Showing posts with label K7-K15. Show all posts
Showing posts with label K7-K15. Show all posts

June 22, 2014

[ROUND 3 - K7] EMILS - THOSE WHO WANTED TO CHANGE THEIR WORLD

[Round 3-K7] Emils vs Luna Aracellia
"Those Who Wanted To Change Their World
"
Written by Mocha H.

---

Intro

Langit merah terbentang di langit-langit sebuah ladang berumput kemerahan yang dibatasi lautan kemerahan pula. Serangga – serangga penghuni pulau itu merasa resah dan bersembunyi di balik rerumputan tinggi pulau itu.

Para Hvyt berterbangan membawa peserta turnamen kembali ke tempat peristirahatan mereka, Cacadha Vadhit.

Salah satu diantaranya adalah Slime biru kita, Emils. Hvyt menurunkan mahluk cair itu dengan perlahan sampai dia menyentuh tanah, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Emils merasa ganjil karena kali ini para Hvyt tidak melemparkan mahluk bertubuh cair yang pernah mengejek dewa mereka itu. Mungkin benar kata mereka bahwa salah satu Hvyt merusak kesenangan si dewa dengan mensabotase Emils di awal ronde kedua.

Emils mengumpulkan semua cairan tubuhnya, lalu membentuk tubuh manusianya. Namun, ada kejanggalan pada bentuknya hanya tubuh atasnya saja yang terbentuk, sedangkan tubuh bawahnya masih berupa gumpalan air.

June 19, 2014

[ROUND 3 - K7] LUNA ARACELLIA - ACCORDING TO THE HALF-MOON, DESPAIR WILL COME IN 1800 SECONDS

[Round 3-K7] Luna Aracellia vs Emils
"According to the Half-Moon, Despair Will Come in 1800 Seconds"

Written by Karina Lazuardi

---

According to the Half-Moon, Despair Will Come in 1800 seconds: Beginning

A Half Untold Story, Part 1

Seorang pria, dengan kacamata retak dan wajah yang kusut, duduk di pojok ruangan gelap. Sebuah laptop berada di depannya.

Ruangan itu sendiri sejatinya sangat luas. Lebih luas dari tempat tidur kebanyakan orang, atau ruang tamu yang biasa ditemukan di setiap rumah. Tak banyak barang-barang yang ada di sana, selain meja kerja dan kursi yang ditaruh sembarangan. Kertas-kertas dan berbagai buku dengan bahasa yang sulit dipahami berserakan di atas lantai.

Juga dengan sebuah layar proyektor yang terpampang besar di dinding.

Akan tetapi, pria itu lebih senang duduk di pojok sambil menggertakkan giginya. Keringat dingin membasahi keningnya setiap kali tombol "Enter" yang ada di papan keyboard ditekan. Lalu, setiap beberapa menit, ia mengelap wajahnya dengan sehelai tisu yang ada di sampingnya. Demikian terus, berulang-ulang, hingga akhirnya ia lelah sendiri.

June 7, 2014

[ROUND 3 - K15] SILENTSILIA - BLEND INTO THE DARKNESS

[Round 3-K15] SilentSilia vs Lucia Chelios
"Blend Into The Darkness"

Written by authorhinataumi

---

“Watch your confidence human, or it will kill you slowly.”
- The Author –

:: [30 minutes before]

SilentSilia, begitulah nama gadis yang kini ada di dalam gendongannya. Ia tak tahu asal gadis ini karena memang bukan urusannya untuk tahu. Yang ia tahu, hanya sang Dewa yang mengetahui apapun yang tidak diketahui makhluknya.

Ia tahu tugasnya kali ini lebih berat. Dahulu ia hanyalah Hvyt yang ditugaskan untuk menari sebagai penghibur sang Dewa. Namun, belakangan, sang Dewa yang sadis itu tak pernah puas lagi dengan tarian yang ia berikan. Berkali ia harus mengalami sakitnya dihancurleburkan oleh Dewa Thurqk sebelum akhirnya diciptakan kembali.

Ia tak pernah marah ataupun menentang atas kelakuan kejam sang Dewa, karena yang ia tahu, apapun yang dilakukan sang Dewa adalah hal terbaik untuk semuanya. Seperti saat ini, Ia diperintahkan oleh sang Dewa untuk mengantarkan Sil, si gadis tanpa mulut dan bersilia ini kembali ke Jagatha. Dewa ingin gadis ini memperoleh pengobatan terhadap luka dalam yang dideritanya. Lihat kan? Dewanya sangat baik.

Sesampainya di Jagatha, Hvyt mendarat perlahan di atas tanah merah yang terdekat dengan pohon Rachta paling besar. Lengan mungil si gadis bersilia itu menggenggam erat tali suspender yang Hvyt kenakan di atas dada bidangnya. Gadis ini mulai sadar dari alam buainya. Hvyt perlahan menurunkan tubuh mungil itu ke atas tanah merah.

June 4, 2014

[ROUND 3 - K15] LUCIA CHELIOS - ROOM OF REGRET

[Round 3-K15] Lucia Chelios vs SilentSilia
"Room of Regret"

Written by Adrienne Marsh

---

Kedua matanya memandang ke langit , si Malaikat merah masih
menerbangkannya di atas cakrawala kemerahan.

"Apakah kita akan kembali ke pulau itu?"

"Yang Mulia sudah menentukan pertarungan selanjutnya."

"Tak adakah waktu bagiku untuk beristirahat?"

"Sayangnya tidak."

"…." Ia menghela nafas. Harus berapa kali dirinya melompat ke kawah
naga hanya demi iming-iming kehidupan kedua? Apakah dunia ini
benar-benar neraka? Apakah neraka juga merenggut orang-orang yang
bahkan tak kenal apa itu kejahatan? Mengapa tak ada yang bisa menjawab
dosa anak yang diseret ke permainan mematikan ini?

Apakah Dewa itu makhluk pencipta yang menjadikan dunia dan seluruh
isinya hanya untuk menikmati penderitaannya?

"Berbahagialah mereka yang belum mengenal akhirat…"