Showing posts with label Antaboga. Show all posts
Showing posts with label Antaboga. Show all posts

July 29, 2014

[ROUND 4 - ANTABOGA] MAYOR YVIKA GUNNHILDR - JUST ANOTHER BITTER END

[Round 4] Mayor Yvika Gunnhildr vs Antaboga
"Just Another Bitter End"

Written by Herry P. Zulkarnaen

---

Betapa kehidupan manusia akan jauh lebih mudah bila semuanya hanya terdiri dari hitam dan putih, hanya ada baik dan buruk tanpa ada yang bimbang berada di antara keduanya. Tetapi rupanya Tuhan, Dewata, atau siapapun yang berada di atas sana lebih tertarik untuk memberi sedikit tantangan pada kehidupan manusia, karena kemudahan tersebut tak pernah ada.

Juga betapa indahnya kehidupan ini bila semua orang baik akan selalu bertindak baik, apapun situasinya dan di manapun mereka berada. Namun rupanya kehidupan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, seringkali kita terjebak dalam situasi dan tempat yang mengharuskan untuk bertindak berlawanan dengan niat. Tak jarang kita dituntut untuk bertindak kejam demi untuk meraih tujuan akhir yang lebih baik.

Tak peduli sebaik apapun niatanku, itu tak akan pernah dapat menghapus dosa-dosaku atas semua nyawa yang telah kurenggut. Dan tak peduli sebaik apapun jasaku dalam membela negeriku, dari sudut pandang musuh aku hanyalah seorang keparat pembunuh yang telah membuat mereka kehilangan orang-orang terkasih. Yah, asalkan aku dapat bertindak demi kebaikan orang-orang yang kusayangi, tak mengapa walau tak segalanya tak selalu berakhir baik bagiku.

[ROUND 4 - ANTABOGA] SILENTSILIA - REMEMBER

[Round 4] SilentSilia vs Antaboga
"Remember"

Written by authorhinataumi

--- 

“Don’t be too high, Human. You don’t know the God’s plan.”
-          Hinata Ummi – The Author -

Dimana aku?

Gelap.

Tanganku terikat?

Siapa?

Kenapa?

“Ha... Ha... Ha...”

Suara itu? Tawa itu... Dia... Sakit.. Ini... Ah...

Ya.. Akhirnya Sil mengingat semuanya. Ia... mengingat semuanya.

* * *

“Bagaimana kabarmu, Sil?”

Gadis itu terbangun ketika merasakan sentuhan di bahu kirinya. Matanya yang terpejam perlahan membuka, menatap lapangan luas yang kini ia dan seseorang lainnya tempati.

Terdengar olehnya suara berdesing dari dua buah benda tajam yang bersinggungan.

Suara ini...

“Kenapa? Kau takut?”

[Carl?]