July 28, 2014

[ROUND 4 - ASPATRA] NIM IMANUEL - MASA LALU, PENYESALAN, DAN JANJI

[Round 4] Nim Imanuel vs Aspatra
"Masa Lalu, Penyesalan, dan Janji"

Written by Yuu

---

Aku ... tidak pernah terlahir ke dunia ini.

Sejak awal, aku diciptakan atas dasar keegoisan dan keserakahan manusia.

Sejak pertama kali membuka mata, kegelapan adalah temanku.

Aku ada untuk melenyapkan yang lain.

Keberadaanku hanya untuk membinasakan yang lain.

Di sudut manapun di dunia ini, tidak ada yang benar-benar menginginkan kehidupanku.

Tidak ada ... yang benar-benar membutuhkanku.

***

"Kubawakan mainan baru untukmu."

Kusambut pemuda bermata indah itu dengan wajah ceria. Ia tersenyum geli melihat tingkahku yang melompat-lompat karena kegirangan. Diusap-usapnya kepalaku dengan pelan, membuatku merasa nyaman.

"Beberapa hari kedepan mungkin aku tidak akan menemuimu. Ada masalah dengan ... yah, kau tahu sendiri, lah."


Ia mengatakan hal itu sambil tersenyum gusar. Tampaknya masalah yang ada di istana semakin pelik.

"Jaga dirimu baik-baik. Maaf aku belum bisa menepati janjiku untuk membawamu jalan-jalan keluar sana."

Aku mengangguk pelan. Memainkan tulang yang sudah kuasah di tanganku menjadi belati kecil. Kugerakkan belati itu dengan benang energi yang mencuat dari jari-jariku, membuatnya melayang beberapa jengkal di atas lantai.

"Leno ... boleh aku minta sesuatu?"

"Katakan saja Nim."

Aku terdiam sejenak sambil menusuk-nusuk lantai di dekat kakiku.

"Aku merasa tempat ini semakin gelap saja. Aku mulai merasa tidak nyaman," ujarku, "Boleh aku ... melihat matahari? Maksudku, apa kau bisa membuatkan lubang kecil di atas sana agar cahaya matahari bisa masuk, meskipun ... hanya sedikit?"

Leno tersenyum. Tadinya kupikir ia akan menyetujui usulan bodohku. Namun nyatanya aku harus kecewa. Untuk permintaan sederhanaku yang kesekian kalinya.

"Cahaya matahari tidak cocok untukmu," ujarnya seraya kembali mengusap kepalaku. "Dia hanya akan melukaimu, Nim. Bahkan bisa membunuhmu."

Aku terdiam. Entah mengapa kehangatan dari telapak tangan Leno kini terasa memudar dan tak nyaman. Aku merindukan kehangatan seperti itu. Meskipun hanya sedikit dan tak seberapa, aku ingin merasakannya lagi.

"Leno, kenapa aku berbeda?"

Leno menatapku dalam diam. Berusaha mencari sesuatu dari binar mataku yang meredup. Ia tersenyum, menenangkanku.

"Kau bukannya berbeda, Nim. Kau hanya ... sedikit istimewa."

***

"Kau monster ...,"

Suara itu berasal dari mainan baru yang dibawa oleh Leno beberapa saat yang lalu. Seorang pengkhianat yang mencoba merencanakan kudeta. Aku tertawa pelan menanggapinya.

"Biasanya aku akan mengabaikan ucapan mainan baruku. Tapi untuk saat ini ... kurasa kau benar."

Pemuda dengan kepala tertutup dan tubuh terikat itu duduk dalam perasaan tegang. Kuhampiri ia, membuatnya refleks meringsut mundur.

Kuraih penutup kepala pemuda kurus itu, membuatnya mengernyit. Mungkin di dalam 'kamar' ini, kepala tertutup atau tidak, rasanya tidak jauh berbeda.

"Kau bawa pemantik, kan? Ah, tidak perlu dijawab, akan kuambil sendiri."

"K-kau mau apa?"

Setelah merogoh pakaian pemuda itu beberapa saat, akhirnya kutemukan pemantik itu. Aku sering mendapati prajurit pengkhianat yang dibawa kemari menyembunyikan pemantik di balik pakaian mereka. Entah untuk apa, mereka tidak pernah menjawabku karena terlanjur ketakutan akan kematian.

Kuambil lilin kecil yang kusembunyikan di sudut 'kamar' ini. Segera kunyalakan lilin itu di antaraku dan pemuda di hadapanku, membuatnya bisa melihatku dan ruangan ini dengan jelas.

Sebelum matanya menjelajah lebih jauh mengamati ruangan ini, yang kupastikan ia akan muntah, kutahan wajahnya agar tetap menghadap padaku.

"Tatap aku. Katakan, apa pendapatmu?"

Pemuda kurus itu takjub sesaat, "Kau ... anak-anak? Eksekutor istana adalah seorang anak-anak?"

Aku tersenyum hambar, "Apa pendapatmu saat mengetahui bahwa eksekutor mengerikan yang selama ini ditakuti hanyalah seorang anak-anak yang bahkan cahaya matahari pun membencinya?"

Kudengar pemuda itu mendengus menahan tawa, lalu sesaat kemudian tawanya lepas, mungkin karena sudah tidak tahan lagi. Aku membiarkannya saja. Sekalipun ia mengolok-olok sosokku yang sebenarnya, untuk saat ini, aku tidak peduli.

"Kau? Eksekutor? Kau membuat perutku sakit! Hahaha!"

Aku menghela napas, "Kau tahu sudah berapa lama aku berada di sini?"

Pemuda itu mulai berhenti tertawa. Ia mengikuti arah pandangku yang menerawang menatap pintu jeruji.

"Aku ... tidak pernah menghitung sudah berapa lama aku berada di sini." ujarku pelan seraya kembali menatap pemuda itu, "Sejak pertama kali membuka mata, Leno telah memberiku tugas sebagai seorang Eksekutor. Dunia luar sangat asing bagiku. Aku hanya melihatnya dari kenangan yang 'diperlihatkan' oleh orang-orang yang kuhukum sebelumnya."

Pemuda kurus itu kini menatapku lamat-lamat, membiarkanku menceritakan apa yang membuatku gelisah selama ini.

"Beberapa dari kenangan itu terlihat menyenangkan, beberapa terlihat sangat mengerikan, membuatku muak."

Tanpa sadar kugenggam erat belati yang ada di dekatku, "Manusia benar-benar makhluk yang sulit dimengerti. Keindahan itu mereka abaikan hanya demi mendapatkan sesuatu yang fana."

Pemuda di depanku berdecak malas, "Kau bukan manusia, kau mana mengerti. Tapi tahukah kau, dirimu sama memuakkannya dengan manusia-manusia serakah itu?"

Aku mengernyit. Pemuda itu kini tersenyum penuh rasa jijik terhadapku. Entah mengapa mendadak aku merasa muak dan kesal melihatnya.

"Saat mengeksekusi orang-orang itu, tahukah kau kesalahan apa yang mereka perbuat?"

Aku mengangguk, "Aku melihat kenangannya, karena itu aku tahu apa yang sudah diperbuatnya. Leno sudah merincikan padaku kesalahan besar macam apa yang patut dieksekusi."

"Tapi tahukah kau mengapa mereka berbuat begitu? Atas dasar apa mereka melakukan pengkhianatan pada Ratu, pada negeri ini?"

Aku terdiam sejenak lantas menggeleng.

"Lihat? Kau bahkan tak paham kekejaman seperti apa yang sudah mereka terima dari anggota kerajaan yang munafik."

Aku menelengkan kepala, tak paham pembicaraan pemuda itu mengarah ke mana.

"Penguasa negeri ini sudah terlampau serakah," ujarnya. "Melenyapkan orang-orang yang menentang mereka hanya karena menuntut hak yang sudah sepantasnya diterima."

Aku hanya diam mendengarkan.

"Mereka sengaja menciptakan dirimu agar kami tetap bungkam, tidak menuntut lebih. Mereka monster, sama seperti dirimu, yang menutup mata pada kenyataan yang pahit."

