September 4, 2014

[ROUND 5] URSARIO – LORDY AND LORDESSY OF THE URSA-DEMONY

[Round 5] Ursario
"Lordy and Lordessy of the Ursa-demony"
Written by Heru S. Zainurma

---

-intermezzo-
Thurqk sang Pencuri Jiwa


Siapa tidak kenal Thurqk? Dia bukan sekedar Overlord kemarin sore. Sukses di bisnis hiburan, karir Thurqk segera melonjak drastis. Iylich Corporation miliknya kian terkenal. Thurqk semakin kaya. Kini dirinya sudah setanding dengan para Overlord lainnya.

Dan tentu, Thurqk punya rahasia kesuksesan.

Bagaimana Thurqk membangun Taman Kematian? Dengan cara apa Thurqk mengendalikan hidup dan matinya para petarung? Mengapa Thurqk bisa begitu ganteng?

Ah, mari kita buka sedikit saja, sekelumit "rahasia dapur" sang Dewa Merah.

September 3, 2014

[ROUND 5] CLAUDE & CLAUDIA - NO MATTER WHAT, OUR FATE IS FILIPENDULOUS

[Round 5] Claude & Claudia
"No Matter What, Our Fate is Filipendulous"
Written by Sam Riilme

--- 

Behind The Curtain

Pusat labirin Vishala Rashta adalah tempat di mana 13 orang peserta yang berhasil selamat hingga sejauh ini berkumpul.

Di sana, seorang lelaki berkacamata yang memperkenalkan dirinya dengan nama Nolan Collard Fambrough telah menunggu mereka.

Kepada para peserta ia mengaku bahwa ia berada di pihak mereka. Ia hendak meloloskan semua peserta dari kezaliman turnamen penuh adu domba ini, dengan syarat mereka mengikuti rencananya untuk mengalihkan perhatian Thurqk si dewa merah sementara ia melakukan apa yang ia perlukan.

Dan tidak ada pengalih perhatian yang lebih baik bagi Thurqk selain menyajikan hiburan – tentu saja, dalam bentuk pertarungan.

[ROUND 5] STALLZA - RENCANA PENYELAMATAN


[Round 5] Stallza
"Rencana Penyelamatan"
Written by Yafeth T.B.

---



I



Bagian tengah labirin yang dituju Stallza ternyata adalah sebuah ruangan berbentuk melingkar dengan banyak pintu. Saat Stallza tiba di sana, telah ada dua belas peserta lain yang tiba sebelum dirinya. Mereka tampak mengelilingi seseorang di tengah-tengah ruangan itu. Seorang pria berkacamata yang berdiri di depan sebuah meja tampak gugup dengan tatapan curiga dari para petarung yang mengelilinginya. Di atas meja terdapat sebuah kotak tipis dengan layar kaca. Lalu dari layar itu muncul gambar-gambar bergerak seperti yang pernah dilihat Stallza di pulau Ryax.



"Thurqk bukanlah dewa seperti yang selama ini kalian pikirkan," kata pria berkacamata, "dia hanyalah begundal busuk yang sedang berusaha menipu dan menjebak kita semua di dalam permainan berdarahnya."


September 1, 2014

[ROUND 5] PRIMO TROVARE - DIVINE LIGHT EXPLOSION

[Round 5] Primo Trovare
"Divine Light Explosion"
Written by Blackz

---

"Aku tak benar-benar mempercayai ini sebenarnya, tapi tak salah lagi itu adalah ekstrak dari jiwa-jiwa kalian," jelas Nolan.

Primo mendenguskan nafasnya, ia tahu bahwa kristal jiwanya masih ada di tubuhnya, dan juga ia mampu merasakan kristal jiwa kedua belas petarung yang ada di ruangan kecil ini masih ada di dalam tubuh mereka.

Tepat sebelum ia dipindahkan ke pulau bibit kemarahan Amon, Primo menyadari, bahwa pembantaian yang dilakukan Thurqk itu adalah salah satu cara mengekstrak Kristal Jiwa, dengan merusak tubuh fana yang terbentuk di neraka.

Tepat setelah Primo memasuki ruangan dengan sinar terterang tersebut, Primo mendapatkan dirinya diceramahi oleh pemuda yang bernama Nolan itu.

August 16, 2014

[ROUND 5] MOCK BATTLE

Battle of Realms 4 : Afterlife
Round 5 - Mock Battle

Written by Glen Tripollo (Field Cat)

---



Phase 1 - First Meeting
Nolan berdiri dengan canggung, ketika akhirnya para peserta yang telah ditunggu-tunggu, mulai bermunculan satu persatu di hadapannya. Wajah-wajah familiar yang sudah sering dia lihat lewat monitor raksasa di dalam ruang kendali, kini berdiri tak jauh dari posisinya di segala penjuru. Nolan menatap wajah mereka bergantian, sementara para peserta membalasnya dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan. Beberapa di antara mereka bahkan dalam kondisi siap menyerang kapan pun bila diperlukan.

“Te-tenanglah!” kata Nolan.

“Siapa kau?”

“Na-namaku Nolan, aku ke sini untuk menyampaikan sesuatu kepada kalian semua,” jawab Nolan dengan sopan. Dia melepaskan ranselnya perlahan-lahan, meletakkannya di atas meja batu besar di tengah-tengah ruangan dan mengangkat kedua tangannya. “Ka-kalau boleh ….”