Ranjang empuk berhiaskan kelambu sutra.
Mba Irwin, si perempuan berambut pelangi, mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia memandang nmanar sekelilingnya. Sesekali ia menggelengkan kepala, mencoba mengambil kesadaran yang masih mengawang. Tapi usahanya tidak berbuah banyak. Suasana serba merah yang dilihatnya justru menimbulkan kegamangan.
"Ini di mana?"
Ranjang empuk bernodakan darah.
Mba Irwin tidak mengerti mengapa ada noda darah di seprai dekat pinggangnya. Ia beringsut ringan tapi seketika itu pula ia merasakan nyeri di perutnya. Ia mengangkat bajunya. Sebuah tulisan "THURQK" terpapar jelas di perutnya. Darah merah masih mengalir dari bekas luka tersebut.
Seketika itu juga kesadaran Mba terpanggil. Ia memeriksa sekujur tubuhnya, sesekali mengaduh kesakitan karena luka bakar di beberapa lokasi tubuhnya.
"Jadi... itu bukan mimpi..." bisik Mba saat mengingat kembali beberapa kejadian sebelumnya. Ia masih mengingat bertemu dengan Azraq, Lulu dan Tommy. Begitu juga dengan dewa merah yang memberi luka bakar di tubuhnya.