April 8, 2014

[ROUND 1 - D] CAROL LIDELL - LUCTOR ET EMERGO

[Round 1-D] Carol Lidell
"Luctor et Emergo"
Written by Kagetsuki Arai

---

[Intro]

Dalam diam, Carol membaca sebuah panduan wisata kota Bandung. Di sekelilingnya, berbagai macam orang berlalu lalang tanpa memperdulikan kehadirannya, seakan ia memang tak ada di sana. Setelah puas membaca buku itu, ia kemudian menatap sekelilingnya.

Mobil, Motor, becak, gedung-gedung tua yang belum pernah ia lihat dan tentunya akan menarik baginya kalau saja pikirannya tak terganggu oleh apa yang dikatakan sang dewa Thurq tadi. Dugaaan paman Primo ternyata memang benar.

Mereka –lima puluh lima makhluk baik manusia maupun bukan- dikumpulkan untuk diadu, dijadikan pertunjukan bagi dewa Thurq, gladiator di sebuah colosseum yang amat luas. Sekarang, apakah Carol mampu membunuh?

Ia mungkin tak perduli pada kemanusiaan, mereka sudah hancur dalam kebusukan mereka sendiri. Tapi untuk membunuh satu manusia, mampukah Carol melakukannya?

“Lima puluh lima, hanya akan tersisa satu pada akhirnya yang akan mendapatkan penghapusan dosa dan kelahiran ke dunia tempat asal kalian,” titah sang dewa yang tak pernah tercatat di buku manapun di The Library of Fate.

Haruskah ia mentaati perintah dewa yang tak ia kenal? Haruskah ia percaya pada janji itu?

Tanpa sadar tangan kanannya menyentuh Glock yang tersimpan di balik syall yang terikat di pinggangnya. Mampukah ia menembakkan peluru ini pada lawannya nanti?

Carol menatap langit mendung yang mulai menurunkan rintik-rintik hujan. Siang itu, saat sebuah turnamen antar-dimensi dimulai, hujan membasahi kota Bandung.
*
luctor et emergo[1]
*
Ucup mengenali tempat ini.

Sekelompok pengamen kecil berkerubung di bawah toko tua yang sudah tutup, berlindung dari hujan yang mulai deras. Pengamen-pengamen cilik yang Ucup kenal.

Saat lampu merah berganti hijau, kendaraan bergerak menrobos hujan deras kota Bandung. Lampu merah yang Ucup kenal, kota yang ia kenal, hujan yang Ucup kenal.

Di salah satu sudut jalan, sebuah kios bobrok yang dibiarkan tergeletak tak terurus dibiarkan diselimuti lumut, nyamuk dan genangan air kotor, Kios yang ucup kenal.

“Mak, Ucup pulang,” katanya khidmat, air matanya menetes bercampur air hujan yang membasahi tubuhnya, tak dirasakannya dingin yang menembus pakaian tipisnya.

Namun rasa haru itu terpotong saat Ucup menemukan tiga orang laki-laki berpakaian preman. Yang pertama adalah laki-laki berotot besar dan berambut cepak seperti marinir. Yang kedua adalah lelaki ceking berkepala botak, dan diantara kedua laki-laki sangar itu, berjalan seperti bos besar adalah lelaki tampan yang dinodai oleh codet menghias pipinya dengan jaket kulit.

Ucup mengenal preman-preman itu.

Meraskan tanda bahaya, tubuhnya membeku oleh ketakutan. Tak mampu ia gerakkan tubuhnya sementar ketiga preman itu mendekati pengamen-pengamen cilik –teman-temannya- yang sedang berteduh dan kedinginan.

“Bangsat! Bubar lu pada!” si cepak menendang tembok toko tua itu dengan sepatu boot bobroknya, menghasilkan suara yang amat keras yang membuat pengamen-pengamen kecil dihadapannya tersentak kaget sementara beberapa mulai menangis, “Ngapain lu di sini! Bukannya ngamen cari duit!”

“Tapi bang…la…lagi hujan deres nih…” salah satu anak memberanikan diri untuk menjawab, seorang anak laki-laki yang tampaknya paling tua dari grup pengamen cilik tersebut.

“Peduli setan!” bentak si cepak, “Lu kira ngasik makan lu pada cukup Cuma dari ngamen waktu terang doang! Ha!”

Di belakang si cepak, si botak ikut mendekat dan menatap grup pengamen cilik itu satu persatu.

“Ngapain lu diem aja!” bentak si botak.

“Ussh! Udah-udah,” si bos besar yang sejak tadi hanya mengawasi menepuk bahu kedua anak buahnya, ia kemudian menangkap wajah salah satu anak perempuan yang masih berumur tujuh tahun, mengelus lembut pipinya dan tersenyum, “pilih mana, Lu ngamen apa kita bikin bonyok?”

“A…Ampun bang,” si gadis mungil berkata ketakutan.

Si bos besar menampar gadis mungil itu dan mendorongnya hingga jatuh. Saat itulah seluruh ketakutan Ucup menghilang digantikan oleh kemarahan. Seluruh ototnya bergerak, ia berlari mendekati ketiga preman itu dan dengan segenap amarahnya, diayunkannya kecrekan kesayangannya dan secara ajaib sebuah gelombang suara yang melontarkan ketiga preman itu, memisahkan mereka cukup jauh dari grup pengamen cilik.

“Kang ucup!” teriak salah satu pengamen yang paling muda, “Kang Ucup balik!”

“Sst…Dil, bang Ucup udah mati,” bisik anak lain di sebelahnya.

“Ucup? Nggak! Nggak mungkin!” si botak bangkit, “Si Ucup udah mampus!”

“Dul, ini pasti kutukan dul!” si cepak bangkit, “hantunya Si Ucup pasti pengen balas dendam!”

“Diem lu pada!” si Boss bangkit dan kemudian memukul wajah kedua anak buahnya,  “Semprul lu pada! Ucup udah mampus, ga ada cerita orang udah mapus bisa balik lagi!”

Mendengar itu ia tertegun. Ucup sudah mati? Ya, Ucup jelas ingat bagian itu, tapi ia di sini, berdiri dengan tubuh basah oleh air hujan, masih mampu menggunakan kecrekan ajaibnya, masih mampu menghajar para preman itu. Apakah teman-temannya dan abang-abang Preman itu tak bisa melihatnya? Ucup menatap kedua tangannya dan kemudian menyentuh tubuhnya, memastikan bahwa tubuhnya nyata, bukan hantu transparan seperti yang dia lihat di televisi di warung kopi, bukan juga penampakan tak jelas seperi yang ia lihat di Koran-koran.

Mungkin tubuhnya terasa nyata, tapi kenapa tak ada yang bisa melihatnya?

Tidak, Fadil, bocah berumur dua tahun itu mampu melihatnya, bocah itu malah melihat ke arah Ucup dengan senyuman mengembang. Tapi teman-temannya yang lain menatap sekeliling, tak yakin kemana mereka harus melihat, tak yakin kalau memang Ucup yang baru saja menyelamatkan mereka, tak sadar kalau Ucup kini tepat berada di hadapan mereka.

“Hei, Kalian gabisa ngeliat aku?” Tanya Ucup keras-keras, namun tak ada yang merespon.

“Boss, Ayo kabur boss!” pinta si Botak.

“Lu pada!” si Boss menunjuk grup pengamen cilik, “Bubar-bubar!” bentaknya, dan seketika,  anak-anak kecil itu berhamburan meninggalkan tempat.

Saat Ucup berbalik untuk melihat ke arah preman-preman tadi, Ucup tertegun, tubuhnya tak bisa bergerak. Sebuah kepala baru saja jatuh ke tanah diikuti ambruknya sebuah tubuh.

“Aaah! Sampah!” keluh wanita berambut hitam kebiruan, “Apakah nanti jalanan ini akan ikut bewarna merah?”

Si botak berteriak ketakutan, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari siapa pelaku pembunuhan si Cepak. Namun nihil, ia tak bisa melihat Ucup maupun wanita itu.

“Hantunya si Ucup!” teriak si Boss, “Sini lu! Keluar! Jangan Cuma sem…” namun kalimatnya terputus oleh sabetan pedang dan jatuhnya kepala kedua.

“Berisik!” bentak wanita itu, ia mengangkat katana di tangan kanannya, Katana yang berukirkan ular bewarna hitam tergenggam erat, berlumuran darah dan air, “Sampah seperti kalian, yang merasa bisa mengendalikan hidup orang lain, mati saja!” dan kemudian satu tubuh menyusul jatuh.

Si Botak, sendirian, berlutut menatap Ucup, wajahnya ketakutan.

“Ampuni, Cup! Ampuni gua!” mohonnya.

“Oh…kamu yang namanya Ucup?” wanita itu kemudian menatap Ucup dengan kedua mata yang memancarkan terror, seperti ular yang siap memangsa buruannya, seperti pembunuh yang siap mengakhiri nyawa targetnya, seperti hewan buas yang siap menerkam makanannya, Ucup membeku.

“Tolong Cup! Gua ga…”

“Sudah kubilang, BERISIK!” dan kepala ketiga menyusul jatuh ke tanah.

Saat itu juga sebuah perintah mengalir ke seluruh tubuhnya, sebuah tindakan yang anak baik-baik seperti Ucup lakukan dalam situasi seperti ini.

Ucup lari dari tempat kejadian.

*

Rex ketakutan. ksatria yang melindungi raja dan istananya sampai titik darah penghabisan kini sedang ketakutan, tapi bukan karena lawannya seorang asasin dengan penutup telinga aneh itu terlalu kuat untuknya. Rex cukup percaya diri bahwa ia mampu mengalahkan pengguna katana itu dengan Giruvegan miliknya.

"Kau tak akan menolongnya?" di sebelahnya, seorang gadis berambut pendek sewarna karamel bertanya.

"A...a..." menyedihkan, Rex bahkan tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Tak jauh dari museum tempat mereka berteduh, di seberang jalan, tampak seorang wanita dengan keras beruasaha memotong seorang anak laki-laki menjadi dua. Rex teringat pada adiknya, traumu itu seperti luka lama yang bukan hanya dibuka kembali dengan pisau panas, tapi juga diusap dengan garam.

Rex benar-benar menyedihkan.

Di sisi lain, gadis di sebelahnya tampak sangat tenang. ia hanya diam melihat anak laki-laki tadi berhasil menghindar lagi dan lagi, beberapa kali melemparkan wanita pengejarnya dengan gelombang tak terlihat untuk nantinya lari lagi.

"Apa kau pernah kehilangan seseorang?" tanya gadis di sebelah Rex, "Kebanyakan kisah tentang ksatria selalu membuat terbunuhnya orang yang disayang sebagai penggerak."

"Aku ... tak mengerti maksudmu," jawab Rex.

"Kau masih punya kekuatan untuk menolong, Gunakan." jawab gadis itu dingin.

Rex berusaha memahami kalimat itu. ya, terlepas dari apakah Thurq memang dewa atau tuhan, ia telah memberikan kesempatan kedua untuk Rex. dengan keyakinan baru itu, Rex bertekad untuk menolong.

Dan ia segera melesat.

*

Cia sangat sebal. ia adalah asasin, meski ia tak bangga dengan hal tersebut, menjadi asasin sudah terbenam di darah dan dagingnya sejak ia lahir. Harusnya ia bisa membunuh bocah ingusan ini dengan mudah. tak terlihatnya pembunuh dan yang dibunuh adalah bonus karena tak akan ada saksi atas pembunuhan. penebusan dosa dan kelahiran kembali adalah bayaran yang lebih untuk membunuh empat orang.

Kenyataannya, Bocah ini licin seperti belut. berkali-kali ia menghempaskan Cia untuk kemudian kembali lari. Cia mengutuk kemarahan yang tadi muncul akibat teringat oleh pemimpin klan. Orang yang tak punya kekuatan tak berhak mengendalikan orang lain, atas dasar iulah ia membunuh tiga sampah tadi, tapi ia kini menyesalinya karena sekarang ia tak bisa membunuh dengan cepat layaknya asasin yang sebenarnya.

Saat bocah itu terdesak, kembali diayunkan benda aneh di tangannya, Kali ini Cia berhasil menghindar, namun entah bagaimana, sebuah gelombang tak terlihat masih menghajar tubuhnya dari arah lain.

serangan itu menyebar? tidak, lebih seperti memantul. Cia bangkit dan dilihatnya bocah itu kembali kabur. namun saat ia hendak mengejar, Cia merasa perutnya dipukul dengan pedang tumpul.Cia terlempar cukup jauh, jatih di atas mobil yang sedang berjalan. mobil itu mendadak mengerem, membuat Cia jatuh dari atapnya.

Sial, siapa tadi yang melakukan serangan mendadak? atau itu pantulan lain dari si bocah?
Saat ia bangkit, insiden tak terlihat itu telah menyebabkan kemacetan. beberapa mobil membunyikan klakson keras-keras dan beberapa pengendara berteriak marah.

Tapi Cia tak perduli. yang ia hadapi sekarang bukan lagi bocah kecil, tapi seorang laki-laki berambut pirang dengan kostum zirah ksatria. ia tak memegang senjata, jadi itu tadi apa?
Laki-laki itu mengatakan sesuatu, hal yang tak bisa Cia dengar karena music di telinganya masih mengalun keras. Namun Cia mampu melihat gerak tubuh dan gerakannya yang menunjukkan tekad membara. Namun meskipun redup, Cia mampu merasakan rasa takut dibalik topeng kerasnya.

Cia mengganti pedangnya.

Tak masalah, toh Cia mendapat lawan yang lebih tangguh. ia bisa menghabisi bocah itu nanti dan berikutnya memburu dua orang lain.

Ya, ini akan mudah.

Cia menyeringai dan kemudian menerjang.

*

Rencana Carol berhasil.

Buku membaca hati dari gerakan manusia level menengah atas benar-benar sangat membantu Carol untuk menghindari pertarungan. ia bahkan terkejut dengan betapa mulusnya rencana ini berjalan.

Sekarang, melacak dimana si bocah pengamen berada. Carol telah bertekad bahwa ia tak ingin ikut serta dalam pertarungan ini. dia adalah pustakawan, bukan petarung. dan dari yang ia lihat, pengamen cilik itu juga bukan. mungkin entah bagaimana ia bisa lepas dari cengkraman Thurq.

Akhirnya Carol melihat anak kecil itu, duduk di emperan sebuah bank berusaha menangkap nafasnya.

"Kau tak apa?" tanya Carol seraya menghampiri bocah itu.

"Mbak bisa liat Ucup?" bocah itu tanpak terkejut.

"Aku juga peserta," Carol berdiri di sebelah bocah itu, memaksakan senyum yang tak alami, "namamu Ucup?"

Bocah itu mengangguk.

"Namaku Carol Lidell, salam ke..."

"Oh, jadi orang-orang lemah berkumpul di sini?" belum Carol menyelesaikan kata-katanya, Gadis lain dengan pita biru besar muncul di dekat mereka. Ia muncul seakan sudah ada di situ sejak tadi.

Carol menarik pisau andalannya dan menarik Ucup menjauh dari gadis itu. Tatapannya menandakan bahwa ia berbahaya. Namun gadis itu tampak tak tertarik pada mereka.

“Thurq akan melempar kalian ke neraka, kau tahu?” gadis itu melanjukan, “Mau atau tidak…kau harus…”

Tiba-tiba gadis itu berubah menjadi asap dan seketika berpindah di hadapan Carol, dengan gunting terbuka lebar ke arah lehernya, Carol menahan gunting itu dengan pisaunya dan menarik pistolnya, namun belum sempat ia menodong, gadis itu kembali berubah menjadi asap dan mucul kemballi cukup jauh dari kedua peserta.

“Aku bukan peserta,” kata gadis aneh itu, “tapi kalau kau pikir Thurq akan melepaskanmu begitu saja, kau salah,” dan dengan peringatan itu, ia menghilang menjadi asap, bersamaan dengan itu, sebuah ledakan cahaya terlihat dari arah lain, tempat dimana sang Ksatria dan sang Asasin bertarung.

“Mbak…Carol…” di belakang Carol, tampak Ucup benar-benar ketakutan, tubuhnya gemetar dan kini jatuh memeluk lututnya.

*
[Act 2]

Mata Cia tiba-tiba dibutakan oleh cahaya yang amat terang dan bersamaan dengan itu, sebuah serangan mengenai perutnya, nyaris mematahkan tangan kanannya dan hampir saja mengenai lehernya. Kalau saja ia tak bisa merasakan hawa panas yang dipancarkan pedang laki-laki itu, Cia pasti tak bisa menangkis serangan kedua dan ketiga.

Cia kewalahan, Ia tak menyangka kalau Ksatria itu benar-benar merepotkan. Di sekelilingnya, kemacetan semakin menjadi dengan beberapa mobil berhenti mengelilingi mereka, seakan paham bahwa di area ini sesuatu yang berbahaya sedang terjadi, namun Cia tak memperdulikan manusia-manusia itu.

Meski sang Ksatria memiliki keunggulan dalam kecepatan, Cia bisa melihat bahwa dia mulai gelisah. Rex menerjang, menyabetkan pedang tak terlihatnya, Cia menghindar ke samping kanan, balas menusukkan Katana beracunnya, namun laki-laki berambut pirang itu berhasil menunduk, menghindari serangan Cia dan kemudian menarik pedangnya dan melakukan satu sabetan lagi yang kali ini mampu membuat Cia terpental cukup jauh.

Kurang lebih, Cia sudah mengetahui panjang pedang tak terlihat itu. Untung saja pedang itu tumpul, kalau tidak ia sudah mati sejak tadi atau minimal berdarah, sesuatu yang bisa gunakan di saat sepert ini. Dengan serangannya berhasil ditangkis, Cia ragu ia bisa menginfeksi laki-laki itu dengan mudah.

“Tuan Ksatria! Mundurlah!” sebuah teriakan menginterupsi mereka, “Dan tutup telingamu!”

Dari atap sebuah mobil, seorang gadis berdiri dengan sebuah buku terpegang di tangannya. Tatapannya yakin seakan ia sudah memutuskan sesuatu. Namun bukan itu yang membuat Cia kaget, tiba-tiba musik di telinganya menghilang. Cia meraba telinganya dan menemukan bahwa headphone yang biasanya terpakai di telinganya kini melayang di atas kepalanya, tercabut dari ponselnya dan hancur berkeping-keping.

Cia menatap gadis itu dengan tajam, ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  ia akan membunuhnya,  dan Cia menerjang, pedang beracun siap menghajar gadis itu.

“Ucup!” teriak gadis itu.

Dan sebuah music kini terdengar, music yang bukan favoritnya, music yang sangat ia benci, music yang entah bagaimana membuat semua kenangan buruknya terkuak, music yang mengingatkanya pada betapa menyedihkannya sang asasin, music yang membuatnya menyesali apa yang ia perbuat, music yang membuat semua kegilaan menyeruak dari otaknya yang paling dalam.

Music yang ingin membuatnya bunuh diri. Music yang membuatnya merasa menyerah, hilang arah, music yang membuat ia mengarahkan katana beracunnya sendiri ke leher. Namun Cia berhasil menahan tangan itu agar tak bergerak lebih jauh.

Ia ingin mati, ia ingin mati, ia ingin mati, Alder! Tolong aku! Ia ingin mati, ia ingin mati, ia ingin mati, Alder! Aku ingin bertemu denganmu lagi, aku mohon! Ia ingin mati, ia ingin mati, ia ingin mati, kali ini saja, aku ingin bertemu denganmu sebelum…

“Bediri di ujung pintu, diterangi oleh api tipis di tangan Lupin, adalah sosok bertudung yang amat tinggi mencapai langit-langit.wajahnya benar-benar tertutup oleh tudungnya. Harry menatap ke bawah dan yang ia lihat membuat perutnya bergejolak. Ada sebuah tangan dibalik jubah dan berkilaian, bewarna abu-abu, terlihat licin dan keropeng, seperti mati yang membusuk di air.”

Music berhenti, Cia hendak menerjang, namun sosok berjubah hitam yang memancarkan kedinginan dan keputus-asaan muncul di hadapan Cia. Perlahan menrik semua kenangan manis dan indah dalam tubuhnya.

“Dementor! Hanya turuti perkataanku!” teriak gadis kurang ajar itu, “Tarik semua kenangan manis dan kemanusiaannya! Fokuskan energimu padanya.”

Dan sosok bertudung hitam itu bergerak mendekati Cia, menarik semua kehangatan manusia di tubuhnya, menarik semua kebahagian, kenangannya akan Alder, kebebasannya. Cia merasa kosong.

Dan saat itulah…

Tangannya bergerak menyabet sang Sosok Bertudung itu.

Matanya menatap gadis kurag ajar itu.

Tubuhnya bergerak, tanpa perasaan, tanpa pikiran, permen di mulutnya hancur dan kini ia bukan lagi Cia.

Ia hanya ingin menyiksa gadis itu perlahan-lahan dan membalas apapun yang ia lakukan padanya. Dan dengan itu, ia bergerak.

*
Oh sial! Oh sial! Oh sial!

Bagaimana bisa wanita itu tak terpengaruh oleh nafas Dementor? Carol panik.

“Ucup! Kabur!” teriak Carol.

Wanita itu menerjang, Carol menarik pisau kesayangannya dan dalam sekian detik berhasil menangkis serangan wanita itu.

“Ha! Kau benar-benar kurang ajar, gadis kecil!” suara wanita itu berbeda, intonasi katanya berbeda, “Minta ampunlah dan aku mungkin akan langsung membunuhmu!”

“Aku bukan gadis kecil!” balas Carol marah.

Carol lantas memanggil dua buku tebal lain dan memukulkannya Ke arah wanita sadis di hadapannya, memaksanya mundur dan kemudian menarik Glock dari sakunya. Satu peluru di muntahkan, wanita itu berhasil menangkis.

Saat itu, sang Ksatria kembali memasuki arena, tampak tak terpengaruh oleh baik musik gila si Ucup maupun Dementor buatannya, ia memukul mundur wanita itu, berdiri di antara Carol dan sang wanita sadis.

“Aku tak tahu apa yang terjadi,” kata sang Ksatria, “Tapi tampaknya makhluk yang kau panggil tadi membuat keadaan makin parah.”

“Dementor harusnya membuat manusia kehilangan semua kenangan bahagia dan kemanusiaannya,” jelas Carol.

“heh…jadi sejak awal dia bukan manusia?” sang Ksatria menyeringai, “tak ada tempat untuk kera…” suaranya terputus saat tubuhnya mendadak ambruk.

Racun…racun…racun…wanita itu berhasil menyabetkan pedangnya di bagian dalam paha sang Ksatria, bagian yang tak ditutupi oleh Armornya. Wanita itu menyeringai dan menyerang sang Ksatria, perlahan menghancurkan armornya dan diikuti oleh menyayat kulitnya.
Sang Ksatria tak bisa membalas. Tubuhnya kesemutan dan dengan cepat mati rasa.

“Mundur!” teriak Carol.

“Tak akan kubiarkan!” wanita itu mengakhiri serangannya dangan sebuah tusukan, namun sebuah batu menghantam wajahnya. Mengambil kesempatan ini, sang ksatria melompat mundur dan mengikuti Carol yang sudah kabur duluan.

*

Rex merasakan sesak nafas, tubuhnya semakin kaku dan lambat. Gadis di hadapannya berhenti dan segera berlari Ke arah Rex, membopongnya menuju sebuah gedung. Orang-orang di sekitar mereka tampak ketakutan, seakan tahu bahwa sesuatu sedang terjadi. Seorang wanita dalam kotak aneh yang terpasang di langit-langit menginformasikan pada orang-orang tentang sesuatu yang tak bisa Rex pahami, berbeda bahasa. Namund ari gambar-gambar yang ditunjukkan, Rex tahu bahwa wanita itu sedang memberitakan pertarungan yang baru saja terjadi.

Suara-suara aneh terdengar dari luar, seakan menandakan bahwa bahaya belum berakhir dan otoritas yang berwenang sedang mengurusnya. Akhirnya Rex dibaringkan di sebuah kursi panjang yang tak di tempati.

“Bisa ular,” kata gadis yang menolongnya, “Ucup, apa kau bisa menyembuhkannya?”
Bocah yang ia panggil Ucup menggelengkan kepala. Gadis penolongnya itu kemudian memanggil sebuah buku dalam bahasa yang tak Rex pahami dan dalam diam mulai membaca.

“Argh! Tak akan sempat!” Carol mengutuk, “Bisa apa yang menginfeksi pria ini! Berapa menit sebelum ia mati! Aku tak bisa bekerja dengan sesuatu yang tak pasti!”

“Tenangkan dirimu, nak,” kata Rex.

“Jangan panggil aku anak kecil,” balas gadis itu, “Namaku Carol.”

“Baiklah kalau begitu, nona Carol,” Rex memberikan senyuman, “Kau bisa meninggalkanku di sini, aku sudah cukup melukai wanita itu dank au punya kesempatan untuk mengalahkannya.”

“Dengarkan aku tuan Ksatria! Aku mengandalkanmu karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan!” teriak Carol, “Aku tak bisa mengalahkannya! Rencanaku kacau! Aku membutuhkan orang yang kuat!”

“Kau bisa bertahan,” Rex menenangkan, “Aku sudah sekarat bahkan saat dibawa ke dunia setelah mati.”

“Tapi aku membutuhkanmu!” kata Carol, “Buku apa yang bisa aku gunakan…Buku apa…”
Rex kemudian memaksakan tubuhnya untuk bangkit, Giruvegan kembali dipegangnya. Ia akan membunuh, ia akan berjuang. Ia masih memiliki kekuatan yang tersisa untuk melindungi mereka.

“Kalau begitu, akan kubawa ia mati bersamaku,” kata Rex.

Dan dengan itu, ia meninggalkan gedung.

*

Kolator mengawasi pertarungan ini dari atap sebuah gedung. Tak ada yang bisa melihatnya dan Water of Farum telah menyebar ke berbagai tempat, radius umum dimana pertarungan berlangsung.

Wanita asasin itu cukup berbahaya dan setelah apa yang dilakukan oleh sang gadis berambut Caramel, jadi semakin berbahaya. Kalau ia ingin menang, maka ia harus membantu wanita itu dan kemudian membunuhnya.

Di sisi lain, gadis berambut caramel tampak tak terbiasa dengan pertarungan dan peperangan. Ia bukan petarung meski Kolator bisa melihat kesedihan dalam garis hidupnya. Tapi gadis itu sama sekali tak ingin terlibat dalam pertarungan ini.

Di sisi lain, sang bocah tampak ketaktan dan tak bisa melakukan apa-apa namun kekuatannya amat berbahaya. Mengendalikan pikiran lawan dan membuatnya gila? Bukan hal yang bisa ia tahan kalau saja ia tak segera menutup indera pendengarannya.

Sang Ksatria, meski sekarat, masih ingin bertarung. Sebuah niat yang hebat dan sejujurna Kolator ingin mebantu. Tapi ia tak akan membantu. Ia akan membunuh siapapun yang bertahan dalam pertarungan mereka dan membunuh sisanya.

Demi kemenangan.

*
[Act 3]

Ucup merasa tak berguna. Ia tak mau teman-temannya –atau paling tidak yang ia anggap sebagai teman- susah karena dirinya. Ia ingin membantu, ia ingin melakukan sesuatu, bergerak sendiri tanpa diperintah. Ia ingin menolong.

Jadi, tanpa mengatakan apa-apa pada mbak Carol, Ucup menyusup keluar dari bangunan bank. Hujan masih turun, namun sudah mulai reda. Matahari sudah terbenam dan jalan makin ramai, namun beberapa polisi tampak mengalihkan arus ke jalan lain.

Ucup kemudian menghentikan langkahnya. Tampak dari jauh, pertarungan sedang terjadi. Pedang beradu pedang, dalam keadaan sekarat-pun, Ucup bisa melihat bagaimana pertarungan itu berlangsung meski dari jauh. Orang-orang yang terlibat seakan terusir dari tempat itu, menghindari pertarungan kedua pengguna pedang itu tanpa menyadari apa yang terjadi.

Beberapa mobil kini sudah meledak dan membakar beberapa warung di sekitarnya. Bebera warga tampak keracunan. Jadi apa yang harus Ucup lakukan?

Ia memainkan sebuah music.

Musik yang mengeluarkan segala kesenangan, kedamaian, masa-masa dan perasaan yang indah saat ibunya masih hidup, menyanyikan lagu yang indah, mencertakan cerita yang seru, semua hal yang mengingatkan Ucup pada masa kecilnya yang menyenangkan.

“Kau akan menghancurkan rencanaku, anak kecil!”

Tangan Ucup berhenti saat sesosok pria bertato aneh di sekujur tubuhnya menyentuh keningnya.

“Tanah Farum tak memerlukanmu,” dan dengan kalimat itu kesadaran Ucup memudar.
--Ucup has been eliminated—
Four participant left

*

Carol dengan cepat melesat keluar bank, dalam kesedihannya, Ia tak menyadari bahwa orang yang paling ia lindungi menghilang dari penngawasannya. Saat ia sampai di depan sebuah hotel, ia melihat kejadian itu.

“Tanah Farum tak memerlukanmu,”

Dan dengan itu, tubuh Ucup jatuh tak bernyawa. Tubuhnya berubah menjadi abu dan kemudian menghilang dalam aliran air hujan yang masuk ke selokan. Apa yang Carol ingin lindungi, apa yang Carol coba lindungi, kini menjadi abu.

“Pergilah,” suara laki-laki bertato aneh itu menggelegar di telinga Carol, “Kau tak ingin bertarung, kan? Jadi pergilah.”

“Percy Jackson dan Pencuri Petir,” gumam Carol, “Rick Riordan.”

Sebuah buku hadir pada panggilannya dan dengan cepat Carol membukanya, dengan keseriusan, amarah dan semua perasaannya, mulai membaca.

“Laki-laki di motor itu akan membuat pengulat pro lari mencari ibunya. Dia memakai kaos olahraga bewana merah dan jeans bewarna hitam dan lap kulit dengan pisau berburu tertempel di pahanya. Dia memakai selendang merah dan memiliki wajah paling kejam dan brutal yang pernah kulihat –tampan namun kejam- dengan rambut berminyak dipotong ala pelaut dan pipi yang dihias luka dari banyak sekali pertarungan. Yang aneh adalah, aku seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.”

Sesuai dengan apa yang ia baca, seorang laki-laki muncul, dengan deskripsi yang sama dan siap bertarung.

“Ares, Hanya turuti perintahku dan hajar dia,” ujar Carol.

Dan Ares menerjang dengan tangan siap memukul. Namun laki-laki bertato itu dengan mudah menghindar. Seakan ia bisa menebak gerakan Ares, seakan ia bisa memprediksi dimana tepatnya ia akan menyerang.

Ketenangan itu, bahkan dengan skill terakhir yang ia pelajari, ia tak bisa membaca emosi ataupun apa yang dirasakan orang itu. Dingin, kaku, tak terbaca seperti tembok yang melindungi kota dari ombak.

Laki-laki bertato itu kemudian menangkap kepala Ares dan hanya dengan begitu, Ares menghilang dari hadapan Carol. Carol tertegun, bagaimana mungkin?

“Makhluk yang kau ciptakan menyalahi aturan alam,” kata laki-laki itu, “kau juga harus dibunuh.”

*

Rex kewalahan. Pada akhirnya, ia akan mati tanpa membunuh perempuan itu. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan? Rex kembali menghindari tusukan lawannya. Masih pedang yang sama, pedang beracun yang membuat tangan kanannya kini mati rasa. Sebentar lagi ia akan kehabisan nafas dan mati, namun ia menolak untuk kalah.

“Jarang sekali ada orang yang bertahan selama ini,” ujar si wanita asasin, “Mungkin aku harus memberikanmu kematian instant dan menggunakan tubuhmu sebagai hiasan rumah,” sambungnya, “kira-kira akan bagus tidak ya wajahmu itu ditemepel bersanding dengan wajah BOA?”

Rex kembali menerjang, kali ini menarget tangan yang memegang pedang, wanita itu tak siap dengan serangan kejutan dan dengan cepat kehilangan pedangnya. Namun pedang itu tidak jatuh ke tanah, melainkan menghilang seakan tak pernah ada di sana, sebagai gantinya, sebuah Glaive meluncur dari lengan bawahnya. Perut Rex tertusuk, namun Rex tak menyerah.

“Sword of the Devoted!”

Dengan rapalan mantra itu, bahkan sang Asasin kini mampu melihat pedangnya. Sebuah pedang tumpul dan tua namun bercahaya seakan sang dewi sendiri telah membuatnya dan membrkatinya dengan kekuatan.

Dan Rex menerjang. Dengan kecepatan yang dimiliki oleh tubuh terakhirnya, Rex menerjang. Pedang diayunkan, glaive diangkat sebagai penangkis, namun Pedang para raja mematahkan glaive milik sang Asasin, wanita itu berusaha kabur, bergerak Ke arah kanan, namun saying, Giruvegan masih melanjutkan lajunya dan memisahkan tangan kiri sang Asasin dari bahunya.

Darah beracun mengenai mata Rex, ia kehilangan pengelihatannya dan kini jatuh di kedua lututnya. Gadis asasin di hadapannya murka, menahan sakit dan siap membunuh sang Ksatria yang dikhianati, namun belum sempat pedang yang menggantikan glaive menyentuh lehernya, Rex ambruk.
--Rex has been eliminated—
Three participant left
*

Carol tak bisa lari. Ia bisa mengendalikan [Dunia] itu sendiri. Apa yang ia kehendaki dan ia tidak kehendaki bisa hilang dan muncul di sekitarnya. Itulah yang Carol pahami. Beberapa kali Carol melemparkan makhluk bacaannya, mulai dari Goliath sampai Heracles, semuanya hilang hanya dengan sentuhan tangan.

Jadi apa yang harus Carol lakukan? Pikir-pikir!

Carol melancarkan beberapa bebatuan dan buku-buku tebal Ke arah laki-laki itu, namun dengan mudah ia menghindarinya. Ia menghindar, mungkin artinya kekuatan laki-laki bertato itu tak sehebat Dewa Thurq. Dan kenapa juga ada orang sekuat dewa di sini?

Pikir pikir! Carol berhenti dan kemudian menarik glock dari syallnya, namun ini juga tak akan bisa mengalahkan laki-laki itu. Jadi Carol kembali memanggil.

“Harry Potter dan artifak kemaian, Harry Potter dan pangeran berdarah campuran oleh JK.Rowling,” panggilnya, “Twillight, New Moon, Eclipse oleh Stephanie Mayer!” lima buku muncul sekelilingnya, namun Carol tak berhenti, “Percy Jackson dan pencuri petir, Percy Jackson dan lautan monster, Percy Jackson dan kutukan titan oleh Rick Riordan,” nafasnya mulai memendek, namun Carol tetap memanggil, “Kane Chronicles dan Piramid Merah,” semua buku yang Carol panggil kini melayang di sekeliling laki-laki bertato itu.

Dan dengan konsentrasi yang amat tinggi, Buku-buku itu mulai bergerak dan menyerang laki-laki bertato itu. Pria aneh itu berhasil menghindar, dengan kelenturan dan kecekatan, ia mulai mendekati Carol. Namun Carol melompat menjauh dan memanggil semua buku tadi dan menumpuknya menjadi satu, menggerakkannya ke kepala sang laki-laki.

Namun kali ini si pria botak bertato melakukan hal yang tak terduga, ia menyentuh sebuah rambu-rambu di dekatnya dan mengubahnya menjadi tembok tepat di belakangnya, menghalau semua serangan Carol. Carol yang panik bergerak mundur.

“Alkemis?”

Tanpa menunjukkan emosi apapun, lawan Carol menerjang. Di tangkapnya air hujan di atasnya dan dalam sekejap air itu berubah menjadi jarum-jarum es yang dilempakannya ke arah Carol. Carol berusaha menghindar, namun salah satu jarum es itu berhasil menusuk mata Carol.

Carol tersandung dan kemudian jatuh terduduk. Si tato bergerak mendekat dengan cekatan dan kemudian menyentuh dinding di sebelahnya, mengubahnya menjadi pisau yang kemudian diarahkan ke leher Carol. Carol menarik pisaunya dan menangkis pisau Kolator, kedua pisau beradu dan akhirnya saling dorong.

“The Lord Of The Ring, JRR Tolkien!” panggil Carol, dan dari belakang Carol, sebuah buku melesat kea rah si pria bertato.

Lawannya berhasil menghindar, namun kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Carol. Carol melemparkan pisaunya dan mengendalikannya dengan telepati, berharap pisau itu berhasil mengenai lawannya. Namun Pria itu dengan lincah berhasil menghindar.

Keputusasaan mulai melanda Carol. Bagaimana ini? Laki-laki ini tak akan menyerah, laki-laki ini akan membunuhnya.

*

Gadis yang satu ini pintar sekali menghindar, pikir Kolator. Masih dengan ketenangan yang sama, Kolator menghindari semua yang dilemparkan oleh gadis itu. Kekuatan yang unik, meski ia tak mampu mendeteksi energy yang ia gunakan untuk mengangkat benda-benda yang ia lempar, ia masih mampu mendeteksi energy dalam setiap benda yang ia lempar.

Sebuah buku tebal, kotak pos, batu, pot bunga dan banyak lagi benda yang tak Kolator kenal. Beberapa dihindari, beberapa yang lebih besar diubahnya menjadi hal yang lebih berguna, seperti pisau atau pedang, yang akhirnya ia gunakan untuk mencoba membunuh gadis itu.

Namun gadis itu selicin belut. Segala serangan berhasil ia hindari atau hentikan dengan kekuatan misterius tadi. Jadi Kolator melakukan hal yang paling ekstrim. Ia memegang sebuah gedung tinggi di sebelahnya dan dengan kemauannya, keinginannya, menghancurkan satu sisi gedung itu, membuatnya jatuh ke arah mereka. Kolator mengurangi segala probabilitas reruntuhan jatuh ke arahnya dan menambah kemungkinan gadis itu terluka –atau mati- tertimpa reruntuhan.

Dilacaknya energy semua batu yang jatuh, energy dimana gadis itu berada, energy darimana batu dan reruntuhan akan dan mungkin saja jatuh dan diubahnya jalur jatuh batu-batu itu kearah gadis itu. Ia bisa merasakan kepanikan, namun di luar dugaan, semua batu yang jatuh ke arahnya dilemparkan ke arah Kolator.

Kolator menghindar, namun batu-batu yang dilemparkan terlalu banyak dan batu yang terbesar mengenai perutnya, cukup untuk membuatnya jatuh terjengkang. Namun gadis itu kini terkunci, menahan material bangunan yang besar-besar dan nyaris jatuh dari atasnya.
Ia bisa melihat energy gadis itu kini terfokus pada kedua tangannya yang mengarah ke atas, kemungkinan hal yang tak terlihat itu membentuk sebuah piringan yang menahan jatuhnya material tersebut.

Jadi Kolator bangkit, tersenyum penuh kemenangan dan mendekat. Ia bisa merasakan semua material di sekelilingnya, namun semuanya terarah pada gadis itu. Sedikit gerakan dan gadis itu akan tenggelam dalam reruntuhan sementara dirinya aman dari material apapun yang mungkin akan jatuh.

Sekarang, apa yang ia akan lakukan?

Kolator meraih satu batu dan mengubah bentuknya menjadi pisau tajam. Delapan langkah, tujuh langkah, enam langkah. Kolator mengambil satu batu lagi yang ia ubah menjadi pisau tajam kedua. Lima langkah, empat langkah, tiga langkah, Kolator menyiapkan sasarannya.  Jantung dan tenggorokan, target yang akan membuat gadis itu mati tanpa rasa. Di dalam keadaan seperti ini, rasanya terlalu kejam kalau ia tidak meninggalkan jenazah untuk dikremasi keluarganya. Dua langkah, satu langkah…dan ditusukkannya kedua pisau itu ke…

Gempa?

Kolator yang panik merasakan energy di sekelilingnya. Ada apa ini? Kenapa batu-batu itu bergerak? Kenapa mereka tidak menuju ke arah gadis itu? Kenapa…namun pikiran Kolator terputus saat sebuah material besar mengenai pundaknya. Sakit, namun Kolator berhasil bangkit dan melompat mundur. Material kedua mengenai kakinya, menghancurkan jemari kakinya, Kolator tak bisa bergerak.

Selamat tinggal, kakek tua!” kata gadis itu bersemangat. Dan seakan ada sebuah jalur yang mengarahkan, material-material itu jatuh ke arah Kolator.
--Kolator has been eliminated—
Two participant left
*

Hujan telah reda dan rembulan menyinari segala penjuru kota. Dibantu dengan lampu jalan yang ada di sisi jalan, jalan kota terlihat lebih terang. Hancurnya sebuah gedung dengan misterius menyebabkan orang berkerumun, beberapa mobil ambulan dan polisi memblokade jalan untuk memeriksa apakah ada korban dalam peritiwa itu.

Beberapa orang yang berlalu lalang mengungkapkan betapa anehnya hari ini, kekacauan demi kekacauan muncul tanpa sebab. Banyak dari orang-orang itu berharap bahwa ketenangan kembali ke kota mereka tercinta. Namun Carol tahu keadaan masih jauh dari kata tenangDengan seorang asasin berkeliaran, Carol ragu bahwa mala mini akan berakhir dengan tenang sebelum salah satu dari mereka tewas.

Pada akhirnya ia membunuh satu orang. Menahan material bangunan yang lebih besar dari buah kelapa sambil mengarahkannya agar jatuh ke arah lawan benar-benar menghabiskan tenaga. Ia mungkin bisa menghindari serangan yang diarahkan padanya, tapi siapa sangka ia punya satu blindspot. Atau mungkin ia terlalu kaget dengan apa yang Carol lakukan.

Tapi disisi lain, rasa bersalah mengikat hati Carol. Tidak seperti Ucup, mayat laki-laki bertato itu masih ada di tempat kejadian perkara, dingin dan berdarah, tak terjamah seakan orang tak perduli bahwa mayatnya ada disana, memberikan sensasi nyata pada Carol bahwa ia telah membunuh satu manusia, merampas sebuah nyawa, persetan dengan apakah mereka mati atau tidak, yang jelas Carol baru saja membunuh.

Dan untuk selamat, ia harus membunuh satu orang lagi, atau lebih jika dewa Thurq menghendaki.

*

Awalnya Cia memiliki keinginan sederhana, memenangkan pertarungan ini dan mendapatkan reinkarnasi ke kehidupan yang lebih bebas. Namun saat gadis itu –entah bagaimana- menghancurkan musik yang mengisolasinya dari dunia, Cia –atau mungkin Regine- memiliki target tambahan.

Bunuh gadis itu.

Regine akan dengan senang hati membuat gadis itu tersiksa sebelum perlahan-lahan membunuhnya, Cia akan memberikan kematian yang instan. Bagaimanapun, keduanya sepakat bahwa mereka akan memberikan sakit pada gadis itu.

Bahkan dengan satu tangan, Darcia Regine Cobrina Viprez mampu melakukannya.

*

Pedang beracun, hal pertama yang dilakukan Carol saat melihat pedang itu di tangan kiri lawannya adalah lari! Lari secepat mungkin! Namun dengan satu tangan-pun, Sang Asasin mampu menyusul Carol.

Keduanya mungkin kelelahan, namun wanita itu tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, malah seakan nafasnya terengah memacu kakinya lebih cepat dan saat Carol sudah ada di jangkaua pedangnya, wanita itu mengayunkan pedangnya.

Carol memberhentikan kakinya secepat mungkin, membuat sang pengejar menabrak tubuh Carol, keduanya terjerembab dan Carol memanfaatkan kesempatan itu untuk melemparkan pedang dari tangan pemiliknya sejauh mungkin.

Namun setetes darah mengenai mata kanan kiri Carol dan dengan cepat, Carol kehilangan kedua pengelihatannya. Panik, Carol langsung menendang lawannya menjauh. Darah apa ini? Panik, Kalap, ketakutan, Carol menyentuh matanya dan berusaha menyingkirkan darah itu dari matanya, namun perlahan ia merasakan otot-otot wajahnya kesemutan.

Racun cobra? Racun yang sama yang melukai tuan ksatria?

*

Regine bangkit dan tertawa senang melihat lawannya, targetnya, mangsanya, kehilangan kedua pengelihatannya dan seperti anak ayam kehilangan induknya, mulai meraba-raba sekelilingnya. Namun Regine baru saja kehilangan pedang, jadi ia menerjang dan detik berikutnya sebuah pukulan mendarat di kepala gadis itu.

Namun Regine tak membiarkan gadis itu jatuh begitu saja, diraihnya tangannya, ditariknya tubuh gadis itu dan kemudian sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya. Regine tertawa antusias, pukulan demi pukulan dilancarkan, bukan hanya wajah tapi juga perut.

“Ayo ayo! Cuma segini kemampuanmu? Setelah kau berani menhancurkan headphoneku?” maki Regine.

Namun tiba-tiba sesuatu yang tak terlihat menarik tubuh gadis itu menjauh. Itu dia, kekuatan yang menghancurkan headphonenya. Regine semakin bersemangat dan kembali menerjang. Namun seperti digerakkan tali boneka, gadis itu menghindar dengan cepat.
Tali?

*

Tubuh Carol mati rasa dan ia tak bisa melihat. Yang ia bisa lakukan saat ini adalah mengangkat tubuhnya dengan telekinesis seperti boneka tali. Menyedihkan, pikir Carol, paling tidak ia masih memiliki otak untuk menggerakkan benda-benda di sekitarnya dan tubuhnya.

Carol tak bisa merasakan gerakan lawannya, jadi ia menghindar begitu tangan nyaris mengenai tubuhnya. Waktu dan kesempatan, membahayakan dirinya sebagai target untuk kemudian dengan cepat menghindarinya. Tapi kemudian apa? Carol mulai putus asa.

Sebuah rencana tersusun dan Carol segera memindahkan –atau mengangkat, kalau kau saat ini sedang menjadi boneka- menjauh dari lawan. Dari desah nafas yang ia dengar, tampaknya lawannya mulai kelelahan.

Ia berteriak, memanggil semua judul buku yang saat ini keluar dalam pikirannya. Sebanyak mungkin, secara bertahap. Ia lelah dan ia tak bisa merasakan tubuhnya. Namun selama mulut masih bisa memanggil, Carol tetap merapal, memanggil semua buku yang ia ingat. Lima demi lima buku muncul di belakangnya.

Tubuh Carol disandarkan pada sebuah tembok –atau paling tidak ia merasakan punggungnya telah menyentuh tembok- dan ia menyebarkan Telekinesisnya seperti kain, membayangkan dan memprediksi dimana lawannya berada.

Dan kemudian seluruh buku itu diluncurukan.

*

Ha! Dia pikir buku-buku bodoh ini cukup untuk membunuhnya? Mana serangannya banyak yang tidak kena, pula! Regina tampak murka. Bahkan setelah Regine menghajar gadis itu, ia hanya melakukan ini?

“Apa yang kau pikirkan menyerang dengan buku-buku bodoh in…” kalimatnya terputus saat sebuah pisau menancap tepat di kepalanya.
--Darcia Regine has been eliminated—
Last one standing!

*

Untunglah gadis itu banyak bicara, pikir Carol. Saat ini, tubuhnya terasa terbakar. Tak lagi ia perdulikan siapa yang terlebih dahulu tewas. Apakah dirinya atau lawannya. Namun ia puas dengan apa yang sudah ia lakukan.

Pustakawan juga bisa bertarung.

Di dekatnya, sebuah kepakan sayap terdengar dan seseorang –sesuatu?- berdiri di sebelahnya, dengan lembut mengangkat tubuh Carol yang terluka parah. Dalam bisikan, sosok itu berkata.

“Carol Lidell berhasil memenangkan Ronde 1-D.”

*


[1] I struggle and emerge : Motto of the Dutch province of Zeeland to denote its battle against the sea, and the Athol Murray College of Notre Dame.



23 comments:

  1. Aieeee... adudududuh... Arai, kenapa tulisannya berantakan? Typo, kesalahan EYD, bahkan beberapa kali kesalahan menulis nama OC bertebaran di mana-mana terutama di bagian-bagian awal. "Perduli"? Seriously, Arai? Ini pasti nggak diedit dulu langsung submit. Moi pikir ini fatal karena OC vous itu seorang librarian yang pasti sering membaca buku, jadi kayaknya ironis aja kalo authornya banyak melakukan typo layaknya penulis kemaren sore. Buat penulis sekaliber Arai, this is unacceptable, this is heartbreaking.

    Dan moi ga terima Rex tidak menunjukkan betapa gentlemen-nya dia! Pa-Pa-Padahal kan Rex itu prince charming on the white horse-nya moi #blush. O ho ho hon. Moi ngomong apa sih? Lalu, Kolator juga tidak tereksplor dan cepet matinya walo moi ga terlalu masalahin sih. Kolator ribet sih #ehh :v O ho ho ho hon.

    6 dari moi.

    ReplyDelete
  2. Saya kok ga ngeh Kolator sama Rex matinya kayak gimana, berasa yang penting mereka kalah, kurang penjelasannya
    Karena kau pasti bosen dikritik soal teknis - yang entah kenapa ternyata belum berubah juga -, saya mau bilang satu lagi aja. Karakter Carol kurang dapet di sini, bahkan paruh awal saya lebih ngerasa Ucup sama Rex yang dominan. Lain kali kalo ngebagi fokus karakter, coba di-plan dulu porsi tiap part biar karaktermu sendiri ga ke-overshadow sama yang lainnya

    6/10

    ReplyDelete
  3. story-wise saya udah bisa bilang lumayan walau ada sebagian yang nggak ngeh..

    battle-wise buat saya keren, tapi rasanya itu Ucup matinya gampang banget, dan kolator di sini kesannya jadi overpowered gitu..

    7/10 deh

    ReplyDelete
  4. Saya ga baca charsheet karakter sebelum baca ini, dan saya bingung sama karakterisasi + skill - skill tiap karakternya. >.< Imo sih meski sedikit tiap jurus atau karakter itu dikenalin dulu pas kemunculannya.
    Penulisannya masih rada membingungkan, sama battle nya dipertajam dikit lagi nih supa pace dan pergerakannya makin enak diikuti.

    Nilai 5!

    ReplyDelete
  5. Banyak typo...... gak nikmat bacanya........ -_-
    dan itu Rex gimana matinya??

    6/10

    ReplyDelete
  6. Duh, bangun pagi baca ini, beneran pusing. Mulai dari typo, tempo yang buru-buru, dan fokus karakter yang saya rasa nggak pas.

    Saya nggak tau kenapa kak sam dan rayan ga ngeh matinya Rex gimana (kalau saya sih nangkep) tapi saya setuju sama kak sam. Ini yang penting : Selain carol mati ajalah.

    Saya nggak tau apa hantu bisa membunuh manusia asli tapi ya sudahlah, kesampingkan itu.

    Saran saya satu : Hati-hati terhadap autotype. Musik jadi Music, tapi asasin nggak berubah jadi assassin.

    +7

    ReplyDelete
  7. Dari sudut sebuah gedung gelap, Luna membuka seluruh kotak peralatannya. Namun, dari sekian banyak peralatan yang ada di sana, ia memilih mengambil sebuah laptop dan modem internet.

    “Ini zaman modern. Dan salah satu cara untuk menganalisis data yang berantakan adalah merapikannya terlebih dahulu.”

    Luna mendownload data yang ada di internet mengenai seseorang yang menarik perhatiannya. Pustakawan. Dan sebaya dengannya. Hanya saja, anak itu lebih senang memakai baju hitam, alih-alih Luna yang lebih senang memakai baju putih.

    Luna mengetikkan sebuah command yang membuat data itu menjadi rapi.

    «Ctri-C – Ctrl-V – Normal Mode – Calibri 11 – Remove Space After Paragraph»

    “A… apa ini?” ujar Luna setelah menganalisis data sepanjang 22 halaman itu.

    Ia menemukan scene dimana seorang pengamen cilik menyaksikan teman-temannya dibentak oleh sekelompok laki-laki berpakaian preman. Seorang wanita membawa pedang yang bertarung dengan seorang pria pemakai baju zirah dan pedang emas. Dan pengamen cilik itu masih saja mendominasi data tersebut sebelum sang pustakawan datang dan membereskan mereka semua.

    Sebuah kamus tebal terbentang di sampingnya. Untung saja ia masih bisa menemukan benda ini di dasar gedung.

    “Akhirnya, setelah sekian lama. Tak sia-sia aku menghabiskan uang sakuku untuk membeli kamus ini—setelah bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji selama empat bulan.

    Luna masih terus menganalisis data yang ada di depannya.

    “Akan tetapi, ini terlalu fatal. Untuk data yang dikeluarkan mengenai seorang pustakawan, ini tidak cukup. Aku tak menemukan sesuatu yang menarik dalam data ini. Aku harus mencari sumber lainnya.”

    Luna memilih menutup data itu. Lalu, dengan perlahan, Luna mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya kepada seseorang yang tidak dikenal. Kelak, seorang hacker yang berhasil membobol email Luna mengetahui, ada tujuh sandi rahasia yang harus dienskripsi sebelum bisa membaca pesan tersebut.

    ReplyDelete
  8. Mendingan auto correct Word-nya dimatiin aja, Arai. Biar nggak ada lagi “Cuma”, “energy”, “music”, “saying”, dan sejenisnya.

    Dan masuk ke review ... hmm, tampaknya buku-buku yang dimunculkan Carol ternyata daftar bacaan novelnya Arai sendiri? Seharusnya buku-buku yang ada di katalog Library of Fate itu tidak hanya novel fantasi yang terbit di bumi, ‘kan?

    Sejumlah kalimat-kalimat tak efektif, typo, kerancuan penggunaan kata ganti, masih menghiasi tulisanmu. Tetapi yang paling mengganggu sebenarnya adalah adegan kematiannya yang tak tergambarkan dengan jelas. Untuk kematian Cia dan Rex, mungkin masih bisa dibayangkan. Tetapi bagaimana Ucup mati? Lalu Kolator sendiri? Kematian si Windighi inilah yang paling tak terbayangkan oleh imajinasi saya :/

    Ah iya, sebagai tambahan saja. Kayaknya bakal lebih enak kalau bahasa yang digunakan preman-preman Bandung itu adalah bahasa Sunda Terminal yang kasar. Juga ketika Ucup memanggil Carol, sapaan “Teh” akan lebih logis terdengar dari mulutnya daripada “Mbak”. Dan agak aneh juga ketika Rex tak “memahami” bahasa penyiar dalam berita karena terkendala bahasa. Padahal Rex bisa berkomunikasi dengan semua peserta lain tanpa masalah (termasuk dengan Ucup).

    Oke, karena cerita ini masih banyak kekurangannya, saya berikan 5.5 saja.

    ReplyDelete
  9. Saya gak masalahin Teknik.
    saya tahu Rex mati keracunan.
    Tapi saya gak ngerti kenapa Caroll gak mati keracunan.

    saya gak ngerti alasan kolator mati.

    6/10

    ReplyDelete
  10. "The story goes too fast makes the reader doesn't feel excited." - unknown knight temple-
    *berusaha ga ngos-ngosan pas baca >.<*

    - Arai~~ typo-mu indah sekali~ *ngakak baca mala mini*
    - ini batle-nya keren, cuma umi bingung, gimana caranya si Regine mati? siapa yang nusuk? telekinesisnya Carol?
    - wkwkwkw.. sepertinya semua orang yang baca punya minimal satu karakter yang ga dia ngerti cara matinya..

    Arai, umi kasih 6/10 ga papah yaaahh :D

    ReplyDelete
  11. waah, serasa baca battlenya shina lg, pake referensi karya2 yg udh terkenal :)
    lumayan asik sih kak, ternyata matinya kolator lumayan gampang, yg lainya matinya jg cepet sih, tp ok jg bikin carol buta, jd terasa ada perjuanganya
    nilai 7,5/10 :)

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -