September 7, 2014

[ROUND 5] NIM IMANUEL - AKHIR

[Round 5] Nim Imanuel
"Akhir"

Written by Yuu

---

Langit gelap membentang
Bintang kecil mulai bersinar
Bulan pun benderang
Menerangi latar

Di laut pun ada bulan dan bintang
Namun itu hanya semu
Semu tetaplah semu
Semu itu kamu

***

"Aku berada di pihak kalian, walaupun keadaannya sangat berbahaya bagiku berbuat demikian. Thurqk mempercayaiku sebagai tangan kanannya. Bila kalian bertanya, kenapa kalian—"

Cerewet cerewet cereweeet!

Aku berguling-guling dengan malas sambil sesekali menggaruk bagian tubuh yang gatal. Aku tidak mengerti apa yang orang asing itu katakan. Aku bahkan tidak tahu dia siapa.

Saat ini aku dan beberapa peserta yang tersisa tengah dikumpulkan di dalam sebuah ruangan misterius, ujung dari labirin tempat bertarung sebelumnya.


Setelah mengamati sejenak, jumlah pesertanya benar-benar sudah berkurang drastis dibanding saat berada di Dataran Merah pertama kali.

Orang berkacamata itu masih terus mengoceh. Aku bersenandung asal-asalan demi menyegarkan pendengaran dari penjelasan anehnya. Memangnya apa yang dia sampaikan itu penting? Kelihatannya bukan cuma aku yang mengabaikan orang itu. Kasihan.

Ah, masa bodoh! Pokoknya aku mau segera pergi dari sini! Aku ingin bertemu Tabita!

Oh? Sepertinya penjelasan anehnya sudah selesai. Ternyata om brewok tadi sudah pergi sebelum sempat kusadari. Baguslah.

Aku pun bergegas bangkit, menepuk-nepuk sejenak pakaian yang kukenakan dan bergegas memasuki pintu yang entah sejak kapan tercipta di lantai.

Namun sebelum sempat mencapainya, seseorang menarik kerah bajuku.

"Apa, sih?!"

Aku menggerutu dan mendelik pada siapapun yang berani menahanku.

Seorang wanita. Dengan kantung mata menghitam yang parah. Alisnya tertekuk, seolah ia akan menangis kapan saja. Wajah yang terkesan selalu merasa bersalah. Dan di antara itu semua, rambut miliknya yang berwarna warni membuatku menelengkan kepala.

"Ah," wanita itu akhirnya membuka mulut, "ma-maaf, adik kecil. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Tapi, ada baiknya kita semua yang ada di sini berangkat bersama sambil berpegangan tangan. Mungkin saja itu pintu jebakan."

...berpegangan tangan?

"Maaf, memang kedengaran tak masuk akal ta-tapi ... jumlah kita semakin sedikit. Lagipula kita tidak bisa mempercayai Nolan begitu saja. Jadi ... kenapa kita tidak mencoba bekerja sama?"

Kupandangi raut wajah peserta yang lain satu-persatu. Melihat ekspresi tak jelas mereka, aku pun mendengus.

'Ini adalah kesempatan bagus untuk menghabisi yang lainnya.'

Kira-kira itulah yang terbaca di wajah sebagian besar dari mereka.

Aku tersenyum tipis.

Begitu juga aku.

"Apakah tidak apa-apa? Apakah Kakak menjamin mereka tidak akan menyerangku tiba-tiba? Apakah aku bisa keluar dengan selamat? Aku hanya anak kecil malang yang bisa sampai di tempat ini hanya karena keberuntungan. Lebih baik aku pergi sendiri saja."

Baru saja hendak melangkah, lagi-lagi wanita itu menahanku.

"Tolonglah, adik kecil! Ma-maaf ... aku mengerti kalau sulit untuk mempercayai satu sama lain saat ini. Tapi ... setidaknya untuk kali ini saja, ayo bekerja sama. Sampai kita semua berhasil menyelamatkan kristal-kristal jiwa itu."

Kristal apa?

"Yah~ baiklah kalau Kakak memaksa~"

Dan dengan ogah-ogahan, para peserta pun saling berpegangan tangan. Itu membuatku terkekeh. Tak lama kemudian kami pun bergegas memasuki lorong yang gelap. Dan saat berlari bersama beberapa saat masih sambil berpegangan tangan, angin yang sangat kuat menghempaskan kami.

Dan genggamanku pun terlepas.

***

Aku hanya bisa mengerang sebal saat kegelapan tiba-tiba menyedot tubuhku, lantas membuatku jatuh tersungkur menghantam lantai merah.

"Imanuel," ujarku sebal, "kau tidak mengatakan apapun, eh?"

Boneka panda yang ikut tersungkur tak jauh dariku terdengar berdehem sebentar, "Kukira kau tak mau mendengar penjelasan apapun dariku? Kau bilang penjelasanku terlalu sulit kau mengerti, kan?"

Aku mendengus sebal, "Sebenarnya aku ragu dengan semua ceritamu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Cuma kau satu-satunya yang bisa kuandalkan saat ini."

Entah Imanuel tak memperhatikan ucapaku atau bagaimana, tapi ia hanya diam.

"Imanuel, kau dengar tidak?"

"Iya iya. Kau pikir aku tuli?" tanggapnya sebal.

Aku tersenyum kecil lantas bangkit untuk duduk.

"Imanuel, aku percaya padamu. Tenang saja, kita pasti akan segera keluar dari turnamen ini atau apapun istilahnya. Kita akan segera pulang dan bertemu dengan Tabita, oke? Jangan khawatir."

Aku merangkak menghampiri Imanuel dan meraihnya. Baru saja aku bangkit untuk berdiri, cahaya kehijauan yang pucat menerangi ruangan tempatku berada.

Dan hamparan tabung kaca besar berpendar hijau memenuhi pandanganku.

"Tabung apa itu? Banyak sekali."

Imanuel menanggapi dengan gumaman. Sepertinya sedang berpikir. Aku memutuskan untuk berkeliling mengamati tabung-tabung aneh itu. Namun dengan segera rasa bosan menyergapku. Masalahnya, aku tidak menemukan hal menarik apapun dari benda berpendar hijau mencurigakan ini. Semuanya terlihat sama.

Akhirnya dengan iseng kuketuk-ketuk salah satu tabung di dekatku. Suara derak kaca retak mengagetkanku. Masa iya kacanya serapuh ini?!

Dengan panik kuamati kaca tabung itu. Suara retaknya makin jelas, namun anehnya tidak terlihat retak di manapun. Panik, akupun melangkah mundur perlahan dengan kikuk. Dan tanpa sengaja menyikut tabung di belakangku.

Lagi-lagi suara kaca retak.

"Awawawa! Apa yang terjadi?! Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak menyentuh apapun! Imanuel, kau lihat, kan? Aku tidak melakukan apapun, kan? Iya, kan??"

Imanuel hanya ber-'hmm' malas.

Mendadak tabung yang ada di depan dan belakangku pecah. Memancarkan cahaya hijau menyilaukan yang memaksaku menutup mata dan refleks melangkah mundur. Hal terakhir yang bisa kuingat adalah, aku tak sengaja menyentuh beberapa tabung lain dan suara kaca yang pecah segera  memenuhi pendengaranku.

***

"Hoi, bocah! Bangun! Aku merasakan keberadaan musuh di mana-mana!"

Aku tersentak dan refleks bangkit dari tempatku berbaring. Kuraih Imanuel lantas segera berlari mencari tempat persembunyian yang aman.

Langkahku terhenti.

Ini tempat yang benar-benar asing. Tempat apa lagi ini?

"Hei, bocah! Cepat sembunyi!"

Suara Imanuel menyadarkanku. Aku pun memutuskan bersembunyi di lemari. Suara derap langkah kaki yang banyak segera memenuhi ruangan ini tak lama kemudian.

"Geledah semuanya! Dia pasti bersembunyi di sini!"

Gawat! Secepat itukah aku ketahuan?

Suara angin ribut mendadak terdengar. Disusul oleh suara erangan dan benturan. Apa yang terjadi? Aku hendak mengintip dari celah pintu lemari namun Imanuel menahanku. Dia bilang seoertinya ia tahu siapa yang muncul.

Mendadak pasir yang entah berasal dari mana beterbangan di sekelilingku. Membuatku terbatuk dan kelilipan. Pintu lemari sontak terbuka. Kukucek mataku lantas berusaha melihat siapa yang membukanya.

Aku reflek berseru melihat pemuda yang berdiri di depan lemari. Pemuda yang mengenakan sorban dan pakaian panjang serta mengacungkan pedang lengkung ke arahku.

"Aku mengenalmu!" seruku.

Pemuda itu mengernyit, "Benarkah?"

Aku mengangguk semangat. Namun sesaat kemudian menggeleng.

"Aku tidak yakin. Imanuel bilang sebelumnya aku memintanya untuk menghapus ingatanku. Tapi aku yakin sekali kalau aku mengenalmu!"

Pemuda itu menurunkan pedangnya. Ia mengamatiku sejenak lantas berujar, "Mengapa kau ada di tempat ini, bocah? Apa pemuda aneh dengan poni yang menutupi mata kanannya itu mengejarmu juga?"

Aku menggelengkan kepala.

"Tabung-tabung aneh bercahaya hijau pecah dan saat tersadar aku sudah ada di sini," jelasku. "Iya, kan, Imanuel?"

Aku menoleh ke lemari tempat persembunyianku tadi.

Dan mendapati seorang pemuda suram dengan poni panjang menutupi mata kanannya sedang mencoba meraih Imanuel.

"Oh?" Pemuda itu menoleh pada kami. "Boneka itu lucu. Boleh kuambil untuk kuberikan pada Nely? Nely itu anakku. Dia sangat cantik dan hebat seperti ibunya."

Aku refleks berlari hendak menerjang pencuri itu. Namun sesuatu tak kasat mata menghempaskannya duluan. Tubuh pencuri itu melayang sesaat di udara. Refleks kukembangkan sayap yang kuperoleh dari monster burung jelek di labirin sebelumnya. Aku melesat, lantas melayang tepat di atas tubuh pencuri itu. Pencuri itu nampak bingung dengan apa yang terjadi. Detik berikutnya, kedua kakiku telah menghantam perut sang pencuri hingga ia menghantam lantai dengan suara debuman yang keras.

Aku mendengus menatap pencuri itu yang kini tengah terkapar tak sadarkan diri. Sayap di punggungku telah lenyap. Dan Imanuel aman sekarang.

Aku pun bergegas meraih dan memeluk Imanuel.

"Bocah! Awas!"

Aku menoleh dan mendapati pemuda pencuri itu telah siap mengayunkan pedang ke arahku. Aku terdiam, tak berniat menghindar. Namun sesaat kemudian darah segar terciprat ke wajahku. Pencuri itu mengerang kesakitan sambil memegang lengan kanannya yang tersisa.

Aku menoleh ke arah pemuda bersorban. Ia tengah merentangkan tangan kanannya ke depan dengan telunjuk teracung. Melihatku, ia pun mendesah lega dan menyuruhku menghampirinya.

"Manusia itu sudah gila. Dia benar-benar berbahaya," ujarnya. "Akan kuperintahkan angin untuk mengirimnya ke daratan yang jauh dan terasing. Agar manusia ini tidak—"

"UAAKKHH—!!"

Pemuda bersorban itu terbelalak. Kepala si pencuri terlempar ke udara dan jatuh ke lantai beberapa saat kemudian. Darah segar segera memancar dari lehernya yang tanpa kepala yang kini ambruk ke lantai.

Kutatap si pemuda bersorban. Ia balik menatapku, menuntut penjelasan.

"Kau bilang dia berbahaya. Dan aku juga kesal padanya karena mencoba mencuri Imanuel dariku. Jadi kubunuh saja dia," jelasku seraya tersenyum dan memamerkan benang energi berwarna biru yang mencuat dari telunjukku.

Ekspresi pemuda bersorban itu mendadak muram.

"Kau sama saja dengan pemuda serba hitam itu," ujarnya parau.

Aku menelengkan kepala bingung.

Pemuda bersorban itu memintaku mengikutinya. Aku hanya menurut saja. Lama kami berjalan menyusuri kastil suram ini, tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita.

Pemuda bersorban itu bergegas menuju sumber suara. Aku hanya bisa mengerang kesal karena ditinggal begitu saja.

Kubentangkan sayap pedang milikku dan bergegas menyusul si pemuda bersorban. Kudapati ia berbelok tajam di depan sana. Aku pun mengikuti. Ia terlihat memasuki sebuah ruangan besar dengan pintu berwarna emas.

"Hei, tunggu aku!"

Begitu berhasil memasuki ruangan tersebut, sesuatu tak kasat mata menghantamku. Membuatku terhempas dan membentur dinding dengan keras.

Aku mengerang kesakitan sambil berusaha mengusap punggungku. Imanuel yang sejak tadi kuselipkan di belakang baju sempat tertindih. Karena itulah aku merasa sesak.

Aku mendongak dan mendapati dua pemuda dan satu wanita mengacungkan pedang terhadapku.

Pemuda bersorban, pemuda beranting, dan wanita berambut perak.

Aku hanya bisa menghela napas.

"Reeh, Xabi, dan Marion ...," lirih Imanuel.

"Eh? Kau kenal mereka?"

"Tentu saja. Mereka pernah bertarung denganmu."

Aku mengangguk-angguk sok paham. Lantas tersenyum ke arah Reeh, Xabi, dan Marion.

"Hai, kawan lama! Bagaimana kabar kalian?"

Jawaban yang kudapatkan justru ayunan pedang membabi buta. Astaga, apa sikapku kurang ramah terhadap mereka?

Setelah berdecak kesal, kurentangkan kedua tanganku. Dari dalam lengan bajuku yang kebesaran, berbagai macam boneka pun bermunculan.

Aku menyeringai, "Ayo kita main boneka sepuasnya~"

***

Kepala Marion terpenggal, tubuh Xabi menyusut menjadi boneka yang lucu, dan Reeh ...

"Sial!"

Reeh menggeram kesal. Kedua kakinya sudah buntung. Lengan kanannya pun hangus dan membusuk. Aku hanya tertawa puas melihatnya menatapku penuh amarah.

"Jadi Paman Reeh tadinya mau menjebakku, ya? Hm~? Sayang sekali, ya. Kalian tidak sebanding denganku. Hahaha~"

Aku bersiul-siul kegirangan seraya melilit tubuh Reeh dengan benang energi yang mencuat dari jari-jariku. Ia mencoba meronta dan menyuruh angin untuk menyerangku. Namun itu sia-sia saja. Tiga boneka elemen telah mengunci angin di sekeliling Reeh.

"Bagaimana? Paman mulai merasa sesak?"

Tubuh Reeh melayang. Aku tertawa kecil lantas berujar, "Paman tahu tidak hukuman yang Thurqk berikan pada peserta yang tidak cukup menghiburnya? Ah, paman pasti tahu. Paman juga melihat eksekusi waktu itu, kan?"

Suara Reeh tercekat. Sepertinya sebentar lagi ia berada di ujung batasnya.

"Ledakan," desisku.

Dan sesaat setelahnya tubuh Reeh meledak. Gumpalan daging merah segar menghambur kemana-mana. Cairan merah kental menodai wajah dan pakaian putihku. Bukannya kesal, aku justru terkekeh senang.

"Sepertinya kau sangat senang melakukan hal menjijikkan itu."

Aku tersentak dan refleks menoleh ke belakang. Seorang gadis berambut karamel menatap jijik gumpalan daging yang ada di sampul buku biru tebal yang di pegangnya. Ia mendengus kesal lantas menciptakan sebuah lubang dimensi di sisinya dan menukar buku itu dengan buku lainnya.

Aku menatap tak suka padanya.

"Hei, berapa umurmu? Delapan tahun? Apa kau suka boneka? Kau suka dongeng? Mau kubacakan sebuah dongeng yang bagus untukmu? Tapi sebelumnya kau harus berbaring dahulu."

Aku hanya terdiam. Dongeng ... rasanya aku tidak pernah lagi dibacakan dongeng sebelum tidur.

"Bacakan untukku," ujarku.

Gadis berambut karamel itu tersenyum. Ia membaca beberapa kalimat, dan sebuah tempat tidur besar dengan berbagai boneka di atasnya pun muncul di hadapanku. Tatapanku berbinar, dan tanpa membuang waktu segera kuhempaskan tubuhku ke kasur empuk itu.

Kupeluk erat boneka di sekelilingku dengan Imanuel tepat di sebelah kananku.

"Namanu Nim, kan? Nim Valerius?"

Aku mengangguk-angguk seraya tersenyum. Mungkin aku tidak ingat, tapi aku yakin itulah namaku.

"Sebelumnya, aku ingin mendengarmu bernyanyi. Kudengar kau suka bernyanyi. Bernyanyilah untukku."

Aku menelengkan kepala. Kenapa dia memintaku untuk bernyanyi.

Pada akhirnya aku menyanyikan beberapa bait lagu yang asal-asalan. Gadis berambut karamel itu menggeleng-geleng, "Tidak, bukan lagu yang seperti itu. Lagu yang benar-benar dari hatimu. Yang mewakili mimpi-mimpimu."

Aku berpikir sejenak. Usapan lembut di kepalaku membuatku tersentak. Gadis itu tersenyum lebar, "Kalau seperti ini kau terlihat seperti bocah pada umumnya. Rasanya aku ingin menjadikanmu sebagai adikku."

Adik ...?

Bayangan seorang gadis berambut merah dengan senyum hangat berkelebat dalam ingatanku.

...Tabita?

Tabita ... wanita itu ... dia kakak Imanuel. Wanita yang membebaskanku, membuatku merasakan kebebasan. Yang membuatku merasa hangat.

Mendadak gemuruh aneh mendesak dalam dadaku. Memaksaku bernyanyi. Aku pun memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

Langit gelap membentang
Bintang kecil mulai bersinar
Bulan pun benderang
Menerangi latar

Di laut pun ada bulan dan bintang
Namun itu hanya semu
Semu tetaplah semu
Semu itu kamu

Begitu selesai bernyanyi, sekelilingku mendadak terlihat melebur. Begitu pun gadis berambut karamel di hadapanku. Ia tersenyum sambil mengusap keningku. Ucapan terakhirnya yang bisa kuingat adalah ...

"Kau percaya reinkarnasi?"

***

...

..

.

"Berikan boneka itu! Itu punya Elle, nom! Siniii!"

"Enak saja! Ini bonekaku! Elle beli saja sendiri sana!"

"Tidak mauuu! Maunya boneka panda itu nooom!"

Dua bocah TK terlihat berebut sebuah boneka panda. Bocah laki-laki dan bocah perempuan itu saling tarik menarik, tidak ada yang mau mengalah.

"Nim! Elle!"

Seorang bocah berambut karamel yang terlihat lebih tua dari kedua bocah itu bergegas melerai mereka.

"Carol! Elle mau mencuri bonekaku! Ayo pukul dia!" rajuk si bocah lelaki.

"Enak saja! Itu boneka Elle nom!"

"Itu bonekaku tau! Tabita yang memberikannya!"

"Pokoknya itu bonekaku!"

Carol menghela napas lantas menjewer kuping kedua bocah yang masih bertengkar itu.

"Kalau masih bertengkar juga, bonekanya akan kubakar! Lalu cerita dongengnya tidak akan ada lagi! Kalian mau?"

"Aaah! Jangan bakar Imanuel! Dia sahabatkuuu!"

"Jangan nooom! Dongengnya bagus nom! Jangan dihentikan dongengnya, Carol~"

Carol tertawa pelan dan melepaskan jewerannya pada kedua bocah itu.

"Ayo segera masuk kelas. Katanya akan ada guru baru."

"Siapa?"

"Katanya, sih, namanya Nolan."

"Nolan, nom? Hum~? Rasanya pernah dengar nama itu nom."

"Sudahlah. Ayo cepat masuk!"

***

Lawan:
1. Leonidas
2. Reeh
3. Marion
4. Xabi
5. Carol  

5 comments:

  1. Dari semua entry yang saya baca, ini adalah yang paling pendek dan nggak jelas. Karakter Nim ternyata se-hate-able yang saya duga sebelumnya, tapi bagaimana dia bertarung nggak terlalu jelas, malah rasanya pengen nge-skip bagian itu.

    Kenapa Yuu?

    5/10

    ReplyDelete
  2. Agak serupa sama entri Mba, kesan yang saya dapetin adalah nutup cerita ini tanpa penyelesaian - mungkin kalau akhiran itu indikasi, dilanjut ke sebuah spinoff pun ga akan nyentuh poin serius tentang apa yang sebenernya terjadi di entri ini. Mungkin penulis udah lelah dengan turnamen ini sendiri, jadi saya cukupkan komentar segini aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nilai awal 6
      Karena penulis forfeit di sini, saya bantu memastikan ga lolosnya dengan minus 5

      Nilai akhir 1
      (Mohon jangan dianggap merendahkan; angka satu itu normatif, bukan penilaian subjektif saya atas cerita ini secara keseluruhan)

      Delete
  3. Elle : Aku jadi anak TK lagi, nuoom~~ Hore~
    Nema : Jadi makin pendek, hfft
    Elle : Nema jangan ejek Elle dong, nom T3T
    ..
    Leon : Reeh, masbro, kita mati ngenes di sini.
    Reeh : Jika memang itu takdir kita, apatah daya kita mengubahnya?
    Sal : Mantap!
    Manggale : ... ngeri kali kepala terpancung, badan meleduk macam petasan.
    ...
    Ursula : Duelnya tidak terlalu menarik, humh!
    Ursario : Biarkan saja dia, bura. Sepertinya dia sudah menyerah di turnamen ini.
    Ursula : Tapi si bocah memiliki boneka Ursa-Demon suku Pandorientis. Aku jadi teringat sesuatu. Pernahkah kalian mendengar kisah tentang Beargon Warrior--
    Semua Beary : STAAAAHP!!

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar. Bagi yang tidak memiliki akun Gmail atau Open ID masih bisa meninggalkan komentar dengan cara menggunakan menu Name/URL. Masukkan nama kamu dan juga URL (misal URL Facebook kamu). Dilarang berkomentar dengan menggunakan Anonymous dan/atau dengan isi berupa promosi produk atau jasa, karena akan langsung dihapus oleh Admin.

- The Creator -