Itu ... itu tidak benar.

"Apa kau ingin menyangkalnya, Nak? Leno, sang jenderal perang yang terkenal itu, kau tahu apa tentang dia?"

Diam ...!

"Orang yang benar-benar harus kau eksekusi seharusnya adalah dia! Dia memanfaatkan orang-orang seperti kami, juga Ratu, untuk mewujudkan keserakahannya menguasai negeri ini."

Diam!!

"Semua kekacauan yang terjadi itu adalah ulahnya! Dia yang menyebabkan semua ini! Dia itu MONSTER! Dia itu—"

"KUBILANG DIAM!!"

Mendadak kepala pemuda itu terpisah dari tubuhnya. Tak lama setelahnya, darah mulai muncrat dari lehernya. Pemandangan yang indah sekali. Darah yang sangat banyak. Tubuh pemuda itu ambruk. Kepalanya menggelinding di lantai. Kutancapkan belati tulang milikku di wajah menyebalkannya berkali-kali, membuat dagingnya berceceran dan wajahnya tak berbentuk lagi. Aku tertawa. Tertawa keras dengan air mata yang bercucuran.

"Kau benar, aku diciptakan untuk membungkam orang-orang seperti kalian. Jadi, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi tentang Leno. Aku tidak suka."

***

Suatu hari kudapati seekor kucing kecil menyusup ke dalam 'kamar'ku. Mungkin ia tersesat, atau mungkin ia sengaja menemuiku, agar takdirku berubah.

"Rikuuu! Riku, di mana kau?"

Aku terkejut mendengar suara itu. Itu bukan suara Leno. Suara itu terdengar nyaring dan jernih, seolah tanpa beban.

Kudengar suara langkah kaki menghampiri tempat ini. Kuraih kucing kecil yang sejak tadi mengeluskan tubuhnya di kakiku. Mungkin ia mencari kucing ini.

"Astaga, tempat apa ini? Gelap sekali. Baunya juga tidak enak," gerutu pemilik suara itu. "Rikuuu! Hei, kucing nakal, berhenti bersembunyi. Kita harus segera pulang, tahu!"

Kucing kecil yang ada dalam pelukanku mengeong riang, membuatku panik.

Aku tidak tahu kenapa aku jadi panik. Tempat ini, bukanlah tempat biasa. Aku terbiasa menemui orang-orang yang telah melakukan kesalahan besar. Aku terbiasa menyambut Leno yang datang membawa mainan baru untuk kueksekusi. Aku tidak pernah menemui seseorang dengan cara aneh seperti ini.

Sosok seseorang mulai tampak di depan pintu jeruji, menatap penasaran pada kegelapan tempat ini.

"Riku, kau di sana?"

Kucing kecil dalam pelukanku lagi-lagi mengeong. Ia meronta membuatku terpaksa melepasnya. Kucing kecil itu segera berlari ke pemiliknya, seorang anak perempuan berambut merah yang sepertinya seusia denganku.

"Dasar kucing nakal. Apa yang kau lakukan di sini? Akan kuhukum kau saat tiba di rumah nanti."

Kucing itu mengeong pelan, memelas pada majikannya. Aku tersenyum melihat mereka berdua, dan tanpa sengaja menyenggol belati yang ada di dekatku.

"Siapa di sana?"

Gadis kecil itu mendekat ke pintu jeruji, mencoba menajamkan penglihatannya. Kelihatannya ia terlampau penasaran dengan 'kamar' ini.

Kubekap mulutku sendiri seraya makin merapatkan diri pada kegelapan, berharap gadis itu tidak akan pernah menemukanku.

"Ah? Ketemu!"

Aku tersentak, menatap pada gadis berambut merah di pintu jeruji yang tersenyum puas melihatku.

"Aku melihatmu! Kau tidak bisa bersembunyi lagi sekarang."

Untuk sesaat ... aku takjub melihat senyumnya. Senyum yang penuh kehangatan dan harapan. Mata bulatnya berbinar ceria, seolah menghipnotisku.

Dan 'kenangan' itu mulai terlihat.

Aku mengernyit melihat pemandangan yang disajikan oleh tatapan gadis itu. Berbeda dari apa yang selama ini kulihat dari para pendosa yang harus kueksekusi. Kenangan yang satu ini ... indah. Penuh tawa dan tangis haru. Apakah itu ... wujud kegembiraan?

Kuhampiri pintu jeruji dengan ragu. Mata bulat gadis itu menatapku dengan takjub, membuatku merasa aneh.

"Kau ... punya adik?" tanyaku tiba-tiba.

"Adik?" ujar gadis itu heran, "Tidak. Aku tidak punya adik. Kenapa bertanya begitu?"

Kilasan masa depan itu terus berganti, terlalu banyak yang kulihat, membuat kepalaku pusing dan mual.

"Hei, kau baik-baik saja?"

Gadis itu berusaha menggapai tanganku dari pintu jeruji. Ia menggenggam tanganku dengan erat, dan kehangatan itu segera menjalar dalam diriku.

"Bertahanlah! Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Tidak seharusnya orang sakit berada di tempat gelap dan pengap seperti ini. Ikutlah denganku. Aku akan merawatmu sampai sembuh!"

Aku tersenyum lemah. Mencoba memberikan pengertian pada gadis itu bahwa aku tidak bisa pergi dari tempat ini. Tempat ini adalah rumahku. Cahaya membenciku. Dan di tempat ini ... aku punya 'Ayah' yang menyayangiku. Aku tidak butuh apa-apa lagi.

Namun gadis keras kepala ini tidak mau mengerti. Ia terus berusaha membuka pintu yang tersegel. Berbagai mantra telah ia rapalkan, meskipun semuanya berakhir dengan kegagalan.

"Tidak mungkin ...," gumamnya putus asa. "Kenapa pintu ini sama sekali tidak mau terbuka?!"

"Sudahlah, aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin tetap di sini," ujarku meyakinkannya.

"Tidak! Aku akan membebaskanmu dari tempat mengerikan ini! Tidak seharusnya kau berada di sini! Kau harus bebas!"

Bebas ...?

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Tapi ... entah mengapa saat mendengar gadis itu mengatakannya, aku merasakan sesuatu yang menyesakkan. Sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang terasa ... hangat.

"Terbuka! Ayo cepat! Kita harus pergi dari sini."

Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, tubuhku bergerak sendiri, berusaha menggapai gadis kecil itu. Ia meraih tanganku, membantuku berlari menyusuri lorong panjang yang semakin lama semakin terang.

Dan untuk pertama kalinya aku merasakan kebebasan.

***

Tabita adalah seorang penyihir muda berbakat yang dikaruniai kemampuan suci.

Ia tidak bisa mati. Lebih tepatnya, ia bisa mati berkali-kali kemudian bangkit kembali.

Namun kelak ia akan benar-benar mati di tangan titisan iblis. Di tangan seorang anak yang dikaruniai kemampuan terkutuk.

Dan orang itu adalah adiknya sendiri.

Sang adik akan membunuhnya, hanya karena ingin memiliki Tabita sepenuhnya.

Menjijikkan.

Masa depan seperti itu, tidak akan kubiarkan.

***

"Kau akan memiliki seorang adik," ujarku suatu hari.

Saat ini aku dan Tabita berada di puncak bukit, menikmati langit malam yang dipenuhi bintang. Bulan purnama tampak indah memancarkan cahayanya. Angin malam yang dingin berhembus perlahan, membelai rerumputan.

Tabita menatapku tak percaya. Rasa senang yang luar biasa terpancar dari wajahnya, "Sungguh?? Seperti apa dia?"

Aku tersenyum, "Tidak akan kuberitahu. Nanti tidak seru jadinya."

Mendengar hal itu Tabita pun cemberut. Aku hanya tertawa pelan melihatnya.

"Ayolah, Nim~ beritahu aku, ya? Kita sahabat, kan?" ujarnya memohon.

Aku terdiam sejenak, menatap kedua mata Tabita. Mataku berkilat hijau sesaat, dan kenangan itu pun mulai terlihat di matanya.

"Nim, ayo katakan!"

"Tabita ... kau percaya padaku?"

"Ya! Tentu saja!"

"Kalau begitu jangan marah karena kukatakan ini padamu,"

Tabita menatapku dengan antusias. Tak sabar ingin mengetahui tentang adiknya.

"Adikmu adalah titisan iblis, diberkati kemampuan terkutuk, dan kelak ... kau akan mati di tangannya. Sebelum semua itu terjadi, kuharap kau katakan hal ini pada ibumu. Agar kalian semua bisa selamat," ujarku serius.

Tabita terdiam. Sepertinya masih berusaha mencerna kata-kataku.

"...Kau ini bicara apa, Nim? Kau tidak senang karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang kakak?"

"Bukan begitu! Adikmu akan membunuhmu, Tabita. Apa kau belum mengerti juga?"

Gadis di hadapanku ini hanya tertawa pelan, "Nim, masa depan itu belum pasti. Tapi terimakasih karena sudah mengatakan hal ini padaku. Aku senang. Ah! Sebagai rasa terimakasihku, ini kuberikan padamu. Taraaa! Bagus, kan? Aku membuatnya sendiri."

Aku hanya bisa tertunduk menyembunyikan kekecewaan karena Tabita menghiraukan peringatanku. Padahal dia bilang dia mempercayaiku ... lagipula selama ini apapun yang kulihat itu selalu benar. Kenapa ... untuk yang satu ini ia menolak mempercayainya?

Kuraih boneka pemberian Tabita dan tersenyum hambar saat kutatap boneka itu, "Boneka panda yang mengerikan ...," ujarku. Tabita tampak cemberut, namun kemudian ia tersenyum lebar.

"Kau akan menamainya siapa?"

"...Imanuel. Akan kunamakan ia Imanuel."

Masa depan itu belum pasti. Kau benar. Karena itu, biarkan aku mengubah masa depan untukmu.

.

.

.

.

.

Dari lima puluh lima peserta, kini hanya tersisa enam belas makhluk yang berjuang untuk menjadi pemenang. Berusaha mempersembahkan hiburan menarik bagi Dewa pemilik Nanthara Island, yang semakin lama semakin larut dalam kebosanan.

"Tempat yang akan kita tuju adalah Vishala Rashta," jelas Hvyt, sang malaikat merah bersayap hitam. Saat ini kami sedang berdiri di depan sebuah pohon racta raksasa yang berada di pusat Jagatha Vadhi.

"Hvyt, kita tidak terbang?" tanyaku bingung seraya menyusupkan Imanuel, boneka panda kesayanganku ke leher baju yang kebesaran.

"Terbang? Tidak. Vishala Rashta berada satu tingkat di bawah Khramanaka. Jauh di bawah sana."

Salah satu akar raksasa pohon di depan kami terangkat, menimbulkan getaran seperti gempa sesaat. Akar itu terus terangkat, hingga menciptakan ruang gelap seperti jalan masuk menuju ruang bawah tanah.

"Di bawah sana? Kau bilang tempatnya jauh sekali. Aku tidak suka jalan kaki ke tempat jauh. Gendong aku, ya?"

"Siapa yang bilang kita akan jalan kaki?"

"Huh—?"

Tanpa sempat mencerna ucapan Hvyt, ia telah mendorongku dengan pelan dan aku pun jatuh dengan bebas ke dalam ruang gelap yang tercipta oleh akar pohon tadi.

"APA-APAAN INIIIII?! JATUH! AKU JATUH! GYAAAAAAAAaaaaaa...!!"

Kupejamkan mata erat-erat seraya memeluk Imanuel. Deru angin yang berasal dari bawah seolah menampar-nampar wajahku. Aku merasa sulit bernapas akibat angin menyebalkan ini.

Tiba-tiba tubuhku seolah ditarik, mungkin oleh Hvyt yang tadi ikut melompat menyusulku. Tubuhku seolah dibanting kesana kemari hingga akhirnya hanya kesunyian yang bisa kudengar.

...

..

.

"Sampai kapan kau akan menutup matamu seperti itu?"

Aku tersentak mendengar suara Hvyt di sampingku dan refleks membuka mata. Pemandangan yang menyambutku adalah sebuah tempat maha luas berwarna merah-hitam, dengan puncak yang tak terjangkau, gelap bagaikan langit malam. Di kejauhan sana, terlihat sebuah bangunan raksasa, entahlah, dari sini tempat itu sudah terlihat besar sekali. Mirip benteng hitam yang kokoh. Puncaknya menjulang sampai ke atas, entah sampai ke mana. Benteng itu tampak kontras dengan tanah merah di bawahnya. Untuk sesaat ... aku takjub.

"Labirin itu masih jauh sekali dari sini. Jadi—"

Tanpa perlu menyelesaikan kalimatnya, Hvyt langsung meraih tubuhku dan mengembangkan sayap hitamnya, lantas melesat dengan kecepatan tinggi yang membuatku berteriak histeris.

...

Kutatap Hvyt dengan sebal yang kini tengah berjalan santai di depanku. Akibat penerbangan tadi, rambutku jadi sangat berantakan dan bajuku jadi kusut. Aku juga merasa sedikit mual karena tadi Hvyt sempat bermanuver di udara padahal itu tidak perlu sama sekali. Pamer kemampuan terbang, eh?

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini."

Aku mengernyit. Saat ini kami berada tepat di depan pintu raksasa nomor 13. Kuamati sekeliling dan mendapati bahwa bangunan ini sepertinya sangat sangat sangat besar sekali. Aku bahkan tidak sempat melihat peserta lain. Itu artinya jarak dari pintu satu ke pintu lainnya pasti jauh sekali.

"Labirin, ya ...?" gumamku.

"Baiklah, semoga beruntung. Di ujung sana seseorang telah menantimu. Temui dia, tapi ingat, perjalananmu tidak akan semulus yang kau bayangkan."

"Iya, aku tahu."

Hvyt itu pun kembali mengembangkan sayapnya dan melesat menuju tempat kami tiba tadi.

Kuamati pintu di hadapanku. Jadi ... perjuanganku untuk mendapatkan penebusan dosa dan kelahiran kembali masih berlanjut, ya?

Kusentuh pintu merah di hadapanku dan pintu itu tiba-tiba terbuka tanpa sempat kudorong, menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras. Saat pertama kali menginjakkan kaki ke tempat itu, hal pertama yang menyambutku adalah obor-obor yang mendadak menyala di dinding.

Entah mengapa suasana tempat ini membuatku tersenyum.

"Imanuel, kau tahu jalan keluar tercepatnya, kan?"

"Tentu saja!" suara itu menggema di dalam kepalaku. "Tapi jaraknya jauh sekali."

"Tenang saja," ujarku seraya mengeluarkan sebuah boneka malaikat merah bersayap hitam dari lengan bajuku. "Kita pasti akan segera sampai ke sana."

Kukeluarkan sebuah boneka lain dan segera mengendalikannya, menyihir boneka Hvyt, malaikat merah bersayap hitam, agar ukurannya menjadi seperti manusia dewasa. Kukembalikan boneka penyihir itu dan kukeluarkan empat boneka lain. Setelah semuanya siap, akupun melompat ke punggung Hvyt dan segera melesat menjelajahi labirin raksasa ini.

***

"Rasakan ini!!"

Dua burung neraka yang sepertinya setinggi badanku kembali terbelah dua oleh pedang milik boneka assassinku. Tubuh kedua burung itu melebur menjadi api hitam kemudian lenyap bagaikan asap. Aku dan para boneka milikku kembali melaju, menghabisi tiap burung neraka yang mencoba menghalangi jalan kami.

"Ayo kemari burung kecil~"

Kukendalikan Hvyt layaknya tengah menunggang pegasus yang secepat angin. Kuterbangkan Hvyt secara lurus ke atas, melawan deru angin yang mencoba memperlambat kami. Aku tertawa melihat empat burung neraka sekaligus masih tetap mengejar kami.

"Sekarang!!"

Dalam sekali hentakan, Hvyt bersalto di udara dan menjatuhkan dirinya dengan bebas. Keempat burung neraka yang melesat cepat ke arah kami kebingungan, dan terlewati begitu saja. Mereka berputar dan hendak melesat mengejar kami. Namun baru saja mereka ingin melesat, kugerakkan jari-jariku yang direspon oleh Hvyt dengan terbang melesat ke depan, ke arah para burung neraka itu.

"Mati kalian!"

Pedang para boneka assassin membelah tubuh keempat burung neraka itu dengan mulus. Sempat terdengar suara koakan parau sebelum akhirnya tubuh mereka melebur menjadi api hitam dan lenyap menjadi asap. Aku tersenyum lebar karena telah berhasil menghabisi burung-burung itu dengan mudah.

"Jangan senang dulu, Nim. Di depan sana masih ada musuh yang menanti," ujar Imanuel dalam kepalaku.

Hvyt bermanuver sesaat di udara sebelum akhirnya melesat melewati beberapa tikungan labirin.

"Di sana! Dia menuju kemari, Nim!"

Aku mendongak dan mendapati seekor burung neraka terbang menghampiri kami.

"Datanglah kemari burung kecil!" seruku.

"Er ... Nim, dia ..."

Semakin mendekati kami, aku menyadari burung neraka yang satu ini berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Matanya tajam dan bercahaya kuning menyilaukan, menatapku seolah hendak mencabik-cabikku hanya dari tatapannya saja. Sekilas burung yang satu ini terlihat seperti naga. Hanya saja menurutku naga masih terlihat lebih keren dari makhluk jelek ini.

Ukuran asli dari burung itu semakin jelas. Aku bersusah payah meneguk ludah saat menyadari sesuatu, "Ternyata dia sama sekali bukan 'burung kecil'."

Imanuel hanya berdecak kesal, "Ah! Menghindar!!"

Mendengar hal itu refleks kugerakkan jari-jari membuat Hvyt berbelok tajam ke kiri, burung neraka yang menjadi lawan kami saat ini tengah mengepakkan sayap raksasanya ke depan, menciptakan pisau angin yang bernafsu membelah tubuh kami. Bergegas kami melesat menghindari tiap serangan yang ada hingga akhirnya kuputuskan agar kami berlindung sesaat di balik dinding labirin di tikungan depan.

Untuk sesaat aku memastikan bahwa burung itu tidak mengejar kami. Aku menghela napas lega dan mencoba mengintip dari balik dinding.

Burung itu baru saja mendarat dengan kaki-kakinya yang besar dan kokoh. Tubuhnya menjulang bagaikan raksasa dan tampak sangat kuat. Sayap-sayapnya yang terlihat sangat tajam dengan kuku-kuku bagaikan pedang di ujungnya membuatku takjub.

"Woaaaahh! Kau lihat itu, Imanuel? Kalau aku bisa membawanya pulang, apa Tabita akan senang??" ujarku semangat.

Imanuel justru bergumam, "Jadi sekarang kita harus menghadapi Aspatra, ya ...?"

"Aspatra? Jadi namanya Aspatra?"

"...Kalau seseorang banyak berbuat dosa tapi tidak tewas di medan perang atau tewas saat berbuat 'baik', dia akan masuk ke Neraka dan yang paling berat dosanya akan masuk ke bagian terdalam Neraka, yaitu Yamapura atau biasa disebut Yamaloka. Di sana ada burung raksasa bernama Asparta. Sayap dan kukunya sangat tajam. Tugasnya menyiksa pendosa sebelum direinkarnasi..." aku hanya mendengar gumaman Imanuel dalam diam, sama sekali tak paham apa yang ia bicarakan. "Itu yang pernah Tabita ceritakan padaku."

"Jadi ... dia raja burung neraka, ya? Aku benar-benar ingin membawanya pulang!"

"Kau bodoh, ya? Dia akan mencabik-cabik kita duluan, tahu."

Aku mendengus pelan lantas tersenyum lebar, "Tentu saja itu tidak akan terjadi, Imanuel. Akan kupenggal duluan kepala burung itu untuk dijadikan koleksi nanti. Percayalah padaku, kita akan keluar dari labirin ini segera setelah mengalahkan burung jelek itu."

Imanuel tertawa, seolah mengejekku. "Kau terlalu percaya diri. Aspatra mungkin  setinggi puncak menara pusat di Kota Agarex. Dan sayap serta kuku-kukunya sangat tajam, paruhnya sangat kuat. Kau akan dihabisi olehnya."

"Aku tidak peduli. Pokoknya sekarang ayo maju!!"

***

Semenjak aku menghilang dari ruang eksekusi istana, Leno seperti kehilangan pusat kekuatannya. Ia jadi tak berdaya, dan rencana kudetanya dibongkar dengan mudah. Ia dihukum pancung atas pengkhianatannya terhadap Ratu, saudari kembarnya sendiri.

Karena mempercayai segala hal yang kukatakan tentang Imanuel, Tabita menjadi terlalu protektif terhadap adiknya. Sebenarnya, selama ini ia tidak membesarkan adiknya dengan kasih sayang yang tulus, ia membesarkannya dengan rasa takut yang terpendam, yang semakin lama semakin menjadi. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan mengakhiri nyawa adiknya sendiri di tangannya.

Imanuel ... korban sesungguhnya atas keserakahanku, kebodohanku. Aku menghakiminya bahkan sebelum ia lahir. Kehidupannya menjadi suram, semua itu karena kesalahanku yang mempengaruhi Tabita. Padahal Imanuel tak pernah menginginkan dirinya memiliki kekuatan terkutuk itu. Keegoisanku ... yang sudah membesarkannya menjadi seorang iblis. Imanuel menjadi seperti itu, semuanya karena salahku.

Segala penyesalan ini ... mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan oleh mereka.

Leno ... orang yang sudah memberiku kehidupan, membesarkanku seperti seorang ayah sungguhan ... aku justru meninggalkannya begitu saja dan membiarkannya mati dalam keterpurukan.

Tabita ... orang yang sangat mempercayaiku, yang memperlihatkanku apa itu kebebasan ... aku justru mempengaruhinya dan membuat masa depannya menjadi kelam.

Dan Imanuel ...

... maaf. Maaf. Maaf atas segala yang telah kuperbuat padamu. Orang itu benar, aku adalah monster. Monster yang hanya bisa merebut kehidupan orang lain! Kehidupanmu yang seharusnya bisa lebih baik dari ini ... aku ... karena keegoisanku, kehidupanmu menjadi begitu kelam. Semuanya karena kesalahanku! Semua ini salahku ...! Maaf ... maaf, Imanuel ... maafkan aku ... aku benar-benar minta maaf. Karena itu ...

—biarkan aku menebus kesalahanku.

"NIIIIIIM!!!"

Aku tersentak dan segera membuka mata. Sayap tajam Aspatra itu tidak lama lagi akan memenggal kepalaku. Buru-buru aku melompat, menghindari serangan fatal itu.

"Dasar bodoh!! Apa yang kau pikirkan, ha?! Kau membuat kita dalam bahaya! Aku tidak mau berakhir di tempat seperti ini, bocah sialan! Bawa aku pergi dari tempat ini! Aku masih mau bertemu Tabita! Jangan seret aku dalam kebodohanmu!!"

Sumpah serapah dilontarkan Imanuel padaku. Tapi aku hanya diam ... sambil terus menghindari serangan Aspatra yang semakin membabi buta.

Apakah takdirku ... memang sudah sejak awal akan begini? Thurqk bilang dia adalah dewa jagat raya, pencipta kami semua. Apakah dia sengaja memilihku karena tahu akan rencanaku yang sesungguhnya?

"...maaf."

"Ha? Kau ini kenapa, sih? Cepat kalahkan burung jelek itu dan bawa aku keluar dari sini!!"

Ya ... jika memang sejak awal Thurqk tahu, kenapa dia tidak mengatakan apapun? Jika sejak awal memang dia memegang takdir kami semua, kenapa kami harus melakukan pertarungan bodoh ini?

...hibur aku.

Menghiburnya? Menghibur seorang Dewa? Untuk apa? Bukankah hasil akhirnya sudah ketahuan? Kalau memang begitu, bukankah ini semua sia-sia saja? Akan membuatnya semakin bosan?

Masa depan itu belum pasti, Nim.

Masa depan ...

... jika memang Thurqk adalah sang pencipta,

 ... kenapa aku yang hanya sebuah boneka ada di tempat ini?

... kenapa ia membiarkanku tetap mengikuti pertarungan bodoh ini?

... bukankah itu artinya, dia tidak tahu apa-apa tentang diriku dan tujuanku?

"Nim! Jangan diam saja! Lakukan sesuatu!"

Jika memang seperti itu ... maka biar kubuktikan sendiri!

—bahwa Thurqk bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

"GRAAAAAAHH!!"

Lima pasak es melesat menghantam perut sang Aspatra. Bukannya terluka, pasak-pasak es itu justru meleleh sebelum sempat menyentuh api yang menyelimuti tubuh burung itu. Aku menggeram kesal. Kukeluarkan berbagai boneka penyihir untuk menjerat burung sialan itu, tapi boneka-bonekaku justru diremukkan begitu saja.

"Sial!!"

Aspatra menghentakkan sayapnya dan mencoba mengejarku. Kukendalikan Hvyt dengan susah payah, menghindari tiap pisau angin dan sabetan cakar yang mengarah padaku.

Kecepatan burung raksasa ini tidak bisa diremehkan. Meskipun tubuhnya begitu besar dan nampak sangat berat, tapi gerakannya begitu gesit. Bahkan tekanan amarahnya bisa kurasakan dengan jelas, membuat punggungku terasa dingin.

"Belok sekarang!"

Hvyt berbelok tajam ke kanan, Aspatra yang tidak mengurangi kecepatannya sedikitpun menghantam dinding labirin dengan keras. Sempat terjadi getaran sesaat akibat benturan itu. Kupikir aku berhasil menahan gerakannya sesaat, namun suara koakannya yang begitu keras yang menandakan jaraknya sangat dekat dengan kami, membuatku semakin panik.

"Percuma, Nim! Boneka-boneka itu tidak ada apa-apanya baginya. Semua serangan itu tidak mempan. Kita bukan lawan yang seimbang untuknya, Nim!"

... lawan yang seimbang?

"Itu dia!"

Kutarik kuat-kuat benang energi yang menjadi tali kekang Hvyt, membuatnya berhenti mendadak. Kugerakkan jari-jariku lantas berbalik menatap Aspatra dengan tajam. Berharap Mata Iblis ini bisa mengutuknya.

Aspatra terbang dengan cepat menuju arahku. Kurogoh sebuah boneka dari dalam lengan bajuku lantas menyuruh Hvyt melesat maju menuju Aspatra.

"Nim! Apa kau gila?! Apa yang kau lakukan??!" gerutu Imanuel dengan suara tinggi. Sepertinya dia kesal sekali.

"Berisik. Kau bilang Aspatra harus mendapatkan lawan yang pantas, kan?"

"Ha? Apa maksudmu?"

Aku menyeringai. Dalam sekali hentakan, kulempar boneka yang ada di tanganku. Untuk sesaat boneka itu melayang tinggi di udara.

"KALI INI KAU AKAN MATI, BURUNG JELEK!!"

Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari boneka yang kulempar, memaksaku memejamkan mata. Sosok Aspatra yang sudah ada di depan mata langsung terhempas akibat ledakan cahaya itu.

Sesosok boneka menyerupai manusia setinggi Aspatra muncul dari ledakan cahaya yang tercipta tadi. Ia bersalto di udara lantas mematerialisasikan sebuah pedang hitam di tangan kanannya. Jubah coklat tuanya berkibar lembut mengikuti tiap gerakannya. Aku tersenyum lebar lantas melesat mendekatinya dan segera melompat ke bahunya.

"Bagus, Galen! Sekarang, AYO MAJU!!" seruku penuh semangat.

***

Suara dentingan logam dan percikan api meramaikan suasana labirin ini. Darahku berdesir tiap kali pedang hitam Galen berseteru dengan cakar tajam nan kokoh milik Aspatra. Burung raksasa jelek itu benar-benar keras kepala. Ia terus-terusan menerjang membabibuta, tanpa arah. Serangannya serampangan, seperti pemabuk yang bernafsu membunuh seseorang.

Aku tersenyum mengejek melihat tingkah burung jelek itu, yang sepertinya semakin kesal karena beberapa kali terkecoh oleh serangan Galen. Kumainkan jari-jariku seraya bersenandung riang. Aku mulai menikmati pertarungan ini. Rasanya seperti merebut permen dari anak kecil.

"Aneh," gumam Imanuel. "Hei, Nim, tidakkah kau merasa ini terlalu mudah? Aspatra ini tampaknya terlalu bodoh untuk ukuran penjaga neraka yang legendaris."

"Kau yang mengatakannya, Imanuel." Aku tertawa, "Dia memang burung jelek yang bodoh. Badannya saja yang besar tapi otaknya sebesar kacang saja. Di mataku dia tak lebih dari anak kecil yang mainannya telah direbut."

"...tapi anak kecil yang seperti itu kadang beringas, loh."

Aku terkejut saat Aspatra di depanku mendadak terbang mundur, menjaga jarak. Ia tampak tenang, tidak menyerang secara asal-asalan seperti sebelumnya. Aura yang memancar darinya pun terasa berbeda. Bukan seperti membuatku takut karena sosoknya yang mengerikan, tapi auranya mengintimidasi ... seolah dia adalah penguasa tertinggi yang bisa menertawakan makhluk rendahan sepertiku sesuka hati.

Aku terhenyak saat menyadari sesuatu, "Kau ...!?"

Aspatra di depan sana mulai tertawa. Tawa yang terdengar berat dengan dua suara berbeda yang saling menumpuk.

"Salam, wahai Sang Pendosa. Takdir sekejam apakah yang membuat dirimu harus bertemu denganku? Demi Tuhanku Thurqk yang agung, kau hanyalah seorang bocah lelaki yang masih polos."

Tanpa sadar tanganku terkepal dengan erat.

"Oh? Tunggu, tunggu, ternyata aku salah sangka. Kau bukan seorang bocah biasa," Aspatra itu terbang mendekat, membuatku bersiaga. Ia terbang perlahan mengitariku dan Galen, menatapku lamat-lamat dengan mata kuningnya yang seolah ingin membaca seluruh isi kepalaku. "Hmm ... menarik, menarik."

Ia kembali terbang menjauh, menjaga jarak dariku.

"Anak yang malang." Ia tertawa, "Kau tidak akan pernah bisa menjadi manusia yang sem-pur-na."

"Diam!"

Kugerakkan jari kiriku yang direspon oleh Galen dengan menembakkan bola hitam ke arah burung menyebalkan itu. Aspatra menepisnya dengan mudah lantas terkekeh.

"Ada apa, Nak? Kenapa kau jadi marah? Seharusnya kau sadar, kan? Sejak awal ... kau tidak pernah terlahir ke dunia ini."

Suara itu tidak lebih dari sebuah bisikan yang terlalu jelas dan dingin menusuk telinga. Kukatupkan gigiku dengan erat, lantas menatap Aspatra itu dengan penuh amarah.

Aspatra tersenyum mengejek, "Haruskah kukatakan semuanya agar Teman Kecil-mu itu paham pada siapa ia mempercayakan jiwanya?" ujarnya.

Imanuel berdecak kesal, "Burung cerewet ini bicara apa, sih?"

Aspatra kembali tertawa, namun itu hanya sesaat karena ia tiba-tiba menerjang dengan kuku-kukunya yang panjang. Andai aku tak sigap, kepalaku pasti sudah dipenggal olehnya. Beruntung hanya goresan kecil yang tercipta di leherku. Kukerahkan seluruh konsentrasiku agar Galen bisa menyerang dengan maksimal. Tapi entah mengapa berada dekat dengan burung ini membuatku mulai merasa tertekan.

"Kenapa seranganmu jadi melemah, Nim Valerius?"

Aku berjengit mendengar nama itu. Nama yang sudah lama kulupakan. Nama yang sudah lama kukubur dalam sudut ingatanku yang terdalam.

Aspatra kembali menerjang maju. Kali ini jelas sekali kalau yang diincarnya adalah aku. Bersusah payah kugerakkan Galen agar melindungiku dari serangan-serangan yang semakin gencar dari burung jelek itu.

"Kenapa? Kau tidak menyukai nama itu? Va-le-ri-us. Itu namamu, kan?" Aspatra dengan sengaja menahan serangan pedang dari Galen agar ia bisa berbicara sedekat mungkin denganku. "Valerius ... namamu sebelum ayah-mu Leno memberimu 'kehidupan'," lirihnya.

Sebuah kenangan menerjang ingatanku, membuat kepalaku berdenging. Aku mengerang kesakitan lantas bersusah payah menggerakkan Galen agar burung sialan itu menjauh dariku.

Aspatra tertawa senang melihat penderitaanku. Aku hanya bisa mengumpat kesal melihatnya.

Dia adalah anakku ... Valerius. Dia sangat mirip denganmu.

Kau tahu kenapa aku menciptakanmu?

Dunia ini terlalu kejam karena telah merebut orang-orang yang kucintai. Karena itu, Nim, habisi mereka. Habisi orang-orang menjijikkan itu demi aku.

Dari lubuk hati terdalam ... kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Nim Valerius.

Kenangan itu mulai terlihat jelas, membuat kepalaku berdenyut menyakitkan. Aku bersusah payah melenyapkan kenangan-kenangan itu dengan menggelengkan kepala kuat-kuat. Tapi kabut hijau yang mulai menutupi pandanganku membuatku sadar bahwa ini semakin buruk.

Tugasmu adalah mengeksekusi para pengkhianat itu. Bukankah kau senang dengan semua mainan itu?

Kau adalah Eksekutor. Kau bahkan tidak pernah dilahirkan ke dunia ini. Karena kau mirip dengan anakku, jangan kira kau bisa meminta segalanya sesukamu. Kau hanya boneka yang hidup. Mengerti?

"Imanuel ...," lirihku. "Hapus ... ingatanku ...!"

Aku sadar Imanuel pasti bingung dengan apa yang terjadi saat ini.

Sekalipun kau tidak ada, aku bisa melakukannya sendiri.

"Cepatlah! Hapus ingatanku ... dan ... ukh—! kendalikan aku!!"

Rasa sakit yang luar biasa menerjang kepalaku, membuatku berteriak kesakitan dan tak sanggup mengendalikan Galen. Benang-benang energi yang menghubungkan jari-jariku dan Galen kian menipis. Sekelilingku mulai terlihat berputar dan kabut hijau itu semakin tebal. Tubuhku mulai terasa ringan dan seolah terbang bebas.

"NIM!?!"

Samar-samar kudengar Imanuel terus berteriak memanggil namaku. Dan tawa menyebalkan Aspatra membuatku tenggelam dalam kegelapan.

***

Dalam kegelapan yang pekat kurasakan sekujur tubuhku perih. Aku mengerang, merasakan tiap inci tubuhku seolah dicabik-cabik.

Nim, pernahkah kau menyesal karena berada di dunia ini?

Aku mengernyit mendengar suara itu. Suara yang jernih seperti gema lonceng. Suara milik seseorang yang sangat berharga.

Kau tahu, Nim? Terkadang aku merasa dunia ini bukanlah duniaku yang sesungguhnya. Aku berada di dunia yang salah. Karena itu ... aku memutuskan hidup untuk mati.

Tanpa sadar aku mendengus mendengarnya. Melupakan segala rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuhku.

Kau percaya reinkarnasi? Kadang-kadang aku membayangkan hidup di suatu kehidupan yang menyenangkan, tanpa sihir, tanpa perang yang tak berkesudahan. Bersamamu dan adik kecilku. Hidup damai seperti sebuah keluarga. Kita tidak perlu khawatir akan kemampuanku dan kemampuanmu.

Aku terdiam.

Aku ingin hidup di dunia yang seperti itu, Nim. Benar-benar ingin. Masa depan yang seperti itu ... mungkin saja terjadi, kan?

Mendadak tubuhku seolah dihempaskan dengan keras dan menghantam dinding hitam yang kokoh. Kubuka mataku perlahan dan mendapati Thurqk si dewa sialan itu tersenyum meremehkanku.

"Kau gagal menghiburku. Kau hanya seorang pecundang yang gagal dalam kehidupan."

Aku tertawa, "Sesukamu, lah, Oh Dewa Yang Agung."

Thurqk memperlihatkan ekspresi tak suka kepadaku. Kepalan tangan kanannya mendadak di selimuti api. Dan segera saja ia mencengkram kepalaku.

Aku mengerang kesakitan merasakan kepalaku terbakar dan meleleh sedikit demi sedikit. Air mata yang keluar di pelupuk mataku menguap begitu saja. Rasa panas ini terlalu menyakitkan. Aku meronta, namun rasa panas itu semakin menjadi.

"Kau tahu sudah berapa jiwa yang kulenyapkan sia-sia karena kebodohanmu?"

Aku masih meronta kesakitan. Sepertinya otakku mulai mendidih.

"Padahal mungkin saja mereka bisa jauh lebih menghiburku daripada dirimu, bocah sialan!"

Api di tangan Thurqk membesar, melahap habis kepalaku sampai ke leher. Aku tak bergerak lagi. Dan dalam satu jentikan jari Thurqk, kepalaku yang telah habis terbakar kembali utuh.

Aku menarik napas banyak-banyak. Seolah baru terbebas dari siksaan paling mengerikan.

"Kuberi satu kesempatan lagi. Kalau kau gagal memberikan hiburan yang menyenangkan, akan kulakukan hal seperti tadi sampai kau muak. Bukan hanya kepalamu, tapi seluruh tubuhmu. Bisa kau bayangkan betapa menyakitkannya itu?"

Kukepalkan tanganku erat-erat. Rasa panas tadi masih bisa kurasakan menggerogoti kepalaku.

"Kau bukan tuhan," ujarku.

"Aku bisa mendapatkan apapun yang kumau, kenapa kau masih menyangkalnya?"

Aku terdiam sejenak. Samar-samar terdengar suara benturan dan ledakan entah di mana.

"Kenapa kau memilihku?"

"Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, kenapa aku harus memilihmu?"

Setelah mengatakan itu cahaya menyilaukan segera menyerbu mataku.

Dan Thurqk pun menghilang.

***

Mataku terbuka secara perlahan. Mengerjap pelan beberapa kali hingga akhirnya sekelilingku bisa terlihat jelas.

Benang biru.

Benang biru di mana-mana. Seolah aku berada di tengah-tengah sarang laba-laba. Kuamati kedua tanganku. Banyak benang biru yang melilitnya. Kuamati tubuhku. Keadaannya pun sama. Tubuhku dililit oleh benang biru yang entah berasal dari mana.

"Apa-apaan ini? Benang apa ini?!"

Suara itu terdengar tak jauh dariku. Suara aneh yang terdengar seperti dua suara berbeda yang menumpuk. Suara melengking dan suara yang berat. Aku menelengkan kepala mendapati seekor burung jingga kemerahan buruk rupa tengah sibuk mengibaskan sayapnya kesana kemari. Mungkin terganggu oleh benang-benang di sekelilingnya.

Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri. Menggenggam beberapa benang yang sanggup kugapai dan kutarik sejauh mungkin. Burung buruk rupa itu mendadak mengerang. Suaranya tersendat-sendat seolah tercekik.

Aku hanya bisa mengernyit.

Kemudian tubuhku kembali bergerak. Kali ini jari-jariku seolah menari. Tiap gerakannya membuat tiap benang yang terhubung jadi menipis. Terus menipis. Dan dalam sekali hentakan, benang-benang tipis itu melecut bagaikan cambuk ke arah burung buruk rupa.

Mendengar erangan kesakitan burung itu, tanpa sadar aku menyeringai.

Tubuhku bergerak semakin banyak. Tiap gerakannya terhubung oleh benang-benang ini. Menyakiti si burung lebih banyak.

Aku tertawa. Menikmati tiap tarian kesakitan itu.

Burung itu tampak marah. Ia berkoak melengking, membuat telingaku berdenging kesakitan.

Lalu seluruh benang itu lenyap.

Tubuhku yang tadinya melayang di antara benang biru kini jatuh menghantam tanah merah. Suara berdenging itu menyakiti telingaku, membuat penglihatanku seolah berputar-putar.

"Bunuh dia!"

Huh ...?

"Bunuh dia untukku!"

Bunuh ...?

"Ya, bunuh burung jelek itu agar kita bisa segera keluar dari tempat menyebalkan ini!"

Aku menelengkan kepala. Rasanya aku pernah mendengar suara itu sebelumnya. Tapi di mana, ya?

Tiba-tiba saja burung buruk rupa itu melesat ke arahku. Kedua tanganku refleks terentang ke depan. Lalu berbagai macam boneka mini terbang melesat, menerjang burung buruk rupa.

Aku berseru kagum menyaksikan semua itu. Refleks aku bertepuk tangan tiap kali ada boneka yang berhasil mengecoh atau menghantam burung buruk rupa itu. Segera aku mencari tempat yang bagus untuk menyaksikan pertunjukan itu. Ah, mataku menangkap ada sudut yang bagus di sana. Dan begitu sampai di tempat itu, ternyata aku tak sendiri. Sudah ada sebuah boneka panda juling yang menempati tempat strategis itu.

Kugeser sedikit boneka itu agar kami bisa menyaksikan pertunjukan bersama. Si burung buruk rupa melawan boneka-boneka penyihir. Aku tertawa senang memainkan tiap boneka yang ada. Menyerang membabibuta ke arah burung buruk rupa yang nampaknya mulai kewalahan.

Sampai suatu ketika burung itu merentangkan sayap kokohnya lebar-lebar. Tubuhnya melayang beberapa kaki di atas tanah. Dikibaskannya sayapnya dengan kuat, menimbulkan pisau angin yang mengoyak seluruh boneka penyihirku.

"Tidaaaak! Burung jelek! Menyebalkan menyebalkan menyebalkaaaan! Dasar burung jahat! Kau merusak koleksi kesayanganku, tahu!"

Burung itu kembali mengibaskan sayap. Kali ini sasarannya jelas saja aku. Angin-angin yang tajam yang bercampur dengan butiran pasir segera melukai sekujur tubuhku. Kusilangkan kedua tanganku di depan wajah guna melindungi mataku. Aku tak bisa berhenti mengomel. Tak tahu harus melakukan apa untuk membalas burung menyebalkan itu.

"Nim! Nim, tolong aku!!"

Aku tersentak dan menoleh. Dalam gerakan lambat, dapat kulihat boneka panda yang bersamaku tadi terhempas diterbangkan angin. Tanganku refleks berusaha menggapainya. Namun gagal. Kaki kananku terputus bersamaan dengan terpisahnya kaki kanan boneka panda itu akibat pisau angin. Darah segar segera membanjiri tanah dan menyatu dengan warna merah tanah yang terang. Aku mengerang sambil berguling kesakitan menyentuh kaki kananku yang kini hanya sebatas paha atas.

Burung menyebalkan itu segera terbang ke arahku dan menghentakkan kakinya tepat di atas perutku. Bisa kudengar dengan jelas suara remuknya tulang-tulang.

Tanganku berusaha mendorong kaki raksasa itu agar menyingkir. Namun sia-sia saja. Burung itu semakin gemas menghentak-hentakkan kakinya di tubuhku. Meremukkan tiap tulang belulang kecuali kepala. Mungkin dia sengaja menyisakan bagian kepala agar bisa menikmati ekspresi menderitaku.

Aneh ...

Tak ada rasa sakit sedikit pun. Meskipun darah sudah mengubah warna bajuku, dan organ-organ dalamku sudah terburai dan hancur. Tapi aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Kecuali kaki kananku yang terpotong tanpa alasan.

Lalu aku tersadar, sebenarnya aku ada di mana? Kenapa aku ada di tempat aneh ini? Siapa burung buruk rupa itu? Kenapa ia begitu bernafsu menyiksaku?

Tunggu, sebenarnya ... siapa aku? Siapa? Siapa namaku?

Kenapa aku tidak bisa ingat sedikit, pun?!

***

Burung buruk rupa itu telah berhenti menghentak-hentakkan kaki besarnya di tubuhku. Sesaat ia mengamati wajahku. Nampaknya ia belum puas. Kedua tangannya yang berkuku tajam bagaikan pedang sudah siap untuk mencabik-cabik kepalaku.

Lalu benang-benang biru misterius itu kembali muncul. Menyelubungi tubuhku dan memperbaiki bagian-bagian yang hancur. Bisa kurasakan kehangatan yang luar biasa menyelubungiku. Dalam sekejap tubuhku telah pulih seperti semula. Kuamati dari mana asalnya benang-benang ini, dan kudapati boneka panda yang terhempas tadi lah pusat dari benang-benang itu. Aku tersenyum. Siapa sangka ada boneka seperti itu yang dengan senang hati menolongku?

Aku menoleh pada burung buruk rupa yang ukurannya mungkin limabelas kali atau lebih dari ukuran tubuhku. Aku mendelik kesal ke arahnya dan dia justru membalasku dengan tersenyum mengejek.

"Aku tidak menyangka kau sampai meminta teman kecilmu untuk menghapus ingatan berhargamu, yah ... agar bisa terhindar dari manipulasi memori milikku."

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sebaiknya tutup mulutmu dan jadilah pengganti bonekaku!"

Beberapa boneka prajurit segera menerjang burung itu. Aku hanya bisa menggeram kesal menyaksikan segala serangan yang kulancarkan ditepis dengan mudah olehnya.

"Percuma. Kau tidak akan bisa mengalahkanku," ujar burung itu yakin.

Aku tertawa, "Burung bodoh. Kau pikir aku tidak bisa melihat kelemahanmu?"

Burung itu terbelalak. Cahaya hijau menutupi pandanganku sesaat, dan kelemahan burung itu pun terlihat jelas di mataku.

Aku menyeringai.

"Kelemahanku adalah kelemahanmu juga."

Dua boneka penyihir cahaya mematerialisasikan sebuah pedang di udara. Aku berteriak seraya berlari meraih pedang yang nyaris sempurna itu. Begitu selesai terbentuk, tanganku dengan segera menggenggamnya. Aku mengernyit menahan sakit saat bersentuhan dengan pedang cahaya itu. Bisa kurasakan tanganku memerah seolah terbakar.

Tapi aku tidak peduli.

Aku terus berlari. Kini dengan bantuan boneka-boneka penyihir di belakangku. Bulu-bulu api bermunculan di punggungku. Tubuhku pun mulai terangkat dari tanah. Sayap api telah terbentuk sempurna di punggungku. Aku melesat, seraya menggenggam erat pedang cahaya dengan kedua tanganku. Kini bisa kulihat tanganku benar-benar terbakar. Kulitku menghitam dan di beberapa bagian terlihat tulang putih mencuat.

Aku tak peduli.

Teriakanku semakin keras. Aku melesat menerjang burung buruk rupa itu yang takjub melihat pedang cahaya. Kuayunkan pedang itu tepat di bahu kanannya. Suara koakan keras menggetarkan seluruh tempat itu. Namun aku tidak berhenti. Pedang di tanganku terus kutekan seiring teriakanku yang semakin keras. Pedang itu membelah semakin dalam. Dari bahu kanan menuju perut. Lalu dalam sekali hentakan, tubuh burung itupun terbelah dua.

Sebuah ledakan tercipta, yang dengan sukses menghempaskanku, membuat tubuhku menghantam dinding labirin dengan cukup keras. Tubuhku merosot ke tanah. Terkapar tak bergerak dengan sekujur tubuh penuh dengan luka. Aku merintih merasakan kedua tanganku gemetar.

Lalu aku pun mulai terisak. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku menangis entah karena apa. Aku juga tidak mengerti. Yang kutahu saat ini hanya tangisan yang bisa membuatku puas. Kuluapkan segalanya dengan menangis semakin keras. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar tangisanku dan mengataiku bocah cengeng. Aku hanya ingin menangis saat ini.

"Bocah bodoh ... berhentilah menangis, dasar cengeng."

Mendengar suara itu, tangisanku terhenti. Tidak terhenti sepenuhnya, karena aku masih terisak dengan napas yang tak karuan.

Aku menoleh, mendapati benang-benang biru mengitari tubuhku. Boneka panda yang menjadi pusat benang-benang itu melayang menghampiriku. Mata julingnya bergerak-gerak gusar.

"Kau ... boneka yang menolongku ..."

Aku mendengarnya mendengus. Entah kesal atau apa. Aku tidak tahu.

"Aku tidak mengerti kenapa kau menyuruhku melenyapkan ingatanmu. Tapi yang jelas ... terima kasih karena kau masih mau bertahan. Meskipun bukan untukku."

Kutatap boneka itu dalam diam. Aku pun bangkit untuk duduk dan kembali menatapnya.

"Kau ... aku tahu siapa kau. Aku yakin sekali. Tapi aku tidak ingat. Aku telah berjanji padamu, bukan? Aku menjanjikan sesuatu padamu. Janji ... janji yang sangat berharga."

Aku memejamkan mata erat-erat berusaha mengingat sesuatu. Kukepalkan tanganku agar bisa lebih berkonsentrasi.

"H-hei ... sudahlah. Tidak perlu dipaksakan."

Aku pun kembali membuka mata. Mata boneka di depanku kembali bergerak-gerak gusar.

"Kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku sendirian. Kau berjanji ... akan membantuku balas dendam dan berjuang di turnamen gila ini untuk mendapatkan kelahiran kembali. Kau berjanji ... akan membawaku kembali pada Tabita."

...Tabita.

Nama itu bergema di dalam kepalaku. Seperti bunyi lonceng yang sangat nyaring dan jernih.

Tabita.

Tabita.

Tabita.

Kau percaya reinkarnasi? Kadang-kadang aku membayangkan hidup di suatu kehidupan yang menyenangkan, tanpa sihir, tanpa perang yang tak berkesudahan. Bersamamu dan adik kecilku. Hidup damai seperti sebuah keluarga. Kita tidak perlu khawatir akan kemampuanku dan kemampuanmu.

Aku tersentak.

Aku ingin hidup di dunia yang seperti itu, Nim. Benar-benar ingin. Masa depan yang seperti itu ... mungkin saja terjadi, kan?

"Tabita!"

Segera kuraih tubuh boneka panda di hadapanku dan akupun bergegas berlari menyusuri labirin yang entah mengarah ke mana ini.

"Di mana? Di mana orang itu? Seharusnya ada seseorang di dekat sini!"

Boneka panda dalam pelukanku bergumam sesaat, "Maksudmu pria yang ada di pusat labirin?"

Langkahku terhenti, "Kau bisa melihatnya? Kau ... kau tahu jalan terdekat menuju tempat itu??"

"Tentu saja, bodoh!"

Aku tersenyum lega dan kembali berlari mengikuti petunjuk dari boneka panda ini. Rasa sesak yang berusaha menghambatku tak kupedulikan. Aku hanya ingin bergegas. Harus. Demi Tabita. Tabita menunggu kami.

Tiba-tiba aku merasa sesuatu muncul di punggungku. Api hitam berpusar sesaat dan mendadak sayap jingga kemerahan yang kokoh dan tajam mengembang, mengepak sesaat membuat tubuhku melayang.

Aku berseru kegirangan lantas melesat menuju pusat labirin.

Bersabarlah sedikit lagi, Tabita.

***

Seorang pria berdiri di tengah-tengah pusat labirin. Ia berbalik dan tersenyum ramah padaku. Seorang pemuda berambut dan berjanggut coklat serta mengenakan kacamata.

"Selamat atas keberhasilanmu mengalahkan Aspatra, Nim Imanuel."

Aku menelengkan kepala, "Siapa kau? Siapa itu Aspatra? Dan ... siapa itu Nim Imanuel?"

Pria itu menghela napas lantas memijat keningnya. Apa dia sedang sakit kepala?

"Kau ... melenyapkan ingatanmu sendiri?" ujarnya. "Yah, terserahlah. Namaku Nolan. Karena kau telah berhasil melewati ronde keempat ini, akan kukatakan sesuatu yang penting padamu, Nim Imanuel."

Aku hanya menatap pemuda bernama Nolan ini dalam diam. Hal penting apa yang ingin dia katakan?


Apapun itu, aku pasti akan segera keluar dari turnamen sialan ini.

***

6 comments:

  1. Maafkan saya yang kesulitan menikmati tulisan ini. Meski sadar kalau entri ini jelas lebih rapi dan baik tatanannya dibanding entri saya yang berantakan, tapi saya agak tersendat-sendat ngikutinnya. Dimulai dari flashback, seenggaknya saya narik garis" hubungan di canon ini antara Leno, Nim, Immanuel, sama Tabita. Cuma untuk karakter Nim sendiri, saya masih belum nangkep sesuatu yang ngegambarin jelas tentang dirinya. Apa istilahnya, selfless? Jadi kurang secara pribadi individu Nim ini oc macem apa, selain kayaknya tipe yang nyimpen resentment ke Thurqk.

    Nilai 7

    ReplyDelete
  2. Hmm... Kelemahan apa sih yang dimiliki Nim dan juga dimiliki Apastra? #gagal nangkep di bagian itu >__<
    Sama... Kenapa Apastra baru nunjukin kecerdasannya ga dari awal aja, sampe harus dibuat kewalahan ma boneka Galen dulu?

    Saya suka bagian canon flesbeknya. Nim ki lumayan agak galau juga. Tapi apa ya, eksplorasi karakternya kayak masih kurang gereget gitu. Tapi dugaan sementara sih, karena pemadatan, di mana lebih banyak porsi di mana Nim menceritakan dan merangkum masa lalunya sendiri, bukannya ditunjukkan dalam suatu scene adegan. Kayak, pas dia nyeritain tiba-tiba Ayahnya uda ditangkep, trus Tabita ngebenci Nim... Tapi kayaknya itu uda pernah dibahas di canon-canon sebelumnya juga ya?

    Penyelesaiannya kaco juga, Nim ngapus ingetannya sendiri, hehehe. :D Nilai 7,75 deh.

    ReplyDelete
  3. karena saya gak ngikutin R1-R3 Nim
    #maaf

    maka saya baca Action Scenenya doang.
    dan saya hanya mengatakan Action Scenenya cukup wow, tetapi cukup membingungkan saat Nim mulai kehilangna ingatan...
    Jadinya... yang bisa ngeluarin benang pengendali itu si boneka panda atau Nim?

    dengan pernyataan ini narator kisahnya sepenuhnya PoV Nim kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lupa Nilai XD : 7.2
      based on Action scene doang. Kalau saya nilai keseluruhan cerita pasti lebih kecil, tapi takut gak adil. karena gak ngikutin ronde sebelumnya.

      Delete
  4. Aaaa... Seperti para komentator sebelum saya, cerita ini agak membingungkan. Baik itu bagaimana caranya sang musuh kalah, maupun memori Nim yang terpecah-pecah akan masa lalunya...

    Score 7

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -