Good Bye Peace Maker
Peace Maker. Itulah julukan dari perempuan bernama Mba Irwin. Dahulu tak ada prajurit yang tak bergidik melihatnya. Kemampuan perempuan itu meredam konflik fisik tak jarang berbuah korban. Sekarang mungkin mereka akan tertawa atau miris melihat kondisi perempuan berambut pelangi itu.
Air mata yang mengering telah menjejak di pipi perempuan itu. Daging di pipinya menipis, membuat kulit wajahnya makin tirus-keriput. Rambut pelanginya kusut. Baju dan celana hitamnya sudah lusuh lagi bau. Wanita lain akan menganggap perempuan ini gagal mengurus diri. Berulang kali ia terisak menyebut lirih sebuah nama
"Elle… Elle…" nama itu terus diucap sembari menimang sebuah badan mungil yang sudah kaku. Badan gadis mungil itu sudah membiru dan tidak lagi mengucurkan darah dari loubang yang menganga di tengkuk. Ketiadaan panas membuat Mba menggigil lalu ganti menyebut nama lain.
"Antakaba… tolong aku… aku takut…"
Wajarlah bila ia takut. Mba saat ini berada di sebuah ruangan yang sangat gemerlap andai cahaya tersampir. Bayangkan saja, barang-barang emas mengelilingi perempuan ini. Sayangnya, saat ini sumber cahaya hanya berasal dari sebuah lampion kecil yang berada di sebuah kompartemen dari sebuah bor besar.