April 16, 2014

[ROUND 1 - F] NIM IMANUEL - AYO MAIN BONEKA~!

[Round 1-F] Nim Imanuel
"Ayo Main Boneka~!"
Written by Yuu

---

"Selamat datang di Devasche Vadhi."

Suara itu membahana di seluruh penjuru dataran merah yang nampak
seperti neraka ini. Semua mata sontak tertuju pada sumber suara milik
sosok merah agung bagaikan dewa di atas balkon sana.

"Sebelum salah paham, aku akan mengatakan hal ini,"

Tidak ada yang berbicara, berbisik pun enggan.

"Kalian semua yang ada di sini, sudah mati."

Hening.

"Kalian berada di Nanthara Island. Pulau yang hanya bisa dijejaki oleh
mereka yang sudah mati,"

Apa ... yang dia bicarakan?

"Beberapa dari kalian masih mengingat bagaimana kalian mati, apapun
caranya semuanya adalah kehendakku, akulah yang mematikan kalian.
Sedangkan makhluk di sekitar kalian, para Hvyt, mereka yang menjadi
perantaraku dalam melakukannya. Mengambil nyawa kalian dan membawanya
ke sini."

Bohong ...

"Kalian adalah jiwa yang dipadatkan. Kalian akan merasa seolah masih
hidup, dan memang tidak ada bedanya bagi kalian. Kalian tetap
membutuhkan makan, minum dan bernapas. Tentu kalian juga bisa terluka.
Ah, beberapa dari kalian sudah membuktikannya sendiri."

Bohong ...!

"Lima puluh lima. Hanya akan tersisa satu pada akhirnya, yang akan
mendapatkan penghapusan dosa dan kelahiran kembali ke dunia tempat
asal kalian. Tak ada yang lebih berharga daripada kesempatan kedua
untuk memperbaiki takdir kalian."

Omong kosong!

"Kalian tak akan bisa mundur.Mundur artinya lenyap. Aku sendiri yang
akan membakar kalian. Tentu saja perlahan-lahan dan sangat menyiksa."

Aku belum mati!

"Kini kalian sudah mengerti. Untuk dapat bertahan hingga akhir, tak
ada cara lain selain mengalahkan siapa pun yang
menghalangi kalian."

Semua ini omong kosong!

"Lengah berarti kalah. Kalah berarti lenyap. Siksaanku akan sangat pedih."

Tabita, tolong katakan kalau semua ini tidak benar ...

"Aku tidak menciptakan makhluk hanya untuk menjadikan mereka seorang pengecut."

Tabita ...?

Di mana Tabita?

KATAKAN DI MANA TABITA-KU!!?

***

Nim terbangun dengan napas yang terengah-engah. Degup jantungnya
begitu cepat, pun seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat.

Kilasan-kilasan memori itu berkelebat begitu saja di kepalanya.
Bagaimana ia mati, bagaimana ia menemukan Imanuel, boneka pandanya.
Bagaimana saat-saat terakhirnya bersama Tabita. Tabita
mengkhianatinya. Tabita membunuhnya dan mengurung jiwanya dalam boneka
panda.

Juga bagaimana saat ia berada di dataran merah yang seperti neraka.
Mendengarkan bualan dari sosok merah bertanduk yang berlagak seperti
dewa, menyuruh ke-55 makhluk yang kebingungan di sana, termasuk
dirinya, saling bertarung untuk mendapatkan hadiah ...

Nim tercenung. Ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan kedua agar ia
bisa kembali ke sisi Tabita, wanita yang ia cintai.

Dan satu-satunya cara adalah bertahan sampai akhir. Itu artinya
peserta selain dirinya harus mati.

...atau setidaknya mereka bisa menjadi koleksi barunya yang keren.

"Kau baik-baik saja?"

Nim menoleh, mendapati seorang wanita anggun berambut perak dengan
gaun hitam menatap cemas padanya.

"Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di jalanan tadi. Jadi aku—"

"Kakak siapa?"

Wanita itu terdiam sejenak kemudian tersenyum. Sama sekali tidak marah
karena ucapannya dipotong. "Marion. Kau boleh memanggilku Mari kalau
mau."

"Mari," ulang Nim. "Namaku Nim! Dan ini Imanuel," ujarnya riang seraya
memeluk boneka pandanya. "Mari tadi menolongku, kan? Terima kasih,
ya! Mari baik ...," mendadak Nim merendahkan suara, nyaris tidak
terdengar, "...seperti Tabita."

Marion mengernyit saat mendapati ada seringaian samar di wajah Nim.
Namun sesaat kemudian seringaian itu menghilang digantikan oleh tawa
riang khas anak-anak.

"Aku tidak tahu apa alasan Thurqk mengikut sertakan anak kecil
sepertimu dalam pertarungan bodoh ini. Tapi yang jelas, aku tidak
ingin menyakitimu. Aku tidak ingin bertarung denganmu," ujar Marion
lembut.

"Siapa Turk? Monster merah aneh itu? Yang berbicara sambil nangis
darah di depan kita semua? Kasihan sekali dia. Mungkin sewaktu hidup
dia itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang seperti
Tabita. Mari lihat wajahnya, kan? Terlihat menyedihkan sekali," ujar
Nim prihatin.

Mendengar ocehan Nim, Marion langsung tertawa. Anak ini pasti tidak
tahu kalau dia sedang menghina seorang dewa, pikirnya.

"Ayo kita pergi dari sini," ujar Nim tiba-tiba membuat Marion heran.

"Kita mau ke mana?"

"Bertarung, kan? Mari bilang Mari tidak mau bertarung denganku. Jadi
ayo kita cari peserta lainnya! Aku akan membantu Mari mengalahkan
mereka semua. Ini adalah kota tempat asalku. Jadi Mari tidak perlu
khawatir. Mari bisa mengandalkanku!"

Meskipun ragu, Marion pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Nim. Toh
salah satu lawannya, mungkin yang paling lemah, kini berada dalam
pengawasannya.

***

Seorang pemuda berambut jabrik dengan dandanan ala emo style terlihat
mengumpat berkali-kali di depan meja bar utama. Ia kesal. Sudah sejam
lebih ia berada di dalam bar ini namun tidak ada seorang pun yang
mempedulikannya. Berkali-kali ia berteriak memesan minuman, namun sang
pemilik bar tetap asyik mengelap gelas-gelas miliknya sambil sesekali
bergosip pada pengunjung yang kebetulan menghampiri tempatnya.

"Hei, Pak Tua! Kau tuli, ya? Mana minumanku? Kenapa kau tidak
membawakan minumanku sejak tadi?! Sudah sejam lebih aku menunggu,
tahu!"

Kali ini sang pemilik bar asyik bersiul-siul membuat pemuda emo yang
bernama Xabi itu semakin berang.

"DASAR PAK TUA MENYEBALKAN!!"

Guna meluapkan amarahnya, Xabi tanpa sadar menendang kursi yang ada di
dekatnya. Malang bagi pria brewokan yang kebetulan tengah menduduki
kursi tersebut. Ia jatuh terjengkang dan menghantam lantai kayu dengan
sukses. Pria yang setengah mabuk itu bergegas bangkit guna mencari
tahu siapa pelaku yang berani-beraninya membuatnya terjengkang. Xabi
yang menyadari kesalahannya langsung bergidik ngeri. Buru-buru ia
mengambil sebuah kotak hitam kecil dari dalam saku celananya,
mengeluarkan sebuah jarum dari dalam kotak itu dan segera mengubahnya
menjadi katana.

Pria brewokan yang sedang kalap itu segera melayangkan tinjunya tepat
ke arah wajah Xabi. Xabi menyambut serangan tersebut dengan berkelit
sedikit seraya menyabetkan katananya ke perut pria brewokan.

Namun hal yang terjadi berikutnya membuat Xabi terkejut.

Suara tinju yang menghantam wajah seseorang terdengar begitu keras.
Namun Xabi tidak merasakan nyeri apapun. Begitu pun katananya yang
kini justru menembus perut si pria brewokan tanpa melukainya
sedikitpun. Xabi berbalik dan mendapati seorang pria kurus nan pucat
tengah terkapar seraya mengerang kesakitan. Darah segar merembes dari
sudut bibirnya.

"ITU PEMBALASAN DARIKU ATAS TINDAKAN BODOHMU TADI!" sembur si pria
brewokan seraya menunjuk-nunjuk si kurus yang terkapar.

Xabi terbengong. Ia teringat akan perkataan si dewa di dataran merah
itu yang mengatakan hal-hal konyol sebelumnya.

Jadi dia benar-benar sudah mati, ya?

Untuk memastikannya, Xabi kembali melayangkan katananya ke pria
brewokan tadi. Namun lagi-lagi katananya seolah hanya menebas angin.

Xabi mendengus kesal. Pantas saja si pemilik bar tidak mempedulikannya
sejak tadi. Ternyata ia tidak lebih dari seorang hantu di kota ini.

Ia pun melangkah keluar dari bar, berharap bisa menemukan empat
peserta lainnya dan segera menghabisi mereka.

***

Tommy Vessel, seorang pria paruh baya dengan rambut berwarna coklat
disisir rapi serta kumis dan janggut sewarna yang menghiasi wajahnya.
Saat itu sudah sore hari saat ia mendadak muncul di kota khas eropa
abad pertengahan ini. Cahaya kemerahan di langit membuat suasana
terasa sedikit hangat.

Ia ingat apa yang terjadi sebelum ia dibawa ke dataran merah oleh Hvyt
sang malaikat merah bersayap hitam. Ia kesal karena semakin banyak
orang mengkritik boardgame rancangannya kurang seram dan tidak unik,
Tommy pun nekat mempelajari okultisme untuk riset rancangan boardgame
barunya. Ia membentengi diri dengan mewujudkan monster-monster
buatannya sebelum memanggil monster dari alam lain. Dan saat itulah
semuanya berakhir. Ia tewas pada 'permainan' pertama.

Tapi siapa sangka, setelah tewas dengan kejadian seperti itu, kini ia
justru 'dipaksa' bermain lagi oleh dewa merah bernama Thurqk. Seolah
memang ia ada, hidup dan mati, hanya untuk bermain game. Hanya saja
kali ini hadiahnya adalah 'penghapusan dosa dan kesempatan kedua untuk
hidup kembali'. Cukup menggiurkan.

Setting kota ala RPG ini membuatnya cukup bersemangat. Game kali ini
bisa dibilang cukup sederhana. Kalahkan empat pemain lain dan kau akan
lanjut ke level berikutnya.

Maka dari itu Tommy tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menjelajahi
tiap sudut kota sambil bersembunyi, waspada akan kemunculan lawan yang
tiba-tiba. Selang beberapa waktu, ia tidak menemukan tanda-tanda
keberadaan lawan.

Namun setelahnya, sebuah pemandangan ganjil menarik perhatiannya.
Seorang pemuda dengan dandanan ala emo style —di mata Tommy, pemuda
itu lebih mirip berandalan— baru saja keluar dari sebuah bar. Tommy
segera bersembunyi di dalam sebuah gang sempit yang agak gelap. Tommy
sangat yakin pemuda nyentrik itu adalah salah satu lawannya. Ia
memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot kemudian mengambil
dua dadu dari saku bajunya. Dikocoknya dadu itu dalam menara dadu yang
ia bawa bersamanya sejak tadi. Akhirnya kedua dadu itu berhenti
menggelinding dan menunjukkan angka 5 dan 3.

Tommy tersenyum. Sebuah boneka salju muncul tidak jauh darinya dan si
pemuda punk. Ia pun memerintahkan boneka salju itu menyerang lawan
pertamanya.

"Serangan pasak es!"

Xabi terkejut karena merasakan hawa yang begitu dingin dari belakang.
Saat menoleh, beberapa pasak es kini tengah mengarah ke tubuhnya. Xabi
refleks menjatuhkan tubuhnya ke samping, membuat pasak-pasak itu hanya
menghantam jalan dengan sia-sia.

"Woi, kalau mau nyerang bilang-bilang, dong! Jangan pengecut kayak gini! Dasar!"

Xabi segera mengeluarkan jarumnya dan mengubahnya menjadi katana. Ia
pun berlari menerjang, hendak menebas boneka salju.

Namun boneka salju itu tiba-tiba menghilang. Sebagai gantinya, sebuah
peri mungil muncul di belakang Xabi.

"Heh ... apa-apaan ini?"

Peri itu langsung menyemburkan api yang begitu besar, membuat Xabi
panik dan buru-buru menghindar. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Xabi
langsung melompat menerjang si peri. Peri kecil itu dengan mudah
menghindar dan kembali menyemburkan api. Xabi kesal dan kembali
berusaha menerjang berkali-kali, namun tiap tebasannya selalu berhasil
dihindari oleh peri itu dengan gesit.

Ini tidak menguntungkan bagi Xabi. Beberapa bagian tubuhnya sempat
terserempet api, membuatnya merasakan nyeri akibat luka bakar. Xabi
memutuskan untuk mundur sejenak, berusaha mencari moment yang tepat
untuk menyerang balik si peri api.

Sang peri mengejar dan sesaat melayang di tempat, hendak menyemburkan
api. Melihat adanya celah untuk membalas si peri, Xabi sontak berputar
seraya mengayunkan katananya yang dengan sukses membelah si peri
menjadi dua.

Xabi tersenyum puas. Tubuh peri itu pun luruh menjadi debu, dan saat
itulah tatapan Xabi menangkap adanya sosok mencurigakan yang
bersembunyi di gang yang tidak jauh dari tempatnya berada. Pasti sosok
itulah yang menjadi dalang dari serangan tadi. Melihat sosok paruh
baya yang sepertinya tengah sibuk itu, Xabi bergegas bersembunyi.

Tommy kesal saat kedua dadunya menunjukkan angka 5. Angka yang tidak
memberikan efek sama sekali. Peri kecilnya telah dikalahkan dan kini
ia tidak mendapati sosok si berandalan di manapun.

Tommy bergegas keluar dari persembunyiannya. Ia khawatir lawannya akan
muncul tiba-tiba dari belakang untuk menyerangnya. Benar saja, belum
lama ia berlari, Xabi tiba-tiba melompat di belakangnya siap menebas
kepala Tommy. Tommy refleks melompat maju menubrukkan tubuhnya ke
Xabi, membuat Xabi kehilangan keseimbangan di udara.

Mereka berdua jatuh bersamaan. Xabi kehilangan katananya yang tadi
terlepas dari genggamannya. Sementara Tommy panik karena kacamatanya
terlepas. Buru-buru ia meraba-raba sekitarnya dan tidak sengaja
memegang sebuah benda yang pastinya bukan kacamata.

"Jangan sentuh pedangku, Pak Tua!"

Sebuah tendangan menghantam wajah Tommy membuatnya berguling
kesakitan. Namun ia beruntung kacamatanya berhasil ia dapatkan.
Buru-buru dipakainya kacamata itu, dan yang pertama kali ia lihat
adalah semak-semak berduri yang muncul tepat di belakang Xabi. Tommy
menoleh ke menara dadunya yang tadi terjatuh bersama kacamatanya dan
mendapati angka 4 dan 2 di sana.

Tommy menyeringai, "Jerat berandalan itu!"

Xabi berteriak saat tiba-tiba saja sulur berduri melilit kakinya dan
menariknya. Hanya sesaat dan kini ia sudah terjebak di antara
semak-semak berduri yang menjeratnya. Semakin ia meronta berusaha
melepaskan diri, semakin kuat jeratan pada tubuhnya. Duri-duri itu
membuat sekujur tubuh Xabi kesakitan.

"Menyerahlah,"

"Tidak mau!"

"Kau sudah kalah, Bocah."

"Aku belum kalah, orang tua sialan!"

Mendadak terdengar suara tembakan bertubi-tubi bersamaan dengan
tersentaknya tubuh Tommy berkali-kali membuat Xabi terbelalak. Hening
sejenak. Lalu tubuh Tommy pun ambruk, menampakkan sosok seorang wanita
berambut pendek dengan rompi dan asault riffle di tangan. Asap tipis
mengepul dari senjata itu.

"Game over, Tommy~" ujar wanita itu seraya menyeringai.

Semak-semak yang sejak tadi menjerat tubuh Xabi mendadak hilang. Xabi
jatuh lemas karena kelelahan. Suara langkah berat terdengar
menghampiri Xabi. Xabi tersentak saat merasakan sesuatu yang dingin
menempel di keningnya. Ia mendongak, mendapati Yvika, wanita penembak
tadi, kini tengah menodongkan pistol padanya.

"Menyerahlah, Bocah."

Xabi hanya bisa mengatupkan rahangnya kuat-kuat seraya menatap penuh
amarah pada wanita di hadapannya.

***

"Seharusnya kita menolong orang itu tadi," muram Marion yang kini
tengah memperhatikan Yvika dan Xabi dari salah satu kamar rumah yang
berada tidak jauh dari tempat Yvika dan Xabi.

Nim yang ada di sampingnya menggeleng pelan, "Mereka berbahaya. Aku
tidak mau mereka menyakiti Mari. Mari harus tetap bersamaku agar
aman."

"Dan membiarkan mereka saling membunuh?"

"Mereka musuh."

"Kau juga, Nim! Sadarlah, kita berlima memang musuh sejak awal. Karena
itu kita harus bertarung."

Lagi-lagi Nim menggeleng, kini ia menggenggam erat tangan Marion. "Aku
tidak ingin melawan Mari."

"Aku juga tidak ingin melawanmu," ujar Marion. "Karena itu lepaskan
aku dan biarkan aku menghadapi kedua orang itu!"

"Tapi—"

Suara letusan senjata api membuat Marion dan Nim terkejut. Marion baru
saja ingin berlari ke arah sumber suara saat tangan Nim lagi-lagi
menahannya.

"Tetaplah di sini, Mari! Biar aku yang mengalahkan mereka untukmu!"

Marion terdiam sejenak menatap Nim yang kini benar-benar memohon
padanya. Namun di saat seperti ini Marion tidak bisa diam saja. Ia pun
menepis tangan Nim kemudian berlari meninggalkan kamar tersebut.

Nim hanya bisa terdiam. Berdiri di tengah-tengah ruangan seraya
memeluk boneka pandanya dengan erat.

"Mari jahat ... Mari tidak mau menuruti perintahku. Mari tidak sebaik
Tabita ..."

Semakin erat pelukan Nim pada Imanuel, semakin sesak ia rasa. Ini
menyakitkan ... sama seperti saat Tabita meninggalkannya sendirian di
rumah guna menolong orang-orang yang tidak ia kenal, yang bahkan tidak
lebih berharga darinya.

Namun nyatanya baik Tabita maupun Marion, keduanya sama saja.
Meninggalkan Nim seorang diri, membuatnya merasakan kesepian yang
menyesakkan.

Nim terbatuk karena sesak yang menderanya. Ia tanpa sadar menjatuhkan
boneka pandanya saat tubuhnya perlahan melangkah terhuyung-huyung
menuju pintu.

"Bodoh ... Mari bodoh ... boneka bodoh ...," gumamnya.

Sementara itu di tempat lain, Yvika bersembunyi di salah satu rumah
tanpa penghuni. Cahaya bulan yang menyusup di sela-sela lubang-lubang
di atap membantu menerangi ruangan pengap itu.

"Sial!!"

Yvika kesal, benar-benar kesal. Dengan tangan kiri yang gemetar ia
berusaha mengobati bahu kanannya yang terluka.

"Bocah jabrik itu ... sialan!" gerutunya. Ia teringat kembali
saat-saat di mana ia berhasil menghabisi riwayat Tommy dengan asault
riffle miliknya kemudian mengancam Xabi dengan pistol. Ia yakin
sekali Xabi, si bocah jabrik itu, sudah tidak berkutik lagi di bawah
todongan pistol. Lagipula bocah itu kelihatannya sudah tidak mampu
lagi bertarung. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka akibat jeratan
semak-semak berduri. Bocah itu hanya diam menahan amarah sampai sesaat
sebelum Yvika menarik pelatuk.

Bocah itu mendadak menendang kaki Yvika, membuat keseimbangannya
goyah. Pistol di tangan Yvika nyaris terlepas namun Yvika berhasil
menguasai diri dan kembali menodongkan senjata pada Xabi. Saat itulah
Yvika benar-benar tidak menyangka, sebuah benda menembus bahu kanannya
membuatnya melepaskan tembakan secara gegabah. Namun keberuntungan
masih memihak Yvika. Tembakan yang ia lepaskan mengenai tepat pada
kening Xabi yang sedang berdiri saat itu, siap melontarkan batu kedua
menggunakan ketapel merahnya. Apalah daya, tembakan fatal itu pun
membuat Xabi ambruk.

Yvika mendengus kesal. Siapa sangka di saat-saat terakhir bocah itu
berhasil melukainya separah ini. Ia kesulitan menggerakkan tangan
kanan. Dan itu artinya luka ini bisa menjadi kelemahan fatal baginya.
Beruntung pendarahannya sepertinya sudah berhenti setelah diperban.

Yvika mendengar suara mencurigakan dari luar. Ia pun waspada dan
bersiap mengaktifkan medan energi pelindung dari zirah lengan kirinya.
Selama beberapa menit ia diam tidak bergerak, berusaha menajamkan
pendengaran. Alat sensor di mata kanannya tidak mendeksi adanya
pergerakan mencurigakan di manapun. Namun ia yakin ada sesuatu yang
tidak beres.

Tiba-tiba atap yang menaunginya rubuh diterjang sesuatu. Yvika sigap
mengaktifkan pelindung dan berusaha melompat mundur beberapa langkah.
Ia mengamati sekeliling dengan waspada, namun lagi-lagi alat sensornya
tidak mendeteksi apapun. Tidak ada siapapun di sekitarnya saat ini dan
itu membuatnya semakin waspada. Ia pun menarik pedang pendek yang yang
tersampir di sabuk kanannya. Bersiap menghadapi apapun yang
mengancamnya saat ini.

Tigapuluh detik berlalu dan medan energi yang melindunginya pun
lenyap. Saat itulah sensornya mendeteksi ada seseorang yang bergerak
sangat cepat ke arahnya. Diayunkannya pedang di tangan kirinya yang
langsung menghantam senjata lawannya, menimbulkan suara dentingan
nyaring.

Baru saja Yvika ingin memastikan siapa lawannya, lagi-lagi lawannya
menghilang. Namun hanya sesaat karena tiba-tiba lawannya tersebut
kembali menyerangnya dari atas. Yvika refleks berguling ke samping
membuatnya meringis menahan sakit di bahu kanannya.

Marion, lawan Yvika saat ini, hanya menghantam lantai dengan sia-sia.
Ia menarik napas panjang sebelum kembali menyerang Yvika dengan
pedangnya. Yvika berhasil menahan pedang Marion dan langsung
melayangkan tendangan ke perut Marion, membuatnya terdorong beberapa
langkah ke belakang. Tidak menyia-nyiakan waktu, Yvika segera
mengeluarkan bom asap dan segera kabur menyelamatkan diri,
meninggalkan Marion yang mendengus kesal.

Marion menghela napas kemudian mulai mengamati sekelilingnya. Dan saat
itu matanya menangkap bercak darah yang berceceran di lantai.
Membuatnya tersenyum puas.

***

Nim bersenandung pelan di dalam sebuah kamar penginapan yang tidak
terurus. Sesekali jari-jari mungilnya bergerak, seolah ada benang di
ujung jarinya.

Pintu mendadak didobrak, menampakkan sosok Yvika yang terengah-engah
dengan kondisi yang sangat berantakan. Beberapa bagian tubuhnya
gosong, rambutnya acak-acakan dan luka di bahu kanannya kembali
terbuka.

"Selamat datang, Bibi," sambut Nim seraya menoleh, menunjukkan senyum
polosnya. "Apa Bibi senang bermain dengan boneka-bonekaku?"

Mendengar pertanyaan itu, Yvika sontak menggeram sebal. Jadi
boneka-boneka menyebalkan yang menyerangnya tadi itu ulah bocah aneh
ini, pikirnya.

"Ayo kita main boneka lagi~"

Bersamaan dengan ucapan itu, lima boneka kecil sekaligus muncul dari
lengan baju Nim yang kebesaran. Boneka-boneka itu melayang
mengelilingi Nim. Tiga boneka prajurit dan dua boneka assassin.

"Bibi harus jadi koleksi baruku. Supaya nanti bisa kuhadiahkan pada Mari."

"Diam kau bocah!"

Yvika mengeluarkan pistol dan segera memberondong Nim dengan peluru.
Boneka-boneka Nim dengan sigap melindungi tuannya. Yvika mencoba
menembak lagi namun sepertinya ia kehabisan peluru.

"Sial!"

Yvika melompat menghindar saat dua boneka assassin hendak menerjang
bahu kanannya yang terluka. Ia segera meraih belati yang tersembunyi
di betisnya dan segera menebas kedua boneka itu.

"Bibi jahat! Bibi merusak koleksiku!"

Baru saja boneka-boneka Nim ingin menerjang Yvika, keberadaan wanita
itu sudah menghilang membuat Nim mengerang kesal.

Yvika berlari sepanjang koridor sambil sesekali membuka pintu kamar
yang ditemuinya. Beberapa terkunci dan beberapa bisa terbuka. Ia
memasuki satu persatu kamar itu, mencoba mencari sesuatu yang bisa ia
gunakan untuk menyerang balik Nim.

Tiap kali Yvika menemukan boneka, ia terkejut dan refleks menembak
boneka tersebut. Ia mulai paranoid. Boneka terakhir yang ia temukan
adalah boneka panda kusam dengan mata juling dan mulut terjahit. Saat
ia menembak boneka itu, dari kejauhan terdengar suara teriakan
kesakitan Nim. Yvika terkejut dan mengamati boneka panda unik itu.
Diambilnya belati yang ada di betisnya kemudian ditusukkannya belati
itu di tangan boneka.

"AAAKH! TANGANKUUU! SAKIT! SAKIIIIT!"

Yvika merasa ia telah menemukan kelemahan Nim. Untuk memastikannya, ia
pun menginjak perut boneka itu. Nim berguling sambil menjerit
kesakitan di lantai. Semua benang energi yang ia hubungkan ke tiga
boneka prajurit mendadak terputus. Saat itu ia mendengar suara langkah
berat menghampirinya. Ia mendongak dan mendapati Yvika memegang sebuah
boneka panda yang ditodongkan pistol tepat di kepalanya.

Yvika tersenyum penuh kemenangan.

"Tidak! Imanuel!"

"Tamat riwayatmu bocah."

Tiba-tiba sebuah tendangan menghantam kepala Yvika membuatnya
tersungkur ke lantai kayu. Marion yang muncul saat itu bergegas
merebut Imanuel dari tangan Yvika.

"Ma-Mari," lirih Nim.

Marion berdiri membelakangi Nim yang berusaha bangkit dengan susah payah.

"Jangan salah paham, Nim. Setelah ini kita juga harus bertarung."

'Sadarlah, kita berlima memang musuh sejak awal. Karena itu kita harus
bertarung.'

"Aku tidak ingin melawan Mari," cemberut Nim.

"Aku juga tidak ingin melawanmu," ujar Marion seraya tersenyum. "Tapi
kita lihat saja nanti."

Marion mengalihkan pandangannya pada Yvika yang kini sudah berdiri
sambil menatap penuh amarah pada Marion.

"Yvika Gunnhildr, ayo kita bertarung secara adil di sini," Marion maju
beberapa langkah dan meletakkan Imanuel di antara dia dan Yvika.
"Boneka ini taruhannya. Hancurkan boneka ini kalau kau bisa, tapi
tentu saja aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."

"AP—?! Mari! Apa yang Mari lakukan!"

"Ha! Adil, katamu? Kondisimu sehat bugar, sedangkan kondisiku saat ini
sudah tidak memungkinkan. Bagaimana aku bisa menang?"

"Soal itu—"

Tiba-tiba Yvika melepaskan tembakan tepat mengenai perut Imanuel.
Tubuh Nim tersentak, ia jatuh terduduk, mengerang lemah sambil
memegangi perut. Darah segar mulai merembes membasahi tubuhnya.

"NIM!?"

Marion menggeram marah, ia pun segera melesat sembari mengubah bola
hitamnya menjadi pedang. Ia berteriak sambil menusukkan pedangnya ke
perut Yvika. Tubuh Yvika tersentak, ia memuntahkan darah segar tepat
mengenai wajah Marion. Sesaat sebelum mereka terjatuh, Yvika menembak
perut Marion berkali-kali hingga pelurunya habis. Marion mengerang
kesakitan, namun tetap mempertahankan pedangnya di perut Yvika hingga
mereka berdua terjatuh. Tubuh Yvika menegang sesaat sebelum akhirnya
tidak bergerak lagi.

Napas Marion terengah-engah. Peluru-peluru yang ada di perutnya
perlahan terdorong keluar dan lukanya mulai menutup dengan sendirinya.

"Mari ...,"

Suara erangan lemah itu membuat Marion tersentak. Buru-buru ia
menghampiri tubuh Nim.

"Bertahanlah, Nim! Bertahanlah!"

Nim tersenyum, "Mari baik ... seperti Tabita."

"Jangan bicara dulu! Bertahanlah! Sebentar lagi Hvyt pasti akan—!"

Marion terdiam. Ia sadar Hvyt tidak akan pernah datang sebelum tersisa
satu pemenang di antara mereka. Marion mengepalkan tangannya
kuat-kuat.

"Mari ... Mari kenapa?"

Marion menggeleng pelan seraya tersenyum getir. Ia merasa jahat pada bocah ini.

'Maafkan aku, Nim ... aku benar-benar minta maaf ...'

Marion meraih pedang di sampingnya. Ia pun bangkit perlahan dan mulai
menghampiri Imanuel. Nim menatap heran pada kelakuan Marion yang
mendadak aneh. Ia pun terbelalak saat Marion mengangkat pedangnya
tinggi-tinggi dan ...

"MARI, JANGAAAN!!!"

Gerakan Marion terhenti saat seseorang mendadak mencengkram kakinya.
Ia menoleh ke bawah dan mendapati Yvika tersenyum menahan rasa sakit.
Tangannya memegang sebuah benda yang membuat Marion terbelalak.

"Ikutlah ke neraka bersamaku."

Dalam sepersekian detik, Marion langsung mengubah bola hitam satunya
menjadi perisai. Perisai itu melayang mengangkat tubuh Imanuel dan Nim
dan menghempaskan tubuh mereka keluar dari penginapan.

Dan ledakan besarpun terjadi.

***

Nim duduk bersandar di dinding sambil memeluk Imanuel dengan erat.
Tubuhnya bergetar dan terdengar suara sesengukan samar darinya.

Hvyt, sang malaikat merah bersayap hitam, terbang perlahan menghampiri Nim.

"Halo, Nim Imanuel. Selamat karena kau berhasil bertahan hingga akhir
dalam ronde pertama ini."

Nim masih sesengukan.

"Sekarang ayo kita pergi. Aku harus membawamu kembali menghadap pada
Dewa Thurqk."

Hvyt hendak meraih tubuh Nim namun tiba-tiba tangannya dicengkram. Ia
tersentak dan sontak menatap Nim. Ia terkejut menatap kedua mata hitam
pekat dengan pupil merah menyala yang balik menatapnya. Tubuhnya
membeku dan perlahan namun pasti pamdangannya memburam hingga hanya
tersisa kegelapan.

Nim menatap dalam diam boneka merah bersayap hitam yang kini
tergeletak di jalan. Dipungutnya boneka itu dan ia pun menyeringai.

"Sekarang aku punya boneka Hvyt~"

***

18 comments:

  1. Disini Nim bener2 kayak anak kecil, terus menurutku explorasi kemampuan lawan agak kurang. Tapi untuk memberi semangat saya kasih 9/10

    ReplyDelete
  2. Kok saya malah ga ngerasa Nim dominan ya di cerita ini...
    Terus, Marion berapa kali bilang bakal ngelawan Nim di akhir, kenapa mendadak nolong NIm dari ledakan? (Btw, dengan begini semua kill count di pertandingan ini punya Yvika ya)
    Dan... kalo Hvyt dijadiin boneka, berarti Nim ga akan balik buat ronde 2 dong? www

    7/10

    ReplyDelete
  3. whwhhwh gw dah komentar ya kemaren di WA. di sini gw paling cuma pengen bilang gw suka sama pergolakan batin si Nim. pas dia ditinggal sama Mari itu yang bikin gw terus baca. OC ini IMO mirip sama Mba juga in some kind of ways. Jadi jujur gw bakal pengen tahu lebih banyak apa yang akan Nim lakukan selanjutnya.

    soal format... well jujur sih agak ganggu dikit. tapi dibaca ulang juga masih enak kok flownya.
    Skor: 8.5/10

    ReplyDelete
  4. cerita dan penjelasannya oke, daku jadi paham dengan alur bermainnya. ^^ dan baru tau juga kalau ternyata mereka semua sdh mati QvQ\ .. .
    suka dengan alur ceritanya, walau berjeda untuk aksi tiap karakter tapi tetap nyambung jadi ga buat bingung ^^ ♥ dan satu"ny yg membuatku bngung saat ini adlh perasaan nim? dia menangis diakhir itu karna kecewa karna mau dibunuh oleh mari atau bersedih hati karna mari menyelamatkannya? :)

    tapi keseluruhan saya suka ♥♥
    skor 9,5/10

    ReplyDelete
  5. Dari awal sampe menjelang akhir ini keren banget. Alur cerita, karakterisasi, sama pertarungannya bagus. Tokoh Nim nya juga kerasa ke'freak'annya. Cuman yang saya tunggu-tunggu dan ternyata ga kejadian, sampe akhir Nim nya nyaris ga ngapai-ngapain. Dia malah bisa-bisanya ngebiarin boneka beruangnya diambil Yvika gitu aja. Padahal kukira dia tipe licik yang hati-hati, dan nantinya bakalan nusuk Marion dari belakang. >.<

    Intinya sih, endingnya masih kurang memuaskan apalagi untuk mengakhiri cerita yang awalnya udah keren.

    Nilainya 8.

    ReplyDelete
  6. Alur : 1,5/3
    Nim nya krg disorot nihh, saya nggk skimmimg pas yg ada Nim nya aja #plak

    Karakterisasi : 2/3
    Jempol utk Yuu yg berusaha mengenalkan semua karakternya ^^d
    Tp klo Nim disejajarin sma Dee, mgkin sy sulit ngebedain sy sama2 sok imut menurut pikiran saya +_+ #ditendang

    Gaya bahasa : 0,5/2
    Jujur sy krg menikmati ceritanya krn gy bahasa yg acak2an :(
    Narasi nya terlalu tell, sebagian cerita berasa kyak baca draft... Permainan katanya gak ada, visualisasi minim, dan sy gk akan ngomong ttg deskripsi.. :c
    Selain itu pola kalimatnya masih kaku, cthnya ini
    --
    Marion meraih pedang di sampingnya. Ia pun bangkit perlahan dan mulai
    menghampiri Imanuel. Nim menatap heran pada kelakuan Marion yang
    mendadak aneh. Ia pun terbelalak saat Marion mengangkat pedangnya
    tinggi-tinggi dan ...
    --
    Kalimat pertama : Marion (melakukan-sesuatu)
    Kalimat kedua : Ia pun....
    Kalimat ketiga : Nim (melakukan sesuatu)
    Kalimat keempat : Ia pun...
    --
    Tuhh, penyusunan kalimatnya terlalu monoton... Sy aja mgkin, bukannya nikmati ceritanya malah nebak2 kapan ia pun dan 'pun' muncul lagi (kata pun berlimpahan btw) x")) #ampunii
    Show don't tell >> Xabi disebut emo.. Xabi disebut punk... Emo dan punk itu beda lohh, apa selanjutnya dia disebut goth ?? :")
    Dr pda rempong nyebut dia emo atau punk, mending ceritain, show ke pembaca kayak apa sih dandanannya Xabi itu ?? Apa dia pakek eyeliner hitam ?? Apa rambutnya menutupi wajahnya sebagian ?? Apa dia pakek piercing di hidung ??
    Setelah km show, biar pmbca sndiri yg nentuin apa Xabi ini emo, punk, atau goth :')

    Typo n error : 0/1
    Ada satu kata yg muncul lebih dr sekali dlm satu kalimat... Dan itu lmyan bnyak, bikin keki jg :") dirimu proofread gak si??

    Hal-hal lain : 0,5/1
    Gimana ya... Sy suka boneka, tp sifat nya Nim ini agak annoying imo... Sama sekali gk nunjukin dia cowok... Apa dia pernah dibully?? Misalnya sma mamanya atau Tabita tercinta dipakein gaun, main masak2an, dikuncir dua pakek pita sebelum tidur di istana boneka sama Imanuel ?? :") #dziggghh

    Total poin : 5,5
    Ughh, maafkan sayaa orz padahal tulisannya Yuu di HxH asik dibaca, tp yg ini rada krg sreg >__<

    ReplyDelete
  7. "Ha~?" - Umi shock-

    quote yang menggambarkan perasaan Umi waktu baca ceritanya Nim. Kenapa? let's check it :

    Pertama, Etto... Nim itu bukannya anak-anak? Kenapa dia malah bernarasi seperti orang dewasa? Sebentar sih dikit doang waktu di awal pas dengerin Thurqk berkhotbah. Tapi cukup untuk buat Umi dapet feel "Ha?"

    Kedua, saran buat yuu mungkin baiknya, berhubung ini dari sudut pandang Tommy yang kadung bilang Xabi itu kayak berandalan, Xabi dinarasiin bertampang berandalan aja daripada nambah emo sama punk :D

    Ketiga, mungkin ini udah dibilang sama yang lain, Umi ngerasa Nim bukan pemain utama dari cerita ini. Malah keliatannya Marion yang sebenarnya dapet fokus yang sama banyaknya sama Nim, lebih berasa jadi tokoh utama dibanding Nim sendiri. Entahlah kenapa.

    Aniway, Umi kasih 7/10 deh nilainya :D

    ReplyDelete
  8. Saya baca Nim kurang menikmati karena banyak kata yang diulang, battlenya pun agak garing.
    Terus itu cara Nim balik gimana kalo Hvyt dijadiin boneka??

    7/10

    ReplyDelete
  9. Sial... ini lumayan bagus, hanya saja peran Nim di sini--walau dominan--terlihat seperti peran pembantu. Dari segi battle lumayan, walau saya pengen banget liat Nim bertarung serius~

    7/10

    ReplyDelete
  10. Nim... kerasukan bonekanya? Dia kan masiih anak-anak.#bukanoi

    dan Nim, berasa tempelan, beneran.
    :<

    Plot dan story sih lumayan. jadi +7,5 ya....

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -