May 4, 2014

[ROUND 2 - ARSK] REEH - ARSK RHAPSODY

[Round 2-Arsk] Reeh Al Sahr'a

"Arsk Rhapsody"

Written by Epicu Fail

---

Intro

Sebuah perahu kayu terlihat mengarungi samudra. Duduk di belakang sambil mendayung ialah sang malaikat merah, sementara yang menjorokkan badan ke depan untuk merasakan tepukan angin adalah Reeh.

"Ke mana kau kan membawaku, Hvyt?"

"Sebuah tempat di mana pertarunganmu akan berlangsung."

Reeh mendengus agak berat. Rupanya Thurqk benar-benar tidak akan puas sebelum hanya tersisa satu orang bertahan.

"Hvyt, di dunia ini tersimpan misteri yang tak akan pernah ada habisnya seberapa keras pun kau mencari. Mengapa Tuhanmu harus menghilangkan rasa bosan dengan cara seperti ini?"

Yang ditanya hanya mendayung perahu dalam diam.

"Hvyt," kata Reeh lagi seraya menyentuhkan jemarinya ke atas permukaan samudra. "Apa ini benar-benar darah? Ikan seperti apa yang berenang di bawah sana?"

Tak ada jawaban. Sang pengembara menduga, mungkin makhluk itu diperintah untuk tak membicarakan apa pun yang tak ada hubungannya dengan pertarungan.

"Kalau begitu Hvyt, bisa kau jelaskan tempat seperti apa yang akan kita datangi?"

Kali ini sorot mata sang malaikat merah berubah. Suaranya yang datar kembali terdengar.

"Dulu sekali, hiduplah empat puluh orang penyamun. Mereka senang bermaksiat, namun yang paling mereka sukai adalah harta. Mencuri, merampok, menjarah, berbagai cara mereka tempuh untuk mengumpulkan emas dan batuan permata. Awalnya mereka menyimpan semua itu di dalam rumah, gudang, lalu goa, sampai jumlahnya terlalu banyak hingga tak bisa disembunyikan lagi. Maka sang pemimpin mendapat sebuah ide untuk membawa harta mereka ke dalam pulau tak berpenghuni."

Tiba-tiba tampak suatu titik berkilauan di ujung batas horizon. Reeh memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Semakin lama semakin besar, daratan di atas permukaan darah.

"Pulau itu, pulau yang tengah menantimu – bernama Arsk. Di sanalah Tuanku Thurqk Yang Maha Esa ingin menyaksikan darah kalian tertumpah dan menyatu dengan samudra ini."

Reeh menelan ludah. Jika matanya tidak salah, maka di hadapannya ialah tempat penyimpanan harta terbesar sepanjang masa. Bahkan raja-raja masa lalu tak akan mampu memiliki barang seperempat pun dari yang ada di sana.

"Peraturannya tiga. Pertama, kau harus membunuh satu orang dan kembali ke tempat aku menurunkanmu," jelas sang malaikat merah. "Kedua, kau tidak boleh mengambil harta para penyamun walau sekoin perak pun. Ketiga, waktumu sepuluh jam."

Mendekati pulau, angin bertiup makin keras. Arus samudra juga mengalir lebih cepat. Tidak sampai berapa lama, perahu mereka merapat di pantai yang seluruh pasirnya terdiri dari butir mutiara. Cahaya langit merah terpantul dari tiap bulatannya yang sempurna, mencampur aduk antara rasa ngeri dan terpukau.

"Aku akan menunggu di sini."

Reeh tak menghiraukan Hvyt. Seperti terkena hipnotis, ia mulai melangkahkan kaki menyusuri pantai.

Verse 1

Setelah puas meninggalkan jejak langkah di atas mutiara, Reeh berjalan memasuki pulau. Ia mulai dengan menyusuri jalan setapak yang tersusun dari kepingan emas dan perak. Di kanan kiri, peti-peti harta terbuka lebar berisikan batuan berharga. Sungguh, semua yang ada di sana menyimpan keagungan luar biasa. Terlebih saat pria itu melihat schimitar yang seluruhnya terbuat dari batu zamrud, ada dorongan yang memaksa diri untuk mencabutnya.

"Wahai pedang, siapakah yang menempa keelokanmu," tutur Reeh penuh kekaguman. Lekat-lekat ia perhatikan tiap jengkal pedang itu, lalu diangkat tinggi ke udara. "Kaulah pencabut nyawa terindah yang pernah disaksikan mata kepala ini. Apakah kau dimaksudkan untuk memberi keindahan di atas pembantaian?"

Tak tahan, kali ini Reeh berlari menyusuri jalan setapak. Angin membantunya bergerak lebih cepat, juga melompat lebih tinggi. Namun sejauh apa pun langkah membawanya, tetap emas permata yang terhampar di mana-mana. Lantas ia bertanya dalam hati, mampukah ia membeli dunia beserta isinya dengan semua ini?

Tapi kemudian langkahnya terhenti. Jauh di depan sana, bersinar batu yang kilaunya amat luar biasa. Fisiknya bening, ukirannya sempurna, memancarkan cahaya merah amber, terpasang tegas lebih tinggi dari harta mana pun di seluruh pulau. Dada pria itu pun berdegup keras. Tanpa sadar tangan kanannya bergerak maju ke depan, ingin meraih benda yang masih berjarak seratus meter darinya.

"Emas nom, berlian nom, safir nom, merah delima nom, semua ada nom~"

Tiba-tiba Reeh mendengar alunan yang menyanyikan nada penuh semangat. Ia mengalihkan pandangan, lalu mendapati sesosok gadis gnome yang berlari-lari merentangkan tangan di antara tumpukan harta. Pipinya tembem dengan tubuh bulat, lucu sekali.

"Gali nom!" Ia menyendok kepingan emas.

"Angkut nom!" Ia memasukkannya ke dalam karung besar hingga sesak.

"Bawa pulang nom!" Ia mengangkat karungnya tinggi-tinggi, lalu berteriak bahagia. "Kumpulkan di bawah Merrigold!"

Nafas Reeh tercekat saat menyadari keadaan. Ia langsung berlari seperti cheetah padang mahrab ke arah batu permata paling berharga di depan sana. Ia tak ingin gadis gnome itu menyadarinya lebih dulu, tapi terlambat – sang gadi sudah melihatnya. Makhluk mungil itu mematung, matanya berkilauan seperti anak kecil yang melihat kue idaman. Karung emas di sebelahnya pun jadi tak berharga lagi, ketika ia lari terbirit-birit – seperti ada pendorong di sepatunya – menuju ke arah yang sama dengan sang pengembara.

"Eiho nom! Eiho nom! Itu ambernite nom! Itu ambenite nom! Oh permata indah yang bersinar di antara gemerlap bintang, nom~ Mengapa kau berdiri diam di sana nom~ Kembalilah ke Merrigold nom, jadilah simbol keagungan Gnomeria, nom~"

"Tidak!!!"

Reeh meraih sebuah pedang perak yang tertancap di tumpukan emas lalu melemparnya lurus pada Elle – sang gadis gnome. Refleks makhluk mungil itu mengaktifkan Comwatch sehingga perisai magnetik mementalkan serangan yang datang.

"Kurang ajar nom!" Elle berteriak histeris tapi terus berlari ke arah ambernite. "Kau mau membunuhku nom?! Kurang ajar nom! Ambernitenya milikku nom!"

Seperti ada petir yang menghantamnya, tiba-tiba Reeh diam terpaku. Seluruh harta dalam pikirannya meluruh, berganti dengan sebuah penyadaran diri.

"Apa yang aku lakukan? Aku hendak membunuhnya! Aku hendak membunuhnya! Hanya untuk sebuah batu, aku hendak membunuhnya!" Reeh menatap telapak tangannya sendiri tak percaya lalu berbicara menengadahkan wajah seakan langit bisa menjawabnya. "Apa yang merasukiku, apa yang menghipnotisku?! Angin, katakan padaku, apakah sebongkah batu jauh lebih berharga daripada nyawa satu makhluk?!"

"Ohoy~! Ambernite nom!!!" Elle berteriak penuh kejayaan di puncak harta dengan batu permata itu di tangannya. Ia mengacungkannya tinggi-tinggi ke langit, ingin memberi tahu semesta bahwa tak ada lagi yang ia inginkan dalam hidup ini.

"Kau yang diinginkan para raja, kini berada di tanganku nom~"
"Kau yang ditakdirkan bersemayam di bawah Merrigold, kini..."
"Merrigold nom? Mengapa Merrigold nom? Bagaimana kalau ada yang mencurimu dari Merrigold nom?! Kau lebih aman bersamaku saja nom!"
"Ohoy, hoy, hoy, nom, dunia berada di genggamanku nom~"

Dengan hati-hati Reeh berjalan mendekat. Ia berhenti di bawah bukit kecil tumpukan keping emas. "Wahai Richella Elleanor, gnome dari Gnomeria, penghuni Merrigold. Sungguh, aku tak bermaksud melukaimu. Batuan indah itulah yang sempat menggelapkan hati ini. Keinginan fana menguasaiku. Tapi sekarang aku sadar akan kesalahanku, dan dengan setulus hati, aku meminta maaf."

Elle berhenti bernyanyi lalu menatap Reeh. Spontan ia memeluk ambernitenya erat-erat kemudian mengangkat sebelah alis. Lalu entah mengapa nafasnya mulai mendengus-dengus berat. "Humeno! Ini milikku, takkan kuserahkan padamu nom!"

"Aku," kata Reeh keheranan. "Aku tidak menginginkannya!"

"Bahkan jika kau bersujud seribu tahun nom, takkan kuserahkan padamu nom!"

"Tidak! Tidak! Aku tak menginginkannya darimu!"

"Jangan macam-macam, nom!" tiba-tiba Elle berteriak histeris. "Akan kubunuh kau, nom!"

Sang gnome langsung mengambil segala macam harta perhiasan di dekatnya. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia normal, tangannya bergerak-gerak lihai. Dan hanya berjarak tiga detik kemudian, sebuah senjata mirip senapan namun seukuran meriam sudah terpasang kokoh. Moncongnya mengarah tepat pada Reeh.

"Royale Canon! Tembak!!!"

Bunyi dentuman memekakkan telinga, lalu peluru berupa batuan mulia yang dipadatkan melesat. Sang pengembara melompat tinggi ke udara untuk menghindar, namun moncong senjata gnome itu mengikuti.

JEDUM! JEDUM! JEDUM!

Kalau bukan karena angin yang membantunya meliuk-liuk di udara, tubuh Reeh pasti sudah terhantam, dan ia menjadi orang kedua yang mati di atas tumpukan harta setelah Vidas sang raja.

"Berhenti! Sesungguhnya aku tidaklah menginginkan hartamu!"

Namun entah kapan perginya, Elle sudah tidak terlihat di balik Royale Canon. Sekarang benda itu cuma berdiri kosong, dengan lubang pada permukaan lantai harta di belakangnya.

Krasak.

JEDUM!

Kepingan emas yang dipadatkan nyaris mengenai punggung Reeh. Beruntung angin sempat membawa suara sang gnome yang timbul dari tumpukan harta di belakangnya.

Merasa tidak berhasil, lagi-lagi Elle menggali dan menghilang, berniat menembak dari titik buta sang pengembara. Tapi sebenarnya itu adalah kesempatan juga.

Reeh langsung berlari sekencang-kencangnya dibantu angin meninggalkan Elle yang masih menyelami lautan harta. Ia tidak ingin bertarung seperti ini. Bahkan lawannya terlalu buta untuk menyadari apa yang tengah dilakukan.

Verse 2

Baikai Kuzunoha sang pemuda tampan berlari kecil di antara permata menghampiri Kilat.

"Oh nona cantik yang membuat iri dewi-dewi kahyangan, maukah kau menerima persembahanku?"

Sang gadis dengan kulit seputih porselen menoleh. Cawan emas, kalung berlian, batangan saphir, ditadah di depan dadanya dengan kedua tangan. "Apa itu, apakah lebih berharga dari semua ini?"

"Tentu, karena ini adalah kehidupan," jawab Baikai seraya bertekuk lutut dan menyerahkan sekuntum bunga yang tanpa sengaja ia bawa dari Jagatha Vadhi. "Emas dan permata memang indah, pun begitu hanyalah benda mati. Yang kuajukan padamu, sebuah kehidupan penuh makna."

"Kau tidak bisa membeli maka dengan sebatang bunga. Kau juga tak bisa membeli pakaian, rumah, atau pun kesetiaan dengan sebatang bunga. Memangnya apa yang ingin kau dapatkan dariku dengan sebatang bunga?"

"Cinta."

Kilat berdecak lalu berbalik kasar hingga rambut hitamnya terurai menawan. Aroma shampo nya pun semerbak, melayangkan Baikai sampai alam dewata.

"Berikan aku yang lebih berharga," ucap sang gadis sambil melenggang pergi.

Menerima perlakuan itu, sang pemuda pun hanya bisa menggigit jari. Ia ingin meremas bunga di tangannya, tapi tak mampu. Alhasil, ia meremas dadanya sendiri seraya melantunkan sebuah irama yang mencurahkan isi hati.

"Jatuh bangun aku mengejarmu~"
"Namun dirimu tak mau mengerti~"
"Kubawakan segenggam cinta, namun kau meminta harta, tak sanggup diriku sungguh tak sanggup~"

Dalam kehampaan hati Baikai melangkahkan kakinya ke mana angin bertiup. Mungkin sebab itulah, takdir mempertemukannya dengan pria itu, seorang yang mengembara bersama angin. Saat ia melihat sosoknya, orang itu tengah berlari tunggang langgang hingga nafas tersengal-sengal.

"Salam," ujar Baikai tanpa semangat.

"Sa-salam," balas Reeh seraya mengatur nafas. Ia menoleh ke belakang, tampaknya gnome yang mengejarnya sudah kehilangan arah.

"Apa yang terjadi, wahai temanku? Kau tampak tidak baik."

"Seseorang berniat membunuhku atas kesalahan yang tidak atau mungkin akan kulakukan. Seberapa pun aku menjelaskan, ia tak mau mengerti."

"Apa ia seorang wanita?"

Reeh berpikir sejenak, lalu mengangguk.

"Aku mengerti perasaanmu, temanku," kata Baikai seraya menepuk pundak Reeh. Lalu ia berbalik menatap hamparan harta dengan dua tangan disilangkan di belakang pinggang. "Mengapa wanita sulit dimengerti. Mengapa mata mereka selalu disilaukan oleh harta. Aku ragu, bahkan jika kita memberikan dunia, mereka masih tak akan puas."

"Tampak kau baru saja mengalami pahitnya hidup, wahai temanku," ungkap Reeh menyadari keanehan. "Biarkan aku mendengar curahan hatimu dan membagi pedih yang kau rasa."

Baikai kembali berbalik menatap Reeh, matanya sudah berkaca-kaca. Sambil mengeratkan geligi layaknya menahan sakit, ia menekan dadanya dengan genggaman. "Untuk pertama kali seorang gadis membuat dada ini berdebar aneh, membolak-balik hati dan perasaanku. Namun di kala ku ingin mengungkapkan rasa ini, ia seperti selalu meludahi semua usaha yang kulakukan."

"Luar biasa," komentar Reeh singkat, membuat Baikai menatapnya terbelalak. Ia lekas melanjutkan, "Luar biasa, bagaimana cinta bisa tumbuh di atas ladang pembantaian seperti ini. Aku selalu kagum. Itulah harapan yang membuat umat manusia tetap bertahan."

"Terima kasih," kata Baikai. "Tapi di saat yang sama kau mengingatkanku akan pahit keadaan. Aku tak bisa membayangkan jika pada akhirnya kita harus menikam satu sama lain."

"Bagaimana kalau kita cuma diam dan tetap menunggu? Apakah Thurqk akan mengirim legiun malaikat merahnya untuk menumpas kita?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku tak mau jika mereka sampai melukai pujaan hatiku."

"Apa kau sebegitu takut hingga tak mampu melindunginya?"

Tiba-tiba selintas kemurkaan tampak di wajah Baikai.

"Ia segalanya, tak terpisah oleh waktu~"
"Biarkan bumi menolak, kutetap cinta~"
"Biar dewa tak suka, kematian pun melarang~"
"Walau dunia menolak ku tak takut~"
"Kan kulindungi sepenuh hati..."

"Maka kita lindungi ia bersama, oh temanku wahai pujangga yang mencari belahan jiwa. Sekarang kejarlah, jangan biarkan dirimu kalah berarti dari harta benda mati ini."

Verse 3

Kilat berjalan seorang diri di antara padang harta. Entah mengapa hasrat yang sebelumnya menggebu kini perlahan sirna. Emas permata tak lagi membutakan matanya. Batuan berharga mana pun juga, tak lagi menjadi satu-satunya pelipur lara, setelah seorang pemuda baru saja menghempuskan nafas kehidupan padanya.

Mendadak alunan irama pepatah lama terngiang dalam sukmanya.

"Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga."

Kilat berpikir.

"Memangnya kenapa jika tak berbunga? Taman ini berisi harta yang tak akan habis dihitung oleh tujuh generasi. Apalah arti sekuntum bunga di tempat ini? Bagaimana bisa taman yang berisi bunga lebih berharga dari taman yang dipenuhi emas permata?"

Tapi sesungguhnya bukanlah harta kekayaan yang menjamin bahaginya seorang anak manusia. Bukan harta kekayaan yang mempertahankan umat hingga milenia jauhnya. Harta bisa membeli materi, tapi tak bisa membeli kehidupan. Sementara untuk hidup, manusia harus mengisi relung di hatinya, menemukan belahan jiwa.

Mendadak kedua tangan Kilat menjadi lemas. Ia biarkan saja semua harta dalam pelukannya terjatuh. Mendadak ia tak peduli lagi, karena hanya ada satu yang bercengkerama di dalam pikirannya saat ini. Ia lekas berbalik, setoreh senyum terkembang di wajahnya.

Tapi, tampak sesosok makhluk bulat mungil yang melintas agak jauh di depannya. Matanya tampak picik digilai ambernite, dan ia menoleh saat menyadari kehadiran Kilat.

"Demi dewa para gnome, humeno, juga lima bangsa lainnya, akan kubunuh begitu kau melangkah untuk merebut ini dariku nom!" seru Elle seraya memeluk erat ambernitenya.

"Aku akan melangkah, tapi bukan untuk itu!" jawab Kilat tegas.

Tanpa ragu ia melangkahkan kaki. Celakanya, pada saat itu Elle mengartikannya lain dan langsung menerjang.

"Shock-O matic!"

Elle melempar sebuah bola aneh lalu menyelam ke dalam lapisan harta dengan alat penggali. Sejurus kemudian bolanya meledakkan cahaya silau yang membutakan Kilat. Sementara gadis itu mengerjap-ngerjap panik, sang gnome memulai kerjanya.

Gadis mungil itu mengamati, mengkalkulasi, dan menyusun rancangan raksasa dalam otaknya. Semua dikerjakan selama sepuluh detik, tak kurang tak lebih. Lalu ia melanjutkan dengan ketrampilan tangan yang luar biasa, membentuk berbagai alat dan senjata berdasarkan wilayahnya berpijak. Itulah keunggulan dari Terrain Playground sang gnome.

Saat selesai, ladang harta itu sudah tak sama. Berbagai macam alat terpasang di sana-sini menatap Kilat.

"Apa ini?" desisnya seraya memperhatikan sekeliling.

"Royale Cemetery!"

Kilat mendengus lalu berlari maju. Katananya yang transparan dikeluarkan. Namun moncong-moncong dari suatu senjata terus mengikuti pergerakannya.

"Royale Turret!"

Tiba-tiba rentetan peluru koin emas meletus dari senjata-senjata yang ternyata berupa senapan mesin otomatis. Tapi sang gadis sama sekali tak panik. Ia menggenggam gagang katana dengan kedua tangan, lalu muncul medan energi dari bilahnya. Seperti sihir, semua peluru yang datang langsung berbelok arah sehingga tak satu pun bisa menorehkan luka pada kulit mulusnya.

Kilat menatap Elle tajam. Sebenarnya ia tidak ingin melawan makhluk itu, tapi nampaknya ia harus melakukan sesuatu agar sang gnome berhenti menyerang. Ia pun terus berlari, semakin mendekat, ketika tiba-tiba permukaan harta di pijakannya ambrol. Ternyata, sebuah lubang jebakan telah disiapkan dengan bom rakitan di dalamnya.

Namun bukan kilat penyelamat apabila tak bisa meloloskan diri dari tipuan itu. Gadis itu segera melontarkan dirinya kembali begitu menyentuh permukaan lubang. Saat ledakan tercipta, dirinya telah berada belasan meter di udara.

Tapi saat ini di depan Elle sudah terakit senjata masif dengan laras luar biasa besar. Mirip dengan senapan untuk menjatuhkan pesawat-pesawat tempur. Saat pelatuknya ditekan, peluru kaliber tiga ratus milimeter meluncur. Bahkan kemampuan manipulasi medan gravitasi Kilat tak bisa menghindarkan tubuhnya dari hantaman dahsyat. Gadis itu pun jatuh terguling di atas lautan harta.

Interlude

"Jika aku membawakan ini untuk Tabita, apa ia akan menyukaiku?" tanya Nim sambil mengangkat sebuah mahkota ratu bertahtakan batuan merah delima. "Kalau pun ia tidak menyukaiku, bolehkah aku, asalkan tetap bersamanya?"

Anak itu sudah lupa total mengapa ia berada di tempat ini. Di sekitarnya boneka-boneka kecil bergerak ke sana kemari mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Dengan kekuatan boneka Hvyt yang dimiliki, bisa saja ia pergi kapan pun ia mau, tapi ia masih mencari batuan terbaik. Meski celakanya, semakin lama berada di sini, semakin ia tidak rela meninggalkan pulau yang dipenuhi kemerlap.

Reff

Kilat masih terbaring di antara emas permata, sedang di depannya senapan-senapan mesin otomatis sudah mengunci bidikan padanya. Di ujung sana, Elle sendiri tengah mengarahkan senapan anti udaranya. Tidak ada lagi tempat untuk sembunyi. Gadis itu bisa saja bertahan seperti sebelumnya, tapi tak akan lama.

"Selamat menempuh perjalanan ke tanah mati moria hai pencuri, nom," bisik gnome itu sebelum melepaskan ratusan proyektil ke arah Kilat yang malang.

Gadis itu menutup matanya erat, memilih pasrah saja. Ia sudah pernah mati sekali, tak akan masalah mati untuk yang kedua kali.

"Wahai engkau sang bunga di dataran hatiku yang tandus, jangan serahkan nasibmu semudah itu!!!"

Serta merta Kilat membuka matanya, dan ia tak percaya. Rentetan peluru sudah ditembakkan bertubi-tubi, tapi tiada satu pun yang sanggup menembus. Satu iblis bertubuh jingga kemerahan, dengan sayap lebar dan trisulanya, menahan tiap serangan yang datang. Sedang di belakangnya berdiri dua orang : satu adalah sang pengembara, dan satunya pemuda yang tersenyum bahagia mendapati dirinya masih bernafas.

"Baikai... Reeh..."

"Apa kau terluka?" tanya Baikai dan dijawab dengan gelengan cepat oleh Kilat.

"Sekarang belum saatnya kita bernafas lega," kata Reeh lantang, "sebelum kita hentikan semua kegilaan ini!"

"Ya," Baikai mengangguk. "Belial, O Powerful King! Burneth our enemy in thy sacred hell! Agidyne!"

Belial memutar trisulanya, lalu mengacungkan satu telapak tangan ke depan. Dari sana, muncul gelombang panas merah membara yang menjalar bagai ular naga.

"Angin, kuatkanlah apinya," dengan sebuah mantra dari Reeh, api sang raja neraka menyala makin dahsyat. Koin-koin emas yang dilaluinya tak pelak meleleh seketika.

Namun Elle sudah siap dengan perisai yang sepenuhnya terbuat dari berlian. Memiliki titik leleh ekstrim, batu mulia itu mampu mementahkan paduan serangan Belial. Siksa neraka pun gagal menghukumnya. Setelah itu bukannya takut, emosi sang gnome malah memuncak. Ia tak terima ada sebegitu banyak orang yang mengincar hartanya.

Elle pun lompat menyelam ke lautan harta. Untuk beberapa saat ketiga lawannya tak mengetahui apa yang terjadi, sampai senapan-senapan mesin otomatis yang baru bermunculan. Dari depan, belakang, kanan, kiri, juga dari titik-titik yang tak terlihat. Semua memuntahkan tembakan beruntun yang tak ada habisnya. Bahkan Belial sendiri tak akan sanggup untuk bertahan.

"Orochi!" Baikai melempar sebuah tube, lalu menembaknya dengan peluru revolver. Saat pecah, cahaya hijau merembes keluar, mewujud sesosok ular raksasa berkepala delapan. "Lindungi kami!"

Belial dan Orochi, kedua iblis itu berusaha sekuat tenaga menjaga tuannya dari bahaya. Sesekali mereka melancarkan serangan api dan es secara bergantian tiap sang gnome muncul ke permukaan. Tapi percuma, gerakan makhluk mungil itu amatlah lincah, sulit dideteksi. Maka tidak akan lama sebelum energi iblis-iblis itu habis, sedang di sisi lain senapan mesin yang menembaki mereka memiliki amunisi tak terbatas.

"Habislah kita..." gumam Baikai sambil memapah Kilat. Ia tak percaya akan dipojokkan oleh makhluk mungil dari negeri antah berantah. "Bahkan kita tak tahu harus menyerang ke mana..."

"Dasar pengecut," Kilat menggigit bibirnya sendiri. Ia mencoba melihat sekeliling, namun hanya terlihat hujan peluru.

"Jika aku bisa menemukannya, apa kita bisa menghentikannya?" tanya Reeh tiba-tiba. Kedua matanya terpejam. Ia tampak sedang berkonsentrasi penuh.

"Bagaimana caranya, temanku?"

"Saat ini kalian mendengar banyak suara, tapi angin bisa memilah suara untukku. Saat aku memperhatikan, ada suara gemerisik yang tercipta tiap kali tangan kecil Elle menggaruk lubang."

"Baik, bagaimana kalau begini," kata Baikai mantap. "Saat Reeh memberikan posisi gnome, Belial dan Orochi akan melepas perlindungannya dan menghancurkan senapan sebanyak mungkin. Kilat, bisakah kau menepis proyektil-proyektil yang tersisa? Aku dan Reeh akan maju di balik perlindunganmu, lalu kita akan menghantam makhluk mungil itu bersama!"

Kilat sempat terdiam sejenak, kemudian ia mengibas-ngibaskan katananya. "Tidak masalah."

Reeh yang sudah mengerti lekas berkonsentrasi makin dalam. Ia menajamkan pendengaran, menanti jawaban dari sang angin. Perlahan suara gemerincing peluru koin mulai terpisah, membawanya dalam kesunyian. Hanya satu pergerakan kecil yang tertangkap gendang telinganya, sehingga ia tahu pasti dari mana suara itu berasal.

"Ayo!" seru Reeh sebagai aba-aba.

"Belial! Orochi! Hancurkan semua senapan yang menghalangi jalur kami!"

Si raja neraka pun melepaskan kobaran apinya, membakar belasan senapan seketika. Semenatara itu si ular raksasa berkepala delapan melakukan kengerian yang tidak kalah hebat, mengawetkan belasan senapan lain dalam es abadi. Lalu keduanya menghilang setelah kehabisan energi magnetite.

Tapi keadaan belum sepenuhnya aman. Kilat meletakkan seluruh konsentrasinya pada bilah katana, menciptakan medan gravitasi di sekitar. Dengan senjata masing-masing, mereka berlari ke arah yang ditunjukkan Reeh.

"Sekarang!" Sang pengembara menghembuskan angin kencang yang menerbangkan koin-koin emas hingga berhamburan. Di baliknya, tampak Elle dengan raut wajah terkejut.

Baikai pun melesat. Katana Masakadonya sudah melintang tinggi di udara. Satu ayunan, dan semua berakhir. Namun mendadak seluruh keyakinan pemuda itu runtuh saat didengarnya pekikan dari belakang sana. Sekelebat, ia melirik ke belakang melalui ujung matanya.

Tubuh Kilat terhuyung dengan sebuah luka tembak di lengan. Katana transparan gadis itu sudah tak lagi mengeluarkan medan gravitasi. Mungkin, ia telah mencapai batasnya.

"Kilat!!!" Spontan Baikai memutar tubuhnya, lalu mengerem tepat sebelum Elle. Ia langsung melesat menuju gadis yang dicintainya.
Pemuda itu segera meraih lengan Kilat, lalu mendekapnya erat – karena sedetik berikutnya belasan peluru menghujam. Punggung Baikai pun dipenuhi lubang sebagai ganti dari Kilat. Meski pedih pemuda mengeratkan gigi, menahan segala kesakitan.

Baik Reeh dan Elle ikut berhenti. Keduanya terperanjat dengan pengorbanan sang pujangga. Bahkan, senapan-senapan mesin di sekitar mereka juga sudah berhenti memuntahka peluru.

"Humeno itu, apa yang humeno itu lakukan, nom?!" ujar Elle tidak percaya sambil menunjuk-nunjuk. "Sedikit lagi ia bisa merampas ambernite, tapi kenapa nom? Kenapa ia berbalik dan menghilangkan nyawanya, nom?"

"Ia tidak menghilangkan nyawa!" bentak Reeh membuat Elle terlonjak. "Ia... mempersembahkan nyawanya..."

Killat memangku kepala Baikai di pahanya. Wajahnya tertunduk hingga rambutnya jatuh ke wajah sang pemuda yang nafasnya hampir habis. Tapi tiba-tiba telapak lembut pemuda itu meraih pipi sang gadis.

"Jangan menangis oh bunga penghias hatiku, jika memang ini sudah takdirnya, apa boleh buat..." ujar Baikai lirih. "Namun aku ingin menyampaikan satu hal. Ketika aku pertama kali tiba di Jagatha Vadhi, luar biasa takut yang kurasa.

Kemudian sebuah lirik lirih melantun perlahan menyayat hati. Namun, sebuah persembahan jelas terlihat di sana. Betapa pemuda itu ingin memberi segalanya meski semua kan berakhir.

"Aku takut."
"Aku sendiri."
"Namun kulihat seorang malaikat."
"Ya, pastilah malaikat."
"Ia tersenyum.
"Manis sekali."
"Sejak saat itu aku tak pernah takut lagi."
"Karena yang ada di pikiranku, adalah bagaimana cara mengungkapkan isi hati ini."
"Kau cantik. Kau cantik."
"Kau cantik, itu benar."
"Kala aku melihat wajahmu di antara keramaian.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
"Tapi aku tak pernah takut lagi."

Lalu telapak tangan Baikai terjatuh lemas dari pipi Kilat. Dua kelopak matanya pun tertutup penuh kedamaian. Bagaimana tidak, bisa menghembuskan nafas terakhir di sisi orang yang amat disayangi, adalah suatu anugrah yang luar biasa.

"Baikai..." Kilat menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia mulai menggoyang tubuh sang pemuda. "Baikai..."

Namun yang mati takkan kembali. Hanya saja, sang gadis tidak bisa menerima itu. Ia bahkan belum mendapat kesempatan untuk membalas ungkapan hati pemuda itu.

"Baikai! Baikai, matahari dan bulanku, bintang-bintang yang menjadi pelita di balik selimut malam. Jangan kau berani meninggalkanku di sini, setelah kau telisikkan harapan ke dalam hatiku!" raung Kilat pilu.

Setelah kematian membawanya ke Jagatha Vadhi, ia sempat mengira tak akan ada yang lebih buruk dari itu. Tapi sekarang, dunianya benar-benar serasa hancur. Sendirian, tak tentu arah, bahkan langit seperti sedang menertawakannya di atas sana. Setelah ini, bagaimana ia melanjutkan semua? Bagaimana ia menghadapi Thurqk?

Mungkin lebih baik ia mati saja.

Kilat meraih katana transparannya, lalu mengarahkan ujung bilahnya di jantung. Reeh sempat menyadari gelagat itu, tapi kala ia berniat menghentikan, semua sudah terlambat. Gadis itu sudah memutuskan tali nasibnya, menyusul sang pemuda ke dunia yang tak tersentuh. Lalu ia ambruk, memeluk jasad Baikai.

"Kenapa ia ikut mati, nom?!" teriak Elle makin panik. "Kenapa ia ikut mati, nom?!"

"Harta bisa membuat seseorang rela membunuh," jawab Reeh bergetar sambil berjalan terhuyung. "Tapi cinta bisa membuat seseorang rela mengorbankan nyawanya." Pria itu menjatuhkan dirinya di atas kedua lutut di hadapan jasad sepasang insan manusia yang kini telah terdiam kaku. "Padahal ini tidak harus terjadi. Kalian mungkin akan menikah dan membangun rumah kecil yang bahagia. Lalu sesekali aku datang menjenguk, mewartakan berita mengenai petualangan-petualangan. Tapi sekarang tidak akan ada lagi. Thurqk telah merenggut kalian!"

"Sedang apa kau, nom? Kenapa diam di sana, nom? Kau pasti ingin menipuku, nom? Lawan aku, nom! Rebut ambernite ini, nom!"

"Bodoh!" teriak Reeh nyaring. "Sejak awal kami sama sekali tidak menginginkannya! Pergilah dan nikmati batu itu sendiri!"
Elle terenyak. Ia tak mengerti jalan pikiran sang humeno. Meski di sisi lain, ia tergelitik untuk bisa melihat apa yang dilihat manusia itu.

"Apa... yang lebih berharga dari harta, nom?" tanya sang gnome seraya berjalan mendekat. "Beritahu aku, nom..."

Tangan Reeh terkepal kuat. Amarah bergejolak di dadanya. Tapi, entah mengapa ia merasa tidak adil. Mungkin ini semua juga akibat pengaruh harta para penyamun. Maka ia berdiri, lalu berbalik menghadap Elle. Dijulurkan sebelah tangannya.

"Ayo, akan kutunjukkan padamu."

Bridge

Di sisi lain Arsk, Nim sudah selesai menentukan harta mana saja yang akan ia bawa. Tangan boneka-bonekanya juga sudah penuh. Berarti sekarang tinggal pergi dari sana. Anak itu mengayunkan lengan baju, hingga keluar sebuah boneka merah dengan sayap hitam – Hvyt.

"Ayam kecil, bawa aku membelah angkasa," katanya, "agar kudapat mempersembahkan semua ini pada Tabita."

Boneka Hvyt mengangguk, lalu mengepakkan sayapnya lebar-lebar. Kemudian ia menarik tubuh Nim ke udara diikuti boneka-boneka lain.

"Hihihi," anak itu terkikik. "Aku tak sabar ingin main dengan Tabita lagi."

"Mau ke mana kau bocah tengik?"

Tiba-tiba tubuh Nim menjadi kaku. Ia melihat sekeliling. Aneh, hanya ada boneka-boneka yang terbang di sana. Lalu siapa yang bicara?"
"Bos, dia membawa harta kita!"

"Si-siapa?!" Nim yakin menoleh pada sumber suara barusan, tapi tetap tak terlihat sosok siapa pun, baik di udara mau pun daratan.

"Tidak ada tempat berlabuh bagi pencuri dari pencuri!"
"Anak sundal, taruh kembali emasku!"
"Tenang, ia tak akan ke mana-mana."
"Benar, benar, barangsiapa mengambil apa pun dari pulau ini, ia harus tetap menunggui pulau ini hingga akhir zaman!"

Memangnya siapa yang mau membusuk di tempat yang tak ada apa-apa selain harta? Tanpa sadar Nim terbang berputar-putar. Kebingungan menguasainya. Entah mengapa ia tak bisa menemukan arah untuk keluar dari sana.

"Biarkan aku pergi!!!"

"Bersulang! Bersulang! Kita mendapat teman baru!"
"Anak kecil, anak yang penuh kerakusan, ingin mencuri dari pencuri~"
"Tungguilah pulau ini hingga samudra mengamuk dan langit terbelah, ha-ha-ha-ha-ha!"

Sesuatu merasukinya. Nim tak bisa melawan lagi.

Instrument

Begitu Elle menggenggam tangan Reeh, pria itu langsung melesat ke angkasa. Ketinggian bukanlah favorit gnome. Refleks gadis kecil itu memeluk pinggang sang pria erat-erat.

"Aaaaaaa! Turunkan aku, nom!"

"Bukankah kau ingin melihat yang lebih berharga dari emas permata?" Reeh agak terkekeh, lalu mencengkram kedua bahu Elle. "Angin, untuk sekali ini biarkanlah kami melanglang buana di daerah kekuasaanmu, izinkan kami terbang seperti seperti albatros melintasi lautan."

"Aku tidak mau terbang, nom!"

Sebuah seringai muncul di wajah Reeh. Dengan satu dorongan kuat, ia melepas pelukan Elle, membiarkannya terhempas di udara kosong. "Hea!"

Mata Elle yang berkaca-kaca terbelalak lebar. Mungkin ia mengira nasibnya berakhir di sini. Tapi tiba-tiba angin berhembus kuat, membawa tubuhnya kembali ke angkasa.

"Nom! Nom! Nom!"

"Berapa pun emas yang kau kumpulkan, kau tak akan pernah bisa membeli ini," Reeh menyusul Elle. Ia meraih tangannya dengan khidmat. "Terbang bebas di udara melawan tarikan gravitasi bumi pertiwi. Tanpa alat atau apa pun, hanya kau dan angin."

Walau masih merasa sedikit ngeri, perlahan Elle mulai terbiasa.

"Lihat, apa di bawah sana."

Elle melihat sebuah titik yang sebelumnya amat menyilaukan hati, namun kini tak lebih dari sebuah titik.

Reeh tersenyum melihat keterpukauan di wajah sang gnome. Tiba-tiba ia menarik gadis mungil menukik ke antara lapisan awan.

"Aku bisa menunjukkanmu dunia."
"Lebih bersinar dari mutiara, lebih berkilau dari emas, lebih mewah dari berlian."
"Katakan padaku putri, kapan terakhir kali kau gunakan hatimu untuk melihatnya?"
"Aku dapat membuka matamu."
"Membawamu pada keajaiban demi keajaiban."
"Menemukan harta yang sesungguhnya."
"Sebuah dunia baru, bergantung bagaimana kau memandangnya."
"Dunia seindah mimpi meski kau tak sedang bermimpi."

Tiba-tiba potongan ingatan masa lalu itu kembali. Mengapa sekarang, Elle tak mengerti. Tapi yang jelas, itu kembali.

Ia ingat, alasan utama yang membuatnya amat senang berada bersama sentinel. Meski yang mereka cari adalah harta, tapi bukan, bukan itu yang membahagiakannya. Melainkan petualangan, perjalanan, kebersamaan yang ia lalui bersama rekan-rekannya di kala mencari harta. Itulah yang berharga. Itulah yang membuat dadanya berdebar meski menghadapi bahaya. Itu juga yang membuatnya tak putus asa meski terjebak dalam goa sunyi para magnus.

"Aku benar-benar buta, nom," ujar Elle
.
Reeh melepas pegangannya, tapi gadis itu tak lagi ketakutan. Keduanya melayang bebas di angkasa, Thurqk saksinya. Saling berputar menikmati tiap hembusan lembut yang membawa kehangatan.

"Sebuah dunia baru, nom."
"Dunia yang tak pernah kusadari sebelumnya, nom."
"Tapi sekarang semua menjadi jelas, nom."

Dengan tangan terentang Elle menembus gumpalan awan bagaikan permen kapas. Alangkah pengalaman yang takkan mungkin terganti.

"Pemandangan yang tak bisa dipercaya, bahkan tak bisa diungkapkan, nom."

"Yah."

Lalu sang gnome terdiam. Ia menyembunyikan wajahnya, tapi Reeh tahu.

"Maaf, nom," kata Elle terisak. "Aku tidak tahu, nom. Aku benar-benar tidak tahu, nom... Bagaimana caranya aku menebus kesalahan ini, nom?"

Reeh tersenyum menghela nafas. "Yang mati tak bisa hidup kembali, tapi yang hidup harus tetap hidup untuk meneruskan tekad mereka yang mendahuluinya."

Elle menghapus air matanya, lalu mengangguk kuat. "Baik."

"Sekarang ayo kita turun, mungkin angin sudah lelah."

Mendadak kedua pipi Elle memerah seperti tomat. "Aku akan berhenti makan loli, nom!" Lalu ia meluncur turun mengikuti Reeh.

Tetapi, dua boneka tiba-tiba melesat ke arahnya. Yang satu dengan sayap lebar, sedang satu lagi memegang pedang panjang yang mengerikan.

Yang Reeh tahu kemudian, adalah percikan darah yang tiba-tiba mencipratinya dari atas. Saat ia mendongak, tubuh Elle jatuh bebas dengan kepala terpisah. Pemandangan mengerikan yang seketika itu juga terukir dalam di ingatannya.

"Elle..." Mata pria itu terbelalak lebar, terus mengikuti hingga tubuh sang gnome menghilang di bawah sana. Lalu ia menatap lurus ke langit, di mana sudah menghitam oleh keberadaan 999 boneka beserta tuannya.

"Mengapa ini terus terulang... Angin, mengapa ini terus terulang... Selama seratus tahun hidupku, mengapa ini terus terulang bahkan setelah kematian menjemputku?"

"Pergi dari pulauku!" tiba-tiba ia mendengar bisikan.

"Mati, mati saja! Tidak usah pergi!"

"Musnah!!!"

Suaranya nyaring, berat, rendah, tapi semua memiliki satu kesamaan : niat membunuh murni. Bukan karena dipengaruhi atau apa, tapi memang itulah keinginan terdalamnya.

Reeh berdecak. Tak ada pilihan lain. Dengan perlahan, ia mencabut pedang lengkung dari sarungnya. Setelah ini satu kematian lagi akan datang – apakah dirinya, atau lawannya.

Chorus

"Boneka-bonekaku yang cantik," Nim berujar di tengah kerumunan. Di atasnya adalah boneka Hvyt, sementara dalam pelukannya Imanuel. "Musnahkan kakak itu dari pulauku."

Tanpa suara boneka-boneka itu menerjang bagai legiun perung. Sungguh membahana, hanya dewa segala dewa yang tahu bagaimana Nim bisa memiliki kekuatan sedahsyat itu.

Di saat yang sama Reeh juga melesat. Pedang lengkungnya teracung, sedang tatap matanya yang sehijau zamrud tajam terfokus. Dengan satu raungan perang, perhelatan pun terjadi. Sang pengembara memainkan bilahnya lihai di udara, membelah satu persatu boneka yang mencoba menghunusnya.

Begitu lincah mengendarai angin, menyerang dari sudut ke sudut. Tapi jumlah tetaplah memiliki peranan penting. Boneka-boneka yang tak ada habisnya makin mempersulit, mengepung pria itu dari berbagai arah. Bahkan beberapa ada yang menembakkan bola-bola sihir dan petir, sedang yang lain melontarkan bilah pedang dan panah.

"Hyaaah!"

Reeh berputar menciptakan tornado ringan menjauhkan mereka yang berkerumun, lalu melesat bebas ke bawah. Para boneka langsung mengejar. Maka ia melakukan tikungan tajam, zig zag, berliku, untuk bisa lepas dari kepungan. Namun ke mana pun ia pergi selalu sudah ada boneka yang menanti.

"Percuma, kakak seperti seekor burung yang dirubung jutaan lebah!" teriak Nim dari kejauhan. "Pilihanmu hanya dua, mati terbunuh atau mati lemas!"

Tidak, ia salah. Reeh tidak sendiri. Ia memiliki aliansi terbesar yang menguasai ruang. Satu yang tersebar, satu yang terdapat di mana-mana.

Sekelompok boneka dengan penampilan seperti ksatria zaman prasejarah tiba-tiba bergerak ke depannya. Mereka mengayunkan pedang, kapak, bahkan gada. Sang pengembara melintangkan pedang untuk menahan. Namun serangan yang dilakukan bersama itu membuat dirinya terdorong jauh ke belakang. Sekuat tenaga ia meminta angin menahan tubuhnya.

Kelompok boneka ksatria itu mengejar, tetapi Reeh tak mau kalah. Ia segera mencengkram boneka yang kebetulan terbang di dekatnya, lalu melemparnya seperti bola bowling. Saat para boneka bertubrukan hingga fokusnya terbagi, pria itu tak menyiakan kesempatan. Ia melesat dan memainkan tarian pedang padang pasirnya, memotong tubuh para boneka menjadi bagian-bagian.

Lalu pria itu memicingkan mata, melempar pandangan jauh menembus potongan tubuh boneka di udara. Nim, sang pengendali, berada dalam posisi aman dan nyaman di sana, di balik perlindungan puluhan boneka.

Tiba-tiba satu boneka dengan tinju raksasa datang menghantam Reeh dari sudut yang dikira. Tersentak, kepala pria itu langsung berputar-putar, lalu meluncur bebas jatuh ke bawah. Para boneka yang lain segera mengikuti.

"Angin, aku tak boleh berhenti di sini."
"Dalam wujud-wujud kecil itu terdapat banyak jiwa yang terkurung, menanti pembebasan."
"Sekali pun aku mati, aku tak ingin menjadikannya sia-sia."

Tiba-tiba angin berhembus kencang dari timur. Tubuh Reeh yang sudah nyaris menghantam tumpukan berlian pun terhempas, kembali melayang bebas di udara. Seperti lalat, para boneka melesat mengikutinya dengan pedang dan parang, senapan juga sihir.

Sudah cukup, saatnya menyerang. Reeh berhenti, berputar, lalu mengacungkan telapak tangannya ke depan. Angin ribut tercipta seketika, menerbangkan ratusan karung emas dari permukaan. Para boneka pun tersesat dalam cahaya kerlap-kerlip, sulit menemukan mangsa. Ketika itulah sang pengembara sekali lagi memainkan pedangnya, meluncur ke sana kemari seperti berdansa dalam naung kemewahan.

Seiring dengan permainan angin, harta-harta pun terangkat makin tinggi dari permukaan pulau. Sekuat apa pun Nim memfokuskan mata, ia tak kunjung berhasil menemukan sosok Reeh.

"Serang! Semuanya serang! Beri kakak itu kematian! Sekarang!!!" teriak anak itu kalap.

Boneka-boneka yang semula bertugas melindunginya pun ikut maju, hanya menyisakan Hvyt yang mengangkatnya di udara. Sedangkan permainan Reeh makin menggila. Harta-harta diterbangkan makin tinggi, berputar dalam jangkauan besar, hingga mencipta apa yang akan umat manusia sebut sebagai tornado emas.

Tidak sedikit boneka yang berguguran akibat hantaman benda keras, tapi lebih banyak yang berakhir di ujung bilah Reeh. Dan sebelum si empunya menyadarinya, ia sudah kehabisan seluruh boneka yang bisa ia kendalikan. Saat itu, sang pria pengembara sudah meluncur bebas ke arahnya. Meski luka dan koyak mengalirkan darah di mana-mana, matanya yang sehijau zamrud tak tergoyahkan.

Mundur, atau melawan? Tapi dengan apa? Sungguh Nim bingung. Tapi kematian tak menunggu untuk siapa pun. Tebasan itu pun datang, menyayat tubuhnya beserta boneka beruang Imanuel, juga Hvyt yang mengangkatnya. Perih luar biasa, meski di saat yang sama suara-suara mengerikan seperti menguap dari kepalanya.

Selesai sudah.

Seluruh tenaga mereka telah habis. Reeh dan Nim terjatuh bebas dari angkasa di antara kepingan emas yang laksana hujan. Sesekali mereka saling pandang, tetapi sudah tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Hanya isyarat selamat tinggal melalui kedua mata yang berkaca-kaca bak rembulan.

Namun, terbaca sajak syair terakhir dari pergerakan bibir Nim.

"Apa yang kuperbuat?"
"Apa yang kuperbuat?"
"Bagaimana aku bisa begitu buta?"
"Aku menghilang, di mana ini?"
"Semuanya berantakan."
"Apa yang kuperbuat?"
"Apa yang kuperbuat?"
"Setelah ini ku kan binasa."
"Tapi ku masih berharap Tabita."
"Suatu hari kau kan datang menemui nisanku."

Ending

Reeh terbaring di tengah pulau yang kini hancur luluh lantak. Beruntunglah angin masih belum meninggalkannya hingga ia selamat dari benturan keras. Tapi sekarang ia tak tahu, entah di mana keberadaan peserta yang lain. Mungkin ada baiknya membiarkan pulau ini menjadi makam berhiaskan harta abadi bagi mereka.

Sambil merintih pria itu mengangkat tubuhnya berdiri. Sudah tidak ada apa-apa selain kekacauan. Tapi ada sebuah peti harta yang menarik perhatiannya. Terukir sebentuk pusaran, sementara tutupnya terbuka lebar. Pelan-pelan ia berjalan mendekat dan mengintip isinya. Sebuah kertas dengan kalimat tertoreh di sana.

"Let the wind blows you."

Entah apa artinya, Reeh mengembalikan kertas itu ke dalam peti. Kemudian ia berjalan terseok sambil menahan nyeri di sekujur tubuh. Sudah tak ada tempat kembali, sehingga satu-satunya yang ia tuju adalah Hvyt yang masih setia menunggu di bibir pantai.

"Sampaikanlah pada Tuhanmu."
"Aku pulang terlambat waktu."
"Ku kan menaklukkanNya."
"Dengan jalan pikiranku."

"Sampaikanlah pada Tuhanmu."
"Aku mencari jalan atas segala kepedihan ini."
"Kepedihan manusia."
"Tunggulah..."

"Ku takkan pernah berhenti."
"Pecahkan teka-teki dunia ini."
"Ku takkan pernah berhenti."
"Hingga Ia tenggelam dalam darah lembah penyesalannya sendiri.

Ekspresi Hvyt sama sekali tak ada ubahnya dengan patung batu. Ia merentangkan tangan labr-lebar. "Mari, aku akan mengantarmu kembali."

Reference

Jatuh Bangun – Meggy Z
Mama Papa Larang – Judika
Kata Pujangga – Rhoma Irama
You're Beautiful – James Blunt
A Whole New World – Aladdin
Poor Jack – Nightmare Before Christmas
Gie – Eross dan Okta

24 comments:

  1. Haiyhoooo~ (づ。◕‿‿◕。)づ
    ~~
    ~~
    wuppooooh~ keren, pembagian part na pakai bahasa musik~ >w<
    dari awal na kocak-kocak sampe ada lagu ndak pul lirik gituh , , iyahahaa
    endingnya dibuat jadi mellow badai, , nice!
    aku titip
    8/10 buat master~ (づ。◕‿‿◕。)づ

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih gan udah udah baca :D

      Delete
    2. bahasa musiknya disesuai sama tema juga, hehehe, sama lagunya juga

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. ==Riilme's POWER Scale on Reeh Al Shar'a's 2nd round==
    Plot points : B+
    Overall character usage : B+
    Writing techs : B+
    Engaging battle : B
    Reading enjoyment : B+
    ==Score in number : 7,8==

    Wih. Entah kenapa rasanya ini beda banget sama r1nya reeh - secara narasi dan gaya cerita mungkin sama, tapi di sini berasa lebih kayak campuran opera dan parodi - yang hasil akhirnya mungkin bisa dibilang jadi kayak drama musikal.

    Tapi ini kreatif. Pilihan lagunya juga lucu... Dan saya gregetan sendiri karena dua hal : kenapa Baikai segitu kepincutnya sama Kilat, dan kenapa Elle di sini rasanya super annoying sampe saya pengen dia cepet mati daripada ribut mulu soal harta wwww

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesungguhnya dari R1 ane sudah bercita-cita membuat drama musikal kayak film-film disney, tapi gak kesampaian. Apakah karena ngegarapnya terlalu serius atau apa, akhirnya di R1 sama sekali ga ada syahdu-syahdunya - hahah...

      Maka di R2 ini ane memberanikan mengambil langkah tegas! Sebenernya ga niat masukin nuansa parodi, mau full opera. Tapi masuk adegan pertama Baikai, entah kenapa inspirasi datang bersama lagu Meggy Z... Tapi niatnya sih tetep mau serius full opera sih...

      Haha, makasih banyak gan. Baikai kepincut itu tak bisa dijelaskan, karena itulah cinta, selalu datang tiba-tiba bahkan meski hanya melalui satu pandangan pertama. Kalau Elle... entah, hihi.

      Delete
  4. Anonymous6/5/14 15:37

    Reeh kamu memang pujangga sejati *atau authornya*

    Narasinya tetap enak diikuti walaupun mungkin pace di R2 ini agak lebih cepat daripada R1. Tapi, battle-nya lebih banyak dari yang sebelumnya dan saya suka <3

    Tapi, ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg:

    1. Semua peserta lain jadi ikut-ikutan puitis, walaupun kayaknya karakter mereka nggak gitu. Baikai jadi amat puitis dan super dramatis di sini :)) dan entah kenapa hal itu membuat saya teringat akan adegan film india #oi

    2. Ini pulau Greed, rasanya tidak adil jika hanya Elle yang benar-benar kepincut harta di sini. Oke, dia Gnome yang notabene suka benda berkilau, tapi pulau ini punya kekuatan lain yang membuat peserta di dalamnya terpengaruh rasa tamak, walaupun mungkin dapat ditekan (tapi saya rasa hal itu akan sulit). Dan di sini, Reeh juga beberapa peserta lain dapat menahan ketamakan mereka seratus persen dan hanya terpengaruh ketamakan di awal-awal saja.


    Oke, Reeh masih makin garang di sini dan saya suka penuturan kata puitisnya yang aduhai :))

    Nilai akhir dari saya: 7.5 :D

    Naer~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak, authornya bukanlah pujangga ^^

      Bener gan, di sini pacenya ane percepat, ga pake perkenalan langsung cerita utama, takut pembaca bosan habis ini fokus ke drama cinta-cintaan... dan battlenya ane panjangin sebisa mungkin.

      Yang semua karakter jadi puitis, ane pun menyadari itu OOC banget, cuman konsep yang ane usung di sini emang musikal sih, maka ane memberanikan diri :D

      Klo yang itu emang dari awal uda ada kesepakatan grup Arsk, tingkat kemudah-tergodaan ama hartanya Elle > Nim > Kilat > Baikai = Reeh
      Makanya Elle ceritanya paling parah, diikuti Nim, klo Kilat masih bisa sadar sementara Baikai dan Reeh susah terpengaruh. Tapi emang iya ya, mereka hampir kayak immune gitu.

      Terima kasih Naer.

      Delete
  5. ugh.....
    saya ngeliat Baikai yang jadi OOC berasa nggak enak -_-
    dan banyak karakter yang nggak berasa kalau dia kena godaan pulau ini....
    anyway, ceritanya masih bisa diterima dan lagunya pas :D

    8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baikai oh Baikai, mengapa dirimu menjadi OOC... Eh, ane yang bikin OOC ya, hohoho...
      Beribu maaf untuk yang karakternya kena OOC, sepertinya mereka bukan kena rayuan pulau keserakahan, tapi rayuan pulau pujangga

      Makasih komennya gan

      Delete
  6. -Gaya penceritaannya unik~ :3 pake lirik lagu kayak animasi Disney (malah ngebayangin Barbie).. tapi entah kenapa malah serasa kayak nonton film India.. XD

    -Itu lagu James Blunt rupanya diterjemahin ke Indo.. pantas aja saya sempat bingung waktu nyari~

    -BTW, ini pulau Greed... tapi rasanya tokoh2 yang lain kok terkesan masih bisa tahan sama godaan harta itu, ya? cuma Elle aja yg menggila dengan tuh harta..

    -Adegan battlenya keren.. saya suka.. (y) trus dibumbu2i dengan sedikit romance~

    Jadi.....

    -----
    8/10
    -----

    -

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi kayak film India? iya sih, secara diselipinnya lagu dangdut ^^ semua lagu sengaja diterjemahin dan diedit-edit dikit untuk menyesuaikan keadaan, haha

      klo soal Elle ane ga bisa berkomentar, ane juga ga ngerti kenapa begitu - ehe

      makasih gan komentarnya

      Delete
  7. Narasi, penceritaan sudah bagus,

    beberapa tersendat karena yang pakai cara anak SD, kata seperti: lalu, tiba-tiba, langsung kesannya kayak ini ada yang nyeritain alih-alih menikmati cerita.

    mengenai tema Musikal itu Hit dan Miss.

    selain dari yang enyadarkan Elle. semuat lagu itu miss buat saya.

    maaf.

    Final Verdict: 6.8

    ReplyDelete
    Replies
    1. ane memang masih berjiwa kekanakan gan, hahahaha

      bisa dikata tema ini memang ane ambil dengan sebuah pertaruhan

      makasih gan menyempatkan diri membaca dan review

      Delete
  8. Umi hadir, Umi hadir *angkat tangan tinggi-tinggi*

    Hai kakak Epicuuu >.< Narasimu puitis sekali~ Umi ga tahan untuk ikutan menari bersama angin bareng Reeh deh, boleh ikut terbang ga? heheheh

    Betewe, Umi suka banget penggambaran Elle disini, berasa dia trouble maker banget. Emang cocok sih mengingat authornya juga ampir sama wkwkkw >.<

    Umi juga suka parody Romeo and Julietnya di sini >.< berasa bikin geli maksimal >< juga lagu-lagu yang ditampilin di sini kerap buat Umi senyum-senyum senyum.

    Last, ini post pertama yang gambarin Hvyt ga terbang pas nganter entrant, 7/10 dari Umi >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih adinda Umi, menarilah bersama angin~

      Elle memang seperti itu anaknya, harap dimaklum-heh?

      Maksud ane Hvyt pake perahu sih biar dramatis aja gitu, seperti legenda Yunani di mana arwah orang mati diantar menyebrangi sungai oleh si tukang perahu.

      Makasih ya udah baca dan komen

      Delete
    2. demi apa si aku kebawa2 kemari... ternyata Ummi emang kehilangan aku yah :((

      Delete
  9. Agak kurang sreg dengan Elle yang terlalu banyak "nom" di akhir kalimatnya, bahkan sebelum koma pun sempet-sempetnya ngomong "nom"
    ._.

    Wuanjer, itu Baikai ngerayu Kilath malah nyanyi dangdut.
    XD
    Untaian dialog dan pengolahan karakter Reeh sama Baikal berulang kali bikin w ngakak, bisa-bisanya mereka menjalin bromance dengan bahasa yang amat sangat teramat puitis. XD


    Story ini unik ya, setelah sekian lama membaca entry yang lain, akhirnya nemu lagi story yang punya "hook" cukup kuat untuk memancing pembaca malas seperti ane ini, untuk lanjut membaca sampe akhir gegara penasaran. Dan "hook" ini tidak serta merta tercipta tanpa sebab, karakterisasi yang penulis bangun dengan sukses bikin ane selaku pembaca, jadi semakin penasaran akan interaksi lainnya yang hendak terjadi. (Sumpah, ane demen banget sama interaksi Reeh dan Baikal di sini)
    :D

    Ebuseet, Reeh keren ya, Elle yang udah kalap bisa dibuat insyaf gitu.
    ._.

    Point 7.5 / 10

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeee Reeh sama Baikai ga menjalin asmara gan, cuma hubungan sohib aja. tapi ngga tahu apa yang bisa terjadi di masa depan nanti.

      terima kasih gan atas sanjungannya membuat hati ane kembang kempis.

      Delete
  10. Ok, dari segi penceritaan ini bagus, tapi karena semuan karakterya jadi berasa pujangga, OOC.

    Untuk Baikat dan Kilat, WTF?! Terlalu mudah mereka tewas, terutama Kilat, kenapa dia jadi suicidal?

    score 7

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bisa dibilang OOC itu taruhan yang ane ambil buat bikin cerita ini gan

      mereka putus asa gan, tergerak oleh cinta. :D terima kasih gan review dan nilainya.

      Delete
  11. Anonymous27/5/14 07:55

    D. Lanjung:
    Maaf baru baca, gaya penceritaannya bagus walau sangat beda dgn R1 (sy gak sempet nilai, tapi itu layak dapat sepuluh), yg R2 lebih musikal, bikin ini hadi lebih unik, sama serunya, tapi sy lebih memilih yg R1 sih.

    Setuju ma komen di atas, pesertanya OOC, Kilat terlalu cepet mati, Baikai melankolis banget XD

    Nilai: 9/10

    ReplyDelete
  12. Aiiihhh... puitis, romantis, kocak pula.
    Saking puitisnya semua OC malah ikut2an berpujangga ria, jadinya OOC.
    O ho ho ho ho hon.
    7 dari moi.

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -