Showing posts with label K5-K13. Show all posts
Showing posts with label K5-K13. Show all posts

June 22, 2014

[ROUND 3 - K5] COLETTE REVES - NON, JE NE REGRETTE RIEN (NO, I DON’T FEEL SORRY ABOUT ANYTHING)

[Round 3-K5] Colette Reves vs Primo Trovare
"Non, Je Ne Regrette Rien (No, I Don't Feel Sorry About Anything)

Written by Adham T. Fusama

--- 

"Ladies and gentlemen, selamat datang di Cirques du Reves!"

Colette dapat mendengar suara papanya di tengah tenda utama, menyambut para penonton yang akan menyaksikan penampilan mereka semua. Colette dapat mendengar suara gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai. Tubuhnya dijalari antusiasme yang membuatnya merinding.

Suara yang dia rindukan. Suasana yang dia rindukan.

Colette memejamkan mata dan mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Tarik napas, embuskan, tarik lagi, tahan sebentar, embus lagi. Ya, dia siap. Dia sudah siap.

Moi harus bisa. Moi harus bisa. Moi bisa. Moi bisa. Moi harus menang. Moi harus bisa menang. Moi bisa menang.

Colette memberi sugesti positif pada dirinya sendiri. Dia tidak mau kalah lagi. Dia tidak mau menjadi orang lemah lagi. Selama ini dia berhasil bertahan karena ada orang lain yang membantu bahkan mengorbankan diri mereka untuk melindunginya. Dia tidak mau dilindungi lagi. Dia harus bisa melindungi diri sendiri bahkan orang lain.

June 8, 2014

[ROUND 3 - K13] CLAUDE & CLAUDIA - EVEN SO, THIS PROTHALAMION WILL BE CONTINUED

[Round 3-K13] Claude & Claudia vs Leonidas Evilian Lionearth
"Even So, This Prothalamion Will Be Continued"

Written by Sam Riilme

---

Author's Note :

You may omit everything that is unrelated with the actual match.

*****

Opened Curtain

Tersebutlah suatu masa, saat dunia belum sepenuhnya tergambar dalam sebuah peta.

Dunia terbentang begitu luas bagi mereka yang hidup di dalamnya, tetapi tidak ada satupun dari mahluk hidup di zaman itu yang tahu seluas apakah tempat yang mereka tinggali ini sebenarnya.

Setiap negara merasa takut dengan keberadaan negara lain yang asing, dan setiap ras mencurigai ras lain sekalipun sejatinya mereka adalah penghuni planet yang sama.

Tanpa pengetahuan akan dunia, yang ada hanyalah kegelapan.

Namun tidak semua orang berdiam diri di dalam ketidaktahuan.

Adalah seorang penyihir ternama, seseorang yang disebut-sebut berhasil menguasai sihir manipulasi ruang – membuat segala batas dan jarak menjadi tidak ada artinya – yang dikabarkan bergerak dengan leluasa mengelilingi dunia lebih dari berabad-abad lamanya.

[ROUND 3 - K5] PRIMO TROVARE - FRAGMENTS OF PRIMO'S MEMORY

[Round 3-K5] Primo Trovare vs Colette Reves
"Fragments of Primo's Memory"
Written by Blackz

---

"Selamat atas keberhasilanmu di pulau amarah." Dalam ketiadaan Primo mendengar suara Hafit yang selalu menjadi pengantar Jiwanya.

Primo tidak bisa membalas ucapan tersebut ia menyadari bahwa saat ini ia hanyalah sebuah kesadaran yang tengah digenggam Hafit.

"Hamba akan menaruhmu langsung di lokasi pertarungan selanjutnya. Kali ini adalah pertarungan satu lawan satu, atau yang biasa kamu sebut duel!"

Kaki Primo menjejak di satu tempat, hal yang ia sadari pertama adalah kegelapan. Ia berada di satu ruangan dan tidak bisa melihat apa-apa. Mengingat dari pertarungan sebelumnya ia sadar dirinya berada dalam tahap surgawi, oleh karena itu ia bisa mengeluarkan satu sumber cahaya.

Pikiran Primo mengingat kepada kemuliaan Ucup, sebuah sinar putih mulai berhamburan dari telapak tangan kiri Primo. Sinar-sinar tersebut membentuk sebuah pistol busur bercahaya. Menjadikannya sumber cahaya dalam ruangan ini.

June 5, 2014

[ROUND 3 - K13] LEONIDAS EVILIAN LIONEARTH - IRI HATI ITU HAL YANG BIASA

[Round 3-K13] Leonidas Evilian Lionearth vs Claude & Claudia
"Iri Hati Itu Hal yang Biasa"

Written by Ichsan Leonhart

---

Cinta bukanlah segalanya, namun kehidupan tanpa cinta terasa sangat menyiksa.

Gelap, sunyi nan lengang. Suara langkah kaki hanyalah satu-satunya hal yang bisa didengar. Lampu penerangan menyinari tembok mengurung kokoh, permukaannya keras terbuat dari bebatuan. Terletak jauh di bawah tanah, yang berarti tak seorang pun bisa keluar dari sana.

Sempit sekali, lorong itu hanya cukup dilewati satu bahu orang dewasa. Berbeda dengan koridor megah di istana Jagatha Vandhi, tempat ini berkesan seperti pembuangan bagi para budak tak berguna. Kotor, kumuh, penuh dengan debu. Penerangan pun bahkan hanya sebatas obor dengan api menyala.

Bahu seorang pria tanpa sengaja sesekali menggesek tembok berdebu, serpihan tanah jatuh mengotori jaket hitam yang ia kenakan. Sorot  matanya terlihat sayu, batinnya melanglang buana memikirkan sesuatu.

Adalah Leon, pria narsis dengan rambut depan panjang hingga menutupi mata kanan. Berjalan menuruni tangga curam, mengikuti malaikat berkulit merah menuju lorong yang semakin dalam. Entah berapa lama ia berjalan, kedua kakinya seakan protes lewat pegal yang ia rasakan.