I
Semuanya gelap. Semuanya sunyi. Stallza tidak bisa melihat atau mendengar apapun. Tidak ada atas atau bawah. Semuanya tenggelam dalam kegelapan ini. Dia bahkan tidak tahu apakah dirinya nyata atau tidak. Pikirannya perlahan menghilang. Perlahan pula eksistensinya menghilang. Stallza nyaris lenyap sepenuhnya apabila bukan karena setitik cahaya yang tiba-tiba muncul di depan matanya.
Titik kecil itu berkelap-kelip, mencoba menyadarkan Stallza bahwa dia ada di dalam kegelapan ini. Tidak mudah, karena Stallza sendiri nyaris lupa apa itu cahaya. Tetapi cahaya itu tidak berhenti berkelap-kelip. Hingga akhirnya Stallza merespon. Dia bergerak menuju ke cahaya. Perlahan tapi pasti, kegelapan mulai dikalahkan.
***