Showing posts with label Round 3. Show all posts
Showing posts with label Round 3. Show all posts

June 23, 2014

[ROUND 3 - K4] NEMAPHILA - TUNAS KENANGAN, HARAPAN, KEPERCAYAAN, PENGHIANATAN


[Round 3-K4] Nemaphila vs Rex
"Tunas Kenangan, Harapan, Kepercayaan, Penghianatan"
Written by Redtailqueen 1550

---

Cahaya terang dan bunyi lantang memanggil kesadaran Nemaphila. Sambil mengerang wanita viridian itu mencoba bangkit. Dia tak merasakan apapun, tubuhnya memang tak bisa merasakan apapun, namun bunyi dentingan logam tak jauh darinya sangat mengganggunya. Dia bisa mendengar sosok asing sumber bunyi logam itu bergerak mendekatinya. Saat dia membuka mata, dia melihat wajah pria itu..
Panik. Nema sangat panik. Dia tak bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Dia terus bertanya-tanya, terus bertanya-tanya. Bingung. Heran. Bagaimana bisa pria itu ada di sini? Apakah mungkin.. Apakah mungkin pertarunganya di babak kedua tak cukup menghibur si dewa merah? Apakah ini siksaan baginya?
Wanita berkepala benih itu meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar, memejamkan matanya erat dan bergumam tanpa henti. Reaksinya itu justru membuat sosok pria asing bergerak mendekatinya, tampak mengkhawatirkanya. Dengan ragu pria itu menyentuh bahu Nema. Tindakan yang salah karena wanita viridian itu malah semakin menjerit.

[ROUND 3 - K16] DEISMO - MANDI BOLA KADANG MEMBUAT ORANG MENJADI GILA

[Round 3-K16] Deismo vs Ucup
"Mandi Bola Kadang Membuat Orang Menjadi Gila"

Written by Overlord Hall

---

Satu lagi ronde telah berlalu. Hvyt membawa Deismo kembali ke Cachani Vadhi untuk menunggu keputusan Thurqk. Satu-persatu peserta kembali dari lokasi pertarungannya dan menanti vonis mereka.

Walaupun semua peserta telah kembali, suasana Cachani Vadhi tetap sepi, tidak ada satupun dari mereka yang bicara satu sama lain. Wajar saja karena perasaan mereka bercampur antara kepasrahan dan keputusasaan.

Dibandingkan penghuni Jagatha Vadhi yang akan diberi kesempatan sekali lagi jika kurang menghibur, para penghuni Cachani Vadhi sama saperti sampah yang siap dilenyapkan kapan saja bila membuat sang dewa kejam bosan.

Setelah penantian yang panjang, kekhawatiran mereka lenyap begitu Hvyt menyeret beberapa peserta ke lapangan Devasche Vadhi untuk dieksekusi. Semua peserta Cachani Vadhi berkumpul di mana layar hologram telah disediakan untuk menayangkan eksekusi Thurqk.

Semuanya terjadi begitu cepat, Deismo dan peserta lainnya menyaksikan semua pembantaian keji Thurqk. Berbagai ekspresi terukir dari para penguni Cachani Vadhi, kemarahan, ketakutan, kebencian, dan berbagai perasaan negatif lainnya.

[ROUND 3 - K9] BARA SI TUMPARA - MENGETUK PINTU NERAKA

[Round 3-K9] Bara Tumpara vs Lazuardi
"Mengetuk Pintu Neraka"

Written by Hael Elliyas

---

"Kemana kita selanjutnya?" Bara berucap santai.
Ia tengah menunggangi sesosok entitas yang dikenal sebagai si sayap neraka, Hyvt. Bara mungil tepat duduk di atas punggung, di tengah antara kedua sayap Hyvt yang mengibas, mereka terbang.
"Setelah gurun panas yang amat luas, tempat berikutnya mungkin akan sangat sejuk dibandingkan itu." Ucap Hyvt sedikit tak bersahabat. Ditunggangi oleh seekor entrant, pikirnya, merasa merendahkan sosok ngeri sang sayap neraka. Membawa entrant ke tempat tujuan adalah tugas para Hyvt namun tak seperti ini caranya.
Penyebabnya penunggangan ini terjadi adalah lentera roh di kedua telinga Bara. Dua Lentera yang suci menyala-nyala itu akan menolak segala jenis benda yang hendak menyentuhnya sehingga mau tak mau, suka tak suka, Hyvt tak bisa menyeret Bara dari arah atas melainkan harus membuat Bara berada di atas dirinya.

June 22, 2014

[ROUND 3 - K7] EMILS - THOSE WHO WANTED TO CHANGE THEIR WORLD

[Round 3-K7] Emils vs Luna Aracellia
"Those Who Wanted To Change Their World
"
Written by Mocha H.

---

Intro

Langit merah terbentang di langit-langit sebuah ladang berumput kemerahan yang dibatasi lautan kemerahan pula. Serangga – serangga penghuni pulau itu merasa resah dan bersembunyi di balik rerumputan tinggi pulau itu.

Para Hvyt berterbangan membawa peserta turnamen kembali ke tempat peristirahatan mereka, Cacadha Vadhit.

Salah satu diantaranya adalah Slime biru kita, Emils. Hvyt menurunkan mahluk cair itu dengan perlahan sampai dia menyentuh tanah, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Emils merasa ganjil karena kali ini para Hvyt tidak melemparkan mahluk bertubuh cair yang pernah mengejek dewa mereka itu. Mungkin benar kata mereka bahwa salah satu Hvyt merusak kesenangan si dewa dengan mensabotase Emils di awal ronde kedua.

Emils mengumpulkan semua cairan tubuhnya, lalu membentuk tubuh manusianya. Namun, ada kejanggalan pada bentuknya hanya tubuh atasnya saja yang terbentuk, sedangkan tubuh bawahnya masih berupa gumpalan air.

[ROUND 3 - K12] NIM IMANUEL - INI BARU AWAL

[Round 3-K12] Nim Imanuel vs Flager Ivlin
"Ini Baru Awal"

Written by Yuu

---

"Bagaimana? Apa yang kau lihat tentangku di masa depan??"
Di atas bukit yang tak jauh dari kota, seorang gadis kecil tersenyum antusias pada bocah lelaki di depannya. Sore itu suasana terasa begitu hangat. Biasan cahaya jingga dari sang mentari terlihat begitu memukau dari sudut ini.
Si bocah lelaki tersenyum tipis. Diamatinya rambut merah si gadis kecil yang tengah dimainkan oleh angin, membuatnya tampak melambai dengan lembut.
"Nim~ jawablah!" desak si gadis kecil.
Si bocah lelaki, Nim, menghela napas. Ia benar-benar ragu untuk menjawabnya.
"Tidak lama lagi kau akan..."
...mati.
Lidah Nim mendadak kelu. Tidak mungkin ia mengatakannya segamblang itu. Haruskah ia mengatakan tentang takdir mengerikan itu? Mungkin saja setelah mengatakan hal itu, si gadis kecil akan membencinya karena telah mengatakan hal yang terdengar begitu konyol.

[ROUND 3 - K5] COLETTE REVES - NON, JE NE REGRETTE RIEN (NO, I DON’T FEEL SORRY ABOUT ANYTHING)

[Round 3-K5] Colette Reves vs Primo Trovare
"Non, Je Ne Regrette Rien (No, I Don't Feel Sorry About Anything)

Written by Adham T. Fusama

--- 

"Ladies and gentlemen, selamat datang di Cirques du Reves!"

Colette dapat mendengar suara papanya di tengah tenda utama, menyambut para penonton yang akan menyaksikan penampilan mereka semua. Colette dapat mendengar suara gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai. Tubuhnya dijalari antusiasme yang membuatnya merinding.

Suara yang dia rindukan. Suasana yang dia rindukan.

Colette memejamkan mata dan mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Tarik napas, embuskan, tarik lagi, tahan sebentar, embus lagi. Ya, dia siap. Dia sudah siap.

Moi harus bisa. Moi harus bisa. Moi bisa. Moi bisa. Moi harus menang. Moi harus bisa menang. Moi bisa menang.

Colette memberi sugesti positif pada dirinya sendiri. Dia tidak mau kalah lagi. Dia tidak mau menjadi orang lemah lagi. Selama ini dia berhasil bertahan karena ada orang lain yang membantu bahkan mengorbankan diri mereka untuk melindunginya. Dia tidak mau dilindungi lagi. Dia harus bisa melindungi diri sendiri bahkan orang lain.

[ROUND 3 - K10] SALVATORE JACKSON - DEADLINE CHOICE

[Round 3-K10] Salvatore Jackson vs Mayor Yvika Gunnhildr
"Deadline Choice"

Written by Dendi Lanjung

--- 

"I Have My Reason"

•••

Tiga menit sebelum akhir.

Sal merasakan tubuhnya melayang, turun semakin turun, tenggelam ke dasar ruangan yang hampir penuh terisi air. Darah mengalir deras dari perutnya, mengaburkan pemandangan dalam air yang semakin lama memerah. Monyet besar itu mulai kesulitan menahan nafas, dan kesulitan untuk menahan air memasuki mulutnya. Tapi mungkin saat ini percuma untuk mencoba bertahan, Sal tahu itu, toh dia sudah kalah.

Bukan salah lawannya, Sal tak mau menyalahkan wanita yang telah membuatnya terluka parah seperti itu. Si wanita, Yvika Gunnhildr, hanya melakukan apa yang menurut hatinya benar, wanita itu tidak salah.

Setelah menahan si wanita tentara selama lebih kurang dua puluh menit, wanita itu akhirnya mulai menunjukkan tekadnya yg besar untuk bertahan hidup. Sekali lagi ini bukan salah si wanita, ini hanya membuktikan bahwa tekad yang dimiliki Sal tidak lebih besar dari tekad lawan.

[ROUND 3 - K3] MBA IRWIN - SAVE THE GNOME, SAVE THE WORLD

[Round 3-K3] Mba Irwin vs Richella Elleanor
"Save The Gnome, Save the World"

Written by [Re.]

---

Ranjang empuk berhiaskan kelambu sutra.

Mba Irwin, si perempuan berambut pelangi, mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia memandang nmanar sekelilingnya. Sesekali ia menggelengkan kepala, mencoba mengambil kesadaran yang masih mengawang. Tapi usahanya tidak berbuah banyak. Suasana serba merah yang dilihatnya justru menimbulkan kegamangan.

"Ini di mana?"

Ranjang empuk bernodakan darah.

Mba Irwin tidak mengerti mengapa ada noda darah di seprai dekat pinggangnya. Ia beringsut ringan tapi seketika itu pula ia merasakan nyeri di perutnya. Ia mengangkat bajunya. Sebuah tulisan "THURQK" terpapar jelas di perutnya. Darah merah masih mengalir dari bekas luka tersebut.

Seketika itu juga kesadaran Mba terpanggil. Ia memeriksa sekujur tubuhnya, sesekali mengaduh kesakitan karena luka bakar di beberapa lokasi tubuhnya.

"Jadi... itu bukan mimpi..." bisik Mba saat mengingat kembali beberapa kejadian sebelumnya. Ia masih mengingat bertemu dengan Azraq, Lulu dan Tommy. Begitu juga dengan dewa merah yang memberi luka bakar di tubuhnya.

[ROUND 3 - K14] ALTAIR KILATIH - PUSAKA TIGA MASA

[Round 3-K14] Altair Kilatih vs Xabi Anger Metallici
"Pusaka Tiga Masa"

Written by Fusyana

---


Mata

Aku hanya ingin kau melewati ronde ini, Kilatih.

Kalimat itu muncul di sisi bawah penglihatan Kilat, sekitar satu jengkal dari matanya. Kilat hanya meraba udara kosong saat mencoba untuk meraihnya. Seolah telah terinput langsung ke dalam pupil matanya sehingga dia tak bisa menyentuhnya.

Nolan.

Begitulan penulis pesan itu menyebut dirinya. Kilat tak tahu siapa dia dan di mana dia berada. Dia juga tak tahu apa tujuan sosok misterius itu.

Yang pasti, sudah tiga kali ini tulisan Nolan muncul di mata Kilat sejak tiga menit terakhir. Huruf-huruf yang berjejer dengan teratur itu tidak terpaku di satu tempat, melainkan mengambang dan bergerak kemanapun Kilat mengalihkan pandangannya.

Kilat tahu seluruh sel di tubuhnya terikat dengan, atau digantikan sepenuhnya oleh bio-nanotech. Teknologi yang tertanam di dalamnya memang memungkinkan Kilat untuk memasuki secara paksa sebuah wireless network hanya dengan memikirkannya, jika saja dia mau menginstall modul khusus dari Unit Cyborg Hunter. Dia memang menggunakan fungsi psionic-network, atau psi-net, setiap saat ketika sedang mengatur tingkat kalibrasi gravitasi Katana Putih melalui insting dan kondisi mentalnya, tapi psi-net bersifat lokal dan dianggap sebagai satu ekosistem dengan teknologi internal bio-nanotech.


June 21, 2014

[ROUND 3 - K16] UCUP - BOLA BOLA, BOLA BOLA

[Round 3 - K16] Ucup vs Deismo
"Bola Bola, Bola Bola"

Written by Tamz Martaatmaja
---

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang...
Sayup-sayup Ucup mendengar sebuah nyanyian. Dan dia tahu suara siapa itu. Suara yang selama ini menemaninya di jalanan. 3 temannya yang dia sayangkan kini tak bisa melihatnya lagi. Dia berbalik hendak pergi ,meninggalkan mereka yang sedang bersenda gurau menunggu lampu merah. Tapi sesuatu yang mengagetkannya membuatnya terhenti.

"Ucup...!" Mereka bertiga memanggilnya.
Ucup terdiam.  Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia mendengar langkah cepat teman-temannya menghampirinya. Dan benar saja, kini dia telah dikelilingi oleh teman-temannya.

"Eh tingali, aya pembunuh!" ("Eh lihat, ada pembunuh!") 
Ucup terhenyak dikatakan pembunuh oleh temannya sendiri. 
Dia hendak mengelak, namun teman-temannya kini tertawa terbahak padanya sembari menunjuk dirinya.
"Hahahahahahaha pembunuh! Kecil-kecil kok pembunuh! Kita dong, ngamen. Ngehasilin duit. Bukan ngambil nyawa orang."
Ucup terpojok, dia hendak menangis. Dia semakin berjalan mundur hingga tubuhnya terpentok (terpentok? What the…?) dinding bangunan.
"Ibu…."

[ROUND 3 - K8] RAVELT TARDIGARDE - ROOM OF STEEL

[Round 3-K8] Ravelt Tardigarde vs Sjena Reinhilde
"Room of Steel"

Written by Harid Ziran
---

Prelude

—Sebentar lagi, kau harus memilih—

Angin semilir menerpa tubuh Ravelt, membelainya perlahan. Satu – persatu, kabut dan awan melewatinya, melambai. Pandangannya yang sendu menunjukkan kelelahan dan kerinduan akan sesuatu. Sementara tangan kanannya sedang digandeng oleh Hvyt di angkasa yang luas dan megah. Ditambah lagi dengan langit hitam pekat yang dihiasi oleh sang purnama merah menambah suasana romantis disekitar mereka, seakan-akan dunia milik berdua.

Tunggu dulu, kenapa narasinya jadi aneh begini? Ah sudahlah, lupakan.

Ravelt sedang diantar oleh Hvyt menuju tempat selanjutnya dalam permainan adu bunuh milik sang penguasa Devasche Vadhi— Thurqk, yang mengaku sebagai dewa pencipta. Sudah dua ronde yang ia lewati.

Ronde pertama dilewatinya dengan menerima beberapa luka dan dalam kondisi yang agak kepayahan, tapi menurutnya itu sangat memuaskan.

Ronde kedua yang barusan dilewatinya dengan mulus, menghabisi hampir seluruh peserta sendirian menggunakan kekuatan dahsyat yang ia miliki dan ia pikir pertarungan itu membosankan.

[ROUND 3 - K6] BAIKAI KUZUNOHA - SPARKS: SUMMONING BATTLE

[Round 2-K6] Baikai Kuzunoha vs Stallza
"Sparks: Summoning Battle"

Wrtten by Nibelhero

---

"It seems that you and I meeting here has been a spark for something else."
-Lou Chyper

-Prologue-

Pepohonan merah dengan buah merah, yang mengakar kuat di hamparan merah masih menjadi pemandangan stagnan di mata Kuzunoha. Jagatha Vadi kali ini semakin sepi, tidak banyak para peserta yang kembali ke titik dimana mereka dipanggil ini.

Dua ronde sudah terlewati, tidak satupun yang tidak terluka. Baik itu arwah padat mereka maupun tiap hati yang diuji. Kuzunoha tidak terkecuali, selera makannya hampir tidak ada. Bukan kelelahan fisik yang dia rasa, namun kelelahan jiwa yang teramat sangat mengungkungnya.

Ronde Pertama, dia membunuh banyak orang, dengan harapan mereka akan dihidupkan kembali oleh Thurqk dan menyelamatkan posisinya agar tetap bisa lanjut ke pertarungan berikutnya.

June 20, 2014

[ROUND 3 - K14] XABI ANGER METALLICI - THIRTY MINUTES TO END

[Round 3-K14] Xabi Anger Metallici vs Altair Kilatih
"Thirty Minutes to End"

Written by Eka Pupsita

---
 
Xabi menepis sayap hitam berbulu itu ketika sekali lagi mengenai wajahnya. Inginnya ia mencabuti satu per satu bulu makhluk berambut mohawk itu. Blug! Tidak disadarinya makhluk itu berhenti berjalan sehingga ia menabrak tubuh setinggi dua meter itu.

"Argh! Kenapa kau berhenti tiba-tiba, huh?" protes, Xabi mengusap-usap kaos dan memperbaiki rambutnya.

"Huhuhu…" Hvyt menatap lekat-lekat Xabi.

"Tertawamu itu aneh, tahu…"

"Apa kau tahu siapa lawanmu selanjutnya?" Hvyt membungkuk, ia mengeluarkan telunjuk dari kepalan tangannya. "Huhuhu…"

"Hentikan suara itu! Kau terdengar seperti ibu-ibu yang tengah bergosip…"

"Pft…" Hvyt menahan tawanya. Ia meletakkan salah satu telunjuknya di dada pemuda jabrik itu. "Kau pasti suka, nak. Dia sangat cantik!"

"Cantik?" Xabi merengut. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan lawan jenisnya. "Sial!"

June 19, 2014

[ROUND 3 - K7] LUNA ARACELLIA - ACCORDING TO THE HALF-MOON, DESPAIR WILL COME IN 1800 SECONDS

[Round 3-K7] Luna Aracellia vs Emils
"According to the Half-Moon, Despair Will Come in 1800 Seconds"

Written by Karina Lazuardi

---

According to the Half-Moon, Despair Will Come in 1800 seconds: Beginning

A Half Untold Story, Part 1

Seorang pria, dengan kacamata retak dan wajah yang kusut, duduk di pojok ruangan gelap. Sebuah laptop berada di depannya.

Ruangan itu sendiri sejatinya sangat luas. Lebih luas dari tempat tidur kebanyakan orang, atau ruang tamu yang biasa ditemukan di setiap rumah. Tak banyak barang-barang yang ada di sana, selain meja kerja dan kursi yang ditaruh sembarangan. Kertas-kertas dan berbagai buku dengan bahasa yang sulit dipahami berserakan di atas lantai.

Juga dengan sebuah layar proyektor yang terpampang besar di dinding.

Akan tetapi, pria itu lebih senang duduk di pojok sambil menggertakkan giginya. Keringat dingin membasahi keningnya setiap kali tombol "Enter" yang ada di papan keyboard ditekan. Lalu, setiap beberapa menit, ia mengelap wajahnya dengan sehelai tisu yang ada di sampingnya. Demikian terus, berulang-ulang, hingga akhirnya ia lelah sendiri.

June 12, 2014

[ROUND 3 - K11] CAROL LIDELL - FIAT IUSTISIA ET PEREAT MUNDUS

[Round 3-K11] Carol Lidell vs Nurin
"Fiat Iustasia et Pereat Mundus
"
Written by Kagetsuki Arai

---

[The Book Of Eibon - Chapter 5 : Pride]

Sang Daftar Isi adalah sebuah konstruksi mekanik sekaligus
personifikasi dari Buku Eibon. Meski begitu, Sejak buku Eibon disimpan
di The Library of Fate, Ia tak pernah bisa menganalisa keadaan di luar
buku apalagi keluar dari buku seperti yang biasa ia lakukan dulu.

Beberapa millennium dalam kebosanan, Akhirnya seseorang masuk ke dalam
buku Eibon. Tanpa bimbingan dari sang Daftar Isi, manusia itu mampu
bergerak hingga bab lima dari sang buku.

Manusia itu berjenis kelamin perempuan, dengan rambut pendek bewarna
caramel. Seragam yang ia kenakan mirip dengan seragam orang-orang yang
menangkap buku Eibon, jadi sang Daftar Isi menyimpulkan bahwa ia juga
dari The Library Of Fate.


June 11, 2014

[ROUND 3 - K6] STALLZA - NERAKA BEKU

[Round 3-K6] Stallza vs Baikai Kuzunoha
"Neraka Beku"

Written by Yafeth T. B.

--- 

"Apakah yang tersisa
Saat api kehilangan panasnya?
Apakah yang kupunya
Saat dirimu tak ada?"
                                    ― Sajak Cinta Ventinis.

I
Keempat Hvyt yang menggotong Stallza menurunkan pria itu kembali ke padang rumput merah. Mereka memberi hormat pada Stallza. "Kami harap Anda bisa menyamankan diri sementara waktu hingga pertarungan berikutnya," kata salah satu dari mereka.

Stallza mendengus. "Kalian mengharapkan orang-orang yang diculik secara paksa untuk merasa nyaman?" balas Stallza.

"Kami tahu, Tuan. Tapi kami pun tahu bahwa Yang Mulia Thurqk tidak main-main dengan janjinya," jawab seorang Hvyt yang lain.

Stallza menatap tajam pada Hvyt yang berbicara padanya. Seketika Hvyt itu bersujud. "Aku akan menemukan jalan pulangku sendiri. Aku tidak butuh belas kasihan dari orang yang tidak mengerti arti belas kasihan!" seru Stallza.

June 9, 2014

[ROUND 3 - K4] REX - STAND PROUD

[Round 3-K4] Rex vs Nemaphila
"Stand Proud"

Written by Eromango

---

Prologue


Rex menatap lorong panjang di hadapannya dengan kedua matanya yang tajam. Dengan pedang panjang di tangan kanannya, sang ksatria mulai melangkah cepat dan berlari menyusuri lorong panjang gelap tersebut.


Dari arah yang berlawanan, beberapa ekor makhluk berkulit merah, yang dikenal dengan sebutan Hvyt mulai berdatangan dan berlari menerjang ke arah Rex. Para malaikat merah segera menembaki sang ksatria dengan anak panah dan senapan yang ada di tangan mereka. Dalam sekejap, lorong sempit itupun dipenuhi oleh anak panah dan peluru yang melesat kencang menuju Rex.


"OORRAAAAA!!"


Sang ksatria mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Tebasan demi tebasan dilakukannya dengan kecepatan yang amat luar biasa.


June 8, 2014

[ROUND 3 - K3] RICHELLA ELLEANOR – MOMMY, IS THAT YOU NOM~

[Round 3-K3] Richella Elleanor vs Mba Irwin
"Mommy, Is That You Nom~"

Written by daeVa

---

"I realized when you look at your mother, you are looking at the purest love you will ever know."
― Mitch Albom, For One More Day



Memories

Kemilau pulau emas berbinar cerah di kejauhan, tampak mengecil seiring terpaan angin yang mengembus. Langit masih saja berwarna merah, sementara awan hitam membentang jauh dalam alur lambat kepakan sayap hitam. Malaikat merah selalu setia membawa si bocah tembam melayang ke mana pun tujuan selanjutnya akan diadakan. Ialah Richella Elleanor, atau sebut saja Elle, Si bocah tembam, bulat, mungil yang terperangkap dalam permainan mematikan si merah kejam―Thurqk.



Tak seucap kata keluar dari bibir mungil Elle, begitu pun Cuckoo―Panggilan akrab Hvyt, sang malaikat merah―yang terlihat murung tertunduk lesu. Dalam benaknya ia ketakutan, tak sanggup memikirkan nasib dari Nona Richella. Terlebih dengan akhir yang tak terduga di tahapan kedua, membuatnya semakin gugup menunggu keputusan dari sang dewa merah―Thurqk.



[ROUND 3 - K13] CLAUDE & CLAUDIA - EVEN SO, THIS PROTHALAMION WILL BE CONTINUED

[Round 3-K13] Claude & Claudia vs Leonidas Evilian Lionearth
"Even So, This Prothalamion Will Be Continued"

Written by Sam Riilme

---

Author's Note :

You may omit everything that is unrelated with the actual match.

*****

Opened Curtain

Tersebutlah suatu masa, saat dunia belum sepenuhnya tergambar dalam sebuah peta.

Dunia terbentang begitu luas bagi mereka yang hidup di dalamnya, tetapi tidak ada satupun dari mahluk hidup di zaman itu yang tahu seluas apakah tempat yang mereka tinggali ini sebenarnya.

Setiap negara merasa takut dengan keberadaan negara lain yang asing, dan setiap ras mencurigai ras lain sekalipun sejatinya mereka adalah penghuni planet yang sama.

Tanpa pengetahuan akan dunia, yang ada hanyalah kegelapan.

Namun tidak semua orang berdiam diri di dalam ketidaktahuan.

Adalah seorang penyihir ternama, seseorang yang disebut-sebut berhasil menguasai sihir manipulasi ruang – membuat segala batas dan jarak menjadi tidak ada artinya – yang dikabarkan bergerak dengan leluasa mengelilingi dunia lebih dari berabad-abad lamanya.

[ROUND 3 - K5] PRIMO TROVARE - FRAGMENTS OF PRIMO'S MEMORY

[Round 3-K5] Primo Trovare vs Colette Reves
"Fragments of Primo's Memory"
Written by Blackz

---

"Selamat atas keberhasilanmu di pulau amarah." Dalam ketiadaan Primo mendengar suara Hafit yang selalu menjadi pengantar Jiwanya.

Primo tidak bisa membalas ucapan tersebut ia menyadari bahwa saat ini ia hanyalah sebuah kesadaran yang tengah digenggam Hafit.

"Hamba akan menaruhmu langsung di lokasi pertarungan selanjutnya. Kali ini adalah pertarungan satu lawan satu, atau yang biasa kamu sebut duel!"

Kaki Primo menjejak di satu tempat, hal yang ia sadari pertama adalah kegelapan. Ia berada di satu ruangan dan tidak bisa melihat apa-apa. Mengingat dari pertarungan sebelumnya ia sadar dirinya berada dalam tahap surgawi, oleh karena itu ia bisa mengeluarkan satu sumber cahaya.

Pikiran Primo mengingat kepada kemuliaan Ucup, sebuah sinar putih mulai berhamburan dari telapak tangan kiri Primo. Sinar-sinar tersebut membentuk sebuah pistol busur bercahaya. Menjadikannya sumber cahaya dalam ruangan ini.