Showing posts with label K8-K16. Show all posts
Showing posts with label K8-K16. Show all posts

June 23, 2014

[ROUND 3 - K16] DEISMO - MANDI BOLA KADANG MEMBUAT ORANG MENJADI GILA

[Round 3-K16] Deismo vs Ucup
"Mandi Bola Kadang Membuat Orang Menjadi Gila"

Written by Overlord Hall

---

Satu lagi ronde telah berlalu. Hvyt membawa Deismo kembali ke Cachani Vadhi untuk menunggu keputusan Thurqk. Satu-persatu peserta kembali dari lokasi pertarungannya dan menanti vonis mereka.

Walaupun semua peserta telah kembali, suasana Cachani Vadhi tetap sepi, tidak ada satupun dari mereka yang bicara satu sama lain. Wajar saja karena perasaan mereka bercampur antara kepasrahan dan keputusasaan.

Dibandingkan penghuni Jagatha Vadhi yang akan diberi kesempatan sekali lagi jika kurang menghibur, para penghuni Cachani Vadhi sama saperti sampah yang siap dilenyapkan kapan saja bila membuat sang dewa kejam bosan.

Setelah penantian yang panjang, kekhawatiran mereka lenyap begitu Hvyt menyeret beberapa peserta ke lapangan Devasche Vadhi untuk dieksekusi. Semua peserta Cachani Vadhi berkumpul di mana layar hologram telah disediakan untuk menayangkan eksekusi Thurqk.

Semuanya terjadi begitu cepat, Deismo dan peserta lainnya menyaksikan semua pembantaian keji Thurqk. Berbagai ekspresi terukir dari para penguni Cachani Vadhi, kemarahan, ketakutan, kebencian, dan berbagai perasaan negatif lainnya.

June 21, 2014

[ROUND 3 - K16] UCUP - BOLA BOLA, BOLA BOLA

[Round 3 - K16] Ucup vs Deismo
"Bola Bola, Bola Bola"

Written by Tamz Martaatmaja
---

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang...
Sayup-sayup Ucup mendengar sebuah nyanyian. Dan dia tahu suara siapa itu. Suara yang selama ini menemaninya di jalanan. 3 temannya yang dia sayangkan kini tak bisa melihatnya lagi. Dia berbalik hendak pergi ,meninggalkan mereka yang sedang bersenda gurau menunggu lampu merah. Tapi sesuatu yang mengagetkannya membuatnya terhenti.

"Ucup...!" Mereka bertiga memanggilnya.
Ucup terdiam.  Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia mendengar langkah cepat teman-temannya menghampirinya. Dan benar saja, kini dia telah dikelilingi oleh teman-temannya.

"Eh tingali, aya pembunuh!" ("Eh lihat, ada pembunuh!") 
Ucup terhenyak dikatakan pembunuh oleh temannya sendiri. 
Dia hendak mengelak, namun teman-temannya kini tertawa terbahak padanya sembari menunjuk dirinya.
"Hahahahahahaha pembunuh! Kecil-kecil kok pembunuh! Kita dong, ngamen. Ngehasilin duit. Bukan ngambil nyawa orang."
Ucup terpojok, dia hendak menangis. Dia semakin berjalan mundur hingga tubuhnya terpentok (terpentok? What the…?) dinding bangunan.
"Ibu…."

[ROUND 3 - K8] RAVELT TARDIGARDE - ROOM OF STEEL

[Round 3-K8] Ravelt Tardigarde vs Sjena Reinhilde
"Room of Steel"

Written by Harid Ziran
---

Prelude

—Sebentar lagi, kau harus memilih—

Angin semilir menerpa tubuh Ravelt, membelainya perlahan. Satu – persatu, kabut dan awan melewatinya, melambai. Pandangannya yang sendu menunjukkan kelelahan dan kerinduan akan sesuatu. Sementara tangan kanannya sedang digandeng oleh Hvyt di angkasa yang luas dan megah. Ditambah lagi dengan langit hitam pekat yang dihiasi oleh sang purnama merah menambah suasana romantis disekitar mereka, seakan-akan dunia milik berdua.

Tunggu dulu, kenapa narasinya jadi aneh begini? Ah sudahlah, lupakan.

Ravelt sedang diantar oleh Hvyt menuju tempat selanjutnya dalam permainan adu bunuh milik sang penguasa Devasche Vadhi— Thurqk, yang mengaku sebagai dewa pencipta. Sudah dua ronde yang ia lewati.

Ronde pertama dilewatinya dengan menerima beberapa luka dan dalam kondisi yang agak kepayahan, tapi menurutnya itu sangat memuaskan.

Ronde kedua yang barusan dilewatinya dengan mulus, menghabisi hampir seluruh peserta sendirian menggunakan kekuatan dahsyat yang ia miliki dan ia pikir pertarungan itu membosankan.

June 6, 2014

[ROUND 3 - K8] SJENA REINHILDE - SHALL WE DANCE, MILADY?

[Round 3-K8] Sjena Reinhilde vs Ravelt Tardigarde
"Shall We Dance, Milady?"

Written by Bayee Azaeeb

---

Mari kita berharap kalau saja bola-bola besi itu tidak jatuh.

Atau setidaknya, begitulah harapan Sjena. Melihat langit-langit ruangan yang tak tahu tingginya seberapa. Begitu kelam, pitch black. Tak satupun orang yang tahu seberapa tinggi tempat ini – atau seberapa tinggi bola itu dijatuhkan. Tak ada yang tahu, baik Sjena ataupun –

"Apa kau bilang tadi, Hyvt?" Tanya Sjena sebelum Hyvt menutup pintu dan meninggalkannya.

"Waktumu tiga puluh menit, dan bol –"

"Sssh.." Desis Sjena sambil menutup bibir makhluk merah mohawk itu dengan jari telunjuknya. "Aku sudah tahu itu, sekarang pergilah."

Hyvt tersebut mendengus kesal dan membanting pintu.