air mata kesakitan mengalir deras dari kedua rongga matanya. Slayer yang dikenakannya terhempas, sekaligus juga dengan mulutnya.

“Kau tidak membutuhkan mulut,” kata Thurqk datar. “Ada lagi yang berani menentang—“

Belum selesai Thurqk menyelesaikan perkataannya, seorang perempuan berambut putih berlari menerjang Thurqk dengan sebilah katana di genggamannya.

Thurqk melempar Alvin ke tanah, membiarkannya menggelepar kesakitan. Sementara ia bergeming saat perempuan itu berhasil menghujamkan katananya ke tubuh merah Thurqk.

Nolan yang menatap kejadian itu terbelalak dan beranjak bangkit dari tempat duduknya.

“Hahahahaha …,” tawa Thurqk. “Celestia Hang. Begitu berani.”

“Kyaaaaaaaahhh!!!” teriak Cel saat menyadari kedua tangannya sudah tak ada.

“Katanamu, hanya cocok untuk memenggal kepala ayam,” bisik Thurqk.

Sesuatu bergolak di dalam perut Nolan, membuatnya ingin muntah. “Ku-kurang ajar, Thurqk …!”

Jemari Nolan bergetar hebat di atas ssalah satu tombol keyboard, hendak menghentikan tayangan langsung itu. Namun sesuatu yang lebih besar menahan dirinya melakukan itu.

Nolan menatap monitor yang lebih kecil, yang menampakkan keadaan di Jagatha Vadhi dan juga Cachani Vadhi. Semua orang terbelalak tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

“Aku ingin memusnahkan kalian, tapi aku juga merasa sayang,” kata Thurqk lagi. “Kalian makhluk ciptaanku yang terburuk. Tidak mampu memberiku hiburan yang cukup!”

Salah seorang perempuan berambut coklat bangkit berdiri. Dia adalah Cherilya Janette. Diikuti oleh yang lainnya. Volatile membetulkan kacamatanya dengan tangan gemetar. Quin Sigra menatap Thurqk dengan galak dari balik topengnya. Anette dan Marion bersiaga. Bola-bola hitam melayang-layang di udara bebas.

“Hoo, kalian semua sepakat untuk menentangku?” tanya Thurqk tanpa ekspresi.

Kolator berjalan dengan gagah ke barisan depan. Hvyt bersiaga hendak menyerangnya. Namun, Thurqk memberikan isyarat untuk diam di tempat mereka. Tak mau kalah, Scarlet pun berdiri di samping Kolator, lengkap dengan chain axe di tangannya.

Thurqk menghela napas kecewa.

“Sungguh menyedihkan. Menciptakan makhluk gagal tak tahu diri seperti kalian. Aku yang memberimu kehidupan, tapi apa yang kudapat? Kalian menyangsikan kebenaran bahwa akulah TUHAN!”

Suara membahana Thurqk tidak lagi membuat mereka mundur.

Nolan menelan ludah, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentu saja dia berharap salah satu dari mereka mampu mengalahkan Thurqk dan memberinya pelajaran. Harus ada yang membuktikan bahwa Thurqk bukanlah dewa yang sebenarnya.

“Bila satu orang saja mampu membuatnya terluka. Sudah dipastikan, dia bukanlah dewa seperti yang selama ini dikatakannya,” gumam Nolan dalam hati.
Thurqk menatap galak kesembilan orang di hadapannya. “Baiklah, perubahan rencana. Tak ada lagi yang bisa kulakukan, kalian hanya akan membuatku tambah bosan.”

Kolator dan Scarlet menyerang Thurqk secara bersamaan. Di belakang mereka Marion melancarkan serangan menggunakan bola-bola hitamnya yang mendadak berubah menjadi sebilah pedang dan tameng kokoh. Cherilya dan Volatile pun tak mau kalah. Disusul Andhika bersama dengan harimau merahnya.

Thurqk bergeming seraya berkata, “Musnahlah. Kalian tak ada gunanya.”

Sedetik kemudian, ledakan pun terjadi. Semua orang yang menyerang Thurqk hancur berkeping-keping, membuyarkan isi perut dan tulang-tulang, membentuk serpihan yang bercampur dengan hujan darah.

“Biar kalian tahu, hukumannya bila berani menentang dewa,” kata Thurqk datar seraya menyeka percikan darah merah yang membasahi sebagian wajahnya.
Cel mundur perlahan hanya dengan menggunakan kedua kakinya yang tersisa. “Ja-ja-jangan!”

Thurqk mengarahkan telunjuknya ke kepala Cel, sedetik kemudian kepala itu meledak.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhh!!!” teriak Nolan. Matanya membelalak ngeri. “A-a-apa-apaan itu?” gejolak aneh muncul di dalam diri Nolan, membuat kedua lututnya mendadak lemas. “Tidak! Tidak! Tidak mungkin seperti itu! Tidak!”

Alvin merangkak dengan susah payah mendekati arah gerbang Devasche Vadhi.
“Sudahlah … tak ada gunanya kau menghindar, Bocah Nakal.”

Sekejap Alvin pun meledak dan hancur berkeping-keping.

Nolan menjatuhkan dirinya ke lantai. “Ti … tidak mungkin ….”

“Ini adalah peringatan bagi kalian semua, wahai makhlukku,” kata Thurqk. “Aku selalu menepati janjiku, hanya saja, jangan berani kalian menentangku karena sesungguhnya siksaku sangatlah pedih.”

Nolan memegangi dadanya dan memejamkan mata, berusaha menguatkan dirinya. “Dia bukan dewa. Dia bukan Tuhan ….”

“Satu dari kalian. Ya. Satu dari kalian yang berhasil bertahan hidup dan menghiburku dengan sungguh-sungguh. Akan kuhadiahkan kehidupan kedua,” Thurqk menutup perkataannya.

Dengan tangan gemetar hebat, Nolan mematikan tayangan langsung itu. Meninggalkan ekspresi wajah tegang dan ketakutan di wajah mereka yang berada di tempat penampungan. Tak ada pilihan bagi Nolan. Dia harus melakukan apa yang diinginkan oleh Thurqk. Dia tak bisa membiarkan sanak-saudaranya di dunia mati dibunuh oleh makhluk keji seperti Thurqk.

Nolan berusaha bangkit dan kembali duduk di atas kursinya. Menatap monitor sesaat dan kemudian berkata, “Akses seluruh tempat yang ada di Nanthara Island!”

“Permintaan sedang diproses.”

***



Share this article:

11 comments:

  1. Anonymous29/4/14 12:50

    Jahatnya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous29/4/14 12:52

      Cherilya never die

      Delete
  2. Saya kira saya akan melihat penyiksaan Nandi disini. Tapi lumayan deh ini :3

    ditunggu aksi-aksi sadisnya yang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adegan brutalnya kudu saya tekan sampai batasan tertentu karena khawatir yang baca dari berbagai umur. LOL.
      Bahkan ini aja saya masih ragu bisa cukup ditolerir atau nggak sama pembaca awam. >__<)//

      Delete
    2. Kurang brutal ah :3

      Delete
    3. Kurang yak? Ya udah jangan salahin saya kalo edisi berikutnya lebih kacau... :))

      Delete
  3. and thus, the punishment has been given. should the next torture will be sent or will the survivor succeed to give the god of fool a scar that he never got. No one knows and no one will knows as for every possibilities is controlled by the god of fool, the one who seek entertainment.

    does one remain, does one survive?

    Njiir, saya mrinding kalau kalah.

    ReplyDelete
  4. Wogh, Thurqk menggila.......
    Sadis........
    Tapi gak apa-apa, masih bagus~

    ReplyDelete
  5. Kurang sebenernya, tapi didepan anak kecil... ini... bener-bener mengerikan... Yang tabah ya Elle *PukPukElle

    ReplyDelete
  6. Th-Thurqk the Tormentor! DX

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -