April 20, 2014

[ROUND 1 - B] BARA SI TUMPARA - SETITIK DALAM DASAR

[Round 1-B] Bara Si Tumpara
"Setitik Dalam Dasar"
Written by Hael Elliyas

---

Merah. Merah. Merah. Gersang. Awan. Lentera. Hitam. Jiwa. Gersang. Padang pasir. Kelompok. Sayapnya. Tanduk hitamnya. Melompatku. Titahnya. Air. Eliminasi. Pantul. Cahaya. Setelah ku. Sahabat. Lawan. Kematian. Afterlife.

Terbangun dengan beralaskan dataran berkasar-kasar empuk, Bara si Tumpara, menatap langit dalam sungkur. Merah. Langit di atas sana terlihat bersinar merah dengan berhiaskan kumpulan awan hitam yang teramat pekat, terlukis aneh. Kelam. Seram. Apa yang diingat tarsius hijau ini adalah dirinya yang telah merasakan mati sesaat lalu akibat sebuah petaka.

Apakah ini alam baka?

Tanyanya memerhatikan kondisi diri. Sehat juga afiat.

Dalam duduk, tersentuhlah sebongkah batu di beberapa sudut tubuhnya, tergeletak di pasir putih yang kontras. Empat buah batu dengan warna berbeda: Rice, Spinach, Onion, dan Longan. Ditatap dan digenggamnya empat batu yang terlihat kelam, Bara menatap peluh.

Tidurlah dengan nyenyak, kita akan segera bermain kembali.

Ucapnya penuh senyum seraya memasukkan semuanya ke dalam ransel.

Bara mungil segera menengadah dan memerhatikan sekeliling. Lenteranya menyala putih, melayang dan berayun di udara. Seluruh pandang yang tak berujung tampak adalah sebuah padang pasir. Bara mulai was-was. Sepertinya keberadaan air akan amat jarang di sini, pikirnya.

Ketika ia mengganti arah pandang, sekumpulan entitas yang adanya cukup membuat terkejut, menatap ke satu arah yang sama. Ujung bukti pasir yang paling tinggi. Di sanalah, Bara bersama lima puluhan entitas lainnya mendapat informasi tentang realitas saat ini.

Mati. Mereka semua, termasuk Bara, adalah jiwa. Begitulah informasi dari seorang di atas sana yang dengan lantang dan sombong, mengaku sebagai dewa, Thurqk namanya.

No more mellow! Bara mengubah rautnya menjadi entitas yang percaya diri. Ia tak boleh kalah keren dari entitas bertanduk itu yang mengaku sebagi dewa.

Walau mati, para entitas ini dapat terluka dan mati untuk ke sekian kalinya. Maka mereka harus tunduk, katanya, Thurqk.

Lima puluh lima, dan tersisa satu pada akhirnya. Mereka yang disebut sebagai entitas-mati harus saling mengalahkan. Satu yang tersisa akan mendapat kesempatan untuk kembali hidup, menikmati realitas asalnya. Informasi itu tentu amat menarik perhatian. Ragu dicampur mau. Kesal dicampur sesal. Angkuh dicampur mengaduh. Lega dicampur tega. Puluhan rasa berbaur dalam komunitas entitas yang disebut mati ini. Pertarungan, jelas akan menghampiri mereka.

Dan kini, Bara telah dipindahkan menuju realitas lain. Realitas yang lebih terang dengan nuansa bersahabat. Jauh amat berbeda. Apa yang harus dilakukannya kini? Saling mengalahkan adalah petunjuk yang ada. Satu petunjuk lagi, di realitas ini, Bara adalah satu di antara lima. Menjadi satu yang bertahan.

໖໖໖

Langit biru, langit yang biasanya ditemui oleh Bara. Realitas saat ini cukup menenangkan, hanya saja beberapa elemennya asing bagi Bara. Jalan setapak dan sebagian besar masih berupa pasir. Gedung-gedung berbentuk piramid penuh kaca—tersusun berpetak. Ada banyak tiang-tiang cokelat tua yang berdiri secara acak nan terasa sakral—terlihat dari buah-buahan yang diikat mengalungi. Kewas-wasan belum sirna, ia masih belum dapat melihat tanda-tanda sumber air di sekitar sini. Gerah dan agak dahaga, masih bisa ditahan.

Ini adalah sebuah kota. Sepertinya tidak padat penduduk atau karena siang hari begini adalah waktu di mana orang-orang malas keluar. Panas terik, sesuatu yang tidak disukai Bara. Entitas yang disebut manusia, satu, dua,  ada yang lalu-lalang di sekitar sini. walau berbeda, tapi tak ada satu orang pun yang mengubris keberadaan si tumpara hijau.

Apakah karena tubuhnya yang hanya setengah meter? Jelas bukan karena itu. Mati. Satu kata yang menyinggung pikiran Bara. Pilu. Sulit menerima keadaanya saat ini, bahwa dirinya adalah hantu.

Keren! Harus tampil keren! Si Keren Bara mencoba menyantaikan diri. Tersenyum dengan keadaan yang dialaminya sendiri. Tersenyum mendapati dirinya adalah hantu—sama seperti para batu roh dan lentera, sahabatnya. Si keren bara sedikit menari-nari, merebut perhatian manusia di sekitar. Nihil. Lalu mencoba, Ia berjalan perlahan mendekati tiang-tiang sakral itu. Sekedar penasaran. Ia mengamati, apa fungsi dari tiang yang mungkin menjadi suatu media ritual atau sembahyang ini. dieluslah tiang itu.

"Auw..," jelas lapisan kayunya sudah lapuk. Ia kesusuban.

Saat sedang sedikit mencubit-cubit potongan kayu yang menusuk, terasa ada yang memerhatikan. Benar saja, di tengah sepi ketika Bara menoleh ke samping, ada bayangan yang bersembunyi cepat ke balik gedung kerucut.

"hmm...," Bara iseng ingin menghampiri. Terngiang, harus saling mengalahkan, ucap Thurqk. Bara agak berhati-hati.

Jadi dia harus bertarung? Tidak. Bara berpikir sejenak. Ia bukanlah orang yang mudah berniat untuk berkelahi.

Apa yang Bara pikirkan adalah, jika tersisa satu, berarti mengalahkan yang dimaksud adalah dengan saling membunuh, saling memusnahkan, saling meniadakan. Bertahan hidup dengan membunuh semua peserta, menjadi berdarah dingin, tak kenal maaf. Apa yang diinginkan Thurqk? Menjadikan para entitas ini sebagai pembunuh kelas beratkah di kehidupan nanti?

Maka orang yang mengaku dewa itu bukan siapa-siapa melainkan iblis. Thurqk si iblis.

Okey. Berlanjut.

"Aku sudah lihat, kok," setelah beberapa detik, Bara menyapa seseorang di balik sana. Santai.

Bayangan itu keluar perlahan, "Berarti kau salah satu entitas dari alam sampah kemerahan itu," nada mengejek dari gadis berpakaian hanfu putih. Kuas super panjang megah di punggungnya. Tangannya berayun. Elegan namun kurang memberi penilaian awal yang baik. "Kalian para sampah tak pantas untuk kembali hidup. Enyahlah." Mulai menarik kuas super panjangnya, hendak melukiskan sesuatu di udara kosong. Berantem!

Tak tinggal diam. Bara berlari mendekati gadis berhanfu putih dengan cepat. Tahu akan dihalangi ketika memantra, gadis itu tersenyum mengancam. Terhenti. Bara kaget melihat sesosok pria muncul mendadak untuk menghadang. Namun dalam kaget, Bara tak berhenti. Salto Terbalik. Bara memukulkan kedua lentera yang terkait di telinganya kepada lawan. Lentera itu bersinar, suci menyala-nyala, putih benderang. Tuing. Kemampuan Spirit of Light di dalam lentera, membuat benda apapun akan terhempas kuat dibuatnya. Sosok pria itu mengudara kuat ke atas lalu menjadi hitam bagai tinta sebelum ia sirna. Gadis berhanfu tercengang.

Gambar, simbol, tulisan, atau entah apa itu yang berada di udara kosong, sepertinya baru setengah kelar. Gadis itu berhenti melukis dan berubahlah kuasnya menjadi sebuah halberd. Hendak menodong, Bara sudah menyentuhkan lenteranya yang suci menyala-nyala ke arah halberd tersebut. Tuing. Terpental lagi. "Lhaaaa!" Tercengang lagi. Tinta di udara tumpah. Ces. Ces. Ces.

Gadis berhanfu gemetar. Matanya terbelalak berhias setitik air mata. Si keren Bara hanya menatap santai.

"Jadi itu begitu makna 'mengalahkan' menurutmu," Bara mengangguk, "tapi tenang saja. Aku belum kepikiran kok untuk menyerang seseorang. Karena aku belum bisa menaruh rasa percaya pada si tanduk hitam di negeri merah itu. Jadi, santai dulu, okey." Ajaknya. "Namaku Bara. Bara si Tumpara."

Gadis itu mundur beberapa langkah sambil memalingkan perhatian ke arah kuas yang baru saja mendarat.

"Ja... Jangan sok akrab ya, dasar kerdil!"

Bara tertegun. Heran. "Ayolah, lalu aku harus memanggilmu apa? Tidakkah dirimu mau membahas sedikit tentang semua hal ini?"

"Ai... Li Ai Lin," jawabnya. "Puas sekarang, hah!" Masih harap-harap cemas menghampiri kuasnya. "Bagiku, tidak ada ruginya mengikuti petunjuk si sampah bersayap itu. Toh mengalahkan, melenyapkan, membunuh semua sampah di sini sudah jadi keinginanku." Kedok pengalih perhatian. "Memangnya kau mau berbuat apa lagi?"

"Tidak ada, Ai. Aku si senang bila memang dapat kembali hidup. Tapi... bakal jadi apa aku bila membantai semua entitas demi keegoanku. Aku hanya tak dapat menerima hal tersebut."

"pss.. pss..." Seseorang berbisik dari kejauhan Bara. Di belakang. "pss... pss... berhati-hatilah, kuas gadis itu senjata berbahaya." Suara laki-laki itu agak nyaring, penuh dengan nafas ketimbang getar suara.

"Hey, kawan!" Teriak Bara pada entah siapa—dia juga tak kenal, memalingkan diri terhadap Ai. "Jangan berdiri saja, bergabunglah kemari."

"Ah, bodoh kau!" Suaranya masih penuh helaan nafas, laki-laki berkemeja kelabu lengkap dengan kacamata itu menyesal sudah terlihat. Ai sekarang lebih waspada. Sementara si hijau Bara...

"Kenapa..? Itu kan hanya kuas raksasa?" Menatap polos si kemeja kelabu sambil menunjuk Ai yang kegirangan karena telah berhasil menggenggam kuasnya. Pria di sana stress berat.

Dengan kecepatan ekstra, mengesampingkan keindahan sebuah lukisan, simbol, karya seni—atau apalah itu, Ai mulai menggoreskan kuasnya di udara kosong. Sebuah kaligrafi aksara cina rupanya. Tertulis 'lin' yang berarti hutan.
Ai lin berpuisi, "Sabda alam hijau mewarna. Tengger flora tanpa fauna. Tersesat engkau dalam rimba. Tutur rindang hutan belantara..."

Ribuan pohon pun tercipta, menggantikan kota gersang nan sepi ini terselimuti hutan rimba. Si kemeja kelabu merana untuk menemani si tumpara yang terpana.

"Wah, keren! Pemandangannya jadi lebih baik." Bara puas bertemu pagar hijau.

Si kemeja kelabu mulai menenangkan diri, "Gadis bernama Ai itu bermaksud membuat kita buta arah dan penuh celah. Untung hanya sekedar hutan. Dengan kemampuanku, kita bisa menebak arah serangnya."

Bara menatapnya lekat. Agak lama, lalu mengacunginya jempol. Persembahan kata, bagus!

"Kau terlalu santai!" omelnya.

Jeda...

Jeda.

"Sepertinya gadis itu masih menyusun rencana... Tapi itu mudah ku urus. Nah, Bara. Eisted Fodd, namaku. Ku ingin berbicara sedikit denganmu." Si Kemeja kelabu mengetahui nama Bara. Membuat si tumpara hijau bingung. Punya pendengaran super. pikirnya

Bara menatapnya fokus.

"Kau tak perlu bertanya dari mana aku tahu namamu," tebak Fodd, "Jadi kau memang jujurnya, soal tak mau membunuh yang lain. Pikiranmu cukup menenangkanku."

Bara masih menatapnya fokus.

Si kemeja kelabu tertawa kecil, "Aku tak percaya kau merasa lebih tenang justru karena ada hutan. 'Mungkin ada air di sini?' Rupanya memikirkan air lebih mempengaruhimu ketimbang situasi kematian saat ini. haha... Kau sangat menghibur, Bara. ini jurus musuh tahu."

Bara makin menatapnya fokus. "Dirimu... membaca pikiranku ya?"

"maaf, maaf. Begitulah," lepasnya, "aku sedikit membaca pikiranmu yang sedang memikirkan tentang... eh? tidak ada."

Bengong. Bara sedang bengong rupanya. Mengosongkan tatapan, mengosongkan pikiran. Fodd kewalahan dibuatnya. Berbalik Fodd yang kini super fokus membaca pikiran yang kosong itu. Fokus. Fokus. "Hentikan! Hentikan! Apa yang kau pikirkan! Hentikan! Hentikan!" Fodd terkena 'badai otak'.  Entah apa yang dipikirkan Bara secara mendadak hingga Fodd bagai pengang mendengar suara beritme tinggi. Sepertinya Bara baru saja memikirkan tentang ribuan pikiran acak sehingga Fodd tak dapat memahami rumus flora, rumus fauna, rumus tumpara, dan sekian rumus lainnya bersamaan dalam kurun satuan detik.

"Ngoahahaha, kau lucu sekali, Fodd."

Nafas terhela, "Entah bagaimana, ini membuatku lebih tenang. Kau tahu, realitas ini adalah tempat tinggalku. Menemukan sosokku adalah hantu di dunia ini menjadikan ku hampir gila dan brutal untuk membunuh semuanya. Hingga, aku mendengar sebuah pikiran sesosok entitas yang tak ingin menjadi brutal dan malah sibuk mencari air. ...terima kasih."

Lanjutnya, "Jadi, sekarang rencanamu hanyalah bertahan dari serangan yang ada, Bara? Sampai si dewa itu bertindak sendiri mau berbuat apa terhadap kita. Oke. Aku ikuti langkahmu, entitas mungil. Pertama, kita urusi gadis pelukis itu dulu. Aku bisa berbicara dengan tumbuhan di sini, dan aku tahu di mana ia." Mereka berdua mulai bertindak.

Fodd memberikan koordinat keberadaan sementara Bara si Tumpara sudah sangat akrab menari-nari di hutan.

Petak umpet ala Ai Lin gagal. Kemana pun ia pergi, ia terperangkap. Tersentuh lentera membuat kuas panjangnya mental lagi dan lagi. Bahkan Kuasnya sampai hilang di tengah hutan, menyaru di antara batangan pohon. Kasihan. Hutan ini pun dihapus oleh Ai. Kembali menjadi perkotaan.

"Duuuh, Kenapa...! Kenapa aku harus bertemu dengan entitas seperti mu, kerdil!" Ai Lin terduduk lemas, ambek, menitik seusap air mata—ditemani Bara dan Fodd yang mengepung santai.

"Ngoahaha, nikmati saja pertemuan ini, kawan!"

Bara merebahkan tubuh sejenak. Sambil bertanya pada Fodd tentang tiang-tiang yang terasa sakral baginya.

Di kala rebahan, kepalanya mendongak ke utara, ada kejadian menarik di sana.

"Kabut," Bara berasumsi akan ada air di tengah kabut.

"Hei, tunggu." tahan Fodd. "Itu bukanlah kabut biasa. Seseorang mengendalikannya. Entitas." Mereka pun mendekati kabut itu.

Masih di kawasan gedung-gedung piramid dengan kumpulan tiang sakral di belakang sana, Bara, Fodd, dan Ai Lin menganalisa kabut tersebut. Ada dua bayangan hitam di balik sana, entah sedang berbuat apa.

"Buruk! Ini buruk!" Fodd terhentak. Ia membaca pikiran orang di balik kabut sana, membuat yang lain bertanya-tanya.

"Sepasang pria dan gadis sedang melakukan adegan yang disensor dengan kabut!" Jelas Fodd, "Kabut dan Dark Kisses. Gadis itu hendak menghipnotis lawannya dengan ciuman."

Kabut pun perlahan menghilang. Dua entitas di sana pun menyadari keberadaan Bara dan yang lain setelah kabut menghilang. Bisa saling menyadari keberadaan, gadis itu tahu mereka adalah entitas peserta.

"Halo," ucap gadis berambut merah belang biru di sana dengan senyum bibi-bibi jahat. Di sampingnya, seorang pria berjubah menatap kosong. Hipnotis.

"Nah, Tuan Flager," Ucap gadis itu sambil meludah, "Bisa tolong aku? Bunuhlah mereka."

"Siap, putri Stella," ucap flager, lelaki berjubah, dengan nada datar.

"Seram.. Kejam..." Flodd gemetar, "Pemuda itu benar-benar kesakitan. Pikirannya melawan keras perintah tubuhnya akibat pengaruh ciuman barusan. Ia menderita untuk menuruti. Kau gadis kejam!"

"Hoo... pikiran katamu," Stella menganalisa sementara Flager mulai bertindak.

"Kawan, mundurlah." Perintah Bara, melindungi yang lainFodd yang mengandalkan kekuatan pikiran mundur namun Ai tidak, "Mundur? Kuh, Aku yang akan melenyapkan gadis sampah itu! Gadis sampahan yang bahkan lebih rendah dari seorang kerdil."

"Hoy," tegur Bara. Ia melihat Flager menarik jubahnya sebagian. Sobekan itu menjadi api biru dan berubah menjadi sebilah pisau.

Pisau itu pun terbang ke arah Bara yang menanti dengan senyum. Bara pun mengibaskan sedikit kupingnya hingga membuat lentera melayang ke depan, menghalangi jalur pisau melesat. Kembali lentera bercahaya. Suci menyala-nyala. Pisau itu pun terlontar jauh lalu berubah kembali menjadi serpihan api dan bersatu mewujud jubah di punggung Flager. Kedua lawannya itu sempat tercengang.

Kini Bara hendak dihampiri oleh FLager yang membawa sebilah pedang dari sobekan jubahnya. Agak jauh, Ai mulai melukis udara, mencipta tanda. Sementara Fodd memberi aba-aba.

"Bara! Pria itu mampu merubah jubahnya menjadi berbagai senjata sesuai pikirannya. Berhati-hatilah dalam jarak dekat. Lalu Ai, siapkan suatu pelindung. Gadis merah itu hendak memainkan api setelah ini. bukan.. bahkan air juga!" Bara dan Ai meresa terbantu dan dua lainnya berdecik.

"Sudah kuduga," gumam Stella si merah yang membaca kemampuan lawan dengan media tongkat sihir, "pembaca pikiran. Dia pertama yang harus di urus, Flag! Kacaukan!"

Tiba-tiba saja Fodd menutup telinga rapat-rapat, ia mengaduh. Badai otak. Serangan berupa ribuan pikiran random dalam satuan detik dari dua entitas, Fodd sakit kepala. "Hentikan..! Hentikan...! Kalian berpikir apa...! Hentikan...!" Ia melawan suara di otaknya dengan berteriak.

Bara khawatir, kini Fodd menjadi incaran. Sebuah shuuriken melontar ke arahnya. Hadang. Bara bergerak cepat dengan menyentuhkan dirinya, lentera, dan tanah untuk melontar diri. Melesat, ia berhasil memotong jalur shuuriken tersebut dan menepak balik pemotong angin itu dengan lentera yang menyala. Saat masih mengudara, Bara melihat sesosok api berbentuk naga tengah melesat. Api tersebut menyembur ke arah Fodd, terlalu lebar hingga Fodd tak mungkin menghindarinya. Belum menyerah, Bara segera melontar sesaat setelah menyentuh bumi. Dengan cara yang sama, Bara memotong jalur api dengan mengibas lenteranya. Tak padat, hanya sebagian api yang terhembus balik, hamburan dan daya tekannya juga mengenai Fodd.

Bara dan Fodd tersungkur. Tubuh mereka sedikit berasap hampir terbakar. Lalu Ai Lin sedang kerepotan menghadapi serangan api lainnya di kejauhan sana. Terlihat sepiring cermin besar melindungi Ai Lin.

"Maaf, kawan," Bara bersegera menghampiri Fodd yang agaknya hampir pingsan, "Kau harus menjauh dari sini." Dihempaskannya Fodd dengan lentera. Di ujung sana, Fodd pun pingsan dengan aman.

Khawatir pada Ai Lin juga kondisi terhipnotisnya Flager berjubah, Bara pun hendak mengincar Stella yang merupakan biang keladinya. "Tapi kau lebih dulu," Bara siap menghentikan gerak Flager. Melontarkan diri.

Okeh! Pantul, pantul, memantul.

Bara membuat dirinya terlontar menggunakan daya hempas dari lentera, memantul ke sana kemari terhadap bumi. Ia membuat Flager kesulitan untuk mendekat. Senjata lempar adalah opsi yang menyerang Bara. Tubuh kecil dan gesit, terbiasa melesat dan memantul, membuat penglihatan terlatih. Ia menghindari sebuah tombak yang melesat lurus di antara lengan dan pingganggnya. Memantul kembali, Bara mendekat.

Flager mengantisipasi dengan menutup diri menggunakan jubah. Absolut. Bersama dengan jubah, Flager terhempas. Tak terasa sakit namun cukup membuatnya pusing. Terlontar lagi. Dan lagi. Sampai tiga kali. Kepala Flager berdenyut, pandangannya kabur. "Harus.. melindungi... putri Stella," ucapnya lirih melihat Bara menjauhi.

Ai Lin masih bersusah payah menghadapi penyihir Stella yang mampu mengubah diri menjadi api. Sepertinya cermin besar di udara mampu menangkal serangan api tersebut. Namun setelah terpantul oleh cermin, api itu berubah menjadi batu es padat. Ai Khawatir cermin tersebut akan pecah dengan serangan fisik, es tersebut pun terlontar jauh, menjauh Ai.

Bara hadir. "Sayang sekali. Sepertinya air yang itu berbahaya."

"Tak usah repot-repot, kerdil!"

"Ngoahaha, habisnya sempat semangat sih ketemu air."

"hah?"

Es di kejauhan sana melebur menjadi api menyembur cepat. Bara siap mengantisipasi dan dengan mudahnya dibelah sudah api tersebut dengan lentera yang suci menyala-nyala.

"Kasihan." Ucap Stella dari api yang terbelah, "Bukan kau yang kuincar."

Bara terbelalak menoleh ke belakang. Laju api yang terbelah dua itu melesat menghampiri Ai Lin. Kesengajaan. Dua bongkah es siap membentur cermin perisai. Satu berhasil ditepis Bara, yang lainnya tak terjamah.

Pecah sudah. Ai Lin terhantam bongkah es, terjerembab nyeri.

Bara berputar-putar seraya mengayunkan lenteranya ke berbagai arah, menari di udara, menyapu seluruh tubuh Stella yang kembali menjadi api. Saat api agak meregang, Bara dikejutkan oleh sesuatu. Sebuah tonfa berayun cepat ke arahnya, tak terelakkan. Pukulan kuat membuat si mungil Bara terhempas dan terjerembab bermeter-meter hingga ke tempat Ai berada. Kedua lengannya yang menahan pukulan tersebut, gemetar nyeri.

"Haa.. Bagus Tuan Flager," Stella tersenyum meratu. Flager hadir dengan penuh hormat.

Kini, baik Ai maupun Bara sudah nyeri, sulit bergerak.

"Duuh..! Kenapa! Kenapa harus berakhir begini!" Gerutu Ai, ambek, menitik seusap air mata.

"Ngoahaha..." Datar, "Nikmati saja pertarungan barusan, kawan." Mereka berdua masih terkapar.

"Masih saja berbicara begitu!"

"Kenapa setiap terpojok, kau menangis begitu?" Bara membuat Ai terkejut.

"Duuh..! Dikalahkan oleh sampah seperti kalian, berarti aku lebih rendah dari sampah. Tidak mau...!"

Stella dan Flagger mendekat perlahan.

"Ngoahahaha, pasti menang kok." Stella sempat tersenyum remeh mendengarnya. Bara melanjut, "Memangnya apa keinginan terbesarmu sampai mau melenyapkan semuanya?"

"Tentu saja, ingin kembali hidup! Membalas dendam pada sampah di dunia yang membuat sahabatku terbunuh!"

"Dendam..  yakin, tuh? Aku tidak bisa merasakan niatan itu menyentuh ke dalamnya dasar dirimu."

"Ke dalam dasar...? Memangnya aku ini laut! ...Sebenarnya memang bukan itu sih. Aku ingin sahabatku yang hidup kembali. Merasa bersalah, Ia wafat karena melindungiku. Tidak... saat ini aku lebih ingin bertemu dengannya. Sahabat." Ai menitik air mata, "Duuh... Kenapa.. Kenapa aku menangis begini...?"

"Ngoahaha." Lebih bertenaga, Bara berdiri mantap membuat Stella dan Flager bersiaga. 

"Menang. Setetes saja sudah cukup untuk meraih kemenangan. Jangan lupakan hal itu ya, air mata yang membawamu dari dalam dasar. Harapan. Karena itu... Mati sedikit lebih lama, tak apa, kan?"

Bara melihat ke depan,  sebuah batu biru yang berkobar, hadir melayang. Batu lancip itu membara. "Halo, Rice!" sapa Bara. Batu biru itu tampak kegirangan. "Saatnya beraksi, kawan!" senyumnya penuh percaya diri.

Bara dan Rice pun bersatu. Tubuh Bara terbakar api biru itu seluruhnya, membuat tubuhnya mendapat energi kehidupan baru. Pulih total. Bara hadir dengan pakaian serba biru dengan lentera yang membara biru berhiaskan kristal es. Membawa harapan baru.

Bara-Rice.

"Kalian yang di sana... Bersiaplah."

Sebuah pisau dan shuuriken melesat ke arahnya yang dengan mudah kembali ditepis. Bara hanya mengayunkan lentera dengan kepalanya tanpa bergerak selangkah pun. Senjata logam itu terbanting ke tanah dan terselimuti es. Beku.

Lentera itu kini menyentuh tanah dan Bara menginjaknya dengan kedua kaki. Ia melesat, meluncur cepat dengan lenteranya, menciptakan jalur es di belakang. Sama dengan memanfaatkan daya hempas lentera putihnya, Bara membuatnya menjadi pendorong.

Sekumpulan senjata kembali terlempar ke arah Bara. Ia melompat, menari-nari  dengan lenteranya di udara dan menepis seluruh senjata Flager tanpa terlewat. Semua beku dalam es. Bahkan panasnya api Stella dikalahkan sudah. Setelah ini giliran Flager.

Melihat kondisi saat ini, Stella pun menjauh dengan mewujud api, meninggalkan Flager yang tak mungkin menghindari kehadiran Bara. Dipukul sudah Flager dengan lentera Bara. Terpental sudah. Jalur es melingkar tercipta, mengurung akses gerak pemuda berjubah. Flager itu terpelanting ke sana, ke mari akibat lontaran dari lentera. Tubuhnya sedikit demi sedikit terselimuti es.

Hingga usailah sudah. Sebuah teratai es raksasa terlukis oleh jalur yang dibuat Bara. Tugu yang mengunci Flager di tengahnya.

Stella masih was-was di sekitar kumpulan tiang sakral. Apinya sudah membeku sebelum dingin saat melawan Bara. Namun saat ini Stella masih aman tanpa luka. Dihampirilah sudah, Stella tak berkutik saat Bara meluncur cepat dengan es lalu menamparkan lenteranya.

Tubuh Stella yang sempat berubah menjadi api, berhasil kabur menjauh bagai kapas yang tertiup angin. Ia kabur tanpa berpikir, menembus dan membakar sebuah tiang sakral. Setelah itu Stella jatuh. Dalam wujud manusia, bahu kanannya berdarah.

Stella terbelalak histeris. Menatap tiang sakral itu. Fair Dragon. Stella hilang akal hendak membakar puluhan tiang di sekitarnya. Duri. Setitik saja fatal bagi Stella. Sebuah serpihan kayu yang sempat menusuk Bara rupanya adalah duri kecil yang ada pada hampir di seluruh tiang itu.

Melihat itu, Bara tak tahu pasti, yang jelas Stella terluka karena tiang sakral itu dan histeris karenanya. Tiang sakral yang Bara ketahui dari cerita Fodd bahwa benda itu adalah sebuah kaktus. Kaktus coklat penuh duri yang dirawat pertumbuhan dan bentuknya. Kaktus yang menjadi tanda berkah bagi kota bergedung piramid ini.

Sesekali semburan apinya menyasar ke arah Bara dan dapat diantisipasi dengan mudah. Namun saat Bara hendak memulai rencananya, sebuah teriakan membuatnya khawatir. Api itu membakar Ai yang masih terkapar. Bersegera Bara mundur untuk menyelimuti Ai dengan kubah es. Ia harus cepat menghentikan si biang keladi, Stella.

Habis. Sepertinya Stella sudah lelah untuk membakar. Matanya masih terbelalak. Dan ia pun dikagetkan dengan sebuah tiang yang jatuh di dekatnya. Ia mundur, dan sebuah tiang mendarat kembali di belakangnya. Ia ke samping, hal serupa terjadi. Hingga akhirnya seluruh akses keluarnya terhalang oleh tiang itu.

Agak jauh, Bara dengan wujud orisinilnya menepakkan tiang itu dengan lentera putih. Mengarahkan hempasanya ke arah Stella. Sebuah penjara bersegi sembarang, telah mengurung Stella di dalamnya. Stella hanya meringkuk histeris tak berani melihat. Meringkuk sekecil-kecilnya agar tak tertoreh pun sedikit duri. Trauma. Ia sudah tak berdaya.

Bara mendekat dan hanya berdiam di pinggir penjara. Berdiam menunggu sebait titah. Menunggu sebuah makna. Menunggu suatu jawaban dari si tanduk hitam, Thurqk, tentang arti 'mengalahkan' yang diinginkan.

Di kejauhan, di sekeliling Bara. Masyarakat berkumpul, melingkar, memanjatkan doa ke arah bencana. Ke arah penjara tiang sakral berada.

10 comments:

  1. wow, pertama gw harus congrats dulu soalnya lu bisa bikin cerita pendek di bawah 5k kata, El :D
    gw suka dengan karakterisasi Bara di sini. bener2 terlihat ngocol, ga mau kalah dan pengen tenar (note gw ga baca charsheet sama sekali). as usual juga, cara narasi lu itu unik dengan ngebawa pembaca ke angan-angan hanya dengan satu dua kata.

    however, di kebanyakan sesi, gw bener-bener skip karena ngerasa ga ada plot yang ngegigit. gw nyaris ngeliat karakter lain seperti tempelan, nyaris. untung gw ngeliat sesuatu yang berasa emosionil dari karakternya.

    nilai 8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu yey yey, , keren, kaaan... keren, kaaan... ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~
      iya donk tentu tempelan, , kan Bara ituh memikat~ #aahnn (≧◡≦)

      Delete
  2. well, saya suka battle di sini.. ringan dibaca, dan gaya penulisannya juga bagus.. XD tapi saya agak canggung pas baca ketawa yg "ngoahaha.." itu.. --"

    gaya Flager ngubah kain pun sebenarnya gak sampai keluar api biru gitu juga sih, but kayaknya oke juga dibuat versi di sininya..

    Overall, saya suka ini cerita karena ringan dibaca meskipun konfliknya bagi saya kurang menggigit...

    jadi.....

    -----
    7,5/10
    -----

    ReplyDelete
  3. sbenarnya g tlalu masalahin gaya penceritaanya sih, cuman emang berpotensi membingungkan kak x3
    karakternya lumayan keliatan sih, tp gaya bicaranya terkesan mirip smua, kyk smua oc ktawanya ngoahaha (malah terkesan komedi) xD
    g baca charsheetnya jg sih jd g tau kmampuan bara kyk gmn, dlm cerita ini jg g tlalu jelas, malah lbh jelas kemampuan oc yg lain kak, dan lumayan bikin tertarik sama interaksi mereka dbandingkan si bara #pletak
    nilai 7/10 :)

    ReplyDelete
  4. Ini buat saya lumayan enak ah, meski emang khas Hael banget gaya narasinya, tapi sukses diringkas jadi pendek dan ga panjang" amat kayak biasanya
    Bara ini santai amat ya, kebanyakan ketawa dan berusaha keren di setiap saat... Tapi senada sama Chel, selain itu saya sendiri kurang nangkep 'karakter' dari si Bara, karena interaksi yang lain lebih menarik daripada karakter Bara sendiri. Tapi battlenya cupuk apik, dan kayanya baru ini battle di mana semua knockout tapi ga ada yang mati

    7/10

    ReplyDelete
  5. Nice, saya suka sama battlenya.
    Style narasinya juga agak unik, jadi ngasih kesan bacanya.

    8/10

    ReplyDelete
  6. Selamat bang Hael... >w<
    udah ngga nulis sepanjang 10K dengan narasi yang khas bang hael banget.

    Bara-nya lucu. Tapi karakter lain emang berasa lewatan tanpa nonjolin Bara.

    Sasuga buat battle-nya bang Hael. Semoga Bara ga kelewat baik. Soalnya kadang suka sepet liat chara terlalu baik

    +8

    Heiho

    ReplyDelete
  7. Welcome to the short story battle, Hael-chan >.<

    Pertama, Congratz berat karena berhasil bikin cerita yang lebih pendek dari 5k.

    Kedua, Selamat lagi buat dirimu yang berhasil mempertahankan ciri khas narasinya yang emang Hael banget >.<

    Ketiga, btw, polosnya Bara dan santainya dia malah bikin Umi keinget sama Hilya #plak

    Keempat, sama kayak yang lainnya, Umi ngerasa ini kurang bumbu. Berasa yah emosinya kegali tapi ceritanya kurang.

    Kelima, 7/10 dari Umi >.<

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -