April 6, 2014

[RONDE 1 - A] STALLZA - KOTA BENTENG DAN MAYAT HIDUP

[Round 1-A] Stallza
"Kota Benteng dan Mayat Hidup"
Written by Yafeth T. B

---

Tubuhnya mungkin saja telah menghilang, tetapi kesadarannya sebagai seorang Stallza menolak untuk ikut terhapus. Sosoknya kini menjadi apa yang disebut orang sebagai roh. Ia bebas melayang di udara tanpa mesin terbang, melanglang buana menuju pulau-pulau melayang yang bahkan belum pernah dijangkau manusia. Ia bisa melihat reruntuhan para makhluk bersayap yang konon pernah berkuasa di Ventinis sebelum akhirnya jatuh akibat perang antarsesamanya. Ia melihat bagaimana para Spiritia, makhluk yang di zaman mereka adalah senjata, dibuat dan digunakan. Semuanya tercatat dengan baik, dan Stallza cukup puas dengan pengalaman itu.

Tetapi keinginan untuk kembali hidup itu perlahan muncul kembali saat ia menyadari tidak ada seorangpun yang ingat bahwa seorang Stallza pernah hidup. Seolah seluruh keberadaannya telah hilang bersama dengan tubuhnya dalam perang.

“Maaf, karena kami Tuan sampai kehilangan tubuh,” kata Ferra pada suatu ketika.

Stallza sadar bahwa itu adalah harga yang harus ia bayar demi mencegah perang dunia yang bisa menghancurkan Ventinis untuk kedua kalinya. Ia tersenyum pada gadis berambut merah itu dan menepuk lembut pundaknya. “Jika aku tidak melakukan itu, maka dunia akan menggunakan kalian sebagai senjata kembali. Aku tidak ingin itu terjadi,” katanya pada Ferra.

Gadis itu, meskipun sosoknya menyerupai manusia, adalah satu dari tiga puluh sembilan Spiritia yang berhasil Stallza selamatkan saat perang. Ia membebaskan mereka dari perbudakan pihak-pihak yang ingin menggunakan mereka sebagai alat militer. Dihargai seakan dirinya adalah manusia sesungguhnya membuat Spiritia itu bersemu merah. Ia tidak berbicara lagi dan memilih berdiri di belakang pria yang ia panggil sebagai tuan itu.
Roh Stallza terbang bersama empat puluh cahaya kecil – wujud asli para Spiritianya – menjelajahi Ventinis. Mereka berharap menemukan satu petunjuk bagaimana mendapatkan kembali eksistensinya yang hilang akibat melanggar satu-satunya pantangan pengguna Spiritia: memanggil lebih sepuluh Spiritia dalam sehari. Sebagai ganti dari setiap pemanggilan itu, sepersepuluh eksistensi penggunanya akan diambil oleh para Spiritia itu. Memanggil lebih dari sepuluh Spiritia berarti menghapus semua keberadaan pemakainya, termasuk memori sang pengguna dari ingatan orang-orang yang dekat dengannya. Bisa mengembalikan eksistensinya, sesuatu yang sangat Stallza inginkan saat ini, tetapi tidak ada satupun petunjuk yang ia dapatkan.

Sampai suatu hari ia menemukan sesosok patung manusia berwarna merah darah dengan rambut menyerupai jengger ayam. Di bawah kaki patung itu terdapat prasasti dalam bahasa kuno Ventinis – para Spiritia itu dengan senang hati menjelaskan artinya pada Stallza – yang menyebutkan ada cara untuk mendapatkan kembali eksistensi pengguna Spiritia yang menghilang.

“Peganglah tangan patung ini, dan pintu menuju dunia eksistensi yang hilang akan terbuka,” kata Phosporosso, Spiritia dengan sosok seperti bangsawan pria. “Sepertinya mencurigakan, Tuan. Apakah Anda berpikiran sama?” ujarnya dengan bahasa sopan.

“Tapi kalau berhasil bagus, kan? Ayo, Tuan, tidak ada salahnya,” sahut Chloria, Spiritia milik Stallza yang berwujud seperti gadis berusia sepuluh tahun.

Stallza berpikiran sama dengan Chloria. Tidak ada salahnya mencoba. Ia memegang tangan patung itu, berharap bahwa ia akan dibawa ke dunia di mana eksistensinya berada. Tetapi apa yang ia temukan berbeda dari apa yang dikatakan dalam prasasti.

Ia tersadar di sebuah dunia serba merah.Ia bertemu makhluk-makhluk asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Ia dipaksa untuk bertarung.

***

Stallza tidak suka ide bertarung ini. Apalagi dengan tambahan siapapun yang kalah akan binasa selamanya. Matanya memandangi semua peserta lain. Beberapa tampak seperti manusia, bahkan salah satunya adalah anak kecil. Sisanya adalah makhluk aneh. Mereka semua ingin kembali hidup, seperti juga dirinya. Tapi apakah itu sama berharganya dengan binasa selamanya? Ia ingin bertanya, tetapi urung ia lakukan. Sesuatu dalam diri Thurqk, sosok yang menyebut dirinya dewa itu, terasa sangat aneh. Kekejaman, kebengisan, namun di sisi yang sama ada kelemahan yang berusaha ditutup-tutupinya. Apapun itu, Stallza merasa sosok di depannya itu jauh dari makna kata “dewa”. Meski ia belum tahu bagaimana cara untuk membuktikannya.

*

Dunia serba merah itu tiba-tiba menghilang. Sesaat segalanya tampak gelap. Lalu dalam sekejap di depan matanya terlihat dinding kusam dan jendela-jendela. Stallza memandang sekelilingnya. Cahaya bulan purnama yang temaram menyediakan sedikit pencahayaan untuknya, tetapi cukup jelas untuk mengenali tempat itu. Tumpukan sampah, atap-atap yang saling bertautan, genangan air. Tikus-tikus yang berlarian. Bau campuran sesuatu yang basi dan sesuatu yang pesing. Tempat ini tidak ubahnya Kota Orang Sakit, tempat mereka yang punya penyakit tak tersembuhkan menemui ajalnya. Pikiran Stallza melayang pada sosok-sosok renta yang tergolek lemah di tepi jalan tanpa seorangpun berani mendekat. Tempat yang seharusnya tidak pernah ada kalau saja para bangsawan mau memberikan sedikit tanaman obat mereka untuk menyembuhkan mereka.

Suara petir membuat lamunan Stallza buyar. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali petir berwarna merah menggelegar. Ketiganya menyambar empat titik yang berbeda, yang rasanya tidak jauh dari posisinya. Intuisinya berkata ketiga petir itu bukan petir biasa.

Ia mengeluarkan kristal biru berbentuk seperti koin dari dalam tas pinggangnya. “Helia, keluarlah,” kata Stallza. Sesosok makhluk menyerupai ubur-ubur berwarna biru transparan muncul bersamaan dengan hilangnya kristal di tangan Stallza. Dua bola berwarna biru gelap tampak melayang-layang di dalam badannya, membuat yang melihat salah mengira bola-bola itu adalah matanya.

“Kita harus ke tempat petir-petir itu turun. Kalau dugaanku tepat, maka mungkin itu adalah peserta lainnya,” kata Stallza. Bola-bola di dalam tubuh Helia bergerak naik–turun, seolah-olah makhluk itu mengangguk setuju. Stallza menepuk kedua telapak tangannya, dan dalam sekejap sosok Helia berubah menjadi uap yang melekat ke jubah Stallza.

Tubuh Stallza perlahan-lahan terasa ringan. Pria itu menjejakkan kakinya ke tanah, mendorong seluruh tubuhnya yang kini sangat ringan itu melayang tinggi ke langit. Pemandangan yang dilihatnya dari udara membuatnya terpesona.

*

Bau yang terasa sangat familiar. Campuran aroma teh dan tembakau. Daging yang nyaris gosong. Arak yang sangat keras. Udara dipenuhi bau-bauan yang rasanya sudah sangat lama tidak ia hirup. Bagi orang biasa mungkin saja bau-bauan itu memuakkan, bahkan menjijikkan. Tetapi bagi Lucia Chelios, bau itu adalah rumah.

Ia kembali ke dunia asalnya.

“Aku hidup!! Yeah!!”

Gadis itu melompat turun dari atap di mana ia tersadar dan mendarat di jalanan yang ramai. Awalnya ia khawatir menimpa seseorang, tetapi kenyataannya mereka berjalan menembus dirinya seolah ia tidak pernah ada di sana. Lucia tertawa kecil. “Ah, ternyata tidak. Satu poin untukmu, Thurqk. Tunggu sampai aku membalasmu nanti,” katanya gusar.

*

Colette bangkit dari tumpukan sampah di mana ia mendarat dengan keras. “Dasar kurang ajar! Tidak sopan pada seorang gadis! Huh!” Ia menggerutu meski tahu tidak seorangpun orang yang bertanggung jawab atas kemalangannya ada di sana. Dengan sedikit bergidik ia bergerak di antara tumpukan sampah. Tubuhnya bergetar akibat rasa jijik saat ia berhasil keluar dari tempat itu.

“Sampah itu harusnya dibakar, bukan disimpan saja!” Colette memejamkan matanya. Ia membayangkan sebentuk alat yang bisa menyemburkan api, dengan bentuk seperti kepala gajah berwarna merah muda yang tampak lucu. Tangannya bergerak-gerak seolah mengikuti panjang belalai yang ia bayangkan. Perlahan-lahan sosok yang ia beyengkan menjadi nyata.

Colette tersenyum puas. “Nah,” katanya saat benda yang diinginkannya telah ada di tangannya, “tolong diselesaikan, ya, monsieur éléphant.” Gadis itu menarik pelatuk di bagian bawah benda berbentuk kepala gajah itu dan mengarahkan belalainya ke tumpukan sampah. Semburan api besar dengan segera melahap mereka. Colette tertawa puas saat melihat lidah api itu menari-nari.

*

Lazuardi melihat Colette bermain api. Lazuardi melihat Stallza, namun pria itu tiba-tiba terbang dan ia tidak bisa menjangkaunya. Lazuardi melihat Lucia yang tampak senang saat tiba. Mereka tidak berada di tempat yang sama.

Ketiga bagian Lazuardi berdiri di balik kegelapan. Ketiganya mengamati dan menganalisa tiga orang yang mereka kuntit. Ketiganya sedikit tahu kemampuan mereka, cukup untuk ketiganya memutuskan untuk tidak berkonfrontasi langsung saat ini.

Tetapi ada satu orang yang belum ia amati. Lazuardi belum menemukan Volatile.

*

Volatile berdiri di atas bangunan tinggi di kota itu. Angin malam berhembus dingin, membuat kakinya yang tidak terlindung jubah putihnya terasa seperti tertusuk-tusuk. Dalam hati ia merutuki mengapa ia memakai rok pendek di saat seperti ini. Di bawah sana ada sekelompok orang berbaju hitam dengan gelagat mencurigakan. Tak lama kemudian muncul sekelompok orang lain yang berpakaian serba putih. Mereka saling menukar tas. Kelompok berbaju putih memeriksa tas yang mereka terima. Sesaat kemudian salah seorang dari kelompok berbaju putih itu mengumpat dan mencabut senjatanya. Tidak butuh waktu lama sebelum tempat itu berubah menjadi medan perang. Peluru berdesing, mayat berjatuhan. Di akhir peperangan, hanya ada lima orang yang tersisa, dan mereka sekarat. Dari ketinggian Volatile mendengus. “Dasar barbar. Bisa-bisanya Thurqk mengirimku ke tempat tidak beradab seperti ini,” katanya.

Di saat Volatile akan beranjak dari sana, sesosok makhluk berwarna biru terlihat mengendap-endap mendekati salah satu dari orang yang sekarat. Gadis itu memperbaiki kacamatanya. Sosok itu pernah ia lihat sebelumnya. “Hmmm… peserta rupanya,” katanya. Volatile memicingkan mata, berusaha menangkap sosok berwarna biru itu. Tetapi sosok itu sudah tidak ada di sana.

*

Lazuardi menemukan Volatile. Tetapi terlalu banyak kekerasan di sekitarnya. Ia takut untuk mendekat, meski ia tahu orang-orang itu tidak akan bisa menyentuhnya. Lazuardi terakhir mendapati dirinya telah ketahuan. Ia harus memanggil ketiga Lazuardi lainnya.

“Indikasi sudah diterima. Ketiga orang lainnya tampak berbahaya. Jangan lakukan pendekatan secara langsung. Bergabung dan bersembunyi sampai semuanya selesai adalah langkah terbaik,” kata Lazuardi terakhir pada dirinya, dan juga pada tiga Lazuardi lain yang terhubung padanya.

***

Kota itu lebih menyerupai benteng jika dilihat dari udara. Bangunan-bangunan terluar kota itu sudah tidak terpakai, tetapi dindingnya yang tinggi menjadi tembok sempurna yang mengunci kota dari empat sisi. Dari langit Stallza melihat peserta-peserta lain mulai bergerak. Gadis berkulit hitam dengan riasan wajah putih sudah selesai membakar setumpukan sampah. Orang-orang di sekitarnya panik melihat api yang tidak tahu dari mana asalnya, tetapi tidak seorangpun yang melihat gadis itu. Gadis lain yang berjubah putih tengah mengamati sesuatu dari sebuah gedung tinggi. Gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Stallza di langit. Gadis lainnya memakai topi, tengah berjalan sambil melompat-lompat di dalam sebuah lorong. Ia tampak tidak terkejut saat orang-orang di lorong itu menembus melalui tubuhnya begitu saja.

Stallza tertawa miris. “Jadi kami tidak secara langsung kembali hidup. Tentu saja,” katanya. Dari ketinggian ia mengamati mulai bergerak. Lalu ada sesosok lagi yang ikut bergerak di bawah sana.

*

Lazuardi tidak benar-benar menghilangkan potongan tubuhnya. Ia menggabungkan dirinya kembali, lalu memotongnya lagi kecil-kecil untuk dimasukkan ke dalam puluhan anjing dan kucing. Kini anjing-anjing dan kucing-kucing itu menjadi mata dan telinganya, sedangkan ia bersembunyi di antara dua apartemen tua yang nyaris tidak dihuni lagi. Langit malam tertutup awan, tetapi cahaya bulan purnama terlalu kuat untuk dihalangi. Ia teringat pemandangan malam yang dilihatnya dari bawah permukaan air di dunia asalnya. Dalam hati ia tidak pernah berhenti menyesali alasan kematiannya yang sia-sia. Ia ingin sekali menebus itu, ia ingin sekali kembali hidup. Namun hal itu mustahil. Jika ada satu tempat untuknya hidup, maka itu adalah hal yang patut diperjuangkan. Hvyt menjanjikan itu padanya. Tapi dengan segala syarat pertarungan yang harus dilaluinya, Lazuardi mulai ragu.

Lamunan Lazuardi terputus saat ia menyadari sesosok pria berjubah sedang mengamatinya di langit.

*

Sosok berwarna biru itu nyaris tidak terlihat. Badannya seperti ubur-ubur, mengingatkannya pada sosok Helia. Sosok itu terdiam memaku. Meski wajahnya tidak terlihat jelas, Stallza merasakan ada ketakutan tergambar di sana.

“Makhluk ini tidak mau bertarung,” katanya. “Apakah dia bisa diajak bicara atau haruskah kulawan?”

Stallza mengambil sebuah kristal berbentuk spiral berwarna biru. Perlahan ia menurunkan ketinggiannya menuju tempat makhluk itu berada.

Makhluk itu menatapnya penuh waspada saat mereka saling berhadapan. Kini Stallza bisa melihat sosoknya dengan jelas. Selain tubuhnya yang berwarana biru transparan, sosok itu memiliki anggota tubuh layaknya manusia. “Makhluk apa kau ini?” tanya Stallza.

“Aku adalah Matoi,” jawab makhluk itu. “Namaku Lazuardi, umur 22 tahun, jantan. Suka menjalani hidup yang tenang dan damai.” Ia masih menatap Stallza dengan curiga. Beberapa saat sebelumnya ia telah memerintahkan anjing dan kucing yang ia kendalikan untuk kembali melindunginya.

Stallza mengangkat alisnya saat mendengar perkenalan lengkap tanpa diminta itu. “Lalu, sebagai pecinta damai, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku menginginkan sesuatu yang ditawarkan Hvyt padaku. Lalu kau sendiri?”

“Aku….” Stallza ingat saat ia tiba-tiba ditarik ke Vadhi. Saat ia sedang mencari cara mendapatkan tubuhnya kembali, yang ia temukan adalah kenyataan ia harus bertarung sekali lagi. Ia sudah malas bertarung. Bertarung hanya akan melukai pihak-pihak yang terlibat. Ia kehilangan tubuhnya saat memanggil dua belas Spiritia dalam pertarungan untuk melindungi tanah kelahirannya. Ia menghilangkan sepuluh pasukan darat dan udara yang mencoba menyerang, dan mengakhiri perang untuk selamanya. Sebagai gantinya, ia menjadi pahlawan. Patungnya dibuat besar-besaran. Kisahnya diriwayatkan sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi orang lain. Tetapi kenyataannya ia masih hidup. Hanya saja tubuhnya sudah kehilangan eksistensi di dunia.

“Kenapa diam?”

Stallza menatap Lazuardi. “Aku ingin kembali ke duniaku. Eksistensi tubuhku ada di tangan Ventinis, duniaku, sekaligus ibu dari semua spiritia. Thurqk tidak dapat mengabulkan keinginanku.”

“Lalu bagaimana caranya? Kata Dewa Thurqk, hanya ada satu orang yang keluar dari sini dan mendapatkan keinginannya.”

“Apakah itu berarti kau ingin bertarung denganku?”

Lazuardi terdiam. Pria di depannya bisa memunculkan makhluk-makhluk aneh. Ia sudah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri saat makhluk berwujud ubur-ubur – mengingatkannya pada makhluk laut tempatnya tinggal – dan membuat sosok makhluk itu menyatu dengannya. Jika ingin bertarung, maka ada kemungkinan ia akan kalah telak.

“Aku tidak mau bertarung,” kata Lazuardi.

“Kalau begitu tidak perlu bertarung,” Stallza memasukkan kristal yang digenggamnya kembali ke dalam kantung tas pinggangnya. “Kalau tiga yang lain juga bisa diajak bicara, mungkin kita tidak perlu bertarung.”

“Tapi kalau seperti itu Thurqk tidak akan senang, lho?”

Lazuardi dan Stallza mendongak. Seorang anak gadis berwajah muram menatap mereka dari atap gedung. Di tangannya terdapat sebuah gunting. “Atau kalian mau jadi mainanku? Mata bonekaku rusak,” kata gadis itu. Ia menarik sesuatu dari belakangnya. “Ini bonekaku,” katanya samba menunjukkan sesosok mayat manusia tanpa mata dengan ekspresi ngeri di wajahnya. Lazuardi berteriak ketakutan melihat ‘boneka’ itu.

*

Orang-orang yang beberapa saat lalu tampak tidak mempedulikan dirinya kini mendesaknya. Tubuh mereka tidak lagi bisa ditembus. Mereka bergerak seperti layaknya manusia, tetapi Lucia sadar yang ia hadapi saat ini tidak lebih dari mayat. Bau anyir dan busuk jelas-jelas menguar dari tubuh mereka. Berkali-kali gadis itu menghajar mereka dengan tongkat di tangannya, tetapi makhluk-makhlu di depannya bergeming. Mereka terus berjalan, mendorong Lucia ke sebuah arah.

“Kalian mau mengarahkanku ke mana? Hei, Thurqk sialan, berhenti bermain-main!” seru Lucia.

Orang-orang itu terus mendesak hingga ia mendekati perempatan. Dari belakang Lucia dapat mendengarkan suara dua orang yang terdengar kesal.

“Berhenti, barbar! Jangan dorong-dorong!”

“Hei, jangan kasar! Kulitku bisa rusak!”

Lucia menoleh. Di saat bersamaan gadis berjubah putih dan gadis berkulit hitam dengan riasan putih di wajahnya menatapnya. Makhluk-makhluk yang mendesak mereka berhenti di tempat, mengurung mereka dalam tempat yang sangat sempit.

Mereka saling pandang. “Kalian bisa melihatku?” kata ketiganya bersamaan. Ketiganya tersadar, mereka baru saja bertemu peserta lainnya.

*

Stallza bergidik saat gadis itu melayang turun dari atap gedung. Di tangannya ia memegang sebuah gunting dan di tangan lainnya ia memegang ‘boneka’ – mayat yang entah bagaimana terlihat bergerak seolah-olah hidup. Gadis itu melepaskan pegangannya, dan seketika ‘boneka’ itu menerjang maju.

Stallza melompat ke belakang. Ia mengambil kristal berbentuk kelereng berwarna merah dari tasnya. “Ferra, keluarlah!” serunya.

Sosok seorang gadis berkulit cokelat gelap dan berambut merah seketika muncul. “Akan kuserang dengan senang hati,” seru Ferra dengan semangat. Dengan palu besar di tangannya ia menghantam sosok ‘boneka’ itu. Makhluk itu mengerang saat ia terlempar, tetapi tidak lama kemudian ia kembali menerjang. Kali ini dengan kecepatan dan kekuatan yang bisa menandingi serangan Ferra.

“Tuan!” seru Lazuardi.

Pandangan Stallza beralih pada sosok pemuda biru itu. Sesosok mayat hidup lain menyerangnya. Dengan susah payah ia menyelamatkan dirinya, tetapi mayat yang memegang pisau itu berkali-kali menusuk tubuhnya. Cairan di dalam tubuhnya mulai berkurang. Stallza kembali mengambil kristal spiral berwarna biru dari dalam tasnya.

“Nitria, bekukan dia,” kata Stallza. Kristal itu bercahaya dan melesat keluar dari genggamannya. Perlahan-lahan cahaya itu berubah menjadi sesosok gadis bersayap biru. Wajahnya seperti seorang peri, dengan mata seperti mata kelinci berwarna biru dan telinga panjang. Seluruh tubuhnya diselimuti kabut. Udara di sekitarnya menjadi dingin saat ia melintas. Gadis itu melesat ke arah Lazuardi dan berputar mengelilinginya. Kabut dingin memenuhi sekitar Lazuardi, membekukan cairan yang keluar dari tubuhnya dan juga makhluk yang menyerangnya. Gerakan gadis itu semakin lama semakin cepat. Lazuardi dan makhluk yang menyerangnya kini menjadi dua tiang es.

Stallza menarik sebuah belati dari dalam tas pinggangnya. Dengan sekali lempar ia menghancurkan tiang es makhluk yang menyerang Lazuardi hingga berkeping-keping.

Ferra masih berusaha menghalau mayat hidup yang menyerangnya. “Pergi kau!” serunya. Palunya menghantam telah perut mayat itu. Dengan sekuat tenaga ia mengayunkan palunya, membuat mayat itu terpental. Nitria dengan cepat mengitari makhluk itu dan membuatnya beku.

“Ini penghabisannya!” Ferra melompat tinggi-tinggi. Dengan sekali ayun ia menghantamkan palunya ke makhluk itu. Serangan itu menghancurkan tubuh musuhnya hingga berkeping-keping dan meninggalkan retakan yang cukup besar di tanah.

Stallza mencari sosok gadis yang membawa mayat-mayat hidup itu, tetapi sosok itu telah berada di atas langit. “Dengan pertarungan seperti itu Dewa Thurqk pasti akan senang,” kata gadis itu. Sosoknya menghilang sebelum Nitria sempat membekukannya.

“Ah, dia kabur,” kata Ferra kecewa.

“Yang penting masalah sudah selesai,” kata Stallza.

“Bagaimana dengan orang ini?” tanya Ferra sambil menunjuk tiang Lazuardi di belakangnya dengan ibu jarinya. “Kalau dia musuh, apa tidak sebaiknya dia dihabisi sekarang?”

“Tidak,” kata Stallza tegas. “Dia tidak ingin bertarung denganku. Dia bukan musuhku.”

Ferra menghela napas. “Terserah Tuan saja. Tapi kalau dia melakukan sesuatu yang kuanggap berbahaya, tanpa perintah aku akan segera muncul dan membunuhnya,” katanya.

“Aku ragu itu akan terjadi,” kata Stallza. “Tiang es ini bisa membekukan pergerakannya tetapi tidak sampai membunuhnya. Jika dia terbuat dari air, tiang ini akan memulihkannya. Tetapi tidak sekarang. Dengan ini seharusnya makhluk bernama Thurqk itu akan menganggapnya kalah sekarang.”

Stallza bersiul. Nitria kembali padanya dan berubah menjadi wujud kristalnya. Stallza mengulurkan tangannya pada Ferra, yang disambut lembut oleh gadis itu. Keduanya kembali ke dalam tas pinggangnya.

“Helia, ayo ke langit,” kata Stallza. Perlahan-lahan tubuh pria itu kembali melayang.

Tak jauh dari sana, sebuah pertarungan sedang terjadi.

*

“Jadi namamu Colette?” Lucia melirik gadis dengan riasan unik di sampingnya.

“Oui,” jawab gadis itu. “Dan namamu?”

“Lucia Chelios.”

“Nona Lucia, sepertinya kamu kenal baik lorong-lorong di sini,” kata Colette.

Lucia menyeringai. “Ini adalah tempat asalku. Tentu saja aku tahu semuanya.”

“Hei, kalian!” Gadis berjaket putih menyela. “Kalau kalian punya cara menghentikan mereka, lakukan segera!” Gadis itu menunjuk ke belakang. Ratusan mayat hidup mengejar mereka dengan kecepatan di atas manusia biasa. Beberapa dari mereka melemparkan pisau ke arah ketiga gadis itu, tetapi dengan cepat Colette menangkis pisau-pisau itu dengan kemampuannya.

Lucia bersiul. “Wow, dinding yang tidak terlihat?”

“Hanya itu yang bisa kupikirkan sekarang. Aku tidak bisa berkonsentrasi untuk membuat yang lebih baik dari itu,” kata Colette.

Mayat-matat hidup itu menggiring mereka ke sebuah lapangan kosong dan mendesak mereka.

“Sekarang giliranku,” Volatile maju dan mengeluarkan kotak hitam dan sebuah alat suntik dari kantong jubahnya. Dengan alat suntik itu ia mengambil sedikit darah dari tubuhnya sendiri dan memasukkannya ke dalam kotak hitam di tangannya. Seketika kotak itu berubah warna menjadi merah.

“Apa itu?” tanya Colette.

“Lihat saja,” jawab Volatile.

Kotak itu berputar di tangannya dan perlahan-lahan melayang. “Aktifkan Equilibrium System,” perintah Volatile. Kotak itu segera melesat ke langit dan memancarkan cahaya-cahaya merah seperti jaring.

“Oke, apa itu?” tanya Lucia bingung.

“Kemampuanku,” kata Volatile sambil tersenyum bangga. “Dengan ini daerah dalam radius 50 kilo dari sini ada di bawah kendaliku. Dan dengan ini,” ia mencabut pedang di punggungnya, “aku bisa memakai Le Chatelier dengan sempurna.”

Volatile memperbaiki letak kacamatanya. Dengan cepat ia menganalisa jumlah dan persebaran mayat hidup yang mengepung mereka. “Sistem di sini terlalu berat sebelah. Konsentrasi di sebelah sana harus dikurangi,” gadis itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Mari kita panaskan mereka sedikit. Temperature-concept. Eksotermis.” Volatile mengayunkan pedangnya ke depan. Angin panas berhembus cepat ke arah mayat-mayat hidup yang mengepungnya dan membuat mereka meleleh seperti lilin.

“Kemampuan yang menakutkan,” kata Colette.

“Lebih tepatnya kalian yang punya kemampuan yang menakutkan,” kata Lucia menegaskan. “Menciptakan sesuatu dari udara kosong? Mengendalikan suhu? Oke, itu menakutkan.”

“Kemampuanmu sendiri apa?” tanya Volatile pada Lucia.

Lucia menyeringai. “Kemampuanku?” Gadis itu mencabut dan mengayunkan tongkat besi miliknya hingga tongkat itu memanjang. Ia berlari dengan cepat ke arah para mayat hidup yang masih tersisa. Dengan cepat ia menghantam semua mayat itu dalam kecepatan luar biasa. Saat ia terdesak, tangannya memancarkan api berwarna hijau yang mengalir ke sepanjang tongkatnya. “Mati kalian semua!” serunya. Dengan sekali sapuan mayat-mayat hidup itu terbakar habis.Setelah memastikan tidak ada mayat hidup lain yang mendekat, Lucia berjalan kembali ke arah Colette dan Volatile. “Kemampuanku hanya ini,” katanya.

Colette dan Volatile bertepuk tangan. “Hebat,” kata Colette. “Hanya dengan sekali sapu bisa mengalahkan sisa-sisa mayat hidup itu.”

“Meski aku tidak begitu suka sihir, tapi apa yang kau lakukan tadi cukup efisien dan impresif,” kata Volatile.

“Ah, aku tidak sehebat kalian, kok. Kemampuan ini memiliki batasan waktu untukku. Salah satunya kalau terlalu lama mengeluarkan api seperti itu bisa membuatku buta,” kata Lucia.

“Apa itu pernah terjadi?” tanya Colette khawatir.

“Yah, sekali dua kali. Sebelum aku mati pun seperti itu,” jawab Lucia.

“Tapi kalau kita memenangkan pertandingan ini, maka kita bisa kembali hidup katanya,” kata Volatile.

“Benarkah?” tany Colette polos.

“Kau tidak mendengarkan pengumuman si dewa tadi, ya?” balas Lucia.

“Tapi hanya akan ada satu pemenang dalam pertandingan ini,” kata Volatile.

“Yah, bagiku siapapun yang menang terserah. Aku sebenarnya sudah cukup senang kembali ke sini. Dan akan lebih baik lagi kalau bisa selamanya di sini,” kata Lucia.

“Tapi… bukankah banyak lawan yang harus kita hadapi? Bahkan nanti kita akan saling bertarung satu sama lain,” kata Colette.

“Kalau itu urusan nanti saja. Bagaimana kalau kita beraliansi? Kalau kita bekerjasama sekarang, setidaknya kita bisa menyingkirkan peserta yang tersisa,” kata Volatile.

“Oh, kau benar. Sepertinya masih ada dua pria lain yang menjadi peserta pertarungan ini,” kata Lucia. “Aku sempat melihat nama-nama mereka di daftar sebelum si Thurqk itu mengirim kita ke sini.”

Volatile mengeluarkan tablet dari saku jubahnya. “Hm… sepertinya sisa satu. Tanda-tanda kehidupan yang satu lagi sudah tidak terdeteksi.”

“Siapa lawan kita yang tersisa?” tanya Lucia.

“Dia,” kata Volatile sambil menunjuk ke atas langit. Colette dan Lucia mengikuti arah telunjuk Volatile dan melihat seorang pria memperhatikan mereka.

Lucia mendecak kesal saat melihat sosok berjubah di atasnya. “Ah, dia yang waktu itu, ya?” katanya. “Pria kasar yang hebatnya punya banyak sekali pengawal wanita yang sangat patuh padanya.”

“Apa? Dia pengoleksi wanita? Dia suka melukai wanita?” seru Colette.

“Yah, itu, sih, sebenarnya…”

“Tidak bisa dimaafkan! Yang melukai wanita tidak pantas dimaafkan!” seru Colette kesal.

“Jadi kita sepakat mengalahkan dia dulu?” tanya Volatile.

“Tunggu, Tapi itu sebenarnya – ”

"Aku sepakat!”

“Hei, kalian…”

“Kalau begitu, kita mulai!” seru Volatile.

“Ayo!” seru Colette semangat.

“Yah, sudahlah. Tidak ada bedanya juga,” kata Lucia Chelios. Ia menelan kenyataan kalau semua yang dikatakannya hanyalah asumsi. Toh cepat atau lambat mereka semua akn bertarung juga.

***

Stallza awalnya hanya menyaksikan tiga gadis di bawah sana bertarung dengan mayat hidup tanpa ada keinginan menyerang mereka. Tetapi ia mendapati dirinya sekarang menjadi target berikutnya setelah mayat-mayat hidup itu habis mereka basmi. Gadis bertopi yang pernah bertarung dengannya di dunia sana berkali-kali melemparkan benda apapun yang dapat dilemparnya ke arah Stallza. Gadis dengan riasan aneh di wajahnya melakukan gerakan-gerakan aneh, dan dengan ajaibnya memunculkan sebuah senapan yang kemudian ia tembakkan ke udara. Sedangkan gadis dengan jubah putih sedang melakukan sesuatu dengan pedangnya. Serangan ketiganya saling susul menyusul, membuat Stallza kewalahan. Dengan cepat pria itu mendarat ke tanah dan melepas Spiritialis Helia dari tubuhnya.

Stallza berlari ke belakang tumpukan peti kayu di dalam sebuah lorong, tetapi gadis dengan jubah putih sudah menunggunya di sana. “Maaf, ya. Tapi kau harus kalah di sini,” kata gadis berambut hitam itu sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Insting Stallza membuatnya melompat jauh-jauh.

“Temperature-concept. Eksotermis,” sahut gadis itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah Stallza.

“Carbia, aku panggil dirimu!” seru Stallza di saat bersamaan. Seketika sesosok patung batu berwujud seperti seorang pria berotot muncul di hadapan Stallza. Saat hawa panas menerjang ke arahnya, tubuh pria itu berubah menjadi dinding besar berwarna hitam yang dengan sempurna menangkis panas itu.

“Oh, kau bisa memanggil makhluk panggilan, ya? Bisa menahan panas? Lalu bagaimana dengan dingin?”

Gadis berjubah putih itu mengayunkan kembali pedangnya. Kini hawa dingin yang sangat menggigit berhembus ke dinding yang melindungi Stallza. Pengaruh dingin yang tiba-tiba membuat dinding pertahanan itu mulai retak.

“Koboldia, aku memanggilmu!” seru Stallza dari balik dinding itu. Dari dalam tas pinggangnya sebuah cahaya berwarna biru tua melesat keluar. Cahaya itu perlahan berubah wujud menjadi seorang wanita dengan rambut pendek berwarna biru pucat. Sepasang telinga serigala tampak bergerak-gerak di atas kepalanya. Selain telinga, Koboldia juga memiliki ekor serigala yang melambai-lambai sejak ia muncul.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan?” tanya Koboldia dengan nada ceria. Tangannya dengan segera merangkul tangan Stallza. Meski perawakannya seperti wanita dewasa, tetapi perilaku Spiritia itu persis seperti gadis remaja. Ia memilih mengenakan celana di atas lutut – nyaris setengah paha – dan baju tanpa lengan yang ketat dengan bagian perut terbuka. Ia juga memakai sarung tangan kulit dengan bagian jari yang terbuka. Meski sudah sering melihat tingkah spiritianya itu, Stallza masih belum bisa terbiasa dengan kebiasaan menempel Koboldia.

Dengan perlahan Stallza melepaskan rangkulan Koboldia. “Tolong Carbia. Di balik sana ada gadis dengan kemampuan aneh yang bisa menghancurkan dia. Apa kau bisa mengalahkannya dengan cepat?” tanya Stallza.

“Serahkan padaku!” seru Koboldia dengan semangat.

“Tapi aku tidak ingin kau membunuhnya,” kata Stallza dengan cepat. “Cukup buat dia pingsan untuk waktu yang lama.”

“Yaah,” sahut Koboldia kecewa. Wajahnya yang bersemangat seketika tampak lesu.

“Lakukan saja atau kupanggil Ferra sekarang,” ancam Stallza.

“Ja – jangan! Jangan panggil kakak! Akan kulakukan sekarang!” balas Koboldia. Dengan cepat Spiritia itu melompat tinggi dan melesat secepat cahaya ke belakang gadis berjubah putih di balik tembok Carbia.

“Bersyukurlah karena tuanku tidak ingin membunuhmu,” kata Koboldia ketus. Ia menghantam tengkuk si gadis berjubah putih sebelum gadis itu sempat sadar. Dalam sekejap kesadaran gadis itu hilang dan serangannya pun berhenti.

“Carbia, terima kasih. Kembalilah,” kata Stallza. Sosok tembok di depannya berubah menjadi sebuah kristal yang berbentuk seperti gumpalan batu bara kecil. Seakan sangat kelelahan kristal itu melayang pelan menuju tas pinggang Stallza. “Maaf merepotkanmu,” kata Stallza saat melihat kristal Carbia telah beristirahat di dalam tasnya. “Dan terima kasih padamu juga, Koboldia,” katanya pada gadis bertelinga serigala yang menunduk seperti seorang anak kecil yang merajuk.

“Sama-sama,” kata Koboldia dengan suara pelan.

“Sekarang akan kupanggil Ferra.”

“Eh?!” protes Koboldia. “Aku tidak membunuh gadis ini, kan?!”

Stallza tertawa. “Tenang, aku tidak akan menyuruhnya memarahimu,” katanya. “Aku butuh dia untuk menghadapi satu gadis lainnya.”

“Biar aku saja, Tuan,” kata Koboldia setengah memelas. “Aku bisa menghadapi mereka dengan cepat.”

“Aku tidak ingin membuatmu luka terlalu banyak. Gadis yang satu itu bisa saja meremukkan dirimu dengan mudah,” kata Stallza dengan serius. Koboldia tidak bisa membantah saat tuannya itu sudah serius. Lagipula rasanya senang saat tahu ada yang peduli padamu.

“Baiklah,” kata Koboldia. “Tapi kalau kakak marah padaku, kuharap Tuan membelaku.”

“Aku janji,” kata Stallza. Pria itu mengambil kristal berbentuk kelereng berwarna merah dari tasnya dan melemparkannya ke udara. Sosok gadis berkulit coklat dan berambut merah seketika muncul di depannya.

“Ferra di sini. Oh!” seru Ferra saat dirinya melihat sosok Koboldia tak jauh dari dirinya dan sang tuan. “Apa dia membuat masalah lagi?” Ferra menghantamkan tinju ke telapak tangannya, bersiap memberikan satu pukulan ke anak nakal itu seandainya Stallza tidak segera menahannya.

“Tidak, malah sebaliknya,” kata Stallza.

Koboldia menjulurkan lidah ke arah Ferra, membuat gadis itu nyaris mengejarnya kalau saja Stallza tidak terus memegang lengannya.

“Kau ingat gadis bertopi yang menyerang kita sewaktu di hutan?” tanya Stallza pada Ferra.

Ingatan Ferra segera tertuju pada sosok gadis berambut hitam dengan tingkah laku seperti babi hutan, yang melempar apapun ke arahnya saat di hutan merah. “Gadis kasar itu?” balas Ferra. Sang tuan mengangguk.

“Tampaknya dia ada di sini. Apa kau bisa melawannya?”

“Bukannya anak anjing itu sudah ada di sini?” kata Ferra sambil menunjuk Koboldia yang berada di belakang badannya dengan ibu jari.

“Aku bukan anak anjing!” teriak Koboldia, tetapi Ferra tidak mempedulikan teriakan itu.

“Dia bisa menyerang dengan cepat, kan? Kulihat dia bisa menjatuhkan satu orang tanpa bantuanku,” kata Ferra.

“Tapi refleks gadis kasar itu cepat. Dan kekuatannya juga. Kalau sampai dia bisa membalas, kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?”

Ferra menghela napas panjang. Spiritia, seperti senjata lainnya, juga dapat rusak. Dan perbaikannya akan memakan waktu lama. Sangat tidak menguntungkan dalam keadaan di mana mereka bisa saja dipaksa bertarung kapan saja. Ferra ingat bagaimana gadis liar yang dilawannya di hutan dengan mudah memukul pasak besinya yang jauh lebih keras dari senjata – atau tubuh – yang dimiliki Koboldia. Entah apa yang terjadi kalau tongkat yang dipegang gadis liar itu sempat menghantam tubuh adiknya itu.

“Baik, akan kuhadapi gadis itu. Kuharap anak anjing itu tidak banyak berulah nantinya,” kata Ferra. Gadis itu melesat menjadi cahaya merah dan segera berpindah menuju tempat si gadis liar berada. Ia tidak mempedulikan protes dari adiknya yang berkali-kali mengatakan dirinya bukan anak anjing – Koboldia lebih suka disebut serigala yang menawan, bukan anak anjing.

Koboldia, meski merasa tidak terlalu senang karena kakaknya – yang ia anggap sebagai saingan – juga dipanggil, tetap melaksanakan perintah tuannya. Ia melesat ke tempat gadis dengan riasan aneh.

“Oh, gadis bertelinga anjing? Imut sekali,” kata gadis dengan riasan aneh.

“Hei! Aku ini serigala!” protes Koboldia. “Serigala menawan yang membuat semua pria tergila-gila! Ingat itu!”

“Ah, maaf, maaf. Kukira telingamu itu telinga anjing,” kata gadis dengan riasan aneh. “Namaku Colette. Namamu siapa?”

“Apa perlu bersopan santun dengan musuhmu?”

“Oh? Kamu bersama si pria kasar itu?” tanya Colette. Gadis dengan riasan aneh itu mengangkat alisnya. “Aneh sekali. Kenapa gadis seimut dirimu mau bersama dengan dia?”

“Tuanku itu tidak pernah kasar pada kami,” kata Koboldia. Ia membentangkan tangannya ke sisi tubuh dan membuat gerakan seolah sedang menggenggam sesuatu.

Perlahan-lahan sebentuk belati melengkuk terbentuk di masing-masing genggamannya. “Dan aku tidak suka kalau ada yang menjelek-jelekkan tuanku.” Mata Koboldia menatap tajam ke arah Colette. Berkali-kali ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menebas leher gadis di depannya.

“Wah, kamu punya kemampuan yang sama denganku, ya?” Colette menggerak-gerakkan tangannya seolah-olah sedang memutar pisau di kedua tangannya. Perlahan-lahan di masing-masing tangannya muncul sebuah pisau. “Aku tidak mau bertarung denganmu karena kau imut. Tapi kalau kamu bersama si pria kasar itu, demi persaudarian kami, kamu harus kukalahkan.”

Koboldia melesat menuju ke arah Colette sambil mengayunkan lengan kanannya. Pisau di tangan kanannya beradu dengan pisau di tangan kiri Colette. Dengan cepat Koboldia melancarkan serangan berikutnya. Kali ini mengarah ke wajah Colette. Tetapi dengan lentur gadis itu melentingkan badannya ke belakang untuk menghindari serangan itu.

Colette bahkan sempat membalasnya dengan tendangan ke arah wajah.

“Hei! Wajah itu penting untuk wanita!” seru Koboldia kesal.

“Aku tahu,” kata Colette. “Tapi karena kamu yang menyerang duluan, apa boleh buat, kan?”

Dengan kesal Koboldia kembali menyerang. Tetapi Colette dengan mudah menangkis serangannya dan memukul perutnya hingga ia terpelanting ke belakang. Koboldia mencoba berdiri, tetapi ia sudah disambut dengan puluhan peluru.

“Curang! Kukira kau memakai pisau tadi!” seru Koboldia saat ia berlari menghindari peluru-peluru dari senapan di tangan Colette.

“Pisaunya sudah hilang. Sekarang yang ada senapan,” kata Colette. Ia kesulitan menembak gadis dengan telinga serigala di depannya yang bergerak sangat lincah.

“Aku tidak suka orang yang curang!” seru Koboldia. Dengan gerakan yang sangat cepat ia menghindari serangan Colette dan memasuki titik buta gadis itu. Dan sebelum gadis itu sadar, Koboldia telah menyarangkan dua pukulan ke perut Colette dan sebuah hantaman keras ke tengkuknya. Gadis itu tidak berkutik seketika.

Koboldia mendengus. “Dasar! Kalau bukan karena tuanku yang meminta, kau pasti sudah kusayat-sayat,” katanya sambil menendang badan Colette. Tubuh gadis itu tidak bergerak. Mengetahui tugasnya selesai, Koboldia segera kembali ke tempat tuannya.

*

Lucia dan Ferra bertarung dengan sengit. Pasak-pasak besi seukuran lengan berhamburan dari langit. Lucia berusaha keras menghindarinya, namun beberapa pasak itu sempat mengenai lengannya.

“Kau masih kasar seperti biasanya, ya?” kata Lucia. Meski merasa nyeri akibat luka yang ditimbulkan pasak-pasak itu, ia masih bisa menyeringai dalam pertarungan ini.

“Bukannya kau yang selama ini kasar? Mana ada orang yang tiba-tiba menyerang orang yang baru dia temui?” balas Ferra.

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada tuanmu, tapi dia langsung pergi begitu saja,” kata Lucia. Ia menangkap sebuah pasak dan melemparkannya kembali ke arah Ferra.

“Dan karena itu kau ingin menjatuhkan tuanku dengan melemparinya?” Ferra memukul balik pasak yang dilemparkan Lucia. Gadis itu sempat menghindar saat pasak yang dikembalikan padanya itu kini menghantam atap bangunan kosong yang dipijaknya dan membuat seluruh gedung itu hancur berantakan.

Lucia melompat ke gedung lain yang lebih pendek dari gedung yang ia pijak sebelumnya. “Nyaris saja,” kata gadis itu. Ia kembali mengalirkan api berwarna hijau dari tangannya ke tongkat logam yang ia pegang. “Sekarang giliranku!” seru Lucia. Gadis itu menjadikan pasak-pasak yang dihempaskan Ferra ke arahnya sebagai pijakan untuk ke atas. Tetapi Ferra sudah tahu taktik seperti itu.

Ferra menghentikan serangannya, membuat Lucia kehilangan pijakan. Tetapi sebelum sempat terjatuh, gadis itu sempat menendang pasak yang dipijaknya ke arah Ferra. Pasak itu melesat lebih cepat dari pasak yang dilemparkan Lucia sebelumnya. Ferra nyaris terkena pasak itu seandainya tubuhnya tidak didorong oleh sesuatu.

Ferra baru tahu siapa yang menolongnya saat mereka mendarat di atap sebuah bangunan. “Anak anjing?” katanya setengah terkejut.

“Aku sudah menyelamatkanmu, dan kau masih memanggilku anak anjing?” balaas Koboldia.

Ferra meletakkan tangannya ke kepala adiknya itu dan mengacak-acak rambutnya. “Tidak apa-apa, kan? Karena bagiku kau itu tetap anak anjing yang manis,” kata Ferra. Ia tersenyum. Dengan bertumpu pada lututnya sendiri ia mendorong tubuhnya dan bangkit berdiri. “Terima kasih bantuanmu. Sekarang sebaiknya kau kembali ke tuan kita. Akan kuhadapi gadis liar ini sendirian.”

“Apa kau yakin?” tanya Koboldia. Suaranya sangat pelan sampai-sampai sulit terdengar.

Ferra menyeringai ke arah adiknya. “Apa kau khawatir?” balasnya.

“Huh! Terserah!” seru Koboldia kesal. Ia bangkit berdiri dan melesat pergi dari sisi kakaknya.

Ferra tersenyum saat melihat adiknya menghilang di tikungan. “Dasar, badannya saja yang dewasa,” katanya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan. Gadis liar yang ia jatuhkan tadi kini sudah bangkit berdiri dan sedang memperbaiki topinya.

“Apa kau siap?” gadis liar itu menunjuk ke arah Ferra dengan tongkat besi di tangannya.

Ferra memanggil palu berukuran besar di tangan kanannya. “Kapanpun kau siap.”

Gadis liar itu menyeringai. “Oh, ya, di tempatku ini ada tata krama. Kalau kami akan saling menghabisi, setidaknya kami harus saling mengetahui nama. Yah, setidaknya itu akan jadi hiburan saat di dunia sana karena kami bisa menyumpahi mereka yang mengirim kamu ke sana,” katanya.

“Bagaimana kalau dimulai dari dirimu dulu?”

“Cukup adil. Namaku Lucia Chelios”

“Ferra, tanpa nama belakang.”

“Perkenalan selesai. Ayo kita mulai.”

Lucia melompati atap menuju ke arah Ferra. Gadis itu sudah menunggunya. Palu di tangan Ferra mengayun ke arah Lucia, namun Lucia dengan sigap menahannya dengan satu tongkatnya. Satu tongkat di tangannya yang lain kini mengayun ke arah Ferra dan mengenai lengan gadis itu. Tetapi serangan itu tidak berpengaruh pada Ferra.

“Tubuhku ini bisa sekeras baja saat kukehendaki,” kata Ferra sambil tersenyum bangga.

“Apa saat pria itu menyentuhmu kau akan memasang tubuh sekeras itu?”

Mata Ferra melebar. Jantungnya sempat berdebar, tetapi ia segera mengendalikan diri. Ia melayangkan tinjunya ke arah Lucia, tetapi gadis itu telah membaca serangannya dan melompat ke belakang sebelum pukulannya sampai.

“Kurasa tidak ada gunanya memakai palu sebesar itu di sini. Apa kau mau menempa besi?” kata Lucia.

“Kurasa kau benar,” kata Ferra. Ia membuang palu di tangannya – yang seketika itu juga menghilang saat lepas dari tangannya. Ferra mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat. Matanya berubah menjadi kemerahan. Dari seluruh tubuhnya memancar udara panas saat kepalan tangannya perlahan berubah seperti besi yang ditempa.

Lucia bersiul. “Jadi inikah serangan penghabisan?”

“Akan kupastikan seperti itu!”

Lucia dan Ferra berlari ke arah masing-masing. Sekali lagi Lucia mengalirkan api hijau ke tongkat logam di tangannya, tetapi kali ini efek kemampuan itu membuat pandangannya kabur sejenak. Saat ia lengah, Ferra telah berada di depannya dan menghantam perutnya. Lucia merasakan seluruh perutnya bergejolak. Seandainya ia masih manusia, pastilah ia saat ini memuntahkan darah dan isi perutnya. Tetapi yang keluar saat ini hanya darah saja. Ia tidak memakan apapun selama ia berada di tempat itu – meski ia sangat ingin mencuri bakpau lezat di tengah kota atau meminum arak gratis di toko langganannya. Pandangan Lucia menjadi kabur bersama dengan rasa sakit yang memudar di perutnya. Gadis itu terjatuh dengan posisi berlutut. Ferra menunggu beberapa saat untuk memastikan lawannya benar-benar sudah kalah. Ia mendorong tubuh Lucia dengan kakinya dan tidak ada perlawanan sama sekal.

“Aku yang menang,” kata Ferra. “Silakan mendendam padaku saat kita semua kembali ke hutan merah, tapi jangan menyerang tuanku.”

***

Ferra dan Koboldia telah kembali pada Stallza. Kini di depannya berdiri sesosok Hvyt.

“Pemenang pertarungan ini adalah Stallza,” kata Hvyt itu.

“Kau yang mengirim mayat-mayat hidup itu?” tanya Stallza. Matanya menatap tajam pada sosok di depannya.

“Demi membuat pertarungan ini menarik di mata Yang Mulia Thurqk, aku akan melakukan apapun,” kata Hvyt itu.

Sebuah tinju mendarat tepat dilayangkan Stallza ke wajah Hvyt di depannya, membuat ‘malaikat’ itu terpelanting ke belakang. “Itu untuk Lazuardi,” kata Stallza. “Katakan pada tuanmu itu, aku akan melawannya nanti.” Stallza melewati Hvyt yang masih mencoba bangun itu dan berjalan menuju sebuah cahaya merah, tempat dari mana Hvyt itu keluar dan menemuinya.

***

Thurkq merasa geli melihat semua pertarungan yang ia saksikan. Semua pertarungan itu membuat jiwanya yang haus darah merasa puas. Tetapi saat melihat sosok Stallza yang dengan terang-terangan menentangnya, ia merasa geram. Ia sangat ingin menghabisi pria itu saat ini juga, tetapi sebagian dirinya yang lain menyuruhnya bersabar. Lagipula pembalasan terbaik adalah pembalasan di saat yang tepat.

“Nolan, kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, bukan!?” bentak Thurqk pada pria berkacamata yang mengawasi monitor di depannya. Pria itu mengangguk tanpa mau menoleh pada Thurqk.

“Aku ingin mendengar suara teriakan yang keras dari mereka yang terbakar apiku. Pastikan merekam saat para pecundang itu dihukum,” kata Thurqk. Sang dewa meninggalkan tempatnya. Ia masih harus mencari Abby, gadis yang sempat ikut campur dalam pertarungan Stallza. Ada sesuatu yang ia ingin gadis itu lakukan.

Satu yang tidak diketahui Thurqk saat itu adalah apa yang dilakukan Nolan saat ia meninggalkan ruangan itu. Pria itu dengan cepat mengetikkan sesuatu di layar yang menampilkan sosok Stallza. Setelah apa yang ingin ia ketikkan selesai, dengan cepat ia menekan tombol ‘Enter’. Di tempat lain, Stallza melihat selembar kertas melayang turun ke arahnya.

***

25 comments:

  1. O ho ho hon. Mungkin nanti Monsieur Elephant bakal moi pake untuk ronde berikut.

    Udah lama ga baca karya YaTaBe dan moi enjoy. 8.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous7/4/14 16:01

      Nampaknya iya, Mademoiselle Delacroix. :p

      -Ivon

      Delete
    2. Tres bien... moi suka ama fightnya terutama pas ada serangan zombi which is a pleasant surprise. Colette agak OOC sih but no problemo. Seperti yang sudah moi katakan, it's a joy to read YaTaBe's story again. Moi kasih nilai 8.

      Delete
  2. selesai >////<

    ternyata stallza nggak sia2 dipanggil king of harem. kakak beradik gitu lagi anggota haremnya. ck,ck.

    klo untuk ceritanya, nice. kalimatnya teratur rapi, tiap paragraf juga, trus dialog antar karakter juga terkesan hidup.

    cuman, apa ya, buatku sih, penyebab utama terbentuknya konflik disini lemah banget. nggak pas. irrelevan. dan nggak cocok.

    sok aja, aku bakalan meh banget klo tiba2 muncul chara diluar cerita yg tiba2 datang, mengacaukan suasana, trus pergi lagi nggak jelas.

    ibaratnya, kyk nonton kamen rider tah. kamen rider ichigo yg tiba2 muncul ngelawan musuh, trus hilang lagi nggak jelas nggak tentu tujuannya apa.

    what the...

    apa plot yg mau digerakkin disini susah banget hingga hrus ngundang orang luar ya?



    dan klo mau dibikin penasaran siapa yg bikin zombie tadi juga, aku nggak akan penasaran. aduh, kacau juga sih sbnarnya, meskipun kalimatnya udh rapih kyk gini.


    yasudhlah, 8/10 aja.

    ReplyDelete
  3. Kelar baca, dem "King of Harem", pengendalian multiple elemen, de el el
    jujur, konsep kayak gini kesukaan saya.
    walapun, kalau saya boleh komplain itu zombie gak jelas mendadak dateng dari Hvyt yang saya pikir kurang "greget" dan bagaikan cuman jadi musuh yang datang di 1 episode, mati, kelar.
    harusnya bisa saya lempar perfect score, tapi karena zombie terlalu memaksakan......

    8.5/10

    ReplyDelete
  4. Oh, nice! Ayo kita konspirasi untuk mengudeta si Thurqkey!

    Well, masuk ke review, untuk narasi dan sejenisnya, sudah cukup mengalir. Meskipun mungkin ada sejumlah paragraf yang terlalu panjang. Sewaktu pemotong-motongan adegan sesuai dengan karakter, itu agak membingungkan dan membuat konsentrasi saya terganggu. Tapi tidak terlalu masalah, sih. Di samping itu, plotnya pun agak berbeda karena awalnya mereka harus “dipaksa” bertarung oleh panitia. Ini bisa jadi nilai plus.

    Karakter si Collete, dialognya kurang nuansa Perancisnya. Meskipun saya tidak tahu mana yang lebih baik antara Collete yang ini dengan yang versi Adham sendiri (karena menurut saya yang versi Adham pun bahasa Perancisnya masih KW2). Tetapi sentuhan “gajah”nya lumayan juga :v

    Untuk karakter lainnya, tak terlalu masalah di bagian dialog. Namun yang saya sayangkan adalah kesannya keempat lawan si Stallza ini mudah dikalahkan. Dan si Stallza pun, setidaknya dalam cerita ini, seperti tidak punya teknik bertempur lain selain memanfaatkan Spiritia-nya, yak? Padahal dari char sheet yang saya baca masih ada skill Extracto, Spiritialis, dan Sintesis. Seandainya itu digunakan, bakal tampak jauh lebih keren dalam bayangan saya. Bahkan kesan yang saya dapat, Stallza versi Adham dan versi Donut (biarpun kalah) malah lebih keren daripada Stallza yang ini.

    Dengan plus-minusnya, saya berikan 7.0, karena setidaknya saya masih bisa menikmati tulisan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm.... itu Spiritialis sudah digubakan waktu menyatukan hHelia ke badannya. Kalau yang extracto, saya raa belum perlu di sini karena kemampuan lawan bisa diamati dari jauh dengan aman. Terima kasih komentarnya :3

      Delete
  5. Spiritianya Stallza bikin ini berasa bukan battle royale 5 orang karena banyak karakter lain (spiritia)
    Tapi selain itu, ini enak dibaca sih. Saya suka penentangan Stallza di akhir, tapi sejujurnya kurang suka sama plot zombienya. Dapet nilai plus lagi karena saya suka karakter lain di sini, meski sayang mereka berkesan gampang

    7/10

    ReplyDelete
  6. “Apa? Dia pengoleksi wanita? Dia suka melukai wanita?” seru Colette.

    “Yah, itu, sih, sebenarnya…”

    “Tidak bisa dimaafkan! Yang melukai wanita tidak pantas dimaafkan!” seru Colette kesal.

    “Jadi kita sepakat mengalahkan dia dulu?” tanya Volatile.

    “Tunggu, Tapi itu sebenarnya – ”

    "Aku sepakat!”

    “Hei, kalian…”

    “Kalau begitu, kita mulai!” seru Volatile.

    “Ayo!” seru Colette semangat.

    “Yah, sudahlah. Tidak ada bedanya juga,” kata Lucia Chelios.

    ^this
    Kacau ini, king of hareem dikriminalisasi.
    XD
    .

    Stallza ini beneran jadi char imba di group A ya...
    ._.
    Ane gak pande review, jadi cukuplah dengan menilai plot saja.
    Di sini tiap char rasanya seperti terkesan kurang motivasi, proses buat menciptakan kontes "ayam sambung"-nya kurang begitu terasa. Yang ada malah jadi pengen zero enemy thousand friends.
    XD
    .
    Ane suka banget sama penggambaran king of hareem yang nggak dijelaskan secara gamblang, dengan cara showing lewat para servant yang blushing, berjajar di belakang.
    XD

    + 6.5 yaa...

    ReplyDelete
  7. Hallo, saya datang.
    Ahem. Jadi ya, saya baru baca stallza sekarang. Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan

    Poin positif :
    - Saya suka plotnya, meski senada sama kak sam, zombienya itu agak gimana gitu
    - Saya suka cara pikirnya stallza di >> Stallza tidak suka ide bertarung ini. Apalagi dengan tambahan siapapun yang kalah akan binasa selamanya. Matanya memandangi semua peserta lain. Beberapa tampak seperti manusia, bahkan salah satunya adalah anak kecil. Sisanya adalah makhluk aneh. Mereka semua ingin kembali hidup, seperti juga dirinya. Tapi apakah itu sama berharganya dengan binasa selamanya? Ia ingin bertanya, tetapi urung ia lakukan. Sesuatu dalam diri Thurqk, sosok yang menyebut dirinya dewa itu, terasa sangat aneh. Kekejaman, kebengisan, namun di sisi yang sama ada kelemahan yang berusaha ditutup-tutupinya. Apapun itu, Stallza merasa sosok di depannya itu jauh dari makna kata “dewa”. Meski ia belum tahu bagaimana cara untuk membuktikannya.
    - Saya suka kemuncula Abby
    - Dan saya suka Scene pas Ferra vs Lucia. Kata-katanya Lucia >> “Kurasa tidak ada gunanya memakai palu sebesar itu di sini. Apa kau mau menempa besi?” kata Lucia [LUCIA WINS]
    - Kalau buat kak Sam ini berasa bukan battle Royale 5 orang, saya malah ngerasa Spritia-nya itu pecahan si Stallza gara-gara make 1/10 eksistensi (kalau ndak salah saya baca di awal) si Stallza.
    - Ngga terlalu fokus di Stallza, seolah entrant lain juga ada perannya disini ga cuma sekedar lewat.

    Tapi........ ada beberapa hal subjektif yang bikin tensi baca saya turun dan sedikit dragging (kalah kata bang ivan : capek). Ini subjektif sih, jadi apa yang saya rasakan, belum tentu dirasakan orang lain :
    - Tetapi keinginan untuk kembali hidup itu perlahan muncul kembali saat ia menyadari tidak ada seorangpun yang ingat bahwa seorang Stallza pernah hidup. Seolah seluruh keberadaannya telah hilang bersama dengan tubuhnya dalam perang >> pemborosan kata kembali
    - “Maaf, karena kami Tuan sampai kehilangan tubuh,” kata Ferra pada suatu ketika. >> kurang koma, jadi intonasinya aneh
    - Ia mengeluarkan kristal biru berbentuk seperti koin dari dalam tas pinggangnya. “Helia, keluarlah,” kata Stallza >> 'kata stallza' ini ngga usah disebut lagi.
    - “Sampah itu harusnya dibakar, bukan disimpan saja!” Colette memejamkan matanya. >> Ini collette marah apa gimana? kok pake kata 'saja'?-
    - Di saat Volatile akan beranjak dari sana, sesosok makhluk berwarna biru terlihat mengendap-endap mendekati salah satu dari orang yang sekarat. >> kata 'di' sebelum 'saat' agak janggal buat saya
    - “Indikasi sudah diterima. Ketiga orang lainnya tampak berbahaya. Jangan lakukan pendekatan secara langsung. Bergabung dan bersembunyi sampai semuanya selesai adalah langkah terbaik,” kata Lazuardi terakhir pada dirinya, dan juga pada tiga Lazuardi lain yang terhubung padanya. >> Ini ada berapa Lazuardi ya? saya bingung, empat atau lima. Karena sebelumnya mengindikasi empat
    - “Aku adalah Matoi,” jawab makhluk itu. “Namaku Lazuardi, umur 22 tahun, jantan. Suka menjalani hidup yang tenang dan damai.” Ia masih menatap Stallza dengan curiga. Beberapa saat sebelumnya ia telah memerintahkan anjing dan kucing yang ia kendalikan untuk kembali melindunginya. >> Dia curiga tapi mengatakan info tanpa diminta. Aneh buat saya.
    - Toh cepat atau lambat mereka semua akn bertarung juga. >> typo
    - Perlahan-lahan sebentuk belati melengkuk terbentuk di masing-masing genggamannya. >> saya rasa ini pemborosan kata 'bentuk'
    - Ia mendorong tubuh Lucia dengan kakinya dan tidak ada perlawanan sama sekal >> typo
    - Ada beberapa kejadian yang terlalu menceritakan, dan paragraf yang kebanyakan aksi. Saya berkali-kali nemu ada beberapa paragraf dengan dialog di tengah baru dilanjutkan dengan narasi. bagusnya sih itu dipisah.

    Jadi, buat saya,
    7,5 dulu ya...

    Semoga beruntung.

    ReplyDelete
  8. wahooo panjang2 paragrafnya. jujur gw dah berapa kali ngalihin pandangan ke hal lain gara2 ini (perhaps).

    gw jujur kurang suka begitu Stallza dah ngirim Ferra sama Koboldia. abisan dari situ kesannya si Stallza cma tinggal nyalain rokok dan nyante bae~ :v
    but hey, kalo itu emang kesan yang maw ditinggalkan, so be it.
    dan juga... uh... gw ngerasa ga ada sesuatu yang menyulitkan Stallza di sini.

    konflik batinnya mayan tergali.Tapi gw jadi bingung napa si Stallza justru ngerahin Spiritia di pertempuran kalo emang awalnya dia ga pengen those ladies get hurt :(

    nilai: 8/10

    ReplyDelete
  9. 1 hal yang perlu gwa beritahu dulu sama yatabe...

    BELAJAR MENGGUNAKAN ENTER DENGAN BENAR.

    tulisan situ
    Volatile berdiri di atas bangunan tinggi di kota itu. Angin malam berhembus dingin, membuat kakinya yang tidak terlindung jubah putihnya terasa seperti tertusuk-tusuk. Dalam hati ia merutuki mengapa ia memakai rok pendek di saat seperti ini. Di bawah sana ada sekelompok orang berbaju hitam dengan gelagat mencurigakan. Tak lama kemudian muncul sekelompok orang lain yang berpakaian serba putih. Mereka saling menukar tas. Kelompok berbaju putih memeriksa tas yang mereka terima. Sesaat kemudian salah seorang dari kelompok berbaju putih itu mengumpat dan mencabut senjatanya. Tidak butuh waktu lama sebelum tempat itu berubah menjadi medan perang. Peluru berdesing, mayat berjatuhan. Di akhir peperangan, hanya ada lima orang yang tersisa, dan mereka sekarat. Dari ketinggian Volatile mendengus. “Dasar barbar. Bisa-bisanya Thurqk mengirimku ke tempat tidak beradab seperti ini,” katanya.

    kenapa bisa diubah dengan tepat makna menjadi

    Volatile berdiri di atas bangunan tinggi di kota itu. Angin malam berhembus dingin, membuat kakinya yang tidak terlindung jubah putihnya terasa seperti tertusuk-tusuk. Dalam hati ia merutuki mengapa ia memakai rok pendek di saat seperti ini.

    Tepat di bawah sana ada sekelompok orang berbaju hitam dengan gelagat mencurigakan. Tak lama kemudian muncul sekelompok orang lain yang berpakaian serba putih. Mereka saling menukar tas. Kelompok berbaju putih memeriksa tas yang mereka terima.

    Sesuatu yang salah terjadi, salah seorang dari kelompok berbaju putih itu mengumpat dan mencabut senjatanya. Tidak butuh waktu lama sebelum tempat itu berubah menjadi medan perang. Peluru berdesing, mayat berjatuhan. Di akhir peperangan, hanya ada lima orang yang tersisa, dan mereka sekarat.

    “Dasar barbar. Bisa-bisanya Thurqk mengirimku ke tempat tidak beradab seperti ini,”


    dan banyak banget kasus kayak gini di seluruh ceritamu yang bikin saya berjuang baca sampai akhir.

    dan FOR THE LOVE OF GOD!
    BELAJAR 1 PHARAGRAF UNTUK 1 ADEGAN PLEASE YATABE!...

    Maaf yatabe, Saya Nyerah. benar-benar Nyerah.

    maaf Gak nilai, Saya Next aja.

    ReplyDelete
  10. "You know, what is the worst thing ever? that is just one thing, being forgotten by people that you loved."

    Rasanya kalimat di atas cocok banget untuk Stallza :( umi tahu banget rasanya dilupain sama orang-orang yang kita sayang #eaaa #malahCurhat

    oke, cukup curhatnya umi sedikit curhat mengenai tulisannya :
    - habis titik ada spasi
    - kakak biasakan pakai pola, 1 kalimat utama dan beberapa kalimat pendukung dalam satu paragraph. Terlalu banyak kalimat utama dalam satu paragraph bisa bikin pembaca ga fokus.
    - typo : samba, Koboldia dipanggil Carbia sama Stallza -_-
    - boneka mayat dari hvyt? Really? -_-
    - liat dialog ini --> “Berhenti, barbar! Jangan dorong-dorong!” <--umi jadi inget sama kejadian kalau naik kereta di gerbong wanita >.<


    nilai dari umi 7/10 :D

    ReplyDelete
  11. Kata katanya enak dibaca tapi sayang sekalii.. Konflik antar peserta terasa dibuat buat, buatku, kek nggak nyata gitu.. Ceritanya juga berasa rada hambar.. Beberapa paragraf gak fokus dan aku malah bingung baca narasi tiap peserta di awal yang singkat dan langsung jeda dan pindah ke karakter lain berulang ulang, bikin gak fokus juga ini.. Walaupun kata katanya enak tapi kalo ceritanya gak fokus pembaca tetep bakal kesusahan ngikutin alurnya..

    Battlenya biasa aja.. Padahal Stallza punya 40 spiritia yang bisa dieksplor habis habisan buat nyiptain pertarungan yang keren.. Itu baru dari sisi Stallza.. Tapi nilai plus buat penggambaran tiap spirit dan hubungannya sama Si Tuan ini..

    Judulnya zombie tapi kok rasanya zombienya cuman numpang lewat aja, kurang wah gitu keberadaannya dalam cerita.. Munculnya Abby juga rasanya sama sekali gak penting buat cerita.. Majuin plotnya juga keknya susah payah banget..

    Tapi yang paling fatal justru di akhir.. Twist Nolan emang asyik, salah satu hal terbaik juga sepanjang cerita.. Tapi penggambaran Thurqk nya off banget buatku.. Dia dewa, or at least yakin bahwa dirinya dewa, punya kekuatan yang bisa ngumpulin arwah dan maksa mereka bertarung buat menghibur diri.. Tapi dia geram waktu tau Stallza gak suka sama dia dan pengen ngelawan dia? I mean, dia maksa mereka semua bertarung diluar kehendak merek, harusnya paling nggak dia udah expect beberapa diantaranya bakal ngebenci dan pengen ngelawan dia kan? Dan kalo emang dia bikin turnamen buat ngehibur diri, hal hal kek gini bukannya malah sesuatu yang bakal ngehibur dia?? Menurutku sih, kalo di cerita selanjutnya konflik dengan Thurqk yang seperti ini dipake jadi konflik utama Stallza di BoR justru bakal jadi plothole besar endingnya..

    7/10 aja deh

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -