June 6, 2014

[ROUND 3 - K9] LAZUARDI - INDEKS

[Round 3-K9] Lazuardi vs Bara Si Tumpara
"Indeks"

Written by Po

--- 

Lazu menarik napas seperti kehausan, meraih udara banyak-banyak ke dalam dirinya. Ia lolos. Dari sebuah pulau yang memiliki jeratan kabut sihir nafsu birahi, ia telah lolos.

Demi nyawanya, Lazu telah membunuh seorang penguasa elemen air dan es bernama Azraq Ibrahim. Azraq telah mendatangkan topan blizard yang menelan pulau, membekukan hampir semua penghuninya sampai mati. Tubuh Lazu pun sebagian besar terdiri dari air, maka Azraq leluasa mengendalikan tubuh lawannya.

Bahkan seakan belum cukup, Azraq telah menciptakan sebuah tombak es raksasa yang bilahnya saja menutup sebuah bukit dalam bayangannya.

Semua itu untuk mengakhiri Lazu.

Namun panggung bernama hidup, tak pula sebegitu dapat ditebak. dengan teknik yang didapatnya dari sebuah keberadaan asing, Lazu merumuskan Sakrifar: sebuah kemampuan untuk mengubah fungsi tubuhnya. Seluruh energinya teralih untuk melipat-gandakan kecepatan tubuhnya, pun kekuatan teknik penyerapan airnya, hingga mencapai taraf yang ia sendiri pun tak bisa mengira.

Menerjanglah Lazu ke udara, tak sebetik jua tertangkap oleh mata Azraq. Makhluk biru itu menghisap tiap titik air dalam molekul es pada lajunya, hingga masih dalam lontaran tubuh itu pula Lazu membelah tuntas segenap tombak es raksasa. Di atas puncak badai yang menggebu, Lazu mengambil paksa setiap tetes darah dari tubuh Azraq. Mengantar kematian.

Ada pula satu figur lain yang memanfaatkan situasi, menunggu pertarungan usai dan membunuh Lazu yang sudah tak mampu bangkit karena habis tenaga. Tapi Lazu sudah punya rencana. Ia, jauh sebelumnya, telah menciptakan tubuh kedua dengan memakan sebuah inang lain di lokasi awalnya. Maka tak apa bila tubuh pertamanya mati. Dia sudah lolos.

---

Tak sampai satu menit setelah malaikat merah Hvyt mengutarakan lolosnya Lazu, Si Matoi itu sudah kembali terikat pada rantai tulang putih.

Tubuhnya yang penuh rasa sakit dan lelah, diliputi oleh sinar merah misterius sari badan rantai tulang. Semua rasa sakit dan kelelahannya berangsur hilang. Sinar merah ini justru menyembuhkannya.

"Dewa sudah membuka babak baru," Hvyt berujar singkat sebelum memanggul paksa tubuh kecil Lazu dan terbang bagai anak panah melintasi udara bebas. Kembali ke pelosok Tanah Devasche Vadhi.

---

"Tiga puluh menit. Satu lawan. Bunuh atau mati."

Ikatan rantai terlepas. Lazu menoleh untuk bertanya pada Hvyt yang mengantarnya tadi. Tapi malaikat merah itu sudah raib entah ke mana. Hanya gema dari kalimat singkat itu yang masih tersisa. Tiga puluh menit. Satu lawan. Bunuh atau mati.

Lazu melangkah dalam kegelapan. Ya, ruang persegi itu gelap dan tak seberapa luas. Cericit tikus terdengar sesekali, udara lembab beraroma lumut dan bangkai basah. Meraba-raba dinding untuk mencari arah, Si Matoi merasakan tekstur permukaan rangka ruangan yang dingin. Memenjara. Tanpa jalan.

Klik. Sebuah lampu menyala lamat-lamat di tengah ruangan. Cahayanya kuning, tanggung. Satu-satunya penyinaran di tengah tebalnya kegelapan. Lazu melangkah pelan, mendengarkan langkah kakinya sendiri pada lantai batu.

Tengkuknya merinding. Ada derik-derik serangga kecil dan suara air menetes ke kubangan. Lazu tiba tepat di depan lampu redup itu dan melihat ke bawahnya.

Gelap. Gelap.

Sesuatu berwarna hijau lumut.

Sebuah wajah tanpa tubuh.

"Aaaaaa!!!" Lazu menjerit gila-gilaan, ia terlonjak oleh ketakutan luar biasa sehingga terjerembab jatuh ke lantai batu. Pembuluh internalnya meloncat-loncat panik.

"Kenapa kau?"

Wajah hijau itu bertanya sambil mengernyit. Lazu melotot, matanya seperti mau copot dari rongganya.

Dan dia melihatnya. Itu bukan wajah tanpa tubuh. Makhluk itu mendekat sampai tubuhnya kian terlihat, meski remang-remang, di bawah cahaya lampu. Lampu ruangan itu hanya terlalu redup hingga sebelumnya tak menerangi seluruh tubuhnya.

"Kau tak apa-apa?" Si hijau lumut memapah bahu Lazu hingga bangkit terduduk di lantai. Si Matoi menyadari bahwa posisi kepalanya yang sedang duduk, ternyata sama tinggi dengan kepala makhluk hijau lumut itu yang sedang berdiri.

Rasa takut. Lazu baru saja membiarkan rasa takut memberinya ilusi. Nyatanya, makhluk di hadapannya ini hanya mamalia berbulu hijau yang bahkan lebih kecil darinya.

"Lawan hanya satu, kata malaikat merah itu. Jadi yah," makhluk hijau itu berujar dengan senyum percaya diri, "Pasti kaulah lawanku. Sudah siap bertarung?"

---

Mendengarnya, Si Matoi terkesiap. Selama ini, lolosnya Lazu dari berbagai ancaman adalah karena ia dari sebelumnya telah menyiapkan rencana cadangan, atau mampu membuat musuh lengah, atau keduanya.

Kali ini, tanpa persiapan. Tanpa tubuh kedua yang dapat ia cadangkan, dan lawan yang - dari ucapannya barusan - sama sekali tidak lengah akan keberadaan Lazu yang sudah dia pastikan sebagai lawan.

"Aku--"

Menghitung kemungkinan. Apa yang akan terjadi bila ia berbohong? Apa makhluk hijau lumut ini akan langsung menerkamnya? Namun belum sempat ia menimbang jawaban lebih lanjut,

"Mengaku sajalah, tak usah begini-begitu."

Sosok kecil itu berucap tegas, tatapannya melingkupi Lazu dalam semangat yang jujur.

Makhluk ini sudah melalui berbagai macam kesulitan, sepertinya, tapi dia menabrak semua itu. Terus berusaha, terus melawan. Tanpa trik, tanpa kerumitan. Hanya menabrak. Sebatas itulah yang Lazu sanggup raba dari perkataan si hijau lumut barusan.

Anehnya, kejujuran yang berani itu membuat rasa yang serupa turut bergulir. Rasa itu tertanam, perlahan tumbuh dalam diri Lazu. Ia ingin memiliki juga, kejujuran seperti itu. Keberanian seperti itu.

Di tengah ruangan nyaris tanpa pemetaan cahaya, Lazu melakukan kekhilafan. Untuk kali ini, ia melepaskan kalkulasi dan strategi.

"...Ya. Aku adalah lawanmu."

"Bagus. Kalau begitu, kita tak perlu bertarung."

"...Apa?"

---

Dia, Bara Tumpara. Dari planet Skyemaira yang diliputi oleh air dalam jumlah besar. Dua lentera melayang-layang tak jauh dari kedua telinganya, tertambat oleh temali roh tak terlihat. Bara Tumpara, petualang yang tak mengenal lelah dalam penjelajahan.

Bara bercerita, Lazu mendengarkan. Pada planet Si Tumpara, tengah bergolak pertempuran antara dua ras yang berbeda, untuk memperebutkan substansi air itu sendiri. Sebuah ras bernama Motavatu menggunakan cawan hitam anomali, untuk mengangkat air laut ke atas atmosfir. Mengubahnya menjadi Bulan Air Lubnacoes, dan membawa Lubnaclipsa: gerhana yang meliputi ras Motavatu dengan kekuatan magis.

Ekspresi Bara berubah-ubah seiring ceritanya berlanjut, kadang terhanyut dan kadang tergesa. Bara dipercaya oleh kaumnya untuk mewarisi kekuatan Sesepuh Roh. Ia menjadi prajurit pilihan melawan penindasan ras Motavatu. Meski ia mengalami kematian di tangan musuh, ada tujuannya yang belum terlaksana, yaitu menemukan sumber energi murni yang sanggup memberi kaumnya kekuatan yang lebih besar: Mata Air Arwah.

Situasi aslinya seperti apa, Lazu hanya sanggup menerka.

"Aku ingin mengajakmu menjadi rekanku, Makhluk Biru." Bara berucap lagi, "Sebelum tiga puluh menit berlalu, kita harus mencari jalan keluar bersama-sama. Bantulah aku menggalang pasukan untuk melawan Thurqk. Sebagai gantinya, dengan kekuatan Roh Lentera, aku akan membantumu agar lolos dari tanah Nanthara ini! Percayalah padaku!"

Mengakhiri ucapannya sendiri dengan tindakan, Bara mengibaskan kepala. Dua buah lentera antik melayang cepat mengikuti gerakan makhluk hijau lumut itu, dan dengan segera membentur dinding yang menjadi sasarannya.

---

Dalam selang dua menit, puluhan serangan lentera berdaya rusak sangat tinggi telah disarangkan oleh Bara. Namun.

Dinding itu bersih dari bekas.Tak ada batu yang pecah, tak ada yang bergeser.

Raut wajah Bara berkerut tidak suka. Dinding itu berdiri tegak di hadapannya, seperti menantang. Kesal dan tak mau kalah dari kurungan sebuah dinding, berbagai variasi hantaman lentera dia lancarkan menyusur.

Dari fondasi memanjang sampai ujung sudut ruangan pada pertemuan dinding serta atap, dari pukulan lentera menohok sampai hantaman melengkung. Semuanya menghasilkan daya bentur meledak yang bahkan mampu membuat sekawanan banteng besar terlontar belasan tombak ke udara.

Bara mulai kelelahan memacu tenaganya. Keringat mulai membasahi bulu halusnya yang hijau. Enam menit telah lewat. Maka terdengarlah gemuruh berat seperti roda gigi raksasa berputar mendesak satu sama lain.

"Berhasil! Berhas-"

"Bukan!" Lazu menukas tajam. Ia menatap sesuatu yang menjadi penyebab timbulnya bunyi berderak tersebut.

"Ap-apa yang..."

Dinding di hadapan mereka bergerak maju. Maju dan terus maju. Kemudian berhenti setelah satu meter. Celakanya, Lazu juga mendengar bunyi derakan yang serupa dari belakang kepalanya. Suara yang menandakan bahwa ruang gerak mereka telah dikurangi. Satu meter di depan, satu meter di belakang.

Tiga puluh menit dan ruang sepuluh kali sepuluh meter dan penyempitan dua meter saat enam menit berlalu, Lazu tersadar. Dua meter setiap enam menit, berarti enam menit berikutnya dinding itu mungkin akan kembali menyempit. Apa yang akan terjadi setelah tiga puluh menit? Ruangan ini akan hilang dalam himpitan dinding, dinding yang tak mampu dirusak sedikit pun.

Lazu memejamkan mata atas kesimpulan sederhana ini. Ia pasrah. Lelah menghindar.

Setiap sensasi inderawi yang tak berbeda dari yang Lazu rasakan selama hidupnya, tak mengubah kenyataan hitam bahwa ia sejatinya sudah memasuki maut.

Dan Thurqk telah memasang belenggu tak kasat mata pada setiap mereka. Belenggu itu adalah kekuatan menyala-nyala. Yang tak mampu menampilkan cukup hiburan berwarna-warni bagi Sang Kuasa, tak pelak akan direnggut oleh ajal yang sebenarnya.

Maka untuk apa mencoba lari, bila yang memburumu adalah tangan raksasa tak terhindarkan?

Lazu menatap punggung makhluk hijau lumut yang masih mencari-cari jalan keluar. Tubuh Si Matoi yang biru bening memancarkan cahaya tenang dari pembuluh internalnya.

"Tumpara...hentikan..."

Bara menoleh. Napasnya tak teratur mengempos udara panas yang tersisa, hidungnya mengerut-ngerut seperti musang kehilangan buruan. Hanya saja ia tak ingin berhenti,

"Masih bisa, Makhluk Biru. Aku masih..."

Namun Si Matoi menyela. Gumaman itu lirih, namun sampai jua ke telinga hijau itu,

"Dibandingkan memaksa keluar dari ruangan ini...sepertinya akan lebih mudah bagi kita...untuk saling membunuh."

Kepahitan. Itu yang harus Lazu jalani.

"Apa maksudmu...? Kau...kau ingin menyerah begitu saja pada permainan ini?!"  intonasi Bara kini berubah, kasar. Ada dengus keras dari tenggoroknya. Setetes keringat di dagunya, menandai lelah dan lemah yang justru menambah kegigihannya, menyebabkan batu roh elemen angin mendadak bersinar dengan pusaran hijau mentereng.

"Kita tak saling kenal. Kita punya kepentingan masing-masing. Ini akan," Lazu melangkah perlahan ke arah Si Tumpara. Sambil mengamati lekat-lekat, Lazu lanjut berucap,

"...ini akan lebih mudah."

Dua lentera melayang di atas telinga makhluk itu telah berubah bentuk dan warna, hijau penuh gerigi spiral sangar, sepanjang alurnya.

Lazu mengamati, Bara pun mengamati. Lawannya, sosok biru bersepuh cahaya emas temaram, bermata kelam akibat bayang-bayang yang bermain di permukaan raut wajahnya. Si biru itu berucap lagi, sinis,

"Kau ingin keluar? Kau ingin berontak? Tahu dirilah. Segala kekuatanmu dipangkatkan dengan angka berapa pun, hanya bebijian kering di dalam telapak tangan Dewa itu, Thurqk."

Bara berjengit. Thurqk telah membunuh semua yang gagal dengan sangat enteng.

"...Bukan berarti aku harus menyerah tanpa bertarung. Thurqk jahat, aku akan menumpasnya. Mungkin inilah, tugas yang harus kuemban sebagai pewaris roh lentera. Mungkin inilah tanggung jawabku sebagai makhluk terpilih untuk menyelamatkan dun-"

"Angan-angan semu." Lazu memotong tak peduli. "Semua adalah tentang dirimu, bahwa aku harus percaya padamu, bahwa semua adalah tanggung jawabmu. Pih!"

Makhluk ini memang berani, pikir Si Matoi. Tapi tak berpikir akan konsekuensi. Lazu mulai muak. Ia muak atas semua heroisme tolol yang meluncur dari perkataan dan tabiat si pembawa lentera.

"Bila semua penyelamatan di alam ini adalah tugasmu, Pahlawan Tumpara, bertanyalah pada kaum Motavatu di planetmu. Apa mereka pun menganggapmu sebagai juru selamat?"

Bara sudah membuka mulut, namun jawaban tak kunjung datang pada pikirannya. Maka Lazu terus mencecar.

"Aku bisa menalarnya sekarang. Kau bahkan tak mengenal seperti apa itu bangsa Motavatu. Hanya dengan mendapatkan warisan kekuatan dahsyat di lenteramu itu, hanya karena para sesepuh menobatkanmu sebagai penyelamat bangsa kalian, kau merasa harus melawan Motavatu."

"Apa salah? Apa salah memikul spirit lentera yang diwariskan ini?" Bara belum memahami apa yang lawannya bicarakan.

"Kau tak pernah mencoba bertanya, mengapa makhluk-makhluk itu merampas air dan membuat gerhana Lubnaclipsa. Mereka mungkin saja berada di ambang kematian dan hanya gerhana sihir itu yang mampu menyelamatkan hidup mereka."

Bara tak menduga kemungkinan ini. Benarkah itu? Mungkinkah ras Motavatu melakukan invasi ke daratan planet karena terpaksa, untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka sendiri? Tapi itu hanya salah satu kemungkinan.

Makhluk biru ini berasal dari lain dunia. Tentu semua argumen itu tak terbukti karena hanya sebatas perkiraannya saja.Maka Si Tumpara kembali mendebat,

"Mereka mengambil air milik kami tanpa sisa! Air di sungai, danau, bawah tanah!"

"Apa yang membuat kalian mengira semua air itu adalah milik kalian?" Lazu mengucapkan retorika, "Kalian tak menciptakan air. Kalian bermukim di darat, Motavatu di laut, tapi kalian menghuni planet yang sama."

"Semua masalah di planetku, Skyemaira, takkan timbul kalau mereka mau berbagi...!!"

"Tapi kalian, bangsamu, kau, tak peduli dengan bangsa Motavatu! Justru kalianlah yang menolak untuk berbagi! Menolak untuk melihat alasan dari sebuah tindakan! Menolak memahami siapa pun selain diri kalian sendiri!"

"Apa?!"

"Bila demikian, baguslah bila sekarang bangsa Motavatu berkuasa di planetmu. Semoga dengan itu, di sana takkan ada lagi spesies makhluk egosentris yang menganggap mereka harus menjadi raja di mana pun mereka berada."

"Kau..." urat-urat di leher Bara menegang. Makhluk biru di depannya ini tak ubahnya setan yang akan menggerogoti pemikiran siapa pun di sekitarnya.

"Ya, semoga tak ada lagi spesies arogan," Lazu memaki, "Seperti kau dan para sesepuhmu itu!"

Terbawa oleh arus emosi, sebelah tangan Lazu meluncur dalam gerak ofensif, pergelangan Bara diincarnya. Rasa takut Lazu akan membunuh dan terbunuh, tertindih oleh kemuakannya terhadap Si Tumpara.

Namun seperti gesekan antara logam dan logam, percikan api kemarahan tidak hanya muncul pada Lazu. Bara justru lebih tak terima bahwa sesepuhnya direndahkan sedemikian rupa.

"Spinach!!"

Maka Si Tumpara menarik lengannya dari jangkauan Lazu serta menyentak kepala, roh lentera dan spirit angin Spinach pun beraksi, terlempar-ungkitlah lentera terbangnya hingga menciptakan angin ribut yang melesakkan Lazu.

Pijar hempasan meledakkan cercah terang di kegelapan, Lazu terlempar hingga punggungnya membentur dinding hitam. Punggung dan wajahnya tersengat oleh nyeri yang menumpulkan sensasi sentuhnya.

Namun tubuh kenyal melindunginya dari luka. Ia lekas melakukan tolakan pada dinding untuk mengembalikan posisi dan lalu berlari ringan menyongsong Bara. Beruntung gerigi lentera tajam itu belum sempat mengenainya.

Maka melihat lawannya yang minim luka itu, kesalnya Si Tumpara semakin kentara. Niat baiknya yang optimis untuk mencari rekan seperjuangan, justru berbalas hujatan pahit.

"Kau menghinaku, Makhluk Biru. Kau menghinaku!"

Si Tumpara melompat tinggi di udara dan bersalto tiga kali putaran penuh. Kedua lentera melakukan rotasi berkecepatan tinggi dan saat Si Tumpara menjejak di permukaan datar, lentera penghempas kembali menukik secepat peluru disertai angin yang menggumul dahsyat membentuk mata bor pemusnah berbilang puluhan.

Tubuh Lazu yang sedang berlari menerima tekanan kuat ke bawah. Tapi Si Matoi telah mengerutkan tubuhnya sambil tetap berlari. Sesaat setelah kakinya yang biru bertumpu pada lantai dingin, menjejaklah ia sekuat tenaga dalam hindaran menyamping, lincah bagai kucing hutan.

Lentera meleset dan kembali menghunjam lantai kosong. Ledakan tercipta namun Lazu sudah tak ada di sana. Di tengah lompatannya, Si Matoi melirik sepintas. Tubuh Bara limbung untuk beberapa kejap karena terbawa oleh ayunan lenteranya sendiri.

Maka Lazu yang masih pula dalam hindaran itu memutar di udara bagai kitir, memuntir pijakan saat mendarat, menunggang daya pantul, berbalik bahkan lebih cepat dari sebelumnya dengan letup tubuh berdesing membelah angin.

"He, hei...tunggu!"

Bara terhenyak saat siku Lazu menusuk perutnya tanpa bisa dihindari. Untuk beberapa kejap, Si Tumpara merasa janggal karena serangan itu nyaris tak sakit sama sekali.

Tapi Lazu sudah mengganti caranya bertarung. Sikunya mengerut, berkontraksi dengan cepat untuk kemudian melepaskan daya pental mengejutkan yang berpusat di perut Si Tumpara.

"Kurang aj-"

Tubuh hijau lumut itu terlempar sangat cepat dari titik terjangan siku Lazu. Punggung Si Tumpara tergebrak kencang pada permukaan dinding hitam dengan suara benturan remuk yang menggema di kegelapan.

"Uaaarghh!!"

Punggung Bara tertekuk ke arah yang tak wajar. Makhluk kecil itu terjatuh ke lantai. Bulu-bulu hijau di punggungnya rontok, memperlihatkan kulit dan daging yang menghitam karena gumpalan darah dan remukan tulang yang menonjol janggal.

Lazu terdiam mengamati kondisi lawannya, tak meneruskan serangan.

"Tak seperti aku, kau terdiri dari daging dan tulang. Pukulanku takkan melukaimu, tapi daya dorong tubuhku yang membal ini sudah cukup. Asal aku dapat melemparmu cukup kuat, dinding ruangan inilah yang akan melumpuhkanmu."

Bara bangkit dengan susah payah. Darah merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Namun di tengah rasa sakit itu, Bara masih sempat heran.

"Untuk apa kau memberitahuku...cara bertarungmu...?"

Si Matoi tertegun. Benar juga, ia baru saja secara spontan membeberkan penggunaan sifat tubuhnya dalam tarung. Dengan sifat alami mereka yang bertentangan itu, untuk apa? Beberapa detik, barulah Lazu menemukan jawab.

"Kau...pemberani. Aku, selama hidupku," jawab Lazu berkata canggung, "Selalu kagum pada keberanian. Kebencianku pada prinsipmu...tidak mengubah itu."

Dengan ucapan itu, barulah Lazu  melompat maju, ekspresinya kembali tak tertebak saat kakinya meninggalkan jejak uap yang membuka lesatan cepat.

Bara membelalak. Bukan karena deretan langkah Lazu yang semakin dan semakin cepat dengan daya pantul tubuhnya. Tapi karena Matoi Biru itu baru saja mengakui keberaniannya.

Mungkin selama ini pencariannya tidak sia-sia. Kawan, seperti juga lawan, muncul tanpa disangka. Dan yang manakah Lazu? Sulit diterka. Bara masih menggenggam harapan bahwa dirinya suatu saat akan menemukan mata air arwah.

Namun tak ada waktu lagi untuk merenung, karena lawan sudah di hadapan. Lazu melangkah di lantai, sekilas melirik ke kanan namun sekaligus berputar ke kiri dalam kecohan. Jarak tertutup, adu kekuatan jarak dekat segera terjadi. Lazu menusukkan tangan ke area vital lawannya. Kekuatannya tak seberapa, namun ketelitian gerak Si Matoi tak bisa Bara anggap enteng.

Bara menggeleng, lentera gergaji segera turun tangan untuk mementalkan tangan Lazu. Namun tusukan tangan itu malah meliuk licin seperti ular untuk kemudian menyergap kedua bahu Si Tumpara.

Menyangka Lazu akan mementalkannya kembali ke dinding dengan prinsip kemembalan, Bara mengambil ancang-ancang untuk melompat mundur menangkal efek serangan. Tapi sergapan tangan Lazu berubah serupa gerak cakar puma merobek bahunya.

"Pongio!"

Daging dan pecahan tulang tercabut dari tempatnya. Bara harus membayar kesalahan perkiraannya dengan sebelah bahu yang robek menganga dan darah yang tertumpah bersama rasa sakit.

"Nggrrhh..cengkeraman itu mengeringkan daging bahuku..!!"

Beruntung refleks Si Tumpara yang luar biasa telah menyelamatkan bahunya yang sebelah lagi. Makhluk hijau lumut itu tak bisa membuang waktu. Menahan sakit dan kejang otot yang bertambah, segera berbaur dan menimbulkan reaksi pada batu roh dalam sinar kuning yang meluas.

Lazu memicingkan matanya namun enggan menghentikan serangan. Selagi lawan belum siap menahan teknik penggersang air miliknya, ia harus bergegas.

Ketika sesaat gerakan Bara melamban, jari-jari tangan Lazu sudah mencengkeram lehernya. Dapat! Namun saat itu pulalah Lazu terhenyak.

Leher dan tubuh Bara pudar menjadi berpuluh keping sinar emas yang tak mampu dilukainya. Itulah kemampuan roh lentera lain dari Si Tumpara, spirit emas Onion yang sanggup meracik fatamorgana.

"Melebur...? Begitukah...?" Selagi Lazu tertegun, sinar hijau datang dari belakang punggungnya.

Lentera hijau dari Bara, Bara yang sesungguhnya, berputar bagai gergaji spiral roh Spinach membawa angin setajam pisau-pisau. Menyadari ancaman ini Lazu pelintirkan tubuh dalam lompatan elips, di tengah udara ia mengelak tipis dari lintasan serang lentera gergaji pertama kemudian kedua.

Dua lentera berbalik arah dengan segera. Masih dalam alur lompatan Lazu susah payah menepis sebuah lentera pada bagian datarnya hingga efek benturan mementalkan Si Matoi sampai terguling, namun juga menghempaskan lentera berputar tersebut ke belakang bahu kanannya hingga berkelontangan di lantai.

Lentera satunya bersinar, memutarkan angin hijau berefek vakum yang memberi gaya tarikan kuat. Lazu kelimpungan saat tubuhnya bagai ditarik paksa oleh kawanan karnivora tak terlihat, dibetot sampai ke depan mata gerigi gergaji yang berputar cepat berdenging menggidikkan.

Namun meski senjatanya tengah menyudutkan Lazu, Bara masih berprasangka baik, berharap pula bahwa dia dan Lazu akan berjuang bersama suatu saat nanti.

Meski dia harus membunuh, semoga Thurqk mau menghidupkan kembali lawannya ini. Tanpa disadari, setetes hangat menggenang di tepi mata Si Tumpara. Itulah air mata harapan.

Sementara Lazu pejamkan mata untuk memaksa dirinya fokus. Ia menilik situasi dan memotong lepas satu telapak tangannya sendiri sampai pergelangan.

Sebelum Bara paham apa yang terjadi, potongan tangan biru bening itu sudah terhisap cepat memasuki titik tengah pusaran angin hijau.

"Apa yang..."

Dengan suara menjijikkan, putaran gerigi lentera mencincang potongan tangan Lazu menjadi berpuluh-puluh potongan kecil. Semuanya masih terkena efek tekanan angin yang berputar membetot. Lazu menjejak tanah sekuatnya, dan memantul menjauhi pusaran.

Dengan komando neural dari Si Matoi, kerumunan potongan tubuh memasuki tiap lekuk dan celah lentera hijau, bagai ulat-ulat biru menyusup bergerombol. Bara terkaget-kaget, baru menyadari ada maksud tertentu di balik terpotongnya tangan lawannya itu.

"Apa yang kau lakukan!? Aku takkan menyerahkan lentera roh padamu!"

Bara menggelengkan kepalanya, mencoba untuk kendalikan lenteranya yang baru saja dimasuki oleh kerumunan potongan tangan Si Matoi.

Tapi lentera itu tak bergerak. Si Tumpara tak bisa mengendalikan satu senjatanya. Lentera itu berubah semakin biru, semakin biru, dan mulai berdenyut-denyut seperti daging jantung namun bening.

Sementara retakan tulang punggung Si Tumpara timbulkan nyeri dan belasan pembuluh darah kecil di otot bahunya kembali pecah menggenangkan darah. Tapi Bara menahannya, demi harga dirinya. Itulah luka yang timbul atas perlawanan mati-matian.

Spirit sesepuh dalam bebatuan kuno tersentuh oleh keberanian nurani Bara, sepasang roh tetua Skyemaira menyambut dua perasaan hati Si Tumpara yang terdalam. Dua buah batu kuno melayang di udara, mencetak biasan cahaya biru terang dan merah pekat pada tiap sisi ruangan dalam pendar berganti.

Kini, dewi fortuna sangat berpihak pada Si Tumpara. Karena dengan ini, empat batu roh elemen milik Si Tumpara telah bangkit. Sehingga Bara dapat menggunakan empat jenis kekuatan spirit ini secara bergantian maupun bersamaan. Spinach. Onion. Rice. Longan.

Suara berderak terdengar lagi, lebih mendebam-debam dari sebelumnya.  Langkah Lazu terhenti. Dinding di depan dan belakang kembali menyempit, namun bukan hanya itu. Pijakannya bergeser. Lantai batu bergeser.

Lantai yang mereka pijak, masuk ke dalam dinding.

Lazu dan Bara terperosok jatuh. Udara mengalir kencang menerpa dari bawah tubuh mereka bagai arus deras.

Jalur-jalur es dingin tercipta di bawah kaki Bara, sebagai kekuatan roh Rice yang berkelumit dalam elemen es.

Ruangan gelap itu adalah terowongan vertikal yang menghunjam jauh ke dalam bumi!

Detik berjalan mundur. Menggenggam delapan belas menit yang tersisa.

---

Dua petarung jatuh cepat, Lazu memutar posisinya hingga bagai menyelam dengan kepala di bawah. Sementara satu lentera Bara yang tersisa pancarkan sinar biru membekukan tulang. Berputar beberapa kali, Si Tumpara membenturkan lenteranya itu ke ruang kosong. Terciptalah empat jalur elemen es di udara bagai jalinan ombak beku di laut lepas.

Karena lentera yang bersinar biru oleh roh sesepuh menandakan sudah bertransformasinya Bara, menjadi Bata-Rice.

Bara-Rice mengerahkan kekuatan spirit. Lenteranya membantunya membuat empat jalur putih beku dan Bara tanpa ragu berakrobat dalam selancar esnya di udara, menuruni palung kegelapan dengan meluncur sepanjang lintasan.

Mata Lazu berpindah cepat menyisir titik-titik sudut terowongan vertikal. Dia miringkan tubuh dan merentangkan tangan di udara ke sisi sejauh yang ia bisa. Perspektif bebatuan hitam di keempat sisi melaju mendekat dengan semakin luar biasa akibat tarikan gravitasi pada batang tubuhnya.

Bara yang lebih seimbang dengan jalur esnya yang independen, membuat lintasan beku yang berputar. Di ujung lintasan Bara melompat dan ayunkan lentera yang mampu membekukan apa pun pada titik sasarannya.

Mengindera hawa dingin tak wajar, sebelah tangan Si Matoi yang terentang akhirnya menapak di dinding sementara tubuhnya terbawa laju. Lengannya seperti akan lepas saking nyeri dan lelahnya, namun pada detik terakhir Lazu berhasil mendorongkan tangan pada dinding untuk memantul ke dinding terowongan vertikal yang berseberangan.

Tak menduga bahwa lawan akan memanfaatkan dinding keras itu dalam momen singkat, Bara kecele. Serangan lenteranya seperti tertelan oleh dinding hitam tanpa memberi kerusakan sama sekali.

"Longan!!" Lentera berganti warna menjadi merah dan memukul udara. Saat itu pula kekosongan di bawah kaki Bara menjelma trampolin magis yang melontarkan tubuh kecilnya ke mana pun Bara inginkan.

Menukik zig-zag dengan bentukan tiga seri trampolin magis, Bara menyergap Lazu di udara tak ubahnya pemangsa liar.

"Nggooaa!! Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah merampas satu lenteraku!" Bara memutar-mutar kepalanya sehingga lenteranya menjangkau sedepa lebih jauh dan spirit es Rice jalarkan hawa beku pada lentera itu berlipat ganda.

"Rice!"

Lentera Bara-Rice tepat menggodam dada Lazu dengan ledakan biru menggigilkan dan nyeri tajam yang keterlaluan harus Lazu derita.

Dalam sekejap tubuh Si Matoi membeku dalam bongkahan es tetrahedron yang merasuk hingga ke dalam pori.

"Longan! Spinach!!"

Bara mengganti daya spiritnya lalu terbang melewati tubuh beku Lazu, memantul balik dengan trampolin energi Longan dalam manuver, mengubah lenteranya menjadi gerigi tajam Spinach yang menebar angin topan seruncing bilah pedang raksasa.

"Tumparaaaa!!"mendadak sebuah pekikan memerindingkan kuduk si pengayun lentera. Asalnya dari atas kepala.

Dia membalikkan tubuh di udara menengadah, dan terlihatlah sesosok tubuh biru kecil, jauh lebih kecil dari dia sendiri, menghunjam deras menuju ke arahnya.

"Itu...lenteraku? Satu lenteraku yang tadi sempat dikerumuni oleh potongan tangan makhluk biru itu...telah berubah menjadi makhluk biru yang serupa, namun versi mini...?"

Pertanyaan itu melintas di benak Bara, namun dia tak boleh goyah. Lazu Lentera, Lazu kecil itu, semakin dekat padanya. Entah kenapa Bara merasa terancam. Sinar kuning pun bersemu dari lentera miliknya yang tersisa.

"Onion!!"

Tubuh Bara kembali menghablur dalam sebaran partikel emas ilusi. Lazu Lentera melewati partikel itu tanpa hasil, karena ternyata secara bersamaan Bara sudah menggunakan trampolin energi Longan untuk mendaki udara hingga kembali berada di atas,

...di atas kedua Lazu.

Bara tersadar saat melihat luncuran Lazu kecil yang semakin cepat menuju Lazu pertama. Bahwa sejak awal Lazu kecil menukik bukan untuk menyerangnya langsung, melainkan untuk membagi fokus Bara agar kehilangan waktu hingga tak sempat menghabisi Lazu pertama yang telah beku.

"Pongio! Unifio!!"

Lazu Lentera ulurkan tangan dan dalam kurang dari sedetik saja bongkahan es besar yang meliputi Lazu pertama telah lenyap diserap olehnya.

Secara nyaris berbarengan,  tangan yang satu lagi menggenggam tangan Lazu pertama yang masih beku kaku di udara.

Tangan kedua Lazu saling melilit, menyatu bagai dua gumpal tanah liat dipanaskan. Dua biru menjadi satu biru. Lazu yang baru ini semakin menjatuhkan diri ke dalam bumi, namun sorot matanya menikam kuat pandangan Bara saat ia berseru lantang,

"Tumpara!! Aku tak bisa menyerahkan kemenangan ini padamu! Kau bertindak tanpa menimbang! Kau terbuai dalam angan bahwa dirimu digariskan untuk segala kejayaan!"

Permukaan lantai terowongan vertikal semakin mendekat. Lazu menjejakkan kaki di lantai hitam. Di udara, Bara menyentak dalam kekesalan yang terus dan terus meninggi,

"Memang akulah Sang Penyelamat! Siapakah dirimu, Makhluk Biru, yang berani mengatakan sebaliknya!?"

Kedua petarung semakin tersengal dalam lelah, ruang gelap vertikal yang mereka tempati bergemuruh dan kian menelan. Tenaga yang tergerus sepanjang pertukaran serangan bertubi-tubi, membuat luka dan kesakitan mereka berlipat ganda.

Terutama Si Matoi yang memiliki sensitivitas terhadap nyeri yang lebih dibanding makhluk lain. Kesakitan membuat pandangannya mengerjap, membuat setiap pembuluh internalnya bagai ditembusi tombak api.

Bagai ditimpa sebuah bukit pada kedua bahunya setiap ia mencoba bergerak. Bagai diringkus oleh ular piton besi raksasa.

Ingin mati. Lazu ingin mati.

Seperti juga kisah akhir hidupnya dalam lautan Aspemina. Di mana ia mati karena kesedihan luar biasa, dari kegagalannya meraih penerimaan dari segenap biota laut di ekosistemnya. Mati hanya karena merasa tak sanggup lagi menanggung hidup.

Mati tanpa makna. Mati yang kosong. Mati yang tak berbekas.

"Aku...bukan siapa pun. Aku bukan siapa pun yang digariskan untuk menyelamatkan dunia." begitu Lazu berujar.

Mendengarnya, Bara memasang senyum mencemooh sambil terjun cepat luar biasa. Namun tenaganya pun akan menguap tak lama lagi.

Bila demikian, Si Tumpara harus mengerahkannya. Ia harus meminta Roh Lentera dan Empat Spirit untuk memberinya berkah tertinggi. Satu lentera bersinar terang bersama empat batu melayang.

"Bara...Ri-Sol....!!"

Lazu mengepalkan tangannya, gemetar antara takjub dan ngeri, saat seluruh kegelapan dalam kabin vertikal itu sontak benderang. Tubuh Si Tumpara yang melayang, kini berkobar putih melebihi platina.

Karena kini roh para sesepuh telah menjadikan dirinya keberadaan mistis yang pernah mengobarkan pergolakan terhebat di muka bumi Skyemaira. Dia yang pernah menyudutkan bahkan para panglima iblis air Motavatu.

Bara RiSol, Arwah Cahaya Bumi!

"Kau menyadari betapa lemahnya dirimu. Bagus!" Bara berucap pada Si Matoi dengan suara berkilat yang lebih mirip denyar-denyar api. "Maka lihatlah cahaya ini, cahaya arwah bumi Skyemaira yang akan melelehkan segenap inci keberadaanmu!"

Si Matoi menengadah. Dua petarung bertatap dalam diam. Kemudian Lazu tersenyum pada Bara, senyum yang sekilas tak acuh namun sesungguhnya berkobar.

Senyum itu, bahwa ia tak ingin kembali menyongsong maut tanpa pernah memiliki arti. Meski itu artinya ia harus bertarung dalam lini nasib.

"Sol Shoot!!" Keempat batu spirit mengeluarkan ratusan peluru cahaya dalam tempo dan kecepatan tak masuk akal. Rapat bagai terpaan hujan, namun sangat menghancurkan tak ubahnya longsoran hujan api.

Saat itulah simbol safir menyala biru di udara, sejuknya seakan hendak tandingi kedamaian para malaikat di atas awan.

Bahkan Bara-RiSol sekalipun tertegun menyaksikan. Itulah Sakrifar, esensi tubuh dan hati Lazuardi yang telah padu dengan kedahsyatan Sang Kejora.

Lazu mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia melenting kuat-kuat pada lantai, melompat dan menambah daya pantul dan menjejaki keempat sisi ruang vertikal Khramanaka bergantian. Untuk menanjak semakin dan semakin cepat. Perpindahan geraknya tak tertangkap meski di sudut mata.

Maka Bara menatap dengan meminjam mata energi spirit. Dia melihat sesosok tubuh berpendar biru, melonjak cepat dengan frekuensi laju tak terbendung, kian dekat ke udara tempatnya mengapung, menembus hujan peluru cahaya. Sebuah anomali pun tertangkap pada pandang Si Tumpara.

"Semua peluru itu menembus tubuhnya begitu saja...apa yang terjadi? Apakah tubuhnya itu menjadi ilusi? Tapi...tak mungkin..."

Bara bersiap melakukan serangan penentu, sambil memastikan apakah yang disaksikannya adalah maya. Namun semakin dia menyaksikan Lazu yang melesat dalam ledakan hawa sejuk yang iringi pergerakan itu, semakin yakin Bara bahwa keberadaan Lazu nyata adanya.

"Mata Spirit Sesepuh menunjukkan roh makhluk biru, mata ini takkan tertipu oleh ilusi...jadi itu adalah tubuh asli...tapi kenapa..."

"Karena aku telah memiliki konsepku yang tersendiri. Untuk menjadi lebih. Lebih darimu!" Lazu membentak balas, matanya terfokus pada tujuannya.

Sebagai jawaban, Bara memusatkan semua energi pada satu titik.

"Buuurrssst Sooool!!!"

Empat batu spirit bertumbuk bangkitkan pancaran putih menyala, membutakan, tak ubahnya sebuah miniatur bintang. Bara takkan membiarkan makhluk ini menghina para sesepuh. Perlawanannya tak boleh terhenti. Si Tumpara menghardik tanpa simpati,

"Sekarang habislah kau!!"

Energi spirit arwah cahaya bumi itu menggelegak, tanpa ampun menderu dahsyat ke arah Lazu sebagai sejalur cahaya raksasa yang melingkup semua sudut dan celah, membentang luas tanpa menyisakan ruang gerak.

Namun Si Matoi hanya terus dan terus melaju. Mendaki kehampaan ke hadapan pancaran pemusnah.

Pendar biru safir semakin terang dari sekujur permukaan kulit Si Matoi. Itulah Sakrifar, daya unik Lazu yang sanggup meredam sekian fungsi tubuh untuk meningkatkan fungsi tubuh lainnya hingga mencapai tahap tak terbayang.

Dalam sekejap, Lazu merubah fungsi tubuh birunya. Mengganti dan mengatur indeks difraksi keberadaannya.

Indeks difraksi, sifat fisik suatu substansi untuk menyebarkan pancaran cahaya menjadi komponen warna yang terpisah satu sama lain sekaligus merebut kendali atas energi cahaya tersebut.

Jalur cahaya besar dari Bara RiSol menimpanya, dengan daya penghancur luar biasa karena sangat terpusat dan padat.

Namun ketika indeks difraksi Lazu berganti dalam koordinasi rumit, setiap partikel cahaya yang menyentuhnya malah tersebar menjadi spektrum cahaya yang terbias mengisi fisik Lazu tanpa menimbulkan kerusakan sedikit pun.

Tak dinyana, bahkan energi yang terpecah itu seakan tunduk pada kuasa difraksi Lazu.

Cahaya berbelok, memecah terang dalam sapuan biru langit yang mewujud dalam Sang Matoi. Lazu, membelah udara, dengan tubuh berkilauan indah tak ubahnya lautan permata di ufuk angkasa.

"Bahkan setelah kau mengatakan sendiri...bahwa kau bukanlah apa-apa! Kenapa kau tak juga tumbang!!" Bara berteriak sejadi-jadinya. Namun tenaga spiritnya telah habis.

Lazu melesat melewati Si Tumpara. Terus ke atas. Mengumpulkan berkas cahaya warna-warni dalam bingkai tubuh.

Mengubah lagi indeks spesifik tubuhnya. Membelokkan arah cahaya. Mengembalikan daya fokus penghancur. Mengatur sudut dan ketepatan.

Dan Lazu berteriak, dengan mendidihnya rasa yang meluap. Ia memekik pada Bara Si Tumpara, menjerit pada bumi Nanthara, menyuara pada Thurqk Sang Dewa.

"Karena adalah kebebasanku!! Untuk tidak menyerah!!"

Dengan itulah cahaya spirit berbalik keluar dari tubuh Si Matoi sebagai puluhan garis terang yang dikuasai penuh oleh Lazu. Saling memusat membentuk enam pilar cahaya biru yang menyebar serentak ke enam penjuru.

Enam pilar cahaya menebar dengan bunyi dentang nan jernih, menghancur-debukan satu lentera Bara yang tersisa. Melebur-lelehkan satu, dua, tiga, empat batu spirit yang melayang bersamaan.

Tanpa lentera , tanpa batu roh, tubuh spirit Bara mengelupas bagai nyala api unggun terpadamkan hujan. Menyisakan tubuh fisiknya yang hijau lumut. Jatuh. Kecil. Luka. Lelah.

Maka Lazu melayang turun, berdirilah ia bagai apung di udara, hatur-lesatkan pilar cahaya biru penghancur yang terakhir. Menembus pecah batok kepala Si Tumpara, tepat di titik antara kedua mata.

---

Dengan membunuh lagi,

Mungkin, ia bersalah.

Pasti, Lazu bersalah.

Tapi, Si Matoi tak bisa berhenti. Ia belum menemukan jalan untuk lari dari panggung pertarungan berdarah ini.

Jalan keluar di belakang seakan tertutup. Namun, apakah menapak ke depan adalah satu-satunya pilihan?

"Lazuardi, Sakrifar. Lolos."

11 comments:

  1. Benar-benar pertarungan intens, apalagi setelah jatuh ke dalam lubang bumi!

    Si Bara kasihan, keyakinannya dibolak-balik oleh Lazu. Sungguh lawan berbahaya si Matoi ini, menghantar rasa sakit ke hati musuhnya.

    Saya suka senyum sendiri baca narasinya. Kadang ada pola narasi yang sama dengan yang akan saya tulis untuk menggambarkan adegan itu. Dan saya menemukan salah satu inti narasi deskripsi khas Pak Po, dan saya baru sadar, yaitu : tidak menggunakan imbuhan 'me' pada kata kerja. #plak

    Pas jatuh ke bumi kerasa pacenya cepat, ga ada waktu untuk nyantai, hahaha.

    Saya ga tahu apa yang kurang, tapi rasanya masih ada sesuatu yang kurang greget. Hmm, entahlah, mungkin akan kutemukan suatu saat nanti.

    Nilai 8,5!

    ReplyDelete
  2. UAAAARRGHHH..!! *ohok*

    Baca entry ini rasanya seperti dihajar habis-habisan... saya gak biasa baca cerita yang padat banget kayak begini, terlalu banyak narasi dan minim dialog, walau awal2nya saya seneng liat debat antara Bara dan Lazu, soalnya saya ngerti kalau gak ada debat begitu keduanya gak akan berantem super serius..

    Tapi pas masuk battle, hampir isinya narasi dan deskripsi semua, dan dialog cuma seling2 dikit, paling ada cuma pas neriakin jurus masing2...

    Banyak isitlah yang juga saya susah ngerti (maklum katrok) yang bikin saya bingung ini maksudnya apa, atau itu sebenarnya ngapain? mungkin sebaiknya ceritanya dibuat agak ringan sedikit, pasti lebih keren jadinya..

    nilai 6,5/10

    btw.. kecele itu artinya apa?

    ReplyDelete
  3. Ga kayak yang pak Po bilang, rasanya faktor utama yang kadang bikin saya kurang sreg sama Lazu di beberapa ronde sebelumnya bukan masalah narasi, tapi masalah plot. Hampir sama kayak Altem di mana saya ga suka kalo penyelesaian semua masalah = Nuntak, kadang Lazu ini berasa...apa ya, terlalu dimuluskan jalannya? Udah gitu kadang berasa panjangnya cerita itu sekedar for the sake of being long, tapi mungkin itu saya aja sih

    Sekarang kita kesampingkan ucapan yang kayanya ga enak di atas. Terlepas dari apa yang saya liat di r1-r2, jujur saya lebih sedikit lebih enjoy baca Lazu di r3 ini, entah kenapa. Kalau saya telusur lagi, mungkin ini karena plot yang pak Po bangun di entri ini cocok dengan 1v1, jadi semuanya berasa reasonable

    Pertarungannya juga, keliatan kalo yang diadu bukan cuma fisik tapi ideologi. Meski di kepala saya tertanam ide kalo Lazu itu karakter hypocrite, tapi debat dia yang bikin Bara bingung sama keyakinannya sendiri itu juga bagus. Apalagi pas actual battle kerasa all-outnya (kayanya Bara ini emang gampang dibikin keluar semua kemampuannya ya, ngeliat vs Ursa juga kayak gini)

    Nilai nyusul nunggu entri lawan muncul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Shared score dari impression K-9 : 6,9
      Polarization -/+ 0,6
      Karena saya lebih suka entri Lazu, jadi entri ini saya kasih +0,6

      Final score : 7,5

      Delete

  4. "Apa maksudmu...? Kau...kau ingin menyerah begitu saja pada permainan ini?!" intonasi Bara kini berubah, kasar. Ada dengus keras dari tenggoroknya. Setetes keringat di dagunya, menandai lelah dan lemah yang justru menambah kegigihannya, menyebabkan batu roh elemen angin mendadak bersinar dengan pusaran hijau mentereng.


    sampai => berubah, kasar.

    sebenarnya sudah cukup, tapi bener kata sam, ngebaca tulisan mas po mas po kayaknya menambahkan dengus dan juga tetesan keringat sebagai keharusan agar berasa panjang.

    dan soal efek kegigihan dan Batu hijaunya, itu kan paragraf baru, karena sudah hal yang berbeda.

    #justsaying

    Tapi kali ini battlenya sangat bagus, sayangnya tiap action berasa di pause...
    lalu seorang guru menjelaskan apa yang tengah terjadi karena showingnya. (baca: diperlambat)

    nilai 6/10

    ReplyDelete
  5. Hmm...

    Menurutku battle-nya cukup epic, tapi entah kenapa feel battle-nya terasa shonen manga with all the reasoning within the fight, and all the shouting followed by deadly strikes.

    Score 7

    ReplyDelete
  6. Bara RiSol... liat nama itu disebut kok bikin lapar yak, hahaha.
    Kirain Bara tipe santai dan konyol yang nggak mudah kesulut emosi gara-gara omongan Lazu. Kalo Lazunya sendiri sih emang kayaknya berkembang dari polos ke arah mental yang keguncang gara-gara dipaksa ngebunuh terus. Turnamen neraka ini ternyata bisa sampe bikin dua makhluk lucu ini saling teriak2 :v

    Eh, ada kemampuan cahaya baru ya. Yang saya bayangin ini semacam beam gede gitu keluarnya. Dan kalo pake SFX pasti bunyinya BWOOOSSH(?)

    7.7/10

    ReplyDelete
  7. dbandingkan ronde sebelumnya ni emang lbh asik dbaca kak, paragrafnya lbh pendek dan bahasanya ok, mungkin krn terpengaruh gaya tulisan bara jg? :3
    bagian awal itu maksudnya kyk d film2 yg ada cuplikan episode sebelumnya ya kak? kyknya itu g tlalu perlu kak, kan bs dmasukin ke narasi ato dialog dlm cerita aja, klo dpisah sendiri dan dbuat detil kyk gitu berpotensi membosankan buat yg udh baca r2 dan terkesan g penting buat yg belum baca #pletak x3
    tapi beneran suka sama diskusi pertentangan moral antara lazu sama bara, battlenya lumayan padat sih tapi seru :D
    nilai 8,5

    ReplyDelete
  8. Lazu kemampuannya makin unik sama rumit...

    btw abis baca langsung kepikiran dua hal:
    1. ah! harusnya pake cara om po aja untuk bangun konfliknya, soalny aplot kita hampir sama...
    2. NARASINYA BIKIN CAPEK BACAAAAAA , banyak frase yang ngebingungin...
    kayak dongeng tapi bahasanya nyastra banget...
    orz


    typo, lumrah kayak aye, wkwkwk

    nilai untuk kemulusan cerita dan konflik ...
    7,5/10 !

    ReplyDelete
  9. Entri keenam:3
    Dan pak po… saya kagum karena pak po bisa bikin cerita panjang yg setengah dari isinya adalah battle yg epic. Andai aja…
    Yups. Andai. Karena saya cuma ketemu battle yg epic. Battle di sana, battle di sini. saya ga ketemu soal bara, lazu, atau apapun tentang mereka. Impresi yg saya tangkap: bara dan lazu berantem. Selesai. Hampir mirip dengan mayor yvika kasusnya. Cuma, saya lebih suka pak po, karena yvika berantemnya pasif, sedangkan ini aktif. Walaupun saya juga ga terlalu suka battle yg panjang sih pak :3
    Dan well, satu masukan aja. Di sana kan ada part yg mengisahkan bara cerita ama lazu. Itu isinya narasi semua. Alangkah lebih bagusnya kalau itu diganti dengan dialog, karena hampir sebagian besar dialog ini (menurut kesan yg saya dapatkan) fokusnya untuk memperkuat battlenya, bukan karakterisasi dari masing2 karakternya. Itu aja pak. Sisanya udah bagus.
    Untuk nilai, saya ngasih:7.25
    Semangat kak :3

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -