May 10, 2014

[ROUND 2 - ARSK] RICHELLA ELLEANOR - GREED IS NOT REALLY GOOD NOM~

[Round 2-Arsk] Richella Elleanor
"Greed is not Really Good, Nom~"
Written by daeVa

---

"Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed".
                 – Mahatma Gandhi

Reminiscence

Pancaran hangat mentari menyapa riang bocah bulat berambut amber. Elle, nama bocah tersebut terlihat berontak. Makhluk yang sedari tadi merangkul membawanya melayang di angkasa sama sekali tak terusik. Pukulan-pukulan lemah ke tubuh Hvyt–pesuruh setia Thurqk–sama sekali tidak dihiraukannya.

"Ini sudah menjadi perintah tuan Thurqk nona Richella" balasnya dingin.
                                
Di atas ketinggian yang tak terukur, Kemarahan Elle semakin memuncak. Pipinya menggembung merah, sorot mata tajam ke arah Hvyt, dan pegangannya erat mencengkeram leher Hvyt.

"Bagaimana bisa NOM! Aku tidak peduli dengan tuanmu itu. Aku benci makhluk sok kuasa sepertinya NOM!" teriaknya kesal.

Hvyt menatap balik. Tatapannya dingin dan sekilas kebencian mencuat dari balik mata legamnya. Gerakan telapak Hvyt–ke arah pipi Elle–menyadarkan bocah bulat tersebut.

"Maafkan hamba nona Richella, kumohon jangan sekalipun kau hina tuanku Thurqk yang maha kuasa. Itu menyakitkan hati hamba."

Elle tertegun, menundukkan kepalanya dan mulai tersadar bahwa dirinya ada di atas ketinggian yang teramat sangat tinggi. Naluri kecutnya menyeruak, genggamannya beralih ke lengan kiri Hvyt, Mencengkeram erat dengan getaran yang tak kunjung lenyap.

Sial bagi bocah tersebut. Ia menatap langsung daratan hingga membuat matanya berkunang-kunang, wajahnya pias, dan perut bulatnya mual.

"Noooom~" lirih kecut Elle.

Membawanya semakin mendekap erat Hvyt yang entah mengapa melayang lebih pelan dari biasanya.

***

Beberapa jam berselang. Langit di sekitar mereka berubah aneh, retakan demi retakan menyeruak dari berbagai sisi. Pertemuan antar retakan menghasilkan puing-puing langit biru yang terjatuh perlahan lalu lenyap tanpa sisa, meninggalkan noda gelap kemerahan yang semakin lama semakin meluas. Daratan pun ikut lenyap, secara perlahan tertelan lautan merah yang kini terpampang jelas di hadapan Hvyt.

Elle sama sekali tidak menyadari perubahan tersebut, ketakutannya membutakan pandangannya. Ia hanya menutup matanya dan terus gemetaran merangkul erat sosok yang kini membawanya cepat entah ke mana.

Tampak Hvyt berargumen dengan seseorang yang tak tampak. Kelegaan tersirat di wajah menyeramkannya setelah menerima kabar yang menurutnya sangat baik. Hvyt terhenti sejenak, lalu mengembangkan kedua sayapnya lebih lebar lagi dan melesat cepat ke arah yang sejak awal menjadi tujuannya.

Di lain pihak, pikiran Elle terpancing oleh perkataan Hvyt yang terlontar sebelumnya. Sembari terus gemetaran, benaknya yang polos menjabarkan sesuatu yang bahkan orang awam tak pernah duga.

Apa mungkin Cuckoo dan Thurqk memiliki hubungan khusus nom?

Cuckoo bilang hatinya sakit ketika kuhina Thurqk, apa mungkin nom?

Mereka...

Suami istri!?

Tunggu nom... Tunggu-tunggu...

Berapa banyak  istri Thurqk sebenarnya nom?

Sungguh pemikiran sinting bocah polos yang tak terduga.

***

Setelah beberapa lama Hvyt melesat dari batas dimensi. Sebuah pulau tampak di garis cakrawala. Jagatha  vadhi, menjadi tujuan penerbangan Hvyt selama ini. Makhluk bersayap hitam tersebut terbang rendah, melayang perlahan sambil berbisik lembut pada sosok di pangkuannya, sosok bulat nan menggemaskan.

"Kita telah sampai Nona Richella. Maaf atas keterlambatan hamba" seru Hvyt menurunkan perlahan Elle dari pangkuannya.

Elle membuka kedua matanya, menengadahkan kepalanya dan menatap polos sosok tinggi di hadapannya. Senyum manis menyeruak dibalik wajahnya, senyuman yang bahkan siapa saja akan tersentuh dibuatnya. Namun makna dari senyuman tersebut berbanding terbalik dengan apa yang ada di benak bocah tersebut.

Kasihan Cuckoo, dia pasti tersisihkan oleh Istri Thurqk yang lain.

Hvyt mengembangkan sayapnya, sementara kedua kakinya disusun berjinjit. Sedetik kemudian Hvyt melesat cepat ke angkasa dengan tatapan yang tak pernah berpaling dari bocah bulat di bawahnya.

"Yang tabah ya nooom~" teriak Elle melambaikan tangannya.

Elle menyadari sesuatu yang tak asing baginya. Daratan yang ia pijak, lalu pohon besar di hadapannya tentu tak bisa begitu saja ia lupakan. Tempat di mana dirinya pertama kali bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Cherilya Jannete biasa dipanggil Cheril, Baikai Kuzunoha atau sering disapa Zuzu, dan Zany Skylark dengan panggilan Zany.

Di bawah pohon merah tersebut, Elle bersandar lalu merebahkan tubuhnya. Ia sama sekali tidak meminta apapun kala itu, pikirannya terlalu pengap memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi begitu cepat.

Pertemuan yang tak terduga dengan Scarlet, lalu ingatan masa lalunya yang terpaksa ia kenang gara-gara bertemu dengan seorang gadis berambut panjang bernama Sil. Belum lagi pemuda tampan berambut pirang dan makhluk jelly berwarna biru yang sampai detik ini tidak ia ketahui namanya..

Perlahan pandangan Elle memudar, letih menjalar ke sekujur tubuhnya. Sementara kelopak matanya sudah tak mampu lagi menopang lelah. Beberapa detik kemudian Elle tak sadarkan diri. Lelap dalam beratnya hari yang telah ia lewati.

***

Interlude - Sorrow

Satu jam...
Dua jam...
Setengah jam berlalu begitu saja. Elle merasakan getaran di atas bumi, namun sama sekali tidak mengancamnya. Dalam lelap dan ketidaksadarannya, naluri bawah sadarnya yakin bahwa getaran, irama berjalan, serta berat di tiap langkahnya adalah milik seseorang yang ia kenal. Kini sosok tersebut duduk bersandar di sampingnya.

Elle perlahan berdiri. Dalam ketidaksadarannya tubuh si bocah mendekap sosok tersebut, merangkul erat sosok di sampingnya lalu kembali lelap dalam tidurnya. Sesekali ia tersenyum, tertawa manis, dan lirih bergumam polos.

"Zuzuuuu~"

Sosok di sampingnya sama sekali tidak terganggu. Guratan senyum menghiasi wajahnya, dan sesekali tertawa ketika melihat tingkah lugu bocah yang mendekapnya.

Namun ketenangan tidak berlangsung lama, getaran lain di atas tanah kembali terasa. Naluri bawah sadar Elle menjerit, memaksa tubuhnya untuk bergerak refleks. Matanya sulit ia buka, namun kejadian selanjutnya memaksanya untuk membuka mata lebar-lebar.

Kepala Elle beradu dengan rahang sosok yang sedari tadi bersamanya, menjatuhkannya ke samping dengan kedua tangan yang tak henti-hentinya memegangi kepalanya.

"Sakiiiit nooooom~" rengek Elle tersedu

Sementara sosok yang sebelumnya berada di sampingnya kini berdiri tegak membelakangi Elle. Tangan kanannya sigap memegang sarung pedang, dan tatapannya tajam ke arah sosok di hadapannya penuh siaga. Seorang gadis bersenjatakan tonfa sigap menatapnya aneh, tatapan penuh dengan kecurigaan.

Elle belum sepenuhnya tersadar. Perbincangan di antara Zuzu dan sosok di hadapannya tidak begitu jelas ia dengar. tatapannya buram, sesekali ia menguap dan terhuyung. Walaupun sudah jelas bahwa rasa sakit di kepalanya tidak bisa ia sembunyikan.

Ia berjalan pelan, terhuyung ke arah sosok di depannya. Tangan kanannya menutup mulut yang sedari tadi menguap, sementara tangan kirinya mengelus-elus kepalanya yang kesakitan. Kini Elle berdiri di samping sosok yang ia kenal, menunjuk lalu mencibir sosok lainnya.

"Kau mengganggu tidur siangku nom" tunjuknya
"Dasar, tante rusuh nom!"

Sosok di samping Elle menurunkan sarung pedangnya, diikuti hal yang serupa oleh sosok lainnya. Kesadaran Elle mulai terbentuk, ia hanya menerka setelah membaca getaran dan pola berjalannya. Kemungkinan yang ia dapatkan kala menerka sosok dihadapkan mereka berdua adalah, jika dia bukan banci bertubuh kekar, maka dia pasti tante-tante yang senang mangkal di pinggir jalan.

Elle menoleh ke samping, menengadahkan kepalanya untuk melihat sosok di sampingnya lebih jelas lagi. Ia sepenuhnya tersadar dan tersentak kaget ketika tahu bahwa sosok yang sedari tadi berada di sampingnya adalah Zuzu. Elle berteriak riang, lalu memeluk erat pinggang kanan Zuzu. Ia melompat kegirangan setelah tahu salah satu dari sahabatnya kembali dengan selamat.

Sementara itu, tingkah lugu Elle tidak begitu diperhatikan oleh Zuzu dan sosok di depannya. Zuzu berdialog ramah dengannya, dan Elle tidak begitu mendengarkan kala itu. Namun ia mengerti bahwa Zuzu berusaha menjelaskan hal yang terjadi lalu memperkenalkan dirinya dan Elle kepada sosok tersebut.

"Chelios, Lucia Chelios"

Balas sosok tersebut yang kini ikut duduk bersama mereka berdua. Tentu setelah menerima tawaran dari Elle untuk duduk bersama dan menunggu kabar selanjutnya.

Zuzu mencoba menerangkan sesuatu yang cukup rumit bagi Elle. Sebuah rencana dan pencarian kebenaran. Mengenai komunikasi, info, data dan sesuatu yang sulit ia cerna.  Ia kembali menghiraukan Keduanya, berpaling dari mereka lalu berjalan perlahan setelah merasakan dentuman kecil yang tak jauh darinya. Ia berjalan ke arah buah merah segar yang baru saja terjatuh. Ia sama sekali tak sadar ketika sebuah layar hologram terbentuk melayang beberapa meter dari tanah merah tak jauh darinya.

Percakapan Zuzu dan Lucia terhenti seketika. Tatapan mereka terpaku pada layar yang kini mempertontonkan beberapa makhluk yang sebagian darinya sempat mereka kenal. Tengah berkutat di hadapan Thurqk. Zuzu tersentak kala melihat salah satu sosok di dalam layar hologram.

Sementara Elle memungut beberapa buah merah, riang meliputi wajahnya dan senyuman terus menerus menyeruak. Elle menggumamkan lagu riang kaum gnome, berputar mengikuti irama gumamannya lalu seketika terhenti. Buah-buah merah di kedua tangannya terjatuh begitu saja.

Tatapan Elle ikut terpaku ke arah layar hologram. Gumaman lagunya terhenti di kala sesosok dalam layar tersorot berseteru melawan makhluk tinggi merah yang sama dengan makhluk di atas balkon istana.

Cheril?

Tanya Elle dalam benaknya, berusaha memastikan sosok dalam layar.

Suara membahana terdengar kencang, diikuti cipratan darah merah dan potongan tubuh yang beterbangan dalam layar. Organ dalam berserakan di sekitar Thurqk–makhluk yang mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan–sosok merah yang kini tertawa lantang penuh kepuasan.

Elle menatap hampa layar hologram, berjalan perlahan ke arahnya sembari bergumam perlahan, linangan air mata tak kuasa ia tahan.

"Cheril...~"

Sorot mata Elle semakin kosong, lesatan demi lesatan ingatan bermunculan. Ingatan di kala pertama kali bertemu dengannya, sapaannya, senyum sinisnya, lalu alat yang menghasilkan kilatan cahaya yang selalu ia gunakan. Belum lagi di kala keduanya memakan permen bersama-sama menjadi ingatan-ingatan yang bermunculan di benaknya.

Ia sontak berlari ke arah layar hologram, namun Zuzu dengan sigap menahannya. Linangan Air mata tak terbendung lagi, dan lengkingan tangis si bocah bulat menyeruak.

"Cheriiiiiil..."

Air matanya berlinang deras mengalir melewati kedua pipi tembamnya. Suara tangisan menyeruak kencang, lebih keras dari raungan singa dan lebih menyedihkan dari hujan di malam Minggu. suaranya membahana ke seluruh Jagatha Vadhi. Begitu memekakan, sangat memekakan.

Langit Jagatha Vadhi bak terbelah oleh tangisannya, suaranya menggelegar hingga ke seluruh penjuru pulau. Sedu bercampur kesal jelas terasa dalam tangisnya hingga sesosok Hvyt yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya tak kuasa menahan hasratnya untuk tetap setia. Ia bersikeras menuruti titah tuannya, walaupun pergolakan dalam jiwa tengah terjadi kala itu.

Pikiran Elle kosong. Kalut dan murka bercampur menjadi satu, dan satu hal yang terlintas dalam pikirannya kala itu adalah sosok Thurqk yang tertawa puas. Inilah kali pertama Elle merasakan kehilangan yang teramat dalam.

Dalam kalutnya, Elle mengabaikan nalurinya. Hingga tak sadar akan kedatangan siapa pun kala itu. Zuzu berusaha menenangkannya, namun hasilnya nihil. Sementara Lucia tampak merasakan penderitaan yang bocah tersebut rasakan.

Seseorang tiba-tiba memeluk Elle dari belakang, menenangkan tangisan bocah tersebut. Elle berbalik, lalu dengan sigap memeluk sosok tersebut. Zany, sahabat lain dari Elle yang kembali dalam keadaan penuh luka namun tak begitu parah. Tanpa berucap kata sedikit pun, Zany berhasil menghentikan tangisan Elle.

Zuzu bersyukur melihat si bocah kembali tenang. Juga bersyukur bahwa Zany  kembali dengan selamat. Tidak mau mengulur waktu lagi, Zuzu mengulang semua obrolan yang sebelumnya mereka bincangkan.

Elle menatap serius Zuzu, mendengarkan dengan seksama setiap kata demi kata yang ia ucapkan. Kalimat terakhir yang ia lontarkan jelas ditujukan kepadanya.

"Apa kau sanggup Elle?"

***

Avarice - Momento

Dalam kesendiriannya, Elle memungut beberapa genggam pasir merah. Gumaman sedu kembali terucap, menyirat lagu kematian kaum gnome yang teramat sangat ia benci. Tetes demi tetes air mata kembali terurai mempersiapkan ritual kematian kaum gnome.

(Dango Daikazoku : Instrumental ~ Gnome Mix)

"They are nom, they low, they roll, they know. They are nom they low they nom nom~"

"They are nom, they low, they roll, they know. They are nom they nom nom~"

Elle mengitari pohon merah, menabur-naburkan pasir merah.

"When the first time gnom e walk away~ they are nom they won they nom nom~"

"When the last time gnom e fade away~ they are won they nom nom~"

Elle mengulang gumaman sebelumnya, tetap dalam irama sedu mengitari pohon merah. Tubuhnya kaku ketika mulai menari dalam tiap langkahnya. Ini kali pertama ia melakukan ritual yang biasa kaumnya lakukan.

Elle kembali menangis, pelan dengan linangan air mata bersedu. Ia berdiri tegap di posisi awal dan mulai menari pelan membelakangi pohon merah.

"Lady Circla smiling at us~ sincerely~ King Gaeuss bless upon us~" Elle berbalik
"Queen Regina  smiling at you~ and gladly look over you~" lalu tersenyum

"It will happen all to us, but we are not worry nom~ it sure will happen so... dont you worry~"

"Until you are realize~ nothing really matter, as long as... you are in our heart"

Sekelibat ingatan bermunculan. kala itu Elle tertawa riang menatap kaumnya melakukan ritual tersebut. Tingkah konyol paman Bruno, bibi Chemy, lalu nenek Merrya dan kakek Bran yang riang penuh tawa bermunculan di benaknya.

Kini ia mengerti beratnya ritual yang kaumnya lakukan. Berusaha tersenyum dan riang dalam pedihnya perasaan yang terus menerus menusuk hati mereka. Elle merasakannya sekarang, dipaksa tertawa riang dalam kalutnya hati, linangan air mata, dan getir kenyataan.

Elle melangkah pelan kehadapan pohon merah, kembali menabur pasir merah ke arahnya.

Ia menunduk, berlutut dan menyatukan kedua telapak tangannya seraya berdoa dalam hati.

Tangisannya terhenti seketika, hatinya mulai tenang bersamaan dentuman kecil yang terasa dari arah belakangnya. Hvyt yang dikenalnya menatap pedih, tak ingin mengganggu bocah bulat yang dengan seksama ia perhatikan sedari tadi.

Elle merapalkan doa dalam bahasa gnome. Ia berdiri dan kembali menari dalam kesunyian seraya berjalan mengitari pohon merah dalam putaran yang berbeda. Tawa riang terpancar dan senyum manis kembali tersirat di wajahnya.

Sekelibat ingatan bersama Cheril kembali tersiar. Ia bersyukur telah bertemu dengannya, walaupun sulit baginya untuk percaya bahwa sosoknya telah tiada. Ia kembali menggumamkan nada tanpa lirik, menari membelakangi pohon merah dan menaburkan pasir merah untuk terakhir kalinya.

Cheril, Terima kasih nom...

Lain kali, kita makan permen bersama lagi ya nom...

Aku kangen nom, ingin bertemu denganmu...

Tapi mungkin bukan sekarang, mungkin nanti nom... ya... nanti...

Ia tersenyum, menatap langit merah dan membayangkan sosok Cheril dan senyuman sinisnya. Elle membalas senyumannya, melambaikan tangannya ke angkasa seraya berteriak lantang ke arah bayangan Cheril.

"Selamat tinggal nooom~"

Ia berjalan perlahan ke arah Hvyt yang sedari tadi menunggunya dengan sabar. Tatapan Hvyt tertegun, menatap bocah bulat yang berjalan perlahan ke arahnya. Dia lega, karena tidak salah membawa jiwa bocah tersebut. Jiwa kuat yang bahkan belum sepenuhnya matang dan memiliki kemungkinan yang tak terbatas.

"It will happen all to us, but we are not worry nom~ it sure will happen so... dont you worry~"

"Until you are realize~ nothing really matter, as long as... you are in our heart "

Elle kembali menggumamkan lirik awal dalam ritual tersebut, bergumam riang dan melompat pendek mengikuti irama liriknya. Melompat-lompat ke arah Hvyt yang kini tengah membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya.

"Maaf mengganggumu nona Richella, apa nona telah siap?"
"Uhh, Kita berangkat nom" angguknya menerima uluran tangan Hvyt.


"They are nom, they low, they roll, they know. They are nom they low they nom nom~"

"They are nom, they low, they roll, they know. They are nom they nom nom~"

***
Beberapa saat sebelum Elle menyelesaikan ritualnya, sepasang mata hitam tajam menatap sosok bocah bulat yang tengah melakukan ritual kematian kaumnya. Dalam ruangan penuh monitor, di samping sesosok makhluk merah yang sedari tadi menatap satu persatu monitor seperti menunggu sesuatu yang bisa menggugahnya, sosok gadis berpita biru tertawa sinis.

"Lihat itu Tuan Thurqk. Bocah pendek, gemuk, cengeng lagi" tunjuk gadis berpita biru yang duduk di pangkuan Thurqk.

"Kau tertarik padanya huh? Abby?" sindir Thurqk,

"Eh? Tentu tidak!" teriak Abby menatap sinis Thurkq dari sela-sela matanya yang menyipit tajam.

"Bocah cengeng dan bodoh seperti itu mana bisa bertahan dalam turnamen seperti ini. Besok juga dia mati, ya kuharap dia mati secepatnya!" gerutu Abby menyilangkan lengan dan memalingkan mukanya.

Sesekali matanya mencuri lihat ke arah monitor di mana Elle, bocah bulat yang menggemaskan tengah menari kaku membelakangi pohon merah.

"Heh... ya, terserah diri..." belum sempat Thurqk menyelesaikan ucapannya, Abby membentak memotongnya. "Memang terserah diriku kan!" bentaknya seraya turun dari pangkuan Thurqk dan berjalan menjauh meninggalkan ruangan.

"Bermain keluar seperti biasa?" sindir Thurqk
"Bukan urusanmu Tuhan yang sok kuasa!" balas Abby sinis, lalu lenyap dalam bayangan.

Thurqk terkikih ke arah gadis berpita biru. Kini ia menatap salah satu monitor yang mulai menyuguhkan sesuatu yang menggugahnya.

"Ya. Seperti itu jiwa-jiwa hina. Turuti titahku, hibur aku, dan jangan kecewakan Tuhanmu ini!"

***

Avarice - Momentum

"Kita akan ke mana nom?"
Suara riang bocah bulat yang memejamkan kedua matanya bertanya kepada sosok merah bersayap hitam. Hvyt hanya terdiam, melayang pelan menjauhi Jagatha Vadhi.

"Cuckooo, kita mau ke mana nom?" tanya Elle sekali lagi

"Pulau Arsk, hanya itu yang hamba ketahui nona Richella"
                                                            
Elle merenung sejenak, mencoba menganalisa dan berpikir serius. Inilah kali pertama dirinya bersungguh-sungguh tanpa ada dorongan dari permen lolipop pelangi dan palu tempanya.

Apa pulau Arsk ini tempat diadakan permainan selanjutnya? Kuharap tidak perlu ada pertumpahan darah ataupun pertarungan nom. Elle tidak suka bertarung, tidak ingin nom.



Tunggu, mengapa tidak ada pengumuman resmi dari si merah kejam itu? Sebelumnya harus bertahan dan menjadi kontestan terakhir nom? lalu sekarang?



Sepertinya, Cuckoo belum menjelaskan semuanya nom.

"Umm, Cuckoo, peraturan permainan selanjutnya apa nom?" Elle memberanikan diri bertanya.
"Maaf nona Richella, mengapa kau selalu memanggil hamba dengan sebutan itu?"
"Apa itu mengganggumu nom?" tanya Elle penasaran
"Tidak, justru hamba merasakan sesuatu di dalam hati hamba, sesuatu yang belum pernah hamba rasakan sebelumnya. Sesuatu yang hangat, sangat hangat" seru Hvyt

Elle tersenyum. walaupun itu bukanlah jawaban yang ia inginkan, namun ungkapan Hvyt barusan membuatnya senang. Tentu saja, perasaan yang Hvyt maksud adalah rasa senang yang teramat sangat.

"Kau senang nom?" ledek Elle
"Senang?" balasnya penuh tanya.

Hvyt sama sekali tidak pernah merasakan perasaan apapun dalam hidupnya. Mereka hidup hanya untuk memuaskan titah penciptanya, Tuhan Thurkq, dan benar-benar melenyapkan perasaan lain demi penciptanya tersebut.

Mungkin, ini kali pertama sesosok Hvyt merasakan perasaan yang lain dari biasanya. Ia sama sekali tidak bisa mengungkapkan perasaan tersebut, karena wajar bagi para Hvyt yang telah melupakan emosi dan nama-nama dari daftar emosi yang ada. Kemungkinan terbesarnya adalah, karena sebutan "Cuckoo" yang Elle berikan kepadanya.

Para Hvyt tidak memiliki nama pasti. Mereka sejajar dan sama bagi makhluk lain yang melihatnya. Karenanya, panggilan semacam itu menjadi pembanding, sekaligus nama yang di tiap hati kecil para Hvyt sangat mereka inginkan.

"10 jam." Seru Hvyt terbang rendah ke arah sebuah pulau berkilauan.
"Batas waktunya adalah 10 jam, dan nona harus membunuh satu kontestan untuk memenangkan tahapan kedua ini."
"Membunuh nom? apa ada cara lain?" tanya Elle gugup
"Tidak ada nona, dan satu hal yang ingin kusampaikan pada nona. Jangan mengambil barang apapun. Ingat nona Richella, jangan mengambil apapun itu walau hanya batu usang" seru Hvyt penuh perhatian.

"Uuh~ lagi-lagi, permainan yang tidak menyenangkan nom" lirih Elle kesal.
"Kita sampai nona Richella, berjuanglah dan tetaplah tersenyum" seru Hvyt menurunkan perlahan si bocah bulat.

Elle membuka kedua matanya, namun tatapannya mengabaikan keadaan sekitar. Ia dengan sigap menatap Hvyt di depannya, menengadahkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya.

Hvyt tidak begitu mengerti dengan maksud yang coba Bocah bulat tersebut kemukakan. Ia menatap penuh tanya sosok di bawahnya yang hanya setinggi lututnya itu. Ia tersenyum lebar ke arahnya dilingkupi aura kasat mata yang terpancar begitu hangat.

"Terima kasih telah mengantarku nom. kau makhluk yang baik Cuckoo" seru Elle masih mengulurkan tangan kanannya.

Perasaan di dalam hati Hvyt kembali menyeruak, perasaan hangat yang begitu menyenangkan. Ia mencoba tersenyum walau hasilnya malah sangat menyeramkan. Elle terkikih pelan, menatap wajah Hvyt yang berubah menyeramkan namun sangat manis.

"Pegang tanganku nom" pinta Elle.

Hvyt menurut, menurunkan telunjuknya yang sebesar kepalan tangan Elle. Si bocah menggenggam telunjuk Hvyt, menggoyang-goyangkan ke atas dan ke bawah seraya berseru dalam senyuman manis.

"Mari berteman nooom~" serunya

Hvyt tertunduk, inilah kali pertama seseorang memberinya nama dan mengajaknya berteman. Sesuatu yang bahkan Tuhannya sendiri belum pernah melakukannya. Tatapan Hvyt semakin kagum, menatap gadis bulat di hadapannya yang memiliki jiwa besar. Bahkan lebih besar dari tuannya sendiri.

"Te...Terima, Terima kasih nona..." Balas Hvyt mengembangkan kedua sayap hitamnya, lalu melesat cepat ke angkasa.

Elle melambaikan kedua tangannya, lalu mendekatkannya ke arah mulutnya seraya berteriak lantang

"Jemput aku ya noooom~"

Hvyt hanya mengangguk setuju, sama sekali tidak menjelaskan aturan terakhir dalam tahapan kedua ini. Ia rela mendatangi bocah bulat tersebut bila diperlukan, dibandingkan memintanya untuk kembali ke titik awal ia datang. Di benak Hvyt, ia tak ingin merepotkan Bocah bulat tersebut, dan lagi. Ia ingin mengawasi bocah tersebut.

Elle tersenyum, lalu menendang beberapa koin emas di sekitarnya dan mempersiapkan alat-alat yang biasa ia siapkan sebelum bermain dalam permainan yang si merah kejam persiapkan. Ia bergumam, melantunkan lagu yang biasa ia gumamkan di kala menempa barang.

***

Beberapa saat setelah kepergian Hvyt, dan setelah Elle mempersiapkan beberapa alat yang biasa ia ciptakan. Elle mulai merasakan getaran di atas tanah. Ia berjongkok, melepas sarung tangan kanannya lalu menekan tanah merah di atasnya.

Ia menatap Comwatch di pergelangan tangan kirinya. Jarum penunjuk arah utara berperilaku tak wajar, jarum merah yang seharusnya menunjuk ke arah utara tersebut berputar tidak stabil. Menunjukkan ketiadaan medan magnetis atau adanya sesuatu yang mengganggu medan magnet hingga membuat jarum merah menunjuk ke arah yang tak beraturan.

"Ei ei Comwatch, di mana arah utaranya nom?" gumam Elle menggoyang-goyangkan benda tersebut sembari merasakan getaran di atas tanah lebih intens lagi.

Elle memejamkan matanya, mencoba merasakan getaran di sekitarnya. Tumpukan demi tumpukan batangan emas, kepingan perak dan bebatuan mahal terasa di sekitarnya. Jauh di sisi kanannya ia merasakan desiran air laut dan hembusan angin yang mengarah menerpa wajahnya. Begitu pun dengan bagian belakang dan sisi kiri tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah desiran ombak yang menyapu perlahan pasir merah ke daratan.

Sementara itu, beberapa patung yang tidak bisa Elle pastikan bentuk dan bahannya berjejer menjauh dari arah jam sepuluh. Sepintas getaran-getaran yang sebelumnya ia rasakan berasal dari beberapa makhluk yang memiliki pergerakan yang sama, langkah yang sama dan dalam irama yang benar-benar sama. Terkaan pertamanya adalah makhluk-makhluk tersebut dikendalikan.

Elle membuka matanya, lalu berdiri seraya mengenakan sarung tangannya kembali. Ia menghirup napas menggembungkan pipi tembamnya, lalu mengembus napas panjang seraya berseru lantang.

"Ayo berburu harta nooom!"

Richella Elleanor, Kontestan terakhir yang sampai di pulau Arsk. terlambat 25 menit dari waktu resmi turnamen yang dibuka. Batas waktu yang tersisa 9 jam 35 menit.

***

20 menit sebelumnya. Di sisi lain pulau, Sesosok bayangan tampak duduk tenang di atas peti kayu berukir emas. tangan kanannya siaga di bawah daun telinga kanannya. telunjuk terlihat menekan sebuah tombol yang mencuat dari sebuah alat berwarna keemasan yang menggantung menutupi telinga kanannya.

"Nom!"

Suara lembut terdengar pelan keluar dari alat tersebut, diikuti letupan-letupan suara statis kecil yang bersambung perlahan.

"Kuzu... kau bisa dengar suaraku? Zany di sini, ganti" bisik seseorang pelan terasa dari alat tersebut. 

Letupan statis kecil kembali terdengar, sebelum akhirnya suara lain muncul dari alat tersebut.

"Ga usah teriak juga kali Zan, telinga gw ga budeg kali oi" seru Lucia

Baikai Kuzunoha, sosok bayangan yang terbalut pakaian lumayan formal serba hitam dengan penutup kepala yang diikat kuat menutup seluruh keningnya tersebut tersenyum menang setelah mengetahui semuanya sesuai dengan rencananya. Ia memejamkan matanya, mengulang ingatan dalam benaknya. Mengingat kembali semua yang telah dirinya, dan ketiga rekannya sepakati.

***

"Elle, maaf, sekarang, kita harus bangkit. Cheril kalah dan kita tidak bisa melakukan apapun untuknya. Hanya satu hal yang bisa kita lakukan sekarang, bertahan hidup. Elle, bisakah kau membuatkan alat  komunikasi untuk kita berempat?"

"Apa kau sanggup Elle?"

Pertanyaan tersebut terlontar ke arah bocah bulat yang tertegun oleh tontonan yang terpaksa ia tonton. Sebelumnya, Kuzu menjelaskan rencananya. Demi memperluas informasi, dan memperdalam pemahaman mengenai keadaan dunia, serta maksud dan sarat yang menjadi motif dari Thurqk, Kuzu memutuskan untuk bertaruh dengan keberuntungannya. Sebuah ide yang cukup berani terlintas di benaknya, walaupun eksekusi ide tersebut akan sangat sulit, yaitu saling berkomunikasi antar tempat di mana tahapan ke dua akan berlangsung.

Elle mengeluarkan beberapa barang dalam tas selendangnya, lalu genggaman tangan kanannya erat menggenggam palu tempa yang mulai bersinar merona. Beberapa detik kemudian ia membanting palu tempanya, menghancurkan beberapa alat yang ia keluarkan hingga berkeping-keping. Respons selanjutnya dari bocah bulat tersebut sungguh di luar dugaan sang pemuda, dan dua gadis lain yang mengelilingi bocah bulat tersebut. mereka menatap dengan tatapan aneh ke arah si bocah bulat.

"Beri aku contoh nom, aku sanggup membuat replika apapun"

Kuzu tertunduk bingung, lalu berpaling menatap Lucia yang kemudian menggelengkan kepalanya. Tatapan berbarengan ke arah Zany mengagetkan sosok gadis bermata pelangi tersebut.

Ia menengadahkan telapak kanannya, seraya membentuk sebuah alat yang kemudian ia sebut sebagai "Bluetooth Headphone" Dan menjelaskan cara kerja alat tersebut. Elle mengambil peralatan tukangnya, dan dengan cepat membongkar alat tersebut, beberapa detik kemudian ia tersenyum puas. Karena berhasil mengetahui sistem kerja alat tersebut.

"Akan kubuat alat yang lebih menyenangkan dari ini nom" seru Elle diselimuti senyum.

***

Kuzu membuka kedua matanya, lalu mulai menekan tombol pada alat di telinganya. secara tidak langsung menyambungkannya dengan Zany dan Lucia.

"Baik, aku ingin mendengar informasi dari Zany terlebih dahulu. Apa, di mana, bagaimana, dan keadaan seperti apa yang kau alami saat ini?"

Kuzu membombardir Zany dengan beberapa pertanyaan sekaligus, namun sesuatu yang janggal terlintas di benaknya, kemungkinan keberhasilan rencananya mungkin bisa dikatakan melebihi tujuh puluh persen. Namun, Kuzu belum mengalkulasikan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi, mengakibatkan beberapa lubang dalam rencana yang ia susun mulai terlihat, dan melebar.

Zany menjelaskan keadaan di sekitarnya, Sebuah pulau penuh makanan, segala yang ada di pulau tersebut adalah makanan lezat yang bisa kapan pun dan siapa pun memakan segala yang terhidang di sana. Kemudian dengan seksama menjelaskan peraturan yang ia terima dari Hvyt yang membawanya masuk ke dalam pulau tersebut. Zany kemudian berbalik tanya, menanyakan keadaan di sekitar Kuzu sekaligus Lucia yang juga ikut mendengarkan percakapan mereka.

Kuzu lantas menjawab datar. Sebuah pulau yang ketika dilihat di angkasa begitu berkilau keemasan. Tumpukan koin dan batangan emas, serta keping-keping perak berserakan di mana saja. Harta berlapis emas, perak dan bertabur batu mulia juga bisa ditemukan. Kuzu menjelaskan peraturan yang ia dengar dari Hvyt, juga sedikit berspekulasi. Kemungkinan besar, pulau yang tengah ia singgahi adalah gudang harta milik Thurqk, walaupun tak sedikit pun tampak di wajah si tuhan Merah tersebut bahwa dirinya mencintai harta.

Lucia tersentak, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Ia hanya menjawab beberapa pertanyaan dari Kuzu sebelum akhirnya sambungan dengan Lucia terputus begitu saja dan diakhiri oleh suara dentuman keras.

"Sebuah pulau berlabirin? Lalu teriakan di balik suara Lucia, terdengar seperti kemarahan yang meluap-luap" gumam Kuzu.

"lalu, di mana Elle? apa kau sudah menerima kabar darinya Zany?"

***

Di lain pihak, di saat Kuzu melakukan komunikasi dengan rekannya yang entah dari mana. Sesosok lain berjalan – jalan tanpa arah, ia tertunduk lugu, bersama beberapa boneka yang mengikutinya. Ia berjalan ke arah beberapa peti yang tertutup rapat, juga beberapa peti yang penuh terisi emas berlian dan harta mahal lainnya dan peti-peti kosong yang jelas terbuka.

Ia bermaksud mencari tahu siapa saja yang menjadi kontestan dalam tahapan kedua ini, lalu memutuskan untuk bersembunyi dalam peti harta kosong, dan mengendalikan beberapa boneka yang kemudian ia sebar.

***

Avarice - Monsoon

Hamparan debu keemasan lirih bertebaran terbawa angin. Di atas pulau kecil penuh harta berkilauan, seorang pemuda tinggi bersorban berjalan pelan mengikuti arus angin yang ada. Sesekali ia berbisik padanya, berusaha berceloteh dengan angin yang menemaninya.

"Wahai angin yang melintas di dataran kaya berkilauan, tunjukkan jalanmu pada hamba yang tersesat tanpa arah ini"

Angin mengangkat perlahan tubuh sang pemuda, meringankan pijakannya dan dengan cepat membawanya mengikuti alur dan arus angin yang bergerak perlahan namun anggun. Menjauhi pulau-pulau kecil di sekitarnya dan hamparan merah darah dibalik tubuhnya.

"Akan kau bawa ke mana hambamu ini wahai angin? Adakah cerita yang bisa kau iringi selama perjalanan kita ini?"

Angin membawa Pemuda bersorban menjauhi lautan merah, membawanya masuk ke pulau utama yang jauh lebih besar dan lebih banyak lagi harta di atasnya. Pemuda tersebut menurunkan pijakan ringannya, berhenti di atas tumpukkan batang emas dengan wajah ketidakpercayaan.

Sekuntum bunga perak, jauh lebih indah dan cantik dari benda mati berkilauan di sekitarnya sekalipun. Tengah berjalan santai membawa sebuah pedang Rapier berlapis intan permata. Mata sang pemuda tak henti-hentinya menatap keindahan di depan matanya, hati kecilnya berdegup kencang, berbisik pelan dengan irama yang memikat.

"Sungguh, ingin kumiliki rasanya makhluk cantik nan menawan itu"

Pemuda bersorban memberanikan diri mendekatinya, melayang perlahan turun ke arah sosok wanita cantik berambut hitam panjang. Tubuhnya begitu ringan, terbawa angin yang sepertinya mendukung keinginan hati sang pemuda. Ia membungkukkan tubuhnya, menundukkan kepalanya penuh khidmat.

"Wahai sekuntum bunga mawar putih indah, begitu indah kelopak perakmu itu bak kaca mahal yang berkilat-kilat." Sang pemuda menengadahkan kepalanya, diikuti tangan kanannya yang ikut terangkat, tatapannya tajam penuh asa. Seraya melanjutkan rayuannya.

"Sudikah engkau memperkenalkan dirimu yang begitu memikat hati ini? Begitu membutakan hati yang tak terbutakan sebelumnya wahai bunga perak yang berkilau-kilauan?"

Sosok cantik menatap datar Pemuda bersorban, memperhatikan keseluruhan penampilan pemuda bersorban yang tampak, usang. Ia tersenyum ke arah sang pemuda, senyuman manis nan menggugah jiwa.

"Na, namaku Kilatih. Altair kilatih" seru si gadis cantik berambut hitam.
"bolehkah kutahu nama tuan yang begitu baik dan sangat sopan ini?"

Sang pemuda terbujur kaku, mendapat respons yang begitu baik. Dan entah mengapa hati sang pemuda semakin kencang berdegup. Berharap mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dan mungkin memadu kasih bersamanya kelak.

"Namaku Re'eh Al Sahra. Panggil saja . . ." belum selesai Re'eh berucap, Kilatih dengan sopannya memotong ucapannya
"Re'eh? Nama yang Indah untuk tuan yang sangat sopan seperti anda." Seraya menerima uluran tangan Re'eh dan memintanya berdiri, senyuman kembali tersirat anggun di wajah Kilat. Mengajaknya bersama dan berjalan berdua entah ke mana.

Re'eh hanya terpaku, sebelum akhirnya berlari mengejar Kilatih dan mengikutinya penuh kegembiraan.

***

Elle berlarian penuh tawa, melewati patung-patung emas yang berjejer gagah dengan motif berbentuk makhluk menyeramkan bersayap kelelawar. Timbunan emas dan perak tidaklah begitu ia pikirkan, yang membuatnya senang bukan kepalang adalah bebatuan mahal nan langka yang bahkan di negerinya, Gnomeria sangat sulit ditemukan. Hati kecilnya terbujuk, terbawa rayuan untuk memiliki batu hijau yang kini ada di genggaman tangannya.

"I... Ini... Zamrud Khatulistiwa nom!" seru Elle penuh keterkejutan.

Elle tertegun sejenak, memikirkan perkataan Cuckoo yang terlintas di benaknya.


"Ingat nona Richella, jangan mengambil apapun itu walau hanya batu usang" ingatnya, berdecak kesal. Ia memutar otaknya, berusaha mencari celah dalam perkataan Hvyt tersebut.

"Hei... Cuckoo hanya melarang mengambil batu usang saja kan? Jadi selain itu, mungkin diperbolehkan nom" seru Elle gagal paham.

Si bocah bulat memutuskan memasukkan batu hijau ke dalam tasnya dan kembali berjalan tanpa arah. ia hanya mencoba menemukan batuan lain dalam permainannya berburu hartanya, hingga melupakan tujuan awalnya untuk mencari informasi, serta menyelesaikan permainan dari si kejam Merah.

Elle memungut sebuah batuan ungu, lalu berlari ke arah lainnya dan memungut batuan merah berpendar. Hati kecilnya semakin menikmati pencarian harta tersebut, dan mulai terbuai untuk mendapatkan dan mengambil seluruh batuan langka yang berada di atas pulau tersebut.

"Elle suka batuan berkilau nooom~" serunya seraya bergumam riang mengikuti batuan yang ada di atas tanah sambil memungutnya.

Elle terkejut, melihat area di depannya berkilauan warna-warni. Berpijar bak ujung pelangi dalam legenda kaum gnome. Mereka percaya bahwa ujung dari pelangi adalah sekuali penuh emas yang bagi siapa saja yang menemukannya akan mengalami nasib yang mujur seumur hidup.

"Woah... U...Ujung... Pelangi nooom~"

Teriak Elle menghamburkan batuan dalam tas dan berlari ke arah cahaya warna-warni. Ia bernyanyi riang, melantunkan lagu rainbow seraya menari-nari di atas cahaya tersebut. Mata amber Elle berkilauan penuh semangat, mulutnya menganga penuh kepuasan. Ia menemukan sebuah legenda kaumnya di tempat tersebut. Ia yang menemukannya, otomatis semua emas dan harta di pulau tersebut adalah miliknya.

Ketamakan alami kaumnya mulai menggerogoti nalurinya. Mengubah tatapan polosnya menjadi tatapan tajam penuh ketakutan.

"Apa yang harus kulakukan dengan harta yang sebegitu banyak ini? Aku tak mungkin memasukkan semuanya ke dalam tas selendangku ini nom" lirih Elle lesu.

***

Kau sebenarnya di mana Elle nom?
Kuzu terus menerus menanyakan hal yang sama dalam benaknya. Ia berusaha untuk berpikir positif, mencoba memikirkan kemungkinan yang sangat logis. Sudah 25 menit berlalu semenjak dirinya pertama kali menginjakkan kakinya di pulau harta ini, dan tak ada kabar sedikit pun dari si bocah bulat sahabatnya.

Kuzu berdiri tegap, mengeluarkan Tube yang penuh dengan energi kehijauan. Ia lantas memanggil demon–makhluk dalam tube–bernama Pixie. Sontak cairan energi kehijauan berpendar lalu menyatu membentuk makhluk mungil, bersayap kupu-kupu namun berbentuk mirip sayap capung.

"Kyaaa... Tuan memanggil Pixie" seraya terbang mendekat berniat mengecup pipi tuannya.
"Tidak, tunggu Pixie. Ini bukan saat yang tepat untuk itu, aku membutuhkan bantuanmu!"

"Huuh, menyebalkan. Tuan sangat menyebalkan!" rengek Pixie, "Lalu, apa yang Tuan inginkan?" lanjutnya.
"Jelajahi pulau ini, kuberi waktu 10 menit. Setelah itu kau akan ku panggil, dengan atau tanpa informasi sekalipun."

Pixie mengepakkan sayap perlahan, terbang pelan dan sesekali berteleportasi dekat beberapa kali. Belum jauh ia meninggalkan tuannya, Pixie bergegas kembali, terlihat mimik wajah Pixie mengecut, pasi.

"Ada apa Pixie? Mengapa kau kembali?"
"Disana... aku melihat sesuatu tuan, cepat..." seru Pixie tergesa ketakutan.
"Apa yang kau lihat, tenangkan dirimu sejenak, dan jelaskan secara perlahan" balas Kuzu mencoba menenangkan demon miliknya.

"Seorang... Seorang gadis tembam tengah diserang beberapa boneka. Sepertinya gadis yang dulu sempat kau ceritakan itu tuan"

Elle?

Nalarnya terpikir sosok bocah bulat sahabatnya. Kuzu sontak mengembalikan Pixie ke dalam Tube, seraya berlari dengan sarung pedang yang ia siagakan. Berlari ke arah tempat yang sebelumnya di tunjukan oleh Pixie.

Kuzu terengah, memaksakan untuk berlari sekuat tenaga demi sosok yang bahkan belum pasti wujudnya. Namun ia sangat yakin, penglihatan Pixie tidaklah rabun dan juga ia bukanlah tipe demon yang senang membual.

***

Beberapa menit sebelumnya...
Elle yang tengah memikirkan cara untuk mengambil semua harta pulau tersebut terusik oleh getaran di atas tanah, getarannya menyeruak ke arahnya. Ia berpaling ke arah asal getaran, di mana sesosok boneka kuda bertanduk sigap mengawasinya.

Elle mengendap-endap, perlahan seraya menghilang dalam pengawasan boneka tersebut. Dan tak lama kemudian si bocah bulat muncul dari belakang, memeluk sang boneka hingga membuatnya terkejut bukan kepalang. Boneka berontak, berlari kencang ke arah tuannya sementara Elle yang mabuk kendaraan seketika dibuat mual.

Boneka kuda terus berlari hingga terhenti di sebuah area yang dipenuhi peti-peti harta. Elle melepaskan dekapannya, menjatuhkan tubuh bulatnya hingga berdentum pelan. Kepalanya masih berkunang-kunang sementara perutnya perlahan bergolak berontak. Sedetik kemudian dirinya memuntahkan pelangi. Ya... pelangi yang biasa ia makan dalam bentuk permen lolipop.

Elle terhuyung,

Tatapannya berpendar murung,

Wajahnya pucat lesung,

dan kesadarannya perlahan lenyap terkurung.

***

Avarice - Mold

Sosok yang sedari tadi bersembunyi dalam peti tersentak kaget, mengetahui salah satu boneka yang ia kendalikan terusik. Ia lantas memanggil boneka yang lain, mengumpulkannya tepat mengelilingi bocah bulat yang terbujur lemas di atas tanah. Salah satu boneka mengangkat lengan kanannya, seraya siap menusukkan cakar-cakar tajamnya ke arah si bocah. Pada saat itulah, Pixie yang melayang di atas langit mengawasi keadaan di sana, dan segera melaporkan kepada tuannya.

Sosok dalam peti sama sekali tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan dan menakutkan dari bocah tersebut. Ia mengurungkan niatannya, seraya keluar dari dalam peti dan mendekati boneka-bonekanya. Sosok tersebut tersentak, melihat si bocah bulat berambut amber yang terbujur kaku di depannya.

Ia berusaha membangunkannya. Terlintas di benaknya keputusan singkat bahwa sosok tersebut sama sekali tidak berbahaya. Ia terlalu manis untuk dibunuh, dan terlalu lucu untuk di musnahkan.

Terbesit dalam benaknya untuk mengoleksinya, mengubahnya menjadi salah satu boneka kesayangannya. Namun ia mengurungkan niatannya tersebut dan memutuskan untuk membangunkannya, dan mengenalnya terlebih dahulu.

"Kakak, kakak... Bangun kak..." tubuh si bocah bulat ia tepuk-tepuk.

Respons mulai terlihat. Jemarinya bergerak perlahan, dengan mulut yang juga bergerak berucap pelan. Sosok tersebut semakin bersemangat membangunkan si bocah.

"Kakak, Bangun kak... Bangun..."

Si bocah membuka matanya perlahan, lalu tersentak dan berdiri refleks. Ia menatap sosok yang membangunkannya, berpindah ke boneka panda yang ia bawa, lalu berpindah lagi ke boneka-boneka lainnya. Ia terhenti di boneka kuda bertanduk, seraya berteriak dan memeluk boneka kuda tersebut.

"Unihooooooorn~ Kyaaa~" jerit si Bocah riang. "Mungkinkah tempat ini surga yang dipenuhi legenda nom?" lanjutnya mendekap boneka kuda dan mendekati sosok yang membangunkannya.

"Kakak, itu bonekaku kak..." serunya sedih.
"Bolehkah ku peluk boneka ini sebentar saja? nanti aku kembalikan lagi kepadamu nom" pinta si bocah riang tersenyum
"Kakak suka boneka?"
"Uhh~ Elle suka boneka nom" balasnya singkat

Elle? apa itu namanya?

"Namaku Nim kak, dan boneka panda ini Imanuel. Nama Kakak Elle kan?" tanya Nim "Aku senang jika ada orang lain yang suka boneka juga" Lanjut Nim tersenyum lebar.

Elle tidak begitu mendengarkan, ia hanya senang memeluk boneka kuda yang begitu empuk dan menggemaskan. Lalu tersentak setelah ditanya oleh Nim mengenai namanya.

"Aku Suuuka Bonekaaa~, dan yup, namaku Elle nom" sembari mendekati Nim yang berdiri bersama keempat boneka lainnya.
"Elle nom?" tanya Nim
"Tidak pakai nom, Elle saja nom" balas Elle membenarkan.

Sebuah getaran cepat terasa di atas tanah, dan Elle tahu betul pemilik getaran dan irama kaki tersebut. Ia memicingkan matanya, seraya berlari meninggalkan Nim dan mendekati arah getaran.

"Zuuzuuuu~" teriak Elle melompat ke arah Zuzu yang baru saja muncul dari balik bukit emas.
Kuzu tentu terkejut, sekaligus senang setelah tahu bahwa si bocah Elle tidak terluka sedikit pun. Tatapannya konstan menyipit tajam ke arah Nim, pedang ia keluarkan dan setelah menurunkan Elle di atas tanah berkeping-keping emas, Kuzu sontak berlari ke arah Nim. Menyabetkan pedangnya hingga membelah beberapa boneka yang berusaha melindungi tuannya.

"Tunggu kak, tungguuu..." teriak Nim penuh kegelisahan.
"Zuzu tunggu sebentar nom" diikuti teriak dari Elle.

Kuzu tentu dibuat bingung, ia menghentikan serangannya, lalu mendekati Elle dan memasukkan pedangnya seraya bertanya.

"Kau tak apa Elle? apa anak itu melukaimu? Kau tidak terluka kan?

Elle hanya menatap heran sahabatnya, lalu tersenyum senang karena seseorang begitu peduli kepadanya. Elle berjalan perlahan, mendekati Nim yang tertunduk sedih, juga kesal karena koleksinya dihancurkan begitu saja.

"Maafkan Zuzu ya nom, ia tak bermaksud melukaimu nom"

Namun terlambat sudah, Nim terlalu kesal kepada sosok berpedang yang telah menghancurkan koleksinya. Ia murka, menginginkan penebusan atas boneka yang dihancurkannya. Menjadikannya boneka akan menjadi penebusan yang sangat setimpal.

Nim berdiri tegas, mengangkat kedua lengan bajunya yang kedodoran, sedetik kemudian beberapa boneka keluar dari dalam lengan bajunya. Satu persatu bermunculan, hingga terkumpul sebegitu banyak boneka kala itu. Berbagai macam bentuknya, dari manusia, hewan, monster, hingga boneka lucu bermunculan. Hasrat memiliki boneka pengguna pedang semakin mencuat, memaksanya untuk menyerang Kuzu dengan serangan membabi buta.

"Kakak Elle, menjauhlah" teriak Nim sebelum akhirnya ia memulai serangannya.

Kuzu tersentak, ia sontak melempar sebuah Tube seraya membacakan sebuah rapalan sembari menghindari serangan boneka Nim.

"Serve your lord. Alice" diikuti munculnya gadis berperawakan cantik berambut emas.

"Tuan Kuzu!" teriak Alice, membuatnya murka ketika lengan pakaian Kuzu tercabik oleh beberapa cakar boneka.
"Beraninya kau melukai tuanku!" teriak Alice murka, "DIE FOR ME!" lanjutnya diikuti munculnya ratusan kartu yang melayang di sekitar Alice.

Alice menunjuk ke arah tuannya yang terus menerus diserang, melesatkan kartu-kartu tajam yang seketika meluluh lantahkan pasukan boneka Nim. Sepasukan boneka muncul kembali, kini dengan sigap menyerang Alice. Tangan Alice menunjuk Nim, diikuti lesatan kartu yang menyerang boneka-bonekanya.

Kuzu tertunduk, mengumpulkan tenaga di kedua telapak kakinya, seraya melompat ke arah Nim. Namun sesuatu menghentikan keduanya, menghentikan pertarungan yang sia-sia tersebut.

"Berhenti NOM!" teriak Elle, tangannya memegang dua batu permata warna biru dan merah. Seraya melemparnya dan tepat mengenai wajah Nim dan Kuzu.

Nim semakin dibuat murka oleh tingkah Elle. Bukannya menurut, ia tak segan meluncurkan beberapa boneka ke arahnya.

Elle terkejut, sepasang cakar tajam siap mencabik matanya. tubuhnya terbujur kaku, tak bisa digerakkan. Ia menjerit, menutup kedua matanya menggunakan lengan kirinya seraya menghempaskan  boneka di hadapannya akibat perisai magnetis comwatch di tangan kirinya.

Hempasan boneka berbalik ke arah Nim, melesat lebih cepat dari sebelumnya hingga mementalkan boneka panda yang dipegang olehnya. Nim seketika terdiam, berdiri kaku bak kehilangan sesuatu dalam tubuhnya.

Kuzu mengembalikan Alice ke dalam tube. Berjalan perlahan ke arah Elle yang masih terkejut menutup kedua matanya. Di atas tanah merah penuh berserakan boneka usang dan rusak di atas kepingan emas, perak, dan benda berharga lainnya. Kuzu membelah tubuh nim menjadi dua, pedang di tangannya berkilauan kehijauan, dan Tubuh Nim lenyap begitu saja, tanpa darah atau apapun yang seharusnya muncul.

Nim sebuah boneka?

Pikir Kuzu, Bergegas berlari ke arah sebuah peti kosong yang terbuka, di mana sebuah boneka panda tergeletak di depannya. Kuzu memusatkan pikirannya, seraya memikirkan kemungkinan dan fakta dalam mengenai Nim.


Jika anak kecil tadi adalah boneka dan lenyap begitu saja, mungkin selama ini pengendalinya ada di sekitar sini, bersembunyi dalam peti atau menghilang dari pandangan.



Ya, kemungkinan terbesarnya hanyalah pengendali dari boneka-boneka tersebut bersembunyi, atau... tunggu, mengapa Nim tiba-tiba terdiam di saat boneka panda ini terhempas? Mungkinkah?

Kuzu memungut boneka panda, menatap boneka bermata juling tersebut dalam-dalam. Sementara Elle menurunkan lengan kirinya, lalu menghela napas lega dan mendekati Kuzu yang berdiri di depan peti harta bersama boneka Imanuel.

Kuzu merobek boneka Imanuel, diikuti munculnya Aura gelap dari dalam boneka. Melayang  ke atas langit dan lenyap seketika. Elle hanya terdiam kala itu, mulai terbiasa dengan situasi-situasi yang begitu menyedihkan dan begitu kejam.

"Zuzu, mengapa kau menyerang Nim? Mengapa kalian bertarung nom?"

Kuzu menarik napas, berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu. Lalu dengan tegas menjawab pertanyaan Elle seraya berjalan menjauhi daerah peti harta.

"Sudah jelas kan Elle, untuk melindungimu tentu"

Elle tertegun, terbayang dalam benaknya jika dia harus melawan dan membunuh sahabatnya. Mungkin akan sangat memilukan baginya terlebih karena mereka berusaha melindunginya. Tidak, tidak sedikit pun dalam benaknya untuk melawan apalagi membunuh sahabatnya. Kini Elle hanya berharap dapat bertemu orang jahat yang bisa ia musnahkan. Ya... berharap bertemu kontestan lain yang menyeramkan baginya.

"Tunggu Zuzu, tunggu sebentar nom" Teriak Elle menarik lengan kirinya

Elle menceritakan penemuannya sebelumnya, lalu konklusi yang ada di benaknya. Mengenai cahaya pelangi, kuali penuh emas dalam legenda kaumnya, dan kekayaan yang melimpah bagi yang menemukannya. Mengembalikan ketamakan dalam nalurinya secara perlahan.

"Zuzu, lihat di sana nom!" tunjuk Elle ke arah sebuah peti emas yang tertutup.
"Boleh kubuka peti tersebut nom? " pinta Elle memelas.

Jelas setelah cerita yang ia dengar, menolak permintaan si bocah akan sia-sia saja. Walaupun baru sejenak mengenalnya, tapi ia tahu betul bahwa si bocah Elle sangat keras kepala. Ia mengangguk, lalu mengikuti Elle dari belakang.

Elle membuka salah satu peti besar, setelah dibantu Kuzu sebelumnya dikarenakan peti harta terlalu tinggi baginya. mahkota, jubah, tongkat kerajaan yang sangat mahal dan harta kerajaan lainnya menyambut keduanya. Mahkota berkilauan dilapisi emas dan bertaburan bebatuan warna-warni segera Elle pakai.

Lalu si bocah mengenakan jubah merah berbulu putih bertabur intan permata dan tongkat kerajaan berujung batuan mulia berkilau amber. Entah mengapa jubah dan tongkat tersebut  sepertinya di desain khusus bagi si bocah Elle, karena sangat muat dalam tubuh mungil bulatnya. Dalam benaknya, ia memikirkan menjadi sosok ratu kaum gnome. Salah satu impian kecilnya waktu berumur 5 tahun–15 tahun umur gnome–.

"Lihat, lihat Zuzu... apa Elle sudah tampak seperti seorang putri nom?" tanya Elle mengharapkan jawaban yang memuaskan baginya.
"Uhh... umm, bukannya seharusnya kita kembali ke titik awal Elle? aku sudah menyelesaikan tugasku di pulau ini." Balas Kuzu mengalihkan topik.
"Jawab dulu nom." Seru Elle mengangkat tongkatnya ke arah Kuzu.
"Yes my lady, kau seorang putri yang sangat cantik nona Elle" balas Kuzu membungkukkan tubuhnya sopan. Dalam benaknya, ia hanya ingin menyelesaikan tahapan ke dua ini dan kembali ke Jagatha. Tentu karena info yang ia inginkan sudah cukup kala itu.

Sementara itu, Elle tersipu malu, lalu ia menarik Kuzu seraya diajak untuk membuka peti-peti harta lainnya. Si bocah bulat terlihat semakin bersemangat, sementara Kuzu mulai bosan dibuatnya.

Waktu yang tersisa dalam tahap kedua adalah 08 jam 15 menit.  Satu kontestan telah dilenyapkan, Nim Imanuel oleh baikai Kuzunoha. Kontestan yang tersisa saat ini adalah empat orang.
***

Avarice – Merry

Di sisi lain pulau, di kala Kuzu dan Nim bertarung. Re'eh bersama Kilatih berjalan mengarungi pulau. Entah apa yang keduanya cari, Re'eh terlihat bercakap-cakap penuh kedekatan bersama Kilat. Sementara Kilatih terlihat senang dan nyaman bersama Re'eh.

Sebuah bisikan dari sang angin menghentikan tubuh Re'eh, ia lantas mendengarkan cerita dari sang angin yang membawakan cerita dari segala penjuru pulau. Re'eh mendengar cerita pertarungan Kuzu dan Nim, serta keberadaan Elle sebagai kontestan di pulau tersebut selain Kilat tentu saja. Re'eh menghentikan langkah kakinya, seraya menutup kedua matanya dan mengambil keputusan untuk meninggalkan Kilat dan mencari tahu keberadaan Kuzu serta Elle. pantang bagi Re'eh untuk melawan seorang wanita dan anak-anak. Setelah mendengar dari bisikan sang Angin bahwa sosok Elle adalah sosok gadis mungil yang ceria, ia lantas mengurungkan niatannya untuk melawannya. Adalah kode moral dalam hidupnya untuk menyayangi semua wanita dan mencintai serta mengasihi mereka yang masih belia.

Kilat pun ia tinggalkan, tanpa terucap kata sedikit pun. Seketika berlari kencang dan perlahan melayang dibantu oleh angin yang membawanya ke sebuah gundukan tinggi emas, perak, dan harta benda bertabur batuan langka. Di puncak gundukan tersebut, melayang-layang sebuah batu amber yang perlahan membesar, sesekali berputar searah jarum jam dan berkilau penuh pesona. Re'eh hanya menatap sekilas batu tersebut seraya melewatinya dan melayang pelan ke sisi lain pulau, tempat di mana Elle dan Kuzu berada.

Kilat tertegun, mengetahui Re'eh meninggalkannya tanpa berucap kata sedikit pun. Ia melihat sekelibat bayangan dari kejauhan, menjauh menuju bukit bertumpuk harta. Ia hanya terdiam kala itu, dan tubuhnya serasa terguncang hebat. Merasa dikhianati oleh janji-janji manis dan cerita yang sebelumnya Re'eh ucapkan padanya. Kesal, kecewa, pengkhianatan menjadi bahan bakar dalam tubuhnya untuk mengejar si pria bersorban. Yang ingin ia ketahui hanyalah keputusan, perasaan dan keseriusan Re'eh kepadanya.

Sistem nanotech dalam tubuh Kilat merenggang, seperti sebuah kendaraan yang baru saja dipanaskan. Semua jalur dan alur energi dalam tubuhnya terbuka hebat. Terpacu dalam irama pengkhianatan yang terus menerus mencuat dalam hatinya. Kilat bersiap, seraya berlari kencang ke arah sekelibat bayangan yang sebelumnya ia yakini sebagai Re'eh.

***

Kuzu bosan bukan kepalang, Elle hanya membuka dan terus membuka peti – peti harta. Seperti telah melupakan alasan dan tujuan utama mereka diturunkan di pulau tersebut. Elle terlihat riang tanpa beban, membuka satu persatu peti harta yang berisi harta yang sama, tak beda jauh dari isi peti yang ia buka sebelumnya. Namun tatapan Elle berubah penuh tanya ketika deretan peti berukir aneh berdiri gagah saling menyamping dan disorot cahaya aneh penuh warna.

Ia perlahan mendekati peti-peti tersebut. Lalu berdiri tegap di depan sebuah peti kecil berukir simbol gunung. Cahaya jingga meliputi peti yang tertata lebih rendah dari peti lainnya. Salah satu peti sudah terbuka kala itu, peti berukir Api merah dengan pancaran cahaya kemerahan yang juga tertata rendah.

Elle semakin bersemangat, rasa penasarannya jelas meluap-luap. Ia lantas mencari lubang kunci peti harta tersebut, berharap dapat membuka paksa peti tersebut dengan alat ciptaannya. Namun sayang, lubang yang ia cari sama sekali tidak ia temukan.

"Argh... aku ingin lihat isi peti ini nooom~" teriak Elle gusar, membawa Kuzu yang hanya duduk terdiam dan bosan dengan tingkah Elle yang sangat kekanak-kanakan.

Elle menancapkan tongkat kerajaannya. Memanggil Kuzu dan memintanya untuk membuka peti tersebut. Kuzu menolak, menggelengkan kepalanya dan mulai berdiri setelah penciumannya merasakan hawa gurun yang tidak seharusnya ia rasakan.

"Elle, waspadalah. Seseorang datang mendekat"

Elle sama sekali tidak memedulikan perkataan Kuzu, ia hanya terfokus pada peti istimewa di hadapannya. Ia lantas memegang peti dari kedua sisi, berniat menggoyang-goyangkan peti untuk mencari tahu isi dalam peti. Namun rencananya justru malah di luar perkiraannya.

Disaat Elle meletakkan kedua tangannya, cahaya jingga berpendar lenyap. Diikuti terbukanya bagian tutup peti seraya menghasilkan kemilau warna jingga yang lebih spektakuler dan lebih mempesona dari cahaya lainnya yang pernah ia lihat sebelumnya. Membutakan, namun Elle justru tertawa riang dan senang kala itu, terlihat dari raut muka Elle yang tersenyum lebar penuh kebahagiaan dari sela-sela cahaya jingga yang semakin lama semakin menelan area di sekitar bocah bulat terselip senyuman riang si bocah gnome penuh semangat.

"Kereeeen Noooom~" teriaknya diikuti berpendarnya cahaya menyilaukan.

Kuzu terbelalak, wajahnya terpukau oleh kilauan cahaya jingga yang muncul dari dalam peti aneh yang kini tengah Elle pegang. Ia segera memalingkan mukanya, memfokuskan penciumannya untuk mencari tahu siapa dan dari mana sosok yang kini datang kearahnya.

Elle semakin bersemangat, ingin tahu isi dalam peti bersimbol gunung tersebut. Ia merogoh lengan kanannya, dan menyentuh sesuatu yang tak asing lagi baginya.

"Eh? Sebuah kertas nom?" gumamnya penuh tanda tanya.

Secarik kertas perkamen kuno, digulung ke samping dan diikat pita emas berlapis perunggu. Elle lantas membukanya, membaca sebait kalimat yang tersirat dalam perkamen tersebut. Sesuatu yang jelas mengingatkannya langsung akan permainan dari si kejam merah, tujuan, dan alasan ia ada di pulau tersebut.

"Let the earth swallow you"

***

Hvyt yang sedari tadi menatap dan mengawasi serta memonitor gerak-gerik Elle menghela napas lega. Ia tak tahu harus melakukan apa jika seandainya Elle terus termakan oleh godaan dan buaian pulau Arsk. Ia kembali mengawasi keadaan di sekitar Elle, melihat sosok yang selama di Jagatha selalu bersamanya, juga beberapa kontestan lainnya yang mendekati keduanya. Satu tengah melayang dan mendekati mereka, sementara yang lainnya bergerak lincah namun masih jauh dari sosok pertama.

"Kuharap tuanku Thurqk terhibur dengan pemandangan di atas pulau keserakahan ini." Seru Hvyt bergumam dalam hati.

*** 

Aroma yang Kuzu rasakan semakin terasa kuat, datang dari sebuah gundukan tinggi harta yang puncaknya memancarkan cahaya berkilauan. Sesosok bayangan sempat terlihat sebelum kemudian lenyap seketika. Kuzu memfokuskan pikirannya, memikirkan kemungkinan lain yang bisa ia dapatkan mengenai putaran kedua ini. Sembari menunggu munculnya sosok beraroma bak gurun pasir dikala senja.  

Jika putaran pertama kontestan dikumpulkan di tempat milik salah satu kontestan. Lalu, apa kemungkinan tersebut juga bisa terjadi pada putaran kedua ini? Tidak, sepertinya tidak. Jika ini merupakan tempat dari salah satu kontestan lainnya, mungkin milik sisa kontestan yang belum kita temui.



Sudah pasti bukan milik Elle, dia begitu tergugah dengan banyaknya harta dan batuan yang bisa ia dapatkan di tempat ini. Jika tempat ini milik Nim, kemungkinannya sangat minim, tidak, kemungkinannya nol persen. Dilihat dari tingkah Nim yang terlihat kurang wajar.



Lalu, apa mungkin milik sisa kontestan yang lain? Tidak... tunggu, ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Metode ketika para malaikat membawa kami. Di tahapan pertama mereka melesat cepat hingga melintasi gerbang dimensi, sementara tahapan kedua ini sama sekali santai dan tidak melewati gerbang apapun.

Lalu, tempat Zany dan Lucia yang memiliki tema yang berbeda. Zany bilang daerah yang ia singgahi berupa pulau penuh makanan dan apapun yang sangat menyenangkan. Lalu Lucia, sebuah labirin, mirip seperti ruangan rumit yang di setting untuk mengetes sifat seseorang. Teriakan, ya tentu... mengetes kesabaran seseorang.



Lalu pulau ini? Bisa jadi tempat ini sengaja diciptakan untuk mengetes naluri dan keinginan kontestan? Tamak? Mungkin... ya.... ketamakan... pasti itu. Dan daerah tempat Zany sudah pasti mengetes kesabaran dan kesanggupan seseorang untuk menahan nafsu. Itu.... itu dia... Nafsu... informasi yang kudapat mengenai tempat terselenggaranya tahapan kedua ini benar-benar tempat yang silih berkaitan dengan tes dan hawa nafsu.

Kuzu terus memikirkan kemungkinan dari informasi yang sebelumnya ia peroleh. Hingga tak sadar bahwa sosok yang ia tunggu telah berdiri tegap tak jauh darinya. Sosok bersorban motif bunga, tinggi dan terlihat tengah berbisik dengan sesuatu yang tak tampak.

"Salam bagi anda wahai tuan yang berpikir keras hingga mengacuhkan kedatanganku" seru Re'eh sopan kepada Kuzu.

Kuzu menatap tajam Re'eh, sosok tampan nan rupawan, tinggi gagah bak seorang pangeran dari negeri gurun. Bermata hijau mengkilap bak zamrud yang tak terhitung karatnya. Kuzu melipat lengan kanannya ke depan, menundukkan tubuhnya penuh rasa hormat.

"Maaf atas ketidaksopanan ku. Kuharap caraku memberikan salam ini bisa kau terima tuan" balas Kuzu hangat. "Sepertinya kau mengetahui keberadaan kami berdua? Kabar angin tentu lebih cepat dari sebuah kilat ya" sindir Kuzu

"Tentu tuan yang baik dan ramah, Angin memberitahukan semuanya kepadaku, ya... semua yang terjadi di tempat ini termasuk cahaya berkilau jingga yang kulihat di saat perjalananku kemari" seru Re'eh

"lalu, apa maksud kedatanganmu?"

"Hanya ingin bercakap dan bertatap dengan sisa kontestan yang tersisa"

Kuzu tidak begitu mengerti dengan perkataan terakhir Re'eh, ia merasa Re'eh mengetahui informasi lebih banyak dari yang ia ketahui. Terlebih mengenai letak dan posisi serta jumlah kontestan. Mungkinkah pulau harta ini adalah tempat tinggalnya?

"Sisa kontestan? Maksudmu?" seru Kuzu berusaha mencari tahu.

Re'eh menjelaskan dengan seksama, mengenai Kilat, dan alasan ia tahu jumlah kontestan serta letak-letaknya. Ia juga menjelaskan rencananya, yaitu melawan Kuzu secara adil karena ia tak punya alasan untuk melawan seorang gadis cantik seperti Kilatih ataupun seorang bocah seperti Elle. Kuzu bisa saja menolaknya, namun kemungkinan Ia menyerang Elle atau menjadikannya sandera untuk melawannya lumayan tinggi. Sebelum itu terjadi. Ia menyetujui keinginan Re'eh.

"Terima kasih tuan yang begitu baik hati. Perkenalkan namaku Re'eh Al Sahra. Seorang pengembara. Mungkin jika kita bertemu di luar turnamen ini, kita bisa menjadi teman yang baik, bukan begitu tuan, maaf nama tuan?"

"Baikai Kuzunoha, aku seorang mediator di negeriku"

Kuzu melirik dan sekilas menatap Elle yang tengah berusaha menggapai peti berukir lainnya, ia pasti sangat penasaran dengan isi peti lainnya.

Dasar bocah polos. Justru kepolosanmulah yang menjadi daya tarikmu Elle.

Pikir Kuzu, Ia tak ingin membawa Elle ke dalam pertarungannya, karenanya ia mengajukan sebuah syarat kepada Re'eh.

"Di bawah gundukan emas itu" tunjuk Kuzu ke arah gundukan emas berpuncak permata berkilau.

Re'eh mengerti dengan syarat yang ia ajukan. Ia lantas berjalan mengikuti Kuzu, meninggalkan Elle yang sibuk dengan peti yang benar-benar membuatnya penasaran setengah mati.

Disela-sela perjalanan Kuzu, sebuah aroma tubuh lainnya tercium mendekat. Aroma menyejukkan dan begitu semerbak. Kemungkinan adalah aroma tubuh kontestan terakhir yang sempat Re'eh ceritakan. Aroma tubuh Kilatih tentu saja.

***

Elle tak sadar. keingintahuannya telah berubah menjadi ketamakan yang tak bisa lagi ia kontrol. Nalurinya telah sepenuhnya termakan, menggelapkan pandangannya dan mulai  melirik gelisah. Takut harta di atas pulau tersebut diambil seseorang.

Ia lantas melupakan peti yang lainnya, berbalik dan mencari Kuzu untuk meminta bantuannya mengumpulkan harta di atas pulau. Ia masih ingat jejak yang Kuzu ambil bersama seseorang yang bahkan sangat sulit ia identifikasi bentuk dan wujudnya, karena irama berjalan dan hentakan kakinya begitu ringan dan hampir tak terasa.

Baru beberapa langkah ia berjalan, sesuatu yang amat sangat memukau kembali terlihat. Sebuah batu yang bahkan lebih berharga dari semua harta di atas pulau tersebut terlihat berkilauan penuh daya pikat. Cahaya kemilau jingganya benar-benar memikat. Sepenuhnya membutakan naluri dan benak Elle kala itu, hingga ia mengasumsikan orang-orang yang ada di atas pulau tersebut sebagai musuh yang ingin merampas harta tersebut. Termasuk Kuzu, sahabatnya sekalipun.

"A.... Ambernite nom? Hummina humina humina humina humina~" gumam Elle dalam ketidakpercayaan dan decak kagumnya.

Elle lantas bergegas berlari ke arah puncak tumpukan harta tersebut. Tidak memedulikan situasi yang tengah terjadi di sekitarnya. Pertarungan Kuzu dan Re'eh yang sudah dimulai dan berjalan begitu sengit dan intens.

Avarice – Mumbo Jumbo

Kilatih mempercepat lajunya, melompati beberapa rintangan berupa peti harta dan gundukan emas, seraya memanjat gundukan raksasa harta di mana di bawah gundukan tersebut, Kuzu dan Re'eh tengah mempersiapkan diri untuk bertarung secara adil.

Kuzu mencabut sebuah tube dari dalam pakaiannya, seraya melempar ke atas langit dan mulai membacakan rapalan mantra. "Serve your lord, Alice"

"Anything for you my lord" sapa Alice.

Sosok Alice bersanding di samping tuannya, menunggu perintah dari sang majikan. sementara Re'eh memejamkan matanya, mendengarkan cerita dari sang angin seraya mengeluarkan sebuah Falchion–pedang melengkung dari timur tengahyang segera ia siagakan.

"Hamba mengerti, terima kasih atas informasinya" Gumam Re'eh membuka kedua matanya.

Keduanya saling bertatap penuh keseriusan. Re'eh tersenyum senang, seraya mengawali serangan dengan melesatkan tubuhnya ke arah lawannya. Kuzu mengangkat sarung pedangnya, bergerak ke samping kiri dan menahan ayunan pedang melengkung Re'eh oleh sebagian ujung tajam dari pedangnya yang tidak sepenuhnya ia cabut.

Keduanya bertatapan penuh Intens, senyum Kuzu tersirat diiringi tawa Re'eh yang tampak begitu puas.

"Diriku bersyukur bisa melawan anda tuan kuzu. Kau sangatlah kuat" puji Re'eh
"Heh, begitu pun denganmu Re'eh. Tak kusangka kekuatanmu bisa menggoyahkan tubuhku ini." Balasnya memuji.

Di dalam intensnya pertarungan keduanya, Elle yang termakan ketamakan berlari di antara keduanya, tak sengaja membentur lutut Re'eh dan menjatuhkannya. Tepat... di saat Kilat juga sampai dan berdiri di atas tumpukan harta di sisi kanan mereka berdua.

Pemandangan yang Kilat lihat justru membakar api cemburu dalam dirinya. Re'eh, yang terjatuh oleh benturan Elle kini tengah menindih paksa sosok pria di bawahnya. Dan yang membuatnya terbakar api cemburu tak lain adalah karena....

Keduanya terlihat mesra saling tindih dan berciuman...

Kilatih murka, geram dan kecewa karena Re'eh lebih memilih pria tersebut. Ia merasa dikhianati oleh janji-janji palsu yang telah ia ucapkan kepadanya. Ia sempat berpikir
apakah sesuatu yang ia lihat tersebut merupakan Bromance yang sempat populer di dunianya? Dan apakah ini yang disebut dengan NTR?

#NikmatnyaNTR

Sementara itu, Alice yang belum bergerak sedikit pun lebih memilih untuk kembali ke dalam tube tuannya. Kekecewaan tersirat jelas di wajah gadis berambut emas tersebut.

***

Kesalahpahaman yang terjadi semakin menggila. Elle menganggap Kilat yang ada di atas gundukan harta berniat mencuri Ambernitepermata jingga berbentuk seperti berlian­. Ia segera memanjat, melupakan ketakutan akan ketinggiannya dan berdiri di samping Kilat yang tengah terbakar api cemburu.

"Hei, jangan kau pikir bisa mengambil hartaku itu NOM!" teriak Elle kepada kilat.

Kilat semakin terpuruk, hatinya semakin terjepit perih ketika tahu bahwa kedua pria di bawah yang kini tengah berdiri dan diam dalam keterkejutan lebih memilih bocah yang berdiri di sampingnya.

Kau anggap apa aku ini?

Pikir Kilat, seraya terjun melompat dengan katana putih siap menebas Re'eh. Re'eh yang tidak menyadari serangan Kilat terjatuh, dalam keterkejutan, Kuzu menahan serangan kilat dengan katananya. Semakin membutakan si gadis berambut hitam tersebut yang menyerang membabi buta.

Elle tak memedulikan kejadian di bawahnya. Ia lantas memanjat dan terus memanjat puncak harta, seraya menggenggam Batu berkilau jingga dan mengangkatnya tinggi-tinggi di angkasa.

"Akulah pemilik harta tak ternilai ini Nooooom~" teriak Elle penuh antusias
"Akulah Richella Elleanor, yang terkaya dari semua makhluk kaya di seluruh jagat nom!"

Keseimbangan tubuh Elle goyah, hempasan angin yang cukup kuat serta nalurinya yang perlahan mencuat mengecutkan keberaniannya. Mengembalikan ketakutan akan ketinggiannya dan membuat tubuh mungilnya bergetar tak karuan. Wajahnya pias, dan pandangannya membayang berkunang-kunang.

Sepersepsian detik kemudian Elle terhempas, tak kuasa menahan ketakutannya akan ketinggian, menghempaskan tubuh bulatnya tepat ke arah si gadis berambut hitam yang tengah menyerang membabi buta. Kuzu yang menyadari jatuhnya si bocah dengan sigap menghentikan serangan Kilat, menjatuhkannya di atas tubuh Re'eh yang masih tak percaya dengan sesuatu yang telah ia alami sebelumnya.

Kuzu melempar pedangnya, siap menangkap Elle yang terjatuh ke arahnya. Namun ketamakan Elle masih membutakannya. Ia berpikir bahwa Kuzu berniat merampas Ambernitenya. Beberapa detik sebelum mendarat, Elle mengambil sesuatu dalam tasnya.

Kuzu berhasil menangkap Elle, tubuhnya membentur tubuh Kilat sebelum akhirnya menjatuhkannya ke atas gundukan emas, wajahnya tersenyum lega. Namun tidak dengan Elle yang terperanjat senang.

"Rasakan itu nom, dasar pencuri harta" tunjuk Elle ke arah Kuzu, yang terbujur kaku berlinang darah merah tepat di jantungnya.

Tangan kirinya memegang sebuah alat ciptaannya. Dr.Ill, yang meneteskan darah merah segar tak henti-henti. Elle tertawa penuh kepuasan, sebelum akhirnya sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar.

"Nom!" suara riang terdengar nyaring, diiringi gemuruh statis mengikuti.

"Kuzu, kuzu... kau di sana? Bagaimana dengan keadaanmu? Apa ada kabar dari Elle?"

Dalam batin kecilnya, seberkas cahaya kecil menyuarakan pelan sebuah kata penuh makna. Bayang-bayang terlihat jelas mengitari cahaya tersebut, perlahan mengembalikan kesadaran si bocah bulat.

Zany, Zuzu, Cheril

Suara tersebut menggema dalam batinnya, cepat merambat membuka kedua matanya, membangunkan nalurinya, dan serta-merta mengembalikan benaknya yang termakan ketamakan. Menyadarkan atas kesalahan besar yang telah ia perbuat.


Re'eh dan Kilat berdiri berbarengan, melihat si bocah bulat yang terdiam hampa dengan tatapan kosong ke arah Kuzu. Ia melempar alat dalam genggaman tangan kirinya, berlutut menyesal dengan linangan air mata yang menggantung di atas kelopaknya.

"Apa, apa yang telah kulakukan nom?"
"Ini tidak nyata kan? Semua ini hanya mimpi kan nom?"
"Zuzu, bangunlah nom, kumohooon~"
"Kumohooon nom, bangunlaaah" lirih Elle perih

Elle tertunduk, deraian air mata berlinang tak terbendung, dan sedetik kemudian lengkingan keras diikuti tangisan membahana ke angkasa. Tubuh si bocah bergetar kuat dan suara tangisannya bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Sedih kembali ia perlihatkan, ia meronta-ronta, meminta Kuzu untuk kembali dan terbangun. Berharap yang ia lihat hanyalah mimpi buruk.

"Kembalilah Zuzuuuu~, kumohoooon~ nooooooom~"
"Aku tak butuh tongkat mahal ini" seraya melempar tongkat kerajaan yang selama ini ia genggam
"Aku tak butuh jubah mewah, mahkota emas, ataupun batu berharga ini noooom~" diikuti hempasan mahkota, jubah dan batu Ambernite yang selama ini ia inginkan.

"Kumohon kembalilah Zuzuuuuu~, kembalilah Nooooooom~" lirih Elle
Re'eh menahan tubuh Kilat, memintanya untuk menjauhi si bocah bulat karena sesuatu yang samar terasa menyeruak di sekitar tubuh bocah tersebut. Sesuatu yang sangat mengerikan yang bahkan belum pernah ia temui selama ratusan tahun perjalanannya.

Gerakan tangan Kuzu terasa menyebar di atas tanah, Kuzu menatap sedu sahabatnya Elle, ia mengangkat tangan kanannya, menyusut air mata yang sedari tadi berlinang di wajahnya. Seraya berbisik pelan kepada Elle dengan senyum simpul penuh ketulusan.

"Ja.... jangan... menangis.... Elle, I..n.. buk...sal....mu.... ....."

Hembusan napas Kuzu berhembus tanpa sesal, sedikit melegakan Elle yang masih terpukul jiwa raganya. Ia memeluk tubuh Kuzu yang terbujur kaku. Menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan terakhirnya.

Elle menghentikan tangisannya, ia kini sepenuhnya sadar dengan kondisi dan situasi dalam permainan maut ciptaan si merah jahat. Ia lantas memungut batu Ambernite, meletakkannya di atas lubang jantung Kuzu, lalu meninggalkannya. Mengacuhkan kedua kontestan lainnya dan berjalan menjauhi mereka berdua.

Tatapannya berubah sepenuhnya, menyirat kebencian yang mulai terlahir dalam jiwa Elle yang teramat sangat Polos. Kebencian akan sosok Thurqk, sosok yang mengaku sebagai tuhan segala pencipta alam.

***

Avarice
The Maverick : Richella Elleanor

Hvyt, bergegas turun mendekati Elle. tertunduk penuh penyesalan, Elle hanya tersenyum ke arahnya. Senyuman kecut penuh kepahitan.

"Ini bukan salahmu Cuckoo, ini jelas salahku yang terlalu lemah nom!"

Hvyt berlutut, menawarkan tangan kanannya tanpa sepatah kata terucap. Sayap hitamnya ia kembangkan, siap melesat bersama si bocah bulat yang telah berhasil melewati tahapan kedua tersebut.

Elle menerima tawaran tersebut. Segera mendekap erat lengan kiri Cuckoo seperti biasanya. Menghempaskan keduanya ke atas langit, meninggalkan pulau Arsk penuh kegetiran.

"Let the earth swallow you"

~~~ It's just Begin ~~~

17 comments:

  1. Wkwkwkwkwk tutur kata Reeh nya puitis sekali. Sial, Reeh dijodohin sama Kilat, ane jadi ngerasa dibales setelah ngejodohin Kilat sama Baikai ^^, Tapi yang ane ga ngerti kenapa Reeh meninggalkan sang bunga putih begitu saja tanpa penjelasan hingga menumbuhkan benih api cemburu...

    Rasanya sama kayak punya ane, di sini cuma Elle yang kena dominasi Greed. Dan pertarungan antara Baikai - Nim malah dipicu oleh kesalahpahaman, bukannya karena ketamakan pulau.

    Tapi yang ane ga duga tapi ane suka, endingnya cukup lain dari yang lain. Elle ga sengaja bunuh Baikai, dan cerita pun selesai tanpa akhir yang jelas bagi dua kontestan tersisa. Kayak ga selesai tapi justru ini yang wajar dan ga maksa klo mengingat peraturannya.

    Narasi nya kadang ada beberapa yang agak kaku, tinggal dipoles sedikit lagi.

    Nilai 8 gan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks Gan Review and Ratenya ^_^
      saya coba memanfaatkan tema juga kenyataan setelah R1 buat ngelurusin Fokus OCku ini... mungkin setelah ini, Elle yang polos bakalan perlahan hilang, dan Scene2 lebay, alay, dan mengharukan juga perlahan hilang digantikan scene aksi, tactic, dan strategy ^_^

      Apapun yang terjadi selanjutnya (jagatha ataupun Cachani) Ocku uda siap buat maju ^^/

      Delete
    2. yap, maju terus! pantang mundur!

      Delete
  2. ==Riilme's POWER Scale on Richella Elleanor's 2nd round==
    Plot points : B
    Overall character usage : B-
    Writing techs : B
    Engaging battle : C+
    Reading enjoyment : B-
    ==Score in number : 6,2==

    Setelah dipikirkan baik", rasanya saya baru setelah baca ulang saya bisa nyimpulin kenapa saya kurang sreg sama cerita ini. Alasannya sederhana : tulisan ini malah bikin saya ga suka sama karakter Elle.

    Sepanjang cerita - mungkin karena Elle doang yang secara nyata kena efek dari pulau ini - saya malah jadi ngerasa bocah itu beban banget buat Baikai, dan (maaf ini super subjektif) apa yang keliatannya sebuah kepolosan malah kerasa annoying buat saya. Sampai akhir pun pas dia ga sengaja bunuh Baikai, sadar kembalinya kayak terlalu gampang, cuma disela beberapa kalimat. Jadi kurang ada kesan kalau dia redeemed herself.

    Satu hal lagi yang kurang saya suka mungkin selipan iklan #nIkmatnyaNTR yang out of nowhere (dan hei, perasaan Reeh-Kilat baru ketemu bentar, masa segitu cemburunya gara" kecelakaan - apalagi karena cowok?). Terus, saya juga kepikiran lucu juga kalo seandainya Baikai atau Elle ketemu lagi nanti, karena mereka yang di Jagatha kan ga akan langsung dieliminasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, Thanks bang Sam,

      Sebenernya sih niatanku nulis Cerita R2 yang seperti ini tu buat ngelurusin Fokus OCku yang awalnya 'minim' motivasi.

      memanfaatkan rule R2, result R1, dan beberapa adegan yang sengaja disetting gitu buat memudahkan cerita selanjutnya dari Ocku.

      Thanks kritiknya bang, next Time, Elle bakalan berubah secara perlahan, :D dan kepolosannya pun perlahan memudar.

      (Emang jadi beban banget tu anak buat si Kuzu hahaha, saya akui itu ^_^ )

      Delete
  3. Ada beberapa kekurangan (yang ingin saya perjelas):
    -Efek pulau kurang terasa, yang kemakan greed cuman si Elle
    -Narasi masih agak kaku, saya jadi kurang enjoy rasanya
    -Di awal-awal, saya agak bingung sama pemenggalan waktunya

    Overall, ini masih bagus buat dibaca
    7,8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, thx Ratenya Bang, tadinya pemenggalan waktunya mau ku ilangin, tapi uda nanggung juga sih XD... dan perihal Efek pulau, Aku cuman mencoba nge fokusin R2 ini buat ngelurusin tujuan Elle aja... ampe battle aja engga tuh bocah. haha... Sengaja banget pengen ngebentuk sifat dan tokoh Elle dulu ^_^.

      uhhh... sepertinya harus banyak membaca lagi yah biar Narasiku terolah dan menjadi lancar ^_^

      Thx Rate and reviewnya Kk :)

      Delete
  4. Hai nom~ Ketemu lagi sama Umi nom ~ kau membuat Umi sebal di sini nom~ Sifatmu yang Unyu bikin Umi sebal membuatmu dengan sifat seperti itu nom di R1-nya Sil nom.

    Authormu berulang kali bilang ke Umi untuk ngasih nilai jelek nom, katakan padanya. Umi tak sudi ngikutin kemauannya. Umi ga mudah disogok, dan dia ga ngasih apa-apa nom, untuk bikin Umi ngasih nilai jelek nom.

    Hai nom~ let me ask you one thing! Apakah Cuckoo dan Thurqk keliatan seperti bromance dimatamu nom? terasa agak menggelikan Umi membayangkan kedua makhluk berotot itu berpelukan nom~ *ah sepertinya Umi berniat untuk membuat fanfiksi tentang mereka berdua yang jadi yaoi nom ~ :v

    Oh ya, Elle, katakan pada authormu, di cerita ini kau terlalu unyu. banyak hal yang membuatmu ga pantas dapet nilai di bawah lapan. Karakterisasimu yang kerasa banget, juga zuzu yang full banget keliatan seperti ksatria bikin kalian berasa serasi banget >.< Yah.. walaupun kau pendek nom~ #ups

    Umi kasih 8 deh buatmu nom~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya nom~ jangan lupa bilang pada Authormu kalau ia berhasil membuat Umi menangis. Jangan lupa ya nom~ ini amanah untukmu.

      Delete
    2. Ummmiiiii.... Elle kangen noooom~ *HUG*
      Makasih Komen dan ratenya noom, baik banget deh <3

      Uwaaa.... Ummi nangis? kok :( apa gara2 Elle? Maafkan Elle nom, Elle ga bermaksud buat Ummi nangiiisss~

      Nanti Aku pukul deh si bodoh Daeva, Dia emang suka gitu tuh, ngehasut yang Engga-engga nom. Padahal Elle kan masih pengen berjuang nom ^_^

      udah aku sampaikan, dan dia ketawa ngakak ampe guling-guling.... ya terpaksa Elle tendang selangkangannya nom... XD

      *KAMPRET LU ELLEEEEE >.< ! ! !, Masa depan gweeeee :((*

      Delete
    3. Elle =.= kenapa ga dipotong sekalian? #eh

      good job nak. Umi mau lanjut baca yang lainnya dulu ya ;)

      Delete
    4. Ih, Ummi Tsundere bolong XD

      Delete
  5. Aduh aduh... ini teori konspirasi BL digabung kepolosan Elle entah kenapa bikin ane jijik sekaligus ngakak.
    XD
    Baca story ini terasa damai ya... jauh dari kesan Battle of Realms yang biasanya huru hara penuh keributan. Apa pula itu Reeh pacaran sama Kilatih, baru dirayu langsung ditinggal pula, koplak parah.
    XD
    .

    Ane gak mau komentar hal teknis, karena udah dibahas sama suhu yang lain. Tapi sehubungan dengan alur yang enak dibaca, jadi nilai yang bisa keluar pun di atas rata-rata.

    8/10 buat Elle..
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks Bang Leon.... :3
      Muahhahahahaha.... Inilah Elle, dan apa sudah dibayangkan ketika Thurqk dan Hvyt bersama berpegangan tangan ketika matahari senja di pantai merah penuh darah? :v

      *Ane sendiri waktu Nulis ini cerita lagi GALAU teramat sangat gegara ada something yg terjadi kala itu ampe ga sadar bumbu2 yang kumasukin malah yang kek begituan :P

      yah semoga menikmati sepintas cerita yang kali ini Elle suguhkan ^_^

      Delete
  6. Aie... kenapa moi jadi rada sebel ama OC Elle ya nom? Iya sih kena pengaruh pulau, tapi moi agak setuju ama monsieur riilme.
    Narasinya kaku dan kurang terpoles. Inilah akibat kalau mau cepat-cepat selesai. O ho ho ho hon.
    7,5 dulu dari moi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. muahahahaha, Makasiiiiih Coco :3

      Sepertinya perlu banyak polesan di sana sini yah... :>
      pasti kesel gegara Elle jadi beban juga. hahaha
      itu sengaja kujadikan seperti itu... benar-benar sengaja ampe sayapun dibuat kesal sama tingkah Elle yang seperti itu :3

      semoga kedepannya bisa kuperbaiki lgi... dan tunggu dan ikuti terus kelanjutan dari perjuangan si kecil Elle di dunia merah penuh amarah ^_^

      Delete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -