September 7, 2014

[ROUND 5] MBA IRWIN - MOCK CONFESSION

[Round 5] Mba Irwin
"Mock Confession"

Written by [Re.]

---

Banyak yang mengatakan bahwa tragedi dapat disulap menjadi sebuah komedi -bila tragedi tersebut disuguhkan dalam nampan yang benar. Banyak yang mengatakan bahwa butuh sebuah sirkus agar manusia mau memperhatikan kehidupan orang lain. Maka tak jarang manusia menertawakan jatuh bangunnya seseorang –baik tawa senang maupun gelak canda. Hidup Peace Maker pun tak jauh berbeda.

Tidak ada yang lebih menarik dibanding menyaksikan kejatuhan seorang tokoh super. Manusia yang penasaran akan terus mengikuti kehidupannya. Tentu ada pula yang berharap cerita belum berakhir, ada yang berharap kejatuhan berarti selesainya hidup. Begitupun Peace Maker.


Saat ini Mba Irwin, sang Peace Maker, menatap tingginya lubang. Ia menghela napas dan hanya bisa mengangkat tangannya, berusaha menggapai angkasa yang terlihat jauh. Tak tergenggam, tak tergapai.

Mba Irwin. Perempuan pahlawan perang yang memiliki wajah tak tersembunyi di balik topeng. Rambut pelangi penghancur terror adalah nama yang sempat disematkan korban perang. Tapi Malaikat Penghancur berbaju hitam juga disematkan oleh para pengabdi perang. Ia memiliki wajah yang dinilai berbeda bagi tiap kubu.

September 6, 2014

[ROUND 5] LAZUARDI - NOL

[Round 5] Lazuardi
"Nol"

Written by Po

--- 


1 - Statik

Pria berkacamata itu mengumpulkan semua yang tersisa. Apa yang dikatakannya membuat bermacam-macam reaksi. Bahwa terdapat puluhan kristal jiwa dalam ruang rahasia milik Sang Dewa. Mendapatkan semua kristal mungkin saja adalah kesempatan hidup kembali untuk mereka semua.

Kilat bertatapan dengan sang pria, nyaris tak terlihat namun mereka membuat isyarat mata. Diam-diam sang gadis bermarga Altair sudah berjanji akan menumbangkan dominasi Thurqk terhadap Nanthara. Memang dalam prosesnya mereka harus bergumul dalam kegilaan yang dirancang Nolan demi mengalihkan perhatian Thurqk. Dan sepanjang perjalanan itu, nyawa dan kehormatan mungkin akan terbuang seperti pasir terbawa angin.

Namun bila ini semua berhasil, Baikai serta Elle tak harus musnah. Semua dapat kembali seperti sediakala. Kesempatan kedua akan datang. Dan Nolan dapat membuka jalan untuk mereka. Maka dari itu, si gadis pun mengatakan sesuatu pada tangan kanan Thurqk tersebut.

"Aku ingin bersama Lazu dalam babak ini."

[ROUND 5] NURIN - DEATH CLOUD RISING

[Round 5] Nurin
"Death Cloud Rising"

Written by Fachrul R.U.N
 
--- 

1
Sementara Nolan memberi pengarahan, Hvyt milik pria berkacamata itu menyembuhkan Nurin, memulihkan kondisinya kembali seperti sedia kala. Nurin mendudukkan diri, mengerjapkan mata, menggerak-gerakkan jemari tangan dan kaki untuk memastikan tubuhnya mampu bekerja dengan baik. Tenaganya telah kembali, muncul hasrat untuk segera mencoba kekuatan barunya, tapi ia menahan diri. Tidak perlu. Colette sudah menyingkap kekuatan utamanya, tidak perlu memperlihatkan kemampuan pengubah wujud sekarang.

"Ah, syukurlah..." Mba menghela nafas. "Syukurlah Anda bisa kembali pulih. A-apa Anda masih butuh bantuan? Mungkin saya bisa..."

"Tidak perlu..." Nurin buru-buru berdiri dan menjauhi wanita berambut pelangi itu. "Sekarang saya bisa jalan sendiri."

"Oh. Oh, oke. Baiklah."

September 5, 2014

[ROUND 5] SJENA REINHILDE - ALL YOU NEED IS CONTEMPLATE YOUR EXISTENCE

[Round 5] Sjena Reinhilde
"All You Need is Contemplate Your Existence"

Written by Bayee Azaeeb

---

Chp 1 : Killing for the greater good
"You pronounced 'killing is great' wrong"

"Selamat datang di desa Eonora, pengembara! Jarang-jarang kami didatangi pengembara dari negeri lain. Desa kami telah lama –"

Berisik.

Aku berjalan melewati kakek tua yang menyambutku di pintu masuk. Berjalan melewati rumah-rumah berbentuk kubah yang ditumbuhi sulur-sulur aneh. Kepalaku berdenyut, seperti habis dihantam dan dijadikan mash potato, lembek, dan mengulang kata "potato" berulang-ulang kali.

Aku yakin kepala kalian juga jadi mash potato apabila kalian mengalami kejadian ini berulang kali. Berada di sebuah desa asing, disambut seseorang yang tak kalian kenal, tanpa tahu apa yang harus kalian lakukan, apa tujuan kalian, dan sebagainya. Belum habis otak kalian mencerna, tiba-tiba semua telah diulang dari awal, menjalin sebuah loop.

Tak ada hal lain yang kuingat, selain potato dan namaku sendiri. Sjena Reinhilde. Satu-satunya hal yang bisa kujadikan pedoman, meski tak membantu sedikitpun. Tak ada satu bayangan yang terbersit saat aku menjelajahi desa ini selama hampir sejam.

[ROUND 5] MAYOR YVIKA GUNNHILDR - JUST ANOTHER NAMES ON THE DEATH LIST

[Round 5] Mayor Yvika Gunnhildr
"Just Another Names on The Death List"
Written by Herry P. Zulkarnaen

---

"Mama, apa Mama seorang pembunuh?"

Satu kalimat tanya dari putriku yang nyaris membuat jantungku berhenti berdetak. Entah siapa yang mengajarkannya untuk bertanya hal tersebut, tapi aku akan pastikan kalau orang itu tak akan lagi bernapas di alam semesta ini.

"Lana, sayang, pembunuh itu orang yang sangaaaat jahat," celetuk Alain sembari merangkul diriku yang masih terpaku dari belakang. "Nah, apakah Lana pernah melihat mama pernah berbuat jahat terhadap papa, kakek, nenek, atau kepada Lana sendiri?"

"Tidak, mama selalu baik sama Lana!" tegas putri kecilku sambil menggelengkan kepalanya. "Lana tahu kok, Lana tahu kalau Danny berkata bohong soal mama!"

"Nah, sekarang sebaiknya Lana siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi."