April 8, 2014

[ROUND 1 - H] ZACHARIAS EITHELONEN - VIOLET SUNSET

"Violet Sunset"
Written by Naer

---

Mereka yang terpilih.

Terdengar begitu terhormat, walaupun nyatanya tidak.

“Aku bisa berjalan sendiri,” tukasnya pada sosok bersayap hitam (yang akhirnya ia ketahui disebut Hvyt) sembari menepis lengan berbuku tebal sosok tersebut yang tengah berusaha menariknya ke suatu tempat. Oh, tidak hanya ia seorang yang digiring seperti ternak, namun ada lima puluh empat lagi yang bernasib sama dengannya, bahkan tak jarang ada yang memberontak walaupun hal itu sia-sia. Istilah ‘Yang Terpilih’ kini terkesan seperti kumpulan domba kualitas tinggi yang diseleksi dari sebuah populasi untuk dipaksa menari di atas bara api sebelum dijagal. Lucu sekali.

Pemuda bertanduk itu mendongak. Kecubung kembarnya menatap sesuatu yang mirip papan tulis raksasa tembus pandang, berwarna merah dan berpendar di langit. Melayang seakan ada tali tak kasat mata yang menyangganya agar tetap berada di sana dan tidak jatuh. Lima nama terurut dalam sebuah kotak, keseluruhannya ada sebelas kotak. Beberapa jenak ia lalui dengan menyisir nama-nama tersebut sambil berjalan pelan, lalu ia mendapati namanya berada di kolom 1-H bersama empat nama lain yang tak ia kenali.

Lulu Chronos, Petra Arcadia, Quin El-Fathin, dan Primo Trovare.

Semua hal yang terjadi di tempat ini tidak begitu jelas. Namun, satu hal yang jelas, ia sudah mati—menurut perkataan entitas bernama Thurqk yang mengaku sebagai pencipta alam semesta. Fakta bahwa ia ingat bagaimana dirinya mati dan sekarang merasa sangat hidup, merupakan salah satu bukti kalau Thurqk bukanlah insan sembarangan yang punya sindrom God Wannabe. Thurqk, dengan tatapan penuh kebosanan dan sikap yang terlihat masa bodoh, punya kekuatan besar yang melampaui nalarnya. Amat besar, hingga Zach dapat merasakan aura menekan yang tidak mengenakkan hanya dengan mendengar gema suaranya.

Kerumunan ‘Yang Terpilih’ lalu membentuk kelompok kecil, lima-lima. Mereka digiring ke sebuah kuil besar yang amat luas, cukup untuk disesaki ribuan orang. Mereka semua diminta diam, walaupun hal itu akan sulit dilakukan. Ucapan sahut menyahut, lama-lama menjadi dengungan yang cukup gaduh. 

Di bloknya, empat orang lain berdiri bersisian dengan satu Hvyt berada di belakang mereka. Zach mengerling dari ekor matanya, hal yang sama dilakukan oleh keempat lainnya; mengamati dan menilai. Mereka membisu bersamaan dengan surutnya dengungan gaduh kelompok blok-blok lain.

Para Hvyt berpindah ke hadapan mereka berlima sembari menjulurkan sebelah tangan mereka. “Pegang tangan kami ketika kalian siap,” ucapannya mirip ketika para Hvyt menjemput mereka di Jagatha Vadhi, “jangan berpikir panjang, kalian tak punya pilihan lain. Maju atau mati.”

“Kalau begitu kenapa pakai basa-basi bilang ‘ketika kalian siap?’” Si merah muda mendengus meremehkan sembari meraih tengan Hvyt, kemudian mendadak lenyap seakan ditelan udara kosong. Dilanjutkan oleh si topeng yang tak bayak bicara lalu tiba gilirannya.

Ia maju, menyambut juluran tangan Hvyt dan menggenggamnya. Kemudian sensasi perpindahan dari Jagatha menuju Devasche Vadhi terjadi lagi. Perutnya seperti dikocok, seluruh tubuhnya seakan disedot satu titik di dekat pusarnya, semua terombang-ambing memusingkan, dan pandangannya mulai seperti mosaik. Zach memejamkan mata, ia melayang dalam kehampaan ketika seluruh inderanya mati.Beberapa jenak kemudian kakinya telah menjejak kembali dengan amat mendadak. Keseimbangannya goyah dan bokongnya menghantam sesuatu yang keras lebih dulu.

“Ouch!” Mengaduh, lalu merangkak duduk dan menyandarkan punggung pada dinding beton suatu bangunan. Demon bertanduk satu itu menengadahkan kepala. Mendadak, sinar keperakan membutakannya sejenak, sebelah tangan menyaring cahaya yang tak tertutupi sebagian namun cukup untuk membuat pandangannya kembali normal.

Ketika ia mengintip dari celah jemarinya, ia dapat melihat sebuah batu biru bersinar dengan temaram di ujung tiang ramping yang cukup tinggi. Sinar lampu... jalan, rupanya. Ia tak pernah melihat yang seperti ini di tempatnya dulu, jadi Zach menyimpulkan kalau dia tidak sedang berada di tempat kelahirannya. Ia beringsut ke tembok untuk berdiri, kedua tangannya menepuk celana dan ujung jasnya yang ditempeli debu. Mata ungunya menatap sekitar, ternyata ia tengah berada di sebuah kota padat perumahan. Tidak jauh berbeda dengan dunianya, jalanan dengan bata yang tersusun rapi, atap bergenting merah, tembok perumahan yang tersusun dari tumpukan bata dengan varian aneka warna merah.

Sinar temaram lampu jalan berasal dari batu aneh mirip lapis biru namun pendarannya cukup untuk menerangi pandangan—di sini masih malam menjelang subuh, ia rasa. Suara serangga terdengar dari semak-semak pekarangan, bulan (ternyata di sini ada juga) berpendar keperakan hingga pemuda demon itu merasa seakan berada di tempatnya, Gnokgnis.

Ia melangkah dengan pelan, suara ketukan pentofel hitamnya terdengar berirama. Dari jendela-jendela rumah penduduk, ada beberapa yang bersinar oranye. Aroma makanan terkuar dari beberapa rumah yang ia lewati, juga suara percikan minyak yang tengah menggoreng sesuatu. Waktu sarapan telah dekat, begitu pikirnya ketika warna biru keunguan di langit sana semakin surut menjadi lebih muda.

Beberapa pintu menjeblak terbuka dan yang keluar pertama adalah manusia (bahkan di rumah besar dan kesannya dimiliki oleh orang kaya), bukannya demon budak. Lalu ia yakin kalau di tempat ini tak ada yang namanya perbudakan demon. Mungkin tempat ini tidak buruk untuk ditinggali demon seperti dirinya—itu kalau manusia tidak ketakutan lalu kabur setelah melihat tanduk dan telinganya yang runcing. Ia terkekeh, menertawakan idenya yang menggelikan.

“Ouch!”

Zach kaget ketika seorang gadis menyenggolnya, tubuhnya membatu di tempat.

“Kau kenapa?” Tanya gadis lainnya.

“Ti—tidak, sepertinya aku menabrak sesuatu,” ujar gadis yang menabraknya dengan tatapan lurus padanya—walaupun nyatanya gadis itu tengah melihat ke arah tiang lampu jalan.

“Sesuatu? Tidak ada apa-apa di sana... hmm...” lalu gadis lainnya memasang wajah jahil,“sepertinya kau menabrak roh Dragonov yang menghantui lapangan latihan dragon raider ini, awaaaass kutukan sembelit Lord Dragonov akan menimpamuuuuu...” suaranya dibuat semisterius mungkin dengan kesepuluh jemari yang bergerak seperti tentakel gurita.

“Jangan menggodaku! Sudah ah, kita bisa telat memberi makan naga! Kau tahu bayi naga yang baru lahir seminggu lalu itu amat manja. Ayo pergi sebelum kandang kebarakan gara-gara mereka mulai merengek!”

Zach mendenguskan napas lega. Nampaknya manusia di sini tak dapat melihat sosoknya, walaupun ternyata mereka bisa menyentuhnya. Ada baiknya jika ia menghindari kerumunan ramai agar tidak menimbulkan keributan. Lalu... apa tadi yang para gadis itu bilang? Naga? Latihan dragon raider?

Zach menolehkan pandangannya ke samping. Terdapat bangunan besar mirip sebuah tempat manusia biasanya menonton pacuan kuda. Jadi... hm... di sini ada, naga? Makhluk imajiner yang merupakan khayalan manusia di dunianya?

Lalu pemuda bertanduk itu dikagetkanoleh suara raungan keras dan pilar api yang membumbung tinggi, lebih tinggi daripada puncak bangunan ‘pacuan kuda’ itu sendiri. Matanya terbelalak ngeri.

O—kay.

Zach berlalu, tak mau ambil pusing—lebih tepatnya pura-pura tidak melihat apa yang terjadi barusan.

Suasana pagi begitu damai, sesekali terdengar celotehan orang-orang yang bercengekrama di pinggir jalan, udara sepoi mengalir, juga suara burung penyanyi yang mulai berkicau. Aneh rasanya kalau tempat ini merupakan arena pertarungan lima orang yang tak terlihat penduduk. Namun sedetik kemudian ia mulai berlari secepatnya ketika telinganya yang sensitif menangkap suara pertarungan. Intuisinya menjerit kalau pertunjukan Thurqk telah dimulai.

***

Gadis itu menendang barel kosong hingga menggelinding ke jalan turunan. Kesal, Lulu Chronoss benar-benar kesal dan muak dengan teleportasi Hvyt yang menyebalkan. Ia mendengus jijik pada tumpukan sampah yang digerumbungi lalat, satu lagi alasan kenapa dia kesal pada makhluk merah bersayap hitam itu adalah lokasi ‘pendaratan’-nya di dunia antah berantah ini. Tempat pembuangan sampah kota. 

Manis, manis sekali. Kenapa tidak sekalian Hvyt brengsek itu memindahkannya ke dalam gunungan sampah itu?

Kupluk merah muda kembali menutupi puncak kepalanya. Gadis itu berlari keluar tempat pembuangan sampah secepatnya. Tak sudi seorang pewaris Chronoss seperti dirinya berada di tempat menjijikkan seperti ini. Yuck.

Gadis itu bertumpu pada kedua lututnya ketika telah cukup jauh berlari, napasnya berlomba dengan peluh yang mulai menetes dari pelipisnya. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali hingga napasnya kembali normal. Ternyata ia berlari ke salah satu gang kecil tempat perumahan yang bisa dibilang pinggiran, karena banyak bangunan yang tidak kokoh lagi dengan warna tembok pudar berlumut. Tidak sedikit yang terlihat kosong dan mulai ditumbuhi semak. Namun banyak aroma makanan bergentayangan di sektiarnya, ia anggap masih ada orang yang tinggal di sini. Dan lagi... akibat aroma tersebut, perutnya memulai orkestra pagi. Ah... ternyata buah pohon rachta yang ia makan sebelumnya kurang banyak. Menyesal gadis itu tidak membawa beberapa buah bersamanya.

Ia menyisir poninya yang menutup pandangan dengan jari telunjuk kemudian kembali berjalan.

“Pagi, Nona Chronoss.”

Lulu menggerung gemas dengan sebelah kaki dihentakkan ke jalan.

Sial!

Lulu mengintip lewat ekor matanya, dapat dilihat kalau yang memanggilnya barusan adalah seorang paman—yeah, sudah kelihatan tua dan pembawaannya yang terasa amat kolot—berambut cokelat bergelombang sebahu, dengan pakaian yang pastinya amat janggal jika disandingkan dengan manusia di tempat ini (sepertinya Lulu perlu bercermin agar tidak seenaknya menilai, ia pun terlihat out of place di sini). Sebuah keuntungan bagi lawannya untuk tahu nama Lulu, karena hanya dirinya seorang yang merupakan kontestan perempuan—si topeng terlalu blur akan gendernya, anggap saja hermaprodit—di blok H dan namanya bukanlah nama unisex, terkesan amat feminin (atau terlalu bocah, entahlah).

“Pagi juga, Paman,” dan ledakan tawa menjadi respon pria tersebut. Lulu heran, namun gadis itu segera menarik keluar tonfa kembarnya. Pegangan tonfa ia genggam erat-reat, jempol berada di kenop, ujung pendek berada di depan dan ujung panjang di belakang segaris dengan siku. Tanpa sadar Lulu telah memasang kuda-kuda bersiaga.

“Bukankah kita butuh perkenalan lebih dahulu?” Pria itu merentangkan kedua tangannya yang sebelah kiri kosong, sedangkan yang kanan menggenggam sebuah senjata pemain anggar… tipe sabre? Sebuah pedang silindris tipis panjang yang runcing di ujungnya, memiliki gagang seperti pedang para bajak laut.

Matanya terpaku pada sabre pria itu dengan amat intens.

“Oh, jangan terlalu tegang begitu Nona,” ia menarik sabre-nya lalu menyarungkannya kembali ke sisi pinggangnya, “perkenalkan, Primo Trovare.”

“Kau sudah tahu namaku, kan?”

“Bhahaha... yeah, benar,” kembali Pria itu tertawa walau lebih pelan dari sebelumnya, “namun, ini adalah kode etik duelis Nona, kuharap anda tidak keberatan untuk berkenalan, hanya mengucapkan nama apa ruginya?”

“Lulu Lavatia Magnara ‘del Chronoss,” gadis bertudung merah muda itu mendengus pelan, “sabre yang bagus, kuarsa.”

“Sayang sekali sabre ini bukan milikku,” ujarnya sambil berdecak sebal seakan tengah memarahi bilah sabre yang berada di saping pinggangnya, “posisi awalku berada di gudang senjata—untungnya, karena aku tak membawa sabre milikku, tapi tak kusangka kalau kualitasnya, well... yeah mengecewakan.”

“Lalu, sekarang kau mau apa, Paman?” Ia lebih senang memanggilnya begitu, toh nama tidak begitu penting ketika lawannya sudah mati, kan?

My, my... anak gadis harus lebih lembut, Nona, kalau kau berada di tempat asalku mulutmu sudah dijejali cabai, sepertinya kau tengah berada di usia pemberontakan, eh?” Primo menarik sabrenya, “kau harusnya lebih menghargai orang yang lebih tua, Nona Chronoss,” lalu mulutnya mulai merapalkan sesuatu dan bilah sabre itu berpendar keperakan beberapa detik sebelum padam.

“Bisa kau tutup mulut? Aku tak suka diceramahi pagi-pagi,” tukas Lulu ketika tonfa kanannya berhasil ditahan oleh bilah tipis sabre Primo dengan amat janggal.

Na’ah, cara halus tak akan berefek padamu, kurasa,” Primo menghela napas, kemudian menebaskan sabrenya dengan amat kuat hingga Lulu terpental beberapa kaki kebelakang. Gadis enam belas tahun itu kaget, ia kebingungan karena bilah logam yang tipis itu terasa lebih solid dengan amat ganjil. Apa ada hubungannya dengan pendaran putih yang menyelimuti sabrenya tadi?

Belum sempat ia selesai dengan kecamuk di benaknya, tubuh Primo lah yang kini berpendar putih beberapa detik kemudian redup.

“Apa yang kau lakukan?!” Lulu menyerbu dengan cepat, apapun cahaya putih itu ia merasa sesuatu yang tidak  menyenangkan. Tonfa kanannya berhasil di tahan sabre, namun ia segera menepisnya ke kiri, menekuk sabre Primo hingga tak dapat digerakan, lalu tonfa kirinya menghantam lengan kanan Primo dengan sukses. Lulu hendak tersenyum pongah, namun ia sadar kalau tubuh lawannya terasa amat keras. Lebih keras dari tubuh manusia normal.

Gadis itu lalu mundur dua kali dengan lompatan, ekspresinya siaga.

“Yang kulakukan? Tidak ada yang khusus selain memberkati bilah sabre, juga tubuhku,” Primo tersenyum santai hingga membuat Lulu merasa diremehkan, “oh aku juga punya sesuatu yang dapat memudahkan jalanmu kembali pada-Nya.”

“Pada... siapa?” Tanyanya dengan penekanan di kata ‘siapa’.

“Pada Tuhan, tentu saja.”

“Thurqk maksudmu?”

“Oh bukan, Dia lebih mulia daripada Thurkey itu, tidak Nona.”

“Lalu dengan cara apa?”

Absolve. Aku dapat membantumu mengampuni dosa-dosamu... dan jiwamu akan langsung pergi ke sisi-Nya.”

“Aku diajari agar tidak percaya dengan ucapan orang asing, terlebih lagi pria tua yang mencurigakan sepertimu,” Lulu memutar-mutar tonfanya dengan gerakan cepat, “lagipula, kenapa tak kau praktikkan pada jiwamu sendiri? Kurasa itu akan lebih mudah, eh?” Gadis itu tersenyum timpang. Jelas sekali kalau lawannya ingin menang dari pertarungan ini. Yeah, pria itu punya sesuatu yang dapat dikabulkan oleh Thurqk, maka dari itu dia ingin menang. Untuk alasan itu pula Lulu semakin tidak percaya pada pria itu dan Tuhannya.

Mana ada orang taat pada Tuhannya namun berkompromi dengan Tuhan lain?

My my... sepertinya kau benar-benar ingin cara yang lebih sulit eh, Nona?” Primo mendesah muram, kemudian kembali menyiagakan sabrenya dengan sebelah tangan berada di belakang.

En garade,” Primo berujar pelan, "attaque!" Kemudian dengan gerakan kaki duelis fencer yang lincah ia berhasil menyudutkan gadis muda itu dengan tusukan demi tusukan sabre yang benar-benar tajam dan cepat. Berkali-kali berhasil ditangkis, namun semakin lama rasanya sabre tipis itu semakin keras. Lulu tidak suka ini. Ia mundur dengan cepat kemudian memunculkan semacam bilah tajam pada ujung pendek tonfanya. Lalu ia menyerang balik.

Kini kedua kakinya ikut bekerja, ia menendangkan kaki kanan ke depan dengan cepat, menyabet belakang lutut lawannya, berusaha untuk membuat sebelah kaki Primo berlutut di jalan namun hasilnya tetap sama. Kaki itu seakan keras seperti batu, hingga tendangan Lulu seperti tidak ada efeknya. Namun gadis itu tak berhenti, tonfa kanan dan kirinya bergantian dipukulkan ke arah Primo, walaupun semuanya berhasil ditangkis bilah sabre yang luar biasa keras. Nampaknya pria tua itu benar-benar pemain anggar yang profesional. Kedua tulang kering Lulu merasakan nyeri akibat menendang tubuh laksana batu, gadis itu menggeram dengan gemas kemudian mengucapkan sesuatu dengan amat pelan.

Pertarungan itu begitu cepat, bunyi hantaman tonfa dan bilah sabre tak lagi dapat disembunyikan. Penghuni rumah di sekitar mulai berkeluaran sambil menatap dengan heran pada udara kosong di tengah jalan yang mengeluarkan suara denting hantaman logam.

Gadis itu tersudut hingga punggungnya terantuk dinding. Ia mendecih kesal namun ekspresinya berubah menjadi kaget ketika bilah sabre menancap di dinding tak jauh dari telinga kirinya.

“Pengalaman sejalan dengan umur, kau seharusnya tidak meremehkan paman ini, Nona Chornoss,” Primo berucap pelan ketika wajah mereka tak lebih dari sepuluh centi. Lulu merasa muak dan emosinya hampir meledak, namun ia berhasil meredamnya dengan menggigit bibir bawah. Ekspresinya kembali normal dan ketika Lulu melihat melewati pundak Primo, gadis itu tersenyum tipis.

“Sepertinya semakin tua, semakin pongah orang tersebut, eh?” Ucap Lulu dengan nada yang anehnya terdengar santai. Tonfa dijatuhkan ke jalan sedangkan kedua tangannya bertumpu di tembok, lalu kedua kakinya terangkat dan dengan moentum antara tangan dan tembok ia menendang tubuh Primo ke belakang dengan sekuat tenanga dan berhasil. Tubuh itu terhuyung ke belakang bersamaan dengan sabre yang tercabut dari dinding. Tidak hanya itu, tubuh Primo terluka seperti disayat-sayat oleh bilah pisau tipis berkali-kali oleh sayatan tipis yang melintang diagonal dengan statis di udara.

Timed blade, itulah yang dilakukan Lulu. Ketika ia merasa semakin disudutkan serangan Primo dengan meninggalkan jejak sayatan tonfa di udara yang akan melukai siapapun yang menyentuhnya. Nampaknya Primo terlalu meremehkannya sehingga mengabaikan sayatan statis yang mengambang di udara. Nah, biar pria itu merasakan obat yang dibuatnya sendiri.

Suara gerungan terdengar dari udara kosong—sudut pandang warga—kemudian suara jeritan manusia terdengar sahut menyahut sebelum mereka berlari dari rumah masing-masing menuju pusat kota.

Sebelah lututnya ditumpukan ke jalan, Primo Trovare berlutut dengan luka sayatan di torso hingga pinggang. Darah segar merembes dan membekas dengan jelas di pakaian putihnya, sebagian menetes ke jalanan, rambut cokelatnya menutupi wajah yang ditekuk ke bawah.

“Kau yang seharusnya tidak meremehkanku hanya karena aku seorang gadis kecil, Paman,” Lulu memungut senjatanya. Ia hendak langsung menyerang Primo dengan ujung runcing tonfanya, namun berhenti karena kaget ketika melihat tubuhnya berpendar kemerahan beberapa jenak sebelum kembali normal. Chronoss muda terdiam, lalu tatapan menuduh ditimpakan pada Primo.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Aku benci ini, tapi ternyata menyudutkanmu ke tembok terhitung sebuah dosa,” Primo tidak menjawab, ia sekan bicara pada dirinya sendiri. Lulu tak mengerti ucapan dari Priomo namun ia tak punya intensi untuk menyerang pria yang perlahan bangun itu saat ini, “Sayang sekali berkat dan dosa tak bisa sejalan dan... mengutuk orang ternyata tidak terlalu buruk.

“Dosa... kesannya lebih cocok untuk sebuah pertarungan, no?” Primo beringsut berdiri dengan senyuman yang masih terpeta di wajahnya. Namun dengan ganjil, Lulu merasakan senyuman lembut itu terasa amat jahat. Tidak hanya itu, Lulu dikagetkan oleh pot pecah yang jatuh tak jauh darinya. Tak ayal jika ia berada di sana, kepalanya akan berdarah dan lebih parah lagi pingsan. Ditambah seekor kucing hitam melintas di depannya, supertisi di kerajaannya tentang datangnya sebuah bencana.

Ia tak suka ini. Seluruh tubuhnya berteriak kalau lawannya merupakan sumber bencana itu.

“Sayang sekali, Nona Chronoss... keberuntunganmu sudah habis,” Primo menantang dengan sabrenya.

Seberapa berdosakah engkau?

Sebuah bisikan menyusup ke dalam jiwa gadis itu, lalu ia sadar telah melonggarkan kewaspadaannya, namun semuanya telah terlambat.

***

Suara debuman keras dan dua barel  hancur membuat beberapa orang melirik dengan kebingungan di tengah jalanan yang kosong. Awalnya mereka hanya kebingungan, namun setelah beberapa gerobak hancur dengan sendirinya warga mulai panik dan jeritan demi jeritan terdengar.

Zach berusaha untuk berlari lebih cepat dari lawannya yang menutupi wajah dengan topeng. Awalnya Zach telah sampai di tempat pertarungan antara seorang gadis bertudung merah muda dengan pria berbaju putih, namun saat itu dirinya hanya mengamati dari balik tembok sebuah rumah. Namun tak lama kemudian, sesosok berambut hitam bertopeng mendadak menyerangnya tanpa basa-basi.

Kaget, Zach melompat ke salah satu atap rumah dengan mudah untuk menghindar. Ia berseru agar si topeng menahan serangan, namun nampaknya sosok itu tak selembut matanya yang indah. Serangan bertubi-tubi dilancarkan dengan sebuah pedang yang mendadak muncul di tangannya ketika sosok bertopeng itu melompat pada atap yang sama.Pemuda demon itu merasa tidak siap, maka dari itu ia berlari menjauh dari tempat pertarungan gadis merah muda dan pria berpakaian putih. 
Zach melompati satu atap rumah ke atap lainnya tanpa usaha keras. Namun di sini amat terbuka sehingga sosok itu dapat mengejarnya dengan mudah, lalu Zach melompat turun ke jalanan penuh manusia. Berusaha untuk mendistraksi fokus lawannya, namun di tengah kerumunan ini pun ia tetap terlihat—Zach mengutuk tinggi badannya yang diatas rata-rata penduduk di sini. Dan lagi kebanyakan orang adalah wanita yang sedang berbelanja yang mengenakan pakaian cerah, kontras dengan pakaian Zach yang hitam.

Begitulah, sekarang mereka bermain kejar-kejaran ditambah menghancurkan beberapa fasilitas. Dan sekarang warga sekitar jalanan yang mereka lewati mulai panik.

Zach mendecih, kemudian berbelok ke sebuah gang sepi. Sebelah tangannya menggenggam udara kosong, lalu tombak kecubung muncul dari ketiadaan dalam genggamannya. Tubuhnya berotasi di tempat, kemudian Zach melemparkan tombak ungu itu pada sosok hitam bertopeng  yang berada tak lebih dari tiga meter di belakangnya. Namun tombak itu menembus udara dan menancap di tumpukan barel kosong dengan suara yang nyaring. Bahunya diterjang oleh si topeng telah lebih dulu menghindar dengan lompatan, kemudian Zach tersungkur ke jalanan batu. Erangan tak dapat disembunyikan karena kepalanya terbentur lebih dulu.

Tubuhnya serasa dikunci, ketika matanya terbuka lawannya telah menjepitkan kedua pahanya ke samping tubuh Zach. Tangan kiri ikut terjepit walaupun nampaknya sosok bertopeng itu tak ambil pusing dengan tangan kanan Zach yang tergeletak lesu di jalan.

“Sayang sekali,” suara itu lembut, amat jernih. Setidaknya lebih indah ketimbang raungan DeWitt yang menjijkkan. Dapat dilihat dari celah topeng itu, mata dengan bulu lentik menatapnya dengan intens—seakan berpikir, dengan cara apa Zach harus mati.

“Yeah, nampaknya aku akan mati sekarang,” ucap Zach yang bernapas berat, “tapi setidaknya beri tahu namamu sebelum itu, bisa?”

“Quin El-Fathin,” ucapnya begitu pelan dengan ujung pedang yang terhunus di dekat tenggorokkan Zach.

“Sayang sekali...,” lalu tangan kirinya mencengkeram udara dan dari sana muncul bilah tombak ungu yang dengan cepat  dihujamkannya dari punggung Quin yang tidak awas hingga tombak tajam itu tembus hingga dadanya, “sayang sekali, padahal kau manis,” Zach paling tidak suka melawan perempuan, terlebih yang seperti lawannya sekarang. Namun ia pun harus bertahan hidup di sini, karena Thurqk nampaknya dapat mengabulkan hasrat terpendamnya.

Zach hendak menyingkirkan tubuh Quin, namun yang digenggamnya malah asap hitam yang mulai terurai.

“Ap—?!” Zach berguling ke belakang mengikuti instingnya dan benar saja, bilah pedang telah tertancap di jalan, dengan pemilik yang harusnya sudah mati ditembus tombaknya.

“Kau berpikir kalau aku sudah mati?” Tanya Quin seraya mencabut pedangnya dari jalan, “kau harusnya tidak membunuh musuh ketika menanyakan nama mereka, mana sopan santunmu Tuan,” ucapnya seakan tengah merendahkan Zach.

“Zacharias Eithelonen.”

“Eithel—apa?”

“Zach,” jeda sejenak, “kalau mau lebih gampang, dan... yang tadi itu...”

“Apa? Oh bayangkanku?”

Ternyata bayangan. Namun terasa solid dan benar-benar dapat memukul. Sial, Zach mendapat lawan yang merepotkan. Sepertinya jika ia tak segera melumpuhkan Quin, situasi akan menjadi sangat jelek.

“Hey, Quin.”

“Apa?”

“Tidak, hanya saja...” Zach menggelindingkan tombaknya ke samping seakan tengah mencoba jalan damai. 
Tapi tidak, ia memadatkan udara di sekitar sepatunya lalu dihentakkan dengan kuat hingga menimbulkan suara seperti pecahan beling. Dengan momentum tersebut ia menerjang Quin yang nampak tidak siap dan kaget. Sebelah tangannya meremas kerah baju target, kemudian menghantamkan tubuh kurus itu ke dinding beton di belakangnya bersamaan dengan suara erangan singkat. Tanpa menunggu lama, Zach segera mendekatkan mulutnya ke samping telinga Quin.

“You’re my prisoner,”  bisiknya dengan amat mendamba pada sosok tersebut.

Charm magic, dengan kondisi lawan yang tidak waspada dan kesakitan seperti ini, tak ada wanita yang dapat menangkis kekuatan charm magic Zach. Setidaknya dengan ini, wanita bertopeng tersebut tidak akan menyerangnya dengan membabi buta seperti tadi. Zach menarik wajahnya beberapa centi dari Quin, namun mendadak ia menyadari sesuatu yang janggal. Ketika tangannya menekan dada wanita itu, ia merasakan kalau...

“...datar?” Zach lalu meraba-raba dengan tidak percaya.

“Punya masalah dengan itu?” Suara dari balik topeng itu sedikit teredam, namun jelas sekali tersinggung. Disusul dengan sebuah tendangan yang mendarat di wajah Zach hingga ia terpental beberapa kaki dari posisi semula.

“Kau... laki-laki?!” Oke, Zach bahkan melinsankan rasa terkejutnya. Biasanya ia tak pernah seperti ini.

“Punya masalah dengan itu?!” Suara dari balik topeng itu makin lantang dan terdengar murka. Pembawaan Quin yang tenang menjadi sedikit... garang. Tanpa disadari, nampaknya Zach telah mengatakan hal yang tabu bagi pemuda—oke, pemuda! Ingat, pemuda!—itu.

Zach sadar ia tak punya waktu lama untuk kaget karena lawannya kini menyerbu dengan pedangnya yang  terhunus, bersamaan dengan itu di tangannya yang lain Quin melemparkan sesuatu. Sesuatu yang amat tipis, berkilau sesekali ketika tertimpa cahaya matahari yang mulai merangkak naik. Zach berguling ke kiri, karena apapun sesuatu yang berkilat tipis itu, yang pasti bukan kabar baik. Kilatan tipis itu mengikat tiang lampu besi di sebelahnya dan langsung tercabut dari jalan ketika pemuda bertopeng itu menariknya.

“Benang?” Tipis, hampir tak kasat mata namun Zach yakin kalau benda itu adalah benang. Serius? Ia harus menghindari sesuatu yang hampir tidak terlihat seperti itu?!

Pandangan matanya ditajamkan, ia menoleh ke kanan dan kiri dengan begitu waspada. Lalu serangan benang itu kembali mengejarnya, seakan punya pikiran sendiri untuk menjerat Zach kedalam lilitan tipis yang mematikan.

Zach menempatkan tangan kirinya ke depan, lalu memusatkan kekuatan magisnya di sana. Tak lama kemudian kubah tipis seperti kaca menyelubunginya hingga benang itu terpental, lalu kubah itu buyar. Tangan kanan Zach seakan mencengkeram udara kosong, lalu dari sana memadatlah udara yang semakin lama berwarna ungu membentuk sebuah cakram. Cakram ungu itu berputar dengan menggila seperti kesetanan lalu dilemparkannya ke arah benang yang mengambang di udara. Cabikan singkat, dan benang terurai menjadi serpihan kecil.

Heh, benang tetaplah benang.

“Tch,” Quin kembali pada strategi awalnya, serangan frontal. Ah, inilah yang menyusahkan. Walaupun Zach cepat, lawannya tidak kalah cepat. Liar, seperti bayangan berkelebat yang tak menunggu reaksi Zach untuk bertahan.

Demon bertanduk itu butuh kewaspadaan ekstra untuk dapat menghindari serangan bertubi-tubi dari lawan. Pedang pendek itu berdesis, dengan kilat-kilat kecil yang membuat Zach yakin kalau pedang itu dialiri petir. Quin menyabetkan pedangnya seakan tengah mengamuk walaupun nyatanya amat berpola. Permainan kakinya begitu licin. Berkali-kali ia berhasil membuat Zach hampir berlutut di jalan kalau saja kaki Quin sedikit lebih panjang.

Bilah pedang berhasil menyerempet wajah dan tangan kiri Zach karena sekarang jangkauan pedang lawannya menjadi lebih lebar. Cairan merah mengalir dari luka tersebut. Zach tersudut hingga celah terbentuk dari pertahanannya yang goyah, pedang beraliran listrik itu berhasil menyabet perut bagian kanannya—tidak dalam, walau tetap menyakitkan. Kemudian sebelah kaki kurus Quin menjegal kaki Zach, kali ini berhasil hingga pemuda yang lebih tinggi itu terhempas ke jalanan untuk kedua kalinya.

Dapat ia bayangkan kalau wajah dari balik topeng itu tengah tersenyum puas. Tangan berjemari lentik itu mendarat di pundak Zach, beberapa saat kemudian kejutan listrik bertenaga cukup tinggi mengalir deras ke tubuhnya. Percikan putih hilang timbul di sekujur tubuhnya.

Lima, sepuluh detik telah lewat, namun kejutan petir itu tidak terlalu mengganggu Zach.

“Kaget?” Ucap Zach terdengar santai, walaupun ia merasakan kejut-kejut geli di sekujur tubuhnya, sebelah tangan terentang menggenggam udara lalu tombak ametis muncul dari ketiadaan, dikerubungi kilat-kilat ungu kecil yang berdesis.

“Tipuan petir? Aku juga bisa,” dan saat itulah ia menghujamkan tombak ungunya ke arah pemuda bertopeng itu secepat yang ia bisa.Walaupun hanya menyerempet bagian kiri perutnya sebelum Quin melompat ke belakang dan sempat menahan tusukan tombak Zach.

“Kejutan petirku tak akan terlalu berpengaruh, tapi benda tajam berefek, kan?” Dapat  didengarnya suara gerungan pelan lawan dari balik topeng.

Keduanya merupakan pengguna petir, nampaknya pertarungan ini akan imbang jika saja Zach punya kecepatan super seperti lawannya. Walaupun keadaan nampaknya telah berbalik, pemuda bertopeng itu cepat namun tidak terlalu kuat fisiknya. Ternyata luka tusukan tombaknya lebih besar daripada yang ia kira.

Zach memadatkan udara di sekitar kakinya lalu melompat dengan kecepatan tinggi ke arah pemuda bertopeng. Kembali me-reka ulang kejadian beberapa saat lalu ketika Zach mencengkeram kerah baju si pemakai topeng yang dihantamkan ke tembok bangunan. Teknik yang dipakai dua kali pada lawan yang sama akan berkurang keefektifannya, namun untuk lawan yang terluka nampaknya hal itu dapat diabaikan.

Zach mengangkat tangan kirinya, tombak ametis-nya berkilau dengan kilat-kilat kecil ungu. Ia yakin yang ada di hadapannya bukanlah bayangan karena bayangan akan memudar ketika terluka dan yang ini tidak.

Ada untungnya ia tidak terlalu banyak tahu orang-orang di sekitarnya—tahu nama sih, tapi apalah bedanya. Kenapa? Karena tak kenal, maka tak sayang. Karena tak sayang, maka ia tak akan segan-segan menghabisi orang asing.

Erangan halus terdengar, aroma metalik terkuar dari tetesan darah, angin berhembus pelan. Tombak di tangan terangkat, lalu ditebaskan ke udara di sebelah kirinya.

Tidak, ia tidak menusuk tubuh lawannya.

Denting logam beradu, keras dengan jejak percikan petir ungu di udara. Remasan tangannya di kerah pakaian pemuda bertopeng itu lepas. Zach mendengus pelan ketika logam tajam berbentuk seperti stalaktit meluncur di udara dengan kecepatan tinggi.Zach menangkis logam itu lagi ketika hendak menghujam tubuhnya untuk yang kedua kalinya. Dari ekor matanya, Zach mengerling ke arah Quin, yang ia dapati adalah scene yang sama dengan dirinya.

Tengah disasar oleh logam tajam yang melayang di udara.

Ada dua logam tajam, menyerang dua orang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Siapa gerangan yang mengendalikannya?

Zach memutuskan untuk meladeni logam tersebut, namun ia mengurungkan niatnya ketika logam itu menghujam tiang besi. Logam tersebut mulai menyerap besi hingga logam melayang itu menjadi semakin besar dan semakin mengerikan; duri-duri logam mulai tumbuh seperti senjata morning star.

Ah... apa-apaan!

Zach berlari menjauh, sedangkan Quin berlari berlawanan arah dengannya. Ia terus berlari ke arah Barat secepat yang ia bisa. Sesekali Zach menengok ke belakang, melihat apakah logam itu masih mengejarnya dan ternyata masih! Ia menggerung kesal lalu berlari sekitar lima menit menyeruak kerumunan. Akhirnya ia berhenti ketika logam itu melayang tak bergerak beberapa meter di belakangnya, terlihat ingin maju namun seakan ada yang membatasi untuk bergerak lebih dekat. Lalu logam itu terbang menjauh dengan cepat, sekakan sudah puas mempermainkan Zach.

Demon bertanduk itu menghela napas pelan, luka di perutnya sudah tidak teralalu perih. Sepertinya mulai tertutup, terima kasih atas regenerasi selnya yang amat cepat. Goresan di tangan  dan wajahnya pun sudah kering. Ia menarik napas dalam sembari menyandarkan punggungnya ke dinding sebuah toko petasan dan kembang api yang anehnya buka di pagi hari. Ah peduli amat. Perlahan ia merosot hingga berjongkok di samping kerumunan anak kecil yang ricuh membeli petasan.

***

Ia menatap dua orang yang tengah membuat keributan berada agak jauh dengannya, cukup untuk membuatnya kesal karena telah mengacaukan ketertiban di tempat asalnya, Dragonia. Ternyata Hvyt mengirimkannya kemari, ke tempat asalnya untuk bertarung sampai mati. Mungkin terdengar konyol, namun menurutnya bukan masalah yang begitu besar karena semua orang yang berada di Devasche Vadhi merupakan jiwa yang telah mati—jadi, menurutnya tidak masalah untuk mematikan jiwa itu satu kali lagi. Mungkin dengan begitu mereka akan dikirimkan ke tempat yang lebih baik.

Namun dirinya punya harapan lain. Harapan untuk hidup dan kembali ke tubuh aslinya. Maka dari itu, ia akan bertahan dengan segenap tenaganya untuk tetap hidup. Ia tak punya intensi untuk mengalah.

Petra Arcadia bosan menunggu di Pilgrimage Road dan turnamen ini akan mempercepat keinginannya untuk hidup kembali. Sekaligus dirinya dapat melatih teknik bertarung dalam turnamen ini untuk persiapan membalas kelicikan Solvaros yang telah membunuhnya.

Dirinya tengah berdiri di menara lonceng, salah satu tempat tinggi di Dragonia, setidaknya nomor dua setelah kastel kerajaan. Ia menunggu beberapa jenak, setelah merasa cukup dengan kelakuan dua orang yang bertarung itu. Arcadia dua puluh empat tahun itu memerintahkan dua orb putih yang melayang di sekitarnya untuk menyerang dua orang tersebut. Sebelum pergi, kedua orb itu berubah seperti ujung tombak tajam yang terlalu panjang kemudian melesat menuju dua orang tersebut.

Dari jauh, dapat dilihatnya kalau perseteruan itu terganggu dan keduanya berpencar ke arah yang berlawanan. Walaupun demikian ia terus memerintahkan orb-nya mengejar dua orang tersebut. Satu orang terus berada dalam jangkauan pandangannya, namun yang lainnya berhasil bersembunyi ke dalam sebuah rumah. Jadi ia memusatkan perhatiannya pada sosok berpakaian hitam yang semakin lama semakin kecil hingga hampir terhapus dari pandangannya.

“Tsk,” ia berdecak ketika orb-nya tidak dapat bergerak lebih jauh, sepertinya target telah keluar dari radius satu kilometer. Ia mengerling lewat ekor matanya ke samping ketika mendengar suara seseorang mendarat di sana, di atap bangunan tak jauh dari menara lonceng. Petra mendengus sebelum memerintahkan kedua orb kembali ke sisinya.

“Mainanmu oke juga,” sebuah suara jernih seperti dentingan lonceng terdengar dari samping. Petra memutar tubuhnnya tanpa rasa terkejut. Di hadapannya kini berdiri sosok yang beberapa saat lalu dikejar oleh shape shifting orb miliknya. Namun sayang sekali dia masuk ke dalam rumah penduduk dan menghilang dari pandangannya. Gerakannya yang lincah, juga teramat cepat, lihai mengendap-endap... hm... semacam assasin, eh?

“Terima kasih Nona.”

“Serius, apa tidak ada yang bisa mengenaliku sebagai lelaki dalam sekali lihat saja?” Suara dari balik topeng itu seperti sudah bosan mengatakan kalimat itu. Petra cukup kaget, walaupun ia hanya berdeham satu kali.

“Sejujurnya tidak, maafkan sikapku kalau begitu...” Petra terdiam beberapa jenak seakan tengah memikirkan panggilan yang tidak menyinggung.

“Quin El-Fathin,” ucap sosok tersebut tanpa diminta, “kau bisa ganti panggilan ‘Nona’ itu sekarang.”

“Ah dimana sopan santunku,” jeda sejenak, “namaku Petra Arcadia.”

“Jadi kau yang mengendalikan benda tajam itu, oh sekarang menjadi bulat, eh?” Quin berkata sambil mengubah gelang hitam di tangannya menjadi pedang, “kurasa aku berhutang terima kasih padamu,” imbuhnya.

“Hanya terima kasih?” Petra pun melakukan hal yang sama, menarik dua katana, Moira dan Mivune, yang tersimpan rapi di sarungnya. Kedua orb-nya pun berubah bentuk menjadi seperti katana miliknya. Julukan Gilgamesh si Tangan Empat, tentu bukan hanya sekadar pajangan.

“Bagaimana dengan sebuah pertarungan?” Quin menatap katana yang melayang di udara dengan amat siaga. Dari jarak yang memang tidak terlalu jauh, Petra dapat melihat pakaian hitam Quin terkoyak di bagian perut dan menghitam dengan ganjil. Akibat pertarungan barusan, mungkin.

“Aku tidak melawan seseorang yang terluka.”

“Oh kalau begitu kau akan kaget dengan regenerasiku yang cepat,” Quin memasang kuda-kuda untuk segera menyerang, “kalau kau tidak mau menyerang, diam dan mati dengan tenang.”

Quin melompat dengan lincah dari atap rumah tersebut ke atap sebelah bangunan menara lonceng. Petra juga melompat ke salah satu atap rumah penduduk dengan memerintahkan dua katana yang melayang di dekatnya untuk mulai menyerang Quin.

“Kau bilang tak akan menyerang orang yang terluka,” Quin menepis dua katana itu dengan mudah.

“Sebut saja pertahanan diri, kau pun tak ingin mati karena mengasihani orang lain tentunya.”

“Oh untuk pertama kalinya, aku setuju.”

Petra mendarat dengan mulus di genting sebuah bangunan. Kemudian ia mengerling ke daerah perumahan pinggiran yang telah menjadi daerah kumuh yang minim penduduk. Bertarung di tempat itu nampaknya tidak akan mengganggu warga. Ia segera berlari ke sana dengan cepat, Quin mengikutinya dari belakang dengan kecepatan yang luar biasa dalam keadaan terluka. Hal ini membuat Petra yakin kalau ucapan tentang regenerasi itu bukanlah bualan.

Pemuda pengguna dual sword itu melomapat dari genting rumah ke jalan batu yang cukup lebar diapit oleh perumahan kumuh. Ia berhenti berlari ketika telah sampai pada tujuan. Tempat yang sunyi dengan bangunan reyot yang hampir rubuh, bahkan ada yang telah rata dengan tanah. Semak mencuat dari jendela pecah dan sulur merambat di dinding bukanlah pemandangan asing di sini. Hanya ada mereka berdua, dengan senjata terhunus di depan mereka.

Ini akan menjadi pertarungan hidup mati, Petra dapat melihat itu dari tatapan mata Quin yang seakan meneriakkan kalau dirinya siap mati untuk menang.

Petra akan menjawab tekad pemuda itu dengan senang hati. Ia menyerang Quin dengan kedua katananya, Moira dan Mivune yang berpendar merah dan biru, seakan tidak ada hari esok. Sabetan dua katananya menggila ditambah dengan dua katana yang melayang di udara. Quin seakan diberondong empat lawan sekaligus.

Pemuda bertopeng itu mundur tiga loncatan dengan cepat, membuat jarak antara mereka menjadi semakin besar. Kemudian ia melemparkan sesuatu yang terlihat berkilau tipis, namun Petra cukup gesit untuk menghindar. Lalu pemuda dengan rambut dikuncir kebelakang itu berlari menyongsong Quin. Namun ia merasa ada yang tidak beres dari arah samping, lalu segera sebelah tangannya bergerak menangkis sabetan pedang yang datang dengan mendadak dari sebelahnya. Dalam sepersekian detik yang terasa lambat, ia melihat mata indah itu dari balik dua lubang di topeng putih, cukup untuk membuatnya terbelalak.

Petra terhempas ke samping. Berguling di jalan satu kali kemudian menatap bergantian ke arah dua Quin yang berdiri di kiri dan depannya.

“Heh, sepertinya kau punya tipuan yang bagus juga,” Petra mengelap bulir keringat yang menetes dari pelipisnya. Namun ia heran dengan pedang milik lawannya tersebut yang tidak terserap oleh dua orb miliknya yang dapat menyerap logam. Pedang lawannya jelas terbuat dari logam, tapi kenapa tidak bekerja? Oh... omong-omong soal orb miliknya, kemana mereka?

Ia menoleh ke belakang dan dia melihat kalau gagang katana yang melayang itu seperti terikat oleh sesuatu, menggelinjang dan bergetar di tengah udara karena tak dapat bergerak mendekati Petra. Sinar matahari membuat sesuatu yang membelit gagang katana tersebut berkilau, amat tipis, namun cukup untuk menjelaskan benda apa itu.

Oh apakah itu benang? Sesuatu yang hampir tak terlihat itu ternyata benang?

Petra tak punya banyak waktu untuk berpikir karena dua Quin menyerangnya secara bersamaan. Ternyata cukup sulit menanganinya karena mereka adalah dua entitas yang memiliki kemampuan yang sama.

Pedang milik lawannya itu berkali-kali hampir menebasnya, terlebih lagi ketika pedang musuh mengeluarkan suara percikan yang mirip petir dan jangkauan serangannya menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Petra menangkis serangan demi serangan dengan gesit. Percikan petir putih mengilat di tempat tumbukan pedang dan katana. Kali ini Petra benar-benar tersudut oleh dua Quin yang terus menghujaninya dengan serangan beraliran listrik.

Kejut-kejut di tangan akibat benturan katananya dengan pedang lawan lumayan mengganggu, membuat gerakan di pergelangan tangan menjadi kaku karena kesemutan. Dari dalam benaknya, ia memerintahkan kedua orb itu menebas benang yang mengikat gagang mereka lalu beberapa detik kemudian dua katana tambahan telah membantunya bertarung.

Satu katana berhasil menggores lengan salah satu Quin lalu asap hitam mengepul dari tubuh lawannya yang terlihat seakan meledak di tempat. Quin lain kemudian mundur beberapa langkah, mendecak kesal sambil melemparkan benang lagi pada Petra, cukup untuk membuat pemuda bermata sipit itu menghentikan serangannya demi mengoyak benang-benang tipis yang hampir tak terlihat itu yang ternyata tidak sulit.

Serpihan benang berkilau, mengambang perlahan sebelum jatuh ke jalan.

Petra memerintahkan dua katana yang melayang di udara untuk menghujam Quin, dan hal itu lumayan efektif karena Quin hanya dapat menebas satu katana sedangkan yang lainnya berhasil membuat luka mengaga di sisi lain di perut Quin yang belum terluka, kemudian lengan kiri, diakhiri pada paha kaki kanan.

Quin menggerung kesal, dirinya kembali mundur ke belakang setelah menepis katana yang berhasil melukainya kembali pada pemiliknya dengan pedangnya. Pemuda bertopeng itu sudah benar-benar terdesak, namun nampaknya belum mau menyerah. Ia menjulurkan pedangnya lurus ke depan, kemudian dari ujung pedang yang semakin ramai dialiri petir itu, muncul sebuah sinar yang seakan terkonsentrasi menjadi padat lalu sekejap kemudian ditembakkan secara horizontal.

Laser bercahaya putih yang dialirkan listrik itu berhasil membagi sebuah rumah menjadi dua seperti pisau panas membelah mentega. Kekuatan yang amat berbahaya, namun Petra tak gentar. Ia berlari menyongsong laser itu dengan senyum di wajahnya. Moira dan Mivune di julurkan dari tangan kanan dan kirinya, bersiap menebas Quin.

Serangan laser? Oh maaf, yori—pakaian perang—yang tersembunyi di balik yukata ungunya tahan terhadap segala serangan panas berbentuk plasma, termasuk laser.

Petra berlari menabrak laser seperti bukan masalah, membuat lawannya terlihat panik. Percikan hebat listrik terlihat seperti kembang api di dada Petra. Quin berada tak lebih dari satu meter, pemuda itu tak sempat sadar kalau kepala dan bagian tubuh lain yang tak dilindungi yori tidak tahan serangan laser. Petra menyerang secara frontal, memberikan kesan kalau tubuhnya benar-benar anti laser, hingga Quin hanya memusatkan serangannya pada dada Petra.

Ia berada amat dekat dengan Quin saat itu, kemudian Miura dan Mivune ditebaskannya ke depan, meninggalkan jejak merah dan biru.

“Uagh!”

Topeng itu terbelah ketika sebelah katana berhasil menghantamnya. Darah mengucur dari dada, raungan kesakitan itu terdengar pilu. Matanya terbelalak, mulutnya memuntahkan cairan amis merah seperti tanggul bocor. Dua katana, dua orb berdebum jatuh ke jalan batu.

Tubuh Petra berpendar kemerahan dan laser menembus dadanya.

Seberapa berdosa kah engkau?

Kata-kata itu terngiang dalam kepalanya.Kelebat bayangan ketika ia membunuh lawannya yang entah sudah berapa puluh orang, berputar dengan cepat di kepalanya sebelum semua menjadi gelap.


***

Primo mendengus pelan.

“Aku mengejar seekor kucing saat ini dan apa yang kudapat?” Ia menatap lurus dari balik tembok pada dua orang yang tengah bertarung. Seorang bertopeng yang kelihatannya wanita (bukan Lulu... berarti, Quin? Nama yang cukup feminin, kan?) juga satu lagi lelaki berpakaian ala manusia Timur jauh. Sama sekali tidak ada tanda-tanda si merah muda itu di sini.

Lulu Chronoss, bocah malang itu lari terbirit-birit entah kemana sekarang. Dengan cara yang aneh gadis itu berlari dengan amat cepat meninggalkan Primo di belakang, ia seakan diperlambat gerakannya oleh sesuatu.

Gadis yang dapat bermain dengan waktu, benar-benar merepotkan. 

Hm... sudahlah, tidak begitu penting juga toh kutukannya masih berlaku bagi gadis kasar itu, tinggal tunggu waktu saja ketidak beruntungan menggerogoti nasib Chronoss kecil secara perlahan.

Berkat dan kutukan. Keberuntungan dan kesialan. Kekebalan dan kerapuhan. Dua kata yang amat berkebalikan, bekerja dengan antagonis. Namun kekuatan itu bersinergi dengan sebuah tubuh manuisa, tubuh mortal bernama Primo Trovare. Ialah penjelmaan Helel yang diturunkan ke bumi karena kesombongannya. Kenapa? Entahlah, menurut ingatan Helel-nya yang mulai terkuak dalam memori penerus keluarga Trovare, Helel teramat cemburu terhadap manusia yang menjadi tamu istimewa Tuhan dan bukan dirinya. Tapi itu dulu, yeah dulu... sekarang dia benar-benar ingin menjadi suci dan kembali ke surga, bersama Tuhannya.

Dan ia akan berhasil.

Kenapa? Karena dirinya adalah Lucifer. Tak ada yang tidak mungkin baginya, pride-nya sebagai taruhan.

Melakukan rute Fallen dengan menggunakan kutukan satu dua kali tak akan ada masalah, dirinya hanya perlu melakukan kebajikan satu kali dan ia akan meninggalkan rute Fallen. Kembali menjadi Primo Trovare yang normal, yang manusia, yang memiliki kuasa untuk memilih jalur Divine atau Fallen.

Tentu akhirnya ia akan memilih Divine untuk menjadi orang suci. Walaupun harus melakukan sesuatu yang agak melenceng seperti berkompromi dengan Thurkey. Penyucian jiwa bisa dilakukan kapan saja, walau harus digojlok kegelapan terlebih dahulu.

Langkah pertama adalah menang dari turnamen konyol ini. Primo dengan senang hati memberikan kejutan manis bagi Metatron yang telah membunuhnya.

Primo tersentak dari lautan pikirannya ketika pria berpakaian ala manusia Timur jauh menghajar secara membabi buta dengan dua pedangnya yang berpendar dwi warna. Primo bersiul sambil berkata ‘wow’ pelan ketika melihat pemuda berpakaian ungu itu berlari menerjang sinar putih yang terlihat memiliki kekuatan besar, asalnya dari ujung pedang si pemakai topeng.

My my... si topeng jelas akan kalah kalau begini,” Primo mengurut dagunya, “Si Thurkey itu bilang untuk menampilkan sesuatu yang menarik, bukan? Ah lagipula pria ungu itu terlihat berbayaha,” Primo tersenyum timpang, kemudian mulutnya mulai merapalkan sesuatu.


“May the unfortunate soul enter your body and destroy your soul from inside!
Arastray, sardreyardor, malagastro!”


Sebuah kutukan telah dilancarkan dan diarahkan pada lelaki berbaju ungu. Primo membuka matanya dengan senyum masih terkembang di sana. Sinar putih itu berhasil menembus tubuh si manusia perkasa berbaju ungu yang berpendar kemerahan. Sayang sekali pedang pendek pria itu tidak melukai lawannya, hanya satu yang mengenai topeng, itu pun tidak hanya menyeababkan topeng terbelah.

Target yang terkena kutukan darinya akan mengalami ketidak beruntungan juga kerapuhan. Tingkatnya bergantung dengan kadar dosa target.

Jadi... seberapa berdosa kah engkau, wahai prajurit berbaju ungu?

Sosok yang topengnya terbelah terdiam menatap onggokan tubuh berlumuran darah di hadapannya seakan tidak percaya telah mengalahkannya.

“Memang benar, kekuatanmu tak akan cukup untuk mengalahkannya, jadi anggaplah aku tengah berbaik hati,” Primo bermonolog sendiri. Namun sedetik kemudian ia mendengus pelan.

“Apakah ini termasuk sebuah kebajikan?” Ia menatap langit sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seakan tengah berusaha meminta konfirmasi dari Tuhan. Ia menolong satu orang hingga tidak jadi mati, ternyata ia telah melakukan kebajikan tanpa disadarinya. Tch, dengan begini kutukannya pada Lulu Chronos tercabut.

Biarlah, walaupun sekarang dia kembali menjadi Primo Trovare yang belum memilih rute manapun. Tapi bukan berarti ia tak bisa kembali mengutuk. Sudah dia bilang, pertarungan sarat akan dosa dan memakai rute Fallen adalah keputusan yang bijak.

Perlahan Primo menghampiri pria yang teronggok di jalan berkubang darah, setelah sosok berpakaian hitam menjauh. Tubuh pria itu bergerak, kedua matanya mengerling ke arah Primo.

“Tenang saja...,” Primo berjongkok, kemudian telapak tangannya ditempelkan ke kening pria itu, “...kematianmu tak akan sia-sia,” setidaknya untuk Primo.

“Aku akan meringankan penderitaanmu,” ucap Primo, “akuilah dosamu dan aku akan membantumu untuk kembali pada-Nya.”

Bohong. Namun suara Primo terdengar amat syahdu seperti para pendeta yang tengah memberikan kuliah rohani. “Satu kalimat pendek pun tak apa.”

Mulutnya yang membiru perlahan terbuka dengan gemetar, “A-a-akku... t-telah mem-b..nuh—uhuk—” darah yang mengental keluar dengan hebat dari mulutnya, “p—puluhan o—r..ng,” batuk darah itu kian banyak dan tubuh pria itu berguncang hebat.

Primo tersenyum, lalu dari permukaan tangan yang menempel di kening pria bermata sipit itu muncul cahaya kemerahan.

“Moaning soldier in the rear
Chanting a spell to ease his scar
Don’t cry, don’t waste your tear
I’ll take you to the depth of fear”

Sebuah kutukan lain.

Suaranya seperti tengah membisikkan lulabi mimpi buruk. Tubuh pria bergelimang darah itu berpendar kemerahan. Matanya terbelalak, seakan merasakan sakit yang lebih dari pada ditembus sinar putih tadi.

Lalu... tubuh itu diam.

Tergeletak, mati seutuhnya.

Primo menatap tangan kirinya yang membesar dan semakin membesar hingga membentuk cakar tajam yang menghitam hingga ke pangkal lengannya. Ia mendesis karena tangannya terasa membara beberapa jenak sebelum rasa itu digantikan oleh hangatnya pendar merah yang mulai menyelimuti tangannya—cakarnya, sekarang lebih tepat disebut cakar.

“Maaf, tapi dosamu tak termaafkan,” ucapnya dengan wajah terbias cahaya merah pendaran tangannya.

Condem, sebagai Lucifer sang Fallen Angel, Primo dapat mengutuk sebuah jiwa setelah pengakuan dosa agar jiwanya tidak terampuni.

Satu jiwa jatuh ke neraka. Satu tangan setan sebagai hadiahnya.


***


Hari semakin siang, panas mulai membakar tengkuknya tanpa ampun. Zach mengelap keringatnya yang mengucur deras karena pakaiannya yang serba panjang juga tertutup. Bulu-bulu putih di sekitar kerahnya malah menambah rasa gatal yang berkali-kali datang.

Ia mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman. Dia sedang berada di taman kota, sambil menatap danau yang membentang di hadapannya dengan saksama. Cukup untuk membuat tubuhnya rileks walaupun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berleha-leha. Hey! Mungkin ini adalah kesempatan hidupnya yang terakhir, jadi setidaknya Zach ingin merasakan sedikit kebebasan untuk bersantai, karena ia tak pernah punya kesempatan seperti ini selama menjadi budak.

Lagipula... dia punya tujuan untuk berdiam di tempat yang amat ini. Yeah, ia ingin memancing kontestan untuk menghampirinya... terutama kontestan yang itu.

“Sebelahmu kosong?”

Sebuah suara membuatnya tersentak, ia mengerling ke sebelah. Seorang pria berambut cokelat dengan mata sebening laut menatapnya dengan senyum yang terlihat janggal. Mata Zach menyipit, kemudian melompat berdiri.

“Wah... sikapmu kurang sopan, Tuan.”

“Perlukan sopan santun dalam pertarungan ini?” Zach terdiam sejenak, “Trovare?” Sebutnya dengan nada menebak.

“Haha ternyata kau punya keberuntungan yang cukup baik dalam menebak, aku Primo Trovare,” pria itu terkekeh, “dan kau Tuan?”

“Eithelonen, Zacharias Eithelonen,” jawabnya.

“Nah... bagaimana kalau kita kurangi kadar keberuntunganmu.”

Ia melihat mulut Primo mulai komat-kamit, ia tak dapat mendengarnya namun firasatnya tidak enak. Lalu tak lama kemudian tubuhnya berpedar merah lalu padam. Rasa tidak aman menyerangnya, sekujur tubuhnya terasa amat rapuh.

Seberapa berdosa kah engkau?

Lalu kelebatan bayangan yang selalu ia kubur dalam-dalam muncul, berganti-ganti dengan cepat seperti pemandangan di luar jendela kereta yang tengah berjalan.

Bisikan misterius itu merasuki sukma. Melemahkan hasrat bertarungnya hingga membuat Zach tidak awas. Tubuhnya limbung ke kiri hingga terjerembab ketika tersenggol manusia yang kebetulan lewat, lalu sebelah tangannya terinjak sepatu kulit—injakan itu terasa luar biasa keras seakan tubuhnya menjadi amat lembek, tanduknya terantuk sesuatu yang begitu keras hingga kepalanya pening. 

Agrh! Apapun kecuali tanduk!

Zach melompat berdiri, tatapannya semakin waspada walaupun ia tak yakin ingin bertarung melawan pria berambut cokelat di hadapannya ini. Namun ia terus menyugesti dirinya untuk terus maju. Setidaknya lebih baik mati melawan daripada pasrah.

“Mulai merasa tidak beruntung?” Suara itu tenang, namun terasa mengancam. Sabre terjulur ke depan dari tangan kanan, sedangkan tangan kirinya yang hitam dengan jemari seperti cakar berpendar kemerahan. Satu kata untuk menggambarkan lawannya sekarang; iblis.

Mungkin lebih mengerikan dari itu.

Zach menyerbu, berusaha menepis segala rasa tidak nyaman yang mulai menggerogoti hatinya. Tombak kecubung muncul di tangan kanannya berkilau dengan petir ungu yang hilang muncul. Zach melakukan gerakan menusuk ke depan, namun lawannya menghindar dengan amat mudah, tidak hanya itu gerakan menghindarnya terlihat elegan. Kaki lawannya bergerak dengan seperlunya, menghindar seperti tengah berdansa. Tombaknya ditusukan, ditebaskan, juga diputar dan dihantamkan. Namun tak ada satupun yang mengenai lawannya. Zach merasa kalau hari ini adalah hari sialnya.

“Kenapa? Hanya itu yang kau bisa?” Suaranya terdengar begitu santai, mungkin malah meremehkan Zach yang sedari tadi tak dapat mendaratkan satu pun serangan padanya. Lalu dengan gerakan kakinya yang begitu cepat, pria itu telah berada di samping Zach dengan sabre terhunus.

“Tsk,” Zach memadatkan udara di kakinya, melompat ke belakang dengan momentum yang besar hingga sabre lawannya hanya berhasil menusuk udara. Namun ketika hendak mendarat, ia terpeleset hingga tubuhnya terlontar tak terkendali ke belakang hingga menghantam batang pohon.

Benar-benar sial!

Zach memadatkan udara di tangannya, kemudian cakram ungu terbentuk dan mulai berputar. Dilemparkannya ke depan pada lawannya, namun serangan itu malah berbalik padanya ketika ada angin ribut mendadak bertiup ke arahnya. Zach menunduk, dan cakram itu meninggalkan jejak goresan cukup dalam di batang pohon dua centi dari puncak kepalanya.

Primo tergelak, seakan tengah menyaksikan sebuah lawakan yang tidak begitu lucu. “Kau benar-benar sial, apakah kau punya dosa yang begitu besar?”

Zach tidak memedulikan cemoohan itu, ia kembali menyerbu lawannya secara frontal dengan tombak ametisnya. Namun hal itu adalah keputusan yang salah karena Primo mendapatkan Zach di zona serangnya.

Ketika ia menyingkir selangkah ke kiri untuk menghindari tusukan tombak pemuda bertanduk ini, sabrenya teracung. Ia bergumam,“Attaque,” pelan sebelum logam silindris tajam itu menembus lengan kirinya semudah menembus gabus.

Lolongan keras membuat beberapa orang di taman ini terjaga, sebagian di antara mereka ngeri melihat cairan merah menetes dari tengah udara kosong ke jalanan. Kepanikan semakin menjadi karena teriakan Zach terdengar cukup lama sebelum reda. Sabre dicabut, dada Zach ditendang hingga menghantam jalanan batu di belakangnya dengan terlentang. Sabre itu ditebaskannya dengan cepat ke dada Zach dengan luka melintang diagonal dua kali hingga terbentuklah luka seperti huruf ‘x’ di dada pemuda bertanduk itu.

Seperti kucing yang tengah bermain-main dengan tikus sebelum mematahkan leher pengerat tersebut. Begitulah yang dilakukan Primo sekarang. Padahal pria itu dapat dengan mudah menusukan ujung sabrenya ke jantung Zach saat ini dan semuanya selesai. Namun tidak, pria itu malah menjulurkan tangan kirinya yang mirip cakar yang menghitam lalu mencekik leher Zach.

Bukan keras cekikan itu yang membuat Zach terbelalak, namun kilasan-kilasan yang ingin ia lupakan muncul semakin jelas di benaknya seakan ia tengah menonton drama hidupnya dari bangku penonton.

“Ingatlah atas dosa-dosamu,” bisikan Primo amat mengerikan, “ingat dan menderitalah karenanya!”

Ia kembali saat umurnya tujuh tahun, bersembunyi di semak-semak sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Mata ungunya menatap rumahnya yang terbakar dengan kedua orang tuanya yang diseret para manusia pemburu demon. Ibunya jatuh ke tanah, diseret dengan kaki ditarik paksa. Suara pilu ibunya yang meneriakkan nama pemuda bertanduk itu terdengar pilu, meminta tolong padanya, namun ia diam saja di semak menahan napas dengan air mata bergelimang di sisi wajahnya. Ia takut, lalu ia berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang sejak saat itu tak pernah ditemuinya.

Umurnya dua puluh saat itu, ketika ia memilih lari dari kejaran manusia yang menyerbu Cursed Forest ketimbang menolong kakak perempuannya yang diserang manusia lelaki dengan beringas. Semakin jelas di benaknya kala itu, raungan merana kakak perempuannya yang diperlakukan tidak senonoh oleh lelaki manusia sebelum rumah mereka yang kedua di Cursed Forest dibakar bersama kakak perempuannya yang memilih untuk mati. Ia begitu takut untuk dijadikan budak, ia begitu egois hingga meninggalkan orang-orang yang disayanginya.

Pada akhirnya ia ditangkap oleh manusia lalu dijadikan budak. Ironis. Kalau tahu begini akhirnya, lebih baik dari dulu ia ditangkap dan tak perlu menabung dosa yang membuatnya tak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Sudah cukup.

Kenangan lain yang menyakitkan datang silih berganti. Semua dosa kecil maupun besar berganti dengan cepat. Lehernya panas, bukan karena cekikan yang semakin lama semakin erat tapi kesedihan yang membuncah, rasa perih di hatinya membuat Zach hampir tak dapat mengingat tujuannya bertarung. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, matanya panas, mulutnya terbuka menggumamkan kata ‘maaf’ berulang-ulang.

Sudah cukup!

“Sudah cukup? Di saat seperti ini aku bisa melakukan condemn pada jiwamu, tapi tidak... aku tak ingin menjadi iblis seutuhnya, jadi... kurasa kubunuh saja kau saat ini hm?” Sabrenya teracung lurus menghadap dadanya, tempat jantungnya berada. Namun Zach seakan tidak melihat itu.

“Sudah cukup...” ujar Zach pelan ketika jeritan tertahan bersama semburan darah menciprati wajahnya.

“Yeah sudah cukup, Bayi Besar! Mau sampai kapan kau pasang wajah mengenaskan itu?!” Suara galak perempuan seakan menarik Zach dari panggung drama dosanya kembali ke kenyataan, gadis itu seakan muncul begitu saja di belakang Primo, “semua sudah terkendali.”

Sosok merah muda itu, Lulu Chronoss, dengan kedua ujung tajam tonfa-nya menghujam punggung Primo, sembari menatap Zach dengan tatapan meremehkan. Primo menoleh ke belakang dengan tersendat-sendat, ekspresi wajahnya benar-benar terkejut melihat gadis itu berada di belakangnya. Lulu tidak menyiakan waktu menunggu Primo merapalkan mantra yang dapat membuatnya sial lagi, dengan cepat ia memukul punggung Primo dengan badan tonfanya, menjegal belakang lutut pria itu dengan kuat hinga jatuh terlentan ke jalan. Lulu menduduki perut Primo, kemudian dengan beringas gadis itu menusukkan kedua ujung tajam tonfanya ke daerah dada Primo tiga kali bersamaan dengan darah yang membuncah keluar seperti tanggul bocor.

Primo tersedak darah beberapa kali, namun Lulu tidak berhenti sampai situ. Kedua kakinya mengunci leher Primo, lalu dengan suara patahan tulang yang terdengar keras, Primo berhenti bernapas.

Zach terhempas ke jalan dengan napas yang tersengal. Lulu berjalan ke sisinya, menendang tangan Zach berkali-kali.

“Rencanamu berhasil, Zach,” ucap Lulu dengan hembusan napas lega, “setidaknya paman menyebalkan itu tidak bisa membuatku sial lagi.”

“Tapi sepertinya kau menunggu dia membuatku babak belur dulu baru muncul,” Zach telah kembali normal walaupun bayangan akan dosanya masih bergentayangan. Setidaknya ia kembali fokus, tidak terjerumus ke dalam kilasan dosanya lagi. Mantra sial Primo yang dilancarkan padanya pun sudah dipatahkan. Sama seperti gadis yang berdiri di sampingnya.

“Heh, biar keadaan kita sama kalau hanya tinggal kita berdua kontestan yang tersisa,” balas Lulu dan memang tampangnya kini agak menyedihkan dengan pakaian compang-camping akibat sabetan sabre Primo juga luka-luka tebasan dengan kedalaman bervariasi di sekujur lengannya.

Awal pertemuan Zach dengan Lulu akan terdengar amat konyol. Ketika Zach kembali ke depan bangunan mirip pacuan kuda yang ternyata adalah lapangan latihan penunggang naga, ia bertemu dengan seorang gadis merah muda yang nampak kacau. Gadis itu langsung menyerangnya, walaupun berkali-kali kacau karena ada saja hal yang membuat gadis itu celaka—mungkin istilahnya seperti tengah kena sial. Bahkan kulit pisang menjadi senjata mematikan. Zach tidak perlu menggunakan banyak tenaga untuk membuat gadis itu kewalahan.

Ia merasa kasihan dengan gadis itu, walau tingkahnya agak barbar. Akhirnya, Zach merapalkan charm magic pada Lulu. Amat mudah, mungkin karena Lulu sedang sial.

Zach memerintahkan Lulu untuk tenang, walaupun ia tidak sepenuhnya menguasai Lulu seperti tengah memainkan boneka. Ia menyisakan kesadaran pada Lulu sehingga gadis itu punya pikiran dan kemauan sendiri. Dengan syarat, Lulu hanya boleh menyerang kontestan lain kecuali Zach.

Satu lagi, charm magic ini akan sirna jika kontestan tinggal mereka berdua atau Zach mati. Harusnya Lulu bisa membiarkan Zach mati terlebih dahulu lalu membunuh Primo. Namun nampaknya charm magic ini membuat Lulu memiliki sebuah ketergantungan kecil pada Zach.

Lulu membongkar semua kemampuannya pada Zach (sedikit percikan charm magic berlaku di sin). Ia juga menceritaka awal bagaimana dia bisa menjadi amat sial. Primo Trovare adalah penyebabnya. Namun tak lama kemudian Lulu merasakan tubuhnya kembali normal dan kesialan entah bagaimana terangkat darinya. Saat itulah Zach mendapat sebuah ide untuk mengalahkan Primo terlebih dahulu karena merasa pria ini amat berbahaya. Yaitu menjadikan dirinya sebagai umpan, sengaja menjadi target mantra sial Primo dengan senang hati, sedangkan Lulu yang telah bebas dari kesialan akan menyerang Primo ketika pria itu lengah.

Kemampuan membekukan waktu selama dua detik milik Lulu terbukti amat berguna.

“Jadi tinggal berapa?”

“Minus paman ini dan pria berbaju ungu di kota sebelah sana,” ucap Lulu sambil menunjuk ke sebuah tempat.

“Kau sempat jalan-jalan dulu?!”

Lulu menjawab pertanyaan itu dengan sebuah dengusan, “jadi tinggal kau, aku, dan wanita bertopeng.”

“Dia laki-laki, asal kau tahu.”

“Oh...”

Terjadi keheningan sesaat.

“Jadi sekarang mau kemana?” Tanya Lulu.

“Jelas, kan? Kita akan memburu Quin.”




Walaupun Zach bilang memburu, pemuda bertopeng itu tak kunjung ditemukan bahkan ketika matahari mulai turun dan warna biru perlahan menjadi oranye. Ia dan Lulu telah menyisir hampir seluruh kota namun hasilnya nihil. Merka berdua benar-benar capai, keringat mengucur dengan deras. Mungkin ini adalah permainan petak umpet paling luas yang pernah ia lakukan dengan area seluruh penjuru kota.

Zach duduk di sebuah kursi di depan satu rumah penduduk, namun sesaat kemudian dirinya dikagetkan dengan raungan keras tak jauh dari posisinya. Suara jeritan warga terdengar sahut menyahut, manusia lari pontang-panting ke segala penjuru dan dapat di lihatnya dari ujung perempatan jalan seratus meter di depannya Lulu berlari ke arahnya dengan pandangan ngeri. Gadis itu seakan tengah dikejar monster.

Dan hal itu tidak jauh melenceng ketika dari perempatan yang sama, terbang rendah makhluk mengerikan seperti kadal setinggi sepuluh meter, dengan sayap yang mengepak liar menerbangkan beberapa pot dengan mudahnya.

Naga, kadal raksasa bersayap dengan napas api dan yang paling mengejutkannya, penunggang naga itu adalah Quin dengan paras yang begitu jelas tanpa topeng.

Quin melemparkan benang ke arah kaki Lulu hingga gadis itu terjerembab dan tak dapat berkutik karena energinya sudah teruras banyak. Sebelum Zach dapat bereaksi, semburan api naga membakar tubuh Lulu yang tergeletak di tanah. Semburan itu terkonsentrasi pada lulu, sekitar lima detik.

Suara raungan gadis itu terdengar pilu, Zach berlari mendekat namun hal itu percuma karena beberapa detik kemudian suara itu hilang bersamaan dengan padamnya api yang membakar tubuh gadis itu.

Zach menatap tidak percaya. Namun ia tak punya banyak waktu untuk kaget karena sekarang naga itu melaju dengan kecepatan tinggi padanya.

***
Untuk apa mengendalikan manusia jika ia dapat mengendalikan naga?

Pikiran itu muncul ketika Quin masuk ke bangunan mirip stadium lapangan bola yang kemudian diketahuinya sebagai tempat latihan penunggang naga. Quin melihat makhluk menakjubkan itu di sana. Awalnya ia hanya ingin bersembunyi untuk meregenerasi kulit tubuhnya yang terluka—walaupun ia tak yakin akan selesai dalam satu hari. Tapi dirinya malah mendapat sebuah senjata mematikan untuk melawan kontestan lain.

Seekor naga.

Kedua tangannya sibuk menarik-narik benang untuk mengendalikan naga yang ditungganginya. Paku-paku yang terlilit benang miliknya ditancapkan di beberapa bagian tubuh naga. Kepala, ekor, dan di kedua sayap. Teknik pengendalian bonekanya untuk makhluk sebesar ini ternyata lebih kompleks ketimbang manusia yang hanya butuh satu paku yang ditancapkan ke bagian tubuh manapun. Namun hasilnya cukup memuaskan karena sekarang dirinya tidak perlu bertarung menggunakan tenagannya sendiri—karena pertarungan terakhir dengan Petra menghabiskan energinya, ditambah lagi luka di perut dan kedua lengannya yang belum juga menutup akibat serangan Petra. Yury—pedangnya—tak dapat dialiri listrik saat ini, karena telah mengeluarkan energi listrik terlalu banyak.

Quin menatap sekilas jasad hangus Lulu Chronos, satu-satunya kontestan wanita di blok-nya, kemudian menarik benang beberapa kali dan naga melaju dengan kecepatan penuh menuju Zach.

Pemuda bertanduk itu terlihat kaget kemudian mulai berlari. Quin tersenyum, walaupun dirinya sempat tersudut oleh pemakai tombak ungu itu, namun sekarang giliran dirinya untuk membuat Zach seperti binatang yang siap dimangsa. Angin membelah rambutnya, menyentuh permukaan kulit wajahnya yang tidak tertutup topeng dengan beringas. Belahan topengnya diikat di pinggang dengan dasi putihnya, ini merupakan peninggbalan terakhir dari bibinya. Benda ini amat berharga, ia tak akan membuangnya.

Ia menarik benang pada paku di sayap kiri, kemudian naga melakukan manuver belokan tajam pada sebuah tikungan di mana Zach berbelok. Semburan demi semburan api di lancarkan naga tunggangannya namun Zach terlampau lincah dengan lompatan-lompatan zig-zag dari satu atap rumah ke atap lainnya.

Quin melemparkan benang-benangnya pada Zach, namun pemuda bertanduk itu membuat lapisan padat udara sehingga benang itu terpental. Pemuda berambut hitam sebahu itu tidak menyerah, semakin banyak benang yang ia lemparkan berkali-kali dapat ditahan oleh lapisan padat udara Zach, namun ada satu yang berhasil memuntir kakinya hingga Zach terjatuh dari atap hingga ke jalan.

Quin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, semburan api keluar dari mulut naga. Semburan pertama berhasil dihindari Zach, yang kedua pun sama bahkan kini benang yang melilit kakinya telah diputus. Namun semburan ketiga berhasil mengenai punggungnnya hingga pemuda itu terpental menabrak tembok dengan punggung terbakar. Sayangnya yang terbakar hanya pakaiannya saja karena setelah itu Zach segera membuka seluruh pakaian atasnya hingga kini telanjang dada. Pakaiannya diinjak-injak hingga api padam lalu dipungut sebelum dirinya berlari ke gang sempit.

Sial, ternyata kurang dan sekarang Quin tak dapat mendekati Zach karena gang itu terlalu sempit untuk dilalui naganya. Naga tunggangannya lalu terbang rendah di atas gang sempit, mata Quin memeriksa dengan saksama. Namun dirinya dikagetkan oleh lontaran tombak ungu Zach yang  berhasil tertancap di dada naga. Raungan keras terdengar amat menggelegar.

“Tenang, tenang,” Quin berusaha untuk menenangkan naga tunggangannya walaupun hal itu sulit, namun dengan kemampuan pengendalian benangnya hal itu dapat diatasi. Kedua tangan bagian depan naga menarik tombak yang menancap di dadanya namun tombak itu lenyap begitu saja. Lalu lontaran tombak lainnya berhasil mengenai sayap bagian kiri, lalu tombak itu lenyap lagi, dan serangan tombak berikutnya mengenai entah bagian apa pada naga tunggangannya.

Nampaknya Zach dapat memanggil tombak miliknya sesuka hati.

“Bagaimana mengusir kecoak dari tempat sempit?” Quin menarik benang paku yang ditancapkan di kepala, “dengan membakar tempat itu mungkin?”

Semburan api terkonsentrasi pada gang sempit itu membuatnya menjadi parit api yang berhasil mengusir Zach keluar dari ujung gang.

“Heh,” Quin tersenyum timpang kemudian melajukan naganya mengejar Zach, namun dirinya tak menyangka kalau pemuda bertanduk itu malah berbalik menyongsongnya. Zach melompat di udara dengan aneh—ia menghentak udara seperti pijakan solid, melompat tiga kali kemudian melemparkan jas hitam panjangnya juga kaus putihnya yang setengah gosong ke arah naga hingga menutup matanya.

Naga yang ditunggangi Quin mengamuk di udara, raungan membahana membuat beberapa penduduk di bawahnya berlari kocar-kacir. Quin sibuk menarik pakaian Zach dari mata naga tunggangannya, telat menyadari kalau Zach kini telah mendarat di punggung naga tepat di belakangnya.

“Halo, Quin,” bariton pemuda itu terdengar capai, napasnya ngos-ngosan dengan tombak ungu teracung pada Quin.

“Sial.”

***


Mereka ada di atas angin. Zach berusaha untuk menjaga keseimbangan pijakannya, ia bahkan harus berjongkok dengan sebelah tangan dan lutut bertumpu pada punggung naga. Mata ungunya yang terbias cahaya senja, menatap lawan di hadapannya dengan paras cantiknya yang tengah memasang ekspresi sebal.

Bagian atas tubuhnya tak berbalut apapun, terima kasih atas semburan api naga Quin. Angin berhembus melewatinya, memberi kesejukan di bagian torsonya yang perih akibat tebasan sabre Primo dengan bekas luka silang.

“Harusnya aku langsung menancapkan tombakku waktu itu,” ucap Zach.

“Heh, jangan menyalahkan yang telah lalu,” Quin meraih benang yang meliliti paku yang tertancap di kedua sayap naga, entah kenapa.

Lalu, Zach terlontar ketika naga melakukan manuver semi-vertikal ke atas, kedua tangan Zach menggenggam ekor naga dengan susah payah karena tekanan angin yang begitu kencang. Tangan kirinya yang ditembus sabre Primo meneriakkan protes, walaupun bagian tulang tidak terkena, namun rasa nyilu-nya minta ampun. Wajahnya juga perih akan tabrakan debu yang diperkeras akibat tekanan angin. Saat naga kembali terbang secara horizontal, Zach baru sadar kalau sekarang dia berada di atas awan. Ekspresi ngeri tak dapat disembunyikannya ketika ia melihat ke arah bawah.

“Siap untuk terjun, Zach?” ia mendongak, Quin—bayangannya—kini berdiri di dekat ekor naga kemudian menginjak kedua tangan demon bertanduk satu ini kuat-kuat. Zach menggerung keras, berusaha mempertahankan pegangannya, namun dia memutuskan untuk melepaskannya ketika Quin memunculkan pedang dari gelang hitam.

Zach melayang di udara, namun tidak lama karena dengan mudah ia menjejak angin dua kali, sebelum mendarat kembali ke punggung naga. Ia berada dibelakang bayangan Zach kemudian memunculkan tombak ungunya dan langsung menusukkannya ke tubuh bayangan yang langsung terbuyar menjadi asap hitam.

“Tsk, ngotot sekali,” Quin menggertu, kemudian mulai menarik-narik kembali benang yang nampaknya menjadi sumber kendali si naga. Zach melihat hal tersebut lalu dengan cepat ia memutuskan benang yang terhubung ke ekor dan kedua sayap. “Hei!” Quin protes, namun Zach tak memedulikannya. Tinggal satu bagian lagi, benang paku di kepala naga. Namun saat Zach hendak mendekat, Quin melompat berdiri dengan pedangnya yang terhunus. 

Tanpa banyak bicara, Quin langsung menerjang ke depan menyabetkan pedangnya namun gerakannya amat mudah dibaca. Mungkin karena luka menganga yang terlihat dari koyakan pakaian Quin membuat kecepatannya menurun. Zach menangkis dengan tombaknya, kemudian menarik Quin dengan tangan kiri—yang mana perihnya minta ampun, kemudian mendorongnya ke belakang. Zach kemudian memutuskan benang yang terhubung di kepala naga, disusul seruan panik Quin.

“Kau gila?! Kepala adalah pusat pengendaliannya! Sekarang naga ini akan terbang sesukanya tanpa dapat dikendalikan!”

Zach menyadari kesalahan fatal yang baru diperbuatnya. Naga yang awalnya terbang santai kini seperti linglung, seakan tidak sadar kalau telah terbang setinggi ini. Lalu suara gerungan naga terdengar begitu keras, tangannya mengais-ngais kepala. Nampaknya paku yang tertancap sangat mengganggunya.

Guncangan hebat terjadi, naga terbang dengan tidak stabil. Lalu kadal bersayap itu menukik ke bawah, amat tajam hampir vertikal sehingga Zach dan Quin terlontar ke belakang. Mereka berdua berlomba-lomba memegang ekor naga. Namun naga yang telah sadar merasa ada yang aneh dengan ekornya, ia mengibas-ngibas ekornya dengan ganas hingga dua orang itu terlempar di udara dua ratus meter dari permukaan air.

Mereka akan terjun ke danau!

Zach mencengkeram pundak Quin yang tengah menggelepar di udara, hendak menghujamkan tombak plasma petir berwarna ungu yang diciptakannya dengan kekuatan magis pada lawannya. Mereka berhadap-hadapan sambil berputar di utara. Mereka terjun bebas tanpa parasut dengan kecepatan tinggi.

Quin meronta sambil menebaskan pedangnya dengan membabi buta ke arah Zach yang berhasil meninggalkan sabetan melintang baru di dadanya yang lebih dalam daripada Primo. Erangan demi erangan teredam tekanan udara yang begitu tinggi. Zach menepis pedang Quin, kemudian ketika posisi Quin berada di bawahnya, dengan cepat ia melancarkan tombak petir ungu itu ke dada Quin dengan cepat. Belum cukup, karena petir tidak begitu berpengaruh pada Quin, Zach memanggil tombak ametisnya yang muncul di tangan kanannya.

Diarahkannya tombak ke leher Quin, namun kekuatan orang yang terancam mati benar-benar luar biasa. Zach kesulitan untuk menghujamkan tombak ke leher Quin karena tangan kurus itu menahan tombaknya. Masalah lain muncul, permukaan danau terlihat semakin dekat, tidak lebih dari lima puluh meter.

Lalu dengan kekuatan yang tersisa, ujung sepatu Zach menghentak udara. Dengan momentum itu ia berhasil mengagetkan Quin dan tekanan di tangannya semakin besar hingga tombak miliknya tertancap di leher Quin yang membuat pemuda cantik itu terbelalak. Darah terciprat ke wajah Zach, sedangkan tubuhnya semakin lemah.

Akibat hentakan kakinya barusan, tubuhnya menghantam permukaan air danau yang kerasnya seperti aspal.

Kepalanya pening mendadak, dadanya sesak seakan tak dapat bernapas. Sekujur tubuhnya remuk redam, pandangan matanya berkabut. Tubuhnya perlahan-lahan tenggelam dalam air, jasad Quin mengambang di permukaan air darahnya membuat lapisan merah tipis di air.

Zach kehabisan napas, gelembung-gelembung tak lagi keluar dari mulut dan hidungnya.

Yang terakhir kali diingatnya adalah matahari yang berwarna ungu akibat terbias darah Quin.

Lalu, pusaran gelap menyergapnya.
.
***
.
Zacharias Eithelonen—Round 1

END

20 comments:

  1. Saya suka bahasanya.
    Nggak terlalu telling buat saya, dan saya cukup nikmati.
    Saya suka metode battle-nya. Nggak langsung mati semua. Sempat ada "kejar-kejaran". Tapi, yang saya bingung kenapa setelah kematian Primo, tensinya malah turun? Rasanya tempo jadi buru-buru. Entah karena penulisnya udah pengen cepat nyelesein atau apa.

    Ada juga beberapa Typo, dan itu Raider atau Rider? (atau sama aja sih ini)

    Anyway +8.5

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anonymous9/4/14 20:28

      Uwooh makasih komennya :D

      Tensi-nya turun ya? Soalnya waktu saya ngetik pertarungan antara Petra mati, word count udah tembus 6000 kata dan saya kayak "What the---" dan itu baru 1 yang mati T_T

      Saya nggak biasa baca cerita yang terlalu panjang, maka dari itu saya nggak mau bikin cerita yang terlalu panjang pula. Tapi ya itu... udah telanjur dan bingung mau nge-cut bagian apa, jadi saya cepetin alurnya dikit.

      Naer~

      Delete
  2. Sejak awal saya seneng sama pemilihan diksi dan kata di cerita ini

    Saya juga suka plotnya, di mana ada encounter yang ga sampe habis, terus kepisah-ketemu lagi antar entrant. Battlenya juga asik. Cuma entah kenapa, belakangan cerita berasa rada dragging, dan jadi aneh pace-nya

    Baca komen di atas, saran saya sih dari awal nulis coba bikin draft aja dulu, terus bagi per part dan alokasiin kira" di part sekian mau berapa kata. Jadi tulisannya ga akan berkesan aneh secara alur

    7/10

    ReplyDelete
  3. Kyaaaaa! Zacques keren banget! J'adore j'adore j'adore! Oh, Zacques, moi terpikat oleh charm magic vous! Oooh... Zacques... #blushing
    Narasinya kece... sekece Zacques
    Alurnya nyaman... senyaman berada di sisi Zacques
    Character build-nya keren... sekeren Zacques... #elus2tandukZacques
    Kyaaaa! Ga kukuh... moi ga kukuh dan ga bisa nahan diri buat ngasih 8.

    Oo~~ Zacques... :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo nilai moi dianulir monsieur Admin, moi bakal ngambek! >,<

      Delete
  4. Kereeeennnnn......!!!
    saya suka Zach!! tapi kenapa di bagian terakhir kurang "greget"?

    yah, kasih...
    8/10

    ReplyDelete
  5. pertarungannya panjang dan seru gan
    sempet ngira lawan akhirnya Primo, jadi holy vs demon, tapi tau-taunya Primo mati, akhir-akhirnya jadi lawan naga
    keren si, ane kasih 8 untuk nilainya

    ReplyDelete
  6. Sebagai, lawan... Saya mengikuti kata hati saya untuk tidak menilai sesama lawam...

    jadinya Saya cuman pengen bilang...

    Ceritamu sepenuhnya Bagus. salah satu top-tier dari entry yang sudah saya baca.

    Tapi Naer cuman perlu benran belajar yang namanya ngebawa alur.

    Cerita naer ini naek-turun naek turunya aneh...

    Naek - Saat semuanya seru dan pembaca membaca dengan cepat karena gk sabaran.

    Turun - saat semuanya menjadi tenang dan pembaca membaca Pharagraph dengan perlahan...

    Contoh:

    pas Primo mati, Itu Lulu dan Zach masuk dalam Kondisi Turun, tapi cuman beda beberapa pharagraph. tiba-tiba Lulu udah mati kebakar, Jadi berasa kecepatan padahal untuk status Turun...

    Latih di sana aja....

    ------

    ReplyDelete
  7. Penggunaaan kata ganti seperti “ia” di cerita ini agak membingungkan, seolah tidak jelas mengacu pada siapa. Misal pada kalimat ini:

    Ia bergumam,“Attaque,” pelan sebelum logam silindris tajam itu menembus lengan kirinya semudah menembus gabus.

    Ia pada awal kalimat mestinya mengacu pada Primo. Tetapi –nya di bagian akhir kalimat (tangan kirinya) itu mengacu pada siapa? Kalau mengunakan logika narasi mestinya itu mengacu pada orang yang sama dengan ia yang digunakan sebelumnya—yaitu pada Primo. Padahal secara cerita, mestinya itu mengacu pada Zach.

    Kemudian ada beberapa typo seperti kebarakan. Ada juga kalimat semisal “Mereka ada di atas angin.” yang tak saya mengerti artinya. Apakah ini juga typo yang seharusnya ditulis “Merasa di atas angin”? Ataukah kalimat itu ternyata bermakna harfiah??

    Oke, masuk ke review. Penggambaran setting tempatnya oke. Narasinya mengalir dan enak diikuti. Perwatakan setiap karakter, kemampuan khas masing-masing, sudah cukup tergambarkan. Meskipun rasanya ada yang aneh ketika pertemuan tiap karakter seperti begitu random.

    Namun saya suka bagian klimaksnya yang memanfaatkan kekhasan setting, yaitu adanya naga di dunianya Petra.

    Secara keseluruhan, cerita sepanjang 10000+ kata ini masih bisa saya nikmati, sekalipun masih ada kesalahan teknis di sana-sini. Poin dari saya 7.5~

    ReplyDelete
  8. "Love doesn't limit by The Dimensions." - Me-
    *jatuh cinta sepenuhnya sama Zach <3 *

    oke sejak perkenalan Sil-Zach di Lounge, umi cuma tahu satu hal dan itu terngiang-ngiang di otak umi, apa itu? Selain mau bales dendam ke kak WaraWiri, Umi jadi masukin dirimu ke salah satu list author yang pengen banget Umi lawan.

    Kenapa bukan author lain? alasannya sederhana, karena kalian berdua adalah author yang narasi dan gaya berceritanya sejalan sama umi.

    Lalu, sekarang saat baca R1, yang umi protes, Typo yang menyebar dimana-mana dan tempo yang mendadak turun. Itu aja. Yang lain? Umi suka.. Umi suka Primo disini -tentu saja selain di cerita aslinya sendiri -, umi suka sama Quin disini -yang entah kenapa lebih berasa daripada di cerita lainnya-, umi suka sama Lulu yang terkesan imut bin lemah tapi elegan, umi juga suka sama Petra yang terkesan keren.. wkwkwk

    Singkat cerita umi suka karakterisasi dan plot di cerita ini.

    Tadinya umi udah mau ngasih 10 out of 10 disini. Tapi perubahan tempo di akhir itu..... benar-benar sangat mengganggu umi.

    Jadi beserta typo, umi kasih 9/10.

    Semoga bertemu lagi di Lounge~~

    ReplyDelete
  9. Billy Bagus22/4/14 19:45

    Hahaha...Quin jadi antagonis disini yah..sama dengan di canon saya, memang menurut saya doi karakter paling berbahaya, dan Zach yang paling kuat, so kalo dipertemukan sebagai finale, pastinya epic dan pas

    Juga pas Petra yang sebenarnya bisa mengungguli Quin tapi diserang kutukan tak terduga sama Primo, itu twist yang menarik..hehe

    Saya suka narasinya, masbro Naer, mengalun dan runut, trus kesannya 'ramah' ..mungkin memang karakter penulisnya begitu ya? Hoho

    Saya bisa belajar juga nih dari narasi bro Naer, ada beberapa diksi dan rangkai kalimat yang ngga terpikirkan

    Overall bagus dan orisinil..terus bisa menghidupkan setting kerajaan Dragonia, sampe ada tempat latihan naga..by the way saya rada bingung, peraturannya kan cannot interact with living creature ya? Apa manusia aja? Di finale Quin bisa kontrol naga..hehe..tapi okelah, bener2 lighten up the setting

    Makasih mas Naer!! nilai dari saya 8.5

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -